Which One
.
Chapter 10
By: Oh AiLu © 2014
Main Cast: Oh Sehun & Luhan.
Genre: Romance.
-Genderswitch-
.
- AiLu -
.
Summary:
Sehun merasa semua yang tidak dimiliki kekasihnya ada pada diri Luhan. Jongin sangat menyukai Luhan dan sangat ingin menjadikan Luhan kekasihnya. Baekhyun selalu iri atas kemampuan Luhan dan mencoba menjadi diri seorang Luhan. Kyungsoo yang iri kepada Luhan karna seorang Jongin. Bagaimana dengan Luhan?
.
- AiLu -
.
Balasan Review!
.
egatoti: Hmm, lemah lembut ya? Bisa diatur, tapi nanti ya? Karakter Luhan ada siklusnya soalnya. Udh di lanjut. Di review yaaa
himekaruLI: Amiin... Enak punya pacar kaya? Enak dong, apalagi kayak Sehun XD enak banget malahan. Haha, om YiFan tahan banting kok liat yang begituan. Keterangan tempat? Oke, akan aku pikirkan. Untuk sekarang ini, yang kayak di bawah gak apa ya? Makasiiiiih. Kip ripiu yoo
Guest 1: Hahaha, Sehun semangat kok. Kan udah minum kuk*bima energi XD Udh dilanjut~
ruixi1: Iya tuh. Luhan sok-sokan galak. Eh, waktu ditinggalin mewek lagi. Haha, solusi kamu bagus! Bagus untuk mempercepat end ff ini XD Daebak. Kip ripiuuu
luluyaa: Udah :)
Oh Juna93: Ah, mudah atuh mah dapetin hati Luhan, apalagi orangnya Sehun. Iya tuh. Yifan ada yang ngurusin dulu, baru Luhan bisa sama Sehun. Gak rumit kok chinguuu. Kip review chinguuu
fifioluluge: Iya Hahahag. Emang harus jutek kali. Udah ditinggalin juga. Foto~ Foto siapa itu, kasih~ kekeke. Ga papa kok, aku suka yang panjang-panjang reviewnya XD Kip ripiuu
BeibiEXOl: Haha, makanya, aku masih mikir hukuman yang begimana yang cocok buat Sehun. Kalo kejam banget, gak tega #adu~h. Haha, ga papalah kalo Baekhyun mah. Sehun cuman ikut numpang? haha kasian kamu nak.. #puk-pukinChanyeol #SalahOrangWoi. Oke, saran diterima. Waktu dan tempat penghukuman akan segera diputuskan. Laporan diterima, kembali ke tempat #kayakupacaraaja. Kip ripiuuu
luhannieka: Iya tuh, review begituan harus dipeduliin(?). Nantilah serang negara apinya, rundingan sama Zuko dulu. Haha, iya yak kalo keinjek gajah udah berabe, ilang dah reviewer gua yang paling cantik #ceilaaah #2000mana2000. Haha, lagi bingung buat sweet momentnya gimana. Secara Luhan udah jijik gitu. Gimana mau sweet moment, deket aja najis. Kayak Yixing? Sama dong. Niru gua lu ya. Sehun punya elu? Hellow, sertifikatnya udh di tangan gua, tinggal nyicil 5 kali lagi #barangkaliya. Haha, gue make sehari, tapi rasanya selamanya brow #garing. Halah, sok kayak YiFan lu. YiFan aja gak sok kayak elu #eh? Ehehehe, jangan begitu dong brow, ngaret dikit ga papa laa~ #aegyogagal. Oke oke, gua sampein. Kip ripiu and Kip rusuh XD
HUNsayHAN: Haha, iya Baek nikah. Di chap ini diceritain kepada pisah. haha, ternyata masih ada yang kasian sama Sehun XD Haha, iya. Udah dilanjut nih chingu. Kip ripiu yaa
lalat-pucing: HAHAHA Makasiiii~h. Tersanjung aku~ Rasanya pengen lanjutin sinetron 'tersanjung' lagi deh. haha, iya alhamdulillah aku kebal. Iya, aku juga marah sebenernya, tapi gimana dong, aku udah keduluan sayang sama merekaaa, gak bisa diganggu gugat. Eh, mereka coret, sama Luhan. Yes, makasih brow. Ini udah dilanjut. Kip ripiu yaaa
deerLu200490: Ga papa kok :D Haduh, apa iya? Padahal kata-katanya biasa aja loh. Aku gak bisa berdebat soalnya. Setiap ada diskusi di kelas, aku selalu dapet nilai jelek ;D Sekarang ikut Komet? Uwaaah, kerenn. Iri deh sama kamuuuuuuu. Ga papa kok curhat. Kolom review di ff aku memang menyediakan fasilitas curhat XD Aku terima dengan senang hati. Kan bisa sekalian bertukar pikiran. Kip ripiuuu
niesha sha: Iya brow. Ini udah dilanjut. Kip ripiu yaaa
Guest 2: Haha, udah deg-degan loh baca review kamu pas di kata 'cuman'-nya. Haduh haduh haduh. Hahaha, iya, mangap yak. Wordnya bandel, gak mau dipanjangin #heheheg. Ini udh apdet. Kip ripiuuuu
N-E-Skyu: Brow, maap yah aku nulis penname kamu begitu. Soalnya si ffn-nya biasanya kurang-kurang nulisnya kalo ada titik-nya. Haha, ga papa kok. Gugatan itu loh, ini juga ga tau bener ato ga, soalnya dapet dari kakak, ga berani mastiin sendiri. Gugatannya, katanya Luhan sama Kris di gugat karna mereka belum resmi keluar dari SM, terus SM gugat mereka soal film mereka, begitulah, auh ah gelap. Sakitnya tuh di mata, bengkak terus gara-gara Luhan. Iya sih. Emang aku pernah berharap Luhan Kris balik ke EXO lagi, tapi kayaknya ga akan sinkron lagi, gituloh, udah renggang gimana gitu. Hahaha, itu mah biasa. Aku kebetulan ngambil IPA jugak!
chenma: Haha, foto~ foto siapa itu, kasih~ #ceritanyalaginyanyi. Haha, Zitao kode? kode yang mana? Halah, udh lupa lagikan gua. Kip ripiu ya
niasw3ty: Iya, olimpiade akademik maksudnya. Ahaaaaa, ternyata anak k-popers pinter-pinter yak? Cuman aku deh yang kayaknya bobrok hehehe. Kip ripiuu
hanhyewon357: Haha, iya, aku juga kangeeeen sweet momentnya. Tapi males nuliiis #plak. ChanBaek udah nikah. Sehun gak datang karna, biasa, sibuk dia :P Iyatuh. Kan Sehun semua di jealous-in. Haha, Zitao cuma mau modus aja itu mah. Akan saya usahakaaaaan. Kip ripiu.
WulanLulu: Iya sih chingu, tapi untuk beberapa chap gini aja dulu deh. Baru nanti berubah lagi. Yap, ChanBaek udh nikah. Gak tau ya? Kan aku yang nyebar undangan #salahfokus. Bentar lagi bakal dapet kok Luhannya. Kip ripiuu
springboynyet: Gua juga sayang kok saya elu. Elu, iya elu, ai lop yu XD #virusdodit. Udah pernah atuh pake tropikanaslim, jadi rugi. Makanya coba-coba pake gula biang dengan tambahan sedikit boraks XD Kamu kejang-kejang sebelum tidur? HAHAHA, kamu kejang-kejang setelah nulis review ato kejang-kejang dulu baru nulis review? Hahaha, ga bisa bayangin gua. Ini udah dilanjutttt. Review terus ini ff mangaaaaaaats! gooo semangat gooo semangat XD #copasdulubrow
maya9891: Hahaha, makasih. Kip ripiu ya ^^
MeriskaLu: Eh, iya ya? Ada berita begitu? Klo Luhan bisa balik ke umur 20 dia ga mau jadi idol. Wah parah. Kalo itu kejadian, aku ga bakal balas review kamu dong sekarang :D Mungkin aja aku nantinya jadi author ff KaiSoo ato HunSoo mungkin. Hiks, ga bisa bayangiiiin. Haha, iya iya. Haduh, aku ga punya bbm chingu, sosmed juga jarang buka sekarang. Maklum orang sibuk #uhuk. Gimana dong?
rikha-chan: Iya :D. Okedeh, beberapa chap lagi HunHan bakal bersatu. Beberapa, ingat ya XD
.
- AiLu -
.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.11 AM, tapi belum ada tanda-tanda Luhan keluar dari dapur mulai daritadi. Setidaknya, jika Luhan akan pulang, Luhan akan pamit terlebih dahulu kepada Sehun, secara dia adalah penghuni terakhir di restoran ini, selain Sehun tentu saja.
Sehun yang sudah cukup mengantuk dan cukup bosan menunggu Luhan, segera bangkit dan berjalan menuju dapur.
Sehun melangkah cepat menuruni tangga, membuat ketukan sepatunya terdengar nyaring di sepinya malam di restoran yang telah tutup itu.
Dan ketika Sehun sampai di dapur, dia menganga tak percaya.
Luhan, gadis itu tengah tertidur di kursi panjang di sudut ruangan dengan posisi duduk.
Pandangan Sehun beralih menatap sebuah panci besar yang masih berada di atas kompor yang menyala. Ada kepulan asap yang keluar dari lubang-lubang kecil di tutup panci itu, membuat Sehun lebih tertarik mendekati panci itu daripada seorang gadis yang sedang tertidur cantik di sudut ruangan.
Sehun perlahan membuka tutup panci dan dengan segera kepulan asap yang lebih besar dan beraroma sedap langsung menghantam wajahnya. Sehun mengibas-ngibaskan tangannya sejenak dan mulai menengok kearah dasar panci. Isinya yang berupa kaldu itu hanya tersisa satu per delapan dari isi awalnya. Sehun berdecak miris.
Diapun kembali menutup panci itu dan mematikan kompornya, beralih menghampiri Luhan yang tidur menunduk. Sehun yang awalnya ingin mengangkat Luhan, segera menjauhkan diri ketika melihat Luhan mulai terbangun dan menatapnya dengan mata yang disipitkan.
"Sehun?" tanyanya. Sejenak, direnggangkannya badannya sambil menguap kecil, sampai dia teringat dengan alasannya berlama-lama di dapur ini.
"Kalduku!" serunya sambil bergegas menghampiri panci kaldunya dan membukanya.
Sehun sudah tahu Luhan akan menangis sebentar lagi ketika melihat mata rusanya menatap isi panci itu dengan tatapan kosong.
Hiks
Oh tidak.
Sehun langsung menghampiri Luhan dan menarik pundaknya untuk menghadap kearahnya. Dari sini, Sehun bisa melihat mata berkaca-kaca Luhan sedang menatapnya menyesal, juga bibir yang dengan lucunya melengkung ke bawah itu.
"Sehun, maaf." katanya. "Hiks-aku menyia-nyiakan bahan dapurmu."
Sebenarnya Sehun ingin tertawa saat ini juga. Ya Tuhan, ini hanya soal bahan dapur?
"Sudahlah, aku bisa memesannya lagi nanti."
"Tapi, aku juga sudah menghancurkan eksperimen untuk menu baru kita." katanya lagi.
"Itulah gunanya aku." kata Sehun, diapun beranjak dari tempatnya dan kembali dengan sebuah apron berwarna hitam.
"Tolong." kata Sehun sambil berbalik membelakangi Luhan. Luhan yang mengerti mulai memperbaiki letak apron Sehun dan mengikatnya rapi.
"Sudah." kata Luhan sambil membalik badan Sehun dan sejenak memperhatikannya. "Kau tampak lucu."
Sehun memutar bola matanya malas.
"Baiklah, apa yang perlu akan kerjakan chef?" tanya Sehun kemudian. Luhan yang sedari tadi masih terkekeh pelan, hanya menunjuk wastafel di sebelah kursi panjang yang tadi dia tempati.
Sehun mengikuti arah tunjuk Luhan dan hanya mengangguk mengerti. Oh, cuci tangan.
"Baiklah, kita mulai!" kata Luhan ketika Sehun sudah kembali. Diapun mulai membuka kembali note di saku bajunya dan mulai membacanya.
"Sehun, bantu aku merajang sayur-sayuran, em?" tanya Luhan. Sehun hanya mengangguk patuh dan segera menjalankan tugasnya.
Jika Luhan terlihat semangat malam ini, maka berbanding terbalik dengan Sehun yang bahkan beberapa kali harus bolak-balik ke watafel untuk mencuci tangannya yang tak sengaja tergores pisau. Tak bisa menahan kantuk.
"Hun, jangan bolak-balik cuci tangan saja. Memangnya, ada apa dengan tanganmu?" kata Luhan yang menyadari Sehun yang untuk kelima kalinya melangkah ke wastafel dan mencuci tangannya.
Sehun kembali menuju tempatnya dan menyempatkan diri untuk menunjukkan kelima jari kirinya yang terdapat beberapa luka sayatan kecil.
"Ya Tuhan!" kata Luhan dan segera meraih tangan Sehun dan membawanya duduk di kursi panjang.
"Maaf, aku sudah mencoba sekeras mungkin. Tapi aku mengantuk." kata Sehun sambil tersenyum kikuk. Luhan menghela nafas dan beranjak mengambil tasnya.
"Ini," kata Luhan sambil menempelkan plester-plester kecil di setiap luka yang ada di jemari Sehun. "Kau disini saja. Tak usah ikut lagi."
Sehun hanya mengangguk patuh dan membiarkan Luhan kembali sibuk dengan bahan-bahan masakannya.
Tak berselang lama, Luhan kembali duduk di sebelah Sehun ketika Sehun sudah sepenuhnya tertidur. Luhan mulai memperhatikan wajah damai Sehun sambil tersenyum tipis.
"Gomawo," bisiknya. "Kau selalu menjadi penyelamatku sampai saat ini."
Luhan mulai terlarut dengan objek yang berada di depannya ini. Wajah Sehun. Wajah itu, kenapa semakin terlihat angkuh sekarang?
Luhan terkekeh pelan dan mulai mengangkat tangannya untuk menyentuk pipi Sehun. Tapi ternyata sentuhannya malah membuat kepala Sehun yang semula bersandar di dinding dan sedikit mendongak, sekarang jatuh bersender ke pundaknya dan rambutnya menggelitiki leher Luhan.
"Hah, kenapa jadi seperti ini?"
.
- AiLu -
.
"Hei, Sehun."
Goyangan lembut yang cukup menganggu terasa di lengan atas Sehun, membuatnya perlahan mencoba membuka matanya. Menyadari jika ia masih berada di dapur, tapi posisinya sudah berbaring, tidak seperti tadi.
Seketika sorot matanya mengarah kepada seorang gadis yang sedang tersenyum tipis kearahnya, dengan wajah pucat dan lingkaran hitam yang terlihat samar di daerah matanya.
"Eksperimenku berhasil." kata Luhan-gadis itu.
Sehun langsung bangkit dan menatap Luhan yang terlihat sempoyongan, dan benar saja, tak berapa lama, gadis itu terjatuh ke dalam pelukannya, tak sadarkan diri.
"Ck, kau terlalu memaksakan dirimu, Luhan." kata Sehun. Dia pun mulai mengangkat badan Luhan dan segera membawanya ke lantai tiga. Tempat tinggalnya selama ini.
Ting
Pintu lift terbuka, menampilkan sebuah ruangan keluarga yang terlihat sangat nyaman dan di dominasi dengan warna putih. Sofa, meja, tv, terlihat apik jika dipadu padankan dengan motif kayu sebagai lantai ruangan ini.
Sehun kembali melanjutkan langkahnya menuju sebuah pintu besar di ujung ruangan. Dengan susah payah Sehun membuka pintu itu dan membawa Luhan masuk ke ruangan yang ternyata kamar tidur berukuran luxury itu.
Perlahan Sehun membaringkan Luhan di ranjangnya dan membukakan celemek yang lupa ia buka sedari tadi, membuka sepatunya dan menyelimutinya sebatas dada.
"Aku yakin kau pasti akan menghajarku besok. Tapi, asal bayarannya bisa memandangi wajahmu semalaman, aku tak apa."
.
- AiLu -
.
Sepasang kekasih itu masih saling merengkuh dengan posisi tiduran di lantai kayu itu. Sang pemuda-Jongin tampak memeluk tubuh sang gadis-Kyungsoo erat dan hidungnya menempel di puncak kepala sang gadis.
Tak berselang lama, Kyungsoo mulai mengeliat dan perlahan melepaskan pelukan Jongin dari tubuhnya. Pergerakan yang terasa memaksa itu membuat Jongin ikut sadar dan mulai menyesuaikan masuknya cahaya ke dalam retinanya.
Setelah cukup nyaman dengan pandangannya, Jongin kembali menatap Kyungsoo yang juga tengah menatapnya dengan mata yang masih berkedip-kedip, guna menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya.
"Selamat pagi, Kyungsoo-ya." kata Jongin lembut sambil mengecup kening Kyungsoo lembut. Kyungsoo yang belum sadar betul hanya bergumam sambil merenggangkan badannya.
Tapi tubuhnya seolah menegang ketika pandangannya tertuju kearah pintu dapur rumah tua ini. Disana, di ambang pintu, terlihat seorang anak kecil berambut panjang dengan poni yang menutupi sebagian wajahnya, tengah menatap mereka dalam diam. Dan tatapannya itu mengingatkannya kepada Sehun, sunbaenya. Dingin dan menusuk.
"J-Jong.." kata Kyungsoo yang kembali beringsut mendekati Jongin dan menenggelamkan dirinya di pelukan pemudam itu dengan tubuh yang bergetar.
"Kenapa? Kau kedinginan?" tanya Jongin. Kyungsoo menggeleng pelan.
"Di pintu dapur." lirihnya.
Sejenak, Jongin hanya mengerutkan dahinya bingung. Tapi beberapa saat kemudian, dia mulai berbalik untuk melihat apa yang Kyungsoo katakan. Dan...
"Tak ada apa-apa disana." kata Jongin lembut. Kyungsoo menggeleng lebih keras.
"Tadi aku melihat seorang gadis kecil dengan rambut panjang yang menutupi sebagian wajahnya. Dia memperhatikan kita dengan mata tajamnya. A-aku takut."
"Oke oke. Sebaiknya kita mencari halmoni segera." kata Jongin yang masih bingung dengan penjelasan Kyungsoo.
Jongin pun mulai bangkit dari tidurannya, walau sedikit sulit karna Kyungsoo kembali menempelinya seperti semalam. Mereka mulai berlajan menuju dapur dan tak menemukan siapa-siapa disana.
"Halmoni?" panggil Jongin pelan. Kyungsoo memukul dada Jongin keras.
"Panggil yang kuat, bodoh. Kau lupa?"
Jongin mengangguk patuh dan kembali melanjutkan langkahnya.
"Halmoni?" panggilnya dengan suara yang lebih keras.
"Ini tidak berguna." kata Kyungsoo. "Sebaiknya kita keluar."
Jongin kembali mengangguk dan menghampiri sebuah pintu di ruangan itu. Pintu belakang.
Jongin perlahan membukanya dan betapa terkejutnya mereka ketika mendapati wanita tua yang mereka cari sudah berada disana dengan seorang anak perempuan di sampingnya.
"Ah, anak muda. Kalian sudah bangun." kata wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Ayo masuk, kebetulan sarapannya sudah jadi. Kita makan bersama saja."
Jongin hanya mengangguk sambil tersenyum kecil dan mengikuti wanita itu ke sebuah meja kecil yang hanya mempunyai empat kursi.
Menu sarapan pagi ini tak terlalu sederhana. Ada ayam dan salad. Waw!
Dan selama makan, Kyungsoo terlihat lebih pendiam. Dan alasan satu-satunya adalah gadis kecil yang tadinya ia anggap hantu itu. Ternyata itu adalah Nari, cucu wanita tua yang katanya lebih suka dipanggil Soomang Halmoni.
"Ah, iya. Halmoni, apakah halmoni tau nomor telepon jasa travel dari Jeju? Kami rasa, liburan kami dibatalkan saja dan kami akan pulang ke Seoul sekarang. Mungkin lain waktu." tanya Jongin. Soomang halmoni yang hanya bisa membaca gerak bibir Jongin segera mengerti.
"Ah, ada. Setiap minggu halmoni dan Nari pergi ke Jeju untuk berdagang." kata Soomang halmoni. "Sebentar."
Soomang halmoni pun mulai beranjak dari duduknya dan mengambil sebuah buku di meja kecil yang berada di ruangan itu.
"Ini." katanya setelah kembali ke meja makan.
"Terima kasih halmoni, terimakasih atas tumpangan dan sarapannya." kata Jongin sambil membungkuk kecil, diikuti dengan Kyungsoo yang tersenyum kecil di sampingnya.
"Nah," kata Jongin sambil merogoh sakunya. "Dan ini untuk Nari, ambillah, untuk jajan."
Jongin segera menyodorkan beberapa lembaran won itu kepada gadis kecil itu. Namun gadis itu hanya menatap Jongin dan lembaran uang itu secara bergantian. Membuat Jongin bingung sendiri.
"Mungkin Nari malu. Ini, halmoni saja yang memberikannya." kata Jongin.
"Tidak usah repot-repot Jongin-ah." kata Soomang halmoni. Jongin hanya tersenyum lembut dan menyelipkan lembaran won itu ke dalam genggaman Soomang halmoni.
"Ah, kalau begitu kami juga berterimakasih." kata Soomang halmoni sambil sekilas mengusap belakang kepala Nari.
"Baiklah, halmoni, kalau begitu kami pamit kalau begitu. Masih ada barang yang perlu di ambil di mobil." kata Jongin. Soomang halmoni mengangguk dan mengantar Jongin serta Kyungsoo sampai pintu depan.
"Ah, bisakah kami mendapat nomor telpon halmoni? Siapa tahu jika kami ingin mampir, kami bisa telfon lebih dahulu." kata Jongin.
Setelah mendapat nomor telepon Soomang halmoni, Jongin dan Kyungsoo segera berjalan menuju Mobil mereka yang cukup jauh dari rumah Soomang halmoni.
.
- AiLu -
.
Valence, Perancis.
.
Kris membaringkan tubuh Zitao perlahan di ranjang kamar tidurnya. Setelah berhasil membuka high heels 15 senti itu, pandangan Kris beralih menuju pakaian yang Zitao gunakan. Tidak mungkin dia memakai baju serumit itu ketika tidur. Bukan apa-apa, tapi itu adalah pakaian brand ambasador yang akan Zitao iklankan. Apa yang akan dikatakan designer-nya jika mengetahui pakaian yang dirancangnya rusak hanya karna dipakai tidur oleh model kesayangannya. Tidak akan.
Tapi, tak mungkin juga Kris yang menggantikannya! Dan tidak mungkin juga dia memanggilkan Madam Grace, tetangga apartementnya di jam yang sudah menunjukkan pukul satu dini hari begini.
Huh, Kris jadi menyesal menerima tawaran Zitao untuk minum bersama selepas pekerjaan terakhir mereka selesai tadi. Dan inilah akibatnya. Gadis yang Kris anggap sangat centil dan penggoda itu ternyata hanyalah gadis polos yang bahkan tidak bisa minum bir. Kejutan apa lagi ini?
"Heheheg," Kris menoleh kearah Zitao. "Aku mencintaimu gege.."
Kris mengangkat sebelah alisnya. Sudah dari satu jam yang lalu, sedari dalam perjalanan sampai sekarang, Zitao hanya bisa menggumamkan kalimat itu. Dan itu membuat telinga Kris sedikit risih.
Kris kembali teringat soal pakaian super mahal yang Zitao gunakan. Dan jantungnya tiba-tiba berdegup kencang ketika membayangkan dirinya yang menggantikan pakaian Zitao. Hell, siapa yang tidak mau? Model manis berkulit eksotis itu mempunyai tubuh yang indah dengan lekukan yang pas. Siapa yang tidak mau?!
"Bodoh!" umpat Kris ketika menyadari pikirannya. Dia pun segera beranjak menuju lemari pakaian dan mengambil baju Luhan yang tertinggal. Mengambil ukuran yang paling besar. Dan pilihannya berakhir pada sebuah piyama sutra berwarna coklat tua.
Tunggu, mengenai Luhan... Apa dia harus memberitahu perihal masalah ini? Mengatakan pada Luhan bahwa seekor panda mabuk terdampar di apartement mereka. Dan dia membutuhkan piyama Luhan.
Mungkin itu akan masuk akal.
Kris segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi Luhan.
10 detik berlalu.
30 detik berlalu.
"Hah, tidak diangkat. Biasanya Luhan sudah bangun jam segini." katanya dan kembali mengutak-atik ponselnya.
Kris kembali bergerak risau ketika mendapati Zitao mulai menggeliat heboh dalam tidurnya. Haduh, bertahanlah baju mahalkuuu...
Piiip
"Halo, Madam Wilson? Boleh aku meminta bantuanmu?"
.
- AiLu -
.
09.14 AM
Luhan sedikit tersentak ketika mendapati beban yang cukup berat menindih perutnya. Luhan mencoba menggerak-gerakkan badannya dan berusaha menyingkirkan beban berat itu. Namun ketika tangannya hendak menyingkirkan beban itu, dia sadar jika beban itu adalah... sebuah paha?
Luhan merabanya sekali lagi, dan benar saja, itu adalah sebuah paha!
Luhan sontak membuka matanya dan langsung terduduk. Membuah paha yang tadinya berada di atas perutnya bergeser ke pahanya. Luhan menatap was-was paha itu dan mulai mengikuti kemana muara dari paha itu, alias wajah pemiliknya.
Dan, terlihatlah Sehun sedang tertidur dengan nyenyak di sebelahnya. Dan bertelanjang dada.
"Aaaaa!"
Sehun tersentak dan langsung membuka matanya.
"Yak! Apa-apaan kau-"
"KENAPA KAU BISA DISINI, HAH?!" seru Luhan sambil memukul-mukul lengan Sehun.
"Yak! Hentikan-"
"MATI SAJA KAU!" kata Luhan sambil bangkit dari ranjang dan bergegas pergi. Dengan dandanan baru bangun tidurnya.
"Yak! Luhan-ah!"
BRAK
Sehun memjamkan matanya seiring suara debuman pintu yang begitu keras. Benar perkiraannya. Luhan mengamuk.
Sementara itu, Luhan yang berada di depan lift, terus menekan tombol lift. Dan ketika lift sampai di lantai 3, Luhan terdiam melihat Junmyeon berada disana, begitu juga Junmyeon.
"Lu? Apa yang kau lakukan disini?" tanya Junmyeon sambil memperhatikan Luhan dari ujung kaki ke ujung rambut. "Pagi-pagi begini?"
Luhan menghela nafasnya dan menyingkirkan Junmyeon dari pintu lift.
"Maaf sunbae, aku rasa aku akan ijin hari ini. Aku permisi." kata Luhan lalu menekan tombol lift.
"Ada apa dengan mereka?"
.
- AiLu -
.
Luhan keluar lift dengan terburu-buru, membuat beberapa pasang mata menoleh padanya. Dan sesampainya di halte bus yang letaknya cukup jauh dari restoran, Luhan baru menyadari jika tas beserta isinya masih tertinggal di lokernya. Tak mungkin dia kembali lagi, karna akan ada potensi dia akan bertemu dengan pemuda yang membuatnya muak pagi-pagi begini.
"Hah, aku naik taksi saja. Aku akan membayarnya ketika sampai apartement dan meminjam uang kepada Kyungsoo." kata Luhan sambil mengangguk antusias. Tapi..
"Ah, aku lupa jika Kyungsoo sedang berlibur dengan Jongin!" katanya sambil memijat pelipisnya.
"Ah!" serunya karna terkejut dengan pemikirannya sendiri. "Aku belum pulang ke rumah! pasti eomma dan appa akan marah padaku."
Luhan segera memberhentikan sebuah taksi yang kebetulan lewat dan berangkat menuju rumahnya.
Di dalam taksi, Luhan sudah menyusun alasan apa yang akan ditanyakan eommanya nanti, kenapa ia tidak langsung pulang ke rumah dan baru datang sekarang. Mungkin dengan alasan Kyungsoo, sudah cukup. Tapi, bukankah sedikit keterlaluan. Dan... bagaimana cara menjelaskan perihal pekerjaannya saat ini, sedangkan dia sudah menceritakan perihal pekerjaan yang ditawarkan tutornya di Prancis.
Luhan hanya menggelengkan kepalanya lalu menyenderkannya kesandaran kursi sambil menutup mata. Urusan alasan, nanti yang melintas di otaknya saja. Sekarang dia masih mengantuk, berhubung dia tidur dini hari dan terbangun dengan perasaan syok.
Dan soal syok, apakah tadi dia berada di kamar Sehun? Di lantai 3? Hah, sayang sekali, padahal ia ingin sekali mengetahui isi lantai itu, tapi karna tadi terburu-buru dan hanya ada emosi di kepalanya, dia bahkan tak sadar berasa di kamar Sehun tadi.
Dan, apa yang sebenarnya terjadi sehingga dia bisa berakhir di ranjang bersama Sehun. Tidak mungkin sesuatu yang tidak-tidak terjadi diantara mereka, karna ketika bangun, pakaiannya masih lengkap dan tak ada yang aneh di tubuhnya. Lalu kenapa?
Hal yang terakhir diingatnya adalah dirinya yang menunggu kaldu di kursi dengan kepala Sehun yang bersender di pundaknya. Dan ketika dia melihat kepulan asap mulai muncul dari lubang-lubang kecil di tutup panci, dia segera membaringkan Sehun dan pergi mengeceknya. Dan yang dia dapatkan adalah kaldu yang sempurna seperti yang dia harapkan. Setelah itu, dia ingat dia langsung menghampiri Sehun dan membangunkannya, lalu...
'Apa yang terjadi setelah itu?' batinnya.
"Nona, kita sudah sampai."
Luhan sontak membuka matanya dan keluar dari taksi.
"Ajusshi, tolong tunggu sebentar ya." kata Luhan dan supir taksi itu hanya mengangguk.
Luhan segera masuk ke dalam rumahnya dan langsung bertanya kepada pelayan pertama yang dia temui.
"Ahjumma, eomma mana?" tanyanya.
"Ah, nona sudah pulang? Itu, nyonya dan tuan sedang berada di Milan, sedang liburan." kata pelayan itu. Luhan menganga parah. Kedua orang tua itu masih sok-sok romantis ternyata, berlibur berdua? Hah, jangan sampai ketika mereka pulang, Luhan dapat abar jika dia akan mempunyai adik lagi. Tidak akan.
"Terimakasih ahjumma." kata Luhan dan segera keluar rumah.
"Bagaimana ini? Jadi, siapa yang akan kupinjami uangnya untuk membayar taksi?" gumamnya. Dia berhenti sejenak di pekarangan rumahnya, sekedar untuk berfikir. Tapi sekeras apapun dia berfikir, jawabannya tetap sama, tak ada.
"Apa aku harus memohon kepada supir taksi itu?" tanya Luhan.
"Tak mungkin aku meminjam uang kepada Jung ahjumma, kan?"
"Hah, apa boleh buat." katanya sambil melanjutkan langkahnya menuju pagar rumahnya. Dan ketika keluar pagar, bukannya sebuah taksi biru yang berada di hadapannya, malahan sebuah mobil ford hitam yang terparkir disana, lengkap dengan seorang pemuda yang bersender dengan tampannya di cap mobil sambil tersenyum tipis.
"Apa yang kau lakukan di dalam sampai membuat taksi itu menunggu lama?" tanya sehun santai. Luhan menatap Sehun tajam dari atas sampai bawah.
"Dan apa yang kau lakukan disini sampai kau meninggalkan restoranmu begitu saja." kata Luhan bersungut-sungut.
"Hanya ingin mengembalikan tas seseorang yang tertinggal di loker." katanya enteng. Luhan sontak terkejut sekaligus senang.
"Kalau begitu mana?" minta Luhan tetap ketus. Sehun mengayunkan dagunya ke arah pintu mobil.
"Di dalam." katanya. Luhan sejanak menatap Sehun curiga, namun dia menepisnya dan segera menghampiri pintu mobil Sehun dan membukanya. Tasnya berada di bangku bangku sebelah, bangku kemudi. Dan dengan cukup susah payah Luhan meraihnya. Tapi..
"Auh, Yak!" teriak Luhan ketika merasakan tubuhnya terdorong ke dalam dan diiringi dengan suara pintu mobil yang tertutup dengan nyaring.
Brak
Luhan mengusap sikunya yang terbentur persneling mobil sambil menatap Sehun yang baru masuk mobil dengan tajam.
"Apa maksudmu?" tanya Luhan dingin.
"Tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin mengambil bayaran atas kebaikanku setelah mengembalikan tasmu dengan selamat." kata Sehun dan mulai menjalankan mobilnya.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Luhan penuh selidik.
"Sarapan."
"Tuan Oh yang terhormat. Tidak bisakah kau sarapan di restoranmu sendiri sebelum berangkat kesini?" tanya Luhan.
"Tidak, aku bosan makan disana."
Luhan hanya mendengus singkat dan mulai memeriksa tasnya. Dompet, ponsel, kosmetik, lengkap.
"Oh Tuhan." kata Luhan ketika memeriksa riwayat panggilan tak terjawab di ponselnya.
1 dari Kris
5 dari eomma
"Ada masalah?" tanya Sehun. Luhan hanya menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.
"Eomma, dia menelponku beberapa kali tak tak kuangkat. Dan aku langsung berfikir ada sesuatu yang buruk yang akan terjadi." kata Luhan. Sehun hanya mengangguk kecil sambil tersenyum. Tak sadarkah Luhan, tadi ia baru marah-marah dan sekarang dia sudah bisa berbicara dengan santai kepada Sehun. Gadis ini emosinya mudah berubah-ubah ternyata.
"Lu."
"Hm?" tanya Luhan sambil menoleh sekilas sambil terus mengotak-atik ponselnya.
"Soal yang tadi, aku minta maaf."
Luhan sontak menghentikan kegiatannya ketika mengingat insiden pagi tadi. Diapun menoleh kearah Sehun dan menatapnya dengan pandangan meminta penjelasan.
"Semalam kau pingsan. Mungkin karna terlalu lelah dan kurang tidur. Jadi karna kamarku lebih dekat daripada mobilku, jadi aku membawaku ke kamarku."
Luhan terdiam.
"Maaf, karna bangun-bangun sudah membuatmu terkejut karna aku bertelanjang dada. Itu kebiasaanku ketika tidur. Jadi kau harus membiasakan diri."
Luhan awalnya mengangguk mengerti, namun dia kembali menatap Sehun bingung.
"Untuk apa aku membiasakan diri?" tanya Luhan ketus.
"Ya... kau kan akan mengabdi sebagai istriku nanti."
Luhan menatap Sehun tajam, namun tak dapat dipungkiri sudut bibirnya bergerak-gerak tak sadar dan tertarik keatas. Diapun memalingkan wajahnya ke jendela mobil sambil tersenyum kecil.
"Kenapa? Senang ya?"
Oh Sehun menyebalkan.
"Tentu saja tidak." kata Luhan tanpa menoleh kearah Sehun. Sehun hanya terkekeh kecil.
"Um.. soal yang tadi pagi aku minta maaf karna sudah membentakmu."
"Kau juga memukulku."
"Iya iya, makanya aku minta maaf. Dan mungkin inisiatifmu untuk membawaku ke kamarmu adalah tepat. Karna, kalaupun kau membawaku ke apartement dalam keadaan pingsan, siapa yang akan membukakan pintu? Kyungsoo sedang tidak di apartement." kata Luhan. Sehun mengangguk-angguk.
"Jadi, aku sudah dimaafkan, kan?"
"Setelah kau menciumku."
Luhan memutar bola matanya. "Dasar maniak. Apa hanya itu saja yang ada dipikiranmu?"
"Lebih dari itu, jika kau ingin tahu." kata Sehun sambil mengerling nakal. Luhan hanya menghela nafas. Tak dapat dipungkiri jika Sehun memang bertambah 'dewasa' sekarang. Luhan tak yakin, selama tiga tahun kebersamaan Sehun dan Baekhyun mereka belum melakukan apa-apa. Sehunkan bajingan.
Berbicara tentang Baekhyun...
"Hun, em, aku mau bertanya." tanya Luhan pelan. Sehun hanya menoleh kearahkan sekilas.
"Bagaimana ceritanya sehingga Baekhyun bisa bersama Chanyeol sekarang?" tanya Luhan yang berusaha memilih kata yang sangat-sangat pas untuk tak menyakiti perasaan Sehun, mungkin.
"Begitulah." kata Sehun. "Chanyeol datang menjelaskan semuanya dan mereka pergi."
Singkat sekali.
"Ayolah, aku butuh penjelasan yang lebih panjang dan rinci." kata Luhan merengek.
"Apa imbalannya untukku?" tanya Sehun sambil menatap Luhan jenaka.
"Apapun itu, oke? Sekarang ceritakan."
Sehun tersenyum iblis. Mudah sekali memperalat gadis ini. Jika begini, Sehun harus lebih ekstra menjaganya dari pria-pria brengsek seperti dirinya.
"Baiklah." kata Sehun.
"Sebenarnya, pada tahun pertama dan kedua kami masih baik-baik saja. Hanya saja memang, aku pernah mendapati Baekhyun keluar sendiri dan pulang-pulang berwajah lesu. Saat itu aku tak mau mengambil asumsi yang membuatku merasa bersalah sendiri nanti. Jadi aku mendiamkannya sampai dia mau berbicara sendiri. Aku sering memergoki Baekhyun yang tiba-tiba berlari ke kamar mandi setelah melihat sesuatu di ponselnya, dan ketika keluar, wajahnya kembali sendu. Aku tak mau bertanya, kembali ke alasan tadi. Dan di tahun terakhir adalah puncak perubahan sikap Baekhyun. Dia selalu pulang terlambat. Aku hanya diam dan menyambutnya dengan pelukan hangat seperti biasanya, namun pada malam itu, pertama kalinya dia menolak untuk aku peluk."
"Dan pada suatu malam di musim panas.."
.
Flashback
.
Sehun baru saja kembali dari menemui harabeojinya ketika dia mendengar isakan kecil yang bersumber dari kamarnya. Sehun mengerutkan dahinya dan mendekat ke pintu kamar yang tertutup rapat. Perlahan menempelkan telinganya di sana, guna mencuri dengar.
"Tak mungkin, Yeol."
Itu suara Baekhyun.
"Bagaimanapun dia rela mengorbankan keluarganya demi aku. Apa kau pikir aku sekejam itu untuk meninggalkannya sekarang?"
"A-aku tak menyakiti diriku sendiri. Aku... yakin."
"Apa?! Jangan bercanda!"
"Halo? Park Chanyeol!"
Seiring dengan teriakan Baekhyun, berbunyilah dentingan lift yang menandakan adanya orang yang datang. Tak baisanya.
Brak
Sehun cukup terkesiap ketika melihat Baekhyun membuka pintu kamar dengan keras dan membantingnya.
"Sehun-"
"Permisi..."
Perkataan Baekhyun terpotong dengan terdengarnya suara berat itu dari depan lift. Disana, seorang pemuda tinggi tegap, dengan stelan jaket kulit dan celana jeansnya, menatap Sehun dan Baekhyun dengan pandangan datar.
"Par Chanyeol?" tanya Sehun. Pemuda itu-Chanyeol hanya mengangguk sambil tersenyum kecil.
"Aku ada perlu denganmu sebentar." kata Chanyeol sambil melirik Baekhyun yang telah bungkam dan menunduk dalam di belakang Sehun.
"Baiklah, silahkan." kata Sehun sambil mempersilahkan Chanyeol duduk di sofa tamunya.
"Baek, kau tak ikut duduk?" tanya Sehun. Baekhyun sedikit tersentak dan segera bergabung bersama mereka.
"Begini, aku ingin memberi penjelasan kepadamu tentang... Baekhyun."
Baekhyun tersentak dan langsung menatap Chanyeol terkejut. Tak percaya jika Chanyeol benar-benar melakukan hal ini.
"Sejak dari SMA, aku dan Baekhyun sudah menjalin hubungan tanpa stauts di belakangmu. Berawal dari pertemuan kami di lapangan basket, dimana aku sedang berlatih sendiri dan Baekhyun yang sedang menunggu anggota klub ekskulnya sambil duduk di pinggir lapangan. Aku kira, Baekhyun sedang memperhatika aku waktu itu, tapi ternyata tidak. Memang matanya kearahku, tapi tatapannya kosong. Dari situ aku tertarik untuk duduk di sampingnya, menyapanya dan menanyakan keluhannya."
"Sebagai orang yang hanya kenal nama saja, Baekhyun merupakan orang yang cepat akrab dan langsung menceritakan keluhannya kepadaku. Tentangmu dan Luhan. Aku tertarik mendengarnya. Karna, yeah, aku juga sempat tertaik kepada Luhan kala itu. Haha, oke lupakan yang terakhir. Yang jelas, kami mulai dekat dari saat itu. Kami selalu bertemu pas pulang sekolah sebelum kegiatan klub ekskul Baekhyun di mulai."
"Aku sadar jika ini memang salah, tapi aku yakin perlahan Baekhyun sudah menunjukkan perasaan yang tidak biasanya kepadaku. Aku tahu dia mencintaiku, tapi dia menutupi perasaannya karna memikirkan rasa sayang berlebihannya kepadamu."
"Dan jika ingin tau tentang diriku. Hanya satu yang perlu kau tahu, bahwa aku mencintai Baekhyun. Dan tujuanku kesini adalah untuk menjemput Baekhyun, membawanya bersamaku. Sudah cukup dia mengorbankan perasaannya selama ini untuk membalas budimu yang juga dengan nekatnya meninggalkan keluargamu."
"Chanyeol, cukup." lirih Baekhyun.
"Aku berjanji kepadamu untuk membahagiakannya. Aku akan membawanya ke California dan jangan khawatir, aku sudah mempunyai perusahaan kecil disana, aku yakin bisa menjamin kehidupan Baekhyun dan -jika diberkati- anak-anak kami kelak."
Sehun hanya diam dan menatap Chanyeol dingin.
"Jika kau masih belum percaya, kau bisa-"
"Sudah." intrupsi Sehun. Perlahan sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Mengapa begitu sulit? Kenapa tidak langsung bilang tujuanmu dan selesai." kata Sehun.
"Jadi kau menyetujui Baekhyun pergi bersamaku?" tanya Chanyeol tak percaya.
"Siapa bilang?" kata Sehun. "Setidaknya, biarkan dia yang mengatakan keinginannya sendiri."
Baekhyun langsung terkesiap dan menatap Sehun dan Chanyeol bergantian.
"Sehun, tidak mungkin dia mau ju-"
"Biarkan dia berbicara sendiri, Chanyeol."
Chanyeol hanya bisa menghela nafas dan menatap penuh harap kepada Baekhyun. Sementara Baekhyun masih menunduk sambil memainkan ujung kaosnya.
"Jadi, bagaimana Baek?" tanya Sehun lembut. Baekhyun mulai mengangkat wajahnya dan menatap Sehun sendu.
"Maafkan aku," katanya terpotong. "-Sehun. Aku sadar mencintai Chanyeol sekarang."
Sehun tersenyum tipis sambil mengusap kepala Baekhyun lembut.
"Tak apa."
Baekhyun yang tadinya kembali menundukkan kepalanya, sontak mendongak.
"Aku senang kau bisa jujur." kata Sehun.
"Sehun.."
"Pergilah." kata Sehun sambil tersenyum kecil. "Tapi jika si Park ini macam-macam padamu, nomor telponku masih sama."
Baekhyun tersenyum lebar dan menghambur ke pelukan Sehun.
"Gomawo."
.
Flashback End
.
Luhan menatap Sehun tak percaya. "Kau terdengar seperti seorang pahlawan berjiwa besar dari ceritamu."
"Memang."
"Jadi, kau berjiwa besar hanya di-"
"Tentu saja tidak!" potong Sehun, sedangkan Luhan hanya terkekeh kecil.
.
- AiLu -
.
"I FOR YOU TOO, SHAKE SHAKE THAT BRASS!"
Luhan dan Sehun sudah kembali dari makan siang mereka. Dengan lagu milik Amber F(x) yang diputar dengan volume keras, Sehun kembali menjalankan mobilnya. Sambil sesekali mengikuti Luhan yang menyanyikan lagu dengan teriakannya.
"I FOR YOU TOO!"
"Uu~ Ye~ah." lantun Luhan dengan suara lembutnya dan langsung tertawa bersama Sehun.
Tak tahu mengapa, rasa cinta yang dulu sempat berusaha untuk dikuburnya langsung meluap tak tertahankan. Apa yang salah dengannya? Dipikiran memang sempat menegaskan bahwa dia tak akan terjerat oleh si bajingan tampan Oh Sehun. Tapi, kata hati siapa yang dapat menyangkal? Dia yakin sekarang. Dia masih dan selalu mencintai Sehun. Tapi, masih ada kesempatankan, untuknya melupakan pemuda itu? Dia punya Kris sekarang, seharusnya dia ingat itu. Tapi, bisakan dia menyusun ulang rencana menjauhi Sehun besok? Setelah mereka selesai bersenang-senang untuk hari ini saja.
"HUN! KITA AKAN PERGI KEMANA?" tanya Luhan dengan suara keras, mengingat volume musik belum diturunkan sedikitpun.
"YANG PASTI KAU AKAN MENYUKAINYA."
"DAN AKU TIDAK YAKIN DENGAN APA YANG KAU SEBUT AKAN KUSUKAI ITU." kata Luhan tak yakin.
"AKU BERJANJI. KAU AKAN MENYUKAINYA. BER-JAN-JI."
Luhan menatap Sehun sejenak lalu tersenyum lebar. "BAIKLAH."
Dan tak lama, Sehun telah menepikan mobilnya di pinggir padang rumput berselimut salju. Luhan pun keluar diikuti Sehun.
"Ya, kau benar, aku menyukainya. Andai saja ini bukan musim dingin." kata Luhan lesu lalu berjongkok untuk mengorek salju yang cukup tebal itu, dan menemukan rumput kuning layu.
"Seharusnya kau-"
Bugh
Luhan menutup menahan nafasnya sambil membersihkan salju yang mengenai kepala belakangnya. Dia pun mulai bangkit dan hendak menghadap ke belakang.
"YAK-"
Bugh
"Oh Ya ampun." seru Sehun sambil menghampiri Luhan yang sedang membersihkan wajahnya juga mengeluarkan salju yang masuk ke mulutnya.
"Mianhae, Luhan-ah." kata Sehun sambil ikut membantu Luhan membersihkan wajahnya. Dan ketika Luhan membuka matanya dan menatap Sehun tajam, dia pun langsung menghambur kepada Sehun dan menindihnya.
"Keterlaluan!" kata Luhan yang duduk di perut Sehun dan melempari gumpalan salju kecil ke wajah Sehun.
"Rasakan itu. Rasakan rasakan!" kata Luhan, sedangkan Sehun hanya bisa menutup wajahnya dan sesekali menghalangi tangan Luhan. Sampai dirasanya Luhan sedikit lengah, dia pun membalik keadaan.
"Oh Sehun! Jangan main-main." kata Luhan menatap Sehun sengit. Sedangkan Sehun yang sedang memenjarakan Luhan dibawahnya hanya dapat tersenyum miring, dan tangannya menahan pergelangan tangan Luhan di samping kiri kanan kepala Luhan.
"Kau yang mulai berani main-main denganku." kata Sehun. Sedangkan Luhan hanya menggerak-gerakkan tangannya, tapi nihil. Sampai, dia mendapatkan sesuatu di genggamannya.
"Ayo, memohonlah, rusa ke-"
Bugh
"Ppttt-"
Luhan hanya menahan tawanya ketika melihat wajah merah padam Sehun dipenuhi oleh salju yang baru saja di lemparnya dengan telapak tangannya.
"Kau," kata Sehun sambil mengeratkan genggamannya di kedua pergelangan tangan Luhan. "Aku benar-benar tak main-main lagi sekarang."
Kata Sehun dan salah satu tangannya mulai turun menuju pinggang Luhan, dan menggelitikinya.
"HAHAHAHA.. Sehun, tolong, akuh tak tahan digelitik." kata Luhan yang masih berusaha menepis tangan Sehun. Sehun hanya tersenyum lebar sambil terus menggelitiki pinggang Luhan.
"Makanya, apa kubilang, jangan macam-macam denganku." kata Sehun.
"HAHAHA, aku tak macam-macam kok. Hah.."
"Berani melawan?" kata Sehun sambil memperkuat gelitikannya.
"HAHA, tidak tidak, HAHA ampun~" kata Luhan sambil menatap Sehun sayu.
"Katakan aku tampan."
"Tidak ma-HAHA, iya iya kau tampan."
"Katakan kalau kau mau menjadi pacarku." kata Sehun dengan tangan yang belum berhenti.
"Tidak mungkin."
"Katakan!"
"AH! ITU TIDAK MUNGKIN OH SEHUN!"
Sehun menghentikan gelitikannya dan menatap Luhan yang berada di bawahnya sendu. Sementara Luhan sedang mengatur nafasnya yang memburu.
"Kenapa tak mungkin?" tanya Sehun pelan.
"Simple saja. Aku sudah punya pacar." kata Luhan.
"Apa benar, tidak mungkin lagi?"
"Ya."
"Apa bisa aku buktikan?" tanya Sehun. Luhan menatap Sehun bingung.
"Ijinkan aku menjalani masa percobaan untuk beberapa saat. Aku yakin, setelah itu, kau akan menganggap jika aku tidak mungkin ditolak olehmu."
"Jangan bicara omong kosong." kata Luhan sambil mengerutkan dahinya.
"Aku, serius."
Luhan menatap Sehun lama, sekaligus menimbang apakah pemuda itu serius atau hanya untuk mempermainkannya saja. Tapi, ketika dia kembali menyelami mata tajam itu, dia yakin.
"Baiklah."
Sehun tersenyum kecil dan langsung menurunkan badannya untuk sekedar meraih bibir Luhan dan memagutnya.
Luhan terdiam, bersikeras untuk menekankan bahwa ini akan terjadi untuk hari ini saja. Jadi, tak apakan jika dia menikmatinya.
"Emh."
Luhan memalingkan wajahnya ke samping, membuat Sehun melepaskan pagutannya.
"Sudah." kata Luhan. Sehun hanya terdiam memandangi Luhan dan detik berikutnya kembali memagut bibir gadis itu. Dan untuk kedua kalinya, Luhan memalingkan wajahnya.
"Aku pikir pakaianku sudah basah." kata Luhan dan pada akhirnya Sehun mau tak mau melepaskannya.
Mereka pun berjalan kembali menuju mobil dengan tangan yang saling bertautan. Dan ketika sudah di dalam mobil, Sehun kembali menghidupkan penghangat dan menyuruh Luhan mengganti jaketnya dengan jaket Sehun.
"Kau sendiri bagaimana? Bajumu juga tipis." kata Luhan. Sementara Sehun yang sedang menghidupkan mesin mobil, sejenak menoleh. Dia tersenyum tipis dan kembali menarik dagu Luhan, memagut bibir tipis itu lagi untuk beberapa saat.
"Nah, sekarang aku sudah hangat." kata Sehun sambil memainkan matanya. Sementara Luhan hanya memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang kentara di pipinya.
"Ingat Sehun, ini masih masa percobaan." kata Luhan tanpa menatap Sehun.
"Jadi, jika kita sudah resmi nantinya, aku boleh melakukan lebih?" goda Sehun. Luhan langsung menoleh dan memukul lengan Sehun kuat.
"Berhenti berkata omong kosong dan bawa aku pulang."
"Pulang ke apartementmu atau ke ruanganku?"
"Oh Sehun!"
.
TBC
.
Heheheheheg, itu moment HunHan terekstrim yang bisa aku buat. Ampun, jangan minta lebih, ga sanggup #ngangkattangan. Jadi bagaimana? Gilakah? Dan untuk yang desak HunHan sweet moment, puaskah? Kalo gak puas, nanti aku hiatus-in hahag #gakadayangpeduli. Becanda, untuk ff ini, aku udh janji sama diriku sendiri untuk gak akan pernah ada kata Hiatus di summary-nya. Mkanya ff yang acknowledge aku stop dulu.
Ini ceritanya aja tanpa balasan review dan cuap-cuap aku, udah 5K+. Apa masih kurang?
Oke, aku mau nanya lagi nih, untuk sekedar mengakrabkan diri aja #uhuk. Begini, menurut kalian, apa emang semua ato hampir semua k-popers itu yadongers? Jawaban dilihat dari diri masing-masing XD
Big Thanks to:
egatoti, himekaruLI, Guest 1, ruixi1, luluyaa, Oh Juna93, fifioluluge, BeibiEXOl, luhannieka, HUNsayHAN, lalat-pucing, deerLu200490, niesha sha, Guest 2, N-E-Skyu, chenma, niasw3ty, hanhyewon357, WulanLulu, springboynyet, MeriskaLu, maya9891, rikha-chan.
