"Tidurlah.."
"Eonni.. bisakah kau menyanyikan lagu untuk mengantarku tidur?" Luhan mengerutkan dahinya, tidak biasanya Kyungsoo bersikap seperti ini. Kyungsoo bahkan beringsut untuk memeluknya erat seakan ia akan kehilangan Luhan. 'maafkan aku.. biarlah seperti ini.. karena setelah ini aku mungkin akan menyakitimu' batin Kyungsoo. Namun Luhan tetap menyanyikan sebuah lagu yang begitu indah sehingga membuat madunya terlelap.
.
.
.
.
.
.
Hari itu telah tiba.. hari dimana malaikat kecil itu menanti untuk melihat dunia. Sang ibu kini tengah berjuang demi anaknya didalam sana. Bulir-bulir keringat dan kekhawatiran menyelimuti wajah manis yang terlihat sangat gelisah. Luhan.. yaa wanita itu kini tengah menunggu proses persalinan madunya, sementara suaminya kini tengah menemani Kyungsoo. Wanita itu menautkan kesepuluh jari-jarinya dan memejamkan mata, mengucapkan kalimat-kalimat do'a bagi mereka yang sedang mempertaruhkan hidup dan mati. Tidak pernah sekalipun ia berhenti meminta dan memohon, ketulusan itu begitu terpancar dari sorot kekhawatiran matanya. Ia berjanji akan menyayangi dan mencintai mereka seperti ia mencintai suami dan juga keluarganya. Kyungsoo.. dan calon anaknya mereka adalah salah satu kebahagiaan sekaligus kesakitan bagi Luhan. Tapi dengan kelembutan dan kemurahan hatinya ia rela hidup satu atap bersama wanita lain, berbagi tempat, berbagi perhatian bahkan berbagi suami dan juga keluarganya. Mengingat bagaimana madunya itu tumbuh dari sebuah panti asuhan dan tidak memiliki keluarga membuat hati nuraninya tersentuh walau pada dasarnya hatinya memanglah sangat mulia. Rela.. yaa wanita itu telah rela jika kini ia harus membagi semuanya, menjaga dan memberikan kasih sayang setulusnya bagi mereka sebagai seorang kakak dan sebagai seorang ibu.
"Oeeekkk"
Suara tangisan itu memecah keheningan yang tengah menyelimutinya, dia.. dia didalam sana .. telah lahir kedunia seorang malaikat kecil yang selama ini diidamkannya. Ya Tuhan… itu adalah kebahagiaan baginya meski malaikat kecil itu tidak lahir dari rahimnya. Ia ingin melihat bagaimana malaikat itu menatap matanya, ia ingin mendengar bagaimana malaikat itu memanggil namanya. Ya.. mungkin itu masih terlalu lama namun beberapa impian tengah menyelimuti fikirannya kini. Membuatnya seolah menjadi wanita yang paling bahagia saat ini.
Tak lama pintu ruang operasi terbuka menampilkan sosok suaminya yang terlihat begitu berantakan, bahkan beberapa luka cakar terlihat di beberapa bagian wajahnya. Luhan ingin tertawa melihat betapa kacaunya suaminya itu, namun pandangannya teralih ketika ranjang madunya dibawa keluar dari ruangan mengerikan itu.
Kini mereka tengah berada diruang rawat biasa. Luhan tengah mengobati luka-luka suaminya sementara madunya masih tak sadarkan diri dan terbaring lemas diranjang belum mendapatkan kekuatannya untuk sekedar membuka mata, dan Luhan tentu tidak ingin mengganggu waktu istirahat madunya.
"Kau terlihat kacau Hunnie.." kekeh Luhan.
"Kau senang melihat wajah tampan suamimu terlihat sangat buruk?" Tanya Sehun sarkatis.
"khekhe tidak.. kau tetap terlihat tampan sayang.." puji Luhan.
"Benarkah?"
"Ya.. luka ini membuatmu terlihat lebih jantan"
"Aww.. kau begitu menyukai kejantananku ya Baby?"
PLAK
Pukulan dikepalanya tidak bisa dihindari lagi, istri pertamanya itu tengah memberi tatapan mematikan. Heoll.. Luhan tak habis fikir bagaimana bisa suaminya ini berbicara kotor setelah baru saja istri keduanya berjuang antara hidup dan mati demi anaknya. Namun sedetik kemudian Luhan mengelus kepala orang terkasihnya itu dengan sayang. Bagaimanapun pria mesum didepannya ini adalah suaminya, dan ia harus menghormatinya.
"Ma-maafkan aku Sehun.. aku tidak sengaja itu hanya reflex tanganku maaf"
"Gwenchana Baby.. aku baik-baik saja"ujar Sehun lalu mengecup dahi istrinya itu sayang.
"Sehunnie kapan aku bisa melihat adik bayi?" pria itu terkekeh melihat binar-binar di mata rusa milik istrinya itu, begitu menggemaskan.
"Mereka akan mengantarkannya sebentar lagi sayang"
CKLEK
Pintu ruang rawat Kyungsoo terbuka, disana seorang perawat tengah menggendong seorang bayi, Luhan memekik dan beranjak dari duduknya menghampiri perawat itu.
"Bisakah aku yang menggendongnya?" Tanya Luhan antusias. Perawat itu tersenyum lalu menyerahkan bayi mungil itu kepangkuan Luhan.
"Terima kasih" ujarnya. Luhan menatap wajah si mungil yang begitu bersinar dan polos, benar-benar seorang malaikat kecil. Oh Tuhan.. hatinya begitu bahagia melihat bagaimana bayi mungil itu bergerak-berak mencari kehangatan, begitu indah dengan pipinya yang merona dan bibir yang tipis. Jangan lupakan jemari-jemari tangannya yang benar-benar kecil. Dia menangis, wanita itu menangis melihat sosok mungil dipangkuannya. Hatinya benar-benar bahagia bisa menjadi wanita sempurna, walau tidak benar-benar sempurna karena si mungil itu tidak lahir dari rahimnya.
"Hiks… kau sangat indah .. Hiks" isaknya, Sehun yang melihat betapa bahagianya istrinya hanya tersenyum. Pria itu bisa melihat bagaimana tulusnya Luhan saat memandang darah dagingnya, bahkan Sehun merasa seperti Luhanlah yang menjadi ibu dari bayinya. Dengan perlahan Sehun mendekatkan dirinya. Pria itu memeluk Luhan erat bersama anaknya ditengah-tengah mengecup sayang mereka bergantian.
"Kau senang heum?" Tanya Sehun masih menyatukan dahi mereka berdua.
"Ya.. senang.. dan bahagia tentunya" Jawab Luhan tanpa mengalihkan pandangannya dan masih memainkan jemari kecil itu dengan telunjuknya.
"Op..paa" lirihan Kyungsoo menyadarkan keduanya dari moment romantic itu. Luhan bergegas menghampiri Kyungsoo yang sudah sadarkan diri. Lalu memperlihatkan bayi kecilnya kepada wanita ini.
Kyungsoo menangis melihat bagaimana mungilnya malaikat itu. Malaikat yang ia perjuangkan dan jaga selama ini. Dia terlihat begitu murni tanpa dosa. Kyungsoo memeluk bayi itu didadanya lalu mencium bayi itu. Kini ia telah menjadi seorang ibu setelah sebelumnya menjadi seorang istri. Ini benar-benar kehidupan yang sempurna.
"Kyungie.. selamat kau telah menjadi seorang ibu" tuus Luhan, sedikit sakit saat mengatakannya karena ia juga ingin benar-benar menjadi seorang ibu.
"Gomawo Eonni.. Haowen" Kedua orang dewasa didepannya mengerutkan dahinya kala mendengar Kyungsoo menyebutkan sebuah nama.
"Oh Haowen, namanya Oh Haowen. Bagaimana Oppa?" Tanya Kyungsoo.
"Itu indah sayang aku menyukainya, terima kasih telah berjuang untuknya dan selamat datang kedunia Appa Haowen" ujar Sehun, lelaki itu tengah memeluk tubuh Kyungsoo dan berbicara banyak hal kepada mereka berdua mengabaikan Luhan yang sedari tadi hanya terpaku melihat kemesraan mereka berdua.
Betapa ingin ia melihat Sehun memandangnya penuh cinta seperti ia melihat Kyungsoo, betapa ingin dia melihat senyum bahagia Sehun seperti ia melihatnya saat ini. Apakah saat dia mempunyai sosok kecil itu juga suaminya akan sebahagia itu? Luhan hanya bisa berharap ia juga akan segera memberi kebahagiaan bagi suaminya. Tapi semua tergantung dari suaminya, dirinya hanya pernah tidur dengan Sehun sekali saat mencuri malam pertama madunya. Setelah itu Sehun tidak pernah lagi tidur dengannya karena Kyungsoo yang memonopoli Sehun dan selalu mencari alasan agar Sehun tidak tidur bersama istri pertamanya. Pernah beberapa kali Sehun terlelap dikamar Luhan dan membuat wanita itu bahagia namun setiap malam suaminya itu akan menghilang karena Kyungsoo yang selalu menyusul dan merengek ingin ditemani. Dan Luhan mengalah lagi karena ia mengerti saat itu madunya membutuhkan perhatian yang lebih.
Demi Tuhan.. ini adalah kesempurnaan dan membuatku bahagia. Kumohon.. biarkanlah mereka terus tersenyum seperti itu.. aku taka pa.. aku bahagia.. itu sudah cukup bagiku..
~ Oh Luhan ~
Luhan tersenyum miris, dengan perlahan Luhan menjauh dan keluar dari ruangan yang sedikitnya membuat hatinya merasa sesak. Wanita itu membiarkan keluarga kecil itu menikmati hari bahagia mereka bertiga dan berniat membeli makan siang bagi suaminya karena sedari tadi pagi mereka belum sempat sarapan.
.
.
.
"Dimana Luhan? tiba-tiba menghilang" gumam Sehun.
"Mungkin Eonni sedang mencari makan Oppa.." jawab Kyungsoo.
"Ahh benar.. kita belum sarapan sama sekali tadi, kalau begitu aku akan membeli makanan untukmu dulu hm? kau beristirahatlah sayang"
"Ne Oppa…"
Sehun berjalan keluar dari ruang rawat Kyungsoo, melangkahkan kakinya ke kantin Rumah Sakit. Namun retinanya menemukan sosok yang ia kenali tengah berbicara dengan seorang pria yang tidak dikenalnya. Tangannya mengepal melihat bagaimana Luhan tertawa dengan manisnya, bagaimana bisa wanita itu memberikan senyum manisnya terhadap laki-laki lain. Tanpa sadar jika Sehun kini tengah cemburu dan menghampiri istrinya itu.
"Ekhem" Sehun berdehem menginterupsi dua sejoli yang sedang asyik berbincang membuat keduanya menoleh.
"Sehun!" pekik Luhan.
"Kita belum memasukan apapun lebih baik kita makan" ujar Sehun ketus.
"Tunggu Sehun, aku ingin mengenalkanmu dengannya. Dia adalah Kris atasanku" ujar Luhan. Sehun mengulurkan tangannya dan menatap tajam pria didepannya ini yang seenaknya tertawa ria bersama Luhannya.
"Aku Oh Sehun Su-a-mi dari Luhan" ujarnya menekankan bagian bahwa dia adalah seseorang yang berhak atas Luhan. Dan pria didepannya ini tak kalah erat menggenggam tangan Sehun. Secercik amarah terlihat dari matanya membuat Sehun menyeringai. Ohh bahkan hanya dengan melihat matanya Sehun tahu jika pria ini menyukai istrinya.
"Aku Kris atasan sekaligus teman Luhan. Senang bertemu denganmu" ujar Kris. Pria itu sadar bahwa dia telah kalah kini. Luhan bukan lagi miliknya walau memang tidak pernah menjadi miliknya. Namun ia akan tetap mencintai dan menyayangi Luhan, tidak akan ada yang berubah meski wanita itu telah bersuami. Keberadaan orang lain dihidup wanitanya tidak akan mempengaruhi perasaannya. Tugasnya saat ini hanya untuk menjaga dan melindungi Luhan. Ia harus memastikan bahwa wanita yang dicintainya itu benar-benar bahagia saat ia melepasnya. Ahh Tidak.. Kris tidak akan melepas Luhan sampai kapanpun. Ia hanya membiarkan wanitanya mencari kebahagiaannya sendiri, karena itu sudah cukup membuatnya tenang. Setidaknya ia akan selalu ada disamping Luhan apapun yang terjadi, dan jika Luhan ingin meninggalkan kebahagiaannya kini dia akan dengan senang hati membuka kedua tangannya untuk merengkuh wanita itu dalam pelukannya. Katakanlah Kris gila.. ya dia begitu menggilai wanita didepannya ini. Sampai ia tak pernah rela bila melihatnya kesakitan, apapun akan ia lakukan agar senyumnya tak pernah menghilang.
"Aku juga, baiklah SAYANG kita harus pergi sekarang" Luhan mengangguk sedikit bingung karena sedari tadi Sehun menekankan kata-kata yang membuatnya merona dihadapan Kris walau wanita itu tidak mengerti apa maksud Sehun melakukannya. Berbeda dengan Sehun yang menyeringai senang saat melihat kedua tangan pria didepannya ini mengepal.
"Baiklah Kris aku pergi dulu ne. Sampai jumpa dikantor besok"
Luhan melamnbaikan tangannya saat sebelah tangannya lain ditarik oleh Sehun. Pria itu benar-benar merasa marah melihat bagaimana manisnya sikap Luhan pada pria lain.
.
.
.
Luhan dan Sehun sedang mengisi perut mereka dikantin Rumah Sakit. Dan tak lama setelah kepergian mereka 2 sosok wanita paruh baya memasuki ruang rawatnya. Terkejut? tentu saja, disana Mertua dan ibunya (ibu Luhan) datang menjenguknya. Sedikit bahagia saat mengtahui mereka masih peduli dengan keadaanya. Bahkan saat Kyungsoo tidak pernah tahu apa tanggapan mereka saat Luhan memberitahu bahwa ia akan melahirkan. Sedikit kecewa karena tidak ada satupun dari keluarga barunya saat ini yang datang untuk mendukungnya, namun perkiraannya salah.. mereka ada didepannya kini dan itu membuatnya sangat senang.
Kyungsoo hanya tak pernah tahu jika Heechul mati-matian merayu besannya untuk datang kerumah sakit. Berbagai ancaman sudah ia lontarkan namun wanita itu masih dengan pendiriannya, namun saat Heechul menggunakan Luhan sebagai ancaman bahwa menantunya itu akan sedih jika mertuanya tidak ingin melihat cucunya Jaejoong meluluh. Bagaimanapun ia sangat menyayangi Luhan, dan alhasil usahanya itu berhasil. Sebenarnya ia hanya ingin membuat hubungan Jaejoong dan juga Kyungsoo membaik, besannya begitu membenci wanita itu. Heechul sudah menganggap Kyungsoo seperti anaknya sendiri, mengetahui latar belakang Kyungsoo yang menyedihkan membuat pintu hatinya sedikit terketuk. Namun ia tak berhak memaksa mereka, ia hanya bisa mendukung dan membantu mendekatkan mereka.
Wanita itu menatap tajam seseorang yang tengah berbaring memeluk bayi mungil dipangkuannya. Wajahnya menunduk dan tidak berani ia angkat. Didepannya kini tengah berdiri ibu mertuanya dan juga ibu dari istri pertama suaminya. Melihat kecanggungan yang terjadi Heechul Eomma dari Luhan berusaha memecah keheningan.
"Ahh Kyungie bisakah Eomma melihat anakmu?" tanyanya.
"N-ne Eomma" Kyungsoo memberikan Haowen kepangkuan neneknya. Ohh lihat betapa menggemaskannya nenek Heechul saat melihat bayi itu. Kyungsoo tersenyum kikuk karena ia masih merasa canggung dengan adanya ibu Sehun, Jaejoong.
"Siapa namanya Kyungie?" Tanya Heechu.
"Haowen Eomma, namanya Oh Haowen" gugup Kyungsoo
"Bagus. hay Haowen sayang aku nenekmu dan wanita dingin disebelah nenek adalah Halmeonimu kekeke" Jaejoong memutar bola matanya malas mendengarkan aegyo besan sekaligus sahabatnya ini yang sama sekali tidak ada lucunya.
.
.
Jaejoong dan Heehcul bergantian menggendong Haowen. Mereka sangat senang dengan adanya si bayi ini, setelah mengembalikan Haowen pada Heechul Jaejoong segera menghampiri Kyungsoo yang masih berbaring.
"Jika kau fikir dengan adanya Haowen aku dan suamiku akan berubah kau salah, aku hanya akan menganggap Haowen sebagai cucuku dari Luhan bukan dari mu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah sudi menganggapmu sebagai menantuku. Jangan jadikan Haowen sebagai tamengmu untuk menghalangi kebahagiaan anak dan menantuku. Bagaimanapun kau tidaklah lebih dari seorang perusak dan penghancur dalam keluarga kami terutama anakku"
JLEB
Lagi.. kata-kata itu kembali didengarnya. Selama ini Kyungsoo cukup kebal dengan sikap mertuanya, ia pernah berharap bahwa saat anaknya lahir mertuanya akan sedikit luluh. Namun apa yang ia dengar baru saja menorehkan luka yang semakin mendalam. Bagaimana mungkin anak yang ia lahirkan susah payah kedunia ini akan menjadi milik orang lain. TIDAK ! Kyungsoo tidak akan membiarkan itu terjadi, tanganya mengepal kuat, ia tak membalas perkataan kejam mertuanya yang sudah meninggalkan ruangannya namun ia berjanji tidak akan memberikan anaknya untuk Luhan. Haowen adalah miliknya juga Sehun, tidak ada yang bisa merampas kebahagiaan mereka, jika ada yang harus pergi maka Luhanlah orangnya.
Usapan lembut tiba-tiba dirasakannya, wanita itu mendongak melihat Heechul sedang tersenyum sendu padanya. "Haowen milikmu Kyungsoo-ah dia milikmu, tidak ada yang akan mengambilnya darimu termasuk Luhan. Dia memang ibunya juga, tapi kau lah yang benar-benar menjadi ibu untuknya. Aku kenal bagaimana perangai anakku dan dia bukanlah orang yang akan merebut apapun yang menjadi orang lain. Kau hanya harus membuka hatimu sepertinya, membuka hatimu untuk berbagi dengannya. Apapun itu" Kyungsoo tertegun. Dia tak menyangka jika Eomma madunya ini akan berkata seperti ini, dugaanya adalah wanita paruh baya itu mengetahui bagaimana isi hatinya, bagaimana dia belum menerima sepenuhnya hubungan rumah tangganya. Tentu saja sampai saat ini sangat sulit rasanya untuk berbagi dengan Luhan terutama suaminya, belum lagi dengan kehadiran Haowen yang pastinya harus membuatnya rela berbagi.
"Kyungie eomma harus pergi, maaf karena tidak bisa terlalu lama menemanimu" ujar Heechul. Hati yang sedari tadi berapi-api kini mulai padam saat mendengar penuturan lembut wanita paruh baya didepannya ini. Dia adalah sosok malaikat yang selalu ia idamkan, ohh bagaimana bisa ia menyakiti wanita ini. Tidak .. Kyungsoo tidak akan menyakitinya, ia hanya akan menyakiti Luhan ia akan merebut semua yang menjadi kebahagiaan Luhan. Wanita itu sudah mendapatkan kebahagiaanya selama ini, dan salahkah jika kini ia berharap kebahagiaan itu akan menjadi miliknya?
"Ne Eomma hati-hati hmm?"
"Ya sayang sampai jumpa Haowen. Nenek akan menemuimu lagi nenti ne" ujar Heechul mengecup sekali lagi bayi mungil itu dan segera meninggalkan ruangan Kyungsoo. Wanita itu kini tengah menangis, hati dan fikirannya berperang antara ingin dan tidak ingin menyakiti orang lain. Namun demi melindungi anaknya ia harus mengambil keputusan. Yaa… ia harus.
"Maaf Eonni… aku tidak akan membiarkan siapapun merusak kebahagiaanku kini" gumam Kyungsoo
.
.
.
.
TBC
Untuk yang pada gereget kapan Luhan bahagia? Aku fikir-fikir lagi yaa.. belum nemu adegan yang tepat sih, soalnya real nya aja kaya begitu. Ada yang bilang ff ini kaya film Hidayah .. ya bener kali ya ini kaya sinetron banget. Mungkin aku akan cut sampai disini kalau memang kalian gasuka heheheu (pundung)
Okke berhubung aku sudah memenuhi permintaan kalian untuk up cepet, jangan lupa kasih vote dan koment nya yaa.. biar akunya juga semangat. Dan kedepannya aku mau focus belajar karena 2 minggu lagi aku ujian. jadi tunggu selalu ceritanya yaa…
Vote And Coment Please… ^_^
