Mohon agar tidak jadi silent reader.

.

.

.

.

.

Flashback

Saat ini Ino berada dalam ruang hampa. Hanya ada warna putih tanpa corak lainnya.

Sebelumnya dia berada di sebuah komplek perbatasan. Komplek biasa namun penuh dengan misteri.

.

.

"Aku berhasil masuk!" ino berseru sendiri. Saat ini dirinya berada di sebuah lingkungan kerajaan.

"Apa yang sedang nona lakukan di sini?" Sebuah suara dengan nada berat membuat Ino menoleh, wajahnya begitu terkejut saat melihat seseorang yang dia anggap prajurit menatap wajahnya penuh selidik.

'Bagaimana bisa dia melihatku?' Ino bertanya dalam hati. Matanya masih menelisik sosok sang prajurit. Wajahnya terlihat bingung, bola mata Ino menari kesana-kemari.

"Anda tentu bisa menjawab ucapan saya, nona." Ino kembali mengarahkan pandangannya pada sang prajurit.

"A-A-akku akku…" Ino berkata kelu saat sang prajurit mendekat padanya. 'Astaga! Seharusnya mereka tak melihatku.' Ino mundur seketika. Namun sesuatu yang hangat seakan mengganjal gerakan kakinya.

'Srash!' daun-daun berterbangan tepat saat Ino menembus 'sosok' yang sedang duduk termenung. Dipandangnya sang sosok 'gadis' dengan balutan kimono indah berwarna putih dengan corak bunga sakura.

"Nona…" suara sang prajurit kembali Ino dengar. 'Ternyata yang sejak tadi prajurit itu panggil, adalah dia.' Ino memandang sosok gadis. Semakin diperhatikan, tetes demi tetes air mata jatuh membasahi pipi sang gadis… Ino sangat yakin bahwa putri di hadapannya tengah menangis. Tubuhnya terlihat bergetar, bahkan tangan seputih porselen itu kini menutup wajah yang terlihat merah.

.

.

"Ak-ku sudah kal-lah Iruk-ka san. Aku sudah kalah! Hiksss" Kata-kata dengan nada kencang namun bergetar, Ino yang mendengar ikut merasakan sedih. "Aku gagal hiks Iruka hiks san… dia lebih memilih menyegel dirinya hiks." Tetes air mata semakin mengali, menganak sungai pada pipi yang terlihat semakin merah.

"Nona. Sebaiknya nona segera masuk, langit malam tidak baik untuk nona." Sosok yang Ino anggap prajurit seolah mengabaikan ucapan 'nona'nya. Meski terlihat jelas gurat kesedihan ikut tercetak di wajah sang prajurit .

"Ak-ku hiks ak-ku tid-dak ak-kan pernah mendapatkannya Iruka san." suaranya semakin parau bercampur dengan derai hujan. Ino masih di sana, menyaksikan sesuatu yang sangat membuat dirinya penasaran. Sang 'nona' terlihat semakin terpuruk. Kimono mewah yang ia kenakan mulai basah dan bercampur dengan tanah yang ia pijak. Ino berdiri, berjalan menghampiri sang 'nona'. Terdiam. Ino memperhatikan sosok yang saat ini ada di hadapannya. Gadis cantik dengan surai panjang berwarna darkpurple. Wajahnya tertutup poni rata, hanya terlihat bibir merah merekah yang bergetar dengan gumaman yang tidak mampu terdengar oleh telinga Ino. 'Dia mirip sekali dengan Hinata' ino membatin, semakin mendekat dan berusaha menggapai surai yang menutupi sosok sang 'nona'.

Belum sempat tangan itu menggapai helai darkpurple sang 'nona', Ino merasakan dirinya ditarik 'bagai besi yang tertarik magnet'. Kencang. Keras. Dan sangat keras hingga tubuhnya terasa sakit.

Semua berubah putih.

"Tenagaku tidak cukup." Ino mengistirahatkan dirinya. Masih di ruang hampa yang tak terjangkau oleh mata ataupun langkah. Ino membiarkan dirinya terduduk. Menarik nafas sejenak, mengingat dengan pasti sosok yang tadi sempat dia lihat. Meski samar, Ino meyakini bahwa sosok tersebut mengenggam sebuah benda. Entah apa.

"Kau sudah berani menggangguku, anak manis!"

"Sebaiknya kau pergi!"

"Pergi!"

.

.

.

Suara-suara menghampiri gendang telinga Ino. Tubuhnya yang terduduk seolah melayang.

'Zrash!' "Kau telah MEMBUNUH PUTRAKU! Kau pantas menerima Ini!"

'Krak' kali ini seperti suara ranting yang terinjak kasar.'Arggghh' Geraman terdengar kembali.

"b-bod-doh!" Geram suara lain. "Ak-ku akan mengutuk keturunanmu!" meski samar Ino dapat melihat cairan merah yang berceceran. Menghiasi dengan pasti sebuah taman penuh dengan guguran bunga Sakura.

"DIA!" sosok yang samar mulai terlihat jelas. Tubuhnya tegap. Rambutnya sewarna langit malam. Sorot matanya kaku, jari telunjuknya menunjuk dengan pasti sosok tak berdaya yang tengah bersimbah darah dengan sebuah pisau tepat menusuk jantung.

Matanya merah menyala. "ANAK BUSUKMU! Aku akan membuat anakmu menyesal telah menolak anakku!" sosok itu merapalkan sebuah mantera.

Bayang-bayang penuh dengan warna merah dan darkblue mengelilingi sosok bersimbah darah yang sejak tadi mulai melayang.

"Dengan darahnya. DENGAN DARAHNYA, AKU AKAN MEMBUAT DIA TERSIKSA!" guguran bunga sakura berterbangan bercampur bersama dengan bayang-bayang penuh warna. Terangkat. Sosok bersimbah darah itu terangkat. Ino melihat dengan jelas bentuk wajah sosok tersebut. Kulitnya putih pucat. Darah menetes berjatuhan mengenai akar-akar pohon yang timbul di tanah.

"HENTIKAN!" seru sosok lain yang sejak tadi memperhatikan anaknya yang bersimbah darah. "Berhenti OROCHI!"

'DRASH' hantaman keras menghantam sosok yang tengah memandang anaknya yang melayang.

Sosok yang dipanggil dengan sebutan Orochi memandang rendah sosok yang baru saja dia hajar. "CIH! Jangan sebut aku penyihir jika aku tidak mampu mengalahkanmu!"

Ino merasakan kepalanya pening. Tubuhnya terasa semakin ringan seiring dengan hantaman-hantaman yang diberikan Orochi kepada sang 'ayah'.

"DIA AKAN MENJADI BAYANG-BAYANG HYUUGA! Menjadikan Hyuuga tengah menderita karena bayang-bayangnya!" mata merah menyala milik Orochi terlihat berputar dan berubah warna menjadi kuning dengan garis hitam.

"ULAR BIADAB!" meski tubuhnya tak lagi mampu berdiri. Sang 'Ayah' menghampiri anaknya dengan menyeret tubuhnya.

"Ayah akan membebaskanmu, nak!" ucap sosok 'Ayah'. Tangannya membentuk sebuah segel,

"Cintamu akan berbalas!-

Meski harus menanti jutaan malam.-

Meski harus melewati ratusan tahun.-

Aku akan menghadirkan cinta dalam tidur panjangmu. Satu kecupan tulus! Kau serta Hyuuga akan segera terbebaskan!"

Sinar terang memberikan tanda bahwa perjalanan masa lampau yang Ino lalui berakhir begitu saja.

.

.

.

Satu kejadian panjang. Sangat panjang. Kini Ino kembali merasakan dirinya ditarik. Melayang bagaikan kapas yang tertiup angin.

Kemudian mulai terbangun dalam keremangan malam. Tepat di bawah rimbunnya pohon sakura yang selama ini di jauhi oleh semua orang.

END Flashback

.

.

.

Ruang pertemuan

"Jadi setelah ini apa yang akan kita lakukan?" Neji bertanya sambil memandang wajah sayu Ino. Ino baru saja pulang dari lingkungan sejarah dua klan besar. Bukan di dunia nyata, melainkan di dunia tanpa nama.

Menjejaki masa lalu dari setiap benda, Ino menceritakan setiap detail yang dia temukan, Bahkan Ino mendapatkan potongan dari gulungan perjanjian yang telah lama dicari oleh Neji.

"Aku akan tetap mencoba untuk mencari clue selanjutnya. Aku sangat yakin kalauada misteri lain yang akan terpecahkan. Tapi aku butuh waktu paling tidak satu minggu. Aku harus memulihkan tenagaku." Ino bersender pada sofa beludru yang sejak tadi dia duduki. Matanya mulai terpejam. Sesekali Ino menghela nafas, tanda bahwa dirinya begitu kelelahan.

Melihat sikap Ino, Neji hanya terdiam. Mata bulan miliknya menelusuri potongan gulungan perjanjian yang Ino dapatkan saat dirinya tersadar. Yang menurut Ino adalah benda yang di pegang sang gadis.

"Terima kasih Ino. Sebaiknya kau tidak memaksakan diri, aku akan memberimu istirahat 2 minggu."

Kembali meneliti gulungan tersebut, Neji membiarkan Ino terlelap dan menjelajah dalam mimpi meski Neji tahu kalau posisi Ino tidak nyaman tidur di sofa.

.

.

.

'Cklek!'

Pintu ruangan Neji terbuka, di sana ada Tenten dan juga Shino yang baru saja tiba. Wajah Tenten terlihat berseri.

"Aku punya kabar baik!" seru Tenten sambil menarik tubuh Shino. Neji terlihat tidak suka saat sang kekasih menarik tubuh Shino.

"Ups! Maaf Neji, Aku terlalu bersemangat." Shino terlihat salah tingkah saat sadar tatapan tajam Neji tertuju pada lengannya yang ditarik Tenten. Sedangkan Tenten hanya tersenyum menanggapi tatapan tajam Neji –sudah biasa dia-.

"Ternyata kita tidak perlu susah mencari penawar Hinata." Neji menaikkan salah satu alisnya. Bingung.

"Shino!" Tenten kembali menarik lengan Shino. Kali ini diikuti dengan gerakkan merangkul sebelah tangan Shino, mengabaikan Neji yang sudah tersulut amarah. Bahkan aura yang mencekam diabaikan oleh Tenten.

"Ten." Neji berkata halus.

"Hm." Tenten menyahuti Neji namun tetap merangkul lengan Shino.

'Bret' Tubuh Tenten tertarik dan jatuh tepat ke pelukan Neji.

"Aku tidak suka kau merangkul lengan lelaki lain selain milikku." Meski tidak ada nada marah, tapi Shino sadar bahwa Neji marah dan cemburu. 'Che! Dasar Hyuuga! Bilang cemburu saja susah!.'

"Hah! Kau ini cemburuan sekali." Tenten merajuk. Menunduk. Tangannya mengetuk-ngetuk baju bagian depan milik Neji, meminta Neji melepaskan pelukkannya.

'Ugh!' Tenten mengelak. Menjauh dari Neji dan kembali merangkul Shino.

"Shino adalah penawar untuk Hinata. Tadi saat mereka bertemu. Sosok Hitam tiba-tiba menghilang!"

Kali ini tidak ada tatapan tajam yang Neji layangkan. Melainkan tatapan bertanya dan juga tidak percaya. Bahkan Ino yang sejak tadi memejamkan matanya sambil duduk pun membelalakkan matanya.

.

.

.

'Bagaimana bisa. Sosok yang mereka cari selama ini justru berada di antara mereka –Para pencari data untuk keluarga Hyuuga-'

Saking senangnya. Neji tidak memikirkan hal apapun –lagi- senyum kelegaan terlihat jelas di wajahnya. Tanpa menyadari. Bahwa analisa Tenten adalah kesalahan yang membuat dekatnya petunjuk justru kembali mejauh.

.

.

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto –sensei

Warning : AU, OOC, Garing, Alur gaje, Typo(s), SANGAT perlu bimbingan.

Ide Cerita pasaran (tapi Suer aku nggak nyontek milik siapapun. Ini murni buatanku sendiri ^^V)

#cerita ini Hanya Imajinasi semata| jika merasa ada hal yang kurang masuk akal, hal itu memang disengaja #plak

:: o.O Rambu no Baka ::

:: Present ::

Info: Hinata: 19Tahun, Sasuke: 22Tahun, Naruto: 23tahun, Neji: 24 tahun, Itachi: 25tahun.

.

.

.

.

Dua jari saling bertaut memainkan bagian bawah baju, sang gadis terlihat sangat gugup. Tubuhnya kini terduduk di kursi penumpang sebuah mobil mewah. Mata uniknya terkadang melirik keberbagai arah, menjelaskan bahwa dia sedang cemas dan gugup.

"Nnggg…" sesekali terdengar gumaman dari bibir ranum miliknya. Hanya gumaman kemudian kembali sunyi. Sosok lain yang ada di kursi kemudi sama sunyinya.

"Uc-chi-ha –sam-ma?" Suaranya terbata. Banyak sekali kata yang ingin ia utarakan, namun bibirnya justru terasa beku.

"Hn." Satu jawaban singkat tanpa tahu apa maksudnya.

"Kit-tta akan ke man-na?" Hanya senyum yang Hinata terima.

"Kita akan ke rumahku." Wajah yang tadinya menunduk kini mendongak dan mulai memberanikan diri memadang sang pria. Meski terlihat fokus pada jalanan tapi Sasuke sangat tahu bahwa Hinata sedang memandang wajahnya.

'Ckitt' Mobil menepi dan berhenti. Sasuke melepas seatbelt miliknya, kemudian bangun dan mendekat pada Hinata.

"Aku ingin kau selalu ada di sisiku suster." Ucap Sasuke dengan penekanan pada kata 'suster'. Menghirup dengan rakus wangi bunga lavender yang begitu dia rindukan. Wajah Hinata semakin memerah. Dengan agak gemetar, tangan mungil milik Hinata mulai mendorong dada bidang Sasuke yang semakin mendekat.

"Uch-hi-ha sam-ma." Kata-kata Hinata semakin terbata. Sedangkan Sasuke justru menyeringai melihat reaksi Hinata 'sangat berbeda dengan kata-katanya yang ada di memo lavender' batin Sasuke.

"In-ni nama-nya pelec-cehan!" Meski nadanya membentak, namun Hinata tetap saja berbicara terbata.

"Ugh!" Sasuke menggeram. Tangannya mencengkram baju bagian dada miliknya. "Argghh!" Geraman Sasuke semakin kencang.

"Uchiha sama!" Hinata panik. Kini Sasuke terlihat menunduk masih dengan memegangi dada kirinya. "Ada apa?" Hinata memandang ke arah Sasuke. Matanya membulat saat melihat ada tetesan –entah air mata atau keringat- jatuh dari sisi wajah Sasuke.

"Sakk-kitt! Ughh." Sasuke menggeram. Menyeringai. Rencananya berhasil mengundang simpati Hinata. –Astaga! Dasar Uchiha licik!- Sasuke semakin mengeratkan tangannya ke arah baju bagian depannya. Sampai Sasuke rasakan tangan halus Hinata ikut andil menggengam tangannya.

"Jangan diremas Uchiha –sama." Hinata menarik tangan Sasuke, berharap agar Sasuke tidak semakin menyakiti dirinya sendiri –polosnya kau Hinata.

"Sak-kitt!" Kali ini tanpa memikirkan gengsi, Sasuke berpura-pura menangis. Air matanya jatuh. Wajahnya merah antara menahan tawa dan tetap berpura-pura kesakitan.

Sasuke mendongak. Tangan lain miliknya meniban tangan Hinata dan kembali meremas baju miliknya sendiri. Meyakinkan bahwa Sasuke merasakan sakit yang teramat sangat.

'BRUK!' Sasuke menjatuhkan tubuhnya tepat di pundak Hinata. Tangannya masih menggenggam baju sedang tangan yang satunya terkesan dibuat melemah.

Hinata panik. Bingung. Dan tidak tahu harus melakukan apa. Orang yang tadi 'menculik' dirinya justru pingsan, kepalanya terjatuh di pundak Hinata. Nafas Sasuke mulai teratur. Hinata berpikir bahwa Sasuke mengalami serangan jantung. Tapi secara teori yang pernah Tsunade ajarkan padanya. Harusnya seseorang yang terkena serangan jantung tidak bisa tertolong jika tidak langsung di tangani.

"Huftt…" Hinata menghembuskan nafasnya. Tangannya terulur menyingkirkan sebagian poni Sasuke dan mengusap kening Sasuke yang basah oleh keringat. Hinata sempat berpikir bahwa Sasuke mengerjainya, tapi saat melihat ada bekas air mata di pipi Sasuke, Hinata mengenyahkan pemikiran itu. Tidak mungkin orang se'keras' Sasuke mau menurunkan derajat dengan berpura-pura menangis.

"Tuan egois, kau itu lucu sekali sih! Tau dari mana kau kalau aku ada di sini. Huftt…" Hinata sangat ingat bahwa terakhir kali Hinata mengirim memo adalah saat dirinya mengajukan resign. Mengenyahkan segala pikiran negative, Hinata mencoba memindahkan letak kepala Sasuke. Matanya memandang sekeliling jalan yang mulai gelap. Ini di pinggir jalan dan entah kenapa Hinata justru merasa takut. Sekeliling jalan hanya terdapat rimbunan pohon. Merutuki dirinya yang mau-maunya diajak oleh Sasuke dan tidak memperhatikan jalan. Akhirnya Hinata memutuskan memindahkan posisi kepala Sasuke agar bersandar di pahanya. Menurunkan sedikit posisi jok, Hinata akhirnya ikut memejamkan mata dengan tangan yang masih mengelus lembut surai milik Sasuke. Tidak menyadari bahwa saat elusannya berhenti dan Hinata mulai melambung dalam dunia mimpi. Sasuke justru terbangun dan tersenyum mengingat sentuhan lembut jemari Hinata pada helaian rambutnya.

.

.

.

.

Malam berlalu begitu cepat. Terik mentari mengusik tidur sang gadis. Menarik selimut. Hinata memutuskan untuk menghamburkan dirinya dalam kehangatan selimut.

Load…

Loading…

Loading…

Hangat. Lembut. Nyaman dan… dan…

'BRAK!' Hinata mengenyahkan selimut yang membungkus dirinya. Sorot matanya terarah ke lampu kamar yang membuat mata Hinata semakin terbelalak.

'Astaga! Ini kamar siapa?' Batin Hinata sambil mengedarkan pandangan keseluruh bagian kamar. Matanya terpaku pada lampu kamar yang berserakan. Memandang bajunya yang sudah berganti dengan piyama. Tunggu…

"KYAAAAAAA!" Hinata berteriak. Membuat siapapun yang berada di sekitar kamar berlari menghampiri dirinya.

"Ada apa Nona?" Tanya seorang maid yang saat ini memandang bingung Hinata.

'Kenapa aku bisa ada di sini? Bukankah…?' Pertanyaan demi pertanyaan menggantung di bibir HInata. Saat ini Hinata masih memandang bergantian antara dirinya yang terduduk dan memandang seorang gadis yang sekarang berada di hadapannya.

"Nona?" Hinata memiringkan wajahnya kearah maid yang masih memandangnya khawatir.

"Aku di-dim-mana?" ucap Hinata terbata. Mata Hinata kembali berkeliling menatap ruang kamar ini. Ruangan luas dengan warna cat yang terkesan lebut.

"Anda berada di Uchiha Mansion nona." Ucap sang maid.

"Ke-nap-pa a-kku ad-da di sini?"

'Tak Tak Tak' Belum sempat sang maid menjawab, langkah kaki sang tuan rumah sudah lebih dulu terdengar.

"Hinata…" Ucap Sasuke dengan nada yang halus dan pandangan mata yang teduh. Hinata mendongak membuat manik lavender dengan onyx bertemu.

Mendadak wajah HInata bersemu. Mengingat apa yang telah terjadi semalam meski masih bingung apa yang membuat dirinya ada di kamar sang Uchiha.

"Yuri kau bisa kembali ke belakang!" ucap Sasuke pada sang maid.

"Hai Uchiha sama!" ucap sang maid kemudian membungkuk dan berlalu menjauhi kamar.

"Bagaimana keadaanmu Hinata?" tanya Sasuke sambil mendekat kearah ranjang yang di tempati Hinata.

"Ak-ku baik Uc-chi-ha sama, Bag-gaiman-na deng-an Uc-chi-ha sama?" Hinata merutuki gagapnya yang mendadak muncul. Bahkan kegagapan itu justru membuat Hianta tidak menyadari posisi Sasuke yang semakin mendekat.

"Aku baik-baik saja, dan berhentilah memanggilku dengan Uchiha sama. Kau membuat diriku merasa lebih tua." Ucap Sasuke sambil berpura-pura merajuk.

Hinata menggeser posisi duduknya saat Sasuke ikut bergabung duduk dengannya.

"Umm… baik Sasuke sama! Tap-pi, kenapa aku bisa berada di kamar ini? Bukankah-"

"Ssshhht! Cukup Sasuke saja. Semalam aku sempat sadar dan memutuskan menelpon asistenku untuk datang ke tempat kita menepi." Ucap Sasuke sambil menyandarkan kepalanya pada pundak mungil Hinata. Dia selalu menyukai saat seperti ini, saat dimana Sasuke bisa menghirup aroma lavender dari sang gadis.

"Sasuke sam- ehem maksudku, Sasuke! Bisakah anda bergeser? Aku bahkan belum mandi dan aku ras-"

"ssshhtt! Biarkan begini sebentar Hinata." 'degdeg' dari posisinya Sasuke dapat mendengar degup jantung Hinata yang semakin tidak beraturan.

Akhirnya Hinata mengalah, membiarkan Sasuke bersandar di pundaknya. Mata Hinata mencoba mencari pandangan lain selain helai rambut sang Uchiha yang membuatnya ingin merasakan halus rambut itu.

.

.

.

.

Hyuuga Mansion

"Hinata Hilang!" Seru Haruka –Ibunda Hinata- suaranya terdengar lirih terutama saat tahu bahwa Hinata benar-benar tidak ada kabar dari kemarin malam.

"Kenapa bisa Bunda? Bukankah setelah pertemuan dengan Shino, Tenten sudah memastikan Hinata pulang?" ucap Neji dengan nada yang tidak kalah khawatir.

Saat ini Hyuuga Mansion yang ada di Konoha terlihat ramai. Hiashi, Neji, Haruka, Hanabi, Team penyelidik bahkan para maid berkumpul di ruang keluarga setelah tahu bahwa sang 'Putri Tengah' tidak pulang malam tadi.

"Maaf Neji… Sebenarnya semalam setelah aku mengabari Shino, aku tidak memperhatikan kepergian Hinata." Neji memandang Tenten dan Shino bergantian. Memastikan bahwa ucapan sang kekasih benar.

"Bagaimana bisa kau melalaikan hal itu Ten?" ucap Ino yang saat ini berada di samping Haruka –menenangkan-.

"Aku terlalu bersemangat semalam, terutama saat tahu 'sang Hitam' menghilang saat HInata dan Shino bertemu. Jadi tanpa sadar aku mengabaikan keberadaan Hinata. Maaf—" Tenten menunduk, merasa bersalah karena begitu senangnya hingga melupakan Hinata.

"Apa Sudah menghubungi ponselnya?" ucap Hiashi memecah kebingungan yang ada di rumahnya.

"Aku sudah mencoba menghubungi, tapi ponselnya tidak aktif. Chip yang aku letakkan di dalam ponsel Hinata juga tidak berfungsi, seolah memang ada seseorang yang sengaja menyembunyikan keberadaan Hinata." Kiba berucap sambil mengacak surai cokelatnya. Baru pertama kali ini ada orang yang dengan pandainya bisa memanipulasi chip buatannya.

"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja?" ucap Hanabi polos.

"JANGAN!" seru seluruh orang dewasa yang ada di ruangan itu.

"Tap-tapi, kita harus tahu keberadaan Hinata nee!" Seru Hanabi dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

.

.

.

Sedangkan di sebuah Mansion lainnya…

"Tuan, Apa kita harus bergerak sekarang?" tanya seorang pria yang mengenakan setelan jas hitam.

"Hm… Tidak perlu. Aku sangat tahu kalau Sasuke tidak akan mungkin melukai dia."

"Tapi Tuan, Keberadaan keluarganya mulai panik karena dia belum juga pulang…" Orang yang dipanggil tuan mulai memandang kearah sang pria, Tatapan matanya menyiratkan bahwa dia tidak suka dibantah.

"Butuh satu bulan untuk melemahkan kutukan itu… dan selama satu bulan itu, mereka berdua harus ada di ruangan yang sama paling tidak 5jam dalam sehari. Aku ingin menebus kesalahan leluhurku, dan aku akan melakukan apapun meski nyawaku taruhannya." Ucap sang tuan sambil berdiri dan berjalan kearah jendela besar di ruangan tempatnya saat ini.

"Mengapa kita tidak memberi tahu pihak Hyuuga agar kita bisa bekerjasama?" kali ini yang ambil suara adalah seorang pemuda dengan rambut panjang dan dua keriput di bagian bawah matanya. Tangan sang pemuda sedang asik menggendong bayi mungil berjenis kelamin laki-laki.

"Tidak bisa Itachi, jika semakin banyak yang tahu maka semakin kecil kemungkinan sang Hitam melemah! Dan itu akan semakin mempersulit kita." Ucap sang tuan, matanya kembali menerawang ke hamparan air danau yang ada di sebrang jendela.

"Tapi… Bahkan Sasuke tidak tahu bahwa dia adalah yang selama ini dicari. Sasuke hanya terobsesi dengan suster lavender hingga membuat dirinya 'memenjarakan' dia." Kali ini Obito Uchiha yang mengambil suara.

Jika dilihat lebih jelas di dalam ruangan ini terdapat beberapa orang. Pria dengan setelan baju HItam ada dua orang, sang Tuan, seseorang yang dikenal bernama Obito Uchiha, seorang Pria dengan rambut panjang dan anak kecil yang berada di gendongannya.

"bbububbbuhhh…" Anak kecil yang sedari tadi ada di gendongan pria rambut panjang mulai berceloteh. Mata Hitamnya yang bulat memandang pada satu titik fokus, tangannya terangkat seolah meminta untuk digendong.

"bbbuu buuubbbuuhhhh!" ucap sang anak kembali. Badannya menggeliat minta dilepaskan.

"Ada apa dengan Arashi, Tachi?" ucap sang tuan sambil memandang laki-laki yang dipanggil Tachi.

"Ada sesuatu!" Pria dengan setelan Hitam mulai melepas masker beserta kacamata hitam yang sempat ia gunakan, menampilkan dua bola mata yang berlainan warna.

"Papppoo buuhh" ucap anak kecil dengan nama Arashi tangannya kembali menggapai ke tempat yang sejak tadi menjadi perhatiannya.

Dua mata berlainan warna itu mengarah pada satu titik yang Arashi perhatikan. Seketika matanya membualat saat melihat sosok lain yang ada di ruangan ini.

"Tuan." Ucap sang Pria bermata beda pada sang tuan.

"Dia ada di sini… si pembuat kutukan ada di sudut ruangan ini! Orochi ada di-" seru sang pria sambil berlari berusaha meraih tubuh sang tuan yang mulai limbung.

"Tuan?!"

"Kakek!?"Panik bukan kepalang saat tahu sosok yang beberapa detik lalu berbincang dengan mereka justru kini terkulai tidak berdaya.

"Kakek?! Hei Kakashi apa yang terjadi pada kakekku?!"

"Akan lama jika menjelaskannya,, Segera panggilakan Ambulance, Tuan butuh penanganan segera Obito-sama!"

Kegaduhan kembali terdengar saat para maid dibuat bingung dengan keadaan sang tuan muda. Tuan yang begitu mereka hormati kini berbaring tak berdaya di tandu yang dengansegera di bawa menuju ke Ambulance.

.

.

.

Sosok lain hadir saat si Hitam ingin dilemahkan.

Arashi, bayi laki-laki yang saat ini sudah berpindah tangan dari Tachi ke maid mulai kembali berceloteh.

Mata bulatnya yang hitam pekat sedikit berwarna merah saat tidak ada siapapun yang menyadari.

'Aku juga akan kembali campur tangan atas rapalan mantra yang ratusan tahun lalu aku ikrarkan'

Hanya butuh 'darah' dan tetesan air suci agar semuanya menjadi nyata!

.

.

.

'Splashh!' setelahnya sosok yang dipanggil dengan nama Orochi itu… menghilang selayaknya embun yang diterpa cahaya matahari.

.

.

.

Semua belum benar-benar dimulai

Dan semua belum benar-benar akan berakhir

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tobeco

.

.

See you next chap

.

.

Don't forget to Rep -piuuu