HALOO

Saya update lagi nih..

Sepertinya cerita ini mulai mengarah ke arah yang tidak tentu…

Waaah, saya sendiri jadi bingung.. Apalagi yang baca…

=3=

lulila lulila lulila

Here you go

The Possessed

Chapter 10: Seiyuu Forest

Keluarga Strife sampai di Kebun Raya Seiyuu. Sangat banyak orang yang berkunjung hari itu. Mereka melihat-lihat banyak tumbuhan seperti berbagai jenis paku-pakuan, lumut, cemara, pinus, damar, serta berbagai hewan mirip di kebun binatang. Mereka melewati sebuah hutan dengan palang melintang bertuliskan 'Dilarang Masuk'. Saat mereka menanyakan tentang itu, pekerja di sana hanya menjawab,

"Pokoknya, menjauh dari Hutan Seiyuu,"

Dan itu membuat mereka semakin heran.

Setelah selesai melihat-lihat – dan Sora selalu berteriak girang, mereka berhenti di lapangan rumput luas nan bersih untuk menyantap bekal. Banyak orang berkumpul di sana juga untuk makan siang.

Mereka menggelar tikar kecil kemudian duduk di atasnya lalu mengeluarkan bekal mereka.

"Ini untukmu, Sayang," kata Aerith menyerahkan sepotong roti selai kacang dan jeli pada Sora.

"Terima kasih, Ma,"

"Ini untuk bocah pirang Mama yang pendiam," lanjut Aerith menyerahkan roti yang sama pada Roxas. Memang benar, Roxas sejak tadi hanya diam dan termenung.

"Ini untuk Cloudy tersayang,"

Cloud tertawa pelan.

Semuanya makan dengan lahap dan senang. Suasana yang ceria, hari yang cerah, membuat saat-saat itu menjadi semakin indah.

"Hmm, aku ingat pada si Saix itu," kata Sora tiba-tiba.

"Mr. Walker?"

"Iya. Dia bilang, dia bekerja di sini," jawab Sora, menjejalkan sepotong besar roti selai kacang dan jeli ke mulutnya.

"Dia kerja apa?" sambung Cloud.

"Tidak tahu,"

"Orang itu agak mencurigakan," tambah Aerith. "Tapi, dia sudah mau mengantar kalian dari… mana itu?"

"Bekas rumah terbakar,"

"Ya, itu dia,"

Roxas semakin murung walau yang lain mulai tertawa mendengar cerita lain dari Sora yang agak aneh dan menggelikan. Roxas tidak mendengarkannya. Dia mendengar yang lain.

'Pergilah ke sana.'

''Ke…''

'Hutan Seiyuu.'

''K-kenapa?''

'Pergilah, aku akan menunjukan sesuatu padamu.'

Setelah suara atau Ventus menghilang dari pikiran Roxas, dia bangkit.

"Mau kemana, sayang?"

"…"

"Duduklah, Roxas," perintah Cloud namun Roxas melihatnya dengan jijik.

"Rox, kalau mau ke toilet, jangan sendirian. Di sini ada hantu. Hihihiii.." goda Sora sambil tertwa lirih.

"Sora, jangan bicara ngawur!" kedua orang tuanya protes.

"Maaf. Jadi, kau mau kemana?" sambung Sora lagi, mendongak melihat wajah lesu Roxas. Tatapan kosong yang ia kenal. Tatapan yang ia lihat setiap pembunuhan itu berakhir. Sora mulai khawatir.

"Saix… sa…ix… mati…" gumam Roxas. Ketiga Strife merasakan hawa dingin luar biasa dari tubuh Roxas. Mereka menggigil dan menggeletukan gigi. Roxas kemudian berlari menjauh dari mereka seperti seseorang mengendalikannya dan dia tidak bisa melawan.

"ROXAS!" Mereka berteriak, bangkit cepat-cepat.

"Ada apa dengannya?"

"Ma, Pa, aku akan menyusulnya!" seru Sora dan tanpa mendengar jawaban orang tuanya, dia melesat mengejar Roxas yang berlari pelan tapi mantap.

~~ooOoo~~

"Roxas, kau mau kemana?" teriak Sora, melihat Roxas berlari ke arah hutan yang dilarang. Roxas tidak mendengarkannya. Dia menyingkirkan palang di depan hutan lalu berlari masuk. Sora merasakan hawa aneh dan kengerian luar biasa datang dari hutan itu namun, dia terpaksa masuk untuk mengejar Roxas.

Hutan Seiyuu. Berbagai jenis pepohonan tumbuh lebat dengan posisi tidak teratur. Rerimbunan daun pohon di atas menghalangi adanya cahaya masuk sehingga membuat hutan ini jadi agak gelap. Dedaunan kering rontok dari rantingnya, tersiram bagaikan hujan. Tanah yang kering dan keras berselimut daun mati dan ranting kering. Kaki Sora terasa dingin setiap kali menginjak tanahnya.

Sora berjalan pelan. Suasana ngeri hutan itu telah menyusutkan sedikit keberaniannya namun, keinginannya untuk menemukan Roxas yang telah menghilang sesaat setelah masuk ke hutan, masih sangatlah besar.

Sesekali dia memanggil nama adiknya. Bersiul pelan, dan kembali memanggil.

"Roxas? Kau dimana? Ayo pulang. Mama dan Papa menunggu kita…"

Tapi, setiap kali dia memanggil, tidak pernah ada jawaban muncul.

Sora kembali berjalan. Kakinya sakit dan dingin. Dia tahu, dia telah masuk ke dalam hutan sangat jauh namun, Roxas masih belum ia temukan. Semakin jauh ia berjalan, semakin ngeri suasana hutan itu. Cahaya semakin langka, udara dingin semakin menusuk. Deretan pohon mahoni membawanya ke suatu tempat asing yang terlihat seperti… gereja tua.

"Gereja?" katanya, melihat genteng gereja dari kejauhan. Entah kenapa, Sora berlari ke arah gereja itu. Gereja itu besar, genteng biru tua, dinding putih keruh, halaman yang gersang, dan bau arang yang hebat seperti tempat pemanggangan roti.

Sora melihat Roxas berdiri di depan pintu gereja, langsung memanggilnya.

"Roxas!" dia berteriak sambil berlari mendekat.

"Sora…" bisik Roxas, menolehnya sedikit.

"Akhirnya, aku menemukanmu. Ayo pulang!" seru Sora sambil menarik lengan Roxas. Dia tidak berkutik.

"Mengerikan,"

"Huh?"

"Aku melihat seorang wanita. Dia… wanita yang waktu itu. Di sini, orang-orang jahat itu membakarnya hidup-hidup. Padahal dia tidak punya kesalahan apapun…"

"Roxas, apa yang sedang kau bicarakan?"

"Dia memohon agar putranya dibebaskan tapi…. Mereka menganggapnya penyihir dan putranya… dianggap sebagai anak haram."

"Roxas, sadarlah!"

"Putranya hanya bisa melihat ibunya dibakar di tiang itu dari jendela…"

"Roxas!"

"Ventus hanya meratapinya… dia melihat kematian ibunya… dia menangis… dia…. Sudah mati.."

PLAK

"Maafkan aku, Roxas…" Sora menampar Roxas yang terus berkata tanpa arah. Roxas terdiam, tidak bergerak. "Aku tidak mengerti apa yang tadi kau bicarakan tapi itu benar. Ventus sudah mati. Aku ingin mengatakan itu padamu sejak dulu tapi, kau menganggapnya sebagai teman dan aku… aku tidak bisa mengatakannya begitu saja, kan?"

"Dia menghantuiku… dia memintaku… untuk membalas dendamnya.. dan dendam ibunya…"

"Aku mengerti. Itulah sebabnya kau bertingkah aneh selama ini, kan?"

"Dia mengendalikanku. Dia mengancam, jika aku tidak membantunya, dia akan melukaimu Sora dan juga Mama dan Papa…"

"Roxas…"

"Aku takut…," Roxas memeluk Sora dan gemetar. Sora menerima pelukan itu kemudian berpikir bagaimana supaya Roxas terbebas dari pengaruh Ventus. Dia bingung.

Seorang pria gemuk tiba-tiba muncul dari pintu gereja. Dia memperhatikan di kembar, mendengarkan pembicaraan mereka.

"Penyihir!"

Sontak, Sora dan Roxas melepas pelukan mereka, segera menatap pria itu. Dari dalam gereja, muncul sekitar 50 orang berpakaian hitam dan jugah. Salah satunya adalah seorang wanita berdagu runcing, berwajah dingin.

"Kau bilang penyihir?" katanya. Pria itu mengangguk.

"Anak itu. Dia berhubungan dengan arwah!" pria itu menunjuk Roxas. Roxas ketakutan, Sora mendekap tubuhnya.

"Jadi, masih ada penyihir di desa ini? Itulah penyebab desa ini dilanda musibah. Tangkap dia!"

Orang-orang itu bergerak maju ke arah Sora dan Roxas. Mereka menarik lengan Roxas dengan sangat kasar, menampar Sora yang menghalangi mereka, kemudian berusaha menyeret Roxas ke dalam gereja itu.

"Jangan! Jangan bawa adikku!" jerit Sora, memegangi tangan Roxas yang sedang diseret dengan kasar.

"Sora!"

"Minggir, bocah setan! Penyihir harus dimusnahkan! Dia harus dibakar dalam Api Suci untuk mengembalikannya ke wujud semulanya; debu!"

"TIDAK! Adikku bukan penyihir!" Sora memberontak, berusaha menyingkirkan tangan-tangan kotor yang menyakiti Roxas. Roxas juga ikut memberontak, berusaha melepaskan diri.

"DIAM!"

"SORA!"

Sayangnya, mereka berhasil membawa Roxas ke dalam gereja. Sora mengejar hingga ke dalam gereja. Dia dihentikan oleh beberapa orang, dipaksa berlutut dengan tangan dipiting ke belakang.

"Jangan sakiti dia!"

Seorang pria memaksa Roxas berlutut kemudian mengikat tangannya. "Dia penyihir. Dia harus dimusnahkan demi keselamatan desa."

"Dia hanya anak biasa!" Sora mulai menitikkan air mata.

"Sora…" wajah Roxas sudah basah oleh air mata. Dia sudah menangis sejak mereka menyeretnya dengan kasar.

"Maleficent," seru pria itu.

"Lakukan sekarang. Bakar dia hidup-hidup,"

Mata Sora dan Roxas terbelalak bersamaan.

TBC

No EDITING!

Yeeeeeee

BINGUNG!

*Dihajar orang sekomplek

Ahh, please review iyah~~ Saya ingin tahu apakah cerita ini nyaplir terlalu jauh atau enggak….

Oh, iya. Saya juga sedang merencanakan fic sho-ai SoRoku…

Bagaimana menurut reader sekalian? :D