Chapter 10
Inaba pov
Sudah 2 minggu sejak gelagat aneh dari Shino, tapi sampai sekarang dia belum menjelaskan apa yang sedang terjadi, dia selalu diam jika aku bertanya hal itu, aku melihat salju yang turun dengan pelannya walaupun dinginnya bisa menusuk badan yang sudah dibungkus oleh berlapis – lapis kain, aku terus menunggu di sana menunggu kemunculan orang yang kuharapkan akan datang, aku melihat jam tanganku yang sudah kurang terlihat karena embun – embun salju.
"dia itu kemana sih!? Padahal sudah jam segini, seenaknya saja dia membuatku menunggu selama ini" dengan kesal aku menghentakkan kakiku, aku mengusap kedua telapak tanganku menahan dingin, tidak lama tiba - tiba ada seseorang yang berdiri di depanku, aku mengangkat kepalaku melihat orang tersebut.
"maaf aku terlambat" dengan tenangnya dia tersenyum padaku bagaikan tidak terjadi apa – apa, aku mendengus kesal padanya.
"Taichi, apa kau sadar kau sudah melakukan sesuatu yang salah?" dia hanya tertawa kecil, aku hanya tersenyum datar melihat sikapnya yang polos itu.
"yah, hanya kali ini aku memaafkanmu, untuk selanjutnya kau tidak boleh mengulanginya lagi" aku mulai berjalan menyisiri jalan dengan Taichi di sampingku, hari ini kami hanya ingin jalan - jalan di kota sebelah.
"cepat sekali yah, tidak terasa libur hampir berakhir" ujarnya dengan santai.
"lebih baik kau harus cepat - cepat memikirkan kariermu untuk ke depannya atau kau tidak akan menjadi pria yang baik" ujarku dengan memberikan cengiran khasku, dia hanya sedikit terkejut dan memalingkan wajahnya ke arah lain dengan memelas.
"apa kau sudah ada rencana?" tanyaku.
"tidak ada, aku masih belum tahu aku harus kemana, ngomong - ngomong.." Taichi langsung saja menggenggam tanganku, aku merasa semburat merah menjalar di pipiku.
"hari ini kita sedang kencan, lebih baik jangan membicarakan hal yang membuatku murung seketika" ujarnya mendekatkan wajahnya kepadaku.
"na!? Jangan menggodaku!" aku melirik ke arah lain dengan kesal sambil menutup semburat merah di pipiku walaupun aku masih memegang tangannya.
"hahaha tapi kau senang kan? Bisa memegang tanganku?" ledeknya.
"yah sedikit sih" ujarku menunduk menahan malu.
Akhirnya aku berjalan bergandengan tangan dengan Taichi.
"ah benar, apa kau melihat kualifikasi Chihiro kemarin lusa? Aku tidak sempat melihatnya gara - gara Rina memaksaku untuk pergi menemaninya belanja, aku sama sekali tidak bisa menolaknya haha"
"aku tidak tertarik dengan hal seperti itu, lagipula Chihiro pasti lolos kan? Dilihat dari latihannya selama ini" ujarku.
"kau tidak mendengar kabarnya, Chihiro tidak lolos" aku tidak percaya dengan perkataannya, Chihiro tidak lolos!?
"dia tidak lolos? Apa yang terjadi?" tanyaku.
"aku tidak melihatnya, tapi dari temanku dia bilang Chihiro langsung kalah telak di babak pertama, bahkan dia sama sekali tidak bisa konsentrasi selama latihan dan selalu melukai dirinya sendiri" ada yang tidak beres disini, itu berarti sikapnya benar - benar berubah sejak Shino berlari sambil menangis. Aku tidak bisa menunggu lagi, aku akan bertanya dengannya setelah liburan nanti, aku akan memaksanya untuk mengungkapkan semuanya walaupun dia tidak mau. Selagi aku memikirkan hal tersebut, pandanganku langsung berubah arah menuju kaca restoran keluarga melihat kedua orang yang kukenal sedang bersenda bergurau.
"Yui dan Aoki? Apa yang mereka lakukan?" aku menempelkan wajahku di kaca besar untuk memastikan penglihatanku benar.
"apa yang kau lakukan Inaba? Kau terlihat seperti stalker, ayolah kita punya rencana kita sendiri, jangan mengganggu yang lain" Taichi sweat drop melihat tingkah lakuku, aku tidak peduli dan terus melihat mereka.
"apa kau tidak tertarik Taichi? Ini kesempatan kita melihat bagaimana kelakuan mereka jika hanya berdua di tempat seperti ini" ujarku dengan semangat.
Normal pov
"Yui bagaimana enak?" tanya Aoki dengan senyuman polos di wajahnya.
"mah seperti biasa, lagipula aku sudah sering makan di tempat ini" Aoki langsung sweat drop mendengar jawaban singkat dan menusuk.
"kalau begitu kenapa kau tidak bilang dari tadi Yui!?, padahal aku sudah menyiapkan jadwal matang untuk kencan kita hari ini" Serunya tidak percaya.
"aku tidak bisa menolakmu, lagipula aku akan mengikuti kemanapun kau pergi" Aoki terlihat terkejut dengan jawaban Yui, seketika bening - bening air mata muncul di matanya.
"aku senang sekali, kau sudah menerimaku sejauh ini" ujarnya sambil mengusap air matanya.
"kau terlalu berlebihan" terlihat semburat merah di pipinya.
"berarti kau sudah berani melakukan itu dong?" Yui memiringkan wajahnya tidak mengerti.
"aa~~" Aoki membuka mulutnya dan tanpa pikir panjang pukulan perut membuat Aoki menjerit kesakitan.
"Oww! Apa yang kau lakukan Yui!?" rintis Aoki memegang perutnya.
"tiba - tiba saja kau mendekatkan wajahmu, secara refleks aku akan membalas perlakuanmu, jangan salahkan aku" apa maksudnya itu! Jerit Aoki dalam hati.
"kalau kau segitu inginnya disuapi olehku, sebaiknya bilang dari awal" ujar Yui mengadahkan sendok ke mulutnya, butuh waktu lama bagi Aoki untuk meresponnya.
"kau mau atau tidak!? Jangan membuatku malu" serunya dengan blushing berat, Aoki langsung spontan membuka mulutnya.
"baik! aaa~~" Yui terus mempertahankan keseimbangan tangannya sampai pandangannya teralihkan orang yang menempel di kaca yang terus melihatnya, tidak sadar Yui mendorong sendoknya masuk ke dalam mulut Aoki dengan kecepatan penuh membuat Aoki tersedak.
"apa yang kau lakukan disini!?" teriak Yui dengan amarah yang sangat dahsyat.
"gawat, kita tertangkap basah, ayo lari" Inaba langsung meraih tangan Taichi dan menariknya.
"ka~li~an~ ma~u~ ke~ma~na~!?" terlihat jelas sekali aura hitam yang mengalir di sekujur tubuhnya, Yui benar - benar sangat marah, sangat..
Inaba sama sekali tidak bisa menandingi Yui dengan amarah yang sangat bergejolak, Taichi hanya sweat drop dan menghela nafasnya dan bergumam "sudah kubilang jangan lakukan". Akhirnya Yui menarik Inaba Dan Taichi masuk ke dalam restaurant dimana Aoki sudah menunggu mereka.
"itte~ mulutku masih sakit.. Taichi dan inaba-chan, kenapa kalian mengganggu moment terbaikku tadi?" tanyanya sambil mengelus pipinya.
"salahkan Yui, aku hanya ingin melihat" Taichi hanya menatap datar melihat pacarnya yang sama sekali tidak mengakui kesalahannya, sama halnya dengan Yui.
"Oh ya, kau sudah tau? Kalau Chihiro kalah dalam kualifikasi karatenya?" terlihat jeda dari Yui yang langsung tersedak teh yang dia minum.
"di-dia kalah? Kenapa bisa? Padahal aku sudah melatihnya dengan keras" cara bicaranya terlihat gugup sekali membuat Inaba semakin curiga.
"apa kau tau ses-" "Ah! Air tehnya sedikit mengenai bajuku, maaf.. aku mau ke toilet dulu" Yui langsung bergegas menuju ke toilet. Sementara itu Inaba menggigit jarinya menahan rasa penasarannya.
"aku juga mau ke toilet, kalian berdua tunggulah sebentar disini" Inaba pun dengan cepat berjalan mengejarnya. Aoki terlihat sedikit panik, Taichi pun menyadari sesuatu dan bertanya kepadanya.
"Aoki, apa terjadi sesuatu?" tanyanya sambil meminum kopinya.
"kau.. Jangan - jangan dari awal kalian berdua sudah merencanakannya!?" tuduh Aoki dengan kesal.
"tidak, aku pun baru menyadarinya ketika Inaba tidak bisa diam di sampingku" ujar Taichi dengan tenang.
"lalu, apa kau mau menceritakannya? Dari awal aku memang sudah merasakan bahwa ada yang aneh dengan Kiriyama, dia sama sekali tidak mau berbicara dengan Chihiro, dan Enjouji juga tidak mau berbicara banyak kepada kita. Sebenarnya, apa yang dirahasiakan Kiriyama kepada kita? Begitu pula dengan mereka berdua" ujarnya sambil mengaduk - aduk kopinya.
"tidak ada yang harus aku jawab, kau harus menanyakannya padanya, itu keputusannya" ujarnya.
Yui menatap wajahnya di hadapan cermin, meratapi betapa bodohnya dia sama sekali tidak bisa bertindak biasa di depan Taichi dan Inaba. Dia tau betul bahwa Inaba berusaha mencari tau rahasianya. Dia teringat dulu, Inaba lah yang pertama mengetahui kalau dia mempunyai androphia, Inaba sangat cepat dalam menanggapi situasi, dan sekarang dia berusaha membuatnya mengakui semuanya. Terdengar suara pintu terbuka dan tertutup di belakangnya, Yui sudah menyadari keberadaannya datang ke tempat ini.
"tidak ada yang mau aku katakan Inaba, aku hanya ingin membersihkan noda di bajuku, itu saja" ujarnya.
"Mirai Koe ya, kau sudah tau apa yang akan kukatakan, itu menjadi lebih mudah" Inaba memberikan cengiran khasnya, dengan perlahan dia memutar kunci pintu di belakangnya.
"lalu apa? Kau akan menginterogasiku dan mengunci pintu di belakangmu itu sehingga tidak akan ada orang yang bisa masuk ke dalam dan mengganggu pembicaraan kita?" Inaba sedikit membulatkan matanya seakan tidak percaya dengan pendengarannya.
"sejauh mana kau mendengarnya? Memang benar, aku mengunci pintunya, itu agar kau mau menjawab semua pertanyaanku hari ini Yui"
"hah.. Kenapa kau suka sekali mencampuri urusan pribadi orang lain Inaba?" dia menyalakan air kran di depannya dan mencuci tangannya.
"tentu saja, jika ada hubungannya dengan Mirai Koe, aku akan berusaha untuk mengetahui semuanya"
"sudah cukup dengan egomu itu Inaba, aku sudah muak dengannya" ujarnya dengan kesal, Inaba hanya melipat kedua tangannya di dadanya.
"maafkan aku karena bersifat seperti ini, tapi sudah seharusnya, aku tidak akan membiarkan kalian jatuh di dalam perangkapnya" satu kalimat yang membuat Yui sedikit tersadar, selama ini Inaba hanya memikirkan Mirai Koe sehingga gelagat aneh pun dia menganggapnya seperti itu.
"maaf Inaba, tapi sudah kubilang kalau ini tidak ada hubungannya dengannya, ini hanya masalah pribadiku saja"
"tapi kenapa kau sampai membawa - bawa Chihiro dan Shino ke dalam masalah?" tanyanya. Sekarang Yui mulai susah dalam membalasnya, apa yang harus dikatakannya?
Aoki sama sekali tidak bisa berhenti menghela napas, dan Taichi hanya membaca buku yang sudah dia bawa dari rumah, sepertinya hal tadi membuat mereka sama sekali tidak mau membuka mulutnya, tapi seketika pukulan pundak menyadarkan mereka.
"UWA!"
"hehe kalian terkejut yah? Sedang apa kalian disini?" ternyata yang membuat mereka terkejut tidak lain adalah Nagase Iori.
"Iori-chan! Apa yang kau lakukan disini?"
"aku sedang belanja dan tiba - tiba aku melihat kalian disini, jadi aku mampir untuk menyapa kalian. Hanya berdua? Tumben sekali melihat kalian pergi berdua saja"
"tidak.. Inaba dan Kiriyama berada di toilet jadi kami sedang menunggu mereka" ujar Taichi.
"kau jangan berbicara seperti kau tidak tau apa yang sedang terjadi Taichi!" seru Aoki memukul meja dengan sepelan mungkin.
"tenang Aoki, aku tau perasaanmu tapi biarkan Inaba yang mengatasi semuanya" ujar Taichi berusaha menenangkannya.
"aku tidak tau apa yang terjadi, tapi aku akan menemui mereka" Iori langsung berjalan menuju ke tempat Inaba dan Yui.
"jawab aku Yui.. Kenapa kau membawa Shino dan Chihiro ke dalam masalah pribadimu?" Yui hanya menunduk enggan melihat wajah Inaba secara langsung. Inaba pun memegang pundaknya dan meremasnya.
"kau tidak mau mengatakannya?" Yui menganggukkan kepalanya.
"tch.. Kau ini keras kepala sekali, baiklah aku menyerah" Yui menghela nafas lega.
"tapi untuk terakhir kalinya dengarkan aku Yui, jika kau benar - benar membawa mereka dalam masalahmu lebih baik kau meminta maaf kepada mereka sebelum terlambat. Fenomena ini tidak akan berakhir jika kita tidak bersatu untuk menghadapinya" Inaba tersenyum kepadanya, Yui kembali menunduk sembari menjawab "ya". Terdengar suara ketukan pintu dari luar.
"halo~ Inaban, Yui, kalian di dalam? Aku sama sekali tidak bisa membuka pintunya, kau menguncinya Inaba? Kalau begitu lebih baik kau membukanya, karena sebentar lagi mungkin Taichi dan Aoki akan berdebat tiada henti. Jadi,, kalian keluar yah?" knop pintu tersebut berputar dan terbuka menunjukkan Inaba dan Yui.
"Iori, apa yang kau lakukan disini? Tanya Inaba dengan heran.
"aku hanya kebetulan lewat sini.. Daripada itu lebih baik kalian cepat - cepat sebelum Taichi dan Aoki bertengkar lagi" sesampainya ke meja mereka, Aoki langsung menghampiri mereka.
"Yui! Kau tidak apa - apa!? Apa Inaba-chan melakukan sesuatu padamu!? Inaba-chan, kau harus menjelaskan semuanya kepadaku nanti" ujar Aoki sambil menggenggam kedua tangan Yui.
"iya, iya.. Sebelum itu kau harus memberitahu rahasiamu kepada kita" mata Yui melebar dan terlihat sangat khawatir.
"Inaba! Kau bilang kau tidak mau membicarakannya lagi! Kenapa!?" seru Yui tidak percaya.
"maaf.. Tapi aku memang tidak bisa membiarkannya. Aoki.. Apa yang kau dan Yui rahasiakan?" Aoki tetap diam dan hanya menundukkan kepalanya, sorot mata semua orang tertuju ke mereka.
"seperti tempat ini tidak cocok, bagaimana kalau kita pindah saja?" akhirnya mereka sepakat untuk keluar dari restoran tersebut dan pergi ke taman yang sepi tidak ada satupun anak - anak yang bermain disana.
"dan.. Bisa kau jelaskan?" Aoki tetap diam, Yui menatapnya dengan khawatir.
"sebelum itu Inaba-chan.." Aoki memegang dagu Yui lalu menariknya dan memberikan kecupan di bibirnya.
"mmmh!" Yui tidak bisa mengelak, dia hanya bisa terdiam pasrah dicium sambil dilihati langsung oleh Taichi, Inaba dan Iori.
"a-apa yang kau lakukan?" tanya Inaba dengan semburat merah di pipinya.
"kyaaa~ Aoki mencium Yui~ kau sudah berani yah Aoki-san~" goda Iori sambil menunjuk - nunjuknya.
"Nagase.. Sepertinya kau salah untuk meresponnya.. Dan he-"
"Hey! Sampai kapan kalian terus bermesraan seperti itu!? Kau kira aku dan Taichi tidak pernah melakukannya, aku sudah menciumnya lebih banyak daripada kalian! Iya kan Taichi?" seru Inaba sambil tersipu malu.
"sejak kapan kau menganggapnya sebagai pertandingan!? Aku juga tidak akan menjawabnya!" seru Taichi ikut tersipu.
"enaknya~ Taichi sudah mencium Inaba seperti mencium bantalnya sendiri" ledek Iori dengan menutup mulutnya guna menutupi semburat merah di pipinya.
"Nagase! Aku tidak pernah mencium bantalku sesering itu! Shimatta!" Taichi keceplosan bicara, sontak dia langsung menutup mulutnya.
"hehe~ sesering itu?" Iori menyipitkan matanya sembari menatap Taichi dengan pandangan ingin tau lebih dalam lagi. Taichi hanya diam pasrah saja.
"fuahh! Hentikan kalian, ini salah paham! Aoki! Ada apa dengan kau? Tiba – tiba menciumku seenaknya, aku belum mempersiapkan apa – apa.. dan di depan semuanya.. kau ingin membuatku malu hah?" ujarnya sambil memainkan jarinya.
"iya~~ aku sudah rindu dengan rasa di bibirmu tanpa pikir aku sudah melakukannya, maafkan aku Yui" ujarnya menunduk dengan rasa menyesal.
"untuk kali ini saja aku memaafkanmu, lain kali tolong bicarakan kembali denganku"
"Baik!" seru Aoki dengan semangatnya.
"ya ampun.. jika diteruskan seperti ini, aku harus memikirkan nama panggilan baru untuk Yui, DereYui? Dere Dere Yui? Tsundere Yui?" Iori mulai kembali dengan dunianya sendiri.
"jangan membuat nama – nama aneh seperti itu, aku juga tidak tsundere!" seru Yui membantah Iori.
"stop – stop~~ iya, bercandanya sampai sini saja, kau tau Aoki.. kau sangat hebat dalam mengganti topik pembicaraan, aku pun sampai lupa apa tujuanku. Aoki.. kau berusaha untuk menyembunyikan hal ini demi Yui kan? tapi ini tidak akan merubah pikiranku untuk menyerah untuk tidak mengetahuinya, jika ini diteruskan.. sampai kapanpun Mirai Koe tidak akan selesai.." ujar Inaba dengan seriusnya.
"kenapa kau seyakin itu? Kita tidak tau bahwa ini tidak akan selesai jika kita tidak bersama kan? jangan membuat kesimpulan seperti itu Inaba-chan" Aoki membalas dengan kesal. Memang selalu seperti ini, Fuuzen Kazura selalu mencari kesenangan dari kita berlima, dia pun akan mencoba membuat kita semua selalu bersama apa pun caranya sampai Chihiro dan Shino menjadi anggota CRC dia pun membawa – bawa mereka ke masalah kita.
"bukankah selalu seperti ini?" tanya Inaba dengan santai, Yui mengepal tangannya dan menggigit bibirnya.
"baiklah, jika itu maumu.. kau hanya ingin tau kan?" Aoki sedikit terkejut, dia menggenggam tangannya.
"kenapa kau!? Bukankah kau tidak mau memberitahunya ke siapapun?"
"tidak apa – apa kan? tadi kau juga mengatakannya kan.. kalau Yui yang akan memutuskannya" ujar Taichi dengan tersenyum lembut.
"itu benar sih.." ujar Aoki.
"tidak apa – apa Yui? pikirkanlah lagi kalau kau ingin mengatakannya" Iori sedikit membujuknya walaupun dalam hatinya dia ingin sekali mengetahuinya.
"tidak usah dipikirkan.. lebih cepat kau beritahu kami apa yang kau sembunyikan"
"Inaban! Bukannya itu terlalu memaksa! Biarkan Yui untuk memikirkannya" seru Iori.
"tidak apa – apa Iori.. aku sudah memutuskannya untuk memberitahu semuanya.." ujar Yui tersenyum kepadanya.
"Yui.." ujar Iori.
Yui akhirnya memberitahu semua yang dia rahasiakan kepada mereka termasuk dengan kejadiannya dengan Chihiro di dojo begitupun dengan Mirai Koe, mendengar alasan kenapa Yui tidak memberitahu Mirai Koe yang sebenarnya membuat Inaba menaikkan urat dahinya sampai di atas alis matanya.
"kenapa kau tidak memberitahu yang sebenarnya Yui!? kau sudah berjanji untuk tidak melakukannya sendiri lagi kan? kenapa kau keras kepala sekali?" seru Inaba dengan kesal, memperlihatkan muka marahnya kepada Yui membuatnya semuanya tidak berani untuk menjawab balik.
"Kiriyama punya alasan sendiri Inaba.. jangan terlalu dipikir-" perkataannya langsung dipotong olehnya.
"kau selalu saja membelanya Taichi! Dia selalu seperti ini, tidak pernah memberitahu yang sebenarnya bagaikan kalau dia ini tidak mempercayai kita! Kau pikir kita semua ini apa? Kita sama – sama terlibat dengan fenomenanya, sebaiknya kau lebih banyak memberitahu apa yang kau dengar! Jangan menungguku untuk menyuruh dan memaksamu" Inaba sama sekali tidak bisa dihentikan, Taichi pun berhenti untuk berbicara lagi.
"Inaban.. sudahlah.." bujuk Iori dengan lembut.
"maafkan aku.. kalau aku memberitahu kalian, pasti Chihiro dan Shino tidak akan seperti sekarang.. maafkan aku.." Yui sudah meneteskan air mata, Aoki hanya melihatnya datar dan terus menggenggam tangannya.
"jangan meminta maaf kepadaku.. yang harus kau lakukan adalah meminta maaf ke mereka berdua, kali ini aku tidak ada hubungannya dengan ini, tapi selama Mirai Koe masih berjalan pasti aku akan terus mencari informasi yang berguna dari kalian semua, mau itu privasi atau bukan.."
Yui pov
itu benar, jika secuil Mirai Koe yang terdengar bisa memperlihatkan masa depan, pasti masa depan itu pun bisa diubah dengan usaha dan juga kepercayaan kita kepada orang lain, tapi untuk kali ini.. apa bisa dirubah? Apa aku bisa mengembalikan keadaan menjadi seperti semula? Seperti sedia kala? Apakah dengan meminta maaf saja cukup? Tidak.. tidak.. meminta maaf tidak akan cukup, aku sudah melakukan hal yang kejam berulang – ulang kali, tidak memikirkan perasaan orang lain bahkan aku tidak memikirkan apa yang dirasakan Chihiro.. aku ini memang orang yang kejam.. tapi Aoki tidak pernah menyetujui semua prasangka yang aku lontarkan, dia selalu mengatakan hal – hal yang baik tentangku.. hah~~ dia memang orang yang baik.. Aoki..
Yosh! Aku akan langsung meminta maaf kepada mereka mulai besok, mungkin aku akan memulainya dari Shino, dia terlihat shock dengan kegagalan Chihiro dan juga sejak kejadian itu, dia sama sekali tidak mau berbicara dengannya, mungkin karena aku telah menci- ah tidak! Aku mengingatnya lagi! Hah.. kepalaku sudah penuh dengan kata – kata maaf.. mungkin mengaku kepada Inaba dan semuanya sedikit melapangkan pikiranku, terimakasih Inaba, Taichi dan juga Iori, dan juga kau Aoki..
To Be Continue in Chapter 11
Akhirnya selesai! Wah sudah lama sekali sejak terakhir update yah. Author punya banyak sekali kesibukan di dunia nyata, senin Author akan ada try out dan juga Author harus memikirkan universitas yang Author inginkan (Weiss! Malah nyeleweng curhat nih hehe!) oh ya ini adalah chapter dimana chapter selanjutnya bakalan lebih lama lagi updatenya, makanya chapter kali ini lebih panjang dari biasanya. Terima kasih sudah membaca Fanfic Author termasuk Kokoro Connect Hold Hands dan juga yang lainnya, Author sangat senang jika melihat ada seseorang yang membaca Fanfic Author. Mungkin sampai sini, jangan lupa Reviewnya yah teman – teman~~
