"Menma, Hey! Buka pintunya!" ucap Naruto dengan volume keras sambil menggedor-gedor pintu kamar Menma.
"…"
"Menma! Berhenti bercanda, ini tidak lucu!" teriak Naruto sekali lagi karena tidak ada sahutan sama sekali dari Menma. Ayame─salah seorang pelayannya tadi sempat mengatakan bahwa Menma tidak keluar sama sekali dari kamarnya setelah kedua orang tua mereka pergi untuk perjalanan bisnis. Para pelayan sudah berulang kali memanggilnya tapi tetap juga tidak ada jawaban dari dalam kamar. Maka dari itu Ayame langsung menelephone Naruto karena bagaimanapun mereka sebagai pelayan tidak memiliki kewenangan untuk memaksa masuk ke dalam kamar Menma.
"Tenanglah, Namikaze!" seru Hinata menenangkan Naruto yang tampak kalut. Sebenarnya Hinata juga merasa ngeri karena sejak mereka tiba Naruto terus saja berteriak dengan begitu keras, ditambah lagi tangannya tampak semakin memerah karena tak henti-hentinya menggedor pintu kamar Menma.
"Bagaimana aku bisa tenang, sementara aku tidak tahu apa yang terjadi dengan si bodoh itu di dalam," ujar Naruto kepada Hinata. "Hey baka! Kau tuli hah, cepat buka pintunya!"
Naruto menoleh kebelakang. Menatap tajam beberapa pelayannya yang juga tampak khawatir dengan keadaan tuan muda mereka. "Kenapa lama sekali?! Dimana kunci cadangannya!" sentaknya keras.
"Maaf Naruto-sama, mungkin sebentar lagi dia akan sampai," kata Ayame pelan. Bodohnya dia yang tidak mempersiapkan kunci cadangan sebelum Naruto sampai, padahal dia tahu rumah ini begitu besar dan akan memakan waktu yang cukup lama untuk menuju kamar tuannya ini dari ruang penyimpan kunci cadangan yang posisinya berada paling ujung.
Naruto berdecak sebal. Kenapa pelayan sebanyak itu sama sekali tidak bisa membantunya pada saat genting seperti ini. "Menyingkir dari pintu!" suruhnya tegas.
Hinata dan lainnya yang mengerti kalau Naruto akan mendobrak paksa kamar Menma, langsung menjauh dari pintu.
BRAK! BRAK! BRAK!
Baru setelah dobrakan ke tiga pintu kokoh itu berhasil dibuka. Dengan nafas yang sedikit terengah-enggah Naruto bergegas memasukki kamar Menma. Dengan cepat matanya menjelajah menyusuri sudut kamar. Sedetik kemudian matanya berfokus pada satu titik. Di dekat ranjang tampak sepasang kaki. Dengan setengah berlari, Naruto menghampirinya dengan panik. Dia dapat melihat adiknya yang meringkuk seperti orang kedinginan di bawah ranjang. Badannya pucat pasi, dengan gigi yang saling bergemelatuk. "Menma, kau bisa mendengarku?" tanya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Menma dengan panik.
.
.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
My Fox Devil
Desclaimer: Masashi Kishimoto
Pairing: NaruHina
Genre: Romance, Hurt/Comfort
Rated: T
Warning: Bad Naru x Strong Hina, very OOC, AU, School life, gajeness, typo(s), abal, amatir, mainstream, ide pasaran! Little bit Hinata-centric, flat, DLL
.
.
Hinata menghampiri mereka. Kemudian berjongkok di dekat duo kembar. Hinata langsung memberikan tatapan cemas ketika mengetahui temannya itu dalam keadaan yang buruk. Peluh mebasahi daerah wajahnya dan badannya terlihat gemetar. Hinata mengangkat tangannya untuk menyentuh dahi Menma. Dia sempat memekik pelan ketika merasakan seberapa tinggi suhu tubuh pemuda berambut gelap itu.
Dengan cepat Naruto membopong Menma, kemudian menempatkannya di ranjang. Sementara Hinata langsung membalut tubuh Menma dengan selimut yang cukup tebal. Sedangkan salah satu maid menghampiri mereka sambil membawakan sesuatu untuk mengkompres Menma dengan menggunakan alas nampan.
Naruto merampas nampan itu secara kasar. Entah kenapa dia menjadi sangat tidak sabaran. Bagaimanapun ini pertama kalinya dia berada dalam posisi ini. Apalagi sang Ibu tidak ada mendampinginya untuk mengurus Menma. Setelah bertahun-tahun, ini pertama kalinya dia begitu mencemaskan sang adik. Memang dari awal dia memasukki kelas, dia merasakan jantungnya yang berdebar-debar tidak enak. Tapi Naruto mencoba menghiraukannya karena memang dia tidak tahu sama sekali apa arti dari debaran jantung tersebut.
Mungkin juga karena Naruto yang baru pertama kali merasakan debaran ini. Dan dia sama sekali tidak menyangka kalau arti perasaan tidak enaknya itu berhubungan dengan Menma, si adik kembar. Ah, bahkan Naruto sempat lupa, sedingin apapun hubungannya dengan Menma selama ini, tapi ikatan batin antara mereka sama sekali tidak pernah terputus. Yah, karena mereka memang terlahir kembar, mereka sudah hidup bersama bahkan sejak mereka belum bisa melakukan apapun ketika masih berada di dalam perut sang Ibu.
"Tunggu!" seru Hinata mengintrupsi ketika pemuda pirang itu akan meletakkan handuk yang sudah dibasahi air dingin ke kening Menma.
Naruto secara spontan menghentikan gerakkannya dan memandang Hinata dengan wajah heran.
"Apa airnya dingin?" tanyanya pada Naruto.
Naruto masih diam sambil mengernyit, seakan tidak paham maksud Hinata. Apa Hinata tidak tahu kalau keadaan demam Menma cukup parah dan harus segera dikompres untuk meredakan suhu tubuhnya yang meninggi?
Hinata sedikit mencondongkan tubuhnya ke arah Naruto. Kemudian dia mencelupkan ujung jarinya ke baskom. "Ini air dingin. Sama sekali tidak efektif untuk menurunkan demam. Bisakah diganti dengan air hangat?" pintanya pada Ayame.
Ayame mengangguk dengan kikuk. Ah, sekali lagi dia melakukan kebodohan. Walaupun sebenarnya yang mengambil air dingin itu bukanlah dia, tetapi sebagai ketua pelayan di sini, dia seharusnya lebih sigap untuk melatih pelayan lainnya agar lebih cermat.
Ayame mengambil nampan itu sambil membungkuk hormat dan mengucapkan maaf karena keteledorannya. Kemudian dia menyerahkan nampan itu kepada salah satu maid dan menyuruhnya untuk melaksanakan permintaan Hinata. "Apakah ada lagi yang dibutuhkan Nona?"
Hinata tersenyum singkat. "Kurasa kita membutuhkan beberapa selimut tebal lagi, handuk kering, air putih, obat penurun panas dan kalian bisa mulai membuat bubur untuk dia makan nanti." Ucapan Hinata berhenti sejenak. Gadis indigo itu menatap sekeliling kamar Menma, kemudian berhenti pada sosok Menma yang tengah berbaring di depannya. "Sebelum itu, bisakah kalian mengganti bajunya dulu? Itu sudah terlalu basah. Dan tolong tutup semua jendela. Kurasa menyalakan pemanas ruangan juga cukup baik, itu akan membuat Menma banyak mengeluarkan keringat."
Para pelayan di sana hanya bisa terkesima mendengar semua ucapan Hinata. Gadis itu ternyata tidak hanya cantik, dia juga pintar dan cekatan. Dan yang membuat mereka lebih kagum, Hinata menggunakan bahasa yang sangat sopan walaupun hanya untu berbicara dengan kepada mereka. Ucapan Hinata sama sekali tidak terdengar sedang memerintah mereka melakukan ini-itu, dia lebih terdengar seperti sedang meminta tolong.
"Mohon bantuannya," kata Hinata sekali lagi.
Dan para pelayan di sana tidak bisa untuk tidak menyunggingkan senyum mereka. "Ha'i"
.
~[ My Fox Devil ]~
.
"Demamnya sudah mulai turun. Kau tidak perlu cemas," ujar Hinata sambil menurunkan tangannya dari dahi Menma.
Naruto hanya diam. Memandangi adiknya yang tidak sepucat tadi. Mungkin kalau saat ini mereka dalam keadaan normal, Naruto pasti akan membantah ucapan Hinata seperti, "siapa yang mencemaskannya?" ataupun dengan perkataan lainnya yang masih sejenis. Tapi Naruto sadar kalau itu pasti percuma. Seisi rumah ini tahu seberapa paniknya dia. Mereka semua melihat gurat kekhawatiran dan kecemasan yang kental di wajah tan itu. Dan bagaimana wajah leganya saat mengetahui keadaan adiknya mulai berangsur-angsur membaik karena saran yang diberikan Hinata. Ah, sepertinya kali ini sang bungsu Namikaze itu tidak dapat mengelak lagi.
"Terimakasih, kau sudah banyak membantu," ucap Naruto pelan.
Hinata menyungingkan sedikit senyumnya. Kemudian mengangguk singkat sebagai jawabannya. "Aku tidak menyangka kau bisa sepanik itu." Hinata menatap ke arah Naruto yang sepertinya tidak berniat melakukan kontak mata kepadanya. "Aku tarik ucapanku tadi pagi. Kau menyayanginya. Mungkin sangat menyayanginya." Hinata baru tahu maksud perkataan Kiba tempo hari. Kiba secara tidak langsung mengatakan bahwa Naruto sebenarnya juga menyayangi Menma.
"Tidak! Kau salah!" elak Naruto.
Hinata terkekeh pelan. Tertawa mengejek mendengar penuturan Naruto yang sangat kentara akan kebohongan. "Semua orang yang ada di sini juga dapat mengetahui kalau kau sangat menyayanginya, terlihat sekali tadi. Tapi yang tidak orang ketahui, termasuk aku, kenapa kau menyembunyikan rasa sayangmu kepadanya? Apa itu buruk? Kurasa wajar kalau seorang kakak menyayangi adiknya."
"Berhenti bicara omong kosong. Kau tidak mengerti apapun!" kata Naruto sedikit meninggi. Naruto menghela nafas panjang. "Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang," ucap Naruto mengalihkan pembicaraan, tetapi nada bicaranya kali ini sudah melembut.
Naruto bangkit dari duduknya di ranjang Menma. Kemudian berjalan keluar untuk memanggil salah satu supirnya yang akan dimintanya untuk mengantar Hinata pulang.
Sementara Hinata tidak langsung keluar mengikuti Naruto. Dia berhenti sejenak, menatap Menma yang sepetinya masih terlelap. Entah kenapa dia selalu merasa nyaman ketika berada di dekat Menma. Mungkin karena rasa sayang Hinata kepada Menma yang entah sejak kapan dia rasakan. Perlahan dia membelai rambut hitam Menma, sambil memasang senyum murung. Hinata sedikit menundukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Menma. "Kuharap kau masih mau berteman denganku," bisiknya lirih.
Sesosok pemuda pirang yang berdiri dengan menyandarkan tubuhnya di samping pintu hanya bisa menghela nafas lelah. Selalu seperti ini, pikirnya. Selalu Menma yang menjadi utama untuk Hinata. Seharusnya dia bisa memakluminya karena memang saat ini Menma dalam kondisi yang kurang baik. Tapi sepertinya egonya tidak. Dia sama sekali tidak bisa menerima dengan lapang dada semua perhatian Hinata kepada Menma yang jauh lebih banyak daripada yang Hinata berikan kepadanya. Atau bahkan mungkin Hinata tidak sekalipun memberi perhatian kepadanya.
"Kau bisa pulang sekarang dengan supir," ucap Naruto pada akhirnya.
Hinata menoleh, sedikit kaget ketika mendapati Naruto sudah berada di sana entah sejak kapan. "Ha'i," ucapnya singkat. Kemudian berjalan keluar. Sedangkan Naruto masih dalam posisinya dengan kepala sedikit menunuduk.
Tapi baru beberapa langkah, Hinata membalikkan badannya dan berjalan kembali ke arahnya. "Ano…"
"Hm?" Naruto memberikan tatapan heran kepada Hinata.
"Kupikir kita sudah cukup mengenal. Jadi bisakah mulai sekarang kita memangil satu sama lain hanya dengan nama kecil saja?" tanya Hinata sedikit ragu. "Tapi kalau kau…"
"Baiklah… Hinata," potong Naruto cepat.
Hinata mendongak, menatap Naruto yang saat ini juga tengah menatapnya. Sudut bibir Hinata tersungging dengan sendirinya. Ada perasaan hangat yang menjalar di hatinya ketika mendegar Naruto memanggil namanya untuk yang pertama kalinya. Sebenarnya permintaan Hinata ini tidak bisa terlepas dari rasa kecemburuannya ketika mendengar Naruto memanggil nama Shion, apalagi Naruto menggunakan surfix –chan di belakang nama Shion. Mungkin kalau Shion tidak pernah datang tiba-tiba, Hinata juga tidak akan meminta mereka saling memanggil nama kecil dan bukan nama marga lagi.
"A-ah, Arigatou… Naruto," ucapnya senang. Hinata tidak dapat menyembunyikan dengan baik rona wajah bahagianya yang amat kental. "Aku pulang dulu. Tolong jaga dia."
Sedangkan Naruto perlahan melukis senyum samar di wajahnya. Perasaan hangat itu kembali muncul saat Hinata memanggil nama kecilnya. Naruto seakan lupa pada kekesalannya beberapa saat lalu. Yang pasti saat ini dia merasa senang, dan itupun hanya karena perbuatan kecil Hinata.
Di sisi lain sesosok pemuda berambut gelap itu perlahan membuka matanya perlahan. Sejenak dia melirik ke arah pintu kamarnya yang sudah tertutup dan sudah tidak ada siapapun lagi di dalam kamarnya kecuali dirinya. Pemilik mata shappire itu menghembuskan nafas lelah. Sebenarnya dia sudah mulai terjaga ketika merasakan tangan Hinata membelai rambutnya tadi. Menma dapat mendegar dengan jelas bisikan Hinata kepadanya sampai ucapan Hinata sebelum benar-benar pergi, termasuk percakapannya dengan Nii-sannya. Tapi bukan percakapan Hinata dengan Naruto yang membuatnya merasa gelisah saat ini. Tetapi ini karena bisikkan pelan Hinata kepadanya yang membuatnya merasa bersalah, dia tidak tahu kalau sikapnya justru membuat Hinata terluka.
Sebenarnya Menma melakukan hal itu karena ingin memberikan waktu tersendiri untuk Hinata dan Naruto. Dia tahu kalau Naruto tidak terlalu senang melihat dia dekat dengan Hinata. Terlebih, mungkin Menma juga memikirkan perasaannya sendiri yang pasti tidak akan nyaman melihat kedekatan Naruto dan Hinata, apalagi hubungan mereka saat ini sudah berbeda, mereka sudah menjadi sepasang kekasih sekarang. "Apa yang aku melakukan kesalahan lagi, Okaa-chan?" gumamnya lirih.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Sebagian murid-murid KHS kali ini harus menghela nafas lelah, pasalnya hari ini adalah hari libur tetapi justru mereka harus tetap masuk sekolah untuk bekerja bakti. Kali ini mereka dibebaskan untuk memakai pakaian yang mereka suka. Kebayakan siswi perempuan mempergunakan acara ini untuk acara pamer style mereka masing-masing, mulai dari baju, make-up, tatanan rambut sampai tas bermerk yang mereka punyai, seakan mereka tidak mengerti makna dari kegiatan kerja bakti ini. Mereka sama sekali tidak memikirkan bahwa semua penampilan mereka sejak pagi mungkin akan menjadi kotor dan berantakan.
Berbeda dengan para siswi lainnya, Hinata hanya yang memang mempunyai pribadi yang sederhana hanya berdandan seadanya saja. Dia hanya memakai baju berwarna violet dengan lengan yang hanya mencapai bahu, celana jeans hitam panjang dan rambutnya yang terbiasa digerai, kali ini hanya digelung tinggi asal, karena dia berpikir kalau akan terlalu merepotkan kalau dia harus melakukan kerja bakti dengan rambut panjangnya. Walaupun begitu dia sudah tampak begitu cantik dengan segala kesederhanaannya.
"Ohayou Hinata," sapa teman-teman perempuannya.
"Ohayou Minna." Hinata mengedarkan padangannya. Menatap satu persatu temannya yang teryata sudah terkumpul semuanya, termasuk Shion yang tidak absen duduk di samping Naruto. Melihat itu Hinata hanya memperlihatkan senyum sangsi ketika melihat itu. Yah, Shion memang sudah resmi menjadi siswi KHS terhitung sejak hari ini..
Hinata duduk di samping Ino karena memang hanya tempat itulah yang kosong. Matanya langsung berbinar menyadari Menma yang ternyata ada di situ, tidak jauh darinya. Bungsu Namikaze itu sedang membaca bukunya seperti biasa. "Kau sudah sembuh?" tanyanya antusias.
Menma mengalihkan pandangannya sejenak. Menatap Hinata lalu tersenyum simpul. "Ya. Arigatou," ucapnya dengan nada ramah seperti biasa.
Senyum Hinata bertambah lebar. Menma telah kembali, pikirnya. Dia bersumpah sangat merindukan Menma yang ini. "Aku senang mendengarnya," katanya jujur. 'Dan aku senang kau kembali,' tambahnya dalam hati.
"Sekali lagi aku ucapakan terimakasih Hinata. Aku sudah mendegarnya dari Ayame-san."
"Ya, sama-sama kau tidak perlu sungkan."
Tak lama berselang handpone Menma tiba-tiba bergetar. Pemuda berkulit tan itu segera mengangkatnya dan langsung terdengar suara yang amat dikenalnya dari sebrang telephone. Menma tersenyum singkat. "Ya, aku akan memberitahunya," ucapnya kemudian dan segera menutup telephone.
"Ano Nii-san, dia sudah menunggumu dari tadi di luar. Dan dia mengomel karena kau tidak menjawab panggilannya," kata Menma kepada Naruto.
Naruto hanya menghembuskan nafas bosan. "Kau saja yang menemuinya," ucapnya malas.
"Siapa?" tanya Sakura karena tidak mengerti siapa yang sedang menjadi bahan pembicaraan duo kembar itu. Tatapan penasaran juga diberikan beberapa pasang mata lain yang berada di sana, termasuk Hinata dan Shion.
Menma hanya tersenyum samar menjawab pertanyaan Sakura. Sedangkan Naruto lebih memilih diam, toh nanti mereka juga akan tahu. "Dia tidak akan mau denganku. Nii-san tahu itu kan?" bujuk Menma sekali lagi.
Naruto akhirnya berdiri sambil mendengus kesal. "Anak itu selalu merepotkan!" gerutunya. Kemudian dengan langkah malas dia mulai berjalan menuju ke arah gerbang sekolah.
"Aku ikut Naruto-kun," seru Shion sambil berusaha berdiri dari duduknya.
Tapi sepertinya keinginannya harus dibatalkan ketika mendapati tangan Temari yang tengah menahannya. "Tidak perlu, kau tunggu di sini saja," perintah Temari.
Shion sebenarnya akan protes, mulutnya sudah separuhnya terbuka. Tapi lagi-lagi karena ucapan seseorang, gadis berambut pirang pucat itu mau tak mau harus menutup mulutnya kembali. "Temari benar, tenang saja Nii-san akan segera kembali," sahut Menma, yang membuat Shion kembali duduk sambil menggerutu kesal.
"Memang ada siapa?" tanya Hinata pelan.
"Kau akan tahu nanti."
Tak lama setelah Menma berbicara seperti itu, terdengarlah suara cempreng dari arah Naruto pergi tadi. "NEE-CHAN!" teriaknya kencang.
Mendengar suara itu Hinata tersentak senang. Dan benar saja, ketika dia menoleh, Hinata mendapati bocah pirang itu tengah berlari ke arah bangku mereka. Hinata berdiri, memutuskan untuk segera menghampiri Ryota karena merasa kasihan kalau anak kecil itu terlalu jauh berlari.
Tapi hanya setelah langkah kedua, langkah Hinata terhenti. Amethyst itu menangkap sosok gadis cantik berambut panjang yang berjalan mendahuluinya. Melakukan hal sama seperti yang akan di lakukannya tadi. Sementara Hinata mendadak mematung, sedikit meruntuki pikiran bodohnya. Terutama dengan percaya dirinya dia berpikir kalau Ryota memanggil dirinya. Ah, memangnya siapa dia? Dia hanya orang baru. Kenapa dia berpikir akan bisa seakrab itu dengan si pirang kecil.
"Hei," seru Shion dengan suara keras, agar terdengar Ryota. Shion mengenal bocah kecil itu. Dia adalah sepupu Naruto yang sempat beberapa kali dengannya dulu. Apa Naruto sengaja memberitahu Ryota tentang kepulangannya agar si bocah kecil datang kemari untuk ikut menyambut kepulangannya? Membayangkan itu Shion tidak bisa menahan wajah bahagianya.
Setelah jarak mereka sudah cukup dekat, Shion berjongkok dengan kedua tangannya yang dia rentangkan, bersiap untuk memeluk Ryota.
Hinata yang melihat itu hanya terseyum miris. Lihat saja, mereka tampak seperti keluarga bahagia, dengan semua keluarga berambut pirang. Sangat cocok sekali, pikirnya.
"NEE-CHAN!" Ryota kembali bersuara. Jarak antara dirinya dan Shion hanya berjarak tiga langkah lagi. Dan….
Wuushhh!
Bocah berumur lima tahun itu hanya berlari melewati Shion begitu saja, tanpa sekalipun melihat ke arah Nee-chan cantik dengan dress berwarna biru, yang berjarak hanya beberapa langkah darinya. "Hinata-nee," panggil Ryota lagi sebelum tubuh munggil itu menghantam tubuh Hinata dengan agak keras. Ryota memeluk tubuh Hinata erat. Tangan mungilnya melingkari perut Hinata karena pada bagian itulah daerah tertinggi yang dapat dijangkau Ryota. "Hei, Nee-chan, kenapa kau sama sekali tidak manyahut ketika ku panggil?" tanya setengah merajuk.
Hinata seakan baru sadar dari lamunannya beberapa detik lalu dan sempat tersentak kaget ketika mengetahui Ryota tengah memeluknya. "A-ah, gomen. Ku kira tadi kau…"
"Kau menyebalkan Hinata-nee. Pokoknya kau harus membelikanku ice cream untuk membayarnya," rengek Ryota.
"Baiklah, jagoan," kata Hinata ringan sambil mengacak-acak rambut Ryota.
Sedangkan Ino, Sakura, Temari dan Tenten yang tadinya sempat diam karena sedang menganalisis keadaan. Kini hampir secara serempak raut wajah mereka berubah. Dari tersenyum geli, sampai tertawa terbahak-bahak karena mengetahui Shion yang ternyata dihiraukan oleh Ryota.
"Hmmmpttt… hahahaha." Ino tertawa paling kencang. Menertawakan tingkah sang rival yang terlalu percaya diri. "Hey Shion, kau terlihat sangat konyol!" seru Ino sambil mengusap ujung matanya yang mengeluarkan setitik air. Tawa mereka belum juga mereda, apalagi ketika melihat wajah Shion yang memberengut kesal justru membuat empat gadis itu tertawa dengan kencang.
"Eh? Ada apa?" tanya Hinata yang sepertinya ketinggalan sesuatu. Dia hanya menggaruk-garuk pelipisnya tanda tidak mengerti kenapa teman-temannya tertawa begitu keras.
"Tidak. Kami hanya melihat badut yang konyol," jawab Tenten asal.
"Benarkah? Dimana?" tanya Hinata dan Ryota hampir bersamaan. Mereka menoleh ke kiri dan ke kanan, mengarahkan padangan mereka ke segala arah untuk mencari si badut, tapi nyatanya nihil. Tidak ada satupun jejak keberadaan si badut. Malah ketika Hinata tidak sengaja memandang ke arah Shion, dia mendapati Shion tengah memandangnya dengan tatapan tajam dan menusuk. Bahkan Hinata dapat merasakan kebencian Shion kepadanya melalui tatapan itu.
"Nee-chan," panggil Ryota sambil menarik-narik baju Hinata untuk membuat Hinata memberikan perhatian lebih kepadanya. "Nee-chan-nee-chan itu membohongi kita, Hina-nee," kata Ryota sambil mengkerucutkan bibirnya yang tak ayal membuat Sakura dan lainnya tersenyum gemas. Mereka sebisa mungkin menahan hasratnya untuk tidak mencubit pipi gembul itu.
"Maaf-maaf kami hanya bercanda," kata Sakura sambil menggaruk-garuk kepalanya kikuk.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
"Bisakah aku menitipkan dia padamu sebentar, Hinata? Kakashi-sensei menyuruhku untuk menemuinya," pinta Naruto kepada Hinata. Pasalnya para temannya yang lainnya sudah pergi entah kemana, mungkin ada yang ikut kerja bakti tapi kemungkinan besar mereka sedang berkencan secara sembunyi-sembunyi dengan pasangannya masing-masing.
"Tentu," jawab Hinata tanpa beban. Lagipula apa susahnya menjaga anak manis seperti Ryota.
Naruto meninggalkan mereka dengan nafas lega. Tidak ada orang yang bisa menjaga Ryota dengan baik kecuali Menma dan Hinata. Jadi Naruto tidak perlu memikirkan hal-hal buruk selama Ryota berada dalam pengawasan Hinata.
"Nee-chan?"
"Hm?"
"Aku menagih janjimu Nee-chan. Ice cream. Aku ingin makan ice cream," pinta si Ryota kecil kepada Hinata.
"Ah oke. Aku akan membelikannya. Bisakah kau menjadi anak baik dan menungguku di sini sampai aku kembali. Bagaimana?"
Ryota mengangguk antusias. Menyetujui perjanjian yang dibuat sepihak oleh Hinata. "Ya, Nee-chan."
"Oke jagoan, aku pergi dulu. Ingat apa yang kukatakan." Hinata mengusap puncak rambut Ryota sekilas kemudian segera pergi.
Sepasang mata pucat yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua, mulai keluar dari tempat persembunyiannya. Sosok itu tersenyum menyerigai. Shion memang mempunyai rencana khusus untuk sang bocah Namikaze yang sukses membuatnya malu di depan Ino dan lainnya tadi. Dan mungkin memberikan efek jera kepada anak itu, bukan ide yang buruk.
"Hallo," ucap Shion mencoba mendapatkan perhatian Ryota yang sepertinya mengabaikannya dari tadi.
Ryota menoleh cepat. Mengira kalau Hinata Nee-channya kembali dengan sangat cepat sambil membawa ice cream untuknya. Tapi ternyata dugaannya salah. Sosok Nee-chan lain yang berjalan mendekatinya. Nee-chan itu memang tampak serupa dengan Hinata, tapi Ryota tahu kalau Nee-chan itu adalah Nee-chan yang sempat Menma ceritakan kepadanya dan juga pernah beberapa kali bertemu dengannya. "Hai Nee-chan," jawabnya pada akhirnya, walaupun sebenarnya dia sama sekali tidak berniat mengobrol lebih jauh dengan Shion.
"Kau ingat aku? Atau lebih tepatnya kau ingat pada apa yang kau lakukan kepadaku tadi?" tanya Shion dengan nada mengintimidasi yang langsung membuat Namikaze kecil itu merasa tidak nyaman. Shion menatap Ryota tajam sampai-sampai membuat Ryota bergidik ngeri.
"M-memang apa yang sudah k-ku lakukan?" tanya Ryota takut-takut. Ryota segera bangkit dari duduknya. Bocah itu mulai melangkah menjauh, memberi jarak yang cukup antara dirinya dan Shion yang terus saja mendekat.
"Apa kau lupa?" Shion memasang devil smirknya. "Kau mempermalukanku di depan yang lainnya!" bentaknya.
Ryota semakin ketakutan. Bocah itu terus saja melangkah mundur. Dalam hati dia berdo'a agar Hinata ataupun Naruto cepat datang, karena mungkin Nee-chan yang satu ini akan melakukan hal buruk kepadanya. "M-maaf. A-aku minta maaf," ucapnya dengan suara bergetar. Mata shappire bocah itu berkaca-kaca pertanda dia siap menangis saking ketakutannya.
"Ck! Minta maaf? Sepertinya aku harus memberikan sedikit pelajaran padamu bocah." Shion berjalan cepat menghampiri Ryota yang dari tadi tampak menghindar darinya. Lalu dengan sigap meraih daun telinga Ryota dan memelintirnya kuat.
"S-sa-kit N-nee-chan," rintih Ryota kesakitan. Kedua tangan kecil Ryota memegangi sebelah tangan Shion yang masih memelintir cuping telinganya. Ryota berkali-kali mengaduh kesakitan, tetapi Shion tak kunjung melepaskannya.
"Apa yang lakukan!" sentak Hinata ketika melihat aksi Shion kepada Ryota. Gadis itu merasa geram, bagaimana bisa Shion melakukan hal itu kepada bocah masih yang berumur lima. "Lepaskan dia!" Hinata segera beranjak. Mencampakkan dua ice cream yang dibelinya dengan susah payah. Gadis indigo itu mendekati mereka berdua dan langsung menepis kasar tangan Shion.
Ryota yang ketakutan langsung memeluk erat tubuh Hinata dan menangis keras dipelukannya. "Hiks... Hiks… Hinata-nee… Hiks…"
Hinata membalas pelukan Ryota. Mengusap pelan surai pirang bocah itu. Sebisa mungkin Hinata membuat Ryota merasa tenang. "Tidak apa-apa, aku di sini," ucapnya lembut, tetapi mata beningnya menatap tajam ke arah Shion yang memasang ekspresi santai.
Setelah Ryota sudah cukup tenang, Hinata melepaskan pelukannya. Menatap wajah Ryota yang basah kerena air matanya sendiri. Kemudian dengan menggunakan tangannya sendiri, gadis Hyuuga itu mengusap kedua pipi Ryota dengan lembut. Kemudian tersenyum simpul. "Tunggu sebentar. Aku mempunyai sedikit urusan dengan Nee-chan jahat itu." Setelah beberapa kali memberikan usapan di kepala Ryota, Hinata mulai berdiri.
Sedangkan Ryota yang mengerti, langsung bersembunyi di belakang tubuh Hinata. Anak kecil itu sama sekali tidak mau mengitip, karena dia tahu Shion pasti akan menatapnya dengan garang.
Manik lavender Hinata memicing tidak suka melihat sosok lain di depan. "Kau tahu kalau dia anak kecil. Kenapa kau bisa setega itu padanya?" geram Hinata.
Shion malah menyungingkan senyum meremehkan. "Aku hanya memberinya sedikit pelajaran saja, Hyuuga."
Gigi Hinata saling bergemelatuk. Wajahnya memerah menahan kesal dan amarah. Mungkin dia masih bisa mengontrol emosinya kalau dialah yang diperlakukan seperti itu. Tapi ini Ryota. Anak sekecil Ryota sangat belum pantas diperlakukan sekejam itu. Tangan seputih porselen itu mengepal kuat. Setidaknya Hinata berhak untuk menampar Shion atas tindakannya kepada Ryota. Tapi tetap saja, gadis itu hanya akan melakukan kekerasan fisik sampai dia berada pada batas kesabarannya. Lagipula Ryota ada di sini. Anak kecil sepertinya tidak pantas melihat hal-hal buruk.
Buukkk!
Shion tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya. Gadis itu memekik kesakitan karena sikunya sempat tergores oleh batu yang bersudut tajam.
Hinata hanya menatapnya kaget sekalipun bingung. Padahal dia sama sekali belum melakukan apapun kepada gadis itu, tapi kenapa tiba-tiba Shion bisa jatuh sekencang itu dengan sendirinya?
"Shion-chan!" seru seseorang yang langsung berlari ke arah Shion. "Apa yang terjadi? Kau baik-baik saja," tanyanya cemas.
"Ini sakit, Naruto-kun," kata Shion dengan nada merintih sambil menunjukkan sikunya kepada pemuda blonde itu.
Ah, pantas! pikir Hinata. Ya, itu hanya rencana licik gadis berambut panjang itu. Hinata benar-benar tidak habis pikir dengan sang gadis bermata bening itu. Sekarang dia tahu alasan Ino membenci Shion, gadis itu sunguh memuakkan.
Shion berdiri dengan dibantu Naruto yang memegangi kedua lengannya. "Gadis Hyuuga itu yang tiba-tiba mendorongku Naruto-kun," adunya pelan seraya menunjuk ke arah Hinata dengan menggunakan sebelah tangannya yang tidak terluka.
Naruto mengikuti arah telunjuk Shion. Dia sedikit terkejut mengetahui Hinata yang telah membuat Shion seperti ini. Apa benar Hinatanya tega menyakiti orang lain? Tapi ketika mata shappirenya melihat luka Shion sekali lagi, Naruto tidak punya alasan lagi untuk tidak mempercayai ucapan Shion. "Benar seperti itu Hinata?" tanya dengan nada penuh dengan intimidasi.
Hinata membuang muka sambil mendecih pelan. Ternyata mantan kekasih Naruto itu bukan hanya licik, tapi dia juga pintar memutar balikkan fakta. "Apa alasanku melakukan hal itu?" tanyanya santai.
"Tentu saja karena kau ingin membuatku tidak berani mendekati Naruto-kun lagi, dengan cara mengancamku."
Hinata membuang nafas tidak percaya. Yang benar saja? Mana mungkin dia melakukan hal menggelikan seperti itu. "Itu konyol," jawabnya enteng.
"Lihat saja tingkahnya itu Naruto-kun. Aku tidak berbohong. Dia harus meminta maaf padaku atas apa yang telah dia lakukan."
"Shion benar. Kau harus meminta maaf!" suruh Naruto tegas.
Ryota yang sedari tadi hanya bersembunyi di belakang Hinata dan sama sekali tidak mengeluarkan suara, ingin sekali mengatakan kepada Nii-channya kalau Hinata sama sekali tidak bersalah. Justru Nee-chan itulah yang telah jahat kepada mereka. Tapi dia hanya seorang anak kecil yang masih dikuasai ketakutan. Apalagi ketika dia mencoba sedikit mengintip, dia dapat melihat Shion tengah menatapnya tajam seakan memerintahkannya untuk tetap diam.
Sedangkan Hinata hanya tersenyum masam. Dia merasa kecewa dan sakit hati karena bungsu Namikaze itu lebih mempercayai Shion daripada dia. Seharusnya dari awal dia tahu kalau Naruto lebih memilih Shion. Seharusnya dia tidak berharap kalau pemuda itu akan lebih membelanya, kalau pada akhirnya dia hanya merasakan kekecewaaan yang sangat besar. "Aku tidak mau. Aku tidak salah," tolaknya pelan.
Gadis lavender itu berbalik dan sedikit berjongkok untuk dapat meraih Ryota dalam gendongannya. "Ayo kita cari Menma-niimu, Ryo-kun," ajak Hinata kepada Ryota untuk meninggalkan sepasang muda mudi berambut pirang itu.
Di sisi lain Naruto hanya bisa menatap Hinata dengan perasaan mengganjal.
.
~[ My Fox Devil ]~
.
Lagi-lagi situasi menyebalkan harus dialami Hinata. Entah bagaimana ceritanya, tapi yang pasti saat ini dia berada di dalam mobil hanya berdua dengan Naruto saja. "Kau marah padaku?" tanya Naruto sambil melirik sekilas ke arah Hinata. Naruto tahu mungkin dialah yang salah. Sebelum Ryota pulang dengan Menma. Sang bocah kecil itu sempat menemuinya. Dengan takut-takut Ryota mengatakan bahwa Hinata tidak bersalah. Tapi ketika Naruto bertanya padanya apa yang sebenarnya terjadi, adik sepupunya itu hanya diam saja dan terlihat lebih ketakutan. Maka dari itu Naruto memutuskan tidak menuntut Ryota untuk menceritakan lebih jauh. Walaupun begitu Naruto yakin apa yang dikatakan Ryota tentang Hinata tidak bersalah memang benar adanya, karena anak kecil pasti akan berbicara jujur.
"Seharusnya kau mengatakan apa yang terjadi dan tidak hanya diam saja seperti Ryota," ucap Naruto lagi.
"Kau menyalahkanku lagi," ucap Hinata sinis. Lagipula Hinata bukan tipe gadis yang suka mengadu, jadi untuk apa dia harus menceritakan kejadian yang sebenarnya kepada Naruto. Hinata yang merasa kesal hanya terus menerus membuang mukanya dari Naruto.
"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu."
Hinata berdecak kesal. Matanya lebih memilih jalan sebagai objek utama pandangannya daripada harus memandang pemuda di sampingnya.
Tapi baru beberapa menit suasana berlangsung hening. Tiba-tiba tanpa alasan yang jelas, Naruto mengerem mobilnya secara mendadak.
Ckiiiitt!
"Hei apa yang kau─" Ucapan Hinata terhenti ketika mendapati Naruto memasang mimik geram ditambah lagi rahangnya mengeras. 'Ada apa?' batin Hinata bingung. Mata amethystnya itu mengikuti arah pandangan. Di sana tengah berdiri beberapa pemuda yang sepertinya menghadang mereka. Mata Hinata menyipit karena memang jarak mereka masih cukup jauh dari posisinya sekarang. Sebagian besar dari pemuda itu memang tidak dikenal Hinata, bahkan mungkin sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Tapi sesosok pemuda bersurai merah itulah yang saat ini mencuri semua perhatiannya. Kenapa Sasori ada di sana? Dan apa sebenarnya yang terjadi? Mungkin itulah pertanyaan yang muncul di benak Hinata.
"Tunggu di sini! Dan jangan keluar apapun yang terjadi," perintah Naruto sambil melepas sabuk pengamannya. "Kau bisa pergi dengan mobilku kalau aku tidak juga kembali," ucap Naruto sebelum benar-benar pergi meninggalkan Hinata sendirian di dalam mobil.
.
.
-To be Continue-
.
.
A/N:
Oke, chap ini sudah terlalu panjang untuk bayar chap kemarin yang memang sangat pendek. Jadi kalau chap depan saya kembali updet dengan porsi word yang lebih sedikit dari chap ini, saya harap gak ada yang protes karena segitulah porsi rata-rata word saya.
Special thanks to:
Guest(1), Ayzhar, Durara, A-k-a Rizky Namikaze, Hyuuga Divaa Arashii, 2nd silent reader, june25, AnnisaIP, shin jun, arip-scarlet, yamanakavidi, shiro19uzumaki, 7th Chocolava, mitsuka sakurai, Amu B, ranggagianB7, Guest(2), sahwanchan, Archilez, utsukushi hana-chan, hanazorin444, yuichi, o-O rambu no baka, Namikaze TrueBlue PraZumaki, Gilang 3B3, HinaHimeLoversb, Beetha, Guest (3), Manguni, NRL naruhina, JihanFitrina-chan, Jasmine DaisynoYuki, hanafid, Akane-Rihime.
Cuap-cuap!
Naruto serius/tulus sama Hinata? Tanya Naruto sendiri tuh, pasti dianya juga enggak mau jawab #sokmisterius
Chap kemarin datar? Ah, entahlah.
Gimana hubungan NaruMenma? Gak terlalu baik sih, soalnya Naru masih sering sinisin Menma
Hubungan NaruShion? Saya gak akan banyak nyeritain hubungan NaruShion, biarkan itu menjadi masa lalu mereka hehehe
Ficnya nanti penuh konflik? Saya masih pemula, jadi belum bisa buat konflik yang banyak kayak senpai-senpai lainnya
Jangan buat Naru kelihatan jahat banget? Awal saya buat fic sih pengennya emang Naru jadi sosok yang jahat banget, tapi ternyata sayanya gak tega. Dan menurut saya ini jahatnya masih wajar.
Apakah ada kejadian masa lalu yang buat hubungan NaruMenma merenggang? kalau kejadian tertentu sih gak ada.
NaruShion bakal balikan? Kayaknya enggak, masih ada misi khusus Naruto ke Hinata soalnya.
NH udah putus? belum.
Pernah review tapi gak kesebut? Ah gomen, itu murni karena kesalahan mata saya yang kurang teliti baca review.
Chap kemarin banyak adegan gak penting? Saya memang pake penjelasan yang lebih banyak tersirat daripada tersurat. Mungkin karena itu jadi terkesan panjang, bertele-tele dan gak penting.
Dan beberapa hal yang masih dirahasiakan, mungkin akan terungkap di chap-chap akhir.
.
.
.
Yuhuu… review-review! Ayo siders keluarkan suara emasmu!
