DUNIA BARU KITA

Cerita Sebelumnya

"Brengsek! Siapa kau!" Naruto menarik paksa pemuda beriris amethyst dari pelukan Hinata. Sang pemuda menatap tajam Naruto dengan mata amethyst dan wajah yang tersipu malu. Mulutnya terbuka bermaksud menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi pada Naruto.

Mata amethyst sang pemuda membekukan semua pergerakan Naruto. Bahkan Naruto sampai merasa jika untuk menarik nafas saja rasanya begitu berat.

"Tim medis!"

"Dimana kau?! Disini ada yang terluka parah!"

"Cepat!"

Dengan mata membulat kaget, Naruto perlahan melangkah mundur ke belakang beberapa langkah.

"Dengar Naruto, aku bisa menjelaskan semuanya." Pemuda bermata amethys itu lebih memilih mendekati Naruto dan meninggalkan Hinata.

"Tidak…"

"Aku sudah…"

"Neji!"

Air muka Naruto menunjukkan ekspresi ketidakpercayaan yang sangat.

"Naruto…"

"Hinata-sama, bersedia mati untukmu."

"Tolong diingat hidupmu bukan untuk dirimu saja."

"Dan sepertinya untuk diriku juga."

"Tidak mungkin!" Naruto menggeleng kaku.

"Kenapa? Kenapa kau mengatakan itu!"

"Bukannya kau akan merubah Hyuga!"

"Kenapa kau sampai segitunya?"

"Sampai memberikan nyawamu…"

Mulut Naruto terbuka namun tak satupun suara keluar dari mulutnya.

"Karena kau memanggilku jenius…"

Angin malam berhembus memainkan juntaian rambut mereka yang terselimuti kebingungan tanpa tahu penyebabnya.

"Neji!" Gumam Naruto.

.

.

Kembalinya Ingatan Naruto

Sasuke membeku di tempatnya berdiri, dibiarkan saja Sakura berjalan melewatinya mendekati Hinata yang terpaku seorang diri di belakang pemuda beriris amethyst, Sasuke merasa sedikit janggal dengan reaksi Naruto saat ini.

"Ne-neji?" Panggil Naruto masih dengan ekspresi tak percaya.

"Naruto." Balas Neji.

Hening sejenak.

"Neji." Sekali lagi Naruto mengulang panggilannya.

"Naruto." Balas Neji kembali.

"Ka-ka-kau… Neji…"

"Naruto,"

Sasuke memutar bola matanya bosan, merasa sedikit mual dengan adegan dramatis Neji dan Naruto yang saling memanggil nama masing-masing.

"Neji." Kali ini sepertinya Naruto sudah sedikit menguasai rasa kagetnya.

"Bagaimana bisa kau ada disini, ttebayou?!" Teriak Naruto.

Mendengar si jabrik mengucapkan kata andalannya "dattebayou", mata onyx Sasuke membulat.

'Dia mendapatkan kembali ingatannya?' Pikir Sasuke dalam hati.

"Kau sudah mati, Neji!" Pekik Naruto.

'Apa?' Mata onyx Sasuke membulat semakin lebar merasa kaget dengan apa yang baru saja di dengarnya. Sasuke menatap Neji penuh selidik. Sasuke tahu rinnegan adalah mata dewa. Tapi Sasuke bahkan tak pernah tahu jika dia bisa menghidupkan kembali orang mati.

'Tunggu dulu. Kenapa aku harus kaget? Semua orang yang ada di dunia ini kebanyakan memang sudah mati kan?' Sasuke berdebat dengan pikirannya sendiri.

"Naruto." Panggil Neji kembali.

"Owh, shit! Jangan bilang mereka akan saling memanggil nama lagi." Desis Sasuke.

"Ne.." Sahutan Naruto tak mendapatkan perhatian Sasuke yang sibuk mengumpat.

"Hinata-chan!" Pekikan Sakura membuat urat kesal Sasuke semakin menegang.

'Kau jangan ikut-ikutan, Sakura!' Teriak Sasuke dalam hati.

"Sasuke-kun! Naruto!" Merasa ada yang tidak beres dengan suara panik Sakura, Sasuke memutar kepala mencari keberadaan Sakura.

Ternyata suara panik Sakura dikarenakan Hinata jatuh pingsan dan bertumpu pada tubuh kurus Sakura sepenuhnya. Sasuke melirik Naruto yang tak seperti biasanya akan bereaksi cepat jika ada sesuatu yang terjadi dengan Hinata, adik kembarnya, dalam dunia baru mereka.

"Ayo, Naruto!" Ajak Sasuke.

Sasuke segera mengambil alih tanggungjawab Naruto sebagai kakak dengan melangkahkan kaki cepat mendekati Sakura dan membiarkan begitu saja Naruto mengekor di belakangnya.

"Dia pingsan lagi?!" Tanya Sasuke begitu tiba di dekat Sakura.

"Naruto! Cepat angkat adikmu! Berat!" Semprot Sakura kesal mengabaikan pertanyaan Sasuke.

"Eh? Apa? Adikku? Hinata?" Naruto memandang Sakura bingung.

"Sasuke-kun…" Rengek Sakura.

"Hahh…" Sasuke menghela nafas panjang.

Tidak di dunia shinobi, tidak di dunia baru ini, entah kenapa Naruto dan Sakura tak pernah berhenti membuatnya repot dan kesal.

"Berikan padaku." Sasuke mengambil alih tubuh Hinata dan segera membopong Hinata, menempelkan kepala biru Hinata pada dadanya. Nafas hangat Hinata yang menyapu dada Sasuke, membuat pemuda tampan ini kembali menghela nafas panjang.

"BAKA! Kenapa kau diam saja melihat adikmu pingsan?!" Teriak Sakura, yang berkacak pinggang pada Naruto, penuh rasa kesal.

"A-apa maksudmu, Sakura-chan?!" Air muka Naruto terlihat penuh tekanan rasa bingung.

"Maksudku sudah jelas sekali, Aho!" Umpat Sakura.

'Bolehkan aku membakar mereka dengan amaterasu?' Pikir Sasuke dibalik tampang dinginnya.

"Kenapa Hinata harus menjadi adikku, ttebayou?!" Pekik Naruto semakin tak mengerti. Sasuke mengerutkan keningnya bingung.

'Jangan katakan kau mendapatkan ingatan ninjamu kembali dan kau kehilangan ingatanmu di dunia ini, Dobe?!' Tebak Sasuke dalam hati.

Sasuke memilih diam dan berpura-pura bersikap polos apa adanya dia di dunia baru mereka karena memang tak ingin teman-teman shinobinya tahu jika dia sudah mendapatkan ingatan ninjanya kembali. Tak ingin mereka memaksa Sasuke mengakhiri dunia baru yang diciptakan dengan mengorbankan hampir seluruh cakranya dan Sakura saat itu.

"Aho! Apa yang kau katakan!" Amarah Sakura semakin memuncak.

"Bagaimana mungkin kau tidak mengakui adikmu sendiri?!"

"Kalau kau berani mengatakannya sekali lagi di depan Hinata, aku akan membunuhmu!" Teriak Sakura penuh emosi.

"Aku tidak mengerti apa yang kau katakan, Sakura-chan!" Rengek Naruto frustasi.

"Hahh…" Sasuke kembali menghela nafas panjang.

Sasuke memutuskan untuk melangkah pergi membiarkan saja Naruto dan Sakura bertengkar menuju mobil Sai. Sasuke tak ingin mengambil resiko Hinata akan pingsan sekali lagi jika sampai gadis pemalu dalam gendongannya ini bangun dan menyadari berada terlalu dekat dengannya.

Lagipula tidak enak rasanya menggendong gadis Naruto ini terlalu lama. Bukan karena Hinata terasa berat, tapi Sasuke adalah sorang nuke-nin dan terlalu lama menjadi murid Orochimaru membuatnya merasa sedikit kikuk berhubungan dengan wanita lain selain Sakura.

'Kenapa hanya bertemu sepupu Hinata dia sampai seperti itu?' Pikir Sasuke dalam hati, ditatapnya wajah cantik Hinata yang masih menyisakan bekas air mata yang hampir mengering.

'Lagipula kenapa harus melalui sepupu Hinata, Naruto mendapatkan ingatannya kembali?' Sasuke berfikir semakin keras tanpa berhenti menatap Hinata.

Terlalu asyik dengan kesibukan mereka masing-masing, Sasuke, Sakura, dan Naruto sepertinya melupakan keberadaan pemuda beriris amethyst yang berdiri diam dan terabaikan.

Drrrt… Drrrt… Drrrt…

Ponsel sang pemuda bergetar hebat.

Oono Matsuri

Apa Fansgirlmu sudah pergi? Aku lelah bersembunyi :'(

"Gawat! Aku lupa meninggalkan Matsuri sendirian di kamar mandi." Gumam pemuda yang dipanggil Neji oleh Naruto, seorang diri.

Pemuda tampan bermata perak seperti Hinata itu menatap Naruto yang masih sibuk bertengkar dengan Sakura.

'Untunglah Sakura belum mendapatkan ingatan ninjanya, jadi kepala jabrik Naruto aman dari pukulan mematikan Sakura.' Batin sang pemuda bermata perak.

Dengan menyungging senyum tipis dan terlihat seperti sedang mencari nomor seseorang di ponselnya, sang pemuda berjalan meninggalkan Naruto dan Sakura.

"Kakashi-sensei, maaf mengganggumu semalam ini." Sang pemuda mulai bercengkrama melalui ponsel di tengah perjalanannya menyusul Matsuri di kamar mandi wanita.

"Naruto sudah mendapatkan ingatannya."

"Tidak. Baru saja."

"Aku tak sengaja melakukannya."

"Aku akan menjelaskannya nanti padamu."

"Mungkin aku hanya sedang beruntung. Tapi misiku berhasil."

"Ha'i, Kakashi- sensei."

Pemuda beriris amethyst itu memasukkan kembali ponselnya dalam saku jaket kulit coklatnya.

"Kai."

Poft.

Sebelum menelpon gadis yang bersembunyi di dalam kamar mandi, sang pemuda beriris amethyst berubah wujud menjadi pemuda beriris jade pudar dengan rambut merah maron. Rei Gaara.

oOo oOo oOo

Villa Sai, Kamar Perempuan.

"Apa kau yakin Hinata-chan baik-baik saja, Ino?" Bisik Sakura dengan ekspresi khawatir.

"Hish! Diamlah, Sakura! Kau membuatku takut saja!" Jawab Ino berdesis kesal.

"Tapi dia pingsan sangat lama." Ucap Sakura dengan suara bergetar menahan khawatir.

"Kalian berdua tenanglah," Nasehat Temari.

"Hinata akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggunya bangun." Temari kembali mendekatkan minyak kayu putih ke hidung Hinata, mencoba memancing kesadaran gadis ini.

"Untung kau ada di sini, Temari-san." Ucap Ino.

"Ya, jadi merasa tenang." Sakura mengangguk setuju. Temari hanya tersenyum tipis mendengar pujian dua teman Shikamaru.

"Aku penasaran, kira-kira siapa pemuda yang dipeluk Hinata?" Ino kembali membahas penyebab pingsannya Hinata.

"Aku juga." Kata Sakura dengan nada ragu.

"Hinata-chan terlihat sangat menyayangi pemuda itu." Sakura kembali menggali ingatannya saat Hinata memeluk pemuda asing bermata perak seperti Hinata.

"Selama mengenal Hinata-chan, aku tak pernah melihatnya memeluk Naruto seerat dan penuh perasaan seperti itu."

"Memangnya seperti apa pemuda yang dipeluk Hinata? Apakah sangat tampan?" Selidik Ino.

"Pemuda itu…" Tiba-tiba ingatan kejadian setengah tahun yang lalu, saat Hinata menangis dalam kamarnya, berputar cepat dalam ingatan Sakura. Menghentikan suara yang akan keluar dari mulut Sakura.

"Hiks. Hiks. Hiks."

"Aku mohon padamu, Sakura-san. Jangan katakan apapun pada Naruto Nii-chan. Juga Sasuke-kun. Aku… Aku…"

"Aku sangat menyayangi keluargaku. Hiks. Hiks."

"Sakura! Kenapa melamun?" Goyangan Ino pada lengan Sakura membuat gadis cerry itu terhentak sedikit kaget.

"Hahh…" Sakura menghela nafas berat.

"Bisakah kita tak membicarakan Hinata-chan lagi?" Sakura memutuskan untuk menyimpan sendiri bagaimana ciri fisik pemuda yang begitu mirip dengan Hinata dibandingkan Naruto yang notabene adalah kakak kembar Hinata.

"Ngggh…" Kepala ketiga gadis yang terlibat dalam percakapan serius, segera berputar cepat menatap Hinata sebagai tanggapan dari erangan kecil Hinata.

"Hinata-chan." Pekik Sakura senang.

Sakura setengah berlari mendekati Hinata yang terlihat sedang berusaha berdamai dengan cahaya lampu yang menyilaukan.

.

.

Villa Sai, Kamar Laki-laki.

"Kau benar-benar merepotkan, Naruto." Shikamaru memijit keningnya dengan membawa rasa frustasi.

"Bagaimana mungkin kau kehilangan ingatanmu di dunia ini saat ingatan ninjamu kembali?" Gumam Shikamaru.

"Mana aku tahu." Naruto mengendikkan bahunya sekali.

"Aku sendiri juga bingung." Naruto menggaruk kepala jabriknya yang tak gatal.

"Mendokusai." Gerutu Shikamaru.

"Ano, Shikamaru."

"Dunia asing ini, sebenarnya dunia apa?" Naruto mulai memasang tampang serius.

"Hn?" Shikamaru mengangkat sebelah alisnya.

"Aku sendiri tak begitu paham." Jawab Shikamaru setelah berfikir sedikit lama.

"Tapi yang jelas kita bukan berada di dunia kita yang sebenarnya."

"Ada kemungkinan kita berada di dunia genjutsu buatan Sasuke."

"…." Naruto terlihat seperti memikirkan sesuatu dalam pikirannya.

"Tapi sayang sekali Sasuke masih belum mendapatkan kembali ingatan ninjanya."

"Karena mungkin satu-satunya jalan pulang kita adalah sharingan Sasuke."

Penjelasan Shikamaru tak membuat Naruto angkat bicara. Jinchuuriki kyubi ini sibuk berfikir bahwa jika benar semua yang dikatakan Shikamaru, besar kemungkinan Neji yang dilihatnya adalah nyata.

'Tapi kenapa Neji menghilang begitu saja tanpa menjelaskan apapun?' Pikir Naruto dalam hati.

"Lalu, bagaimana Hinata bisa pingsan?" Pertanyaan Shikamaru menghentikan lamunan Naruto.

"Jangan bilang kau melakukan sesuatu yang mesum lagi padanya." Tuduh Shikamaru.

"Eh? Apa maksud pertanyaanmu, Shikamaru?!"

"Tega sekali kau menuduhku seperti itu!" Protes Naruto. Shikamaru hanya nyengir tak bersalah.

Tap.

Seorang pemuda berkulit pucat tiba-tiba muncul dari samping Naruto dan Shikamaru yang sibuk bercengkrama di lantai kamar.

"Kalian berdua. Apa diskusi kalian belum selesai? Sasuke sudah kembali ke kamar." Lapor Sai.

"Hampir saja aku lupa."

"Bagaimana caranya mengembalikan ingatan Sasuke lalu kita kembali ke Konoha, Shikamaru?!"

"Kau kan bisa gunakan otak jeniusmu itu." Naruto mengabaikan pertanyaan Sai.

"Hahh…" Shikamaru menghela nafas berat.

"Aku selalu merasa gugup tiap kali memikirkan cara mengembalikan ingatan Sasuke." Jawab Shikamaru dengan memasang wajah frustasi.

"Dia memiliki keluarga yang utuh. Kehidupan yang normal. Sakura berada dekat dengannya."

"Sepertinya hampir semua keinginannya terwujud di dunia ciptaannya."

"Jika kita memaksa ingatannya kembali, apa itu tidak akan berakibat buruk lagi pada kejiwaan Sasuke?"

Pertanyaan Shikamaru benar adanya. Naruto dan Sai saling memandang tak tahu harus memberi tanggapan seperti apa. Bahkan ketika Kakashi memberikan misi pada Shikamaru untuk mengawasi dan mengembalikan ingatan Sasuke lalu Shikamaru memberikan pertanyaan yang sama, reaksi Kakashi tak ada bedanya dengan dua temannya ini.

"Jadi kau ingin berkata kita harus menunggu dengan sangat sabar sampai ingatan Sasuke kembali dengan sendirinya?" Tanya Naruto.

"Entahlah." Shikamaru mengendikkan bahu.

"Mungkin aku hanya ingin menyelamatkan nyawaku dari amukan Uchiha Sasuke." Jawab Shikamaru. Naruto mendengus geli.

'Ah, jadi Shikamaru takut dengan Sasuke?' Batin bunshin Sai.

"Kau tahu? Aku dan Sakura-chan pernah terjebak dalam dunia genjutsu Uchiha Obito." Cerita Naruto.

"Memang benar kebahagiaan dalam dunia genjutsu bisa sangat membuai."

"Tapi akan tiba saatnya kita merasa tak nyaman berada di dunia ini." Naruto merebahkan tubuhnya dalam posisi terlentang. Banyak hal yang melayang-layang dalam otaknya saat ini.

"Mungkin, kau benar."

"Kita akan terlihat sangat egois merebut kebahagiaan Sasuke begitu saja jika kita memaksanya mengakhiri genjutsu ini."

"Tapi kau harus ingat, Shikamaru. Terlalu lama di dunia ini akan membuat kita melupakan dunia nyata."

"Jadi lebih baik kita nikmati saja peran kita sekarang sampai dunia ini berakhir dengan sendirinya." Naruto nyengir lebar pada Shikamaru dan bunshin Sai.

"Tsk." Shikamaru berdecak.

"Sejak kapan kau jadi begitu bijak, Naruto." Cibir Shikamaru dibalik seringainya.

"Hehe," Naruto nyengir semakin lebar.

Cklek.

Poft.

Tepat saat pintu kamar terbuka, bunshin Sai menghilang. Sasuke masuk dengan membawa semangkok besar popcorn dan sebotol besar coke, berjalan mendekati Shikamaru dan Naruto yang sudah bangkit dari tidur terlentangnya.

"Apa yang kau bawa, Teme?" Tanya Naruto segera.

"Popcorn." Jawab Sasuke meletakkan mangkok popcorn.

"Dan coke." Sasuke meletakkan sebotol besar coke yang dibawanya dengan dijepit dibawah ketiaknya.

"Sai bilang kita akan melihat film horor bersama para gadis." Cerita Sasuke.

"Kau bercanda?" Tanya Shikamaru tak percaya.

"Akan sangat merepotkan jika semua gadis itu menjerit karena ketakutan." Keluh Shikamaru. Sasuke hanya mengendikkan bahunya santai.

"Ngomong-ngomong, apa Hinata sudah sadar, Sasuke?" Tanya Naruto.

"Entahlah. Sai yang menemui para gadis di kamar mereka." Jawab Sasuke.

Setelah berfikir sedikit lama, Naruto bangkit dari duduknya.

"A-aku akan melihat adikku sebentar." Kata Naruto sangat kaku. Aneh sekali rasanya memanggil Hinata adik walau gadis itu memang lebih muda beberapa bulan darinya.

Naruto berjalan keluar kamar menuju kamar Hinata dibawah pengawasan Sasuke dan Shikamaru.

.

.

"Naruto. Kau mau kemana?" Tanya Sai saat keduanya berpapasan di jalan menuju kamar para gadis.

"Menemui Hinata." Jawab Naruto singkat, karena perhatiannya tersita oleh para gadis yang memakai hotpants dan kaos tanpa lengan berjalan mendekatinya dan Sai.

Glek.

Naruto menelan ludah dengan susah payah. Seingatnya di Konoha para gadis hanya memakai pakaian yang sama setiap kali menjalankan misi. Walau pakaian mereka bisa dikatakan pendek, tapi entah kenapa rasanya tak semenarik sekarang.

Duk.

"Ittai!" Naruto memekik kecil mendapat sikutan pada perutnya dari Sai.

"Hapus ilermu, Naruto." Ucap Sai asal.

"Aku nggak ngiler!" Protes Naruto memekik setengah sweatdrop.

"Naruto!" Panggilan Sakura membuat Naruto memutar kepala.

"Apa yang kau lakukan disini dengan Sai?" Tanya Sakura yang membawa semangkok besar camilan.

"Aku ingin melihat Hinata." Jawab Naruto. Sakura dan Ino saling menatap dalam balutan rasa bingung. Telinga keduanya sedang tidak beres atau Naruto memang tak lagi menambahkan suffiks "chan" di belakang nama Hinata.

"Dia sudah sadar tadi tapi aku memintanya tidur." Otak Sakura masih mengambang.

"Hinata-chan mengeluhkan tengkuknya terasa panas dan kepalanya sedikit pusing." Cerita Sakura.

"Uhm. Baiklah. Aku akan ke kamarnya sekarang." Naruto mengangguk mantap.

"Sai. Antar aku!" Naruto menyeret Sai menjauhi para gadis.

"Sai-kun. Jangan lama-lama." Teriak kecil Ino. Sai hanya mengangkat jempolnya sebagai tanda mengiyakan tanpa menoleh karena masih berusaha menyeimbangkan langkahnya yang terseret oleh Naruto.

Sakura memiringkan kepala merah mudanya, memikirkan sesuatu.

'Entah kenapa sikap Naruto dan Sasuke-kun terasa aneh hari ini.'

"Jangan melamun. Ayo pergi." Ajak Temari.

"Ah, gomen." Sakura mulai melangkahkan kaki berdampingan dengan Ino dan Temari menuju kamar para laki-laki.

oOo oOo oOo

Di kamar para gadis, mata langit Naruto tak mau lepas dari wajah cantik Hinata yang memejamkan mata dengan sangat tenang.

"Di dunia baru kita, kau dan Hinata adalah saudara kembar."

"Bagaimana mungkin?!"

"Aku sendiri tak tahu tapi seperti itulah keadaan kalian sekarang."

Ingatan Naruto tentang cerita dan penjelasan Shikamaru kembali berputar cepat dalam pikirannya.

"Aku bertemu dengan Neji. Apa kau percaya, Shikamaru?!"

"Kenapa tidak, Naruto. Ayahku. Ibu Temari. Paman Inoichi. Kakak Sai. Kedua orangtuamu. Keluarga Sasuke. Mereka semua sudah meninggal dan berada dalam dunia ini."

"Kau benar juga."

"Mungkin Hinata sebenarnya sangat merindukan Neji."

"Ya. Itu sangat mungkin, Shikamaru."

Naruto mengulurkan tangannya. Menyibak poni Hinata dengan gerakan lembut karena takut membangunkan Hinata dari tidur damainya.

"Maafkan aku membuatku kehilangan Neji, Hinata." Lirih Naruto masih dengan jari-jari yang memainkan poni Hinata.

"Naruto."

"Hinata dan para kunoichi yang lain belum mendapatkan kembali ingatan mereka di dunia baru kita."

"Karena itu aku harap kau bisa bersikap biasa."

"Bahkan jika itu berarti kau harus menjadi kakak Hinata."

"Bagaimana bisa aku bersikap sama jika aku tak ingat apa yang aku lakukan sebelumnya, ttebayou?!"

"Hahh…"

"Kau benar-benar merepotkan, Naruto."

"Bagaimana mungkin kau kehilangan ingatanmu di dunia ini saat ingatan ninjamu kembali?"

"Aku akan menggantikan posisi Neji sebagai kakakmu dalam dunia ini, Hinata. Sampai kita kembali ke dunia kita."

"Aku akan menjagamu seperti yang Neji lakukan."

"Aku janji."

Cup.

Naruto mengecup pelan bibir pucat Hinata sedikit lama. Jika gadis itu dalam keadaan sadar pastilah wajahnya sudah memerah padam. Ah, rasanya Naruto rindu sekali melihat rona tersipu Hinata.

"Anggap saja ini bayaran atas kesabaranku berperan menjadi kakakmu, Hinata." Naruto nyengir walau Hinata masih memejamkan matanya dan tak menunjukkan reaksi apapun.

Tiba-tiba mata Naruto membulat. Cengiran rubahnya menghilang begitu saja. Wajah Naruto pun perlahan memucat.

'Kuso!'

'Apa yang aku lakukan, ttebayou!'

'Aku baru saja menciumnya! Ciuman pertamaku dengannya!'

'Arrrgh!' Naruto mengobrak-abrik rambut jabriknya yang tumbuh panjang. Merasa frustasi dengan kebodohan yang baru saja dilakukannya.

oOo oOo oOo

Cpuk. Cpuk. Cpuk.

Kening Naruto berkerut walau matanya terpejam erat. Suara tetesan air ini entah kenapa terasa tak asing baginya.

Cpuk. Cpuk. Cpuk.

Naruto segera membuka mata langitnya cepat begitu ingatannya tentang suara ini kembali. Ini suara air di kandang Kurama. Naruto sangat hafal suara ini.

Benar saja. Naruto saat ini berada di sebuah lorong remang dengan air yang menggenang dimana-mana. Tak ingin membuang banyak waktu, Naruto berlari dengan tidak sabar mencari ujung lorong, meninggalkan bunyi kecipak air yang menggema jelas.

Mata langit Naruto membulat penuh. Detik berikutnya sebuah tawa besar disunggingnya saat dia berhasil menangkap sosok kyuubi yang tidur tenang dan mendengkur di dalam kandangnya.

"Kurama!" Panggil Naruto penuh semangat. Telinga kyuubi bergerak sedikit menangkap suara Naruto.

Tak mendapatkan respons berarti dari Kurama, Naruto berlari mendekat dan masuk dalam kandang Kurama.

"Kurama! Aku sangat merindukanmu!" Naruto memeluk hidung Kurama dengan kedua tangannya yang walaupun dibuka sangat lebar tetap tak mampu menggapai seluruh hidung kyubi.

Kyuubi membuka mata namun tak menggerakkan kepalanya sedikitpun menikmati pelukan hangat Naruto pada hidungnya.

"Kurama!" Panggil Naruto kembali dengan penuh semangat saat menyadari kyuubi sudah membuka matanya, begitu Naruto melepaskan pelukannya pada hidung Kurama.

"Jadi si bodoh sudah mendapatkan ingatannya kembali?" Sindir Kurama yang masih tak menggerakkan kepalanya, menyamakan tatapan matanya dengan Naruto.

"Hehehe." Naruto menggaruk belakang kepalanya dan tertawa tanpa dosa.

"Maafkan aku, Kurama. Apa kau kesepian tak ada teman bermain?" Tanya Naruto penuh percaya diri.

"Grrr…" Kyuubi memamerkan barisan gigi depannya. Mungkin maksudnya tertawa geli mendengar pertanyaan Naruto.

"Kau satu-satunya jinchuurikiku yang sangat berisik, Naruto." Sindiran Kurama menghentikan tawa Naruto.

"Hee… Kau masih saja suka ngambek seperti Shino." Sindir Naruto balik.

"Kemarilah, Gaki. Aku akan memberikan ingatanmu di dunia ini."

Kurama menegakkan kepalanya dan mengangkat satu jari tangannya. Walau tak sepenuhnya paham maksud dari perintah Kurama, Naruto tetap berjalan ke bawah jari tangan Kurama yang terangkat.

"Pejamkan matamu, Naruto." Perintah Kurama.

Tanpa banyak bertanya, Naruto memejamkan mata. Bersamaan dengan beban berat jari Kurama di atas kepala jabriknya, ingatan Naruto tentang dunia barunya berputar-putar sangat cepat dalam pikiran Naruto.

oOo oOo oOo

"Ngggh…" Naruto menggeliat pelan merasakan belaian lembut di rambut jabriknya.

"Naruto Nii-chan, bangunlah." Suara lembut Hinata menyeruak masuk dalam telinga sang jinchuuriki.

Saat Naruto mengangkat pelan kepala jabriknya dari atas tumpukan lengannya, Hinata menarik tangannya dari atas kepala Naruto. Naruto mengerjapkan mata langitnya beberapa kali melihat senyum manis Hinata, yang duduk di tepi ranjang di sampingnya. Entah bagaimana setelah pertemuan Naruto dengan Kurama, semua ingatan tentang dunia barunya kembali.

"Teman-teman sudah menunggumu di meja makan, Nii-chan." Jelas Hinata. Naruto bergeming tanpa melarikan tatapan matanya pada Hinata.

"Ada apa, Nii-chan?" Tanya Hinata heran dengan kediaman Naruto.

"Imo-u-to?" Eja Naruto.

"Ya, Nii-chan." Jawab Hinata yang berfikir jika Naruto memanggilnya.

'Duke! Aku ingat sekarang semua kenanganku dan Hinata sebagai saudara!' Umpat Naruto dalam hati.

"Aku minta kau menjaga Hinata-chan tapi malah Hinata-chan yang menjagamu, Baka!"

Naruto memutar kepala ke belakang, menatap Sakura yang lagi-lagi berpakaian seksi menurut versi Naruto.

"Apa yang kau lakukan disini dengan pakaian seperti itu, Sakura-chan?!" Pekik Naruto kaget.

"Hah?!" Sakura melongo tak mengerti dengan pertanyaan Naruto.

"Tidak ada yang salah dengan pakaianku!" Protes Sakura.

"Mungkin otakmu yang sedang error!" Sakura yang sebelumnya memilih menunggu Hinata di pintu kamar, akhirnya melangkah maju mendekat pada Naruto dan Hinata.

"Kau baik-baik saja? Wajahmu memerah, Naruto." Ucap Sakura.

"Huwaaa…" Naruto berdiri cepat menghindari tangan Sakura yang terulur, sepertinya Sakura bermaksud mengukur suhu tubuh Naruto.

"Baiklah-baiklah aku akan keluar." Naruto berjalan cepat meninggalkan Hinata dan Sakura yang saling memandang bingung begitu saja.

"Ada apa dengannya?" Tanya Sakura.

"Aku tak tahu, Sakura-san." Hinata menggeleng bingung.

Kedua gadis ini diam sejenak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.

"Ano, Sakura-san. Sejak kapan Nii-chan punya kumis di kedua pipinya?" Sakura memandang Hinata dengan tatapan bingung.

"Eh? Bukankah sejak lahir Naruto memiliki kumis?" Tanya Sakura balik.

"Benarkah?" Hinata memiringkan kepala birunya, merasa bingung.

oOo oOo oOo

"Yey, pantai…."

Para gadis berteriak girang dan berlarian, berlomba sampai di tepi pantai paling pertama, walau dengan membawa pelampung dan bola pantai.

"Hoi, Temari! Jangan berlarian seperti itu!" Teriak Shikamaru.

"Ternyata tebakanku benar. Diam-diam kau menyukai kakak Gaara, Shikamaru." Bisik Naruto centil di telinga Shikamaru.

Blush!

"Urusai!"

Tak ingin menanggapi lebih jauh sindiran Naruto dan terlibat dalam pembicaraan merepotkan, Shikamaru bangkit melangkah menjauh dari Naruto dengan membawa rona merah pada wajahnya.

"Hihihi. Dia pemuda yang pemalu." Kikik Naruto.

"Benarkan, Sai?" Naruto memutar kepala menatap Sai yang ternyata sibuk mengawasi Ino bermain air di tengah pantai bersama Sakura.

"Hee… Aku juga tak menyangka kau bisa jatuh cinta dengan Ino." Cibir Naruto pada Sai yang bahkan tak melepaskan pengawasannya pada Ino sedetikpun. Sepertinya Sai begitu mengkhawatirkan keselamatan Ino yang bermain air tanpa menyadari ombak yang sedikit besar. Jika saja ingatan ninja Ino sudah kembali, mungkin Sai tak harus selalu mengkhawatirkan gadis bunganya itu.

Naruto merebahkan tubuhnya di atas tikar yang sudah disiapkan para gadis untuk tempat beristirahat, selesainya mereka bermain pasir dan air di tengah pantai. Pikiran Naruto berkelana ke segala arah.

"Dunia ini benar-benar membahayakan jiwa para laki-laki." Simpul Naruto seorang diri.

"Ya, walaupun tak ada ruginya menikmati tubuh seksi para kunoichi. Hehe." Naruto membuat seringai mesum.

"Nii-chan."

Mata langit Naruto membulat terkejut saat Hinata tiba-tiba dengan hanya memakai bikini biru gelapnya menundukkan kepala di atas Naruto. Surai biru Hinata bahkan sampai tergerai di pipi tan Naruto dan membuat geli daerah itu.

Blush!

Rona merah menjalar cepat ke seluruh wajah tan Naruto saat mata langitnya tak bisa lepas dari belahan dada Hinata yang tersaji terlalu dekat dengan mata langitnya.

Glek.

Naruto menelan ludah dengan susah payah. Tubuhnya terasa bergejolak hebat tanpa alasan yang jelas.

"Nii, Nii-chan, kau mimisan." Kaget Hinata.

Naruto meraba cairan merah setengah kental yang mengalir pelan keluar dari dalam hidungnya.

"Huaaah!" Naruto bangkit dengan kasar. Teriakannya mengagetkan Sai yang refleks menoleh padanya.

"Naruto? Kau mimisan?" Tanya Sai retoris.

"Kau sudah tak bisa menahan pikiran mesummu lagi ternyata." Sai tertawa kecil. Kata-kata polos dan tawa kecil Sai, terdengar seperti sebuah sindiran bagi Naruto.

"Sai! Aku akan…"

"Nii-chan, daijobou?" Sebelum Naruto sempat menyelesaikan umpatannya pada Sai, Hinata berjongkok dan kembali memamerkan tubuh moleknya di depan mata langit Naruto.

"HUAAAAH!" Naruto terlonjak kaget ke belakang.

'Kenapa Uchiha sangat suka membuat Hinata berpakaian seksi?!' Mata langit Naruto mulai berkunang-kunang. Kepalanya terasa berdenyut keras tak bisa menahan godaan tubuh Hinata yang terlalu ekstrim, atau memang pikiran Naruto yang terlalu mesum.

Brug.

"Nii-chan! Nii-chan!" Hinata dengan panik mengguncang bahu Naruto yang terlihat seperti tak sadarkan diri. Sai hanya menyungging senyum andalannya, tak menganggap ketidaksadaran Naruto adalah sesuatu yang besar.

"Dunia ini benar-benar berbahaya, ttebayou." Gumam Naruto terbata-bata dalam ketidaksadarannya.

oOo oOo oOo

"HUAAAAH!"

Teriakan Naruto menarik perhatian Sakura dan Ino yang masih asyik bermain bola plastik di dalam air, serta Sasuke yang duduk di tepi pantai mengawasi Sakura dengan menggenggam sebatang kayu.

"Ada apa dengannya?" Tanya Sakura pada Ino.

"Mana aku tahu? Mungkin penyakit ayan Naruto kambuh." Jawab Ino asal.

"Hush! Jangan bicara sembarangan!" Balas Sakura tak suka.

"Hehe. Hanya bercanda." Ino menjulurkan lidah dan memasang wajah centil.

"Hey, Sakura. Kenapa Gaara masih belum datang juga ya?" Tanya Ino mulai melempar bola pada Sakura.

"Mungkin dia masih belum menyelesaikan syutingnya." Tebak Sakura, yang melempar balik bola plastik pada Ino.

"Aku bosan bermain bola. Aku ingin membuat istana pasir." Ino tak lagi melempar bola yang dipeluknya erat-erat.

Sakura memutar kepala, memandang Sasuke yang terlihat asyik mencoret pasir dengan batang kayu yang entah dari mana di temukan bungsu Uchiha itu.

"Jujurlah padaku, Sakura."

"Kau menyukai Sasuke-kun kan?" Ino kembali melempar bola plastik yang hampir lepas dari tangkapan Sakura yang tak siap menerima lemparan bola dari Ino.

"Tidak! Aku hanya menyukai Nii-san." Bantah Sakura sembari melemparkan kembali bola pada Ino.

"Kau boleh berkilah. Tapi matamu tak mampu membohongiku." Ino mengunci bola di bawah ketiaknya.

"Kau mungkin hanya tak ingin jujur pada perasaanmu bahwa sebenarnya laki-laki yang kau suka adalah Sasuke-kun dan bukan Itachi-san."

"Mungkin saja kau hanya mengagumi kedewasaan Itachi-san, bukan?" Tebak Ino.

"Cih. Seperti kau tahu perasaanku saja." Gerutu Sakura.

"Kita lihat saja nanti. Kau pasti juga akan menyadarinya sendiri." Tantang Ino.

"Lemparkan bolanya lagi, Ino!" Perintah Sakura.

"Aku rasa Sasuke-kun menyukaimu." Ino masih berusaha mengorek perasaan Sakura sebenarnya.

"Tidak. Tidak. Dia hanya pemuda egois yang belum dewasa." Sakura masih menutupi kenyataan bahwa Sasuke sudah pernah mengatakan cinta padanya.

"Lihat. Benarkan? Kau hanya mengagumi kedewasaan Itahi-san!"

Skak mat. Sakura tak mampu berkilah.

"Kau tahu, Sakura? Aku rasa Sasuke-kun benar-benar menyukaimu."

"Kalian teman sejak kecil bukan?"

"Menyatakan cinta pada teman sejak kecil membutuhkan keberanian yang sangat besar."

"Jika kau menolaknya, dia akan membawa beban di hatinya."

"Tapi dia juga tak bisa menghindarimu begitu saja."

"Mungkin karena itu Sasuke-kun masih ragu mengakui perasaannya padamu."

Sakura menggigit bibir bawahnya dalam diam. Semua perkataan Ino membuatnya merasa menjadi gadis jahat yang tak mempertimbangkan perasaan Sasuke.

"Sakura!"

Sakura tanpa meneruskan kalimatnya, menoleh cepat mencari pemilik suara berat yang baru saja memanggil namanya.

"Keluar dari air sekarang. Ombaknya semakin tinggi." Teriak Sasuke.

"Tidak mau! Aku masih ingin bermain!" Balas Sakura dengan berteriak tak kalah kencang.

'Ya ampun. Dua orang ini jika sudah bertengkar lupa segalanya.' Batin Ino sweatdrop. Baru saja Sakura memasang wajah serius, tanda Ino berhasil mempengaruhi jalan pikirannya. Sekarang Sakura saling berteriak dengan Sasuke seolah sebelumnya tak ada pembicaraan serius dengan Ino.

"Keluar atau aku akan menyeretmu!" Ancam Sasuke.

"Kemarilah kalau kau berani pantat ayam!" Tantang Sakura.

Sasuke dalam dunia baru memang tak bisa berenang. Tapi Sakura tak tahu jika setelah ingatannya kembali, Sasuke adalah pemuda yang tak takut apapun. Mungkin satu-satunya yang Sasuke takutkan sekarang adalah kehilangan Sakura.

Urat kesal Sasuke mengeras mendengar julukan Sakura padanya sejak mereka kecil. Jika ini dunia shinobi, tak mungkin Sakura berani memanggilnya seperti itu.

'Sial! Gadis itu sungguh menyebalkan!' Batin Sasuke.

"Tsk. Kalian seperti anak kecil saja." Ino menggeleng heran.

"Ino, mau kemana?" Cegat Sakura saat Ino mulai melangkah mendekati tepi air.

"Menemani Sai-kun." Jawab Ino tanpa menoleh.

"Lagipula aku tak ingin terlibat dalam drama komedimu bersama Sasuke-kun." Sindir Ino.

"Enak saja kau bilang drama komedi, Ino! Ini pertengkaran dari lubuk hati." Protes Sakura yang ikut melangkahkan kaki pelan membelah air yang baru disadarinya sudah berada di perutnya menuju tepi pantai.

"Ya, terserah." Gumam Ino tak ingin ambil pusing.

.

.

"Apa ini?" Kening Sakura berkerut heran melihat coret-coretan gambar Sasuke.

"Wah… Kenapa aku tak pernah tahu kau pintar menggambar seperti Sai?" Tanya Sakura dengan mata berbinar kagum.

"Jangan cerewet! Ayo pulang!" Sasuke bangkit, menepuk celana pendek biru tuanya untuk meruntuhkan seluruh pasir yang menempel.

"Eh, Sasuke-kun. Bisakah kita membuat istana pasir? Aku selalu ingin melakukannya." Rengek Sakura.

Sasuke menatap diam Sakura yang hanya mengenakan bikini berwarna putih gading di depannya.

'Hahh! Sial!' Sasuke memalingkan segera wajah tampannya yang terasa panas.

"Mau, ya?" Sakura mengembangkan sebuah senyuman tipis yang manis.

"Aku lapar, Sakura. Buatkan aku makanan dulu." Sasuke masih memalingkan wajahnya yang terlihat aneh karena berusaha menyembunyikan rona tipis di pipinya.

"Ah, benar juga. Sudah masuk jam makan siangmu, ya?" Gumam Sakura.

"Yosh! Laksanakan, Tuan Uchiha!" Sakura menghormat centil pada Sasuke.

Sasuke diam tak menanggapi. Yang dilakukan pemuda berambut raven ini adalah memutar tubuh dan melangkah mendahului Sakura yang masih menghormat padanya.

'Sial! Aku tak tahu bisa bersikap malu-malu seperti ini.' Gerutu Sasuke dalam hati. Sasuke mulai melangkah menyusuri tepian pantai untuk kembali ke villa. Dimasukkan kedua tangannya ke dalam kantong celana pendeknya dengan masih mempertahankan wajah tersipu menahan malu.

"Dia mengacuhkanku." Sakura mengerucutkan bibirnya kesal.

"Ittai!" Pekik Sakura kecil. Kaki telanjangnya yang melangkah menyusul Sasuke seperti mengincak sesuatu yang sedikit lancip.

'Eh? Apa itu?' Tangan Sakura terulur ragu mengangkat benda yang timbul di pasir tempat Sasuke duduk sebelumnya, yang ternyata adalah kalung berlambang kipas Uchiha yang dulu sempat menjadi benda yang membuat Sasuke dan Sakura bertengkar dan saling mendiamkan selama beberapa hari.

"Sepertinya Sasuke-kun tak sadar menjatuhkan kalungnya." Gumam Sakura seorang diri.

"Sa…" Sakura segera menghentikan niatnya memanggil Sasuke.

'Tidak. Tidak. Ini kesempatanku.'

'Aku sangat penasaran apa yang membuat Sasuke-kun sampai semarah itu padaku.' Mata emerald Sakura kemudian meneliti bandul kalung Sasuke yang menggembung.

Begitu menemukan kaitan kecil untuk membuka bandul, Sakura dapat melihat isi di dalam bandul yang ternyata adalah potret dirinya saat kecil yang sedang menangis tersedu-sedu.

'Heh?! Pantas saja dia benar-benar tak ingin aku melihat isinya!'

'Hanya lelucon Uchiha yang menyebalkan!' Hati Sakura memanas, berfikir jika Sasuke membuatnya sebagai bahan lelucon dengan menyimpan foto memalukan Sakura yang Sakura bahkan tak ingat kapan pernah menangis separah itu.

"Sasuke breng…" Umpatan Sakura terhenti saat mata emeraldnya menangkap barisan kata di bawah fotonya.

"Selalu aku yang jadi alasanmu menangis. Maaf, Sakura. Tapi aku tak ingin kau berhenti mencintaiku seperti yang diam-diam aku lakukan."

Blush!

Pipi Sakura menghangat. Tentu saja bukan karena terik matahari musim panas. Ini karena kalimat Sasuke yang entah kenapa terasa sangat dalam maknanya.

'Cih! Percaya diri sekali pangeran Uchiha jika aku mencintainya?!'

'Dan apa maksudnya menggunakan kata selalu? Aku bahkan belum mengiyakan pernyataan cintanya!' Omel Sakura dalam hati.

Walau Sakura berusaha membuat nada suaranya seperti sedang merasa kesal, tapi detak jantungnya yang tak normal, mata emeraldnya yang berbinar, dan rona merah tipis di kedua pipinya tak mampu menyembunyikan perasaannya yang berbunga.

"Sakura, ayo!" Sasuke memutar tubuh yang entah sejak kapan sudah menanggalkan kemeja putihnya, menatap Sakura masih dengan wajah menahan malunya, karena gadis itu tak kunjung menyusulnya juga.

"Eh, iya. Tunggu sebentar!" Sakura menyembunyikan kalung Uchiha Sasuke di dalam genggaman tangannya.

"Ayo," Ajak Sakura begitu menyamakan posisi di samping Sasuke.

"Panas sekali udaranya." Gumam Sasuke. Entah kenapa bungsu Uchiha ini memasang wajah yang semakin aneh. Kening berkerut dengan rona merah yang tercetak lebih jelas dari sebelumnya. Sepertinya Sasuke mati-matian menahan rasa malu.

"Bawakan kemejaku!" Sasuke menyampirkan kemeja putih tipisnya di bahu Sakura dan kembali melangkah pergi meninggalkan Sakura yang masih berfikir.

"Seperti yang diam-diam aku lakukan."

Sakura tersenyum mengingat kembali kata-kata Sasuke dalam kalungnya.

"Aku mengerti." Gumam Sakura.

"Kau ingin aku memakai kemejamu agar kulitku tak terlalu lama tersengat matahari, kan?" Tanya Sakura seorang diri. Sakura mulai memakai kemeja Sasuke dan memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembalikan diam-diam kalung Sasuke ke dalam saku kemeja putih Sasuke.

'Sekarang aku tahu apa maksud kata-katamu tadi, Ino.' Gumam Sakura dalam hati di dalam langkah cepatnya menyusul Sasuke.

"Eh, Sasuke-kun. Temani aku nanti sore melihat matahari tenggelam, ya?" Pinta Sakura yang begitu sumringah segera begitu dapat menyamai langkah Sasuke.

"Hn." Gumaman andalan Sasuke.

"Lalu temani aku berbelanja bahan makanan ke kota, ya?"

"Hn."

"Lalu bantu aku memasak untuk sarapan pagi besok, ya?"

"Hn?" Sasuke menundukkan kepala menatap Sakura dengan wajah bingung, hanya perasaannya saja atau memang permintaan Sakura semakin bertambah banyak.

"Lalu, bantu aku…"

"Hey! Kau mau memperbudakku?!" Protes Sasuke.

"Hihihihi. Tidak-tidak. Hanya ingin memanfaatkan tenagamu." Tawa bahagia yang sangat lebar berkembang di wajah cantik Sakura, membuat Sasuke semakin terjebak dalam pesona gadis musim seminya.

"Hn." Jawab Sasuke yang segera mengalihkan pandangannya kembali dari wajah cantik Sakura, sebelum tenggelam terlalu jauh dalam pesona gadis musim seminya itu.

Sasuke tak ingin kejadian yang membuatnya tak bisa mengontrol diri mencium Sakura di malam ulang tahunnya dulu terulang kembali. Lagipula apa-apaan semua rona merah yang membuat wajahnya terasa panas ini. Benar-benar tak cocok dengan kepribadiannya yang keren.

'Sial! Aku tak tahu dia bisa secantik ini.' Umpat Sasuke dalam hati.

'Sepertinya musim panas memang bisa membuat orang berubah aneh.' Sasuke mencoba mencari pembenaran.

oOo TBC oOo

Huft!

Update cepat sebagai permintaan maaf ^^

Hanazono-san : "Haha. Gomen. Kemaren Cand lagi banyak kontroversi hati :p"

Feigun-san : "Itachi tak dapat ingatan apa-apa karena Itachi hanya ilusi ^^ Haha. Gomen. Cand udah berusaha gak telat tapi apa daya otak tak mau bekerja :D"

Hq-san : "Loh kasihan kenapa Hq-san? Hinata kalo dapet ingatannya kehidupan Naruhina akan semakin ruwet."

Sarti-san : "Lee sama Tenten ya? Wah... ^^"

Guest-san : "Ingatan Kunoichi dikunci dulu untuk suatu alasan. Hehe ^^"

Kuro-san : "Arigatou buat pujiannya, Kuro-san ^^ Haha kalo dikutuk cerita tak akan berlanjut."

Cvot-san : "Iya ini udah diupdate ^^ Makasih banyak pujiannya "

Mikuru-san : "Iya gak pa-pa panggil Cand aja ^^ Haha. Karena sudah tertulis pairnya di depan, Cand gak berani gak memunculkan NejiTen. Sabar ya. Ini sudah update, ditunggu reviewnya :D"

Guest-san : "Iya ini abang kemana aja ^^"

SS HH-san : "Wah kenapa harus tersinggung? Cand sendiri juga lebih suka settingan canon. Hohoho."

Raa-san : "Wah, Gomen Raa-san. Cand sedikit kesusahan juga buat adegan Sasusaku yang gak buat mereka OOC."

Ayumu-san : "Yosh ^^"