Title: The Stranger Incident
Author : ESH1608
Genre : Family, Drama
Main Cast : Wu Yifan aka Kris dan Sehun
Other Cast : Park Chanyeol dan yang lain mengikuti alur cerita
Rating : T
Warning : OOC, Typo(s), DON'T LIKE IT DON'T READ IT
Summary : Kris Seorang Model dan actor merawat anak kecil berumur 10 tahun. Kris, Apakah dia benar-benar anakmu? / entahlah chanyeol!/ Keduanya hanya menghela napas. With Kris Daddy, Sehun Son and chanyeol uncle
.
.
~The Stranger Incident Chapter 9~
.
.
Chapter sebelumnya
Kris, apa yang kau lakukan. Kau cari mati hah?!
"Aku sudah memperingatkanmu untuk bersiap – siap bukan."
.
"Aku akan jelaskan di apartemen." Kris menutup teleponnya, bukan bermaksud menghindari Chanyeol hanya saja jauh lebih baik jika dia menjelaskan maksudnya secara langsung pada manajer sekaligus sahabatnya itu.
Berbeda ketika mereka berangkat ke Sungai Han tadi, suasana pulang menjadi sedikit suram. Keduanya terdiam tanpa berniat untuk mengajukan pertanyaan. Kris yang gelisah membuatnya tutup mulut sedang Sehun tampak terantuk-antuk, matanya berat. Karena lelah bermain di taman tadi dia mulai mengantuk.
Ketika sampai di parkiran basement apartemennya, Kris keluar menuju bangku penumpang dan menggendong Sehun yang sudah tertidur tanpa berniat untuk membangunkan pangeran kecilnya. Dia mulai masuk kedalam lift yang akan mengantarkannya ke lantai dimana tempat tinggalnya berada. Di dalamnya, rasa gelisah semakin membuncah. Kris sadar apa yang baru saja dia lakukan beberapa saat yang lalu. Paparazzi sudah menemukan bahan lezat hari ini, mengolahnya jadi makanan enak untuk di pajang depan publik dan salah satu dari kumpulan bahan-bahan itu adalah dirinya dan Sehun.
Terasa tangannya makin dingin dan berkeringat, bunyi lift terdengar serta pintunya terbuka. Beberapa meter dari jarak lift yang hanya berisi dirinya dan Sehun itu Kris dapat menangkap suara bermacam-macam. Satu hal yang pasti, mungkin saja para wartawan telah berkumpul depan apartemennya. Kris masih belum sanggup menghadapi mereka, tidak saat ini ketika ada Sehun yang sedang tertidur dan dirinya yang seorang diri.
Kakinya yang baru saja hendak melangkah keluar, menjadi urung dilakukannya. Jantungnya terpacu 2-3 kali lebih cepat, seraya dia melarikan diri. Telunjuknya entah kapan sudah kembali memencet tombol perintah untuk kembali menutup pintu lift dan menekan angka B3, dimana tempat mobilnya terparkir.
Setelah kembali ke Basement, Kris sedikit berlari sambil tetap merangkul erat Sehun dalam gendongannya. Tingkahnya yang tergesa-gesa itu ternyata membuat Sehun tak nyaman dan mulai bangun dari tidurnya, "Ayah?" Kris masih setengah berlari menuju mobil ketika dia melihat Sehun lalu kembali fokus pada tujuannya. "Ya Sehun?!"
"Ayah mengapa berlari?"
Kris menatap Sehun sekilas, dia tak mampu tersenyum dalam keadaan seperti ini. "Tidak ada apa-apa. Sehun tidurlah lagi, oke?"
Dengan raut bingung, Sehun mencoba untuk kembali tertidur. Karena sejujurnya dia masih mengantuk. Sesampainya ke tempat mobilnya terparkir, Kris dengan panik membuka pintu mobil, dia langsung menurunkan sedikit bangku penumpang dan membaringkan Sehun disana. Setelah memastikan, sabuk pengaman Sehun terpasang dengan baik dia mengalihkan pandangannya ke arah sekitar, takut-takut salah satu dari gerombolan wartawan itu melihat aksinya.
Kris langsung menancap gas seketika saat sabuk pengaman itu telah terpasang pada tubuhnya. Dia mengambil handphone yang tadi dia masukan ke dalam Dashbor mobil. Telepon genggam yang dia pasang dalam mode diam itu menampilkan banyaknya panggilan tak terjawab dan pesan juga email. Sebagian besar adalah dari Chanyeol, manajernya.
Hah, selamat datang pada hidupmu yang baru Kris, serunya pada dirinya sendiri.
Dia mengetik nama Kyungsoo disana, lalu menghubunginya,
"Kyung."
Ya tuhan, Kris! Kau begitu nekat, kau dimana sekarang? Sentak Kyungsoo, dia sudah tidak peduli posisi Kris yang lebih tua darinya itu.
"Aku sedang dalam perjalanan ke apartemenmu. Tolong kabari Chanyeol, aku tidak bisa menghubunginya, dia pasti saat ini sedang emosi dan aku sedang menyetir."
Chanyeol oppa bilang, oppa sedang dalam perjalanan ke apartemenmu?
"Ya, tapi disana terlalu banyak wartawan. Aku tidak bisa menghadapi mereka, tidak ketika Sehun bersama denganku."
Kyungsoo menepuk dahinya di seberang sana, mengapa dia sampai lupa tentang anak itu. Sehun pasti sangat ketakutan jika dia tahu apa yang sedang terjadi saat sini. Sehun bagaimana?
"Dia sedang tidur, dia masih belum tahu mengenai apa yang terjadi."
Ya sudah, oppa jangan mengebut. Aku akan menghubungi Chanyeol oppa.
Percakapan mereka terputus dan Kris kembali fokus pada jalan di depannya. Palang petunjuk jalan berwana hijau yang menggantung menunjukan nama sebuah tempat yang akan dia tuju saat ini 'Ilsan'.
Dia memperhatikan Sehun, di sela-sela fokusnya pada jalan. Tangan kanannya bergerak tak sadar, mengelus kepala Sehun yang masih nyenyak bermain dengan mimpinya. "Sehun, ayah menyayangimu. Biar ayah yang menanggung bebanmu."
.
Chanyeol langsung mengumpat ketika Kris terlihat dalam kamera intercom apartemen Kyungsoo, "Awas saja, kau habis hari ini Kris!" Dengan gegas, Chanyeol membuka pintu. Tapi rencana memarahi Kris urung begitu saja ketika dia melihat Sehun yang ternyata sedang tertidur dalam gendongannya. Dengan sebal dia menghentak-hentakkan kakinya, tidak tahu harus menghukum seperti apa.
Kris masuk kedalam dan langsung menanyakan dimana ia bisa membaringkan Sehun.
"Kau bisa menidurkannya di kamarku."
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Dia langsung menuju kamar Kyungsoo dan menidurkannya di sana. Ketika tubuh Sehun baru sebentar saja menempel dengan kasur, dia terbangun dan mendapati Kris telah melepas pelukan eratnya, "Ayah." Cicitnya dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Ya, sehun." Dia kembali menghadap Sehun lebih dekat.
Sehun menatap sekitar, ruangan ini nampak asing baginya, "Dimana ini, ayah? ini bukan rumah kita." Kris terenyuh mendengar itu, baru beberapa bulan Sehun tinggal dengannya, tapi apartemen yang hanya memiliki kamar tunggal miliknya itu sudah dianggap rumah bagi Sehun.
"Ini rumah Kyungsoo Noona." Jelasnya, sambil mendudukkan dirinya di ranjang Kyungsoo bersebelahan dengan Sehun yang masih berbaring.
"Kenapa kita disini? Kenapa kita tidak pulang kerumah?"
Kris tidak langsung menjawab, dia menimbang-nimbang jawaban yang pas untuk di katakan kepada Sehun. Tidak boleh ada kebohongan, Kris mengajari dirinya sendiri. "Sehun, untuk sementara ini kita mungkin akan menginap disini." Anak itu menautkan alisnya, "Kenapa harus tinggal disini?"
"Karena di rumah kita sedang banyak orang. Kita tidak bisa pulang."
Sehun langsung mendadak kecewa, "Siapa? Mengapa mereka ada di rumah kita?"
Sang ayah hanya bisa menghela napas, sebelum putra kecilnya itu puas akan jawabannya dia akan terus bertanya. "Dirumah kita ada banyak sekali wartawan, tadi setelah kita pulang dari taman orang-orang itu sudah berkumpul disana."
"Apa karena aku?" Sehun mengajukan pertanyaan yang membuatnya telak gagap.
"Bukan karena Sehun."
Tapi Kris tidak bisa menyembunyikan fakta yang sesungguhnya dari anak yang sudah kelewat cerdas di hadapannya saat ini, "Mereka pasti sudah tahu tentang hubungan kita, ya kan yah?"
Dia hanya mampu mengangguk, beberapa saat setelahnya Sehun mulai terisak. "Sehun mengapa menangis?"
Usapan yang di daratkan pada puncak kepalanya malah semakin membuat Sehun menangis kencang lalu berguling kesamping membelakangi Kris. Suara tangisan itu membuat Kyungsoo serta Chanyeol datang keruangan itu, "Ada apa?! Mengapa Sehun menangis?"
Kris mengendikan bahunya sambil menggeleng pelan, tangannya menginsyaratkan kepada mereka untuk keluar dari tempat itu. Sebelum kembali menenangkan Sehun, dia menyenderkan kepalanya sejenak pada dinding kamar, memejamkan matanya. Pusing kembali menyerang, emosinya naik. Rasa lelah dari seminggu lalu yang belum sirna dari tubuhnya kini membuat setiap sendi tulangnya ngilu.
"Sehun, jangan begitu. Kenapa kau menangis?"
Sedang Sehun tidak menjawab, dia masih terus menangis dan menutup mulutnya agar isakan itu tidak terdengar jelas.
"Sehun, ayo bicara! Kau ini kenapa?!" Tone bicara Kris merangkak naik.
Seprai kasur milik Kyungsoo teremas erat oleh Sehun, dia mulai ketakutan. Tangisnya masih belum berhenti, "Sehun, ayah sudah bilang ayah tak suka kau bermanja dan sulit diatur seperti ini!" Bentaknya.
Sehun beringsut menjauh. Sebelum Kris menarik dirinya, Chanyeol sudah lebih dulu mengambil Sehun. Entah sejak kapan orang itu masuk kedalam ruangan ini. Dia menghela napas kasar, "Kau ini tidak bisakah memperlakukan anakmu sendiri lebih lembut?" Chanyeol mengusap punggung Sehun yang mulai terbatuk karena isakannya yang tidak terkontrol.
Matanya perlahan terpejam, Kris menggigit bibir bawahnya merasa bersalah. Dia bangun dari posisi duduknya, lalu berdiri berhadapan dengan Chanyeol yang masih menggendong Sehun. Tangannya menyentuh pundak kecil Sehun, "Sehun, maafkan ayah. Ayah hanya sedang emosi."
Sehun berbalik menatap ayahnya lalu tidak lama kemudian tangannya terulur ke arah Kris, tanpa sadar Kris menyambut uluran tangan itu. Memindahkan tubuh Sehun yang berada dalam dekapan Chanyeol menjadi dalam dekapannya. "Sehun, kenapa menangis? Ayah bingung makanya ayah marah."
Chanyeol masih berdiri tidak jauh, tidak ingin meninggalkan Sehun dan Kris. Takut Kris akan kembali emosi, dia sangat tahu apa saja yang akan dilakukan orang itu ketika emosi.
"A..yah."
"Hm.."
"Karena Sehun, ayah dikejar-kejar oleh mereka. Karena Sehun, ayah mungkin tidak bisa bekerja lagi." Jelasnya ditengah isakan yang masih belum bisa berhenti.
Jantung Kris berdetak lebih kencang, mendadak dia takut mengenai fakta yang akan di dengarnya sebentar lagi, "Jadi Sehun menangis karena itu?" Anak itu mengangguk.
Oh tuhan, dia beberapa saat yang lalu baru saja menyentak darah dagingnya yang ternyata saat ini mungkin sedang merasakan jauh lebih sakit di banding dirinya sendiri. Kau terlalu egois Kris.
Chanyeol terpaku seketika, Sehun lebih peka dari apa yang dia bayangkan.
"Oh, Sehun. Maafkan ayah."
Kris mendekap erat, beberapa hari ini dia selalu melakukan kesalahan. Baginya, permintaan maaf itu tidak pernah lebih dari cukup.
.
.
Chanyeol dan Kris keluar dari kamar Kyungsoo ketika Sehun kembali tertidur setelah lelah menangis. Bertiga bersama Kyungsoo mereka harus membicarakan mengenai nasib Kris selanjutnya.
"Oppa tidur saja disini, aku akan menginap di rumah temanku." Tuturnya.
"Maafkan aku Kyungsoo."
"Sudahlah, lagian aku sudah memprediksi hari ini akan terjadi. Fan Cafe mu sedang ricuh sekarang. Hah, aku tidak tahu jika fans bisa semenyeramkan itu." Kyungsoo tidak menyadari bahwa dia juga bagian dari segerombolan fans di luar sana.
Chanyeol meneguk segelas jus jeruk dengan cepat, "Makanya kalau mau bertindak itu di pikir dulu Kris."
"Aku kan sudah bilang padamu bahwa rahasiaku mungkin saja akan terbongkar dalam waktu dekat ini." Dia mendelik kasar padanya.
"Tapi tidak begitu caranya, pergi ke sungai Han bersama dengan Sehun tanpa lebih dulu bilang padaku sama saja dengan bunuh diri. Lalu kau dengan randomnya mengaku pada salah satu fansmu bahwa Sehun adalah anakmu. Haaaah, rasanya ingin aku tenggelamkan kau ke Sungai Han pada saat itu juga."
"Lalu apa yang harus aku lakukan? Aku sudah kepalang basah, aku juga tidak mau terus berbohong apa lagi di depan Sehun. Dia memang benar anakku, jadi fakta dimana yang tidak benar?" Kris menyolot kasar di hadapan Chanyeol.
Kyungsoo bergerak menengahi mereka, "Tenanglah oppa. Jangan berisik Sehun sedang tertidur." Peringatnya.
Chanyeol menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan, "Ani, bukannya begitu. Harusnya kau bilang dulu padaku akan keluar dengan Sehun."
"Aku kan sudah bilang padamu dua hari yang lalu bahwa cepat atau lambat rahasia ini akan terkuak."
"Kris, mana aku tahu bahwa rahasiannya akan terungkap secepat ini, hah? Jika sudah begini apa yang harus aku lakukan? Para wartawan telah mengirimkan beberapa artikel siap rilis ke emailku, mereka juga mengirim gambarmu dan sehun yang a.m.a.t j.e.l.a.s kepadaku." Chanyeol menjambak rambutnya sendiri kesal.
"Maafkan aku." Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari mulut Kris.
Ditengah situasi yang membingungkan itu, Kyungsoo si penengah memberikan beberapa solusi jalan keluar. Salah satunya adalah dia yang akan mencoba mengontrol kericuhan para fans Kris diluar sana. Tentu saja itu mendapat sambutan baik dari Kris. Kyungsoo akan mencoba membalikkan opini publik yang begitu membenci Kris dan Sehun menjadi sebaliknya.
Tidak harus seratus persen kembali menjadi hardcore fans, hanya saja dia ingin membuat orang-orang memandang Kris dan Sehun dari sisi kebaikannya. Seperti yang Kyungsoo lakukan saat ini. Setelah usahanya di lancarkan ia akan menyerahkan terhadap publik untuk menilainya.
Sedangkan Chanyeol, dia memberikan solusi paling ampuh yaitu dengan cara mngadaan konferensi pers. Dimana nanti Kris akan memberikan pernyataan dengan jelas mengenai semua kejadian yang berhubungan dengan dengannya. Chanyeol bilang dia akan mencoba membicarakan rencana ini dengan para pemimpin dari agensinya dan mereka mulai merancang jalan apa yang harus di tempuh oleh Kris.
Tapi... rencana itu hancur begitu saja ketika salah satu staf dari agensinya mengirimkan sebuah pesan yang berisi bahwa mereka akan melakukan konferensi pers besok pukul 9 dan Kris hanya boleh menjawab apa yang di perintahkan dalam seberkas file yang akan dikirimkan ke emailnya nanti.
"Aku sudah tidak bisa berpikir, kau yang urus. Aku akan menemani Sehun di dalam."
Dia meninggalkan Chanyeol dan Kyungsoo begitu saja, lalu masuk kedalam kamar Kyungsoo dimana saat ini Sehun sedang tertidur pulas. Kris berbaring di ranjang dan memutar Sehun yang awalnya membelakangi dirinya menjadi menghadap dirinya. Rambut Sehun terlihat lengket bercampur air mata dan keringat. Matanya terlihat bengkak, Kulitnya yang memang sudah putih pucat seperti dirinya terlihat memerah.
"Ayah?" Sehun merasakan pergerakan di sampingnya.
"Hm."
Tahu bahwa yang berada di sampingnya adalah ayahnya, Sehun memeluk erat Kris.
"Ayah ceritakan aku sebuah cerita lagi."
"Oke, ayah akan menceritakan mengenai seorang jenderal yang gagah perkasa." Tuturnya sambil mengelus-elus lengan Sehun.
"Tentang siapa ayah?"
"Jenderal Lee Sunshin. Dia adalah seseorang yang sangat berarti bagi negara kita. Hidupnya sederhana dan dia hanya memiliki seorang anak laki-laki."
Sehun mulai antusias mendengarkan, "Seperti aku dan ayah?"
"Hm."
"Dia berperang membela bangsa dan negara hanya dengan 12 kapal padahal saat itu lawannya memiliki lebih dari 300 kapal."
Entah kenapa sehun mengerucutkan bibirnya, dia tak suka perkelahian. "Apakah merka berkelahi di laut? Kenapa mereka berkelahi?"
Kris tersenyum mendengar kepolosan yang dituturkan oleh pangeran kecilnya itu, "Tidak ada orang yang senang berkelahi Sehun. Jenderal bersama anak buahnya sudah mendapat surat dari Raja untuk menghentikan pertempuran itu."
"Lalu mengapa mereka masih saja berkelahi?"
"Karena mereka amat cinta terhadap bangsa dan negaranya. Mereka memiliki tujuan yang sama, mempunyai loyalitas dan kepercayaan yang sama pula. Jika tidak ada mereka tidak ada negara Korea saat ini."
Terlihat mata Sehun yang berbinar-binar, "Uwaa, sayang mereka sudah tidak ada. Apa mereka yang memenangkan pertempuran itu?"
Kris mengangguk. "Ya, walaupun di menit terakhir rakyat sudah hampir kehilangan harapan. Hanya satu kapal milik jenderal yang menyerang ratusan kapal musuh. Coba Sehun bayangkan, menyeramkan kan?" Sehun mengangguk cepat. "Coba tebak siapa yang datang menolong di saat krisis itu?"
"11 kapal yang lain?" Kris tersenyum menggeleng, "Bukan, yang menolong mereka adalah rakyat yang tidak memiliki kemampuan berperang."
"Uwaaa, andai aku bisa melihat jenderal lee sunshin."
"Tentu saja bisa. Ayah akan membawamu ke gwanghamun nanti melihat replika dirinya."
"Lalu apakah mereka tetap berperang lagi setelahnya?"
Kris menyamankan dirinya sebelum menjawab, dia membenahi posisinya agar tidak pegal. "Bukan itu poinnya Sehun."
"Lalu?"
"Bukan masalah mereka berperang lagi atau tidak, pertempuran itu hanya membuktikan bahwa kau bisa membalik asa menjadi harapan dan merubah rasa takut menjadi keberanian. Itu kuncinya. Ca, sekarang tidurlah ini sudah lewat tengah malam." Kris menepuk-nepuk punggung Sehun pelan membuat anak itu kembali mengantuk.
Mereka berdua tertidur. Sama seperti Chanyeol yang saat ini sudah menghilang ke alam mimpi, bergelung dengan karpet milik Kyungsoo di ruang tv.
Sekitar pukul 3 acara tidur Kris mulai terganggu ketika dia mendengar beberapa kali lenguhan dan batuk. Dia menajamkan telinganya walau matanya masih terpejam. Semakin lama dia sadar bahwa yang melenguh dan sesekali batuk itu adalah Sehun. Dia langsung bangun dan melihat keadaannya.
Wajah Sehun yang tidak tertutup selimut sudah terlihat amat merah. Anak itu sesekali meringis. Sehun beberapa saat yang lalu masih baik-baik saja walau Kris memang merasakan tubuhnya hangat. Tapi dia pikir itu hanya efek karena Sehun menangis.
Telapak tangan yang menyentuh dahi Sehun terasa terbakar, panas luar biasa. Dengan panik dia memanggil-manggil Chanyeol hingga orang yang di panggil datang kekamar dengan raut kesal. Sebelum dia bisa bertanya ada apa Kris telah lebih dahulu memberi perintah kepadanya untuk mengambil handuk kecil dan sebaskom air dingin juga obat penurun demam. Lalu dia sendiri membuka selimut yang membungkus Sehun, membiarkan kulit Sehun berespirasi.
Dia masih terbatuk beberapa kali, "Sehun kau mendengar ayah?" Perlahan kelopak mata itu terbuka. "Panas." Jelas Sehun.
"Ya, kau demam. Ayah akan mengompresmu. Kau juga harus minum obat."
Sehun hanya bisa mengangguk lemah. "kau memang jagoan ayah." Pujinya, Sehun selalu menuruti apa yang dia perintahkan.
Sesaat kemudian Chanyeol memberikan semua yang dibutuhkan oleh Kris. Mereka berdua berakhir tidak kembali tidur karena mengurusi Sehun hingga pagi menjelang. Walau Chanyeol mengatakan Kris harus beristirahat karena beberapa hari ini dia kurang tidur tapi jawaban dari Kris hanya gelengan. Bagaimana dia bisa tidur, sedangkan kondisi Sehun tak kunjung membaik.
Jam sudah menunjukan pukul 7.45, mereka harus segera bersiap pergi ke salah satu tempat broadcasting yang akan menyiarkan secara langsung konferensi persnya. Chanyeol menyuruh Kris untuk membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum mereka berangkat.
Setelah siap, dia mengangkat tubuh Sehun dan membungkusnya dengan Jaket. Dia bisa merasakan Sehun mulai berkeringat walaupun tubuhnya masih terasa panas. Mungkin efek obatnya mulai bereaksi.
.
Mereka menuju ke sebuah ruangan yang sudah di persiapkan oleh Chanyeol, karena masih cukup pagi. Orang tidak terlalu banyak yang berlalu lalang dan curiga terhadap tingkah ia dan Chanyeol. Mereka akan mulai berdatangan sekitar 15 menit lagi.
Didalam ruang tunggu tersebut, Kris memangku Sehun yang terlihat sangat rapuh. Tubuhnya masih panas, nafasnya juga terdengar berat. Tidak tega rasanya jika dia harus meninggalkan Sehun karena acara konferensi persnya yang sebentar lagi akan dimulai. Tapi dia harus melakukan itu, untuk meluruskan semua kabar miring yang menimpanya. Terutama bagi keberlangsungan hidup dia dan Sehun di masa depan.
"Sehun, ayah akan meninggalkanmu sebentar saja boleh?"
Sehun menggeleng, dia masih sangat membutuhkan Kris.
"Ayah berjanji akan menyelesaikannya dengan cepat, lalu kita kedokter."
Mata Sehun yang memerah menatap Kris gamang, "Ayah berjanji?" Tanyanya dengan suara serak.
"Ya, ayah berjanji." Setelahnya mereka melakukan ritual promise finger seperti biasa.
Chanyeol mengambil alih Sehun, "Aku akan menunggu Kyungsoo datang, jika dia sudah datang aku akan menemanimu di dalam."
"Tidak usah, aku bisa mengatasinya sendiri. Kau jaga Sehun, jangan pernah tinggalkan dia."
Kris bangun dari posisi duduknya, sejenak merapihkan jas hitam yang ia pakai. Perasaannya sudah tak karuan. Di satu sisi dia berat meninggalkan Sehun yang sedang demam, di sisi yang lain dia sudah kepalang basah untuk segera menjelaskan semuanya kepada semua orang.
"Aku pergi sekarang. Ingat jangan tinggalkan Sehun sendirian."
Kris dengan berat hati keluar dari ruangan itu menuju tempat konferensi pers sedang dilaksanakan, saat ini mungkin perwakilan agensinya sedang menjelaskan situasi yang sudah dirancang oleh mereka. Sebelum dirinya menapaki tempat ini, Kris menerima seberkas file dari emailnya yang berisi mengenai apa saja yang harus ia jawab ketika proses tanya jawab berlangsung nanti.
Pintu itu terbuka, semua kamera dan lampu blitz mengarah padanya. Sejenak ia merasa melayang, Kris bahkan tidak sadar bahwa sekarang dirinya sedang berjalan kearah panggung dimana meja panjang terletak kokoh dan disana duduk beberapa orang perwakilan dari agensinya. Tensi diruangan itu cukup mencekam dan membuatnya sesak. Dalam hati dia berdoa, agar Kyungsoo cepat datang dan Chanyeol segera menemaninya di tempat ini.
Agensinya masih terus berbicara mengenai kebohongan yang telah mereka rancang, sedang dirinya tidak mampu berbuat apa-apa. Nuraninya bergelut sendiri. Seharusnya dia takkan menyesal kan? Toh situasi seperti ini sudah pernah ia bayangkan sebelumnya dan dirinya sudah siap menanggung semua konsekuensinya. Tapi entah mengapa Kris masih merasa takut. Rasa gugup dan cemas juga bercampur menjadi satu.
"Kris-ssi, apa benar mengenai semua yang dinyatakan oleh agensi anda?" Kris tersentak ketika salah satu reporter menanyakan hal itu padanya. Dia tidak sadar bahwa saat ini sudah masuk dalam tahap tanya jawab. Seharusnya dengan mudah ia menjawab 'Ya' tapi entah mengapa mulutnya enggan melakukan itu, Hatinya berbicara untuk mengatakan yang sesungguhnya.
Dengan sangat hati-hati dia berkata, "Tidak." Suasana mendadak ricuh, Para jurnalis saling berbisik satu sama lain. Di kanan kirinya, para staf dari agensinya juga menatapnya tajam. Kris mencoba tak gentar menghadapi itu.
"Semua yang dikatakan oleh perwakilan agensi tadi adalah tidak benar. Sehun adalah benar-benar anak saya. Saya telah membawa bukti tersebut."
Kris terus mencoba menjelaskan situasinya kepada para wartawan dan reporter.
.
.
Di ruang tunggu, Chanyeol merasa Sehun akan kolaps begitu saja. Wajahnya sudah seputih kanvas, tubuhnya luar biasa panas tapi kaki dan tangannya terasa amat dingin. Seumur hidup Chanyeol tidak pernah mengalami hal tersebut, Kyungsoo adiknya tidak pernah mengalami hal separah ini ketika kecil. Dia menepuk pipi Sehun pelan, mencoba memastikan bahwa anak itu masih bertahan pada alam sadarnya.
"Sehun."
Yang di panggil menggeliat tak nyaman, "Ayah."
"Tunggu sebentar lagi, Kris akan datang dan kita pergi kerumah sakit." Chanyeol mengeluh dalam hatinya, jika saat ini dia nekat membawa Sehun keluar menuju rumah sakit yang ada mereka akan berakhir celaka. Para paparazzi sedang mengincar Sehun saat ini, belum lagi fans yang masih berkumpul di sekitar gedung. Segala gerak-geriknya akan mengundang rasa curiga.
"Ayah." Sehun meringis ketika rasa sakit dan tidak nyaman kembali menyerang tubuhnya. Dia sangat membutuhkan Kris saat ini.
Chanyeol mengusap punggung sempit Sehun, berharap dapat menghilangkan rasa sakitnya barang sejenak. Tapi tidak lama kemudian, Sehun bangkit dari dekapan Chanyeol dan memuntahkan cairan bening dari mulutnya. Pasti akibat asam lambungnya yang naik. Tidak ada muntahan makanan karena dari tadi pagi Sehun hanya meminum segelas air.
Karena terkejut, Sehun mulai merengek dan menangis. "Ayah."
"Ssssst, muntahkan saja. Itu akan membuatmu lebih baik." Seru Chanyeol masih memijat tengkuknya. Dia melirik kekanan kiri mencari sebotol air mineral tapi tak kunjung dia temukan. Semua orang sedang sibuk dan dia harus mencari air mineral atau air hangat untuk Sehun. Setelah Sehun sudah tidak mual, Chanyeol berinisiatif mencari air hangat. Dia membaringkan Sehun di sofa dan menyelimutinya dengan jaket milik Kris.
"Sehun, dengarkan paman. Paman akan keluar sebentar membawa air minum untukmu. Kau tidak boleh pergi kemana-mana dan jika ada yang membawamu pergi kau harus berteriak. Mengerti?" Sehun mengangguk lemah, dia sudah tidak punya tenaga untuk mengajukan penolakan. Chanyeol bukan tidak ingin membawa Sehun bersamanya, tapi di luar ruangan itu terlalu banyak orang.
"Anak pintar, kau harus bertahan oke. Sebentar lagi Kris pasti akan kesini." Sehun kembali mengangguk. Sebelum Chanyeol meninggalkannya, ia memegang pergelangan tangan Chanyeol. Terasa hawa panas menguar ketika menyentuh permukaan kulitnya. "Paman, bilang pada ayah untuk cepat kembali." Titahnya terdengar pelan dan patah-patah.
Chanyeol mengangguk dan berlari dari ruangan tersebut. Di tengah perjalanan dia mengetikkan sebuah pesan yang ditujukan pada Kris.
Kris, kau harus menyelesaikan secepatnya. Sehun muntah, demamnya semakin tinggi kita harus segera membawanya kerumah sakit.
Handphone dalam saku celananya berketar, ia mengambil di sela-sela wartawan berebut waktu untuk bertanya. Seharusnya dia telah menyelesaikan konferensi pers ini 5 menit yang lalu. Tapi sampai sekarang ini masih terus berlanjut, semua orang di ruangan itu nampak selalu saja tidak puas terhadap semua jawaban yang di berikan olehnya lalu mereka akan mengajukan pertanyaan lagi.
Tapi setelah membaca pesan tersebut, Kris sudah tidak bisa berpikir. Suara bermacam-macam orang yang tadi bergema di telinganya mendadak senyap. Fokus nya hanya satu yaitu kembali keruang tunggu di mana Sehun berada. Dia harus segera mengambil tindakan. Tanpa memperdulikan tatapan keheranan dari semua orang yang ditujukan padanya, Kris melenggang pergi keluar dari ruangan itu dengan tergesa-gesa padahal acaranya masih belum selesai.
Ruangan yang letaknya tidak begitu jauh itu terasa menjadi beratus-ratus kilometer jaraknya. Perwakilan agensi terus saja memanggil, beberapa bodyguard juga hendak menghalanginya tapi dia tidak berhenti. Entah berasal dari mana sumber tenaganya, dia menjadi kuat seketika. Kris terus saja berlari, tidak peduli ketika orang-orang yang berseberangan dengannya bertabrakan hingga terjatuh akibat dirinya.
Bang!
Dia membuka pintu ruang tunggu itu dengan kasar, tapi dia tidak bisa menemukan Sehun ataupun Chanyeol di ruangan private itu.
"Sehun!" panggilnya.
"Chanyeol?"
Tiba-tiba pikiran buruk melayang-layang di pikirannya. Kris mencoba berpikir positif. Dalam hati dia mensugesti bahwa Sehun bersama dengan Chanyeol saat ini di suatu tempat. Dia menekan panggilan cepat di handphonenya menghubungi Chanyeol.
Kau sudah selesai?
"Yeol, Sehun bersamamu?"
Apa maksudmu? Dia diruang tunggu.
"Jadi dia tidak bersamamu?"
Kau dimana? Aku sedang menuju ke ruang tunggu.
Chanyeol mematikan teleponnya ketika dia melihat siluet Kris di pintu ruang tunggu tersebut.
"Kris kenapa kau tidak ma-" Ucapannya terputus ketika ia melihat sahabatnya itu.
Kris berbalik ke arahnya, tubuhnya terlihat bergetar, air mata itu telah menggenang membuat pupil matanya yang bergerak tak nyaman ikut tersamarkan. "Sehun." Cicitnya pelan penuh dengan rasa sesak.
"Dia didalam. Ayo kita bawa dia kerumah sakit."
Chanyeol menggeser tubuh Kris yang menghalangi dirinya untuk masuk, tapi ketika baru saja beberapa langkah dari pintu. Cup air putih hangat yang dibawanya, terjatuh begitu saja. Sofa itu kosong, hanya ada jaket milik Kris yang tergolek di sana.
"Sehun, dimana dia?"
"Harusnya aku yang bertanya kepadamu, dimana Sehun?" Kris memegang kerah Chanyeol, tubuhnya terlihat memucat, keringat dingin sudah membanjiri pelipisnya.
"Aku tadi pergi sebentar mencari air minum karena Sehun muntah." Chanyeol tergagap, dia masih mencoba mencerna situasi yang di alaminya.
Tidak dengan Kris, dia entah sejak kapan telah mengepalkan tangannya hendak meninju rahang Chanyeol, tapi tubuhnya limbung kedepan yang langsung di tangkap oleh Chanyeol begitu saja, "Aku bilang untuk tidak meninggalkannya." Setelah mengucapkan itu, Kris tak sadarkan diri. Inilah batas akhir dari ketahanan tubuhnya, kurang istirahat, tekanan dan stress di tambah lagi keberadaan Sehun yang entah berada dimana. Semua itu cukup untuk membuatnya beristirahat sejenak sambil berharap tidak ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa putra kecilnya.
.
.
.
To Be Continue
.
.
Maaf sangat telat update ya chingu..
Terima kasih banyak sama semua yang sudah mengapresiasi ff ini.
Aku tidak berjanji akan update cepat ya, kesibukan dunia nyata sedang menumpuk. Ini aku benar2 update karena sudah lebih dari satu bulan terbengkalai (merasa punya hutang,hehe) dan beberapa reader juga sibuk menagihnya. Mudah2an kalian tidak kecewa.
BIGHUG
ESH1608
