[Re-Make] A Romantic Story About Serena

.

Cast : Wu Yifan , Huang Zitao , and others.

.

Rated : M

.

Disclaimer : alur cerita ini akan sama persis dengan aslinya yaitu A Romantic Story About Serena by Shanty Agatha.

.

Gs. Typo(s).

.

.

.

.

.

.

Luhan sedang duduk di ruang tamu rumahnya, merenung.

Ada yang mengganjal di pikirannya, terus mengganggu. Sesuatu yang diketahuinya sejak dulu tapi di lupakannya.

Sesuatu tentang Zitao, dia merasa dia seharusnya mengetahui sesuatu tentang gadis itu, tapi apa?

Apa itu Luhan? Bukankah kau merasa sudah pernah mengenal gadis itu sebelumnya? Sebelum gadis itu bekerja di perusahaan ini? Bukankah gadis itu terasa begitu familiar?

Dengan gelisah Luhan berdiri, melangkah ke depan lemari putih yang terpajang rapi di ruang tamunya...

Sebenarnya dia punya firasat Zitao berhubungan dengan masa lalunya, masa lalu yang ingin dilupakannya, karena terlalu pedih untuk diingatnya.

Kenangan tentang almarhum suaminya, Shixun...

Dengan gemetar Luhan membuka laci lemari putih itu, lalu mengeluarkan sebuah kotak putih yang tidak pernah disentuhnya sejak dua tahun lalu.

Hati-hati dibukanya kotak itu dan dikeluarkannya isinya, sebuah map tebal berisi berkas-berkas.

Luhan duduk, menarik napas panjang dan membuka map itu, isinya adalah kliping, potongan berita-berita tentang tragedi dua tahun lalu.

Tragedi kecelakaan beruntun di jalan tol yang menewaskan Shixun suaminya.

Saat itu, dalam kesedihannya, Luhan mengumpulkan semua berita yang memuat tentang tragedi itu, menjadikannya satu di dalam satu map besar, memasukkannya ke kotak, dan menyimpannya, menyimpannya bersama segenap kepedihan yang dia rasakan.

Sekarang dia membuka lagi kotak kepedihan itu, hatinya terasa nyeri, tangannya gemetar ketika membuka halaman demi halaman. Potongan artikel itu.

Sampai kemudian dia menemukan apa yang dia cari.

Gambar sosok itu persis sama, meski terlihat muda, rapuh dan remuk redam, itu Zitao yang sama, di gambar artikel itu, dia sedang menunduk mengenakan pakaian serba hitam di ruang tunggu sebuah rumah sakit,

SELURUH KELUARGA TEWAS MENJADI KORBAN TABRAKAN BERUNTUN

Begitu judul artikel itu,

Disitu dijelaskan bagaimana Zitao kehilangan kedua orang tuanya dan ditinggalkan sebatang kara sendirian. Sedangkan tunangannya, seorang pengacara bernama Oh Sehun terbaring koma tak sadarkan diri.

Tunangan? Koma?

Luhan membaca artikel itu dengan teliti, lalu mengamati background rumah sakit pada gambar artikel Zitao itu.

Dia tahu rumah sakit ini karena pernah praktek lapangan disana beberapa tahun lalu.

Dengan segera dia menelephone rumah sakit itu, menggunakan berbagai koneksi profesi dokternya untuk memperoleh info dari dokter- dokter yang dikenalnya, Luhan mencari informasi sebanyak-banyaknya,

dan pada akhirnya menemukan kebenaran.

Kebenaran yang pasti akan menyentuh hati siapapun yang mendengarnya. Bahkan matanyapun berkaca-kaca karena terharu.

Tiba-tiba Luhan teringat akan kata-kata ChanLie ketika mereka makan siang bersama tadi, mengenai rencana lelaki itu untuk memberi Zitao pelajaran...Malam ini...

Oh Tuhan!

Dengan segera, seolah tersadarkan, Luhan segera meraih dompet dan kunci mobilnya,

Dia harus mencegah ChanLie melakukan apapun rencananya untuk memberi pelajaran pada Zitao!

ChanLie sudah salah paham, dan apapun yang dilakukan lelaki itu, dia pasti akan menyesal begitu mengetahui kenyataan yang sebenarnya!

Luhan harus mencegahnya sebelum terlambat!

.

.

.

Tamu penting itu akhirnya pulang juga, beres sudah, semua berjalan sesuai keinginannya.

Yifan mengacak rambutnya kesal,

Kalau begitu kenapa dia tidak merasa lega?

Kau tahu kenapa?

Bisik suara hatinya,

Ah ya, aku tahu kenapa.

Yifan mengakuinya.

Zitao.

Cukup satu nama yang mewakili segalanya. Satu nama yang sedari tadi menghantui pikirannya.

Dia masih marah pada Zitao, marah besar. Tapi bahkan meskipun dia marah, dia tak ingin membuat Zitao sedih dengan kemarahannya.

Sungguh ironis.

Yifan tersenyum sinis, menertawakan dirinya sendiri.

Tanpa terasa , gadis itu, Zitao telah menjadi harta yang begitu berharga untuknya.

Tidak pernah dia secemas itu untuk siapapun, seperti yang dia lakukan untuk Zitao kemarin malam,

Akuilah Yifan, kau menyayangi gadis itu.

Suara hatinya menekannya lagi. Dan Yifan tidak membantahnya, dia sudah terlalu lelah membantahnya.

Gadis itu dengan sifat polos, jujur dan kekanak-kanakannya telah menyentuh sisi hatinya yang tidak pernah diijinkan tersentuh oleh siapapun.

Ah ya, Zitao pasti sudah menunggunya di ruangannya. Tamu penting yang datang mendadak ini membuatnya terpaksa menghubungi ChanLie agar menunggu di ruangannya kalau-kalau Zitao datang.

Membayangkan Zitao sedang menunggunya membuat Yifan tergesa melangkah menaiki lift, menuju lantai pribadinya.

Dengan tenang dia membuka pintu ruangannya.

Pemandangan di depannya adalah pemandangan yang tidak disangkanya sekaligus pemandangan yang paling tidak disukainya.

ChanLie sedang berdiri menekan Zitao ke tembok, memeluknya erat-erat dan menciumnya, tubuh Zitao yang mungil tenggelam dalam pelukannya.

Ketika menyadari pintu terbuka, ChanLie mengangkat kepalanya, dan menatap Yifan yang terpaku di pintu, membeku seperti batu.

"Oh, hai Yifan," ChanLie tersenyum, mengusap bibirnya yang sedikit bengkak karena berciuman dengan kasar," Aku menawar gadismu ini dengan harga beberapa juta, dan dia bersedia menemaniku selama beberapa jam, boleh kan?"

Zitao yang masih berada dalam cengkeraman ChanLie menjadi pucat pasi mendengar fitnah ChanLie yang begitu kejam.

Yifan tidak akan percaya kata-kata ChanLie kan? Yifan tidak akan percaya kan?

Tapi ekspresi Yifan begitu susah dibaca, lelaki itu seperti membeku.

"Dan kau tahu Yifan, kau memang benar- benar tidak rugi," ChanLie menyambung, menyeringai menghina kepada Zitao," Ciumannya lumayan WOW"

"Tidak!," Zitao akhirnya berhasil bersuara, mencoba membantah kata-kata Yifan," Tidak! Ya Tuhan! Yifan!"

Suara Zitao berubah menjadi jeritan ketika dengan secepat kilat tanpa di duga-duga, Yifan menerjang ChanLie.

Menarik laki-laki itu dengan kasar dari Zitao, lalu menyarangkan pukulan keras di rahang ChanLie, kemudian di perutnya sampai ChanLie terbungkuk-bungkuk menahan sakit,

Tetapi Yifan masih belum puas. Dia menyarangkan lagi pukulan telak bertubi-tubi ke semua bagian tubuh ChanLie, tanpa memberi ChanLie kesempatan melawan,

"Yifan! Stop! Kumohon! Kau bisa membunuhnya!," Zitao berteriak panik ketika Yifan menghajar ChanLie seperti kesetanan.

Dan terus menghajarnya, terus tanpa henti tidak peduli ChanLie sudah terkulai tanpa memberikan perlawanan. Aura membunuh memancar dari mata Yifan, menakutkan.

"Yifan!," Zitao menjerit sekuat tenaga, berusaha mengembalikan akal sehat lelaki itu.

Kali ini berhasil, Yifan berhenti. Matanya nyalang, napasnya terengah-engah.

Sedangkan kondisi ChanLie sungguh mengenaskan, lelaki itu berbaring tak berdaya, wajahnya penuh darah, mungkin hidungnya patah. Dan sepertinya dia tidak sadarkan diri.

"Astaga."

sebuah suara tercekat yang berasal dari pintu membuat Zitao dan Yifan menoleh bersamaan, Luhan berdiri di sana, pucat pasi.

Seolah disadarkan, Yifan langsung berdiri, menghampiri Zitao dengan bara kemarahan yang membuat Zitao beringsut menjauh.

Lelaki itu tidak peduli, dengan kasar dia menarik lengan Zitao, setengah menyeretnya keluar ruangan.

"Sakit Yifan," Zitao merintih karena perlakuan kasar Yifan, tetapi lelaki itu tidak peduli, seolah tidak mendengar apa yang diserukan Zitao.

Luhan berusaha menghentikan langkah Yifan,

"Yifan, kau harus mendengar penjelasanku, semua ini..."

"Diam!," teriakan Yifan yang menggelegar membuat suara Luhan tertelan kembali," Kau urus saja bajingan disana itu sebelum dia mati kehabisan darah! Dan begitu dia sadar, katakan padanya bahwa dia dipecat!"

Yifan menggeram marah sambil menyeret Zitao menaiki lift.

meninggalkan Luhan yang masih berdiri terpaku, bingung.

.

.

.

"Yifan! Semua yang ChanLie katakan itu bohong!," Zitao berusaha menjelaskan ketika mereka sampai di apartemen, dan lelaki itu masih menggelandangnya dengan kasar.

Tubuh Zitao dihempaskan dengan sangat kasar ke tempat tidur.

"Dia bohong Yifan...," Zitao tersengal, putus asa mencoba meyakinkan Yifan.

"ChanLie tidak pernah berbohong padaku," jawab Yifan datar, tangannya bergerak membuka kancing bajunya.

"Dia bohong...Percayalah," air mata mulai mengalir di sudut mata Zitao.

"Tidak ada untungnya baginya berbohong padaku."

"Ada!," jerit Zitao," Dia membenciku, dia ingin menyingkirkanku..."

"Wah...Kau pikir kau seberharga itu? Kau tidak lebih dari pelacur kecil dengan tampilan tanpa dosa...Berapa dia membayarmu untuk sebuah ciuman hah?! Sepuluh juta? Dua puluh juta? Kau pikir kau bisa mendapatkan uang keuntungan dari kami berdua ya?"

"Kumohon Yifan, kau tahu dia berbohong...Kumohon...Kumohon...Percayalah padaku...," Zitao mulai panik ketika Yifan melepas kemejanya," Ke-Kenapa kau melepas pakaianmu?"

Dengan takut Zitao beringsut di ranjang mencoba sejauh mungkin dari Yifan.

"Yah...Aku sudah pernah bilang kan?," lelaki itu tersenyum kejam sambil mulai melepas ikat pinggangnya, tatapan matanya tak lepas dari Zitao yang meringkuk ketakutan seperti sekor mangsa yang menghadapi predator kejam.

"Seorang pelacur harus diperlakukan seperti pelacur!," desis Yifan penuh penghinaan.

.

.

.

"Sakit," ChanLie mengernyit ketika Luhan mengusap luka di bibirnya dengan kapas.

"Kau pantas mendapatkannya," gumam Luhan tanpa perasaan, malah semakin kasar mengusap luka itu.

Mereka baru pulang dari rumah sakit, hidung ChanLie patah, dan tiga tulang rusuknya retak sehinga harus ditahan dengan perban. Belum lagi lebam lebam di tubuh dan mukanya. Mata ChanLie sudah mulai bengkak membiru. Pukulan pukulan yang diberikan Yifan benar-benar brutal.

"Aku kan cuma membantu Yifan dengan menunjukkan padanya kalau perempuan yang di peliharanya itu cuma pelacur kecil," ChanLie tampak kesusahan bicara, tapi ia masih membela diri.

"Jangan sebut dia pelacur! Kau mungkin lebih kotor darinya!," potong Luhan marah, melemparkan kapas yang di celup alkohol itu ke samping," Kau sudah bertindak kejam dan gegabah pada Zitao...Astaga! Kau pasti akan menyesal begitu mengetahui semuanya!"

"Mengetahui apa?," kali ini ChanLie mulai cemas. Luhan tampak begitu marah sekaligus begitu sedih. Bertahun-tahun dia mengenal Luhan, tak pernah wanita itu tampak begitu dikuasai emosi. Kecuali pada saat pemakaman Shixun...

"Aku mulai ketakutan," gumam ChanLie ketika Luhan tidak berkata apa-apa," Mengetahui apa , Luhan?"

"Kebenaran tentang Zitao," jawab Luhan lirih lalu mendesah seolah-olah tak mampu melanjutkan penjelasannya," Mungkin kau harus melihat ini dulu."

Luhan mengambil bundelan artikel itu dari kotak putihnya, membukanya dan meletakkannya di pangkuan ChanLie.

Begitu melihat foto yang menyertai artikel itu ChanLie terhenyak, dan ketika membaca judul artikel itu yang ditulis dengan huruf besar-besar, keringat dingin mengalir di dahinya.

Dan begitu selesai membaca keseluruhan artikel itu, wajahnya benar-benar pucat pasi.

"Astaga...," akhirnya ChanLie mampu berkata-kata, suaranya lemah dan diliputi shock yang mendalam.

"Ah ya, astaga". Gumam Luhan mengejek," sekarang kau mengerti kan kenapa aku begitu membela Zitao?"

ChanLie memejamkan matanya, meringis merasakan matanya yang sakit. Hidungnya sakit, bibirnya sakit, sekujur tubuhnya sakit. Tapi yang paling sakit adalah hatinya. Penyesalan itu datang menghantamnya tanpa ampun sehingga yang bisa dilakukan ChanLie hanya diam dan menahankan sesak di dadanya.

Dia pantas mendapatkan ini!

"Jadi Zitao melakukan ini semua karena itu...," suara ChanLie diwarnai kesakitan, lalu dia menatap Luhan penuh harap, berharap kalau artikel ini salah. Sebab jika artikel ini benar, apapun yang dilakukan ChanLie tadi benar-benar tak termaafkan," apakah kau sudah memastikan kebenaran artikel ini?"

Luhan menatap ChanLie tajam, tampak puas dengan penyesalan ChanLie.

"Aku sudah memastikan ke rumah sakit itu. Tunangannya, Oh Sehun masih terbaring koma disana dan belum pernah sadarkan diri sejak dua tahun yang lalu. Kemarin Sehun telah menjalani operasi ginjal - yang aku tahu biayanya amat mahal, hampir mencapai tiga ratus juta rupiah - dan sukses. Operasinya sukses, tapi lelaki itu masih belum sadar," Luhan memalingkan wajah. Matanya tampak berkaca-kaca menahan haru.

"Aku bertanya tentang Zitao kepada dokter-dokter di rumah sakit itu, dan rupanya kisah Zitao dan Sehun seolah menjadi legenda sendiri di sana. Kisah seorang wanita yang menunggu tunangannya terbangun tanpa putus asa selama bertahun-tahun..."

Jadi karena itu. Kebenaran itu menghantam ChanLie dengan telak. Jadi karena itu Zitao menjual dirinya. Jadi karena itu Zitao mempunya hutang begitu besar diperusahaan,

ChanLie menatap Luhan nanar, lalu mengalihkan tatapannya lagi ke atikel di depannya, dia mengernyit,

Oh Sehun...

Sebuah kebenaran langsung menghantamnya sekali lagi, sangat keras dan tidak tanggung-tanggung.

"Aku mengenal Oh Sehun", gumam ChanLie seolah kesakitan.

Luhan langsung menatap ChanLie tajam.

"Kau mengenalnya?"

ChanLie mengangguk, lunglai.

"Dia… dia pengacara handal dan sukses dari sebuah firma hukum terkenal, reputasinya bagus, sangat jujur dan jarang kalah...Aku tidak begitu mengenalnya, hanya pernah beberapa kali bertemu di pengadilan, menangani kasus yang berbeda, tetapi dia terkenal sebagai pengacara muda berprospek paling cerah di antara kami...aku mendengar dia akan menikah, sampai kemudian dia menghilang begitu saja setelah kecelakaan itu, ...ada berita cukup simpang siur setelahnya, katanya dia kecelakaan dan kemudian cacat lalu pindah ke luar negeri, bahkan banyak gossip bilang dia sudah meninggal akibat kecelakaan itu...aku...aku sama sekali tidak menyangka dia masih bertahan hidup...Dalam kondisi koma", ChanLie meremas rambutnya seperti tentara kalah perang, lalu menatap Luhan, mengernyit,

"Kau bilang kapan operasi Sehun tadi?"

"Kemarin malam," Luhan melirik jam tangannya, sudah jam tiga pagi," atau bisa dibilang sudah kemarin lusa?"

"Oh Tuhan!," ChanLie menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Oh Tuhan!...Apalagi yang bisa dia katakan? Itu sebabnya malam itu Zitao menghilang tanpa kabar dan tidak bisa ditemukan dimana-mana. Perempuan itu pasti sedang menunggui operasi tunangannya! Dan apa yang dia katakan malam itu pada Zitao? "Kau mungkin harus belajar lebih bertanggung jawab tuan putri!" , kata-kata yang sombong dan penuh tuduhan yang sekarang ia tahu, tak pantas ia ucapkan kepada Zitao.

"Kau benar-benar lelaki paling bodoh daan gegabah yang pernah aku kenal," dengus Luhan, masih marah atas tindakan ChanLie tadi. "Jika kau belum babak belur oleh Yifan, aku pasti akan menamparmu berkali-kali,"

ChanLie mengernyit mendengar ancaman Luhan,

"Tapi kau tidak bisa begitu saja menyalahkanku, suatu hari Yifan menghubungiku untuk mengurus kontrak jual beli tubuh Zitao senilai tiga ratus juta. Kau pikir apa yang bisa kupikirkan selain Zitao adalah pelacur?"

"Jangan sebut-sebut kata pelacur lagi ChanLie!," potong Luhan tajam.

ChanLie bungkam lalu mengangkat bahu.

"Aku memang salah besar, tapi siapa yg tidak berpikit begitu? Yifan sangat kaya, dan gadis itu punya reputasi hutang besar diperusahaannya...tentu saja sebagai pengacara aku menilai ada niat jahat dari sisi Zitao," ChanLie mencoba membela diri lagi karena dilihatnya Luhan masih memelototinya dengan tajam,

"Sebagai seorang pengacara kau seharusnya melakukan penyelidikan," gumam Luhan sinis.

ChanLie menarik napas panjang dan mengangguk.

"Benar, aku terlalu gegabah mengambil tindakan. Sebenarnya aku sudah bertekad tidak akan ikut campur hubungan Yifan dan Zitao, tapi malam itu, ketika Zitao menghilang tanpa kabar, Yifan mencarinya seperti orang gila, hampir kehilangan akal sehat karena mencemaskan Zitao. Yifan berubah karena gadis itu, dia begitu emosional. Tidak lagi berkepala dingin dan tenang," ChanLie menarik napas dalam," Aku takut Zitao makin lama akan makin membawa pengaruh buruk bagi Yifan, maka aku memutuskan untuk membuat mereka terpisah sesegera mungkin."

"Memangnya apa yang kau lakukan tadi sampai Yifan menghajarmu dengan begitu brutalnya?"

Wajah ChanLie tampak memerah malu.

"Aku menciumnya dengan paksa, melecehkan Zitao dan memastikan agar Yifan melihat itu semua, " gumamnya pelan.

Luhan langsung melotot marah mendengarnya.

"Apa?"

ChanLie memalingkan mukanya, tidak tahan menghadapi tatapan tajam Luhan.

"Dan aku...", kata-kata itu seolah susah payah keluar dari mulut ChanLie, "Dan aku...memfitnahnya, aku bilang Zitao mau kubayar untuk bercumbu denganku selama beberapa jam...",

"Oh Tuhan, ChanLiel!", Luhan mengerang tak habis pikir dengan perlakukan ChanLie, "Pantas saja Yifan menghajarmu habis-habisan, kalau aku ada disana waktu itu, aku pasti akan memberi semangat padanya agar menghajarmu lebih keras",

ChanLie menganggukkan kepalanya,

"Aku...aku pantas menerimanya...", lelaki itu menghela napas panjang, "Tapi Luhan, Setelah aku mengetahui semua kebenaran ini, dan melihat tatapan mata Yifan ketika menyeret Zitao pulang tadi, entah kenapa aku cemas. "

Wajah Luhan mendadak pucat pasi,

"Astaga! aku hampir saja lupa, Yifan selalu mempercayai kata-katamu! Bagaimana kalau Yifan menyangka bahwa Zitao benar-benar menjual dirinya kepadamu? Kalau melihat betapa posesifnya Yifan pada Zitao, aku tidak berani membayangkan betapa marahnya Yifan! kita harus menjelaskan semua kepada Yifan sebelum dia melakukan sesuatu yang nantinya akan dia sesali, " Luhan langsung meraih gagang telephone dan memencet nomor Yifan.

Lama ia mencoba tanpa hasil, ahkirnya menarik napas panjang dan menyerah.

"Semua nomornya tidak aktif, kita juga tak bisa menyerbu ke apartemennya begitu saja karena ini sudah dini hari", Dengan pasrah Luhan meletakkan gagang telephone, "Kita harus menunggu sampai besok pagi, dan jika...dan jika ternyata semuanya sudah terlambat...", Luhan melemparkan tatapan tajam ke arah ChanLie yang balas menatapnya penuh rasa bersalah, "Aku akan membuatmu membayar semua kekacauan yang telah kau buat ChanLie."

TBC

.

.

.

.

Haloo! Ini buat yang kemarin bilang gue misterius , sebenernya gue bukan miaterius2an gitu, tapi cuman gatau mau nulis apa (makanya ayo sini ajak gue ngomong), tapi gue seneng loh di bilang misterius, jadi kesannya kayak keren gitu wuishh (wkwk-_-)

oiya,

Kemaren sebenernya pengen update ff ini secepetnya, tapi baru nyadar kalo kuota abis wkw (maklum tanggal tua) tapi emang rezeki ga kemana, gue di kasih pulsa sama emak tanpa alasan wkw.

Makasihh buat yang udah nanya "blm di lanjut ya?" (syklar otsu), semuga yg nanya ff ini di beri mu'jizat untuk mengupdate cepat ff nya sendiri -ayo bilang aamiin-.

Dan makasih bngt yang udah baca/review/fav/foll , sini aku cium mwah wkwk.