You and I

Disclaimer : Fujimaki Tadoshi ©Kuroko no Basuke

Chara : Akashi x OC x Nijimura

Chapter 10 : kejadian langka, doki – doki time

Siang itu begitu cerah. Tidak terlalu panas atau tidak terlalu dingin. Membuat angin menggerakkan helaian – helaian rambut crimson dan raven, yang pemiliknya tak lain adalah Akashi dan Shiroyumi yang sedang menikmati jam istirahatnya dibawah pohon rindang bukit milik sekolahnya.

"Tsuyuki.." Akashi memanggil nama Shiroyumi pelan. Shiroyumi masih asik melamun.

"Tsuyuki.." Sekali lagi Akashi memanggilnya, namun tetap saja, Shiroyumi tetap melamun.

"Tsuyuki..!" Akashi sedikit meninggikan suaranya. Panggilan Akashi membuat Shiroyumi jadi terbangun dari lamunannya.

"eh? Ada apa Akashi – kun?" Tanya Shiroyumi. Akashi yang berada disampingnya hanya menghela nafas. Sejak pulang dari liburan musim panasnya, shiroyumi menemukan hobi barunya, Yaitu melamun. Akhir – akhir ini Shiroyumi terlalu sering melamun dan membuat Akashi yang selalu berada disampingnya heran dengan kelakuan baru Shiroyumi.

"hah~..harusnya aku yang bertanya seperti Tsuyuki." Keluh Akashi. Tiba – tiba Akashi menyatukan keningnya dengan Shiroyumi, membuat wajah Shiroyumi memerah dan mendorong pundak Akashi.

"a..apa yang kau lakukan Akashi – kun?" Tanya Shiroyumi panic, dengan muka yang sudah semerah tomat.

"Hanya mengecek kau demam apa tidak.." jawab Akashi dengan tenang. Akashi Menyatukan keningnya lagi, Shiroyumi hanya memejamkan mata saat Akashi melakukan itu.

"lihat mukamu merah. Apa kau tidak apa – apa?" Tanya Akashi sambil menjauhkan diri dan memegang lengan Shiroyumi.

"kurasa, mukaku merah bukan karena demam…. dan juga kau kan bisa mengunakan punggung tanganmu…" protes Shiroyumi dengan pelan yang dihiasi muka yang masih memerah dan bersikap malu – malu. Melihat pemandangan itu, Akashi jadi ingin menggoda Shiroyumi, namun jam istirahat sebentar lagi akan usai dan mengharuskan mereka untuk kembali ke kelas.

"ayo. Kuantar kau ke kelas." Ajak Akashi sambil mengulurkan tangannya. Shiroyumi menolak dan bangkit sendiri.

"tidak perlu. Pelajaran kelasku selanjutnya adalah memasak. Ruang memasak kan lawan arah dari kelas Akashi – kun." Jelas Shiroyumi sambil tersenyum lembut. Akashi bangkit dan meraih lengan Shiroyumi.

"kau tak bisa menolakku." Ucap Akashi dengan menekan setiap kalimatnya. Seketika Angin berhembus kencang dan menerbangkan daun – daun yang berada ditanah. Shiroyumi mengerjapkan matanya dan membeku. Apa Akashi baru saja memaksanya?

Shiroyumi menggelngkan kepalanya dan melepaskan genggaman Akashi dengan kuat. Genggamannyapun terlepas membuat Shiroyumi mengambil jarak pada Akashi.

"te..tenang saja! Aku takkan melamun lagi kok! Sampai jumpa Akashi – kun!" Shiroyumi dengan cepat meninggalkan Akashi yang masih saja berdiri dibawah pohon rindang itu. Akashi hanya menatap gadis pujaannya yang semakin jauh dan akhirnya menghilang dari matanya. Lagi – lagi angin berhembus, memainkan rambut Akashi. Bug! Akashi memukul batang pohon dibelakangnya, Akashi mencengkram kuat rambutnya dan menggigit bibir bawahnya

"Kusso!" umpat Akashi pelan.

.

.

.

.

.

.

.

Brug! Shiroyumi menabrak sesuatu sampai membuatnya terjatuh. Ia memegang kepalanya dan mengaduh kesakitan. Shiroyumi langsung bangkit dan membungkuk.

"Ma..Maafkan aku! Aku tidak sengaja! Aku minta maaf! Lainkali aku akan-…"

"Oii…Shiro…" Shiroyumi mengerjapkan matanya. Ia kenal dengan suara ini, dia adalah kakak kelasnya.

"mattaku…seperti dulu ya?" Tanya Nijimura sambil speechless.

"Gomenasai…" ucap Shiroyumi menundukkan kepalanya. Nijimura menghela nafas, iapun mengelus kepala Shiroyumi dengan lembut.

"ada apa Shiro? Apa Akashi menyakitimu?" Tanya Nijimura dengan lembut.

"Ti..tidak kok…" balas Shiroyumi dengan menurunkan lengan Nijimura dari kepalanya. Nijimura tak sengaja melihat tanda merah di pergelangan Shiroyumi. Nijimura meraih lengan Shiroyumi dengan pelan.

"ternyata benar…." Ucap Nijimura. Shiroyumi hanya mengerjapkan matanya dan melihat bekas merah itu. Shiroyumipun langsung menyangkal.

"ah.! Ini bukan salah Akashi-kun kok! Tadi aku melamun dan-…." Cup! Nijimura mencium kening Shiroyumi dengan pelan. Shiroyumi hanya mengerjapkan matanya.

"Ayo kita ke UKS. Ku obati lenganmu." Ucap Nijimura sambil meraih lengan Shiroyumi yang tidak luka.

"a..aku tidak apa – apa! Sungguh! Aku harus ke kelas memasak, Nijimura – senpai."

"tidak apa – apa.."

"Nijimura – senpai! Aku…" cup! Nijimura mencium pipinya, sangat dekat dengan bibir Shiroyumi bahkan hampir menyentuh bibir Shiroyumi. Ciuman itu belum terlepas, Nijimura memeluk Shiroyumi dengan erat, membuat Shiroyumi merasa sesak nafas.

"Ni…nijimura – senpai..sesak…le..lepaskan.."

"Diamlah, Akashi sedang melihat kita." Bisik Nijimura. Nafas Nijimura menghembus ketelinga Shiroyumi, menyatakan jika mereka sangat dekat.

"A..akashi – kun!?" ucap Shiroyumi pelan, sambil berusaha mendorong nijimura, tapi luka lengan yang diciptakan Akashi menghentikan kegiatannya.

"kau melihatnya kan Akashi?" Tanya Nijimura sambil menatap Akashi yang didepannya. Shiroyumi merasakan aura yang kuat dari dua orang adam tersebut.

"ya…aku melihatnya."ucap Akashi sambil menajamkan matanya. Nijimura mencegah shiroyumi untuk menoleh kebelakang dengan memeluk kepala shiroyumi juga.

"Ni..Nijimura – senpai.." Shiroyumi bisa mendengar detak jantung Nijimura.

"Akashi…apa kau sadar jika kau telah menyakiti Shiro?" Tanya Nijimura tajam.

"aku sadar dan aku ingin minta maaf..jadi lepaskan dia." Jelas Akashi.

"Tidak. Aku tak ingin melepaskannya." Tolak nijimura dengan tajam.

"apa?" Akashi menyipitkan matanya. Nijimura masih memeluk Shiroyumi.

"aku tarik kembali kata – kataku saat dipantai." Jelas Nijimura. Shiroyumi mengeryitkan alis.

"kata – kata? Apa maksudnya?" batin Shiroyumi.

"aku kira kau bisa melindunginya, tapi nyatanya…kau malah menyakitinya." Jelas Nijimura.

"tu..tunggu sebentar! Apa maksudnya nijimura – senpai?" Tanya Shiroyumi sambil mendorong Nijimura, Nijimura mengeratkan pelukannya.

"Shiro…sebenarnya aku menyukaimu." Ucap Nijimura. Shiroyumi hanya mengerjap tak percaya. Mood Akashi semakin memburuk.

"menyukai…ku?" Shiroyumi membeku mendengar kata – kata itu dari nijimura.

"iya, aku sangat mencintaimu. tapi aku tak yakin jika aku bisa membahagiakanmu, makanya aku menyerahkanmu pada Akashi." Jelas Nijimura. Shiroyumi hanya diam dan mendengarkannya dipelukan Nijimura, sedangkan Akashi menahan perih di dadanya. Nijimura melonggarkan pelukannya dan menyentuh pipi Shiroyumi yang kenyal.

"aku mencintaimu." Ucap Nijimura sambil menatap Shiroyumi. Nijimura menarik Shiroyumi kepelukannya. wajah Nijimura dan Shiroyumi semakin dekat.

"Ni…Nijimu..ra- sen…" bibir mereka akan segera tersentuh namun grep! Dengan cepat, Akashi menarik Shiroyumi dari pelukan Nijimura.

"JANGAN SENTUH!" ucap Akashi sambil memeluk Shiroyumi. Nijimura mengeryitkan alis, Akashi menutup mata Shiroyumi dan menenggelamkan wajah Shiroyumi ke dadanya.

"Seharusnya kau yang-…" kata – katanya terhenti di tenggorakannya ,Nijimura menghentikan kalimatnya setelah melihat ekspresi Shiroyumi yang begitu ketakutan dibalik lengan Akashi.

"Shi..ro…Kau?" Nijimura ingin mengulurkan tangannya, namun Akashi menepisnya.

"aku takkan memaafkanmu, karena membuat Shiroyumi menderita seperti ini!" bentak Akashi sambil menggendong Shiroyumi dan berjalan ke arah UKS, meninggalkan Nijimura yang masih membeku. Entah kenapa, dada Nijimura merasa sesak sekali, sangat menyakitkan sampai ia tak bisa bicara. Apakah ia sakit karena Akashi memeluk gadis pujaannya? Tidak, sepertinya bukan itu. Nijimura memegang dadanya, dadanya terasa sakit saat…saat Shiroyumi ketakutan terhadapnya. Iya, mungkin itu penyebabnya.

Dilain tempat, Akashi yang sudah sampai di UKS meletakkan Shiroyumi dengan posisi terbaring.

"Tunggu disini sebentar ya, Tsuyuki. Akan kupanggil Yui - sensei" Ucap Akashi sambil mengelus kepala Shiroyumi. Shiroyumi meraih tangan Akashi.

"ja..jangan tinggalkan aku…Se..Sei – kun…" ucap Shiroyumi dengan muka ketakutan. Akashi mengeratkan tanganya, ia sangat sedih melihat Shiroyumi ketakutan seperti ini. Akashi mengambil bangku yang ada didekatnya. Iapun duduk dan mengenggam Shiroyumi.

"aku ada disini..Yuki…aku takkan meninggalkanmu" sambil mengecup punggung tangan Shiroyumi dengan lembut, berusaha menenangkan Shiroyumi dari traumanya. Shiroyumi yang terbaring dengan posisi miring menarik genggaman Akashi dan selalu memanggil nama kecil Akashi, akashipun membisikkan kalimat 'aku disini, aku akan melindungimu.' ditelinga Shiroyumi terus menerus. Hingga Akhirnya Shiroyumi tertidur dengan posisi miring, Akashi menatap wajah Shiroyumi yang tertidur pulas, mengelus wajah Shiroyumi yang selalu ia dambakan selain ibunya. Setelah puas memandang gadis pujaannya Iapun membenarkan posisi Shiroyumi dan menyelimutinya dengan penuh kasih sayang, dan tak lupa juga mencium keningnya.

"Oyasumi nasai…Yuki – chan…" ucap Akashi sambil mencium kening Shiroyumi. Akashi melangkah pergi meninggalkan Shiroyumi, membiarkan dia beristirahat tenang tanpa ada suara sedikitpun. Akashi membuka pintu dan menutupnya kembali, menghampiri Nijimura yang berdiri disamping UKS.

"bagaimana keadaan Shiro?" Tanya Nijimura. Akashi hanya meliriknya.

"ia sedang istirahat. Aku harap kau tak menganggunya." Jelas Akashi, Nijimura menghela nafas dan mengucap rasa syukur karena Shiroyumi kini baik – baik saja.

"Nijimura – san…ayo kita bicarakan ini." Ucap Akashi dengan aura dingin.

"disini dan sekarang." Sambung Akashi. Nijimurapun hanya diam dan menatap Akashi.

"sebenarnya apa maumu? Kenapa kau melakukan itu?" Tanya Akashi langsung to the point. Nijimura menghela nafas.

"untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi." Jawab nijimura. Akashi mengeryitkan alis.

"apa maksudmu?" Tanya Akashi kembali.

"apa kau tak lihat keanehan dari shiro? Semenjak pulang dari liburan itu, ia lebih sering melamun dan ceroboh." Jelas Nijimura Akashi hanya diam.

"nee Akashi…apa kau tahu apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Nijimura. Akashi hanya diam.

"entahlah. Satu – satunya wanita yang tak bisa kutebak hanya dia seorang." Ucap Akashi, Nijimura hanya tersenyum.

"maaf ya." Ucap Nijimura, Akashi hanya diam.

"aku memeluk shiro karena ingin tahu masalah itu, Aku kira kalian sedang berkelahi. Tapi setelah melihatmu begitu khawatir terhadap Shiro, sepertinya hubunganmu baik – baik saja." Jelas Nijimura, Akashi hanya tersenyum.

"maaf sudah menuduhmu karena melukai lengan Shiro-…"

"itu salahku." Potong Akashi, Nijimura Nampak terkejut melihat pernyataan Akashi.

"makanya itu, aku juga minta maaf karena tak bisa melindunginya." Jelas Akashi.

"kalau begitu, memberikan kewajiban itu kepadamu adalah kesalahan besar ya?padahal kau keluarga besar Akashi." Jelas Nijimura sambil melangkah pergi. Akashi tersenyum.

"tidak. Aku akan membahagiakannya. Aku berjanji Nijimura – senpai." Jelas Akashi. Nijimura hanya menoleh sejenak.

"kalau begitu lakukan dengan cepat. Jangan membuatku menunggu. Mengerti Akashi?" Tanya Nijimura yang semakin jauh. Akashipun meninggalkan tempat itu juga.

"ya…aku mengerti."

"ngomong – ngomong…kenapa shiro, benar – benar ketakutan? apa dia memiliki suatu trauma?" Tanya Nijimura yang agak merasa bersalah karena masalah tadi. Akashi mengerjapkan mata dan mengingat masa lalu yang buruk bagi mereka berdua.

"dulu saat kami berumur 8 tahun, orang tuaku memiliki tugas di luar negeri dan ayah tsuyuki yang menjadi bodyguard. Ayahku mengajakku dan tsuyuki untuk ikut mereka sambil liburan musim panas. Lalu saat malam hari, aku dan tsuyuki keluar dari penginapan untuk mencari udara segar dan bermain dipantai tanpa sepengetahuan orang tuaku dan ayah tsuyuki. karena diriku sangat bosan berada di penginapan dan sangat ingin keluar. Tsuyuki sudah memberitahuku untuk tidak main diluar, tapi aku tetap saja ingin keluar. Saat kami berjalan dipesisir pantai ada yang mencegat kami." Jelas Akashi. Nijimura dengan diam mendengarkan cerita Akashi.

"orang – orang bertubuh besar menyekap kami, namun tsuyuki melawan orang – orang itu dan melindungiku. Menyuruhku pergi untuk memanggil bantuan namun aku hanya berdiri tak mendengarkan dia. Akhirnya, aku disekap oleh beberapa orang dan tsuyuki hampir diperkosa oleh orang – orang itu dipantai." Nijimura membulatkan mata dan tak percaya dengan kisah Akashi.

"aku langsung marah dan kehilangan kendali lalu mengalahkan mereka semua. Walaupun aku babak belur sama seperti tsuyuki, tapi tsuyuki masih koma karena sebelumnya seseorang melukai kepalanya dengan karang laut. Dia trauma dan ketakutan namun didepanku dia berusaha keras untuk tidak membuatku khawatir. Dia berusaha melupakan hal itu dan berhasil melupakannya" Akashi mengcengkram rambutnya.

"aku begitu lemah dan tak berdaya. Begitu ketakutan sampai aku takut dia meninggal. Apa kau tahu? Akupun juga trauma akan hal itu. Makanya saat melihatmu seperti itu, aku seperti melihat orang – orang itu yang sama persis denganmu..langsung melindungi tsuyuki. Maafkan aku nijimura – senpai, karena aku membentakmu.." ucap akashi sambil membungkuk badannya. Nijimura memasang muka tidak enak. Nijimura menghela nafas.

"baiklah. Tak apa – apa. Aku pergi dulu." Ucap nijimura meninggalkan Akashi ang masih berdiri di depan uks. Setelah jauh, air mata nijimura mengalir.

"bodoh seharusnya aku yang meminta maaf…" ucap nijimura tanpa sadar

.

.

.

.

.

.

.

.

.

."Ittai…Ittai…Ittai…kepalaku seperti habis berputar seribu kali." Ucap Shiroyumi sambil memegang kepalanya. Akashi hanya tersenyum. Dengan es krim yang ada ditangan mereka berdua, mereka pulang dengan berjalan kaki sambil menikmati pemandangan Sore yang indah.

"sepusing itukah? Sini biar aku gendong." Tawar Akashi. Shiroyumi menyilangkan lengannya.

"tak perlu kok. Tapi, apa kau yakin Akashi – kun? Kau nanti dimarahi sama ayahmu loh kalau terlambat pulang." Tanya Shiroyumi yang khawatir terhadap Akashi, mengingat ayahnya Akashi sangat disiplin dalam mendidik anaknya. Akashi hanya tersenyum lembut.

"tidak apa – apa kok, aku sudah izin pada ayahku. Lagipula ada yang ingin aku bicarakan kepadamu, Tsuyuki." Jelas Akashi. Shiroyumi mengebungkan pipinya.

"kalau begitu cepat katakan, sambil jalankan bisa." Ucap Shiroyumi sambil menjilat eskrimnya.

"Tsuyuki, jangan makan sambil berjalan. Ayo kita cari taman." Ajak Akashi sambil mengangdeng tangan Shiroyumi. Shiroyumi hanya menghela nafas dan mengikuti langkah Akashi. Mereka berduapun menemukan taman yang dipenuhi pohon yang daunnya berguguran.

"ah daun maple!" girang shiroyumi sambil memegang daun maple. Iapun duduk dan memerhatikan daun maple itu sambil menjilat eskrimnya. Angin berhembus pelan namun mampu mengugurkan daun maple yang ada diatas pohon.

"nee tsuyuki." Akashi menoleh kearah Shiroyumi. Namun, waktu seolah – olah melambat, Akashi terpesona dengan pandangan yang ia lihat. Rambut raven berhembus pelan, manik ocean murni yang menatap daun maple digengamannya berkilauan orange, bibir ranum berwarna merah muda, lalu dihias dengan daun maple yang berterbangan. Ia pernah mengalami hal ini, disaat musim gugur 3 tahun yang lalu. Ibunya, ia teringat pada ibunya. Shiroyumi terlalu mirip dengan ibunya, hanya saja warna rambut dan warna maniknya. Shiroyumi menoleh kearah Akashi.

"Nani yo Akashi – kun?" Tanya Shiroyumi. Akashi mengalihkan pandangannya membuat Shiroyumi heran. Hening, Akashi tak mulai berbicara. Baru pertama kali ia merasakan jantungnya berdetak kencang, seingatnya ia tak pernah memiliki penyakit jantung. Karena hanya diam, Shiroyumipun bangkit dan menghampiri Akashi. Ia melambai – lambai tangannya tepat diwajah Akashi.

"Akashi – kun?"

"huwaa!" Akashi terkejut saat wajah shiroyumi tiba – tiba muncul di hadapannya sampai mundur selangkah.

"Tsu..tsuyuki? sejak kapan kau ada didepanku?" Tanya Akashi. Shiroyumi hanya sweatdrop.

"aku dari tadi di depanmu." Ucap Shiroyumi.

"sou..soudesuka?" Shiroyumi mengeryitkan alis, Tak biasanya Akashi seperti ini. Jangankan shiroyumi, bahkan Akashi tak tahu apa penyebabnya. Apa karena ia ingin mengungkapkan perasaannya sepertinya karena itu.

"Akashi – kun apa kau sakit? Mukamu merah…" Tanya shiroyumi sambil memegang pipi Akashi, Akashi yang diperlakukan seperti itu hanya memalingkan matanya kearah lain.

"ah kau demam! Ayo kuantar kau kerumahmu!" ucap Shiroyumi. Namun hal itu dicegah oleh Akashi. Akashi memegang lengan shiroyumi yang menyentuh pipinya.

"Ai.." Akashi mengucapkan, namun dengan bisik. Shiroyumi mengeryitkan alis.

"kau bilang apa Akashi – kun? Ah! Lebih baik ngomongnya nanti saja. Ayo kuantar -…"

"aku demam bukan karena sakit!" ucap Akashi. Baiklah, sejak kapan demam itu bukan jenis penyakit? Shiroyumi makin tak mengerti.

"Apa maksudmu? jelas – jelas wajahmu panas! Ayo kita…"

"Aku memerah Karena aku mencintaimu. Aku mencintai shiroyumi tsuyuki" Ucap Akashi sambil menahan malu dengan menutup matanya. Hening, hanya suara daun – daun bergesekan dengan tanah.

"pfft!" Akashi membuka matanya mendengar suara itu. Ini bukan candaan, seorang Akashi tak pernah bercanda jika membicarakan hal serius ini.

"Tsuyuki, ini buk-.." alangkah terkejutnya Akashi melihat Shiroyumi mengeluarkan air matanya dan tersenyum, terhias dengan daun maple yang berterbangan karena angin.

"arigato… karena telah membalas perasaanku juga. Sei – kun…" ucap Shiroyumi sambil tersenyum. Indah, perasaan tulus dari shiroyumi bisa Akashi rasakan dari hembusan angin ini. Akashi tersenyum dan memeluk shiroyumi lalu mengelus kepalanya.

"bukan kau yang berterima kasih, seharusnya aku yang berterima kasih karena kau mencintaiku apa adanya." Ucap Akashi. Ya, Shiroyumi menerima Akashi, bukan karena dia 'seorang Akashi' tetapi karena dia adalah seijuurou, lelaki yang lembut dan selalu perhatian terhadapnya. Shiroyumi jatuh cinta pada Akashi, begitu juga dengan Akashi, Akashi jatuh cinta pada sikap Shiroyumi yang masih polos dan menenangkan jiwanya dari semua masalah dan tekanan di hidupnya.

"jaa..kalau begitu kita…pacaran?" Tanya shiroyumi malu – malu. Akashi mengangguk dan mengeratkan pelukannya dengan shiroyumi.

"ja..jangan memelukku seperti ini…aku malu.." ucap Shiroyumi yang menenggelamkan wajahnya di dada Akashi. Akashi mendekatkan bibirya ketelinga shiroyumi.

"aku juga.." Akashi melepaskan pelukannya dan menatap shiroyumi. Akashi meraih lengannya.

"ayo kita pulang kuantar kau kerumah, Tsuyuki." Ucap Akashi sambil tersenyum lembut. Shiroyumi membalasnya juga dengan senyum.

"baiklah tapi aku tak tanggung jawab jika Akashi – kun dimarahi oleh tuan besar ya.." ucap Shiroyumi sambil mengikuti langkah Akashi.

"iya…aku mencintaimu tsuyuki…" ucap Akashi.

"boku mo dayo~"

.

.

.

.

.

Bersambung…

Mind to reviews…?