.

.

ESTROUS CYCLE

.

.

.

.

Chapter 10 - End

.

.

.

.

.

Rasanya seperti mimpi yang indah, ketika ia terbangun dan mendapati Luhan dalam pelukannya. Bahwa yang pertama kali ia lihat begitu membuka mata adalah wajah Luhan, bulu mata yang panjang menggelitik pipi dan bibir merah terbuka sedikit. Dengkur pelan terdengar dan Sehun merasa dadanya bergemuruh ketika menyadari bahwa dari miliaran orang di bumi, Luhan telah memilihnya.

Sehun menggigit bibirnya, berusaha tidak membuat suara selagi ia memperhatikan wajah sang omega. Sinar matahari mengintip dari celah-celah jendela, menari-nari di atas kulit Luhan seolah mengucap sapa. Perlahan senyum tipis muncul di wajahnya. Ia menunduk di atas Luhan seraya memberikan kecupan-kecupan singkat di kening dan pipi. Sesaat tidak ada reaksi, namun akhirnya kelopak mata omega itu membuka.

Terkejut, itu ekspresi yang bisa Sehun baca dari wajah Luhan. Ia refleks menggenggam lengan Luhan, tidak ingin Luhan labur darinya semisal omega itu ternyata menyesali semua ini. Menyesali Sehun.

Tapi Luhan tidak bergerak. Matanya mengedip beberapa kali, membiasakan diri dengan cahaya sebelum senyuman manis terpulas di bibirnya. Sehun menahan nafas ketika tangan Luhan menyentuh pipinya. Ia tidak melawan ketika Luhan menariknya mendekat lantas menempelkan bibir mereka. Ia menghela nafas lega, menutup matanya dan membiarkan Luhan menjilati bibirnya seperti anak kucing.

"Selamat pagi," sapa Luhan sedikit serak. Senyum malas, mengantuk, mata mengilap seperti batu mulia dan Sehun merasa jantungnya seperti diremas.

"Pagi," jawab sang alpha singkat, melekatkan dahi mereka hingga ia bisa menatap mata Luhan dari dekat. Ia merasakan jari-jari di pipinya turun ke leher, ibu jari memijat jakunnya keras. "Apa kau mau mencekikku, Lu?"

Luhan tertawa kecil, menarik leher Sehun dan membenamkan gigi-giginya di jakun sang alpha.

"Hanya memastikan bahwa ini bukan mimpi."

"Semoga bukan," gumam Sehun pelan, mendongakan kepalanya agar Luhan lebih leluasa menggigiti lehernya. "Kalau aku terbangun dari ini, aku tidak tahu apa yang akan kulakukan."

Luhan tergelak lagi, hembusan nafasnya terasa hangat di leher Sehun. Omega itu lalu mendorong pundaknya. Sehun menolak bergeming, tetap bersikeras mempertahankan posisinya di atas Luhan. Tapi ketika dihadapkan pada senyum lembut di wajah Luhan dan tangan yang membelai sisi tubuhnya, Sehun menyerah dan menjatuhkan tubuh ke samping Luhan. Biarpun ia dengan sigap mengaitkan jemarinya pada milik Luhan, tidak rela jika mereka tidak bersentuhan barang sedetik pun.

.

Luhan bergerak mengambil sesuatu di meja samping tempat tidur. Sehun tidak memperhatikan, terlalu sibuk menciumi punggung tangan dan tiap jari Luhan. Tapi semua gerakannya terhenti ketika melihat kilasan benda merah di tangan omeganya.

Ia tidak mengatakan apa-apa, hanya bisa menggigit bibirnya sembari menyaksikan Luhan membuka lembar demi lembar buku di pangkuan dengan tangannya yang bebas.

"Jadi kau pertama kali melihatku lewat jendela kafe?"

Tanya Luhan tanpa menoleh ke arahnya. Sehun tidak tahu harus berekspektasi seperti apa, suara Luhan tidak memberikan petunjuk apa yang ada di pikirannya saat ini.

Ragu-ragu ia mengangguk, lalu mengecup bagian dalam pergelangan tangan Luhan. Permintaan maaf atas semua yang ia sembunyikan selama ini.

"Kau tahu namaku dari membuntutiku dan Minseok pulang?"

Sehun mengernyit.

"Kau mengikutiku bahkan sampai ke apartmentku?"

Suara Luhan terdengar terkejut, tatapan terpaku pada halaman buku merah di pangkuannya.

"Mencari informasi tentangku di internet... dan mengunduh semua fotoku? Wow. Itu cukup keterlaluan, apa kau tidak berpikir kelakuanmu itu aneh?"

Sang alpha merasa wajahnya memanas sampai ke telinga hingga akhirnya ia membenamkan wajahnya ke telapak tangan Luhan yang digenggamnya. Tapi Luhan tidak bereaksi dan Sehun tidak yakin apa artinya itu.

"Kau menandaiku karena merasa terancam melihat Yifan," Luhan meneruskan, kali ini lebih seperti pada dirinya sendiri. "Dan selama ini kupikir kau tidak bisa mengendalikan insting alphamu karena masih muda dan akhirnya menandai omega pertama yang kau temui."

Kalimat Luhan terasa belum selesai dan Sehun tidak tahu apa yang sebaiknya ia lakukan.

"Jadi kau bisa mengendalikan instingmu?"

Sehun mengangguk, masih belum mengangkat kepalanya.

"Kamu mengerikan, Sehun," ujar Luhan pelan dan Sehun otomatis mengangkat kepala, matanya melebar. Takut. Tapi Luhan tersenyum, tangannya yang bebas meninggalkan buku milik Sehun dan mengelus puncak kepala pemuda yang lebih muda itu.

"Tapi kurasa, aku harus menerimamu yang seperti ini."

"Harus," ujar Sehun pelan, penuh harap, menarik tangan Luhan dari kepalanya ke mulut. Ia mengecup punggung tangan sang omega. "Aku tahu tindakanku tidak bisa dibilang benar dan mungkin aku masih akan melakukan hal yang... keterlaluan juga. Tapi aku melakukan semuanya karena aku ingin bersamamu.

"Aku tidak akan pernah memiliki niat buruk padamu, Lu."

"Aku tahu, " Luhan tertawa pelan, memberikan kecupan di kening sang alpha. Sehun menghela nafas, melingkarkan kedua tangannya di sekeliling tubuh Luhan dan menarik omega itu ke dalam pelukannya. Erat-erat sampai Luhan tertawa dan mengeluh bahwa ia tidak bisa bernafas. Tapi Sehun tidak melepaskannya.

Tidak akan pernah lagi.

.

.

.

.

Sehun tidak menyangka akan terbiasa dengan kehidupan barunya secepat ini. Rasanya belum lama ia masih terkurung di balik jeruji, bertanya-tanya apakah Luhan memikirkannya sebanyak ia memikirkan Luhan (setiap saat). Lalu sekarang Luhan ada di sampingnya, selalu.

Kadang rasanya kembali ke waktu sebelumnya, mereka berdua masih datang ke cafe yang sama dengan Minseok dan Yixing. Hanya saja kali ini Luhan yang pertama kali menyentuh tangannya di bawah meja, dan omega itu tersenyum manis kerap kali Sehun tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup ujung bibirnya.

Minseok dan Yixing mengeluhkan betapa manisnya mereka dan kadang mengancam pindah meja jika Sehun dan Luhan tetap saling berpandangan tanpa berkata-kata seolah tidak ada orang lain di sekitar mereka.

Kadang juga Sehun melihat ke luar jendela kafe lama, mengenang waktu ketika ia hanya bisa menatap Luhan sembunyi-sembunyi dari luar. Lalu ia merasakan genggaman Luhan di tangannya mengerat dan ia tanpa sadar tersenyum lantas membenamkan wajahnya di leher Luhan. Menghirup aroma omega miliknya.

Miliknya.

Mungkin akhirnya Luhan mengerti bahwa tidak akan ada orang yang bisa mencintainya lebih dari Sehun, sehingga ia mengizinkan Sehun berbuat sesukanya. Sang alpha tidak segansegan memanfaatkan kelonggaran yang diberikan omeganya. Ia menggigiti leher Luhan tiap beberapa waktu sekali, seakan tandanya bisa hilang tiap saat dan ia harus berjaga-jaga membuat tanda yang baru. Logikanya mengatakan bahwa itu mustahil terjadi, tapi instingnya terus memaksanya untuk menjaga apa yang dimiliknya.

.

.

.

Setelah ujian kelulusan sekolah Sehun (dan setelah ia diterima masuk ke salah satu perguruan tinggi bergengsi di Seoul), Luhan membiarkan Sehun menginap di apartemennya hampir setiap saat. Bahkan bisa dibilang Sehun sudah tinggal dengannya, mengingat ia menghabiskan lebih banyak malamnya di tempat Luhan alih-alih rumahnya sendiri.

Hari ini juga, ia menghabiskan hari liburnya sampai dimulai di tempat Luhan. Omega itu sedang mempersiapkan diri menghadapi interview pekerjaan di salah satu perusahaan penerbit, Sehun sebagai seorang kekasih yang baik merasa perlu menemaninya. Biarpun yang ia lakukan hanya berbaring di sofa dengan paha Luhan sebagai bantal sambil memainkan game di smartphonenya.

Tapi Luhan membiarkannya, jadi Sehun tidak akan berhenti.

Baru ketika karakternya jatuh ke jurang karena ia telat menekan perintah lompat akhirnya Sehun mengerang pelan, menurunkan smartphonenya ke sela sofa. Ia menggerakan kepalanya agar wajahnya menghadap perut Luhan, dan ia merasakan tangan omega itu mengelus kepalanya.

"Lu," rengeknya pelan, tapi yang ia dapat hanya 'hm' pelan dan jemari menyisiri rambutnya. Luhan sibuk membaca kertas di tangannya. Saat Sehun mengangkat tangan menyentuh pipi omega itu, akhirnya Luhan menunduk menatapnya.

"Kenapa?"

Sehun menggerakan tangannya hingga ujung jarinya membelai tulang pipi luhan.

"Aku ingin tinggal denganmu."

Luhan mengerutkan keningnya dan selama beberapa saat Sehun mengira bahwa lagi-lagi Luhan tidak mengerti perasaannya, tidak mengerti bahwa Sehun membutuhkan omega itu. Bahwa Sehun harus selalu berada di dekatnya.

Bukannya ia tidak percaya pada Luhan, ia tahu bahwa omega itu peduli padanya. Tapi sampai sekarang pun Luhan masih belum paham bahwa seandainya bisa, Sehun ingin merantai tangan dan kaki mereka berdua agar Luhan tidak bisa jauh darinya. Tapi ia tidak bisa melakukannya karena itu akan membuat Luhan tidak bahagia dan mungkin membencinya kemudian. Sehun takut kehilangan. Ia membutuhkan Luhan seperti ia membutuhkan oksigen.

"Lu..." panggilnya lagi ketika Luhan masih tidak menjawab. "Aku tidak akan merepotkanmu. Aku akan mencari part-time, bukankah banyak pekerjaan yang bisa menyesuaikan jadwal kuliah?

"Aku akan membantu bersih-bersih. Ah, tidak. Semua urusan bersih-bersih bisa kau serahkan padaku."

Ketika Luhan masih belum menjawab, Sehun menurunkan tangannya dari wajah sang omega. Turun perlahan ke leher, menggosokan ujung jarinya ke bekas gigitan di leher Luhan.

"Luhan... aku ingin selalu berada di dekatmu."

Beberapa detik yang berlalu tanpa ada jawaban membuat Sehun merasa sesak. Tapi kemudian Luhan tersenyum kecil dan menunduk untuk mengecup dahinya.

"Ya," ujar Luhan pelan, Sehun bisa merasakan bibir Luhan bergerak di pelipisnya. "Lagipula kau sudah meletakan setengah isi lemarimu di sini, kupikir kita sudah lama tinggal bersama."

Sehun akhirnya bisa tertawa, lega. Ia menarik leher Luhan, membawa wajah omega itu mendekat agar ia bisa mencium bibirnya.

.

"Luhan."

Sehun memejamkan matanya, membiarkan Luhan menggigiti bibir bawahnya. Ia suka Luhan yang seperti ini, manja seperti seekor kucing.

"Posisi ini membuat punggungku sakit," ujar Luhan sambil tertawa, tapi ia tidak mengubah posisinya. Ia menjilati bibir Sehun hingga sang alpha tidak sabar dan menciumnya betulan. Sehun memasukan lidahnya ke dalam mulut Luhan dan mengerang pelan saat Luhan menggigit lidahnya.

"Aku sayang kamu," bisik Luhan, dan Sehun merasa dadanya bergemuruh hingga ia takut akan meledak.

Mata Luhan berbinar menatapnya dan Sehun teringat pertama kali ia melihat Luhan dari balik kaca jendela. Begitu indah dan menakjubkan. Kata-kata tidak cukup untuk mendeskripsikan apa yang ia rasakan. Ia tidak mengira Luhan bisa terlihat lebih surreal daripada hari itu. Tapi saat ini, Sehun hanya punya satu kata: malaikat.

.

Ia memaksa tubuhnya bangun dan ekspresi Luhan yang bingung dengan responnya membuat Sehun ingin mencumbu omega itu. Jadi itu yang ia lakukan.

Sehun berlutut di depan Luhan dan menariknya mendekat.

"Lu," ujarnya pelan sembari mengendus leher omega itu, "siklusmu sebentar lagi. Kita akan bersenang-senang."

Luhan memukul bahunya.

"Bersenang-senang apa? Kau hampir lupa mengenakan pengaman, untung saja aku masih sedikit sadar..."

"Maaf, maaf, aku tidak bisa berpikir begitu aku melihatmu... lagipula menyentuhmu langsung terasa lebih nikmat."

Tubuh Luhan tiba-tiba kaku di pelukannya.

"...Lu?"

Luhan memalingkan wajahnya.

"Jangan bilang seperti itu. Aku tidak mau sampai hamil."

Sehun menyadari tangan Luhan yang bergerak menyentuh perut. Oh. Ia bukannya tidak tahu bahwa Luhan masih tidak bisa melupakan bahwa ia pernah membunuh janinnya. Hanya saja ia tidak mengira bahwa Luhan setrauma ini. Ia mengucapkan maaf di telinga Luhan, menghujani wajah alpha itu dengan kecupan hingga Luhan menghela nafas dan tersenyum kembali.

Sehun tidak mengerti kenapa Luhan begitu menyesal, toh bayi bisa dibuat lagi.

Lagipula ayahnya ada di sini.

.

.

/flashback/

Bau Luhan menyengat biarpun jarak mereka cukup jauh. Cukup jauh agar Luhan tidak bisa mencium aromanya, cukup dekat untuk Sehun mencium aroma omega yang menguat berkali-kali lipat ketika siklus.

Luhan terlalu naif. Ia masih tidak percaya bahwa ia membutuhkan alpha dan masih tidak percaya bahwa Sehun bisa menjadi alphanya. Bahwa ia membutuhkan Sehun dalam hidupnya karena siapa lagi yang bisa mencintainya seperti Sehun? Ia harus menyadarkan Luhan bahwa Sehun adalah satu-satunya orang yang tepat untuknya, bahwa Luhan membutuhkannya.

Sehun tahu warna emas di matanya pasti pekat, menandakan insting alphanya sepenuhnya terbangun. Ia bisa mencium aroma Luhan dengan jelas, dan aroma asing yang mengikuti Luhan.

Ia menahan suara erangan kesal memaksa keluar dari tenggorokannya.

Perlahan ia mendekat. Luhan harus sudah terlalu terangsang agar ia tidak menyadari kehadiran Sehun. Dan aroma asing itu harus cukup melekat di tubuh Luhan agar skenario ini meyakinkan.

Ia mendekat ketika orang asing itu sudah menurunkan celana Luhan sampai ke lutut. Kemaluan orang itu sudah menyentuh kulit Luhan dan Sehun harus menahan diri sekuat tenaga untuk tidak membunuh orang itu. Yang ia lakukan hanya memukul kepala orang itu keras-keras dan menggantikan tempatnya sebelum Luhan menyadari ada yang salah.

Tapi ia yakin bahwa omega itu pasti tidak akan peduli atau pun sadar apa yang terjadi di sekelilingmya asalkan birahinya terpenuhi.

Sehun melenguh ketika kemaluannya masuk ke dalam Lubang Luhan dan yang ia dengar dari omega itu adalah erangan penuh nafsu. Tapi sesekali desahan Luhan bercampur dengan kalimat patah-patah pilu, "tolong... Sehun... tolong..." dan Sehun merasa sedikit bersalah.

Pengalaman pertama mereka seharusnya dilakukan di kamar, penuh bisikan cinta, bukan di gang sempit yang kotor dengan wajah Luhan menempel pada tembok.

Tapi ini demi mereka berdua.

Luhan harus menyadari bahwa ia membutuhkannya, membutuhkan Oh Sehun.

.

Ketika Luhan mencapai orgasme, tubuhnya lunglai tak berdaya, pingsan. Tapi Sehun terus menggunakan tubuh omega itu ntuk mencapai orgasmenya sendiri. Baru ketika maninya mengisi Luhan ia akhirnya berhenti, menarik kemaluannya keluar dan merapikan bajunya.

Sekarang lebih sulit, ia harus berakting murka dan mengklaim akan mencari pelaku yang melakukan ini pada Luhan. Bau yang menempel pada Luhan seharusnya cukup bukti untuk tidak melakukan tes pada spermanya.

Atau, ia bisa memaksa bahwa ia sendiri yang akan membersihkan Luhan karena ia tidak ingin omeganya disentuh oleh orang lain lagi.

Sehun menghela nafas. Ia melirik ke arah Luhan yang pingsan di tanah, insting menyuruhnya untuk membawa omega itu ke tempat yang lebih nyaman. Tapi Sehun menahan diri.

Ia harus bersabar sedikit, setelah itu... Luhan miliknya.

/end of flashback/

.

.

.

.

.

"Sehun?"

Suara Luhan membuatnya berhenti menggigit bahu omega itu.

"Ya?"

Ia menjauhkan kepalanya sedikit agar bisa melihat wajah Luhan. Yang didapatinya adalah senyum manis yang membuat senyumnya ikut terkembang.

"Tidak apa-apa," jawab Luha diiringi tawa sebelum ia menarik Sehun hingga sang alpha menindihnya.

Sehun balas tertawa dan kembali menggigit bahu Luhan. Meninggalkan tanda milikku, miikku, milikku di kulit kekasihnya.

"Aku akan... sembuh," gumam Luhan pelan, mengangkat kepalanya sedikit agar Sehun lebih leluasa bermain di lehernya, "nanti... suatu hari... aku ingin kita memiliki anak, satu atau dua... dan membesarkan mereka... um..."

"Apa itu sebuah lamaran?"

Sehun meletakan pelipisnya menyentuh milik Luhan. Tangannya membelai kulit di bawah lapisan kemeja yang dikenakan Luhan. Bagian Luhan menggugurkan kandungannya memang berada di luar perkiraannya, tapi lebih baik begini. Akan sulit seandainya ia harus berpura-pura bahwa anaknya bukan anaknya.

Lebih baik begini.

Mereka akan melupakan apa yang terjadi di masa lalu. Luhan tidak perlu tahu dosa-dosa yang dilakukan Sehun.

Rona merah di pipi Luhan membuat senyumnya semakin lebar.

.

Milikku.

.

"Saranghaeyo, Luhan."

.

.

.

.

.

END