Chapter 10
My Higschool My Love
.
.
.
.
.
Udara malam berhembus ringan sementara pencahayaan redup disisi kiri dan kanan jalan memberikan kesan suram tersendiri pada 2 remaja yang memasang ekspresi dingin pada masing-masing wajahnya. Kyungsoo menghela napas setengah jengkel sementara Sehun membiarkannya seperti itu.
"apa kau masih tidak bisa memaafkannya ?" tanya Kyungsoo pada Sehun dan semua orang tahu siapa yang tengah mereka bicarakan.
Sehun menatap Kyungsoo lurus, tanpa ekspresi. Menyeringai sedikit menyerupai hyena meskipun kesulitan akibat luka diwajahnya kemudian berkata "tidak salah lagi" katanya dipenuhi keyakinan "kau tahu banyak hal tentang kami. Jongin yang menceritakannya padamu ?"
"jawab dulu pertanyaanku ! apa kau masih belum bisa memaafkannya ?"
Sehun mendengus "bukan belum tapi tidak"
Kyungsoo bangkit dari kursi. Sedikit menghentakkan kakinya akibat rasa jengkel dan pening yang menyerang kepalanya "maafkan dia dengan begitu aku akan berhenti mengganggumu dan jangan libatkan Luhan !"
"aku tidak melibatkannya" bantah Sehun dingin "tapi memang dia sudah terlibat"
"kau hanya membesar–besarkan masalah Sehun ! kenapa kalian bertiga sangat kekanakan dan tidak melupakan semuanya saja ?"
Sehun berdecih, dia berdiri di belakang punggung Kyungsoo "siapa yang kekanakan disini ? aku yang tidak bisa memaafkan kakakku atau kau yang menggangguku dengan berpura–pura mencintaiku ? kau pikir siapa dirimu Do Kyungsoo ?"
"siapa aku ?" kata Kyungsoo tanpa berbalik, dia menyeringai tipis. Sungguh sifat mengerikan yang tidak pernah ia tunjukan pada siapapun kecuali pada Sehun. Dan hanya Sehun yang mengetahui 2 sifat berkebalikan milik Kyungsoo. Jika boleh jujur, Sehun senang dengan kenyataan itu karena kelucuan Kyungsoo mampu membuat Jongin melupakan dirinya.
Apa Sehun harus tertawa bahagia sekarang ? seperti saat ia menemukan Kyungsoo berkelahi dengan Tao ?
Tentu saja, dia harus bahagia. Karena Sehun hanyalah adik yang diberi janji palsu.
Jongin akan segera kembali ? omong kosong.
Berhenti memikirkan itu otak !
"aku hanya sahabat Jongin" Sehun mendengar nada perih disana. Dia tidak boleh peduli.
"hanya sahabat ? lalu kenapa kau terlalu banyak ikut campur ? berhenti jadi pecundang dan katakan saja jika kau mencintainya ! jangan bersembunyi dibelakangku !" gumam Sehun geram lalu berbalik memunggungi Kyungsoo. Berjalan pergi dengan helaan napas terlampau berat.
"bukan 13 tahun" kata Kyungsoo menghentikan langkah Sehun secara spontan "dia kembali ke Korea 10 tahun yang lalu, menjadi tetanggaku kemudian sahabatku dan akhirnya dia menjauhiku tanpa aku tahu apa alasan Jongin melakukan itu. Yeah, aku tidak mau mencari tahu karena kupikir aku sudah tahu terlalu banyak tentang masalahnya. Aku hanya tidak ingin dia tersiksa dengan keberadaanku. Tapi Sehun_" Kyungsoo menarik napas dalam. Tidak ada 1 orangpun diantara mereka yang berbalik, hanya saling memunggungi "_percayalah padaku sekali saja. Jongin selalu menyayangimu"
Tidak ada yang terjadi bahkan sampai Kyungsoo melangkah pergi. hanya menyisakan Sehun mematung seorang diri, tubuhnya gemetar, udara dingin malam hari seolah turut menyayat hatinya. Dia kacau, sangat kacau. Bahkan seluruh perih diwajahnya sudah tidak dia rasakan lagi akibat perasaan sakit yang meremas hatinya.
Dia tidak ingin seperti ini. Semuanya semakin rumit dan rumit. Tidak ada jalan keluar samasekali.
Mata kosong Sehun menatap nanar pada mansion megah terletak tidak jauh dari rumah Kyungsoo. itulah alasan kenapa ia memakai semua penyamaran konyol ini, agar kakaknya tidak tahu jika seorang Oh Sehun tengah berdiri disini.
Membeku seperti seorang idiot berjarak beberapa meter dari tempat dimana Jongin tinggal dan hidup dengan baik disana.
Ya, seorang Kim Jongin.
Sementara Oh Sehun hidup dalam kepedihan bersama orang tua yang tidak menginginkannya.
Sehun tersenyum miris. Orang tuanya saja tidak menginginkannya, apalagi Jongin yang hanya menganggap Sehun sebagai adik tidak berguna.
Karena dia hanya seorang Oh Sehun, bukan lagi Kim Sehun.
.
.
.
My Higschool My Love
Juliana Hwang
Rate : T+
Genre : Drama, friendship, family, hurt/comfort(maybe), fluff (maybe)
Chapter : 10/?
Warning : GS, School Life, Typo(s)
DON'T LIKE, DON'T READ
I LOVE READER, I HATE SILENT READER
Semua cerita merupakan murni hasil pemikiran saya dan saya mohon maaf bila ada kesamaan dalam penulisan cerita. Cerita ini milik saya dan saya meminjam nama EXO sebagai tokoh.
Happy Reading
Chapter 10
.
.
.
Keesokkan harinya. Wufan Highschool dibuat ricuh oleh seorang Wu Yifan atau orang–orang mengenalnya sebagai Kris. Dimana Tao menyebut manusia itu sebagai alien berambut pirang jagung bodoh _ppfftttt jelek sekali.
Kris dengan raut sangar diseluruh permukaan wajahnya memutari sekolah. Tanpa henti tapi sesekali mampir membeli cola karena haus kemudian berputar lagi.
"YA ! tiang listrik !" panggilnya ketika bertemu Chanyeol di kantin sekolah "kau lihat bocah rusa tidak ?"
Chanyeol yang ditanya malah tersenyum kelewat lebar bahkan sampai ke telinga. Kris bergidik.
"keberuntungan apa ini ? tiba–tiba sunbae mencariku"
Kris berkedip 1 kali.
2 kali.
3 kali.
Kemudian menoyor kepala Chanyeol "astaga ! dimana kau menjatuhkan otakmu ? aku tidak mencarimu tapi aku hanya sial karena bertemu denganmu lalu bertanya padamu karena kebetulan kau sekelas dengan bocah Rusa gila itu"
Chanyeol manggut–manggut, Kris menahan diri untuk tidak melempar celana dalamnya ke wajah memuakkan Chanyeol sabar Kris.. sabar… dia hanya hobae yang belum menerima azab.
"siapa itu bocah Rusa ?" tanyanya kelewat polos. Kris emosi tingkat 2.
"Xi Luhan"
"Oh_ kenapa sunbae mencari Luhan ? memberi nama panggilan segala lagi" Chanyeol tertawa "Sunbae naksir dia yaaa ?" Chanyeol sukses gagal paham.
Kris memukul wajahnya sendiri. Emosi tingkat 4.
"Kyungsoo-ya ! Xiumin, Baekhyun, Zitao_" sekarang Chanyeol malah berteriak mengabsen teman sekelasnya yang sedang menikmati makan siang. Otomatis Sehun dan Jongin juga ikut menoleh ke asal suara yang ributnya sudah keterlaluan "_Kris sunbae menyukai Luhan" teriaknya tanpa dosa.
Semua mata membelalak.
"APA–APAAN INI ?!" teriak Kris dan Zitao bersamaan.
"wow_ chemistry" komentar Kyungsoo menjatuhkan sumpitnya ke meja.
Kris menggeram menyerupai macan. Bicara dengan Chanyeol ternyata lebih sulit daripada mengajari seekor beruang menggonggong (?).
"kemarikan wajah jelekmu itu !" bentak Kris yang emosinya sudah mencapai tingkat kaisar langit. Chanyeol ngacir. Mereka sudah seperti seme dan uke bermain tangkap lari. Tao nyaris muntah.
.
.
"jadi, katakan padaku apakah kau melihatnya kemarin ? itu_ si secret admirer ?" Suho mendengar Jongdae sedang melakukan bisik–bisik tetangga ke telinga Yixing. Dia suka menyebutnya Yixing daripada Lay karena panggilan Lay merupakan pemberian Kris dimana Kris adalah tunangan Yixing.
Rumit ? benar.
Lay yang berjalan disamping Suho segera memukul kepala Jongdae tanpa berperikeJongdae-an. Itu bahasa apa lagi sih.
"kau seperti sedang menciumku bodoh ! menjauh !"
"Ya Tuhan ! kepala jeniusku" sungut Jongdae lebay "ku doakan semoga si secret admirer idiot itu tidak akan pernah berani menunjukkan wajahnya padamu. Rasakan sumpahku kau perempuan kasar !" ingatkan siapapun yang lewat untuk menampar mulut Jongdae dengan sepatu. Si secret admirer ada disini okay, dan dia disumpahi agar tidak berani muncul.
"siapa yang punya secret admirer ?" tanya Suho sok tidak tahu padahal orang yang mereka bicarakan adalah dia. Tapi biarkan hanya Suho dan Tuhan yang tahu.
Lay yang semula bersiap menedang Jongdae memutuskan menurunkan kembali kakinya, Jongdae ingin bersujud kepada Suho sekarang juga karena telah menyelamatkan pantatnya yang begitu berharga.
"Jongdae yang punya secret admirer" jawabnya dusta menunjuk wajah Jongdae.
"apaan ?" protes Jongdae pada pernyataan Lay "aku tidak punya_"
"Xiumin selama ini menyukaimu" setidaknya itu adalah kenyataan yang tidak diketahui Jongdae "sekarang cari dia dan bicara padanya lalu minta maaf. Bersujud padanya jika perlu !" Lay mendorong–dorong punggung Jongdae. Si pemilik punggung berdecih tidak suka lalu menghampiri petugas kantin untuk meminta jatah makan siang. Perutnya lebih penting.
Dia menyadari sesuatu ketika nampan berada ditangan, menunjuk Lay dengan sumpitnya "apa benar yang kau katakan ? Xiumin menyukaiku ? arghh_ kau pasti berbohong. Aku tidak percaya dengan bualanmu jadi lebih baik aku mengurusi perutku"
Bunuh saja Xiumin karena menyukai orang seidiot Jongdae.
"kukira dia cukup pintar" Lay menggelengkan kepala "ternyata dia hanyalah laki–laki yang tidak peka" ungkapnya juga bermaksud menyindir Suho. Terselubung rupanya.
Suho tertawa geli lalu menarik lengan Lay, membimbingnya untuk duduk disamping Jongdae lalu berjalan kearah lain untuk mengambil makan siang.
Lay memperhatikan punggung Suho sambil meremas lengannya yang semula digenggam Suho. Dia merasa hangat, pipinya merona.
Beberapa menit berlalu, Suho kembali dengan membawa 2 buah nampan. Dia meletakkan 1 nampan makan siang didepan Lay, memberikan sumpitnya lalu duduk didepan Lay.
"makanlah sebelum Jongdae mencuri dagingmu" Suho tersenyum kemudian melahap nasinya.
Jangan merona ! kumohon jangan merona !
"kalian sedang apa ? berlovey dovey didepanku ?" Jongdae berdecih "aku tidak iri" katanya songong, kemudian bergerak hati–hati mencuri apapun yang ada dinampan Lay. Suho menamparnya. Lay tertawa cantik.
Dari arah lain muncul 2 tiang_ maksudnya 2 orang raksasa bernama Chanyeol dan Kris yang berlarian seperti orang gila dibelakangnya. Suapan Lay berhenti diudara ketika Chanyeol menyapanya dengan cengiran, melempar wink kepada Suho kemudian lanjut berlari karena bahaya dibelakangnya sudah terlalu dekat.
Kris yang memang sudah lelah dari awal memutuskan berhenti sejenak disamping tempat duduk Lay, meraih tangan Lay yang mengambang diudara dengan sesendok nasi. Kris memutar lengan Lay lalu melahap nasi yang ada disana, meneguk segelas air dalam gelas milik Jongdae kemudian berlari setelah memberi senyum lima jari pada tunangannya yang melongo parah.
"mereka_ kenapa ?" tanya Lay linglung. Jongdae geleng–geleng kepala. Suho mendadak beraura suram.
"kena kau !" seru Chanyeol ketika mereka telah sampai pada koridor sepi sementara Kris berubah menjadi bodoh, kenapa justru Chanyeol yang terlihat menang disini.
"sunbae, berhenti disana" perintah Chanyeol tanpa rasa takut. Berbalik ke belakang menghampiri Kris yang sudah sekarat.
"aku sudah lama ingin membicarakan ini sebenarnya" kata Chanyeol didepan Kris. Kris memasang raut bingung.
"apa yang terjadi pada otakmu ?"
"kenapa sunbae sangat membenci sepupuku ?" langsung to the point tanpa basa–basi. Pertanyaan Kris juga tidak perlu dijawab.
"kau sengaja membawaku kesini untuk menanyakan hal tidak penting itu ?"
"itu penting" sahut Chanyeol cepat "aku hanya ingin tahu alasannya, dan aku akan menyelesaikannya kemudian masuk club basket" ungkapnya berapi–api "jadi kenapa sunbae bermusuhan dengan sepupuku ?"
Kris mendengus, merasa dibodohi oleh hobae macam Chanyeol "aku tidak bermusuhan dengan sepupumu. Dia saja yang mendiamkanku"
"kenapa dia mendiamkanmu ?"
"mana ku tahu" sahut Kris galak.
Chanyeol memijit hidungnya "rumit" katanya sambil menggeleng "bukannya dulu kalian bersahabat ?"
"dari mana kau tahu ?"
"Hyung sering membicarakanmu. Terlalu sering malah. Dia bilang kalian adalah duo sahabat terkeren sepanjang masa. Tentu saja keren, tidak ada sebab saja bisa bermusuhan tidak jelas apalagi jika ada sebab" cerocos Chanyeol seenak jidat. Kris menendang betisnya.
"berhenti kurang ajar ! aku lebih tua daripada kau disini. Dasar bocah ingusan !"
Chanyeol membungkuk, mengelus betisnya "ayolah sunbae.. aku hanya ingin tahu kenapa kalian bermusuhan ? demi Tuhan ! semua ini menghalangiku untuk menjadi idola basket. Aku sudah kelas 2 dan hanya tersisa 1 tahun lagi"
"aku benar–benar tidak tahu" wajah Kris meneriakkan semacam kefrustasian "tiba–tiba dia mendiamkanku"
"seperti anak perempuan saja kelakuannya" komentar Chanyeol pedas. Kris berjalan meninggalkannya "aku akan menerimamu di club basket jika masalahku dengan Suho bisa selesai. Kau tidak perlu ikut campur, hanya teruslah berlatih basket. Dan terimakasih telah menanyakan ini padaku, aku akan memperbaiki persahabatan kami"
"kau yakin jika aku tidak perlu ikut campur ?"
"yeah, sangat yakin"
"jadilah sahabat yang baik sebelum dunia berakhir" ungkap Chanyeol ikut meninggalkan koridor sepi itu. Dia kembali menuju kantin karena perutnya terus berteriak secara tidak elit.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
"sudah didiamkan masih saja tidak peduli. Argghhh !" Xiumin yang frustasi menusuk–nusuk ayamnya dengan ujung sumpit. Baekhyun memperhatikannya sedikit ngeri. Kyungsoo agak normal hari ini terlihat dari dia yang duduk tenang menikmati makan siangnya. Sementara Tao masih terbakar dengan teriakan bodoh Chanyeol 'Kris sunbae menyukai Luhan' huh ! apa dia minta dibunuh. Batin Tao menjerit marah. Tapi bisa saja kan itu terjadi, seperti drama yang biasa dia tonton di TV. Pelaku bully ternyata memiliki maksud tersembunyi yaitu menyukai korban bully-nya.
Tao mulai paranoid dengan imajinasinya sendiri.
Lagipula, Tao tidak akan merestui jika Luhan berkencan dengan manusia mengerikan itu.
Tidak serasi.
Tidak cocok.
Terutama masa depannya sudah rusak.
Ok ! jangan memikirkan ini lagi.
Ngomong–ngomong soal Luhan, Tao menoleh pada semua temannya "apa Luhan sakit hingga dia tidak masuk hari ini ?"
Kyungsoo menggeleng dengan pipi menggembung imut, mulut penuh makanan. Jongdae yang pada dasarnya tidak kuat jika melihat apapun yang imut terpaksa dipegangi Suho sebelum Kyungsoo menamparnya dengan meja.
"dia tidak menghubungiku sama sekali" sahut Kyungsoo setelah menelan makanan dimulutnya.
Baekhyun menggeleng "aku tidak tahu" katanya penuh penyesalan.
Xiumin berhenti menistakan ayam tidak bersalah dinampan makan siangnya "Luhan bahkan mengambil cuti selama beberapa hari. Kemarin dia juga sudah tidak masuk kerja. Aku sempat menghubunginya namun ponselnya mati"
"apa terjadi sesuatu yang tidak kita tahu ?" tanya Tao bodoh. Namanya saja tidak tahu ya tidak tahu. Ugh_ Panda !
"pertanyaan macam apa itu ?" Kyungsoo menoyor kepalanya dengan jari telunjuk "biar aku hubungi" dia mengeluarkan ponsel dengan cepat, mencari nomor Luhan lalu menghubunginya. Semenit berlalu dengan diakhiri kekecewaan dan gelengan kepala "nomornya tidak aktif"
"dia sudah mendapat banyak masalah akhir–akhir ini" ungkap Xiumin sedih. Semua yang disana meletakkan sumpit ke meja. Selera makan musnah.
"menyangkut Jongin ?" tebak Kyungsoo yang dibalas anggukan kepala Xiumin.
"Luhan banyak bercerita tentang keluarganya padaku. Aku hanya mendengarkan tanpa tahu jika semuanya berakhir seperti ini. Ku mohon jangan bertanya padaku apa sangkut pautnya dengan Jongin karena aku sudah berjanji padanya untuk tidak menceritakannya kepada siapapun" Xiumin berantisipasi demi menghindari pertanyaan.
Kyungsoo mengangguk 'aku tahu semuanya' batinnya sedih.
"apa yang bisa kita lakukan jika Luhan sudah mematenkan bahwa masalah itu adalah rahasia. Kita cukup memberinya waktu lalu Luhan akan menceritakannya pada kita" ungkap Baekhyun bijak, Tao menganga dengan pemikiran dewasa si artis Byun Baekhyun "seharusnya kita mendukung Luhan bukan ? karena kita sahabatnya"
Semua wajah disana mendadak berubah cerah dan dipenuhi semangat kemerdekaan.
"kau keren !" Tao mengangkat jempolnya "bagaimana jika pulang sekolah nanti kita ke rumah Luhan ? lagipula kita sudah tidak pernah berkunjung ke rumahnya sejak insiden Kim Jongin itu ?"
"call" kata Xiumin dan Kyungsoo kompak.
"aku juga ikut" Baekhyun tersenyum cantik.
"serius ?" tanya Kyungsoo tidak percaya "bagaimana dengan syuting drama dan acara musikmu di KBS ?"
Baekhyun menyeringai imut, seseorang bertubuh tinggi dibelakang Baekhyun mendadak diabetes "aku bisa bolos satu hari. Demi sahabat"
"sahabat ?" Kyungsoo tertawa "enak saja mengklaim Luhan sebagai sahabatmu"
"apa salahnya ? kalian juga sahabatku"
"ughh_ kau memang keren !" Tao berdiri dari kursinya, wajahnya bersinar secerah matahari "sini ku peluk Baek" dia menyongsong Baekhyun. Memberinya pelukan maut, mengaduh ketika Kyungsoo menjitak kepalanya.
"dia juga sahabatku sekarang. diam dan biarkan aku memelukmu" kemudian Kyungsoo memeluk Baekhyun. Xiumin ikut – ikutan menjadi teletubies dadakan, memeluk para sahabatnya. Sementara Baekhyun meneteskan air mata.
Aku bahagia Eomma, terimakasih telah mengabulkan doaku.
"Hyaa_ kenapa aku tidak diajak berpelukan ?" Chanyeol cemberut 7 meter. Membuat drama pelukan terlepas lalu semua mata memandangi Chanyeol bosan.
"kenapa melihatku seperti itu ? Baekhyun-ah, aku juga mau dipeluk artis"
Xiumin menendang kakinya "mati dulu sebelum memeluk Baekhyun. Kita pergi anak–anak !" perintahnya yang langsung diamini Baekhyun, Kyungsoo dan Zitao. Meninggalkan Chanyeol duduk seorang diri dikantin sekolah bagai karang terhempas ombak. Terabaikan.
Sakit.
Sakit sekali.
Untung saja kikikan geli Baekhyun berhasil luput dari pengamatan seorang Park Chanyeol.
Jongin menertawai ekspresi terluka Chanyeol sambil sesekali mengaduh karena luka diwajahnya tidak bisa dimaafkan.
"terus saja menertawaiku. Dasar kopi hitam !" maki Chanyeol sebal "kau mau aku menambah jelek mukamu huh ?"
"tidak" jawab Jongin sibuk menghentikan tawanya "apa kau nanti ikut ke rumah Luhan ?"
Chanyeol menoleh setelah melahap sesendok nasi "siapa yang mau ke rumah Luhan ?"
Menjengkelkan mode on.
"mereka akan pergi ke rumah Luhan pulang sekolah nanti" Jongin menunjuk Xiumin cs yang berjalan meninggalkan kantin.
"kau ikut ?"
Jongin menggeleng.
"kenapa ?"
"tidak apa–apa"
Hening.
"apa kau sedang berakting bahwa kau tidak apa–apa ?"
Jongin memandangi Chanyeol tidak mengerti atau takut karena Chanyeol tiba–tiba berubah menjadi cenayang. Bagaimana si tinggi ini tahu jika aku sedang tidak baik–baik saja ?
"tenang saja. aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran" Jongin pikir Chanyeol semakin menakutkan, dia harus pergi atau Chanyeol akan membaca semua isi otaknya "tidak usah takut begitu. Ekspresimu sudah seperti Hyung-ku saja. Aku terlalu bosan melihat ekspresi seperti wajah jelekmu itu. Cih, pura–pura bahagia" katanya sok, tapi itu benar adanya.
"aku khawatir pada Luhan" Jongin mendadak curhat, dimana dia tidak pernah melakukan ini kepada siapapun terutama Chanyeol. mereka bersahabat tapi tidak sedekat itu.
Chanyeol meletakkan sumpitnya di meja, menghentikan kegiatan makan siangnya "Luhan tidak masuk hari ini. Mengatakan jika dia sakit tapi tidak ada surat keterangan dokter. Apa terjadi sesuatu ?"
"aku berkelahi dengan Sehun kemarin"
"pantas saja wajah kalian berdua hancur begitu. Sudah jelek masih ingin lebih jelek" Chanyeol mencibir "lalu, apa hubungannya dengan Luhan tidak masuk hari ini ?"
"Luhan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar" Jongin masih penuh teka–teki. Chanyeol kehilangan selera makan. Melupakan ayam dinampan makan siangnya yang terus menggoda minta dimakan. Dia tidak peduli.
"jadi, apa yang seharusnya tidak dia dengar ?"
Jongin nampak berpikir "aku tidak yakin harus menceritakan ini padamu"
"jangan ceritakan jika memang kau tidak yakin ! lagipula, itu privasi kalian. Aku hanya akan mendengar dengan senang hati jika kau mau menceritakannya padaku. Itu saja"
"mungkin lain waktu" Jongin bangkit dari kursi "terimakasih sudah mendengar sedikit ungkapan hatiku"
"kenapa itu terdengar seperti kau mengungkapkan cinta padaku ? oh_ aku masih normal dan aku terlalu banyak mendengar kata terimaksih hari ini" dia mengingat percakapannya dengan Kris "temui aku kapanpun kau ingin bercerita. Aku akan menjadi pendengar yang baik"
Jongin tersenyum, kemudian melangkah keluar kantin.
Sementara itu Chanyeol merasa bahwa terlalu banyak keanehan akhir–akhir ini. Apa hanya dia yang merasa aneh ? entahlah ! dia harus kembali ke kelas sekarang juga karena bel sialan sudah menjerit memaksa para murid meninggalkan surga mereka. Dimana jam istirahat dan kantin adalah surga bagi anak sekolah.
.
.
.
Kelas itu tidak heboh seperti biasanya.
Sepi.
Sunyi.
Diam.
Hampa.
Mengerikan.
Coret yang terakhir.
Baekhyun dan Chanyeol sibuk mendengar penjelasan guru. Tao memainkan bolpoin, Xiumin mencoret–coret buku catatan, Sehun memandang keluar jendela sementara Jongin yang duduk disampingnya memilih mengistirahatkan kepala diatas meja dengan mata terpejam.
Yang lebih mengejutkan adalah Kyungsoo. dia benar–benar kehilangan sifat abstraknya secara total. Semenjak pagi dia tidak membuat kehebohan seperti biasa, tidak mengikuti Sehun kemana–mana. Dan lebih banyak melamun sambil memandangi kursi kosong milik Luhan. Membiarkan perasaan khawatir terus–menerus menakutinya. Dia memiliki firasat buruk tentang ini.
Merasa terlalu paranoid, Kyungsoo membuang napas. Beralih menghitung jam yang tidak juga menunjuk angka 3, dia ingin segera berlari ke rumah Luhan sekarang dan detik ini. Tapi dia masih waras untuk tidak melakukan kekonyolan terutama guru super galak macam ketua OSIS Lay melotot padanya.
"Kyungsoo ! melamun di kelas ! kerjakan soal no 4 dan harus benar !"
Mulut Kyungsoo menganga lebar, memandangi soal matematika di papan tulis dengan takjub 'gila ! tidak dengar apapun disuruh mengerjakan soal seperti itu lagi. Musnah sudah.
Ketika bangkit dengan ketakutan luar biasa, Kyungsoo menelan ludahnya. Berdoa semoga tiba–tiba ada batu melayang menghantam kepala gurunya hingga pingsan. Tapi kejadian berikutnya membuat Kyungsoo ingin batu itu melayang ke kepalanya sendiri ketika Jongin sudah berdiri didepan, mengerjakan semua soal dipapan tulis.
Semuanya !
Murid–murid menganga ketika guru mereka tersenyum bangga. Semuanya benar.
Semuanya !
Kemudian Jongin menghampiri bangkunya. Mengambil tasnya lalu berjalan keluar kelas tanpa peduli, melirik Sehun sekilas yang juga meliriknya lalu pintu benar–benar tertutup rapat.
.
.
.
Suasana yang berbeda terjadi dikelas para sunbae. Maksudnya kelas Kris cs. Guru sedang tidak hadir membuat kelas menjelma menjadi pasar ikan. Ramai disana–sini.
Kris terlihat bertopang dagu didepan tunangannya sementara Lay memandanginya tidak suka. Disisi lain, Suho sudah menyiapkan cutter untuk mencincang tubuh Kris menjadi potongan kecil.
Abaikan yang terakhir ! Dan Kris tidak sememalukan itu apalagi bertopang dagu. Apa–apaan ? bertopang dagu is not my style. #Plak
"kenapa kau masih tidak mau bicara padaku bahkan setelah aku punya inisiatif sendiri untuk menjemputmu tadi pagi. Tanpa paksaan Pak Tua itu" dia menyebut ayahnya.
Lay diam.
"kenapa kau seperti ini ? apa salahku ?"
Diam lagi. Pura–pura sibuk membaca.
"bicaralah !"
Masih tidak ada jawaban.
Kris mengusap wajahnya. Geram.
"YA ! apa kau bisu sekarang ? apa susahnya bicara jika memang kau punya masalah ? kau pikir apa statusku disini untukmu. Aku tunanganmu !"
Kelas mendadak sunyi.
Jongdae yang semula menjadi tersangka dari semua keributan berlari ke arah Lay dan Kris. Sementara Suho sudah berdiri disana.
"jangan membentaknya !" teriak Suho pada Kris.
Kris mendengus marah "apa kau baru saja bicara padaku ? setelah sekian lama, kau bicara padaku ?" ada seringai kecil mengulas samar dibibir Kris, Suho menyadarinya "ini masalahku dengan Lay. Jadi jangan ikut campur !" Kris menarik lengan Lay ke arah pintu keluar, Suho menahannya dengan mencengkeram lengan Lay yang lain.
Kedua pemuda itu bertatapan sengit selama beberapa detik.
"aku harus bicara dengan tunanganku ! jadi lepaskan tanganmu atau aku terpaksa melepaskannya dengan caraku"
Suho bungkam. Tidak bisa berkutik. Siapa dia ? dan siapa Kris bagi Lay sudah sangat jelas disini.
"hanya_ jangan kasar padanya" ungkap Suho kalah. Merelakan Kris menyeret Lay keluar dari kelas. Jongdae menepuk bahunya "mereka memang saling mendiamkan sejak kemarin. Kau tidak perlu sedih begitu, Lay akan tetap menikah dengan Kris kok"
Hati Suho hancur berantakan. Berkeping–keping. Tidak bersisa, dia sudah benar–benar kalah.
…. ….
"apa maumu ?"
"seharusnya itu pertayaanku" Kris berhenti melangkah, Lay berdiri tegang dibelakangnya "apa maumu ? kenapa kau mendiamkanku ? apa aku melakukan kesalahan ? jawab aku !"
Lay menggigit bibirnya, meremas tangan Kris dengan tangannya yang lain "kau tidak salah. Hanya petunangan kita yang salah"
"kau pikir aku mengiginkan pertunangan ini ? tidak !" kata Kris kesal "aku bahkan sudah menolaknya sejak awal tapi mereka tetap memaksa kita. Kau juga bersalah karena menerimanya"
"ya_ semua memang salahku. Semua salahku" Lay menangis membuat Kris tersadar jika dia sudah keterlaluan.
"maaf. Aku tidak bermaksud membentakmu. Maafkan aku" pintanya sangat tulus.
Lay menggeleng, membiarkan Kris mengusap air matanya. Sebenarnya mereka berdua sama-sama hancur, hanya Kris yang tidak mau mengakui jika dia bahkan lebih hancur daripada Lay.
"jangan minta maaf padaku" ucap Lay masih terisak "aku yang salah. Maafkan aku Yifan"
Kris tersenyum "Hey, berhenti menangis ! kenapa kau masih saja cengeng seperti dulu ? kemarilah !" Lay menghambur ke dada Kris, memeluknya erat. Menangis tanpa suara disana sementara Kris mengelus punggung Lay penuh kelembutan.
"semua tidak akan serumit ini jika aku mencintaimu Yifan" ucap Lay lirih disela tangisannya. Kris mengangguk "semua memang tidak akan serumit ini jika aku mencintaimu Yixing"
"maaf" lirih mereka bersamaan. Membuat hati keduanya mencelos sakit.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
"mungkin setelah mereka lulus SMA kita harus segera menikahkan 2 anak nakal itu" kata Kang In sambil terbahak bersama besan-nya Tuan Zhang. 2 pria paruh baya itu tengah bercengkerama di ruang kerja Kang In di dalam istananya, kunjungan mendadak Tuan Zhang rupanya membuat ia melupakan pekerjaannya. Yeah, masa depan Wu yifan lebih penting disini.
"aku tidak sabar menunggu 1 tahun lagi untuk melihat anak kita menikah digereja, aku akan menyiapkan pesta pernikahan terbaik sepanjang masa untuk mereka. Semoga saja Kris dan Lay tidak membakar pesta yang sudah susah payah kita persiapkan" mereka semakin terbahak lagi sambil mengingat betapa tidak akurnya anak mereka, bahkan Tuan Zhang mengaku bahwa ia pernah melihat Lay menendang pantat Kris. Ayolah, tingkah anaknya masih sangat lucu dan selalu berkelahi semenjak mereka masih kecil.
"aku ingat saat mereka kecil, Lay merebut mainan Kris lalu anakku marah kemudian memukul kepala Lay dengan mainan yang lain. Lay menangis, kemudian Kris juga ikut menangis setelahnya. Tidak terasa jika sekarang mereka sudah 18 tahun dan masih saja berkelahi"
"kau benar Kang In. Anak kita semakin dewasa dan kita semakin tua. Bahkan kau sudah berganti istri sekarang"
"ya, istri keduaku sangat cantik lagipula. Tidak kalah cantik dengan Ibu Kandung Kris" wajah Kang In mendadak diselimuti mendung namun dia menutupinya dengan senyuman.
"ku dengar kau sedang mengurus hak asuh putrinya. Kau sudah mengatakan pada Kris jika ternyata dia punya adik ?"
Kang In mengusap wajahnya lalu menggeleng pasrah "jika kau ayahnya Kris, kau pasti lebih memilih untuk membunuh dirimu sendiri daripada harus memberitahu anak keras kepala itu. Temperamennya sering meledak akhir–akhir ini. Anak nakal itu membuatku sakit kepala karena dia terus menolak semua mentor bisnis yang aku suruh untuk membimbingnya sebagai persiapan pengalihan saham perusahaan. Dia juga belum mau menerima Leeteuk sebagai Ibunya. Dia membuatku semakin tua saja…"
"kau bisa bicara padanya pelan–pelan. Dia pasti akan mengerti. Kris sebenarnya anak yang baik, dia juga selalu menjaga Lay selama ini" Tuan Zhang mengecek waktu sebentar sebelum bangkit dari kursinya, menepuk singkat pundak besan sekaligus sahabatnya "dia hanya terlalu mencintai Ibu kandungnya, kau hanya perlu menunjukkan kalau kau menyayanginya maka semua masalahmu pasti beres. Aku pergi"
Sepeninggal Tuan Zhang, Kang In masih bertahan diposisinya. Merenung. Lalu mengambil sebuah pigura foto dari atas nakas, dia memperhatikan potret bahagia disana. Ada dia, almarhum istrinya dan si kecil Wu yifan. Tawa anaknya itu merekah, tawa yang sudah tidak pernah Kang In lihat lagi selama ini. Dia kira dengan membawa Leeteuk sebagai pengganti Ibu kandungnya, Kris akan kembali menjadi anak periangnya seperti dulu. Tapi dia salah, Kris malah semakin marah saat itu. Ditambah lagi, Kris selalu menyalahkan ayahnya karena Ibu yang sangat dia sayangi telah meninggal.
Tok
Tok
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya. Pintu berderit terbuka, muncul sosok istrinya dari celah pintu.
"apa aku mengganggu ?" tanyanya dalam senyuman. Kang In menggeleng, mengisyaratkan istrinya untuk duduk disampingnya.
"kapan kita akan membawa Luhan ?"
"kau sudah siap ?" Kang In malah balik bertanya, Leeteuk mengangguk mantap.
"baiklah, kita akan membawa Luhan secepatnya lalu menghadapi kemarahan Kris bersama–sama"
Mata Leeteuk memerah, nyaris menangis "terimakasih" bisiknya lirih "terimakasih telah menerimaku dan juga Luhan"
"kau tidak perlu berterimakasih. Luhan juga putriku"
"apa kau yakin Kris akan baik–baik saja ?"
Kang In mendadak suram. Banyak kemungkinan buruk yang muncul dikepalanya "aku akan tetap membuatnya baik–baik saja. percayalah ! dan kita tidak boleh membuat Luhan menunggu lebih lama lagi"
Leeteuk mengangguk. Air matanya sudah mengalir bebas.
"Luhan, tunggu Baba" kata Kang In semangat membuat Leeteuk tertawa disela tangisnya.
Aku sudah hidup dengan baik Zoumi meskipun Luhan belum berada disisiku. Maafkan aku karena mengabaikannya. Aku akan segera menjemputnya, putri kecil kita. Terimakasih karena telah menyayangi Luhan meskipun dia bukan anak kandungmu. Terimakasih banyak. Jadi, bahagialah disurga.
.
.
.
-My High School, My Love-
.
.
.
Jongin sudah berdiri didepan pintu rumah Luhan, selama lebih dari 30 menit. Hanya menghela napas menyerupai orang bodoh tanpa mampu mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu, atau menerobos masuk seperti biasanya. Dulu mereka sangat dekat. Jongin tertawa miris, dulu yang mana ? tanyanya dengan raut muram.
Suasana sunyi seolah turun dari langit, menyelimuti seluruh rumah Luhan dengan aura lengang. Sebenanyar, sejak tadi Jongin bertanya–tanya kenapa rumah Luhan bisa sesepi ini ? tapi dia tidak mendapat jawaban. Tentu saja tidak karena dia tidak berani masuk ke dalam rumah.
Jongin membuang napas berat, matanya menyipit ketika melihat geng Kyungsoo terlihat dari kejauhan. Ia segera berlari untuk sembunyi.
"YA ! Zitao, cepat sedikit !"
"apaan sih larva ? jangan membentakku seenak jidatmu ya !" giliran Tao membentak si Kyungsoo.
"kau yang paling tinggi diantara kita kenapa jalanmu lambat sekali sih. Rumah Luhan sudah didepan"
"iya.. iya" jawab Tao ogah–ogahan. Pasalnya Kyungsoo menyabotase semua lengan Tao untuk membawakan tas KyungBaekMin. Salah Tao sendiri sih karena menuruti Kyungsoo untuk main batu gunting kertas dan dia yang kalah harus membawa semua tas sampai rumah Luhan.
Bodohnya.. bodohnya.
"sini ranselku" kata Baekhyun megambil alih tasnya karena wajah Tao sangat tersiksa.
"tidak" tolak Tao cepat "yang kalah harus menerima konsekuensi. Itu perjanjiannya" songong Tao nyengir Panda.
Baekhyun membalasnya dengan tawa.
"untung tidak ada fans Baekhyun yang mengikuti kita sampai kemari. Bisa mati" oceh Xiumin sesekali menoleh kebelakang. Mengecek situasi.
"kalian tenang saja" Baekhyun tersenyum "managerku sudah mengurus agar para fans tidak mengikuti kita"
"syukurlah" kata Xiumin ceria. Diam–diam Kyungsoo juga bersyukur karena fans Baekhyun tidak mengikuti mereka karena fans bisa menjadi monster yang mengerikan melebihi Tao, si monster Panda. Setidaknya Tao bisa jinak. Kekekee..
Suasana sepi mendominasi ketika keempat remaja perempuan sudah berdiri disana, didepan pintu rumah Luhan. Mereka merasa kesunyian ini sangat aneh tapi jangan memikirkan apapun dan cukup ketuk pintunya atau melabrak masuk saja.
"Luhan !" panggil Xiumin mengetuk pintu.
Hening.
"Luhan. Buka pintunya !"
Hening.
Ini mengerikan.
"Luhan. Apa kau didalam ? buka pintunya ?"
Hening.
Apa dia sekarat ?
Tidak.
Xiumin mencoba sampai belasan kali. Bahkan sesekali memutar knop pintu dengan tenaganya, namun pintu rumah Luhan masih terkunci rapat dan mereka tidak mendengar pergerakan apapun dari dalam rumah.
"apa Luhan tidak ada ?" Baekhyun mulai panik.
"kemana dia ? dobrak saja pintunya !" Tao ikut–ikutan panik.
"itu tidak sopan" peringat Xiumin menjauhi pintu "kita pulang saja, mungkin Luhan masih ingin sen_"
"tidak !" teriak Kyungsoo mengejutkan semuanya, bahkan Jongin yang bersembunyi ikut terkejut dengan teriakan itu "Tao ! dobrak pintunya !"
Mata Xiumin membulat "Ya ! Do Kyungsoo, kita berada di lingkungan orang lain dan sangat tidak sopan jika mendobrak pintu rumah Luhan. Kau tahu_"
"siapa yang peduli tentang sopan santun disaat seperti ini. Tao ! dobrak pintunya !"
Tao berdiri canggung "tapi_" katanya ragu.
"cepat dobrak pintunya !" perintah Kyungsoo dingin, membuat semua yang ada disana tersentak dengan bentakan Kyungsoo.
Benarkah dia Kyungsoo ?
Batin mereka bersamaan. Kyungsoo tidak pernah seperti ini, Kyungsoo juga sangat aneh hari ini.
"kalian akan tetap diam huh ?" tanya Kyungsoo geram "kubilang dobrak pintunya !"
Ok, pikirkan semua keanehan ini nanti.
Kyungsoo dan yang lainnya menyingkir. Tao menyiapkan tenaga kakinya, mengambil langkah mundur untuk memberi tendangan terbaik pada pintu.
"aku siap" katanya kemudian berlari.
Sedetik kemudian suara seperti ledakan mengerikan muncul dari pintu, sementara pintu sudah terbuka secara paksa. Seseorang menendangnya, tapi bukan Tao.
"Kim Jong_In" rapal Kyungsoo terkejut. Semuanya terkejut.
"apa yang kau lakukan disini ? sejak kapan ?" tanya Kyungsoo bingung.
Jongin memandang lurus pada Kyungsoo "periksa ke dalam !" perintahnya lirih.
Kyungsoo mengangguk, segera menerobos masuk tanpa basa–basi.
Semenit kemudian dia keluar dengan raut panik, wajah pucat, napas tersengal.
"Luhan tidak ada_" semua mata membelalak "aku sudah mencarinya ke semua tempat. Luhan tidak ada !"
"apa ? kemana dia ? bukankah dia sakit ? seharusnya dia ada di rumah" Xiumin semakin panik. Mendorong Kyungsoo agar menjauh dari pintu kemudian berlari masuk. Apa yang dia tuju ketika berada didalam rumah Luhan adalah lemari baju.
Xiumin menganga lebar mendapati lemari Luhan setengah kosong, dia berbalik mencari–cari ransel, koper atau apapun.
Mereka tidak ada !
"LUHAN PERGI !" jeritnya ketika sudah berada diluar "BAJU DILEMARINYA TIDAK ADA. LUHAN HILANG !"
.
.
.
TBC
.
.
.
Sungguh akhir TBC yang gak gue sukai. Huwaa.. kenapa gue harus melenyapkan Luhan dengan cara seperti ini. Gue bener-bener gak suka aja, yah tapi mau gimana lagi. Alurnya memang harus begini sih. Mungkin mengecewakan dan gue sadar betul dengan itu.
Entah kenapa gue ngerasa chapter ini datar banget. Gue jengkel karena gue payah.
Next cuap !
Pertama gue mau say thanks buat yang review di chapter 9. Makasih ya udah mau review dan lagi-lagi gue harus bersujud meminta maaf karena gak bisa bales review kalian. But, gue seneng banget waktu ngebaca semua review. Kalian baiiiiiikkkkkk !
Well, dan kedua.. waktu gue amat sangat mendesak sekarang. gue mau minta maaf yang sebesar-besar ke kalian semua karena gue terpaksa hiatus selama jangka waktu yang gak bisa gue tentuin sampai kapan. Maafin gue ya karena cuma bisa update chapter ini, dan secara biadab gak update chapter buat ff gue yang lain sebelum memasuki masa hiatus. Gue bener-bener minta maaf. Gue janji hiatusnya gak lama-lama, gue bakal nyelesein masalah gue dengan kecepatan kilat kemudian lanjut nulis ff lagi.
Jadi, review-lah yang banyak-banyak biar gue cepat kembali dalam dunia fanfiction. Sekali lagi maafin gue dan gue ngucapin makasih buat yang udah nyempetin baca cuap-cuap gak berguna ini dan gue serius pengen peluk kalian yang udah baca ff gue.
Makasih. Makasih. Makasih. Makasih dan semilyar makasih buat reader-nim.
THANKS TO
READER-NIM
Fanfiction ini tidak akan pernah ada tanpa kalian.
Terimakasih sudah mampir dan meninggalkan jejak.
Sampai jumpa di chapter 11.
Salam cinta Juliana Hwang.
