Previous Chap :
Dia jatuh di tengah jalan raya. Jalan dimana banyak mobil berkecepatan tinggi berlalu lalang.
"INO!"
Ino mendengar suara Naruto, tapi kaki juga tubuhnya tak berkutik.
"JANGAN DIAM DI SANA, INO! LARI!" Naruto berlari mendekat.
Dan kemudian tanpa suara Ino menoleh ke samping kanan. Ada dua bulatan sinar mobil yang menyilaukan. Dirinya kaku dan saat ia memejamkan mata, dapat ia rasakan dirinya terbanting keras.
BRUAKH!
.
.
Ya.
Tidak terdengar suara kaca pecah, benturan baja yang mengenai tembok jalan, atau mungkin bunyi ngilu dari tubuh manusia yang terlindas di atas aspal. Tak ada. Tapi yang Naruto ketahui dan lihat melalui kedua mata birunya, mobil itu rem mendadak sampai berdecit nyaring dan Ino pun masih tertabrak karenanya.
Debaman kecil dari tubuh Ino yang sedikit terlempar membuat Naruto yang masih berlari seolah kehilangan tenaga. Di jarak yang tak lebih dari sepuluh meter dari Yamanaka Ino, Naruto terjatuh berlutut. Matanya terbelalak; nyaris keluar. Nafasnya tercekat dan mulutnya pun luar biasa menganga. Tak kuasa ia melihat keadaan ini. Dia pun mendekat dengan rangkakan pelan dan mencoba mengulurkan tangannya yang bergetar ke sosok gadis itu yang terkulai lemah di permukaan jalan.
Ino...
Ino Yamanaka-nya...
"Ino..." Naruto menaruh kepala Ino di pangkuan pahanya. Dan di bawah keremangan lampu jingga pinggir jalan ini, ia lihat linangan air dari samping pelipis sang kakak. Ada darah segar yang mengalir tanpa henti. Nafas Naruto memburu. Pria itu meneteskan air matanya tanpa malu.
"Ino..." Bisiknya. "Ino... bangun..."
Tak ada jawaban, tak ada anggota tubuh yang bergerak, tak ada kelopak mata yang terbuka.
Naruto mengadah dan melirik ke sekitar. Ia lihat mobil—yang menjadi pelaku tabrakan—tadi berhenti darurat di tepi jalan. Di bagian kemudi duduk seorang pria paruh baya yang mengeluarkan wajah pucatnya dari sela jendela yang ia buka. "B-Bu-Bukan salahku! Dia yang dari awal berada di tengah jalan, kan!" Lalu dia tancap gas dan pergi begitu saja.
Persetan.
Naruto menggeram penuh amarah. Ia juga ingin menghinanya dengan kalimat kasar, tapi kelihatannya ini bukan waktu yang tepat memikirkan orang itu. Dia kembali melihat Ino. Ingin memanggil ulang namanya. Tapi tak disangka-sangka suara yang ia keluarkan hanyalah berupa desisan parau. Air matanya juga semakin menetes tak terkendali. Hidungnya memerah dan keringat dingin merajai kening dan punggung. Hingga tangan Ino mendadak meremas tangan Naruto. Pria itu terkejut. Dia telaah ulang wajah cantik di bawahnya dan mengusap pipinya. Kelopak mata Ino sedikit terbuka dan menampilkan aquamarine-nya yang redup. Gadis itu ingin bicara, tapi tak sanggup. Bibirnya bergetar dan dia taruh tangannya ke pipi sang adik. Naruto genggam tangan itu dengan lembut.
"I-Ino... kau baik-baik saja?"
'Tidak mungkin baik, bodoh.' Naruto mencela dirinya sendiri. Kepala Ino sempat terbentur aspal saat ia melompat tadi. kulit di atas matanya robek. Beberapa tulang di daerah pinggangnya juga ada kemungkinan patah—Naruto melihat jelas bumper mobil mengenainya.
Si pirang ber-ponytail tersenyum. Ia seka air bening yang terkumpul si sudut mata Naruto.
"Hanya... mati rasa. Tak apa kok." Ia menggigit bibir—mungkin menahan sakit yang pura-pura tak terasa. "Jangan nangis, Naru... kau kan sudah besar..."
Ino tersenyum dan tangannya jatuh lemas. Sedangkan lekungan bibirnya mengendur dan kelopak matanya kembali tertutup. Naruto nyaris tak bisa bernafas karenanya. Dengan tangan yang bergetar juga berkeringat, ia rogoh saku di pakaian Ino dan mencari ponsel. Ia gunakan benda itu untuk menelfon ambulans dari rumah sakit terdekat.
Ia hanya tak bisa berbuat apa-apa lagi.
Dia terlalu tak siap.
Dia tak siap tiap kali melihat Ino yang terluka—terutama karena dirinya.
Atau bahkan... kehilangannya.
.
.
.
HEART & CLOVER
"Heart & Clover" punya zo
Naruto by Masashi Kishimoto
[Naruto Namikaze x Yamanaka Ino]
Romance, Family, Hurt/Comfort
AU, OOC, Typos, Semi-M, etc.
.
.
TENTH. Harapan Terakhir
.
.
Malam itu suasana di salah satu koridor rumah sakit terlihat sepi. Cuma ada Naruto yang duduk di bangku tempat menunggu, sedangkan Ino sendiri masih berada di kamar yang bertuliskan 'ruang operasi' yang terletak di ujung lorong. Dia duduk membungkuk. Kedua sikutnya dia taruh di permukaan paha. Tangannya saling meremas, mata terpejam erat, bibirnya memanjatkan doa, dan persatuan tangannya berkali-kali ia benturkan ke kepala.
Naruto benar-benar sedang frustasi.
Sekalipun ia melihat mobil yang menabrak Ino tadi tak mengenainya secara telak—pedal remnya ditekan kuat hingga terdengar decitan ban yang mengilukan—Naruto tetap tidak bisa tenang. Jika Ino tak terluka sih tak apa. Tapi yang ini kulit kepala Ino sobek. Dia kehabisan banyak darah. Belum lagi luka di dalam tubuhnya yang belum ketahuan seberapa parahnya.
Naruto mengeratkan genggaman kedua tangannya sekali lagi dan dia berdiri. Tatapannya masih menampilkan keresahan tanpa akhir dan ia pun berdiri di depan pintu ruang operasi. Ia hapus sebesit keinginan untuk masuk paksa ke ruangan itu untuk mengetahui keadaan Ino. Gadis itu sudah ditangani dokter dari jam sembilan tadi, kan? Perlu berapa lama lagi ia harus menunggu hanya untuk tau keadaan Ino? Ini sudah tengah malam.
Baru akan merutuk tak sabar, mendadak pintu dua bilik itu terbuka. Keluarlah seorang dokter berjas putih yang baru saja menurunkan maskernya. Dia menghela nafas dan mencoba menampilkan wajah terbaiknya yang sebenarnya sudah letih.
"Bagaimana?"
"Tenang, adikmu baik-baik saja. Syukurlah kau membawanya ke sini tepat waktu. Aku juga sudah menjahit luka di dahinya."
Bahu-bahu tegang Naruto turun bersamaan. Dia luar biasa lega. "Apa dia sudah sadar?"
"Belum sadar penuh. Dia masih tertidur. Tapi kalau kau mau, kau bisa menemaninya kalau nanti dia sudah dipindahkan ke kamar yang lebih pantas. Besok dia juga perlu menjalani beberapa operasi untuk menyembuhkan tulang pinggulnya yang bergeser dan sedikit retak."
Dokter berkacamata bulat itu menepuk punggung Naruto, menyemangatinya, lalu segera berjalan pergi ke arah lain. Naruto mengangguk dalam hati dan kemudian berjalan mengikuti para suster yang mendorong ranjang pasien beroda yang dipakai Ino. Jujur saja ia bersyukur tak ada berita buruk yang dokter itu sampaikan, tapi Naruto tetap tidak menyunggingkan senyum. Dia pikir mendapati informasi bahwa Ino baik-baik saja sudah cukup, tapi nyatanya tidak. Mana bisa ia tenang saat Ino masih terbaring lemas di ranjang dengan tusukan infus di tangan, serta perban tebal yang menutupi dahinya? Naruto pun mengikuti Ino yang dibawa ke kamar rumah sakit kelas dua. Naruto duduk diam di sebelahnya sampai suster-suster yang bertugas meninggalkan mereka.
Naruto menghela nafas, pelan dan agak sesak.
Di samping ranjang, ia genggam tangan Ino yang sedikit lecet. Dia selipkan jemarinya dan ia cium tangan putih itu. Lama. Dia lepaskan bibirnya dan kemudian mengeluskan pipi berkumis kucingnya ke sana.
"Maaf..." Dia berucap lirih. "Maafkan aku..."
"Seandainya aku tidak mengancammu dengan cara berlari ke tempat Sakura... seandainya kau tidak mengejarku..." Mata Naruto lagi-lagi berkaca-kaca. Tetesan air matanya menetes dan merembes ke luka di tangan Ino yang sudah diberi obat merah. "Jangan tinggalkan aku, Ino. Jangan biarkan aku sendiri lagi seperti dulu..." Tetesannya membanyak. Tak peduli jika ia dikata cengeng atau apapun didengar oleh pasien lainnya yang ada di ruangan ini.
"Sungguh, aku masih ingin bersamamu..."
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
"Mm..."
Tepat saat fajar menjelang, terdengar suara gumaman lemah seorang perempuan.
"Naruto...?"
Naruto membuka matanya lebar-lebar. Ia mengadahkan wajah dan otomatis menegakkan tubuh. Agak meringis memang saat sadar dirinya telah tidur berjam-jam dengan posisi membungkuk ke ranjang pasien—sedangkan ia masih duduk di bangku keras. Ia abaikan rasa nyeri dan mati rasa yang menjalar lalu manatap Ino yang sempat memanggilnya walau kedua matanya masih terpejam. Jari tangan rapuh gadis itu bergerak kecil. Naruto menggenggamnya langsung.
"Ino, kau sudah sadar?"
"I-Ini... di mana?" Ucapnya. Ia mencoba membuka mata, namun masih sulit. Dia berkedip dua kali tiap detiknya. "Rumah sakit?"
"Iya." Dia melirik jam dinding dan ini sudah nyaris masuk jam lima pagi. "Kemarin malam kau ditabrak mobil. Kepalamu berdarah, tulangmu juga ada beberapa yang retak."
Ino membelai dahinya sendiri yang diperban, meringis nyeri. "Ah, tapi tak terlalu sakit kok... jangan khawatir." Iris aquamarine yang redup itu menatap Naruto, cukup sekali, lalu memutuskan untuk menutupnya lama. Bibir Ino lanjut tersenyum. Dan salah satu telunjuknya membelai kelopak mata dan pipi Naruto yang lengket oleh sisa-sisa air mata. "Jangan kebanyakan nangis juga. Sudah berkantung kan jadinya..."
"Ba-Bagaimana bisa aku tidak menangis...?" Naruto mendengus, susah payah menahan suaranya sambil menggigit bibir. Air matanya kembali turun seperti anak kecil yang masih sensitif. "Kau kecelakaan karenaku."
"Tapi benar-benar tak sakit lagi kok." Dengan sedikit tawa Ino belai juga rambut jabrik Naruto yang sedikit lepek. Hasil dari keringat dingin sepanjang malam. "Kalaupun sakit, aku bisa menahannya."
Naruto menggeleng. Dia menunduk dalam dalam sampai ujung poni tajamnya menyentuh tangan Ino. Sang kakak hanya tersenyum, sedangkan Naruto terisak hebat. Ia masih diliputi penyesalan tanpa batas.
"Sudah, sudah... badan besar begini kok tingkahnya masih seperti anak kecil?"
Dengan mata basah dan bibir bergetar Naruto mengadah. "Ino... suki... suki da..."
Suka. Aku suka kamu.
Naruto mengucapkan kalimat itu tiba-tiba.
Ya, kalimat itu memang sudah terucap beberapa kali dari Naruto. Tapi untuk kali ini...
Tidak tau kenapa berlipat-lipat terasa lebih serius.
Mulut Ino tak bergerak. Naruto melanjutkan. Kali ini pria itu kembali menunduk. "Su-Suki..."
Terdengar helaan nafas dari Ino. Susah payah gadis itu sedikit membangkitkan diri lalu memajukan wajahnya ke Naruto. Pipi tan pria itu dia kecup, lalu Ino tersenyum. "Aku juga menyukaimu—" Ucapan Ino yang tergantung membuat mata Naruto terbelalak. "—sebagai adikku."
Adik.
Kedua bahu Naruto turun bersamaan. Itulah yang dikatakan dan ditekankan oleh Ino. Naruto menghapus genangan air mata yang hampir menetes dari ujung matanya, lalu menatap Ino dengan cengiran lebar. "Ne, Ino... apa boleh aku... memanggilmu 'Neechan'?"
"Tentu." Ino tertawa kecil.
"Tak akan marah?"
"Mm."
"Kalau aku melarang Gaara mendekatimu?"
"Aku memang sudah menghindarinya."
"Jadi aku boleh mengusirnya kalau seandainya dia datang lagi ke rumah?
"Buat apa juga?" Ino tertawa kecil. Karena kali ini dia sudah bisa membuka mata sedikit lebih lebar, dia tarik hidung Naruto dengan kedua capitan jarinya. "Kau itu adikku. Saat aku sembuh nanti, biarkan aku yang menjagamu."
Senyuman terlukis pelan dari bibir Naruto; hanya saja lagi-lagi air matanya meleleh turun. Dada Naruto Namikaze luar biasa menghangat. Dan ia pun mencoba mengeluarkan senyuman lebar terbaiknya.
"Benarkah?"
Ino mengangguk pasti. "Ya."
"Kalau begitu, jangan pernah kau tinggalkan aku lagi. Jangan." Ia peluk Ino dengan sentuhan lembut. Tak berani bertindak lebih karena tau keadaan tulang gadis itu sama sekali belum membaik. Ino pun balas tersenyum dan mengacak-acak surai Naruto walau masih dengan gerakan lemahnya.
"Pasti, Naruto. Aku berjanji."
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Hanya saja, tak ada yang tahu pasti apa takdir tuhan.
Malam itu keadaan kota Tokyo yang diguyur hujan deras membuat bising satu kota. Angin ribut di luar sana membuat jalanan sepi tak ada orang yang berlalu lalang. Kendaraan pun jarang ada yang lewat. Hanya ada pepohonan kurus yang bergoyang, daun basah yang beterbangan, juga suhu kota yang merendah sampai titik yang paling mengkhawatirkan.
Ino yang sudah menjalani operasi untuk tulangnya dari tiga hari yang lalu sudah bisa tidur lebih nyenyak dibanding hari-hari sebelumnya. Obat pereda sakit yang dia minum sepertinya cukup membuatnya tertidur pulas. Naruto juga terlelap di sofa ujung ruangan. Mereka berdua—juga pasien lain yang mengisi ranjang sebelah—tak ada yang sadar. Semua mengistirahatkan diri dengan tenang. Hingga di suatu detik, kala ketukan ranting pohon di jendela menjadi keras, lama-kelamaan Ino Yamanaka bergumam dan tersadar. Dia kernyitkan kening dan sontak mendudukkan tubuhnya di atas ranjang—tapi sayang, ia kaku mendadak. Dirinya lupa kalau dia masih memiliki jahitan bekas operasi yang masih belum sembuh total. Pain killer pun tak sanggup menahan setruman antarsyaraf yang langsung menjalar saat ia paksa bergerak cepat seperti tadi.
"Ah, sakit..."
Air mata menggenang di pelupuk mata, Ino benar-benar tidak betah dengan keadaan ini. Dari kepala sampai ujung kaki tak ada yang bisa leluasa ia gerakan. Tubuhnya serasa retak sepenuhnya. Jadilah ia menghela nafas berat dan menoleh ke arah kanan—cuma itu yang bisa ia lakukan. Jendela tanpa gorden yang menampilkan ganasnya badai di tengah kota.
"Di luar sana... berisik sekali..."
Ino mengeluh. Mata aquamarine-nya terus memandang lurus ke jendela. Udara yang semakin dingin membuat Ino menarik selimut tipisnya hingga ke leher.
Ia hela nafas dan mengalihkan pandangannya ke Naruto. Pria itu tidur dengan posisi agak berantakan di atas sofa. Rambut pirangnya yang sudah memanjang acak-acakan dan tampangnya begitu polos saat tidur. Persis seperti kucing. Ino tersenyum simpul. Ia sedikit paksakan dirinya agar dapat terduduk meski harus merintih beberapa kali. Kakinya dia gantungkan di tepi ranjang. Ia tepuk pahanya sendiri—masih mati rasa. Tampaknya obat penenang dari dokter masih bekerja dengan baik di aliran darahnya. Karenanya Ino mencoba menggunakan kesempatan ini untuk ke toilet. Mumpung masih bisa bergerak.
Tapi langkahnya tertahan karena teringat sebuah ucapan.
'Ino... suki... suki da...'
Kalau tidak salah, belum lama ini ia baru saja Naruto menyatakan cinta padanya, kan?
Ah, bukan. 'Suki' itu suka. Lebih sederhana dibanding cinta, mungkin. Tapi tetap saja. Toh, ia memang menyanyangi Naruto sebagai adik. Tidak lebih dan tidak boleh lebih, malah.
Lalu apa dengan ini semua permasalahannya sudah selesai? Masalah tentang Gaara, Naruto, ataupun ancaman gila Naruto yang bisa membahayakan persahabatannya dengan Haruno Sakura. Tinggal Ino sendiri yang nantinya melanjutkan kehidupannya. Hanya saja, ada satu kekurangan yang hidupnya miliki saat ini. Ia tatap sekali lagi Naruto yang ada di hadapannya dan menghela nafas.
Entah mengapa, dia rindu Naruto saat ia kecil.
Saat anak itu masih sering dijahati olehnya.
Ia ingin minta maaf. Memeluk dan mencium pipinya kalau bisa.
Ingin rasanya ada keajaiban dari Tuhan kembali bertindak untuk saat ini...
Sedikit nekat Ino menuruni ranjang. Telapak kakinya menyentuh lantai. Baru ia akan berdiri, tapi tiba-tiba saja ia lunglai dan terjatuh. Untung tangan kanannya yang tersambung jarum infus ia angkat tinggi-tinggi sehingga selangnya tidak tertarik. Agak berdesis Ino berdiri susah payah—berpegangan di ranjang pasien. Ia geret tiang infus dan kemudian berjalan lagi. Bukan ke toilet, namun ke Naruto.
Ia juga ingin memeluk pria itu. Naruto sudah mengajarkannya banyak hal—
Namun saat ia akan meraih Naruto dengan tangannya, tiba-tiba saja Ino jatuh lagi.
Kali ini ia oleng ke depan dan yakin akan jatuh dengan muka duluan yang menghantam lantai. Namun saat Ino memejamkan mata dan sedikit memekik, nyatanya tak ada rasa sakit apa-apa yang ia rasakan. Ia pun membuka mata dan terkejut luar biasa. Nyatanya ia sudah jatuh ke sebuah lubang hitam. Dirinya melayang dan surai pirang keemasannya berkibar. Ia dibawa ke sebuah tempat tak berujung.
Dengan sisa suaranya Ino berteriak. Nama Naruto ia serukan berkali-kali.
Namun yang kali ini ia tangkap lewat pandangannya, hanyalah sesuatu kegelapan yang abadi. Tak ada cahaya dimana pun. Tak ada jalan akhir.
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
"Hah!"
Ino terbangun dengan kedua mata birunya yang terbelalak. Keringat dingin membanjiri tubuhnya yang hanya terbalut kaus dan celana pendek rumahan. Agak terengah, Ino refleks melempar kain selimut yang menutupi sebagian tubuhnya dan terduduk. Ia celingukan ke kanan-kiri dan baru sadar kalau ia sedang berada di kamar pribadinya. Tak ada selang infus—atau bahkan bekas tusukannya di tangan—perban kasa, atau sakit yang lumayan nyeri di bagian kepala. Tubuhnya bersih tanpa segaris pun luka. Ino sampai harus memastikan ke meja rias saat ia tidak menemukan bekas jahitan apa-apa di dahinya.
Tapi ini aneh.
Bukannya belum lama ini ia kecelakaan? Sudah berapa lama ia tertidur hingga bekas jahitan—yang katanya akan membekas seumur hidup itu—mendadak pudar dan hilang? Memangnya sehebat apa obat yang dokter itu berikan kepadanya?
Aneh.
"Naruto..."
Ino berniat memanggil pria itu. Ia ingin bertanya. Tapi karena kerongkongannya kering gersang dan perutnya juga keroncongan, ia berjalan ke bawah dan menuju dapur. Sudah berapa lama dia tidur, eh?
"Naruto! Kau di mana?"
Ino lagi-lagi menatap heran ke sekeliling rumah. Seraya meminum susu cair dingin dari ujung botol, gadis yang saat ini menggerai rambut pirangnya berjalan ke lantai atas lagi. Ia berniat menghampiri Naruto. Karena tidak ada siapa-siapa di ruang televisi, mungkin dia berada di kamar. Naruto kan anak rumah—dia sama sekali tidak punya teman sejak tubuhnya jadi dewasa seperti itu.
Trrrr...
Namun saat ia melewati kamarnya ada bunyi yang cukup mencolok. Ino dapati ponselnya yang berdering. Saat ia lihat layar ponsel yang menampilkan nama Sabaku Gaara, Ino terbelalak. Nyaris saja ia banting kotak susu yang masih ia pegang dan menjawab dengan ledakan amarah—seperti 'untuk apa kau menelfonku lagi!' mungkin bisa jadi kalimat yang tepat untuk diutarakan. Kalau saja tak ada sesosok manusia pirang yang mendadak muncul di balik pintu kamarnya.
"Kau memanggilku... Ino?"
Menyadari ada perubahan intonasi suara yang lumayan drastis, Ino menoleh. Ingin langsung berbicara namun lidahnya kelu saat ia menatapnya...
Menatap sosok yang kecil itu.
Dia. Naruto. Adiknya. 6 tahun. Kelas satu SD. 136 cm. Yang kini memegangi bingkai pintu dengan wajah takut-takut.
Jantung Ino bagaikan berdentum. Dia benar-benar mematung hingga ponsel flip-nya jatuh begitu saja di samping tapakan kakinya. Mulut Ino terbuka lebar kedua matanya membulat sempurna.
Beberapa detik tak ada suara dari sang kakak, Naruto menelan ludah. Dia hela nafasnya sesaat dan memandang Ino dengan wajah ragu. "Ng... soal kemarin... maafkan aku." Bisiknya. "Aku tau perbuatanku benar-benar tidak sopan. Aku tidak akan merebut ponselmu lagi. Ho-Hontou ni... gomen ne—"
Naruto kecil tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, karena kini Ino menabraknya dengan sebuah pelukan kencang. Tubuh Naruto terjungkal ke belakang bersamaan dengannya. Dan di detik itu juga, baru Naruto saksikan sendiri lewat kedua mata kepalanya, Ino menangis deras. Histeris. Meraung-raung. Menangis tak jelas sampai Naruto dibuat kaku olehnya.
"Ma-Maaf... maafkan aku, Naruto..."
Di sela tangisannya kalimat itu terucap. Naruto terbelalak.
"M-Ma-Maafkan segala perbuatanku selama ini..."
"I-Ino?"
"Aku menyayangimu, Naruto. Sungguh..."
Naruto tak mengerti. Tapi jujur saja bocah itu merasa ada sesuatu yang hangat menjalar di hatinya. Menggigit bibir, dan ia biarkan kedua tangan kecilnya balas memeluk Ino.
"Ino..." Matanya buram oleh air mata. "A-Aku... lebih menyayangimu..."
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Semuanya kembali ke normal.
Benar-benar ke kehidupannya yang normal.
Saat ini tak ada Naruto versi dewasa. Sakura dan tetangganya, Kurenai Yuuhi, juga tidak sadar atas perubahan Naruto ke sosok anak kecilnya—karena mereka memang taunya begitu; kecil dan merupakan adik dari Ino Yamanaka. Naruto juga sama. Dia sama sekali tak mengerti saat Ino coba mengingatkannya tentang kejadian yang pernah mereka lalui beberapa hari yang lalu. Seperti misalnya Sakura yang jalan-jalan dengan Naruto di Taman Ueno, insiden Gaara yang berusaha menyerempetnya, hingga ia yang sempat ditabrak mobil.
Ino terkadang menjerit frustasi dan menjambak rambut pirangnya saat yang lain melupakan hal itu dan hanya dirinya lah yang mengingat semuanya.
Lalu yang kemarin semua itu apa? Mimpi? Jangan bercanda. Apa bisa sebuah mimpi terasa begitu nyata dan lama? Saat kulit dahinya sobek saja masih dapat ia bayangkan seberapa rasa nyeri yang ia dapat kala itu.
Tidak mungkin itu semua seratus persen mimpi, kan?
Tapi dengan helaan nafas panjang serta tubuh yang berbaring pasrah di atas kasur kamarnya, Ino memejamkan mata dan mencoba tertidur sebentar. Isi kepalanya berantakan. Dia stres dengan segala perubahan situasi ini.
Hanya saja...
Ino mengangkat kelopak matanya dan memandangi plafon kamar. Bertepatan dengan itu muncul anak kecil yang baru saja membuka pintu kamarnya sambil mengucapkan permisi. Susah payah ia dorong pintu kayu tersebut dan menunjukkan botol air minum dan juga gelas kosong di tangannya. Mata bulatnya menatap Ino sebentar dan kemudian ia menaruh kedua benda itu dia atas meja rias.
"Ino, aku taruh sini, ya." Katanya. "Semoga lekas sembuh."
Ino membisu. Padahal ia tidak meminta anak itu untuk mengambilkan minum atau bahkan memperhatikannya.
Kenapa dia... begitu baik?
Ino menggigit bibir dan menelan ludah.
Apa mungkin Tuhan memberikannya kesempatan untuk meminta maaf pada anak itu.
Ya, itu benar.
"Naruto..."
Naruto membuka kembali pintu yang sempat ia tutup itu. Matanya terlihat dari selanya. "Y-Ya?"
Ino mengubah posisinya jadi terduduk, menatapnya lekat dan tersenyum lemah. "Main yuk ke Taman Ueno. Dulu kau pernah bilang ingin ke sana bersamaku, kan?"
Mata Naruto terbelalak dan mulutnya otomatis menganga. Dengan rasa senang yang sedikit ia tahan itu dirinya mengangguk kencang dan tersenyum lebar. "AYO!"
.
.
~zo : heart & clover~
.
.
Karena sudah lumayan sering menghabiskan waktu libur ke Taman Ueno, perjalanan yang cukup lama lewat kereta api mereka tempuh dengan sabar. Cerahnya siang yang samar-samar tertutup awan mengiringi mereka berdua yang kini sudah melewati gerbang tiket. Area taman bermain yang luas ini mereka masuki dan terlihatlah berbagai macam wahana yang tersedia untuk mereka naiki.
Suara teriakan seru terdengar dari keramaian. Ino menoleh dan nyaris tersenyum lebar saat ia menemukan giant swing yang berdiri kokoh di kejauhan sana. Wahana seperti ayunan besar itu berputar kencang searah jarum jam. Sepintas ada keinginan untuk ke sana dan mengantri bersama pengunjung yang lain, namun di detik berikutnya ino sadar satu hal. Saat ini dia sedang membawa adiknya, Naruto Namikaze yang masih berusia enam tahun. Umur maupun tingginya masih belum cukup untuk menaiki wahana ekstrim seperti itu.
Jadilah Ino menghela nafas panjang-panjang—membuang segala sisi anak kecilnya yang memberontak ingin coba permainan ini dan itu secara egois. Dia berkacak pinggang dan mengarahkan tatapannya ke Naruto yang juga otomatis mengadah.
"Baiklah, Naruto. Pilih wahana apapun yang ingin kau naiki. Aku akan mengikutimu."
Naruto menoleh ke kanan-kiri dengan bingung. Sekalipun ia memegang peta taman bermain, tubuh pendeknya benar-benar membuat Naruto tidak bisa melihat apa-apa dari tempatnya berdiri. "Aku tidak tau." Ia mendesah pasrah. "Ino saja yang menentukan."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita mulai dari wahana yang paling dekat dulu?"
Poci-poci misalnya. Kakak-adik bersurai pirang itu menaiki sebuah lempengen besi berbentuk bulat. Di atasnya ada tempat menyerupai cangkir teh yang bisa mereka duduki bersama. Saat bunyi mesin berderu pelan dan menandakan wahana sudah akan dimulai, Naruto memegang bundaran besi yang ada di tengah mereka.
"Kau ingin memutarnya, Naruto?"
Mata sapphire bocah itu menoleh dan sedikit berbinar. "Apa boleh?"
"Lakukan saja." Ino tersenyum.
Naruto baru akan memutar cangkir ini namun jari-jari mungilnya kembali terangkat. "Ng... sepertinya tidak usah."
"Kenapa?"
"Nanti Ino pusing..."
"Tidak kok. Siapa bilang?"
"Dulu Ino bilang begitu." Dengan sedikit menunduk mata bulat Naruto mengarah ke Ino yang ada di hadapannya, tatapannya takut-takut.
"Tak apa. Nih, ya..." Ino memutar pelan cangkir teh mereka. Dia tertawa kecil. "Seru, kan?"
Surai-surai keemasan di rambut mereka berdua bergerak pelan oleh angin yang mereka terpa. Ino tertawa kecil menikmati permainan ini, ingin ikut menghanyutkan Naruto ke suasana senang yang susah payah ia buat, namun nyatanya Naruto malah diam memperhatikannya. Tak ada raut senang yang anak itu pancarkan seperti biasa. Ino pun memelankan putarannya. "Eh, kenapa? Kok diam?"
Naruto menggeleng—sedikit tersentak. Dengan mata yang menatap lurus wajah Ino, tangan anak itu menyentuh dadanya sendiri. "Tidak tau kenapa, saat melihatmu tersenyum seperti itu, jantungku benar-benar berdebar." Pipinya memerah, lalu ia gugup seketika. "Kurasa nanti saat dewasa, aku akan jatuh cinta padamu, Ino."
Ah.
Ino terhenyak. Ia teringat kalimat Naruto yang dulu pernah pria itu ucapkan sebelum dunia mimpi itu dia tinggalkan. Dia menghela nafas dan kemudian menepuk lembut kepala Naruto. "Kalau kau sudah dewasa, mungkin sekarang aku sudah nenek-nenek."
"Ta-Tapi aku bisa kok terus mencintaimu, Ino!"
Kekehan pelan dan juga tatapan sedih pun keluar. "Anak kecil sepertimu... tau apa sih tentang cinta?"
"Aku tau." Jawabnya polos dan mantap. "Karena aku memang mencintaimu."
Ino mengalihkan pandangan, menyembunyikan senyum tipisnya, dan baru disadarkan kalau wahana ini sudah selesai. Mereka harus gantian dengan yang lain. Karena itu Ino menyuruh Naruto bergegas untuk mencari wahana lain yang bisa mereka naiki.
Naruto dari belakang memperhatikan tubuh ramping kakaknya dari belakang. Dengan sepatu kecil yang ia pakai, rasanya agak sulit mengimbangi langkah demi langkah panjang Ino di depan sana. Jadinya Naruto sedikit berlari, dia berniat menyentuh tangan Ino, namun sayang baru saja tersentuh sedetik ada batu kecil di tengah jalan yang membuatnya tersandung.
Brukh.
"Naruto?" Ino menoleh dan melihat Naruto yang memegangi lututnya. Agak baret, memang. Tapi tak berdarah. Coba saja tadi dia memakai celana panjang, bukan celana pendek selutut begini. "Kau... tak apa?"
"I-Iya." Katanya sambil berkaca-kaca. Tapi ia hilangkan niat malu dan ingin menangisnya sesaat karena sudah ada tangan Ino yang terulur padanya.
"Sini, pegang tanganku erat-erat. Kita basuh sebentar lukamu dengan air dan kemudian kita cari permainan lain."
Mereka berdua akhirnya pergi ke ruang kesehatan—letaknya di dekat toilet. Dengan adanya kotak P3K, mudah rasanya mengobati luka Naruto dengan obat merah dan juga perban kecil untuk menutupi lukanya dari debu.
"Nah, setelah ini jangan melamun lagi, ya. Kau kan cowok, harus lebih pintar dong menjaga diri." Katanya sambil menempelkan perban.
Naruto mengangguk sedih.
Ino berdiri tegak. "Setelah ini, kita mau ke mana lagi?"
Naruto ingin mengucapkan nama wahana anak kecil yang ingin ia coba. Gajah-gajahan. Tapi kelihatannya Ino tidak akan suka wahana itu. Naruto buru-buru melihat peta dan berucap lantang. "Combat plane!" Ia tunjuk juga permainan dimana masing-masing orang duduk di bangku yang persis seperti isi kabin pesawat mini, lalu diputar bolak-balik di udara selama dua setengah menit.
Kelihatan seru sih, tapi Naruto bisa terbang sungguhan kalau menaikinya.
"Kau belum bisa naik yang seperti itu." Jadilah Ino tertawa. Naruto cemberut. Dia ikuti Ino yang pergi dari ruang kesehatan dan tiba-tiba sang kakak memberi sepatah rekomendasi. "Bagaimana kalau komidi putar?" Ino menunjuk sebuah komidi putar yang ada di sana. "Kebetulan lagi sepi."
Naruto mengangguk dan mengikuti Ino. Mereka berdua masuk di salah satu bulatan wahana dan duduk berhadapan. Dibawa tinggi mendekati langit, Ino mulai menikmati semilir angin yang berhembus, sedangkan Naruto berpegangan erat ke besi di pinggiran dan menatap sang kakak, cemas.
"I-Ino... ini tak akan jatuh, kan?"
"Eh? Kau takut? Ini jauh lebih sederhana dibanding combat plane pilihanmu tadi loh."
"Ta-Tapi..." Naruto melirik ke jendela, memandangi suasana di bawah sana. Wajahnya sontak memucat. Ia pejamkan matanya rapat-rapat dan berdoa dalam hati. ia sampai harus menjerit kecil saat tiba-tiba Ino berdiri dan duduk di sebelahnya. "I-Ino? Kenapa pindah?" Bulatan besi yang sedang mereka tumpangi ini jadi bergoyang pelan.
"Kalau takut, sini pegangan..." Katanya dengan senyum. Ia raup tangan Naruto dan menggenggamnya erat. Ia juga menyediakan bahunya untuk dijadikan tempat anak itu bersandar. Naruto menggigit bibir. Kedua pipinya memerah. ia bahagia. Dia nikmati tiap detik kebersamaannya bersama sang kakak dengan khidmat. Hanya ada jantung kecil Naruto yang berdebar, juga Ino yang masih menikmati suasana indah dari ketinggian di komidi putar.
Hanya saja, diam di keheningan seperti ini membuat Naruto nyaris tertidur. Ingin tertidur tapi momen-momen seperti ini terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Oleh karenanya Naruto menelan bulat-bulat rasa kantuk yang menyerang dan berbicara pelan.
"Kenapa Ino tidak mau main wahana yang lebih seru?"
"Hm?" Ino menatap mata biru adik tirinya. "Jelas—kan aku membawamu."
Naruto diam sebentar. "Nanti, main saja wahana yang Ino mau coba. Aku bisa menunggu di sini."
"Kenapa seperti itu?"
"Aku... tidak tega melihat Ino terpaksa main wahana anak kecil seperti ini. Ino pasti bosan..."
"Aku tidak terpaksa kok. Lagi pula, jahat sekali kalau membiarkanmu di sini sedangkan aku bersenang-senang di luar."
Suasana pun menjadi sepi dan Ino menelan ludah. Terutama saat dia lihat Naruto menatapnya sedih.
"A-Ah... apa aku pernah... melakukan hal seperti itu?"
Naruto mengangguk ragu. "Desember kemarin Sakura-nee dan Ino main ke sini. Aku juga diajak." Mungkin karena tak ada yang menjaganya kalau sendirian di rumah. "Waktu itu aku masih lumayan kecil, di sini aku nangis terus. Selain gampang pusing, aku juga rewel. Ujung-ujungnya tidak ada wahana yang bisa kumainkan." Naruto tertawa sedih. "Jadi kau menyuruhku menunggu di sini. Jika waktu main wahana sudah selesai, kau memintaku untuk terus mengantri supaya bisa menaiki wahana ini lagi. Begitu terus. Sampai nanti kau menjemputku saat malam nanti."
Ino menelan ludah.
Itu... benar.
Kalau tidak salah, dulu ia merasa Naruto adalah perusak acara. Bibi Kurenai yang awalnya mau dititipi Naruto mendadak membatalkan janjinya. Hari itu suaminya sakit parah. Ia harus menghabiskan waktu di rumah sakit dari pagi hingga malam. Jadilah dengan terpaksa Ino membawa Naruto ikut serta ke acaranya bersama Sakura.
Sakura-nya sih senang, namun Ino tidak. Sudah nyaris tiga wahana yang menolak keberadaan mereka karena membawa anak kecil yang belum cukup umur untuk memainkan permainan ekstrim itu. Awalnya bersabar tapi semakin lama kekesalan Ino membuncah. Karenanya tanpa pikir panjang dia menyuruh Naruto menaiki komidi putar dari siang hingga sore—benar-benar tanpa henti.
Agar anak itu tidak mengganggu kesenangannya.
Agar anak itu bisa hilang dari pandangannya.
Ah, benarkah ia sejahat itu?
Membiarkan anak ini menaiki komidi putar yang ia takuti demi menunggunya?
Mendadak ada sensasi yang menjalar melewati hidungnya dan sampai ke bola mata. Air mata tertampung di sana dan Ino pun tak bisa menahannya lagi. Gadis pirang tersebut menangis.
Iyakah, ia sejahat itu?
"Ino? Ke-Kenapa nangis!? A-Aku salah kata, ya—!?"
"Kenapa kau mau melakukan itu, Naruto?" Ino susah payah menahan diri, menghapus linangan air matanya yang merosot turun. Jarak wajah mereka yang bisa dibilang dekat membuat Naruto bisa menatapnya lama. Ia bantu hapus air mata itu dengan ibu jari kecilnya.
"Tidak apa kok. Dan juga, Ino kan pernah bilang, kalau aku menunggu di sini, aku bisa melihat bintang jatuh yang bisa mengabulkan permohonan. Aku bertahan karenanya."
Ino tak sanggup lagi. Bintang jatuh itu bohong. Karangan belaka.
"Dan kupikir, malam itu aku sungguhan melihatnya." Lalu Naruto ikut menangis, walau dengan senyum. "Saat kulihat bintang jatuh yang Ino bicarakan, aku berdoa dengan serius agar bisa menjadi dewasa dan melindungi Ino, kakak kesayanganku."
Tumpah. Kali ini air matanya tak terbendung lagi. Ia menangis terisak dan memeluk Naruto. Erat. Air matanya terus berjatuhan tanpa henti.
.
.
OMAKE
.
.
"Ayo, Naruto, sudah saatnya kita pulang!" Ino memanggil Naruto yang baru saja keluar dari toilet. Dengan wajah mengantuk bocah pirang itu mengusap matanya. Ngantuk sekali. Mana hari ini malam sudah tiba pula. Ino pun menghampirinya dan kemudian berjongkok. "Mau kugendong?"
"E-Eh? Gendong?"
"Iya, gendong. Kebetulan aku masih ada tenaga untuk membawamu ke stasiun kereta api."
Naruto menggeleng tapi Ino sudah terlebih dulu mengangkatnya di punggung. "Ah, kamu berat juga ya. Pegangan yang erat supaya kita berdua tidak jatuh."
"T-Ta-Tapi aku masih bisa jalan!"
"Kakimu sudah lecet tuh. Sepatumu sepertinya sudah kekecilan. Bagaimana kalau hari Minggu nanti kita ke mall untuk beli sepatu?"
Naruto menunduk malu. Jadilah ia memeluk Ino dari belakang. "Maaf Ino, aku sudah banyak merepotkanmu. Terutama hari ini."
"Tak apa. Sudah seharusnya begitu."
Naruto menggigit bibir, lalu menaruh pipinya di pundak sang kakak. Matanya ingin terpejam, namun saat ia melihat gugusan bintang di atas langit, ia terbelalak. Ada lagi sebuah bintang jatuh yang turun begitu cepat.
"Ino-nee!" Naruto menelan ludah. Agak nekat menambahkan suffiks di sana.
"Apa, Naruto?"
"A-Aku akan selalu berusaha untuk melindungi Neechan... selamanya!" Ucapnya dengan kedua mata terpejam. "Aku berjanjiii...!"
"Kenapa tiba-tiba kau berucap seperti itu?" Ino tertawa kecil. "Tapi... janji, ya?"
"Iya!" Katanya. "Lalu aku juga berjanji akan mencari perempuan seperti Ino-nee saat dewasa nanti!"
"Apa bisa?"
"Bisa!"
"Janji?"
"Janji!"
Ino pun tertawa.
Dia juga akan berjanji, akan menghapus segala awan mendung di matahari kecilnya.
Untuk Naruto-nya, yang tersayang.
.
.
THE END
.
.
Author's Note :
Buat yang ngerasa Naruto kecilnya sedikit OOC, mungkin kalian bisa nonton lagu ending Naruto Shippuden yang terbaru (eps 420 misalnya). Di sana ada Naruto versi kecil yang cocok banget sama imej dia di fict ini. Siapa tau muka unyu Naruto bisa sedikit mengobati kalian yang masih ngerasa fict ini tamat dengan sebegitu garingnya /krik. Terakhir, udah keitung nyaris tiga tahun fict H&C berjalan, dan itu tandanya udah cukup lama juga kalian berdebu nungguin aku yang sering ngaret ini (haha, gomen, ya). Semoga kita bertemu lagi di fict Ino lainnya, dan mohon kesan dan pesan terakhir kalian di kotak review. Sampai jumpa :)/
.
.
Thankyou for Read & Review!
Special Thanks to :
Ichirukilover30, Clara Merisa, inuzukarei15, poisonous macchiato, khamyauchiha23, L. lawliet22, Anonim, INOcent cassiopeia, Shuben, Kei Deiken, xoxo, ayub-pratama-792, Guest, Awim Saluja, Vin'Diesel D'Newgates, The Red's UzmAki no Kam, NamiTami, ShadouRyu-kun, Namikaze Rikuto, Miyu, Ryzumi, Utay, NE, Naru-nyan, Shiroe Ino, kara, gandiarya98, Naruinoforever, slameluscfr, Narunaru, kyuu-chan-12, ichacaca-shendy, Sayaka, Hana Yoopies, kyuubi d, Guest, Son Hak, Bofit, Guest, orang, Juwita830, Septi784, Agung-kun, Nina Asterini, Destania Sagita, NineMangekyou.
.
.
Pojok Balas Review :
Kok ngga update-update? Gomen. Ini terakhir kalinya kalian nunggu fict H&C kok :) Sakura kok diem nontonin Naruto sama Ino yang lari? Sakura udah pulang duluan (abis dicium Naruto). Kan Naruto niat larinya ke rumah Sakura—supaya bisa bilang kalo dia sukanya sama Ino. Ino ketabrak apa? Mobil. Kenapa Naruto bisa besar? Sekarang udah dijelasin alesannya, haha. Gaara ngga muncul lagi? Pengennya sih muncul lagi, tapi nanti makin panjang. Aku harap nanti Naruto balik kecil. Iya, memang bakal begitu. Pas Ino mual kukira dia hamil. Haha gawat kalo beneran hamil. Jangan ada death chara, ya. Ngga kok.
.
.
Review kalian adalah semangatku :')
Mind to Review?
.
.
THANKYOU
