Judul: Little Fire on the Candle
Sub-Judul: Dishonesty
Fandom: Naruto
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Genre: Drama, Hurt/Comfort
Rating: T
Pairing: SasuHina, SasuSaku
WARNING: AU, OOC-ness
NOTE: Selamat membaca :)
Little Fire on the Candle
( Act. 9: Dishonesty )
.
"Lalu kau bilang begitu? Kau bilang lebih memilih Hinata?"
Sasuke menghela napas panjang. Tak menyahut.
"Kau tahu, Sasuke. Aku semakin yakin kalau kau adalah laki-laki paling bodoh di seluruh jagat raya," suara di seberang telepon itu kembali menyuarakan pendapatnya.
Sasuke mengerutkan keningnya, "Jangan bilang begitu. Aku juga berusaha, tahu."
"Oh ya? Misalnya?"
"Seandainya saat itu Sakura memintaku memutuskan Hinata, aku pasti tak akan ragu lagi untuk melakukannya."
Sakura tak berkedip menatap layar ponselnya. Kedua kelopak matanya terbelalak lebar. Tangannya bergetar, tak percaya dengan apa yang dibacanya di layar terang itu. Sebuah sms dari Sasuke membuat segala yang ada di sekitarnya terasa berputar kencang.
.
From: Uchiha Sasuke
Time: 21:47
.
Sakura, terima kasih untuk hari ini.
Aku masih tidak mengerti kenapa kau lebih memilih naik taksi dan pulang sendiri. Kuharap aku tidak membuatmu tersinggung atau semacamnya.
Lalu, terima kasih atas saranmu.
Aku memang payah, tak dapat memutuskan sendiri. Hatiku tak dapat sepenuhnya seratus persen memilih salah satu.
Berkat kata-katamu, aku telah memutuskan.
Aku telah memilih seseorang yang berharga bagiku, seseorang yang tujuh puluh persen ada di hatiku saat ini.
Dan aku…akan melepaskan seseorang yang lain. Walau…sempat aku berpikir aku menginginkannya seratus persen.
Mungkin kata-kataku ini membingungkan, aku sendiri tak mengerti apa yang ingin kusampaikan. Tapi yang jelas, aku sangat bersyukur pernah bertemu denganmu dan mengenalmu.
Segala hal yang terjadi bersamamu, sungguh menyenangkan. Semua hal yang kau ajarkan padaku, sangat berarti bagiku. Aku tidak akan pernah melupakan semua hal itu.
Terima kasih untuk segalanya.
Sayonara.
.
.
Air mata yang tak sanggup dibendung itu perlahan jatuh bercucuran. Mengalir mengikuti lekuk wajah Sakura.
Isak tangis menjadi melodi yang menamatkan lembaran malam penuh kejutan dan kepedihan itu bersama dengan alunan simfoni serangga malam yang bersahutan.
.
Memandang angkasa yang kelam tanpa bulan, Hinata yang tengah larut dalam pikirannya sendiri, duduk termangu di bingkai jendela kamarnya. Pandangannya tak terlepas dari hamparan bintang yang berkerlip nun jauh di langit gelap.
Sekejap ekor matanya menangkap layar ponselnya yang berkerlip sekilas. Hinata meraih ponselnya yang ia biarkan dalam mode silent itu.
Terlihat caller ID berkelebat di layar ponselnya: Sai.
Dengan setengah hati, ia membuka flip poselnya itu dan menempelkannya di cuping telinganya. Diam menunggu lawan bicaranya itu membuka suaranya terlebih dahulu.
"Aku mencarimu sejak tadi siang," suara dari seberang saluran telepon itu terdengar tenang namun menyiratkan banyak makna.
"Kalau tentang proyek penelitian kita, kuserahkan pada Matsuri dan Naruto," Hinata menjawab datar.
"Apa yang kau rencanakan?" Sai tak menanggapi pernyataan tak acuh Hinata.
Hinata mengatupkan kedua kelopak matanya, "Soal apa?"
"Jangan pura-pura tidak tahu. Tadi siang Ino melakukan sesuatu yang mengejutkan, membantu Sakura. Walau gadis penunggu meja resepsionis bilang ia tak melihatmu dan Ino berbincang hari ini, aku berani bertaruh tindakan Ino itu ada hubungannya denganmu."
Hinata menarik sudut bibirnya sedikit, "Atas dasar apa kau berani menuduhku begitu?"
"Kalau kukatakan firasat, apa kau akan tertawa?"
Hinata membuka kedua kelopak matanya dengan segaris lengkungan samar di sudut bibirnya, "Tidak juga. Aku sendiri punya banyak firasat belakangan ini."
Hinata tidak dapat melihat reaksi Sai ketika ia mengucapkan hal itu, namun ia tahu pasti bahwa Sai pastilah tengah mengerutkan keningnya.
"Urusanku dengan Ino sudah selesai. Sasuke akan kembali padaku," Hinata kembali membuka suaranya sesaat kemudian.
"…Apa maksudmu?"
"Barusan aku mendapat sms darinya. Ia telah membuat keputusan."
Hening menyesap sejenak, sebelum Hinata kembali berujar dengan tenang, "Dia akan kembali menjadi dirinya yang dulu dan melupakan Sakura pernah hadir dalam hidupnya."
"Eh?" terasa keterkejutan dari nada suara Sai yang biasanya terkesan datar tanpa emosi.
"Seperti yang kau dengar," Hinata memainkan helaian rambutnya yang menjuntai lembut di dadanya.
Sai terdiam sejenak, "Apa ini sudah selesai? Kau tidak akan mengganggu gadis itu lagi?"
Hinata mengerutkan keningnya, "Kau bicara seolah aku ini orang jahat saja," ujarnya dengan segaris senyum tipis.
"Karena ketika kau melakukannya, kau melibatkan Ino juga," tandas Sai.
"Sudah kukatakan, urusanku dengan Ino sudah selesai. Aku tidak akan mengusiknya sama sekali. Ah dan Sai," Hinata terhenti sejenak, "kalau kau berpacaran dengan Ino nanti, jangan biarkan ia lepas dari pandanganmu sesaat saja, siapa yang tahu serigala jahat akan merebutnya darimu."
Keesokan harinya…
.
.
Sakura meletakkan laporan seminar di atas meja Ketua OSIS, ketika pintu ruang OSIS itu berderit dan sesosok gadis berambut pirang berkuncir empat memasuki ruangan dan melambaikan tangannya.
"Oh, proposal laporan seminar kemarin? Cepat juga kau," Temari—gadis pirang itu, mengangkat sebelah alisnya. Kedua tangannya sibuk menenteng map dan tumpukan poster, dan meletakkannya ke atas meja kerjanya.
Sakura tersenyum tipis, "Aku ingin menyelesaikan segala urusanku di sini secepat mungkin."
Temari terhenti dari kegiatannya, memutar lehernya dan menatap Sakura dengan pandangan heran. Kedua bola matanya terpaku menatap sepasang emerald dalam-dalam, "Ada sesuatu yang terjadi?" tanyanya dengan nada menyelidik.
"Kenapa kau beranggapan begitu?" Sakura mengangkat bahunya, tertawa kecil.
"Hentikan tawa konyolmu itu, mataku tidak bisa ditipu," tandas Temari tajam. "Matamu sembab."
"Eh? Ah, ini… Semalam aku menonton DVD drama yang sedih," Sakura masih tertawa hambar, mengusap matanya cepat. "Masih kelihatan, ya?" tambahnya.
"Mungkin akan luput dari pandangan orang lain, tapi mataku ini tajam, setajam instingku," timpal Temari sekenanya.
Sakura menghela napas. Ia tahu benar bahwa tidaklah mungkin dapat menyembunyikan sesuatu dari kawan karibnya yang satu itu.
"Ada…yang terjadi," Sakura menyandarkan tubuhnya di meja OSIS dan melemparkan pandangannya ke luar jendela besar di balik meja, di belakang tubuhnya.
Temari menatapnya sejenak, dan menghela napas panjang, "Aku sudah mengira pada akhirnya pasti hal ini akan tiba juga."
Sakura mengerutkan keningnya.
"Kau dan Sasuke sama-sama tidak sadar dengan apa yang kalian lakukan. Membiarkan semuanya terjadi begitu saja, mengikuti arus, dan tanpa sadar kalian telah terjebak dalam pusaran emosi yang tak berujung," Temari menatapnya lurus-lurus.
Sakura tak membantah. Ia memahami betul maksud perkataan Temari, dan menyadari bahwa hal itu benar adanya.
Temari memutar lehernya, menatap jam dinding yang bertengger kaku di atas pintu ruang OSIS yang besar, "Masih ada waktu lima belas menit sebelum seseorang datang. Mau membicarakannya sekarang?"
Sakura tersentak.
"Bukan dengan Sasuke. Kau harus bicara dulu denganku. Aku tak mau lagi melihat teman-temanku salah langkah lagi. Sebagai seorang teman aku merasa bertanggung jawab."
Sakura menarik napas lega, sekaligus bingung dengan tujuan Temari. Temari tak mengindahkan tatapan heran Sakura, dan menarik kursi di balik meja kerjanya sebelum menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Duduklah," ujar Temari, mempersilahkan Sakura duduk di depan meja kerjanya.
Sakura menurut, mendudukkan dirinya di kursi empuk hitam di hadapan meja kerja Temari. Sedikit rasa canggung tersirat dalam raut wajahnya, namun lekas tergantikan oleh air muka yang datar dan terkontrol.
"Tidak perlu pasang poker face di hadapanku, percuma saja," timpal Temari menopang dagu dengan sebelah tangannya.
Sakura tak menyahut. Menatap ujung taplak meja yang menjuntai menyentuh tepian roknya.
"Silahkan," Temari berujar kemudian. "Aku pasang telingaku lebar-lebar," tambahnya.
Sakura menelan ludah, dalam sekejap semua yang ada di kepalanya lenyap sudah. Pikirannya buntu.
"Intinya," Sakura menghela napas pada akhirnya, "aku dan Sasuke tidak akan sama seperti dulu lagi," sahutnya sejenak kemudian. "Tidak sebagai teman sekalipun."
Temari menaikkan sebelah aslinya, "Kenapa?"
"Memang sudah seharusnya begitu," Sakura mengangkat bahunya, berusaha terdengar tak acuh. Namun nada suaranya mengkhianatinya.
"Siapa yang memutuskan seperti itu?" tanya Temari lagi, masih dengan intonasi yang tenang dan datar.
"Kami berdua," jawab Sakura pendek, tanpa menoleh pada Temari yang mengerutkan keningnya.
"Kalian berdua?" cecar Temari menyelidik.
"Sasuke meminta pendapatku, apa yang harus ia lakukan," Sakura masih menghindari tatapan mata Temari yang tengah menatapnya lurus-lurus.
Hening sejenak. Sakura dapat merasakan tatapan lekat Temari pada dirinya, seolah berusaha meneropong jauh ke dalam jiwanya, menarik keluar semua hal yang tersembunyi di sana. Sakura membetulkan posisi duduknya, merasa tak nyaman dengan suasana yang entah bagaimana telah membuatnya dadanya sesak itu.
"Biar kutebak. Kau menyuruhnya kembali pada Hinata," sahut Temari sejenak kemudian.
Sakura sedikit terkejut, namun segera ia kausai emosinya. Melirik pada Temari kali ini, ia mulai membuka suaranya, "Apa maksudmu? Kembali apanya? Sejak awal juga dia tidak pernah meninggalkan Hinata," ada sedikit nada tidak mengenakkan ketika nama kekasih Sasuke itu meluncur dari ujung lidahnya.
Temari menatapnya penuh selidik. Tatapan yang sama yang membuat Sakura tidak nyaman, seolah sang pemilik sepasang mata beludru hitam itu tengah menelanjanginya dengan sorot matanya. Sakura merasakan dirinya terasa seolah transparan di hadapan sang lawan bicara. Perlahan tanpa sadar jemarinya mulai memilin ujung taplak meja di tepian roknya.
"Lihat dirimu sendiri, kacau begitu," tukas Temari.
Sakura tak menimpali.
Menghela napas sejenak, Temari menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi empuknya. Kedua bola matanya melirik pada pemandangan di balik jendela besar yang terpaut beberapa meter di sampingnya.
Tak berapa lama, ia mulai membuka suaranya kembali, "Itu tidak benar, kan? Kau hanya ingin hal ini berjalan sesuai harapanmu itu, kan?"
"Apa maksudmu?" Sakura mneyahut sedikit lemah.
"Jangan pura-pura bodoh," tukas Temari tanpa belas kasihan. "Kenyataannya tidak begitu, kan? Dia mengatakan sesuatu yang lain, bukan?" Temari mengangkat sebelah alisnya dan meninggikan suaranya.
Tiba-tiba Sakura mengibaskan tangannya di udara, "Kalau iya memangnya kenapa? Toh semua sudah diputuskan. Besok adalah hari dilangsungkannya festival, sekaligus hari terakhir aku di sini. Hari terakhir antara aku dengan Sasuke. Puas kamu?"
Temari mengerutkan keningnya.
"Kau bilang muak melihat persiteruanku dengan Ino, kan? Muak melihat masalahku dengan Sasuke dan Hinata kan? Mulai besok lusa semuanya akan kembali normal, tanpa kehadiranku di sini. Tanpa aku di antara Sasuke dan Hinata. Bersyukurlah! Selamat!" Sakura berseru tanpa kendali. Sepasang mata emerald-nya berkilat dalam emosi yang berkecamuk
Temari menatapnya tanpa berkedip. Sejenak kemudian ia bertutur, "Kalau memarahi orang lain begini bisa membuatmu puas, silahkan. Hanya saja perlu kau tahu, ini tidak akan menyelesaikan apa-apa."
Sakura menatap Temari tanpa berkata-kata. Kedua tangannya bergetar, meremas genggaman ujung roknya erat. Berbagai emosi berkecamuk dalam dirinya tanpa sanggup dibendungnya.
"Kalau dengan menyalahkan orang lain seperti itu bisa membuat perasaanmu menjadi lebih baik, silahkan saja," suara tegas dan lantang Temari kembali menyeruak, mengulang dan menegaskan pernyataannya sebelumnya.
Sakura memejamkan kedua kelopak matanya erat. Tanpa sanggup ditahannya, air matanya mulai berkumpul di pelupuk matanya. Ia menundukkan kepalanya.
"Aku tahu kau senang melihat segala sesuatunya dari sudut pandangmu sendiri. Berpikir mana yang lebih baik, mana yang lebih buruk, semuanya menurut pertimbanganmu sendiri. Apa kau pikir yang begitu itu hebat?" Temari mencecar.
"Memangnya kau tahu apa?" Sakura memekik nyaring.
"Aku tidak tahu apa-apa. Tapi paling tidak, aku tahu bahwa ada seseorang yang berpikir bahwa dirinya sangat mengetahui banyak hal di sini," Temari membalas dengan tajam.
"Jadi sekarang kau menyalahkanku?" Sakura meninggikan suaranya.
"Kau terlalu banyak berpikir tentang orang lain. Sekali-kali pikirkan perasaanmu sendiri," Temari menghela napas, mengurut dahinya sendiri.
Sakura tak menimpali.
"Akan jadi lebih baik jika kau dan dia jujur pada perasaan kalian masing-masing. Kalian berdua sangat bodoh," Temari mendecak, tak menyembunyikan nada suaranya yang terkesan geram. "Sangat, sangat, bodoh."
"Coba lihat siapa yang seenaknya memandang permasalahan sesuka hatinya di sini. Seenaknya saja menyimpulkan aku dan dia itu serasi lah, saling melengkapi lah, harmonis lah, seenaknya saja kalian memutuskan kehidupan orang lain," Sakura tersenyum hambar.
Temari menatapnya lekat tanpa suara.
"Tenten yang selalu mendorongku untuk mendapatkan Sasuke, bicara ini-itu sesuka hatinya, mengomentariku sekehendaknya, lalu kau yang mendesakku dengan berbagai ceramah, menilaiku seenakmu, menyudutkanku dengan berbagai asumsi dan analisamu, apa bedanya kalian dengan Ino kalau begitu?"
"Kurasa kau lupa bahwa Ino sudah membantumu kemarin. Kalau tidak ada dia, acara yang kau banggakan itu pasti hancur."
"Aku tidak membicarakan masalah pribadiku dengannya. Yang kumaksud adalah cara kalian menilaiku sekehendak hati kalian, dan memutuskan apa yang baik dan buruk bagiku sesuka kalian. Tidak peduli dengan perasaanku sama sekali," timpal Sakura sengit.
"Kalau memang tidak peduli, aku tidak akan duduk di sini dan mendengarkan ceritamu seperti orang bodoh," Temari membalas, namun masih dengan nada yang terkesan tenang dan terkendali.
Sakura mengangkat bahunya dan mencibir, "Aku tak minta kau mengurusiku. Silahkan keluar dari masalahku kalau itu yang kau mau, jika itu membuatmu merasa jadi orang pintar."
"Lihat dirimu sendiri di depan cermin," Temari menimpali. "Siapa kau? Sakura yang kukenal tidak begini, Sakura yang kukenal tidak pernah kehilangan logikanya seperti ini. Tidak menyalahkan orang lain untuk menutupi ketidakpuasan atas apa yang dirasakannya."
Hening menyesap beberapa saat, baik Temari maupun Sakura tak membuka suaranya.
Kesenyapan yang menyesakkan dada itu pecah ketika Sakura berujar perlahan, setengah berbisik, "Yang begitu itu sangat membebaniku, tahu…"
Temari tak menyahut.
"Kalian…bisa saja seenaknya mendorongku untuk melakukan ini-itu. Tapi yang menjalaninya itu aku. Dan akulah yang paling tahu benar, apa yang sebetulnya sedang terjadi, lebih daripada kalian. Lebih dari siapapun. Enak saja kalian bicara beginilah, begitulah, padahal yang menjalaninya adalah aku. Salah atau tidak opini kalian, yang kena imbas adalah aku, bukan kalian.
"Kalian cuma bisa melihat segala sesuatunya dengan gampang menurut sudut pandang kalian sendiri, karena ini bukan masalah kalian, bukan kalian yang mengalaminya sendiri. Menyuruhku ini-itu, berharap padaku begini-begitu, sementara tangan kalian terlipat di dada dan hanya memperhatikanku meronta mati-matian dalam masalahku," Sakura tak sanggup menahan segala amarah di dadanya. Amarah yang bergejolak dan berbaur dengan rasa pedih di hatinya.
Temari masih larut dalam keheningan.
"Dukungan kalian…hanya memberatkanku," lanjut Sakura dengan tercekat. Ia berusaha terdengar tegas, namun pita suaranya mengkhianatinya.
"…Kau suka padanya?"
Pertanyaan yang sederhana itu mengalun sederhana di selaput gendang telinga Sakura. Pertanyaan yang seharusnya merupakan sesuatu hal yang biasa saja, yang sanggup ia jawab dengan mudah seperti biasanya—ia sangkal seperti biasanya, lebih tepatnya.
Namun tanpa sanggup dibendungnya, kali ini lantunan kata itu terasa begitu menyakitkan baginya. Seolah belati simfoni yang mengerat hatinya dan mengoyak jantungnya tanpa belas kasihan.
"Seandainya saja," Sakura menjawab perlahan, "seandainya tidak ada percakapan seperti itu tadi malam, maka aku akan sanggup bertahan hanya dengan menjadi sahabatnya saja."
Temari tak menyahut.
"Aku tahu diri," Sakura kembali melanjutkan. "Aku tahu kehadiranku sebagai orang ketiga hanya akan mengacaukan semua komposisi sempurna yang terjalin antara dia dan kekasihnya. Karena itu aku selalu membentengi diriku sendiri dengan keyakinan bahwa aku bukan siapa-siapa baginya, selain seorang rekan kerja."
Temari mengatupkan kedua kelopak matanya.
"Tapi seiring berjalannya waktu, dia selalu memperhatikanku dengan caranya sendiri. Membuatku merasa nyaman, merasa tenang, dan senang. Tanpa terasa keberadaanya bagiku sudah menjadi sebesar itu, sudah begitu meresap erat," dapat terasa getaran lembut dari setiap kata yang meluncur dari bibir Sakura.
Masih terpaku dalam hening, Temari tak membuka kedua kelopak matanya. Membiarkan gadis di hadapannya memuntahkan segala yang ada dalam pikiran dan hatinya.
"Kalau," Sakura mulai lagi, "kalau ini adalah cinta sepihak, maka aku akan mengundurkan diri dengan lapang dada."
Temari membuka kedua kelopak matanya kini.
"Tapi…" Sakura tak mampu lagi membendung segala gejolak dalam dadanya, membiarkan gemuruh di dadanya itu memuncah, "semalam dia mengucapkan selamat tinggal," bulir-bulir air mata membasahi pipi lembutnya.
"Dia…" Sakura mulai lagi. "Dia… Aku…kupikir jika aku merelakan perasaanku, menerima bahwa aku hanya tak lebih dari orang ketiga yang seenaknya memasuki kehidupan orang lain, aku akan sanggup menelan rasa patah hati. Ini bukan hal asing bagiku, menerima kenyataan bahwa seseorang yang paling berharga bagiku ternyata menyayangi orang lain lebih daripada aku. Aku tahu benar bagaimana rasanya hal itu, dan aku sudah siap menerima segala konsekuensinya, ketika kuputuskan untuk tetap berada di sisi Sasuke selama ini."
Ingatan Temari berselancar pada memori masa silam, kenangan setengah tahun lalu ketika seseorang dengan pupil mata yang sama seperti Sakura berada dalam kehidupan gadis itu.
"Aku yang seperti ini, siap menerima patah hati. Tak apa jika aku tak bisa mendapatkan orang yang kusukai, tak apa jika aku tak bisa mendapatkan Sasuke. Tapi dia," ia terhenti sejenak. "Dia membuatku memilih. Antara membahagiakan Hinata atau dirinya," ucap Sakura dengan getir.
Lagi-lagi Temari hanya menatapnya tanpa suara.
"Kau tahu, Temari?" seulas senyum tipis terpoles di bibir Sakura samar. "Ketika orang yang paling kau sayangi memberimu pilihan, untuk menjadi dirinya sendiri—dengan mengorbankan seseorang, atau kembali pada dirinya yang lama—dengan mengorbankan dirinya sendiri, hal itu sungguh merupakan suatu pertanyaan yang berat."
Temari menutup kedua kelopak matanya, paham kemana pembicaraan ini menuju.
Sejenak kemudian Temari membuka suaranya yang terkunci setelah beberapa lama, "Dan kau menjawab—?"
"Kubiarkan dia memilih sendiri," Sakura berkata tanpa keraguan. Getaran masih terasa pada nada suaranya, namun ia berusaha memantapkan kalimatnya.
"Dan keputusannya…?"
"Mengorbankan dirinya sendiri," jawab Sakura lagi, berusaha menyembunyikan suaranya yang bergetar.
Temari menghela napas panjang, menatap kedua bola mata emerald Sakura dari bawah kelopak matanya, "Kenapa tidak kau katakan bahwa ini bukan hanya tentang dia dan Hinata?"
Sakura menelan ludah, "Apa maksudmu?"
"Kita telah sampai pada kesepakatan bahwa tidak perlu ada kepura-puraan antara kita. Kau tahu benar apa yang kumaksud, tidak usah menghindar dari kenyataan," tukas Temari.
Sakura tak menyahut. Kembali menundukkan kepalanya.
"Karena jika Sasuke kembali pada dirinya yang dulu, itu berarti tidak ada ruang bagimu untuk berada di sisinya, bahkan sebagai seorang sahabat sekalipun," Temari menjawab pertanyaannya sendiri.
Sakura menggigit bibir bagian bawahnya.
"Seharusnya kau katakan itu padanya," ujar Temari lagi, tanpa ampun.
"Aku tidak mungkin berkata seperti itu," sahut Sakura dengan nada suara yang sedikit bergetar. "Karena…pertanyaannya tidak menyisakan ruang bagiku."
Temari menatapnya dengan iba, "Apa bukan karena kau salah paham saja?"
"Salah paham apanya?" tukas Sakura cepat. "Dia bertanya, antara mengorbankan Hinata dengan dirinya, mana yang lebih baik."
Temari mengatupkan kedua kelopak matanya. Tahu benar kalimat menyakitkan yang berikutnya akan meluncur dari bibir Sakura.
"…Dia sama sekali tidak menanyakan perasaanku. Tidak menyinggung bahwa pilihannya itu akan menuntut pengorbanan dariku. Dia tidak sadar bahwa aku akan terkena imbas langsung dari keputusannya yang manapun. Yang ada dalam kepalanya hanya Hinata, Hinata, dan Hinata. Dia tidak memikirkan aku sama sekali. Sama sekali tidak."
Temari menelan ludah.
"Dan ketika aku telah sampai pada penghujung rasa pedihku semalam, tiba-tiba muncul pesan lain darinya dan mengucapkan selamat tinggal. Menurutmu apa artinya? Apa maksudnya? Benar, benar sekali. Ketika jalan yang dipilihnya adalah membahagiakan Hinata dan melupakan segala hal yang terjadi denganku belakangan ini, dengan kata lain aku akan lenyap tak bersisa baginya. Seolah keberadaanku ini hanyalah suatu ilusi sesaat yang akan menguap tak berbekas."
Temari tak menatap raut wajah Sakura ketika sang gadis berambut merah muda mengatakan hal itu. Ia paham benar bahwa apa yang tengah dikatakannya saat ini adalah sesuatu yang sangat berat.
"Temari, aku…" Sakura kembali berujar dengan suaranya yang sedikit parau, "aku dapat menahan patah hati karena kehilangan orang yang kusukai. Tapi aku tak sanggup kehilangan seorang sahabat yang kusayang sekaligus."
Temari tak sanggup berkata-kata.
Sasuke mengerjapkan matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Di atas ranjang tidurnya, kawan karibnya semenjak SMP tengah duduk dengan santai dan mengayunkan sebelah kakinya di sisi ranjang.
"Yo," ujar pemuda berambut cokelat panjang itu.
"Bukan 'Yo', sedang apa kau di sini?" tukas Sasuke sedikit geram.
"Aku mencemaskan sahabatku yang payah," sang pemuda mengangkat bahunya dan menghela napas seolah mengolok.
Sasuke mengernyitkan dahinya, "Aku tak tahu apa kau hendak memancing keributan atau semacamnya, yang jelas cepat keluar. Aku mau ganti baju. Banyak yang harus kulakukan di sekolah hari ini untuk mengurus festival besok, daripada berdebat konyol denganmu."
"Aku tahu tidak sepantasnya aku ikut campur dalam masalahmu, tapi ada sesuatu yang harus kulakukan sebagai seorang sahabat," pemuda itu mengubah nada suaranya. Penuh ketegasan dan keseriusan kini.
Sasuke mengangkat sebelah alisnya. Tak mengerti kemana arah pembicaraan yang tiba-tiba serius itu menuju.
"Percakapan di telepon semalam, membuatku berpikir tentang beberapa hal," pemuda itu melanjutkan. "Ternyata bukan hanya bodoh, kau ini betul-betul bebal."
"Makanya," Sasuke merapatkan barisan giginya, gusar dengan kata-kata kawan karibnya itu, "kau ini mau bicara apa, Neji?"
Pemuda berambut cokelat yang dipanggil Neji itu bangkit berdiri dan mendekatkan bibirnya pada cuping telinga Sasuke, "Pernahkah kau berpikir bahwa menanyakan hal seperti itu pada seorang gadis yang menyukaimu, adalah sesuatu yang dapat begitu melukainya?"
"Apa maksudmu?" Sasuke terperanjat.
Neji menarik kembali tubuhnya, mendudukkan dirinya di atas ranjang Sasuke kembali, "Kau tak lebih dari seorang pengecut, Sasuke."
Sasuke gusar bukan main.
"Tidak berani mengambil keputusan sendiri, lalu membiarkan dia memutuskan untukmu. Apa itu sikap sebagai seorang laki-laki? Pada akhirnya kau hanya melarikan diri."
Sasuke membelalakkan kedua kelopak matanya.
"Dengan dalih tak ingin menyakiti siapapun, sebenarnya kau hanya melindungi dirimu sendiri. Tidak mau terluka karena keputusan yang kau buat sendiri. Tidak mau mengambil keputusan yang salah, tidak mau membuat suatu kegagalan, tidak mau merasakan penderitaan. Kau membebankan hal ini pada orang lain. Kau hanya lepas tanggung jawab. Kau tidak lebih dari seorang pecundang."
Sasuke terpaku dalam diam. Bola matanya masih terbelalak dengan pupil matanya yang mengecil.
"Kau berpikir jika Sakura yang memutuskan, maka tidak akan ada yang perlu kau pertanggungjawabkan. Kau hanya menuruti harapannya. Apakah jawabannya adalah untuk kembali pada Hinata, atau melepaskan Hinata, semuanya akan menjadi tanggung jawabnya."
Angin dingin berhembus melalui jendela kamar Sasuke yang terbuka lebar.
"Kau hanya tidak ingin terluka," Neji kembali dengan kata-kata tajamnya. "Tidak ingin mengakui…bahwa hatimu telah memilih dia."
Keheningan menjadi satu-satunya hal yang menyelimuti kedua insan pemuda yang tengah larut dalam pikirannya sendiri-sendiri itu.
Deru angin yang berhembus memainkan helaian tirai putih transparan di bingkai jendela, menjadi saksi kebisuan mereka yang terkungkung dalam pusaran emosi tak berujung, yang semakin menyeret mereka ke dalam chaos dalam labirin pikiran mereka masing-masing.
"Dengan begini," bisikan suara baritone Neji memecah kesenyapan, "ketahuilah bahwa segalanya telah berubah antara kau dan Sakura. Kalian tidak akan bisa sama seperti dulu lagi."
Sasuke tak menyahut. Helaian rambut hitamnya dimainkan sapuan angin sepoi.
"Mungkin pikiran naifmu itu beranggapan bahwa kalian bisa tetap menjadi teman. Jangan bodoh. Sekali kau putuskan untuk memilih dirimu yang lama, memilih Hinata, memilih untuk 'mengorbankan dirimu sendiri', itu berarti kau akan kembali pada titik permulaan. Titik dimana kau tidak pernah mengenal Sakura. Hubunganmu dan Hinata yang bergelut dalam kehampaan asmara semu kalian berdua. Ruang yang sama sekali tidak menyisakan tempat bagi siapapun," Neji bertutur penuh penekanan. "Bagi siapapun, tidak," ulangnya tajam.
Sasuke tak sanggup membantah.
"Sekarang aku tanya, 'pengorbanan' macam apa yang sebetulnya kau maksudkan? Pengorbanan apa yang kau lakukan jika kau kembali pada Hinata? Karena jika kau katakan bahwa pengorbanan yang kau maksud adalah kau yang menekan kebebasanmu sendiri demi Hinata dan menipunya dengan cinta yang palsu, aku akan memukulmu."
Sasuke tak menyahut.
"Karena itu berarti kau tak lebih dari makhluk egois yang hanya memikirkan dirimu sendiri," lanjut Neji tanpa ampun.
Sasuke mengerutkan keningnya, "Apa menurutmu pantas seseorang yang tidak tahu apa-apa sama sekali, ikut campur dan menilaiku seenaknya begitu?" kecamnya gusar.
"Tarik kembali taringmu. Aku hanya mengungkapkan fakta. Dalam hal ini kau tidak dapat berpikir dengan jernih, justru orang luar yang tidak tahu duduk persoalannya sepertiku yang dapat melihat semuanya dengan jelas," tukas Neji, tak mengindahkan provokasi Sasuke.
"Oh? Misalnya? Bersedia memberi aku satu dari sekian analisis sok tahumu itu, Tuan Sok Pintar?" Sasuke mendengus.
Neji menatapnya beberapa saat ssebelum kembali berujar tenang, "Aku bisa dengan jelas melihat, bahwa kau dan Hinata sama sekali tidak tahu bagaimana caranya mencintai."
"Jadi kau sudah merasa sebegitu hebatnya untuk menceramahiku tentang cara mencintai orang lain? Sesuatu dalam kepalamu ada yang tidak beres."
"Sekarang aku bertanya, cinta macam apa yang ada di antara kau dan Hinata?" Neji membalas tajam.
Sasuke tertawa sinis, "Apa kau buta? Memangnya kau pikir siapa yang selama ini melindunginya? Siapa yang menemaninya di kala kesendiriannya? Siapa yang menghiburnya ketika ia bersedih? Siapa yang selalu menyenangkan hatinya selama ini? Siapa yang selalu memperhatikannya dengan tulus?"
"Dan dia juga melakukan hal yang sama padamu," kalimat yang meluncur dari mulut Neji ini tidak berupa pertanyaan sama sekali.
"Tentu saja," timpal Sasuke bangga.
Neji menarik sudut bibirnya sedikit. Terkekeh.
Sasuke mengerutkan keningnya, menatap tajam pada Neji dengan penuh dengan balutan emosi yang memuncah, "Kenapa kau tertawa?"
Neji tak menyahut, menatap pemuda berambut hitam yang tenagh berdiri di hadapannya itu dengan pandangan iba.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" ada kegusaran tercermin di wajah Sasuke, begitu pula nada mengecam di balik kata yang ia lontarkan.
Namun kawan lamanya itu sama sekali tak gentar. Menatapnya dengan dalam, ia berujar dengan setengah berbisik, "Dari caramu mendeskripsikan hubunganmu dengannya, entah kenapa aku mendapat kesan bahwa kalian hanya saling menjilat luka kalian masing-masing."
"Tentu saja. Dengan cara itu kami saling emnyembuhkan luka masing-masing," tukas Sasuke dingin.
"Tapi kalian tidak belajar," sela Neji. "Sama sekali tidak."
Sasuke membelalakkan kedua kelopak matanya lebar-lebar.
"Kalian hanya tahu bagaimana caranya untuk saling memberikan penghiburan, tapi kalian sama sekali tidak pernah berpikir untuk memperbaiki diri kalian sendiri. Membiarkan segala sesuatunya berjalan begitu saja, menerima, menutup diri dari dunia di sekeliling kalian berdua. Tidak peduli dengan apa yang dikatakan orang lain, dipikirkan orang lain, tidka peduli dengan perasaan orang lain, pendapat orang lain. Segalanya hanyalah tentang kalian berdua saja," Neji berujar tanpa ragu sedikitpun.
Sasuke tak menyahut, menatap Neji dengan pandangan masih membelalak.
"Kau tahu, yang begitu itu membuatku muak," lanjut Neji lagi. "Kenapa? Karena semua omong kosong itu hanyalah suatu 'keharusan' bagi kalian. Jauh di lubuk hati kalian, kalian berdua sama-sama memahami bahwa jika keharmonisan itu tumbang, maka yang terjadi adalah kalian tidak akan bisa bersama lagi."
Tenggorokan Sasuke terasa tercekat.
"Dengan picik jauh di sudut hatimu kau berpikir, jika Hinata sanggup bangkit dari keterpurukan atas masalahnya sendiri, maka ia akan meninggalkanmu. Dengan begitu, tidak pernah sekalipun kau biarkan ia belajar. Tidak pernah kau biarkan ia melihat dunia luar. Mengekangnya dengan hubunganmu dengannya. Merantainya dengan rasa cinta yang tak lebih dari omong kosong. Begitu pula dengan dirinya. Ia berpikir hal yang sama, dan melakukan hal yang sama pula. Kalian hanyalah dua orang bodoh yang menyedihkan."
Setiap kata yang meluncur dari bibir Neji terasa begitu ringan, namun entah bagaimana terasa seolah ribuan jarum yang menembus tajam di sekujur tubuh Sasuke—yang kini terpaku tanpa sanggup berkata-kata.
"Dengan hidup seperti itu terus, lalu kau pikir semuanya akan baik-baik saja? Lalu lihat apa yang terjadi sekarang, hatimu bahkan sudah tak mampu lagi membisikkan kejujuran bagi dirimu sendiri. Otakmu sama sekali tak sanggup lagi berpikir realistis. Yang ada dalam kepalamu hanyalah, bagimana bisa keluar dari kebimbangan ini, yaitu dengan menimpakan tanggung jawab pada orang lain. Kau sungguh manusia rendah."
Sekujur tubuh Sasuke bergetar hebat. Mengepalkan tangannya erat, ia berteriak tanpa kendali, "Memangnya apa hakmu menilai orang seenaknya begitu, hah? Sudah merasa hebat sendiri? Kau bilang hubunganku dan Hinata tak lebih dari suatu omong kosong, atas dasar apa kau mengatakan hal itu?"
"Karena jika kalian berdua betul-betul saling menyayangi seperti yang ada dalam angan bualanmu itu," Neji terhenti sejenak. "Maka yang akan kalian lakukan adalah saling membuat satu sama lain menjadi kuat, hingga sekalipun salah satu di antara kalian tidak ada di sisi yang lainnya, ia akan mampu bertahan hidup sendirian.
"Saling mendukung, sembari saling mengajari tentang banyak hal. Membuat arti kehidupan dari kebersamaan kalian. Bukan saling menjilat luka dan merangkul satu sama lain dengan harapan keterasingan kalian akan menjadi rantai pengikat yang kuat atas hubungan kalian itu."
Sasuke terkesiap.
"Rantai pengikat yang ada di antara kalian hanyalah belenggu ilusi yang diciptakan oleh diri kalian sendiri, saking sangat takutnya kehilangan orang yang disukai. Betul-betul menyedihkan," tambah Neji tanpa ampun.
"Ka—"
"Kalau yang kau rasakan itu memang cinta, kau tidak akan mengikat dia dengan harapanmu untuk selalu memilikinya di sisimu," Neji menyela apapun pembelaan yang hendak disampaikan oleh Sasuke.
"Sebegitu tidak mau kehilangan dia, kau biarkan dia tetap lemah, bergantung padamu, memujamu, memberikan segala hal yang diinginkannya, membiarkan dia mendapatkan semua yang diinginkannya. Sama sekali tidak membiarkannya berkembang dan tumbuh. Walau terlihat seperti gadis anggun berpikiran dewasa, ia tak lebih dari anak manja yang selalu merengek minta ini-itu, egois, kekanakkan, dan individualistis. Cinta? Yang benar saja! Dia hanya anak umur lima yang tidak mau mainannya direbut orang lain!" Neji meninggikan suaranya.
Sasuke sama sekali tak sanggup membantah.
"Itu semua," Neji mulai lagi, "gara-gara ulahmu. Itu semua karena ulahmu. Dan jangan kau pikir aku mengatakan hal ini hanya tentang dia saja. Hal ini juga berlaku bagimu. Kau tak lebih dari laki-laki egois yang mengatasnamakan cinta untuk mendapatkan apa yang kau inginkan, memenjarakannya dengan cinta yang semu kepadamu. Padahal kalian berdua tak lebih dari anak-anak menyedihkan yang tidak tahu caranya mencintai."
Kepalan tangan Sasuke yang bergetar, perlahan mulai terhenti dan terkulai lemas. Kedua pupil matanya mengecil. Berbagai pikiran memenuhi isi kepalanya.
"Mungkin selama ini kau berpikir bahwa jika kita memberi sesuatu, maka kita akan mendapatkan sesuatu. Hali itulah yang menjadi dasar hubunganmu dengan Hinata yang saling bertimbal-balik. Tapi Sasuke, cinta yang sesungguhnya adalah ketika kau bersedia melepaskan semua yang kau miliki, merelakan segala yang ada pada dirimu, hanya teruntuk dia seorang."
Sasuke rasakan seolah dunianya berputar kencang.
"Aku tidak akan menyebutkan sebuah nama, tapi pikirkanlah. Pikirkan dengan kepala dingin, dengan sepenuh hatimu, siapa yang selama ini betul-betul mencintaimu. Siapa yang kau cintai sesungguhnya…" Neji merendahkan suaranya di akhir kalimatnya.
Keheningan menyelubungi ruangan segi empat yang lengang itu. Empat sisi dinding dingin yang selama ini menjadi saksi bisu atas cinta-nya bersama Hinata, seolah menertawakannya.
Kehidupan monotonnya yang hanya berjalan di atas sebuah rel yang telah dipersiapkan untuknya telah membangun citra dirinya untuk tidak menunjukkan kelemahannya sendiri di hadapan orang lain.
Tidak di hadapan siapapun. Tidak ketika ayahnya menikah lagi dengan ibu tirinya sekarang, tidak ketika ayahnya dengan sepihak telah menyelenggarakan pertunangannya dengan Hinata tanpa persetujuannya, tidak ketika ayahnya selalu membandingkannya dengan kakak sulungnya, tidak ketika ayahnya menjabarkan deretan larangan dan kewajiban yang harus dipatuhinya, sebagai seorang Uchiha.
Kelemahannya atas ketidakberdayaannya itu membuatnya merasa malu. Malu pada dirinya sendiri. Sehingga yang ia lakukan adalah melarikan dirinya sendiri dari seluruh kenyataan.
Beranggapan bahwa jika ia berpikir semua hal yang terjadi pada dirinya itu adalah hal yang memang ia inginkan, yang ia harapkan, maka semuanya akan menjadi baik-baik saja.
Sudut memori Sasuke berselancar menelusuri perjumpaannya dengan Hinata untuk yang pertama kalinya.
Saat itu ia sama sekali tidak senang dengan keputusan yang dibuat oleh ayahnya secara sepihak untuk menunangkannya dengan putri tunggal salah satu kolega pentingnya itu.
Lalu apa? Apa yang membuatnya menjadi setuju?
Suatu jawaban yang mengerikan menanti di penguhujung memori masa silamnya. Sebuah rahasia besar, yang sangat kotor. Rahasia yang bahkan ia sendiri tak ingin mengakuinya, dan berusaha menutup pikirannya dari kenyataan itu. Yang bahkan telah ia lupakan seiring berjalannya waktu.
Ia menerima Hinata di sisinya, untuk mengusir rasa sepinya sendiri.
Tidak lebih, tidak kurang.
Sama sekali tidak ada hubungannya dengan perasaan Hinata. Sama sekali tidak memikirkan perasaan Hinata. Semuanya bukan demi Hinata, tapi demi dirinya sendiri.
Semuanya tepat seperti apa yang dikatakan oleh kawan karibnya itu. Semua cinta semu yang ia rasakan selama ini adalah manifestasi dari kelemahan hatinya, keegosian dirinya sendiri, karena ia…tak mau tersakiti.
Tanpa terasa setetes liquid bentukan dari perasaan hatinya yang memuncah, terjatuh perlahan di sudut matanya. Mengerutkan wajahnya, Sasuke mengangkat sebelah tangannya dan menjambak rambut di depan wajahnya. Kepalanya tertunduk, kedua baris giginya merapat dan bergemelutuk keras, sebelah tangannya lagi mengepal erat.
"Aku…" perlahan Sasuke membuka suaranya, memecah keheningan. "Aku… sungguh manusia yang hina," ia menggigit bibir bagian bawanya hingga sedikit mengeluarkan darah.
Neji memalingkan wajahnya. Tahu benar bahwa sahabatnya itu sangat tidak suka terlihat lemah di hadapan orang lain. Sekalipun selama ini ia selalu menganggap Neji sebagai orang lain, baginya tetap saja Sasuke adalah sahabatnya yang berharga. Sebodoh apapun, sekotor apapun, sejahat apapun, baginya Sasuke adalah sahabatnya yang ingin ia jaga baik-baik.
Bagi seorang Uchiha Sasuke, harga diri adalah segalanya.
Dengan mengakui kelemahan dan kesalahan dirinya sendiri, maka ia telah menghancurkan harga dirinya sendiri.
Neji mengatupkan kedua kelopak matanya, menikmati semilir angin yang menerobos masuk melalui lubang ventilasi kaca jendela kamar bertensi menyesakkan itu.
"Sekarang," Neji berujar perlahan, "kutanyakan sekali lagi. Untuk siapa kau berkorban? Pengorbanan macam apa yang kau lakukan, jika kau memilih mempertahankan hubungan rapuhmu dengan Hinata ini..?"
Untuk beberapa saat hening menyesap. Sasuke tak menyahut sama sekali.
Neji menatapnya dalam dengan sudut matanya, menunggu jawabannya.
"Pengorbananku…adalah merelakan sesuatu yang paling kuinginkan," ucap Sasuke pada akhirnya.
Neji menghela napas, "Karena itulah kukatakan kalau kau ini bebal. Benar-benar si bodoh kelas wahid."
Sasuke tak menanggapi cemoohan Neji.
"Seandainya kau bisa sejujur ini padanya, dia tidak akan terluka. Yang kau lakukan bukan hanya membuat dirimu sendiri terluka, tapi dia juga ikut terluka. Bahkan aku bertaruh, rasa sakit yang dirasakannya jauh lebih mengerikan dari luka yang kau alami," Neji kembali bertutur dengan dingin, namun sedikit lebih tenang kini.
"Kau jauh lebih menyedihkan dalam urusan percintaan, dibandingkan dengan seorang homoseksual seperti aku sekalipun," ujar Neji lagi sesaat kemudian. "Apa kau pikir dengan meminta dia mengatakan harapannya, lalu itu akan membuatnya senang? Bukannya malah membebaninya?"
Tak ada jawaban dari mulut Sasuke yang terkunci rapat.
"Mungkin yang ingin disampaikan gadis itu sebenarnya adalah ia ingin kau memilih sesuai dengan keinginan hatimu yang sesungguhnya."
Sasuke tak menyahut, namun segaris senyum miris menghiasi wajah muramnya. Ia tahu benar bahwa semuanya sudah sia-sia untuk dibahas. Ia sudah memutuskan semalam.
Kini yang mengisi rongga hatinya adalah rasa sesal dan rasa bersalah yang mendalam. Namun nasi telah menjadi bubur, sudah terlambat untuk menyesal.
"Aku telah memilih. Dan aku harus mempertanggungjawabkan pilihanku," ujarnya sesaat kemudian.
"Tentu," timpal Neji, bangkit dari ranjang Sasuke dan menghampiri pintu keluar. "Silahkan saja pertanggungjawabkan buah dari kepengecutanmu itu."
.
"Jadi apa yang akan kau lakukan sekarang?" Temari membuka suaranya kembali setelah sekian lama keheningan menyelimuti ruang OSIS yang lengang itu.
Sakura menghela napasnya, "Entahlah. Aku akan menuruti maunya saja. Kalau dia ingin menghilangkan keberadaanku begitu saja dari hatinya, bukan tempatku untuk protes."
"Siapa bilang?" Temari menyela.
Sakura mengerutkan keningnya.
"Katakan padanya kau tidak senang dengan hasil akhir seperti ini. Katakan padanya kalau kau bersedia melepasnya sebagai seseorang yang kau sukai, tapi tidak rela melepasnya sebagai sahabatmu. Itu yang kau inginkan, bukan?"
Sakura tak menanggapi.
"Keragu-raguanmu inilah yang selalu membuatmu terjerumus dalam ketidakberdayaan dan penyesalan mendalam," lanjut Temari. "Penyesalan terbesarmu selalu adalah ketidakmampuanmu untuk melakukan sesuatu. Kau tidak pernah mencoba, makanya kau selalu kalah."
"Apa maksudmu?" sontak kedua bola mata Sakura melebar.
"Gaara. Itu nama pacarmu dulu, bukan? Orang yang dalam beberapa minggu mengencanimu di Astrology Chatroom, namun akhirnya meninggalkanmu untuk orang lain," Temari menatapnya tajam.
"Itu sudah lama berlalu," timpal Sakura, walau nada suaranya sedikit melemah.
"Sudah lama berlalu, tapi kau tetap sama saja. Tidak belajar dari kesalahan. Alasan dia pergi dari sisimu adalah karena kau tidak menghentikannya."
Sakura tercekat. Kenangan lama yang begitu ingin ia kubur dalam-dalam dikuak sebegitu ringannya oleh gadis berambut pirang di hadapannya yang kini bertutur dingin.
"Kalau dia memang menyukaiku seperti aku menyukainya, seharusnya ia tahu sendiri apa yang harus dilakukannya!" Sakura membela diri. "Seharusnya…bukan aku yang dicampakkannya."
"Aku ingat betul, di hari itu dia bertanya padamu, apa yang sebaiknya ia lakukan. Dan kau menjawab 'lakukan saja sesukamu'. Kau tahu apa arti kalimat itu baginya?"
Sakura mengibaskan tangannya di udara, "Kau tidak pernah tahu rasanya ketika pacarmu sendiri mengatakan bahwa ia sebenarnya seorang biseksual dan mengencani dua orang sekaligus, dirimu dan seorang laki-laki lain!"
"Bukan itu poinnya," Temari menjawab tegas. "Sekarang juga kau harus menyelesaikan masalahmu dengan Sasuke, atau kau juga akan menyesal kemudian. Begitu saja terus, menyerah pada keadaan, bertindak seolah kekalahanmu ini adalah sesuatu hal yang hebat. Kau pikir begini itu hebat, apa?" Temari meninggikan jawabannya.
"Sudah tidak ada lagi masalah antara aku dan Sasuke, semua sudah berakhir," timpal Sakura datar.
"Bahkan orang luar seperti akupun bisa menjawab tegas: Ada. Sebelum semuanya terlambat, bicaralah dengannya dari hati ke hati. Setelah itu, kau boleh lega terbebas dari omelan sok tahuku. Aku bersumpah tidak akan pernah menyinggung hal ini lagi, tidak akan pernah mengusikmu lagi, tidak akan ikut campur lagi. Tapi bicaralah. Bicaralah dengannya," Temari menepuk meja kerjanya.
Sakura menatapnya tanpa menyahut.
Tiba-tiba Temari tersentak. Segaris seringai melengkung di sudut bibirnya, "Aha, aku mengerti."
Sakura mengerutkan keningnya.
"Kau bukannya tidak mau membicarakannya dengan Sasuke," lanjut Temari dengan kedua bola matanya yang berkilat. "Tapi kau takut untuk mendengar kenyataan macam apa yang akan ia sampaikan."
Kedua kelopak mata Sakura terbuka lebar.
"Bingo," Temari berdecak puas.
Kedua pupil mata Sakura mengecil, tenggorokannya terasa tersumbat.
"Kau merasa takut, seandainya Sasuke mengatakan bahwa selama ini kau hanya salah paham. Bahwa selama ini kau salah mengartikan kebaikannya padamu. Ia memperlakukanmu secara istimewa, rupanya tidak ada maksud apa-apa di balik itu semua. Dan bahwa selama ini hanya kau sajalah yang memikirkan hubungan kalian—baik sebagai sepasang sahabat, maupun sebagai dua insan manusia laki-laki dan perempuan. Kau hanya…takut terluka."
Sakura tak sanggup membantah sama sekali.
"Dengan membiarkan semuanya berjalan seperti ini, kau beranggapan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Seolah semuanya memang sudah seharusnya seperti ini. Dengan begitu, kau tidak perlu menerima kenyataan pahit macam apapun yang sekiranya akan kau terima. Kau tahu apa artinya itu, Sakura? Kau pengecut," tandas Temari tanpa belas kasihan sedikitpun.
"Kau berpikir untuk mundur dari pertarungan yang sama sekali belum dimulai. Kau memutuskan untuk kabur dari semuanya. Melarikan diri dari masalah ini, menghindari dari Sasuke, dariku, dari Hinata, dari semuanya. Menutup mata dari kepedihan hatimu sendiri. Apa dengan begitu kau akan merasa lebih baik? Dengan begitu yang salah adalah Hinata. Hinata atau Sasuke. Dan kau sendiri hanyalah korban. Puas begitu? Puas menjadikan dirimu sendiri sebagai orang lemah tak berdaya yang menyerah begitu saja tanpa sempat memperjuangkan hal yang paling berharga bagimu?" Temari meninggikan suaranya sendiri.
Sakura menutup wajahnya dengan telapak tangannya, bersamaan dengan air matanya yang tumpah.
"Jangan ulangi lagi kesalahanmu, sahabatku. Kau telah melepaskan Gaara, karena kau pikir itu yang terbaik baginya. Tidakkah terpikir olehmu bahwa seharusnya ialah yang memutuskan bersama siapa ia ingin mengahbsikan waktunya? Yang paling tahu tentang perasaan seseorang adalah orang itu sendiri. Kita sama sekali tidak berhak memutuskan apapun untuk siapapun.
"Aku tahu maksudmu begitu mulia, merelakan orang yang begitu kau sayangi untuk seseorang yang lain, yang kau pikir lebih baik bagimu. Tapi bagaimana dengan perasaannya? Bagaimana jika sebetulnya ia ingin bersamamu?
"Tanyakanlah, Sakura. Jangan melarikan diri untuk yang kedua kalinya. Tanyakan pada Sauske—orang yang begitu kau sayangi saat ini, bagaimana perasaannya padamu. Setelah itu, apapun yang dikatakannya, luka sedalam dan sesakit apapun yang ditorehkannya, akan berusaha kami obati bersama-sama. Aku, Tenten, Shikamaru, Chouji, Kiba, Ino, semuanya. Sahabat ada ketika kau dalam kondisi seperti itu. Itulah peran kami sesungguhnya."
Ruangan lengang besar itu sunyi senyap ketika Temari mengakhiri kalimat panjangnya. Yang terdengar bersama dengan deru pendingin ruangan yang bersemilir sayup hanyalah suara isak tangis sang gadis berambut merah muda. Segala emosi dalam jiwanya berkecamuk tanpa sanggup dimuntahkannya.
"Tanyakanlah," ulang Temari sayup-sayup. "Jangan buat lebih banyak penyesalan."
.
.
TBC
End Note:
Whoaa, tenang! Jangan bunuh saya (dulu) ^^;;
Setelah saya pertimbangkan, chapter ini tidak bisa lebih dari ini. Kalau dipaksakan lebih, tensinya bisa kacau.
Soal Sasuke & Hinata yang sebetulnya (awalnya) ditunangkan, pernah saya singgung di chapter 3. Jadi sebenarnya semuanya saling berhubungan, dan banyak hints yang saya selipkan tentang fic ini, dari awal kisah. Makanya saya selalu singgung supaya kalian jeli memperhatikan setiap hal kecil.. ;)
Tentang Gaara, seperti yang pernah saya singgung dan wanti-wanti sebelumnya, untuk tidak terlalu berekspektasi terlalu tinggi sama dia, terungkap sudah alasannya di sini. Benar, dia tidak akan muncul sebagai pahlawan atau semacamnya.. ^^;;
Dan kenyataan bahwa ybs (dalam fic ini) adalah seorang biseksual, mohon jangan dipikirkan terlalu berlebihan... Anggap aja salah satu cameo-twist dari fic ini ya ^^;;
Sampai ketemu lagi di chapter berikutnya :)
.
.
Balasan untuk non-login reviewers:
.
Liienaru chan_chan: Udah update nih. Chapter ini lebih pada psychoanalyst, semoga cukup memuaskan.. ^^ *ngarep*
Naru-mania: Waduh, saya jadi merasa berdosa sama SasuHina FC.. *lap keringet*
Ungkapan hati Sakura terungkap di sini. Di bagian 2 nanti, kita lihat reaksi yang lainnya mendengar hal ini. ^^
Kyoro: Nah, terungkap kan, sebagian isi hati Sasuke :)
Mugiwara Piratez: Iya nih dasar si Sasu, kata Neji juga jangan main2 sama api =3= Tapi Neji juga telat sih ya, memperingatinya.. ^^;;
Kontrak antara OSIS dengan Klub Astrologi (seperti udah disinggung di chapter-chapter sebelumnya) adalah: Klub Astrologi akan mengisi salah satu stand utama yang kosong (yang tadinya mau diisi stand Salon –salon rambut, iya-)
Dalam suatu festival besar, bukan hanya panitia penyelenggara yang mengisi acara, tapi pihak luar juga turut andil sebagai pengisi stand atau memeriahkan acara :)
Pernah mampir ke festival kebudayaan Jepang atau semacamnya di Indo sini? Ya semacam itu.. :)
Nakamura Miharu chan: Iya, udah mau akhir sih.. ^^
Kaori a.k.a Yama: Gimana, apa udah cukup hot? Kalau belum, silahkan baca ulang di dapur deket kompor.. :D *ditendang*
Iya, banyak yang berubah dan memetik pelajaran dari semua kejadian ini. Hal kecil yang sebetulnya mempengaruhi begitu banyak kepribadian dan pola pikir para tokoh. Saya seneng kamu memperhatikan detail.. :)
Sayurii Dei-chan: Mari rayakan kesuksesan seminarnya ^^ *toss*
Kamu seneng banget sama Sai ya? Perasaan di fic saya yang lain juga, ngomentarinnya Sai mulu.. XD
Beneran lho kata-kata itu, saya suka was-was kalau dapet keberuntungan terlalu banyak. Pasti nantinya sial. :p (malah nakut2in)
.
Terima kasih pada kalian semua yang bersedia membaca fic ini, terutama pada yang selalu setia memberikan dorongan semangat. Terima kasih atas review yang kalian berikan. :)
(Belum bisa saya list semua nama reviewers di sini, takutnya nambahin panjang End Note-nya. Saya list di chapter terakhir nanti ya.. ^^)
.
.
ETA: Typo sudah dikoreksi.
Bagi yang kesulitan mereview langsung karena baca lewat ponsel, silahkan feedback kalian dikirim pada saya lewat PM. Mengingat chapter ini juga panjang, dan ada laporan dari beberapa readers yang mengadu kesulitan meripiu chapter ini, seperti kasus di chapter sebelumnya.. Pasti saya balas ^^
