Izumi come back, minna! (sambil bungkuk-bungkuk)

Lanjutannya udah update nih…!

Maaf bikin penuh daftar fic IchiRuki, tapi sungguh... kalo gak baca gak apa-apa kooook ^_^


Summary chapter:

Sepenggal kisah dari kehidupan manis antara Kaien dan Rukia, namun sepertinya Rukia memiliki firasat yang buruk mengenai hubungannya ini. Kenapa rasanya seakan ia berada di pintu perpisahan?


Disclaimer : Pak Tite Kubo, Izumi cuma pinjem beberapa karakternya kok, sungguh...

Pairing : sudah dijelaskan di atas, tapi sepertinya kurang lengkap, karena bakal ada pair yang lain, hehe gomen

Genre : sebenernya gak cuma Romance sama Hurt/Comfort aja, perhaps... gado-gado. (jadi laper!)

Ow, fic Izumi kali ini masih OOC, dan... masih ber-typo(s), hmm... sekali lagi... gomen yaaa...

WARNING!

Seperti biasa, selama baca, harap diteliti tanggal yang ada di dalam fic, cuz Izumi sengaja gak ngasih font italic di bagian flashback, hanya tanggalnya aja. Jadi, kalu gak teliti, dijamin bakal bingung! ^_^

Gak apa-apa, kaaan? sudah tuntutan skenario nih... hehehe


BAB IX

-CHAPTER TAHUN 2012 DI-SKIP DULU YA!-

Seireitei, 7 Agustus 2011 – Minggu

Pagi-pagi sekali Rukia datang ke apartemen Kaien demi mengantarkan makanan untuk sosok yang sangat dicintainya itu. Tentu saja Kaien sangat senang hati menerima kedatangan Rukia. Setelah sarapan bersama, Kaien kembali ke aktifitasnya semula, yakni menggambar sebuah sketsa bangunan dengan duduk beralaskan tatami. Ia sengaja tidak duduk di kursi kerjanya karena ia ingin menemani kekasih mungilnya yang sedang menggambar seekor kelinci yang dianggapnya bernilai seni tinggi. Ya, Kaien tidak pernah keberatan dengan hobi Rukia yang satu itu. Sesekali, di tengah kegiatan Kaien menggambar bangunan, ia melirik pada kekasihnya, dan gadis itu tetap serius dengan maha karyanya, bahkan tak jarang gadis itu tersenyum lalu bersenandung kecil, membuat Kaien tersenyum. Betapa beruntungnya dia karena telah memiliki Rukia. Berpacaran dengan gadis pujaannya dari SMA hingga saat ini, tidak sekalipun Kaien melirik pada gadis lain, karena baginya, Rukia sudah cukup membuatnya tak dapat berpaling lagi.

"Rukia-chan," panggil Kaien, sepertinya ia sudah tidak tahan untuk mendengar suara kekasihnya.

Amethyst Rukia menatapnya, bibirnya yang mungil itu masih menyunggingkan senyuman, "Ya?"

"Bagaimana hubunganmu dengan Ichigo-kun?"

"Eh?"

Tampaknya, gadisnya ini terkejut dengan pertanyaan Kaien. Hey! Kaien hanya bertanya, tidak bermaksud apa-apa! Lagi pula… Ichigo hanya sahabatnya, kan?

"Emm… itu…."

"Bukankah kau pernah bercerita bahwa di awal kuliah hubunganmu dengannya sedikit renggang? Lalu bagaimana dengan sekarang? Kau saja mau wisuda, apa hubunganmu dengannya tetap renggang?"

Rukia perlahan tersenyum, "Oh, soal itu?" lalu gadis mungil itu kembali melanjutkan maha karyanya, "Sudah membaik. Awalnya memang canggung, tapi kami dapat mengatasinya."

Kaien turut tersenyum. Ya, dia senang! Bagaimanapun, kekasihnya ini memang tidak bisa jauh dari sahabatnya yang bernama Kurosaki Ichigo.

"Yokatta!"

Dan lagi-lagi, kekasihnya terkejut, "Kenapa?" tanyanya, menatap Kaien bingung.

"Karena aku tidak mau melihatmu murung lagi. Itu selalu saja terjadi saat Ichigo jauh darimu, Rukia-chan!" jawab Kaien dengan santainya.

"Apa… Kaien-dono tidak cemburu?"

Kaien menghela napas berat, "Bagaimana aku bisa cemburu? Kalian sudah mengenal sejak lama, bahkan sebelum kau mengenalku. Aku tidak keberatan, karena yang aku tahu… hatimu hanya untukku."

Ha! Kaien dapat melihat wajah Rukia menjadi merah, sepertinya ia malu karena gadis itu kini kembali menekuni gambarnya.

"A? ya…."

"Katakan padaku, Rukia-chan, warna apa yang paling kau sukai?"

"Tentu saja ungu! Dari awal pacaran denganku, apa Kaien-dono tidak pernah menyadarinya?" dan rona merah saat itu sudah hilang dari wajah Rukia.

Kaien mengerutkan keningnya, "Ya… aku tahu itu, tapi… apa kau tetap menyukai warna ungu untuk… sebuah rumah?"

Rukia mengangguk mantap, "Tentu saja! Bagiku… ungu adalah warna yang indah."

Indah, Kaien juga menyadarinya, karena ia sangat menyukai warna mata kekasihnya.

"Baiklah kalau begitu. Mm… apa kau suka pesta yang meriah, Rukia-chan?" tanya Kaien lagi.

Rukia menggeleng, "Tidak. Aku tidak pernah meminta nii-sama atau nee-san membuat pesta yang besar di tiap ulang tahunku, walaupun mereka pada akhirnya tetap membelikanku banyak gaun mewah, lalu membuat halaman belakang Mansion Kuchiki menyala terang, aku tidak begitu menyukainya. Aku lebih suka hal yang sederhana," terang Rukia dengan tatapan mata yang menerawang.

Kaien mengerutkan keningnya lagi, "Apa kau yakin? Keluarga Kuchiki adalah keluarga terkaya di seantero Jepang, dan kau… tidak suka dengan hal-hal yang mewah?"

"Apa Kaien-dono lupa kalau aku dan nee-san hanyalah orang biasa dari Rukongai dan memiliki nasib beruntung karena nii-sama jatuh cinta pada nee-san?"

Kaien mendadak bungkam. Ya, tentu saja ia tahu! Kehidupan kekasihnya dulu yang jauh dari kata kemewahan telah membuatnya belajar cukup banyak tentang kesederhanaan, bahkan setelah berubah menjadi bagian dari keluarga konglmerat.

"Gomen, Rukia-chan."

Rukia tersenyum, "Kenapa? Kaien-dono tidak perlu merasa bersalah seperti itu," kemudian Rukia menopang dagunya dengan kedua tangannya. Bukankah gadis mungil itu tampak sangat manis?

"Apa ada pertanyaan lagi, Kaien-dono?" tanyanya sambil tersenyum.

"Ah, ya! SR dan KR, mana yang lebih kau suka?"

Rukia mengerutkan keningnya, "SR dan… KR?"

"Singkatan dari Shiba Rukia dan Kaein – Rukia. Kau lebih suka yang mana?"

"KR! Aku lebih suka yang KR."

Lagi-lagi, jawaban Rukia membuat dahi Kaien berkerut, "Kenapa?"

"SR… Shiba Rukia? Kalau Kaien-dono ingin sesuatu yang melambangkan kebersamaan kita… kenapa tidak memakai KR saja? Kaien – Rukia? Dengan begitu, kita seperti sepasang kekasih yang tak terpisahkan."

Kaien terdiam, detik selanjutnya ia tersenyum, "Begitukah? Baiklah kalau begitu."

Mereka terdiam lagi cukup lama, sepertinya kekasih mungilnya itu tengah memikirkan sesuatu, namun bukan berarti Kaien bebas dari pikirannya juga.

"Rukia-chan?"

"Ya?"

Kaien terdiam sesaat, merasa tidak tega untuk mengatakannya, "Aku… aku ada proyek besar dalam waktu dekat ini. Jadi… sampai kelulusanmu… mungkin aku tidak bisa menemanimu. Apa… kau… tidak keberatan?"

Awalnya, gadis mungil itu terkejut, namun kemudian Kaien kembali melihat senyum di bibirnya, walau samar.

"Tidak apa-apa, Kaien-dono. Aku tidak keberatan, asalkan… Kaien-dono kembali padaku, dan tidak melupakanku."

"Tentu saja, Rukia-chan! Sedetikpun aku tidak akan pernah melupakanmu."

Kaien merasa senang! Kekasihnya ini begitu pengertian. Proyek ini sebenarnya dilakukannya untuk rencana besarnya. Ya, rencana besarnya untuk dirinya dan juga kekasih mungilnya ini.

^Love You Like A Dream^

Sedih? Tentu saja Rukia sedih lantaran Kaien-dono-nya akan pergi sampai kelulusan. 1 bulan! Ya, waktu yang cukup lama mengingat Rukia tak sanggup berpisah terlalu lama dengan Kaien. Tunggu! Beberapa menit yang lalu, Kaien-dono-nya menanyakan hal-hal yang aneh padaya. Tentang Ichigo, tentang warna kesukaan untuk sebuah rumah, dan… tentang… singkatan? KR, entah kenapa Rukia langsung saja memilih singkatan KR daripada SR. Bukan! Sebenarnya ada alasan lain selain yang dia utarakan pada kekasihya. Ia… lebih menyukai inisial K daripada S bila bersanding dengan R. Tidak ada alasan khusus tentang pendapatnya itu, entah karena ia terbiasa dengan huruf K, Kuchiki Rukia, mungkin? Bukankah itu namanya? Atau… ia lebih suka dengan huruf K itu sendiri seperti… Kurosaki Ichigo? Tunggu! Kenapa tiba-tiba nama Ichigo terlintas di pikirannya?

Rukia menggelengkan kepalanya. Ini bukan waktunya memikirkan hal-hal yang aneh! Yang harus dipikirkannya adalah, apa yang sebenarnya sedang disembunyikan oleh Kaien? Karena sepertinya… kekasihnya itu sedang merencanakan sesuatu.

^Love You Like A Dream^

Karakura, 11 November 2011

Rukia tidak menyangka bahwa hari ini telah tiba. Di depan sebuah cermin yang besar, Rukia membolak-balikkan tubuhnya demi melihat gaun yang telah membalutnya dengan sempurna. Gaun putih panjang sederhana yang menutupi kaki mungilnya dan pita ungu yang melingkari pinggangnya. Ah! Jangan lupa ada tiara berkilau yang menghiasi surai hitam sebahunya. Tadi beberapa orang yang bertugas meriasi wajahnya tampak tersenyum sambil berkata bahwa Rukia tidak perlu diberi make up tebal karena wajah Rukia lebih cantik tanpa make up. Ya, beginilah jadinya. Alami, dan Rukia juga lebih suka yang seperti ini.

"Kuchiki-san!" sapa seorang gadis dengan suaranya yang riang.

Amethyst Rukia beralih menatap pintu. Di sanalah sosok gadis cantik berambut oranye dan seorang pemuda berambut serupa berdiri menatapnya dengan raut wajah yang berbeda. Tunggu! Ichigo? Kenapa tatapan matanya begitu sedih?

"Inoue? Ichigo?"

Belum lama Rukia beradu pandang dengan hazel Ichigo, Inoue lebih dulu memeluknya.

"Akhirnya kau menikah juga! Aku senang! Selamat ya!"

Rukia tersenyum, "A… iya, terima kasih, Inoue," ujar Rukia, namun tatapan matanya tak sedikitpun beralih dari Ichigo. Ada apa? Kenapa dia seperti itu? Pikir Rukia dalam hati.

Tak lama kemudian, Inoue melepas peluknya, menatap Ichigo dengan senyum riangnya.

"Apa kau tidak ingin mengucapkan selamat pada Kuchiki-san, Ichi?" tanya Inoue.

"Ah, iya. Selamat ya, Rukia," ujar Ichigo dengan senyum yang dipaksakan.

Rukia tahu itu. Ia tahu bahwa Icigo keberatan atas pernikahannya dengan Kaien, bahkan Rukia juga tahu alasan mengapa Ichigo keberatan dengan pernikahannya. Apa lagi? Tentu saja karena Ichigo menyukainya, sangat jelas terlihat saat Ichigo mengajaknya berkencan sehari sebelum hari kelulusan tiba. Rukia tidak bodoh, dan ia merasakannya. Hanya saja, ia terus mengelak bahwa Ichigo menyukainya. Mereka memiliki jalan yang berbeda, kan? Dan Ichigo ditakdirkan untuk Inoue, bukan untuk dirinya.

Rukia tersenyum, "Ya, terima kasih, Ichigo," ujarnya.

"Rukia-chan! Ayo, Byakuya-sama akan mengantarmu ke altar," ujar seorang wanita yang datang bersama dengan seorang pria, kepala keluarga Kuchiki.

"Baik, Nee-san," ujar Rukia patuh, kemudian mengikuti Byakuya dan Hisana.

Ada apa ini? Bukankah seharusnya Rukia senang karena hari ini adalah hari pernikahannya dengan Kaien? Namun kenapa setelah beradu pandang dengan Ichigo, Rukia justru merasakan hal yang sebaliknya?

^Love You Like A Dream^

Hazel Ichigo menatap langit penuh bintang malam itu. Sudah semakin larut, namun ia hanya ingin duduk sendiri. Tak peduli dengan terangnya Mansion Kuchiki saat ini, atau berapa banyak tamu yang diundang keluarga Kuchiki dan keluarga Shiba malam ini. Ichigo menarik napas dalam, kemudian matanya berkeliling. Ah! Itu Inoue! Ia membiarkan kekasihnya berbincang-bincang dengan teman-teman lamanya di SMA. Ya, hitung-hitung sekalian reuni, kan? Lalu… keluarga Ichigo yang tampak berbincang-bincang, seakan membuat forum sendiri. Forum di dalam forum. Mereka tampak tak bahagia, sama seperti dirinya saat ini, kecuali oyaji, kambing tua itu sepertinya masih bisa tertawa lebar sambil bertingkah tak wajar.

"Hai! Bolehkah aku duduk di sini?"

Ichigo menoleh ke asal suara, menatap seorang pemuda berambut hitam jabrik yang mengenakan tuxedo putih. Sial! Kenapa justru orang ini yang mengusikku? Makinya dalam hati.

"Ya, terserah kau saja," jawab Ichigo datar. Walaupun ia tidak suka dengan kehadiran sosok ini, ia tetap tidak bisa mengusir orang yang menjadi pemeran utama di pesta ini, kan?

Pemuda itu tersenyum, kemudian duduk di samping Ichigo, menatap langit.

"Rukia-chan menyukai langit malam, apalagi bulan yang bersinar cerah," ujar pemuda itu.

"Ya," tentu saja aku tahu itu lebih dulu, bodoh!

"Aku menyuruh Rukia-chan untuk beristirahat lebih dulu. Sepertinya ia kelelahan. Bukankah Rukia-chan sangat cantik tadi?"

Kali ini tatapan Ichigo menerawang ke angkasa, "Ya, cantik," dan aku menyesal karena telah merelakannya padamu.

"Ini pertama kalinya aku berbicara berdua denganmu, ya?"

"Sepertinya," reaksi Ichigo masih dingin, "Selamat atas pernikahanmu."

"Terima kasih! Aku senang mendengarnya darimu!"

"Lalu, ke mana kau akan membawanya setelah ini, Kaien-senpai?"

"Seireitei. Aku berencana akan membawa Rukia-chan ke Seireitei, tentu saja tidak hari ini. Ah! Kalau kau ingin menemui Rukia-chan, kau bisa mampir ke rumah sederhana kami," ujar Kaien dengan sangat ramah.

Ichigo terdiam. Sejujurnya, ia masih merasa sakit mengetahui kenyataan bahwa senpai-nya telah menyiapkan semuanya untuk Rukia. Main ke rumahnya? Hah! Yang benar saja! Ichigo bersumpah tidak akan pernah mampir ke rumah mereka, karena Ichigo tidak mau mengambil resiko untuk sakit hati saat melihat mereka bermesra-mesraan di rumah mereka.

"Mungkin kau tidak ingin mampir, Ichigo, tapi… bagaimanapun, ada kalanya suatu hari nanti kau harus pergi ke Seireitei, ke rumah kami," ujar Kaien yang kini tengah menerawang ke langit sambil tersenyum lemah.

Ichigo menatap bingung pemuda serupa dirinya yang ada di sampingnya ini, tidak tahu apa maksud sebenarnya dari perkataan Kaien, namun ia hanya tersenyum lemah, hazel-nya turut menuju ke angkasa, "Ya," jawab Ichigo. Sepertinya ia harus mampir ke rumah mereka suatu hari nanti. Yah… hanya untuk memastikan saja bahwa Rukianya dalam keadaan baik.

^Love You Like A Dream^

12 November 2011

Rukia hanya diam saja, ia tidak tahu ke mana Kaien membawanya pergi dengan mobilnya, karena pagi-pagi sekali suaminya itu membangunkannya dengan cara menciumi pipinya dan kemudian membantunya bersiap-siap. Ah! Tenang saja! Mereka tidak mengalami malam pertama atau apalah itu, yang pasti Kaien hanya tidur di sampingnya dan membiarkannya beristirahat dengan tenang.

"Apa yang sedang kau pikirkan, Rukia-chan?" tanya Kaien dengan senyum lebarnya membuat Rukia beralih menatapnya, padahal sedari tadi ia fokus pada pemandangan di luar jendela.

"Apa?" tanya Rukia heran sambil mengerutkan keningnya.

"Apa yang ada di dalam pikiranmu itu?" tanya Kaien sambil menunjuk kening Rukia.

"Aku hanya berpikir, ke mana Kaien-dono akan membawaku pergi?" jawab Rukia sambil menggembungkan pipinya, membuat Kaien tertawa, mencubit pipi Rukia sesaat hingga Rukia memekik pelan, kemudian kembali fokus pada jalanan.

"Bukankah aku tadi sudah bilang kalau aku akan membawamu ke Seireitei?"

"Ya… untuk apa Kaien-dono membawaku ke Seireitei? Bukankah kita sudah selesai kuliah?" tanya Rukia lagi, lebih tepatnya menggerutu kesal, ia tidak suka berada di dalam situasi seperti ini. Suaminya berniat untuk main tebak-tebakan dengan dirinya? Yang benar saja!

"Kau akan tahu nanti, Rukia-chan!" ujar Kaien dengan nada riangnya.

Dan Rukia masih menggembungkan pipinya, kesal, membuat Kaien semakin gemas dengan tingkah istri mungilnya ini.

"Sabarlah sedikit, Rukia-chan," lanjut Kaien sambil mengusap pelan kepala Rukia. Ya, setidaknya Rukia sedikit tenang dengan perlakuan Kaien terhadapnya.

Tak lama kemudian, mobil Kaien berhenti di sebuah halaman rumah. Halaman yang sangat luas dengan berbagai macam bunga-bungaan. Tunggu! Lavender? Ya, bunga kesukaan Rukia berjajar rapi di salah satu sudut halaman, bersanding dengan bunga mawar putih dan bunga krisan warna kuning. Bunga mawar putih melambangkan cinta tulus dan bunga krisan melambangkan kesetiaan. Rukia melihat Kaien yang tersenyum, ia turun dari dalam mobil, kemudian membuka pintu mobil untuk Rukia. Ia masih tersenyum, padahal Rukia masih belum pulih dari rasa keterkejutannya.

"Ayo, Tuan Puteri, kita sudah sampai," ujar Kaien yang lantas mengambil tangan Rukia dan membawanya keluar dari dalam mobil.

Kaien terus membimbingnya berjalan, sedangkan Rukia masih melihat ke sekitarnya takjub, hingga mereka sampai di depan sebuah rumah sederhana berwarna ungu cerah dan putih. Spontan, Rukia membulatkan kedua mata amethyst-nya, terkejut! Kaien tersenyum menatapnya.

"Ini rumah kita. Aku membangunnya khusus untukmu."

"Kaien-dono…."

"Bagaimana? Maaf, rumah ini tidak sebesar rumah Kuchiki-san."

Perlahan, air mata Rukia turun, langusng saja ia memeluk kaien erat.

"Arigato, Kaien-dono! Bagiku, ini sudah lebih dari cukup…."

Kaien tersenyum, membalas pelukan Rukia sambil mengusap kepalanya lembut.

"Ya, apapun akan kulakukan untukmu, Rukia-chan," ujarnya, berbisik lembut di telinga Rukia, kemudian melepas pelukan Rukia, "Hey! Apa kau tahu? Ada beberapa bagian yang aku suka dari rumah ini. Salah satunya adalah… ini!" ujar Kaien sambil menunjukkan sebuah kunci berbahan kaca. Indah, seperti kristal! Amethyst Rukia membulat tak percaya.

"Bukankah kaca adalah bahan yang mudah hancur?"

"Ya, dan itu akan membuatmu belajar bagaimana menjaga sesuatu yang benar-benar berharga, walaupun Rukia-chan sendiri sepertinya sudah tahu bagaimana caranya," ujar kaien sambil membuka pintu rumah, kemudian pemuda itu tersenyum sambil mengacak rambut Rukia pelan saat tahu Rukia masih belum memberinya respon, "Tenang saja! Aku hanya bercanda! Aku sudah memprediksikannya dan aku berani jamin kalau kunci ini tidak akan rusak dengan mudah!"

Dan Rukia baru bisa bernapas lega setelah mendengarnya. Yang benar saja! Siapa yang mau terjebak di luar rumah saat kunci rumah sudah tidak bisa digunakan lagi?

Tak cukup rasa takjub sekaligus terkejut akan rumah pemberian Kaien ini, Rukia kembali dikejutkan dengan segala hal yang ada di dalam rumah. Ruang tamu, dengan lampu gantung sederhana, lalu lemari kaca dengan berbagai macam koleksi miniatur bangunan dan… pernak-pernik Chappy? Hey! Dari mana suaminya mendapat segala hal yang disukai Rukia ini? Semuanya sama persis dengan yang dimilikinya di Mansion Kuchiki! Bahkan koleksinya bertambah banyak? Rukia seakan meleleh saat itu juga, ia terharu, tentu saja! Kalau kedua tangan Kaien tidak melingkar di pinggang Rukia dengan mesranya, Rukia berani jamin ia tidak akan bisa menopang tubuhnya sendiri.

"Bagaimana pendapatmu tentang rumah baru kita?" tanya Kaien sambil sesekali mengecup puncak kepala Rukia, menyesap wangi lavender dari rambut hitam istrinya yang sama seperti miliknya.

"I… Ini…" Rukia bahkan tak sanggup berkata-kata lagi.

"Sepertinya kau belum sadar, ya? Sehari sebelum pernikahan kita, aku dan Hisana-san mengemasi barang-barang Chappy-mu dan memindahkannya ke sini. Aku juga berusaha melengkapi koleksimu yang kurang. Aku hanya ingin kau betah di rumah, Rukia-chan," bisik Kaien dengan lembut.

Perlahan, air mata Rukia kembali mengalir di pipinya. Terlalu banyak! Ini sudah terlalu banyak! Bukankah Kaien-dono begitu menyayanginya? Namun, Rukia merasa tidak pantas untuk menerima semua ini. Rasanya… ia tidak pernah bisa membalas limpahan cinta dan kasih suaminya ini.

"Loh, Rukia-chan? Kenapa menangis?"

"Kaien-dono, a-aku…"

"Sst! Kau pantas mendapatkannya, Rukia-chan!" sahut Kaien yang kini menutup mulut Rukia dengan tangan kanannya, tidak ada penekanan, namun Rukia bahkan tidak sanggup melanjutkan kata-katanya lagi, "Ayo! Aku akan menunjukkan dapur kita, lalu… kamar untuk anak-anak kita, lalu… kamar kita. Bagaimana?"

Rukia tersenyum, kemudian mengangguk.

Nyaman, perasaan ini sungguh sangat nyaman. Kaien menggiring Rukia ke dapur tanpa melepaskan tangannya dari pinggang Rukia, dan Rukia tidak keberatan akan hal itu.

Ruang dapur. Tidak begitu luas bila dibandingkan dengan dapur yang ada di Mansion Kuchiki, namun dapur ini cukup nyaman dengan nuansa putih dan kuning pastel. Ya, kuning adalah warna yang melambangkan kegembiraan. Rukia tahu akan hal itu.

"Aku ingin dapurku dipenuhi dengan suasana hati yang gembira. Ah! Ini ruang makannya!" tunjuk Kaien dengan semangat, mengarahkan jari telunjuknya pada sisi di dekat dapur. Ada sebuah panggung kecil berbentuk persegi yang di atasnya memuat 4 buah kursi makan dan 1 meja makan berbentuk lingkaran. Tenang saja! Kaien sudah memperhitungkan semuanya, jadi setiap kursi tidak mungkin bisa terjungkal. Lagi pula, panggung kecil itu tidak begitu tinggi, hanya berjarak sekitar 4 inci dari atas lantai.

Setelah itu, Kaien menggiring Rukia berjalan ke sebuah pintu berwarna biru cerah dengan motif pelangi. Rukia bisa menebak kalau ruangan di balik pintu ini adalah kamar anak-anak. Benar saja, saat Kaien membuka pintunya, Rukia melihat sebuah ruangan dengan nuansa cerah dan sejuk. Bahkan ada gambar-gambar yang cocok untuk anak-anak, seperti rumput-rumput kecil, karpet warna hijau muda yang lembut dan… hey! Ada gambar kupu-kupu yang berterbangan dan kelinci! Rukia tersenyum sambil berdecak kagum.

"Kau suka?"

Rukia mengangguk, "Apa kau ingin menjadikan kamar anak kita seperti sekolah taman kanak-kanak?"

Kaien tertawa kecil, "Tidak juga. Aku hanya ingin anak kita merasa nyaman di kamarnya, dan tidak takut tidur sendirian. Apa kau lihat langit-langitnya?"

Rukia mendongak ke atas, ada beberapa tempelan berbentuk macam-macam benda luar angkasa.

"Glow in the dark?" tanya Rukia sambil tersenyum.

"Ya, sayangnya kamar ini harus kosong dulu, aku akan membeli ranjangnya setelah kau siap untuk punya anak, yah… setidaknya kau harus siap dulu kan, Rukia-chan?"

Mendadak, wajah Rukia berubah merah mendengarnya. Rukia menunduk, tentu saja ia tahu apa maksud perkataan suaminya. Tunggu! Apa suaminya tadi mengatakan bahwa mereka akan melakukannya malam ini?

Blush! Seketika wajah Rukia bertambah merah, jantungnya berdegup kencag. Bodoh! Apa yang kau pikirkan, Rukia?

"Ayo kita beralih ke tujuan utama kita!" ajak Kaien yang untungnya tidak menyadari perubahan warna wajah Rukia.

Rukia tidak menjawabnya , hanya mengikuti ke mana Kaien membawanya.

Kaien membuka pintu berwarna ungu yang sekilas mirip seperti pintu kamar anak-anak. Rukia mengerutkan keningnya, apa Kaien-dono membuat kamar lebih dari satu? Namun pemikiran itu terjawab saat ia melihat sebuah ruangan bernuansa ungu muda dan putih. Ada tirai transparan yang melambai di jendela dan ranjang ukuran king size di tengah ruangan. Ini… kamarnya dan Kaien-dono-nya? Sepertinya Kaien-dono benar-benar menuruti kemauan Rukia dengan mendominasi warna ungu untuk seluruh penjuru rumah. Hey! Ada boneka Chappy besar di atas ranjag! Itu… Chappy pemberian Ichigo yang terakhir! Rukia berjalan mendekati ranjang, memeluk boneka itu, melewatkan boneka bantal putih berbulu lembut berbentuk kelinci pemberian Kaien yang ada di sebelahnya. Ichigo! Kenapa tiba-tiba ia teringat akan Ichigo? Tatapan Ichigo yang begitu terluka… dan….

"Aku memasang foto pernikahan kita di sana," ujar kaien, membuyarkan pikiran Rukia. Ia melihat ke mana tatapan mata Kaien mengarah. Di salah satu dinding, Rukia melihat foto pernikahannya dengan Kaien, lantas, Rukia tersenyum. Benar! Tidak seharusnya aku memikirkan Ichigo! Ia pasti sudah bahagia dengan Inoue dan mungkin akan menyusulku untuk menikah.

"Kau tampak cantik, Rukia-chan!" ujar Kaien sambil berjalan mendekati Rukia dan duduk di sampingnya. Wajah Rukia memerah.

"Arigato, Kaien-dono."

Lantas, Kaien mengusap kepala Rukia pelan, "Ya! Kau cantik! Selalu cantik! Dan itu yang membuatku merasa beruntung karena telah memilikimu."

Rukia terdiam. Apa yang harus dielaknya lagi? Ia bahagia! Sangat bahagia! Ya, Rukia beruntung karena telah menikah dengan seorang pemuda yang betul-betul mencintainya dengan sepenuh hati, bahkan tak jarang mengagungkannya. Rukia bertekad akan membalas cinta kasih suaminya ini sepenuh hatinya, tanpa ada keraguan lagi.

"Hey, apa kau tahu kenapa inisial nama KR ada di luar cincinku sedangkan milikmu ada di dalam cincinmu?" tanya Kaien sambil tersenyum, memainkan cincin yang terpasang di jari manis kanannya. Hey! Rukia baru menyadari hal itu! Rukia menatap Kaien bingung.

"Apa sebabnya?"

Lantas, tatapan mata Kaien beralih pada Rukia, tatapan mata yang begitu lembut….

"Aku ingin selalu menjadi pelindungmu bila kita bersama. Aku akan menjaga segala hal yang mengancam dari luar, dan kau… kau memiliki tugas untuk menjaga segala hal yang ada di dalam rumah tangga kita. Itu saja. Bukakah bila cincin kita disatukan… maka inisial nama kita akan menghadap ke sisi yang berbeda? Aku ingin agar kita saling menjaga."

Rukia kembali berpikir. Ya, benar! Alasan itu cukup masuk akal dan terdengar… manis?

"Baiklah! Apa yang akan istriku masakkan di hari pertamanya menempati rumah baru?" tanya Kaien sambil tersenyum lebar.

Rukia mendadak bersemangat lagi. Masak? Tentu saja itu keahliannya! Tinggal selama 4 tahun di Seireitei tanpa pelayanan membuatnya harus bisa hidup mandiri. Lagi pula, saat ini ia sangat lapar! Sepertinya suaminya juga begitu.

"Ah! Bagaimana kalau… masakan sederhana saja untuk sarapan pagi ini, seperti… omelet?"

"Ide bagus! aku akan membantumu memasak!"

Rukia bangkit dari duduk, disusul dengnn Kaien.

^Love You Like A Dream^

Hari sudah malam saat Rukia kembali ke kamarnya dengan pakaian tidur putih panjang selutut, tanpa lengan. Hari ini cukup melelahkan! Setelah masak bersama, sarapan pagi yang hampir menjelang siang, Kaien ternyata mengajaknya berkeliling Seireitei untuk berbelanja perlengkapan rumah yang belum ada. Ayolah! Barang apa lagi? Semuanya sudah lengkap, termasuk koleksi Chappy itu! Namun Kaien tetap mengajaknya pergi, dan kembali ke rumah setelah makan siang. Tak langsung istirahat, Rukia malah main kejar-kejaran dengan Kaien di halaman rumah mereka. Rukia berani jamin bahwa ia akan betah tinggal di sini selama Kaien menemaninya.

"Apa kau lelah, Rukia-chan? Mau tidur?" tanya Kaien yang turut duduk di ranjang saat Rukia telah merebahkan dirinya. Tuhan… matanya sudah tinggal 5 watt!

"Um," jawab Rukia singkat, hampir saja ia memejamkan matanya, spontan rasa kantuknya menghilang saat suaminya tiba-tiba mendekat ke arahnya, mengurung dirinya di bawah, kemudian mencium bibirnya lembut.

"Kaien-dono…" erangnya, terkejut. Ya, tingkah suaminya yang seperti ini memang wajar bila melihat status mereka saat ini, tapi… melakukannya saat Rukia sedang lelah? Hey! Rukia bahkan belum pernah melakukannya sebelumnya. Jantung Rukia berdegup kencang, aliran darahnya seakan naik ke atas, membuat wajahnya tampak merah.

"Aku tahu kau lelah, Rukia-chan," ujar Kaien sambil mengusap lembut kepala Rukia, masih mengurungnya di bawah tubuhnya, kemudian Kaien menciumnya sekali lagi, sesaat dan begitu lembut, setelah itu Kaien memeluknya, tangan kanannya menggenggam tangan Rukia begitu erat, "Tapi aku tidak akan memaksamu bila kau memang belum siap. Aku bisa menunggumu," ujar Kaien lagi.

Rukia dapat merasakan hembusan napas Kaien di lehernya, ada sensasi geli yang menggelitik tubuhnya saat itu, namun Rukia tidak peduli, yang ada di pikirannya saat ini adalah… suaminya! Bagaimana bisa suaminya berkata seperti itu?

"Kaien-dono? Ta-tapi…."

Kemudan, pemuda itu bangkit, masih menggenggam tangan kanan Rukia dan menariknya hingga Rukia duduk.

"Tapi apa?" tanya Kaien sambil tersenyum lembut.

"Kita kan…."

"Suami-istri? Ya, kita suami-istri yang sah, tapi untuk melakukan hubungan yang lebih dalam lagi, bukankah sebaiknya suami menunggu keputusan istrinya? Bila istri belum siap, ya… mau bagaimana lagi?"

"Ta-tapi…."

"Aku menyayangimu, Rukia-chan. Aku kira memaksamu sama seperti menyakitimu, dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Ayolah! Malam ini aku hanya ingin menunjukkan satu bagian favoritku yang lain dari rumah ini."

Rukia mengerutkan keningnya, "Ada lagi?" dan saat itu degup jantung Rukia perlahan berangsur normal.

Kaien tersenyum lebar, "Tentu saja! Ayo ikut aku!"

Terlalu banyak kejutan, namun entah kenapa justru Rukia menyukainya.

Rukia masih berjalan di belakang Kaien dengan tangan yang digenggam sangat erat. Kaien membawanya naik ke lantai dua, menuju ke sebuah ruangan kecil di sana. Tunggu! Ruangan itu… ada sebuah teleskop yang mengarah ke luar jendela, di sampingnya ada tirai transparan bermotif bintang, lalu karpet lembut berwarna biru tua dan beberapa tumpukan bantal berbentuk bintang dengan warna cerah. Bahkan langit-langit ruangan yang rampak miring itu terlihat indah dihiasi tempelan berbentuk bintang yang dapat menyala di kegelapan. Indah! Sangat indah! Apa ini….

"Ini ruangan untuk kita menatap bintang bersama. Aku tahu kau selalu menyukai langit pada malam hari."

Lagu-lagi Rukia tak sanggup berkata-kata, suaminya benar-benar membuatnya jatuh hati seutuhnya!

Kaien mengajaknya duduk mendekati teleskop, melihat bulan putih sambil bercengkrama, sesekali mereka bercumbu mesra di sana, hingga mereka merasa lelah. Setelah itu, Rukia duduk menyandar pada dada bidang Kaien, sedangkan Kaien menyandar pada dinding, mengusap pelan kepala Rukia. Tak pernah Rukia merasa seperti ini sebelumnya, merasakan jatuh cinta yang sangat dan tidak ingin melepasnya. Ia bersumpah tidak akan pernah bosan walaupun mereka telah menjalin hubungan ini cukup lama sebelumnya, dan Rukia berharap dapat merasakan kebahagiaan ini selamanya.

^Love You Like A Dream^

Keesokan harinya dijalani seperti hari kemarin. Masih dengan tawa lebar dan senyum yang cerah. Hari ini Rukia bermain air di halaman bersama suaminya lantaran Kaien terus mengganggu Rukia yang sedang menyirami bunga. Manis sekali, bukan? Sepasang suami-istri ini terus bertingkah seperti anak kecil dan membuat orang lain tersenyum melihat mereka. Mobil milik Kaien dan mobil milik Rukia yang ada di halaman juga tak luput menjadi korban sasaran main air mereka, yah… hitung-hitung sekalian mencuci mobil.

"Dapat!" Kaien menangkap Rukia dari belakang, memeluknya dengan erat sementara Rukia tertawa lebar.

"Turunkan aku, Kaien-dono!"

"Ayo, Nyonya Shiba! Kau harus mandi dan mengganti pakaianmu yang basah itu!"

Rukia masih tertawa, "Iya! Turunkan aku dulu! Aku akan mandi!"

"Kamar mandi di rumah ini cuma ada satu, bagaimana kalau kita mandi bersama?"

"APA?! Tidak!"

"Ayolah… hanya mandi! Apa kau tega melihat suamimu ini kedinginan, Rukia-chan?" tanya Kaien dengan wajah yang memelas.

Rukia melepaskan tangan Kaien dari pinggangnya dan berlari menjauhinya, belum sampai Rukia masuk ke dalam rumah, ia menjulurkan lidahnya.

"Biar saja!"

"Awas kau, Rukia-chan! Aku akan menerobos pintu kamar mandimu!"

Kaien mengejar Rukia, Rukia menjerit kecil kemudian berlari lagi sambil tertawa. Sungguh, keluarga kecil yang sangat bahagia!

Setelah Rukia mandi, ganti Kaien yang mandi, sementara Rukia menyiapkan makanan untuk makan siang. Setelah masakan sudah selesai, mereka makan bersama di ruang makan unik milik mereka.

"Ini enak!" ujar Kaien saat melahap masakan Rukia.

Rukia tersenyum, "Ya, tentu saja!" entah kenapa ia ingin memasak kare hari ini.

"Mm… besok aku harus kembali bekerja."

"Oh ya? Kerjamu di Seireitei, kan?"

Kaien menatap makanannya, ada gurat kesedihan di wajahnya, membuat Rukia mengerutkan keningnya.

"Tidak. Ada di Inuzuri."

"Jauh sekali! Apa kau harus pulang-pergi Inuzuri-Seireitei setiap hari?"

"Aku akan menginap untuk beberapa hari."

DEG!

"Dan meninggalkanku?" lirih Rukia, ada setitik perasaan tidak rela di dalam hatinya. Tidak! Ia tidak ingin ditinggal sendirian di sini.

"Aku akan kembali secepatnya," ujar Kaien sambil tersenyum, namun Rukia tahu bahwa hal itu tidak akan bisa menghibur dirinya saat ini.

"Janji?"

"Tentu saja aku janji, Rukia-chan!" sahut Kaien dengan semangat.

"Baiklah kalau begitu…" Rukia hanya bisa pasrah, sejenak semangatnya menjadi luntur.

^Love You Like A Dream^

Seireitei, 14 November 2011

Jam menunjukkan pukul 9 tepat saat Kaien telah berdiri di depan pintu dengan tas kerjanya dan kemeja rapi, bersiap akan pergi ke Inuzuri. Setelah sarapan dan berbincang-bincang sejenak, Kaien berangkat. Diperkirakan mungkin nanti tengah hari akan sampai di lokasi pembangunan. Rukia memeluk erat suaminya, begitu pula dengan Kaien yang membalas pelukan istrinya begitu erat. Rukia tidak takut sendirian di rumah ini, hanya saja… ia takut terjadi apa-apa pada suaminya. Entah kenapa hatinya merasa tidak rela ditinggal pergi oleh suami tercinta. Ada perasaan aneh yang berkecamuk di pikirannya, seperti… perpisahan? Dan… hey! Kenapa suasana langit begitu suram? Apa karena bulan depan sudah menginjak musim dingin?

"Berjanjilah kau akan kembali, Kaien-dono," lirih Rukia, masih belum melepas peluknya.

"Ya, aku janji. Apa yang kau minta? Aku akan membawakan oleh-oleh untukmu."

Rukia tersenyum lemah, menatap kedua mata suaminya dengan amethyst miliknya, "Tidak. Bagiku… Kaien-dono kembali dengan selamat adalah oleh-oleh yang paling berharga."

Kaien tersenyum, "Baiklah kalau begitu," kemudian Kaien mencium singkat bibir Rukia, kemudian beralih ke keningnya, setelah itu barulah ia melangkah masuk ke dalam mobilnya.

Sebenarnya Rukia enggan melepas kepergian suaminya, namun ia tidak kuasa untuk mencegahnya.

"Jaga rumah baik-baik, ya!" seru Kaien sambil mengangkat sebelah tangannya.

Rukia hanya membalasnya dengan anggukan lemah. Setelah itu mobil Kaien benar-benar menghilang dari jangkauan matanya. Perlahan, air mata Rukia turun, mengalir di pipinya. Kenapa? Kenapa air mataku harus turun di saat-saat seperti ini? Menyebalkan, bukan?

^Love You Like A Dream^

Tidak, Kaien tidak melajukan mobilnya ke Inuzuri. Ia justru melajukan mobilnya ke Karakura, baru setelah itu ia meluncur ke Inuzuri, padahal inuzuri dan Karakura adalah 2 tempat yang berlawanan arah. Kaien meraih ponselnya dan mengangkat telponnya saat ia merasakan ponselnya bergetar. Ia tahu siapa yang menelpon, bahkan tanpa melihat layarnya terlebih dahulu.

"Ya, aku sedang menuju ke Karakura, tunggu aku di kafe biasanya. Aku baru saja berangkat, jadi kau bisa santai menungguku. Baiklah, ja na!"

Kaien kembali memfokuskan pandangannya pada jalanan. Ya, ia harus menemuinya dan meminta tolong padanya walau sebenarnya ia enggan.

Setelah melewati perjalanan panjang yang cukup melelahkan, akhirnya Kaien sampai di Kota Karakura. Langsung saja ia menuju ke kafe tempat dulu biasanya ia berkumpul. Yah, sekaligus merasakan nostalgia walau hanya dengan seseorang. Setelah memarkir mobilnya, Kaien melangkah masuk ke dalam kafe, sesaat saja ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kafe, ia telah menemukan sosok itu. Sosok itu tengah duduk di kursi dekat jendela, dan Kaien tahu pasti bahwa tempat itu adalah tempat favorit sosok itu, dan juga… tempat favorit istri tercintanya.

"Maaf membuatmu lama menunggu," ujar Kaien yang duduk di hadapan sosok itu, sebaliknya sosok pemuda itu hanya meliriknya sesaat, lantas kembali menatap ke luar jendela kaca.

"Ada apa kau tiba-tiba ingin bertemu denganku, Kaien-senpai?" tanya sosok itu dingin.

Kaien hanya tertawa kecil, sebisa mungkin tidak merasa terusik dengan ucapan dingin itu, "Ayolah, Ichigo-kun! Aku hanya ingin berbicara! Bukankah ini kedua kalinya kita berbicara?"

Tampak Ichigo hanya memutar bola matanya, "Langsung saja katakan apa maumu, Kaien-senpai," masih nada tak bersahabat itu lagi.

Lantas Kaien menunduk. Rasanya berat untuk mengutarakan apa yang ada di pikirannya saat ini, namun apa lagi yang bisa ia lakukan? Ini semua demi Rukia, demi Rukianya!

"Aku hanya ingin meminta bantuanmu."

Ichigo masih tak menjawab, memberikan kesempatan penuh bagi Kaien untuk menyelesaikan kata-katanya. Sebaliknya, Kaien menarik napas berat, kepalanya masih menunduk, enggan menatap Ichigo.

"Tolong jaga Rukia-chan," pinta Kaien lirih.

"Cih! Apa kau sadar meminta tolong pada siapa? Apa kau tidak menyadari perasaanku pada Rukia? Apa kau-"

"Aku sudah tahu itu, Kurosaki Ichigo!" sahut Kaien tegas, namun terdengar putus asa, "Aku sudah tahu bagaimana kau sangat mencintai istriku, tapi tolong… jaga Rukia selama aku pergi. Aku hanya tidak ingin melihatnya menangis kesepian. Aku tidak tenang bila berpisah dengannya begitu lama bila ia terus merasa tersakiti."

"Lalu bagaimana dengan Orihime?"

"Aku hanya memintamu untuk menjaga Rukia, bukan menemaninya setiap hari selama 24 jam, dan kau masih bebas bersama kekasihmu itu."

"Apa kau tidak cemburu padaku?"

Kaien diam sejenak, menghela napas berat, kemudian tersenyum lemah, "Tentu saja aku cemburu! Tapi bagaimana lagi? Kau adalah satu-satunya orang yang bisa aku andalkan, terlebih kau sudah mengenal Rukia-chan begitu lama."

Lantas, Kaien melihat senyum di bibir Ichigo, wajahnya mendadak berubah cerah, tidak sesuram tadi.

"Kau tahu sendiri, kan? Tanpa kau meminta, aku pasti akan menjaga Rukia, dan aku… tidak melakukannya demi dirimu," ujar Ichigo, nada bicaranya menunjukkan seakan-akan dirinya masih begitu menginginkan Rukia secara terang-terangan di hadapan Kaien.

Awalnya Kaien terkejut dengan pernyataan pemuda berambut oranye yang duduk di hadapannya ini, namun kemudian ia tersenyum lemah, "Begitukah? Yokatta!" lantas, Kaein bangkit dari duduknya, "Kalau begitu, aku tenang meninggalkan Rukia-chan. Arigato, Ichigo-kun."

"Yo!"

Kemudian, Kaien pergi meninggalkan Ichigo yang masih duduk sendiri di tempatnya semula, dan sepertinya Ichigo masih bingung dengan perkataan Kaien.

Still not over


Arigato udah baca!

Waaaaaa…. Izumi takut dibantai sama IchiRuki FC… *sembunyi di kolong meja

Tapi tenang saja, chapter depan udah gak ada Kai-Ruki yang kaya' gini lagi, Izumi jamin setelah ini udah balik ke Ichi-Ruki, yah… walaupun ada beberapa scene Ichi-Hime di chapter berikutnya.

Gimana lanjutan cerita Izumi kali ini? Mengecewakan, kah? Masih banyak bahasa yang tidak teratur ya? Gomen, sepertinya kemampuan menulis Izumi jadi tumpul deh, gara-gara gak ada waktu buat nulis cerita, huft~ -_-

Ah iya, masih ingat chapter di mana Kaien ngelamar Rukia? Ya… bisa dihubungkan dengan chapter ini, tepatnya setelah Kaien pamitan sama Rukia bakal pergi karena ada proyek besar dan bakal gak nemuin Rukia sampai kelulusan tiba, masih ingat kan gimana scene kelulusan mereka?

Hmm… semoga aja gak bosen sama fic Izumi ini, dan Izumi buat chapter ini lebih pendek! Hahaha Izumi gak ada cukup ide bila menyangkut masalah pair lain selain IchiRuki.


Waktunya bales review

Buat uzumaki. kuchiki : waaah! Sepertinya itu akan terungkap di chapter depan… sabar yaa! Waaaaa, Izumi takut diteroooor….

Buat Keiko Eni Naomi : Iya di chapter kemaren si Ichigo dapat penolakan… moga di chapter depan enggak yaaa… hehe

Buat Naruzhea AiChi dan darries: iyakaah? Sampe nyesek2? Hihih Izumi terharu…. Ah! Iya, semoga saja tangan Izumi tergerak ke happy ending… hehehe

Buat rarachi : hai rarachi-san! Iya gak apa-apa kok… heeheh. Iyakah? Arigatooo! Hihihi Izumi memang buat seperti itu, dan lanjutannya ada di chapter selanjutnya. Sabar yaaa…

Buat AlwaysIchiruki : Yup! Pinter! Ternyata Anda cukup jeli dalam fic Izumi yang biasa-biasa ini… nyahahaha~ bahkan usia pernikahan mereka mungkin Cuma sekitar 1 minggu aja… dan sepertinya di chapter ini harapan Anda terkabulkan… hehehe

Buat white moon uchiha : nee~ itu lebih baik… hehehe. Oke arigato~ udah ngasih semangat! ^_^

Buat MyProudlygez : hay, salam kenal juga! Iyakaaah? Arigatooo! ^_^ oia, sepertinya chap ini tambah bikin MyProudlygez-san gregetan cuz hampir seluruhnya menceritakan Kai-Ruki… hehehe, gomen yaa~ di chap depan udah gak ada adegan kaya' di chap ini lagi koook…

Buat life's really hard : hihi Izumi baru nyadar kalo disini Izumi bener2 bikin Ichi sangat (sangat-nya dobel-dobel) tersiksa! Hiiiy Izumi takut diterooor *Sembunyi di bawah kolong meja. Izumi usahain happy ending koook ^_^

Buat hendrik. widyawati : wah, yang itu jawabannya masih di chap depan, semoga Hendrik-san mau nunggu chap depan fic Izumi ini… hehehe

Buat berry biru : hihi jawabannya Rukia dateng ke rumah Ichi ada di chapter depan, hehe. Umm… berarti berry-san setuju kalo seandainya fic ini dibuat jadi sad ending? Heehe, tapi Izumi masih mempertimbangkan ending yang cocok untuk fic ini… *huft padaal ini sudah mendekati chapter akhir -_-

Buat kurosaki yuria : haiii salam kenal jugaaa! Yuria-san *boleh Izumi panggil gitu?* anaknya IchiRuki kah? Hhehehe *gomen author lagi eror. Iya nih Izumi udah lanjut… yup! Jelas sudah pasti Izumi menyatukan mereka, dan entah akan berpisah lagi atau enggak, hehehe

Buat chinguchan : wah arigatooo banget lo koreksiannya! Oia, tulisan "Seireitei" di fic Izumi ini udah bener belom ya? Izumi ragu nulisnya… hehe. Oh iya, kalo itu… jawabannya ada di chapter depan… semoga chinguchan mau nunggu yaaa~ *wishing

Buat KeyofHeart : asiiik Izumi punya Senpai! Hihihi *kumat alay-nya* iya fic ini mengharu biru dan mungkin chapter ini sejenis flashback selingan gitu… waaaah… honto ni arigatoo Senpai udah nunggu fic Izumi ini… ah iya… Izumi juga masih setia nunggu fic Senpai kooook! ^_^ so, sama-sama apdet kilat yaaa! Hehehe *wishing

Buat aeni hibiki : hihi arigatoo! Iya nih Izumi udah apdet, mm… arigatoo yaa udah nunggu fic Izumi…

Buat yang baca fic Izumi ini, arigatoo! Buat yang baca dan ngasih review, honto ni arigatooo dan tetep nge-review yaaa! Hehehe *wishing, dan buat yang baca, ngasih review, dan ngasih saran… terima kasih banyak! Sungguh! Saran temen-temen berarti banget buat Izumi…

Oke, cukup berkicaunya, apa Izumi boleh melanjutkan fic multichap ini sampe complete, minna?