Disc:

Naruto © Masashi Kishimoto

Sword Art Online © Reki Kawahara

.

.

.

Story:

DRAGON HEART ONLINE

By Hikasya

Start: Jumat, 27 Mei 2016

.

.

.

Chapter 10. Mencari

.

.

.

Sejak kejadian itu, wilayah Brass kembali didatangi oleh para pemain. Tempat itu masih bobrok seperti kapal pecah. Para NPC masih kebingungan dan berjalan mondar-mandir di tempat yang sama. Tidak ada pemimpin ataupun penjaga di wilayah itu. Semua orang mengunjungi tempat itu sesuka hati dan bahkan ada yang berkemah jika memutuskan menginap di alam terbuka. Dengan satu tujuan yaitu mencari item logam-logam yang tertimbun di reruntuhan bangunan karena jika logam tersebut dijual, maka mereka akan mendapat uang yang sangat banyak.

Begitulah keadaan yang terjadi selama seminggu ini, kebanyakan para pemain yang tergabung dalam guild mencari harta karun itu, yang memburu logam-logam yang tersisa itu. Mereka sangat membutuhkan uang yang banyak untuk membangun pemukiman baru di wilayah Brass. Kemungkinan mereka akan merencanakan sistem pemerintahan baru jika biaya pembangunan pemukiman baru itu sudah banyak berkumpul. Hal ini merupakan inisiatif mereka sendiri agar wilayah Brass tetap ada penghuninya. Tapi, proses ini pasti membutuhkan waktu yang sangat lama. Harus mencari tahu apakah sistem game ini mengizinkannya atau tidak. Karena semua hukum alam atau hukum kehidupan di dunia digital ini diatur oleh sistem game yang bernama Cosmotic. Semua itu mereka ketahui ketika mengunjungi Seven Dragon Area melalui dinding kastil berbatu putih.

Atas bantuan dari Tobirama dan Madara yang sudah mengunjungi Seven Dragon Area, mereka telah membaca catatan peraturan yang ada di dinding kastil berbatu putih. Catatan peraturan yang tertulis bahwa para pemain tidak bisa membangun pemukiman baru di wilayah yang telah rusak parah karena suatu sebab. Wilayah itu selamanya akan menjadi seperti itu. Tidak akan ada perubahan yang berarti. Bahkan GM dan server game tidak dapat ikut campur dalam dunia ini. Para pemain diharapkan untuk tinggal di wilayah yang lain. Wilayah rusak ditetapkan menjadi wilayah yang sudah "mati."

Itu percuma saja jika semua biaya telah terkumpulkan. Pembangunan pemukiman baru tidak dapat dilakukan. Wilayah Brass tidak dapat dihuni lagi karena sudah dicap sebagai wilayah mati. Tapi, aktifitas biasa dapat berjalan di sana. Para pemain boleh mengunjungi wilayah itu hanya untuk mencari harta karun ataupun memburu para monster yang membawa item berjenis logam.

Seperti itulah kenyataan yang terjadi di wilayah Brass sekarang. Tak dapat ditolak lagi. Ini sudah takdir dari hukum alam dunia nyata kedua ini.

Setelah masalah wilayah Brass selesai, Tobirama dan Madara sudah menjalin kerja sama dengan ketiga Dragon lainnya yaitu Kirito, Leafa dan Yato. Mereka setuju menjadi anggota dalam guild khusus Dragon bernama "Victory Light" itu. Saling mengenal antara satu sama lainnya. Mereka berjanji akan bersatu untuk mengalahkan Devil King di Unknown Dark. Tapi, terlebih dahulu, mereka harus merekrut orang yang sudah memegang dua Dragon Heart sekaligus. Diketahui, orang itu berasal dari wilayah Red sebab dia berwujud Red Dragon saat berhasil mengalahkan Brass Dragon. Maka Madara yang berperan sebagai ketua guild Victory Light ini, menunjuk Yato yang ditugaskan untuk mencari tahu tentang orang yang memegang dua Dragon Heart itu.

"Yato, aku menugaskan untuk mencari tahu tentang orang yang memegang dua Dragon Heart. Kau harus melaksanakan perintahku ini sekarang juga!"

Tentu saja Yato kaget dan menolak tugas ini saat dirinya ditunjuk oleh Madara.

"Apa? Kok aku sih, ketua Madara?"

Madara melototinya, nyali Yato menciut dan akhirnya menyetujui keputusan ini dengan hati yang terpaksa.

"Jangan banyak protes! Kalau nggak, aku akan membuat HP-mu menjadi nol sekarang juga! Ngerti?"

"Ya~ Aku ngerti. Aku akan melaksanakan tugasmu...," wajah Yato kelihatan lesu sebentar."Tapi, ada syaratnya."

"Syarat? Apa-apaan itu? Kenapa harus pakai syarat segala, hah!?"

Wajah Madara menjadi sewot. Dia geram melihat Yato yang duduk berhadapan dengannya. Sementara yang lainnya, memilih diam untuk mendengarkannya.

Dalam ruang rapat yang bernuansa putih dan terbuat dari es abadi itu, para Dragon membicarakan tentang pencarian Red Dragon yang telah mendapatkan Brass Dragon. Hal ini mereka bicarakan agar ketujuh Dragon dapat disatukan dalam mengalahkan Devil King.

"Syaratnya kau harus membayarku jasaku ini dengan harga sekitar 20.000 Ki. Maka aku akan segera melaksanakan tugas ini. Kalau kau nggak membayarku, aku nggak akan pergi untuk melaksanakan tugas ini. Kau pikir aku melaksanakan tugas ini cuma cuma-cuma saja. Itu sama artinya membuang energi dan waktuku saja."

Yato pun memutar ancaman yang sama pada Madara. Madara pun semakin kesal dibuatnya. Sudut perempatan sudah hinggap di kepala sang Black Dragon.

"HUH, KAU INI! BAIKLAH, AKU AKAN MEMBAYARMU SETELAH KAU MENYELESAIKAN TUGASMU INI! PUAS!?"

Yato menyeringai senang. Wajahnya berbinar-binar. Kemenangan diraih olehnya.

"Hehehe, terima kasih ketua Madara. Aku puas. Tugasmu ini akan aku laksanakan sebaik-baiknya."

"Huh, iya. Dasar, kau menyebalkan!"

Madara menghembuskan napas kekesalannya yang hampir memuncak. Sementara para Dragon lainnya tersenyum geli melihatnya.

Setelah itu, Madara selaku ketua guild Victory Light ini, segera mengakhiri pertemuan ini. Dia berdehem keras untuk mencairkan suasana yang sempat memanas.

"EHEM! Baiklah, semuanya! Pertemuan ini kita akhiri sampai di sini. Kapan-kapan kita akan mengadakan pertemuan berikutnya setelah ketujuh Dragon berkumpul. Rapat sudah selesai. Kalian boleh pulang."

"Baik," balas Kirito, Yato dan Leafa kecuali Tobirama yang diam saja.

Maka para Dragon segera bangkit berdiri dari kursi masing-masing. Mereka pergi keluar secara bersamaan. Lalu Madara mengatakan sesuatu pada Tobirama.

"Hei, Seto."

"Hm, apa?"

"Kita pergi ke wilayah Brass itu lagi yuk. Meninjau perkembangan wilayah itu gimana sekarang."

"Boleh juga," Tobirama mengangguk santai."Kita diam-diam pergi tanpa kasih tahu Yuki-sama. Kalau kita kasih tahu dia, sudah pasti dia akan ikut."

"Oh iya, benar juga. Oke, kita pergi diam-diam sekarang."

"Ya. Aku akan menyuruh penjaga-penjaga untuk melarang Yuki-sama keluar. Dengan begitu, dia tidak akan curiga kalau kita pergi."

"Boleh juga. Aku setuju denganmu."

Keduanya berjalan mengikuti ketiga Dragon yang berjalan di depan. Mereka menyusuri lorong panjang yang sepi dan dingin untuk menuju keluar istana es.

Tiba-tiba, terdengar suara yang menggema di lorong tersebut. Suara kemarahan beringas dari Yuuki.

"APA!? KALIAN MAU KE WILAYAH BRASS TANPA NGASIH TAHU AKU, RATU SALJU INI! HEI, SETO DAN UCHIMADA-ANIKI BAKA!"

Spontan, Tobirama dan Madara menjadi pucat mendengarnya. Begitu juga dengan Kirito, Leafa dan Yato.

Sang White Dragon dan Black Dragon merasakan aura-aura pembunuh yang merayap-rayap di belakang mereka. Dengan gerakan patah-patah, mereka menoleh ke belakang.

JREEENG!

Tampak Yuuki yang berdiri tak jauh dari mereka. Wajah Yuuki menggelap. Kedua matanya bersinar kemerahan. Rambut putihnya berkibar-kibar di udara. Aura-aura pembunuh sudah merayap-rayap di belakang tubuhnya. Kedua tangannya terkepal kuat dan sudah siap menerkam mereka sekarang juga.

DEG!

Tobirama dan Madara merasakan firasat yang tidak enak. Mereka tersenyum dengan ramahnya.

"Hahaha... Yuki-sama rupanya. Kamu mendengar semua apa yang kami bilang tadi?" tanya Madara.

"Ya!" jawab Yuuki dengan tampang seramnya."Pokoknya kalian harus membawaku pergi juga ke wilayah Brass! Aku nggak mau tahu! Kalau nggak, aku nggak akan memaafkan kalian!"

KREK!

Yuuki meremas kepalan tangannya hingga berbunyi nyaring dan cukup membuat kedua Dragon menelan ludah masing-masing saking paniknya.

Dengan tenang, Tobirama mencoba membujuk Yuuki.

"Yuki-sama, sebaiknya tinggal di istana saja. Kamu nggak usah ikut. Kami hanya sebentar ke sana kok. Nggak lama. Nanti kita kencan setelah aku pulang dari sana. Gimana?"

"Iya. Yang dibilang Seto benar. Kamu nggak boleh ikut. Bahaya, tahu!"

"NGGAK MAU! AKU MAU IKUT KALIAN!"

"Jangan keras kepala, Yuki-sama. Kamu Ratu, nggak boleh ninggalin wilayah kekuasaan seenaknya."

"JANGAN PERNAH NASEHATIN AKU, SETO BAKA!"

"Huh, ya sudah. Nggak ada cara lain. IRON CITY, TELEPORT!"

SRIIING!

Muncul sekelebat cahaya ungu yang menyelimuti tempat itu. Mendadak Tobirama dan Madara menghilang karena Tobirama menggunakan Teleport Crystal untuk pergi dari sana secepatnya. Tinggallah Yuuki dan ketiga Dragon itu.

Hening.

Mereka bengong dan terdiam. Beberapa saat kemudian, emosi Yuuki pun meledak seperti bom atom.

"SETO, ANIKI, KALIAN BAKA! AKU MEMBENCI KALIAN!" pekik Yuuki yang sangat keras menggelegar dan mengguncang tempat itu."AWAS YA KALAU KALIAN KEMBALI LAGI! AKU AKAN MEMBERIKAN KALIAN PELAJARAN! MENYEBALKAN!"

Gadis berambut putih itu berbalik badan dan berjalan cepat menuju ke kamarnya sendiri. Dia merajuk sekaligus sangat kesal. Meninggalkan ketiga orang yang terbengong-bengong melihatnya.

Sesudah itu, mereka saling pandang dan tersenyum. Kemudian melanjutkan perjalanan menuju pintu keluar istana.

Pada akhirnya rapat pertama Victory Light yang berpusat di wilayah White, tepatnya di istana Ratu Salju, berakhir di jam 3 sore. Di mana musim salju mulai datang menyapa dunia DHO. Sehingga suasana di wilayah White semakin dingin ketika ketiga Dragon keluar dari istana es itu.

"Brrrrrrrrrrr ... Duingin banget di sini ...," kata Yato yang memeluk dirinya sendiri seerat-eratnya. Padahal dia sudah memakai baju tebal berlapis-lapis untuk mengusir dingin yang sangat menusuk kulitnya.

Para pemain sangat peka dengan rasa dingin di dunia digital. Rasa dingin itu sama persis di dunia nyata. Tak dapat dibandingkan rasa dingin itu di dunia digital dengan dunia nyata. Keduanya sangat sama. Semua ini karena kecanggihan sistem game yang dibuat sangat nyata sehingga kehidupan di dunia digital ini sangat sama di dunia nyata. Menanamkan perasaan yang nyaman di setiap hati pemain. Sehingga sebagian dari mereka telah melupakan siapa mereka sebenarnya di dunia nyata. Mereka lebih terfokus untuk menjalani kehidupan di dunia nyata kedua ini. Tanpa menyinggung lagi tentang diri mereka yang asli.

Rasa dingin tersebut juga dirasakan oleh Kirito dan Leafa. Mereka juga sudah memakai syal, pakaian tebal, sarung tangan dan sepatu boots untuk menghalau rasa dingin yang berlipat ganda ini. Apalagi wilayah Silver dan Green juga dilanda musim salju. Wilayah lainnya juga disapa oleh musim salju kecuali wilayah Brass dan wilayah Blue. Suasana bersalju dan sangat dingin sehingga mereka lebih memilih diam di rumah ataupun pergi ke wilayah Blue dan wilayah Brass hanya sekedar untuk menghangatkan diri.

Tapi, untuk saat ini, para Dragon harus keluar dalam rangka menghadiri rapat Victory Light yang dipimpin oleh Madara sendiri. Madara juga yang menghubungi mereka lewat pesan email yang meminta mereka pergi ke istana es yang ada di wilayah White. Dalam keadaan sangat dingin seperti ini, mereka terpaksa harus pergi. Mau tidak mau karena mereka sudah terikat janji untuk bersatu dalam mengalahkan Devil King nantinya.

TEK! TEK! TEK!

Si Blue Dragon menggigil hebat. Sepertinya dia memang tidak tahan dengan cuaca dingin seperti ini. Raut mukanya pucat pasi. Giginya menggeretak keras. Dia masih memeluk dirinya sendiri.

Green Dragon dan Silver Dragon hanya tertawa kecil melihatnya.

"Hahaha ... Yato-san ... Kau berlebihan sekali. Apa kamu benar-benar merasa dingin sekarang?" tanya Leafa.

"Brrrr ... Te-Tentu saja dong. A-Aku nggak tahan dingin soalnya," jawab Yato yang masih berdiri di dekat pintu istana es yang sudah tertutup.

"Kalau begitu, hangatkan tubuhmu dulu. Jangan lupa pergi ke wilayah Red ya. Kau harus mencari siapa sebenarnya Red Dragon itu."

"Ya, aku tahu kok. Aku mau pulang dulu ke wilayah Blue sekarang. Sampai jumpa, Leafa, Kirito!"

Tangannya yang gemetaran segera mengambil Teleport Crystal dari saku jaketnya. Lalu ia pun berseru.

"ASHE CITY! TELEPORT!"

PYAAAAAAS!

Muncul sekelebat cahaya ungu yang menelan Yato. Dalam hitungan detik, cahaya ungu itu menghilang. Meninggalkan dua Dragon yang mematung saat menyaksikan dirinya menghilang.

SIIIIING!

Hening.

Hanya tinggal Kirito dan Leafa sekarang. Mereka pun terdiam sebentar. Lalu saling berbicara lagi.

"Sudah sepi. Semua Dragon sudah pergi. Seto dan Uchimada juga sudah pergi," tukas Leafa sambil melirik Kirito dengan rona merah tipis di dua pipinya."Kirito, mau pergi kemana sekarang?"

SET!

Tangan kanan Kirito juga sudah memegang Teleport Crystal. Dia hanya berwajah datar.

"Tentu saja aku pulang ke wilayah Silver."

Jawaban pendek dari si Black Swordman dan sukses membuat hati Leafa kecewa berat bagaikan batu.

"Oh, ya sudah."

"Sampai jumpa lagi, Leafa."

"Ya, sampai jumpa lagi."

Gadis itu memasang wajah kusutnya. Nada suaranya terasa lirih.

Kirito mengangguk cepat. Lantas dia melototi Teleport Crystal itu.

"CENTRAL CITY, TELEPORT!"

PYAAAAAS!

Sebuah cahaya keunguan bersinar menyelimuti tubuh Kirito. Lalu dia pun menghilang dalam sekejap mata dari tempat itu.

Tinggallah gadis berambut kuning diikat ponytail itu. Dia benar-benar kecewa habis karena Kirito yang disukainya itu sudah pergi dari hadapannya. Meranalah hatinya sekarang. Seperti bunga yang layu karena ditinggal oleh kumbangnya.

"Ah ... Ya sudahlah. Aku juga mau pulang saja."

Leafa mengambil Teleport Crystal dari saku jubah hijaunya dan mengatakan suatu kalimat dengan nada yang loyo.

"SYLVIAN CITY, TELEPORT!"

PYAAAASH!

Untuk ketiga kalinya, sinar warna ungu memenuhi tempat itu dan membawa Leafa berpindah tempat ke Sylvian City. Ibukota yang berada di wilayah Green.

Kini sunyi dan senyap yang menghuni suasana istana es. Bersamaan butir-butir putih mulai jatuh dari langit. Hujan salju ringan pun mengguyur wilayah White. Sungguh indah sekali.

.

.

.

"Ah, bosan ...," gerutu Yuuki alias Ratu Salju yang sedang tidur-tiduran di ranjangnya yang beralaskan seprai biru muda yang berkilauan."Kenapa sih aku harus dilarang keluar sama Seto-kun? Aniki juga begitu. Aku nggak boleh ikut pergi sama mereka ke wilayah Brass. DASAR MENYEBALKAN! SETO-KUN BAKA! ANIKI JUGA BAKA! AKU KESAL BANGET SEKARANG!"

Gadis berambut putih itu berteriak melengking untuk melampiaskan rasa emosinya yang sudah membludak naik ke ubun-ubun. Kedua matanya melotot bagaikan monster. Tubuhnya yang langsing dan sempurna itu dibalut dengan gaun biru muda berkilauan yang tebal sebatas lutut. Dilapisi dengan jubah kulit warna putih berbulu tebal yang dibiarkan terbuka. Tangan putih mulusnya ditutupi dengan sarung tangan berwarna putih. Sedangkan kakinya yang juga putih mulus seperti kapas, dibungkus dengan sepatu boots putih setengah betis yang terbuat dari kulit.

Begitulah kira-kira gambaran penampilan Yuuki saat musim dingin seperti ini.

Apalagi ditambah Madara sudah mengetahui hubungannya dengan Tobirama. Madara tahu kalau Yuuki itu adalah adik sepupunya. Dia pun sangat marah ketika mendengar kabar burung yang menyebar luas jika Tobirama sudah menikah dengan Yuuki. Dengan gegap gempita yang mengguncang bumi, Madara melesat dalam wujud Black Dragon untuk pergi menuju ke wilayah White. Sempat mengacaukan Snow City dengan suaranya yang sangat keras sambil berteriak memanggil White Dragon. Semua orang di sana menjadi ketakutan dan nyali menciut seperti kacang yang sudah ditumbuk halus. Padahal Madara tidak mengacaukan Snow City dengan cara menembakkan jurus-jurus jitunya. Tapi, dia hanya mengacau lewat suara yang sangat keras dan mengutarakan kalimat-kaliman ancaman yang tertuju pada Tobirama. Lalu Tobirama pun datang dalam wujud White Dragon. Namun, parahnya Madara yang berwujud Black Dragon malah menantangnya untuk berduel. Tapi, ditolak tegas oleh Senju itu. Didukung juga dengan Yuuki yang sempat datang ke tempat kejadian perkara itu. Kalau tidak, akan terjadi pertarungan Black Dragon vs White Dragon hanya karena masalah yang sepele.

Kejadian itu berlangsung sekitar tiga bulan yang lalu. Saat di mana kabar Yuuki dan Tobirama sudah menikah menyebar luas sampai ke seluruh DHO. Semua orang gempar mendengarnya. Hingga beberapa pemain pria muda berhenti mengejar Yuuki karena kecewa dan sakit hati. Menyerah begitu saja tanpa ingin berniat mendapatkan perhatian Yuuki lagi.

Kini keadaan berangsur-angsur pulih sedia kala. Berita hangat tentang pernikahannya dengan Tobirama perlahan-lahan mereda. Semua orang tidak membicarakan topik itu lagi. Tapi, sekarang orang-orang membicarakan tentang topik wilayah Brass yang sudah hancur dan Brass Heart yang telah diambil ahli oleh Red Dragon. Itulah dua berita hangat yang sangat ramai dan menghebohkan dunia DHO. Hal ini sudah tercantum dalam koran digital yang dimuat oleh guild News-D dan dikirim melalui jaringan media sosial antar pemain yaitu D-Friend.

Kondisi di dunia digital itu semakin memanas saja saat ada pemain yang akan memburu Red Dragon dengan Ascalon-nya. Pemain yang diduga adalah ketua besar yang memimpin Dragon Killer dan teman dekatnya Deidara, Brass Dragon sebelumnya yang sudah mati karena dikalahkan oleh Red Dragon. Dia ingin membalas dendam atas kematian temannya itu. Langsung melesat mencari keberadaan Red Dragon di Tropic City, yang berada di wilayah Red.

Beralih ke arah Ratu Salju tadi, menghelakan napasnya yang begitu berat bagaikan batu. Terus terbaring dalam keadaan terlentang. Matanya menerawang jauh ke langit-langit yang putih berkilauan. Di mana terdapat lampu antik kristal besar berdesain klasik terpasang di tengah langit-langit itu. Terdiam membisu. Berpikir sesuatu sejenak.

"..."

Yuuki termenung. Dia tidak bergeming sama sekali. Matanya tetap terbuka lebar. Kosong tanpa ada cahayanya. Pikirannya melayang-layang entah kemana.

Tanpa diduga ...

FYUUUUUSH!

Muncul putaran cahaya spiral berwarna hitam di langit-langit kamar itu, tepat di depan mata Yuuki.

"...!"

Dia pun terperanjat saat sesuatu berkilauan muncul dari putaran cahaya spiral itu, langsung jatuh cepat dan menimpa wajahnya.

KLUTUK!

Putaran cahaya spiral tadi menghilang. Keadaan kembali seperti semula.

FYUUUUSH!

Karena kaget, Yuuki bangkit dan terduduk di ranjangnya. Kedua matanya membulat saat melihat sesuatu berbentuk kristal kerucut berwarna merah yang berkilauan. Dia tidak tahu kalau item itu adalah Red Heart.

"Eh? Item apa ini? Kenapa bisa muncul lewat teleport?" tanya Yuuki pada dirinya sendiri dan menggerakkan tangannya untuk mengambil item itu.

PAAAAAAATS!

Tiba-tiba, item itu bercahaya merah terang saat tangan Yuuki menyentuhnya. Sangat menyilaukan mata dan terasa panas. Dia pun merasakan tangannya juga ikut panas seperti api yang terus menjalar hingga ke seluruh tubuhnya.

"WUAAAAAAAAAAAA!"

Jeritan ketakutannya melengking keras ketika item itu berusaha masuk ke dalam tubuhnya. Lalu energi item itu masuk melalui pembuluh darah digitalnya dan langsung mengalir cepat ke jantungnya.

SRIIIIIIING!

Terjadilah perubahan besar pada diri Yuuki. Mengantarkannya pada jelmaan Red Dragon. Red Heart telah menunjuknya menjadi Red Dragon yang baru.

.

.

.

Di sisi lain yaitu di wilayah Red.

Musim dingin yang melanda wilayah Red, telah membuat suasana semakin dingin saja. Apalagi ditambah dengan penyerangan tidak terduga oleh seseorang yang memegang pedang Ascalon. Seseorang yang diduga adalah ketua besar pemimpin guild Dragon Killer, telah berhasil menusukkan Ascalon pada Kyuubi, pada saat pertempuran yang terjadi di udara.

CRAASSSSSH!

Pedang Ascalon menembus dada kiri Kyuubi yang tidak berwujud Red Dragon atau Brass Dragon. Kyuubi berwujud manusia. Tapi, mempunyai kedua sayap putih yang membentang lebar pada punggungnya sebab dia termasuk dalam ras angel sehingga memungkinkan dia bisa terbang saat berada di udara seperti ini.

Darah tidak muncrat saat pedang menusuk dada kirinya. Sebagai gantinya, dia merasakan kesakitan yang luar biasa. Karena pedang Ascalon itu mempunyai kemampuan untuk menghisap kehidupan atau HP pemain sampai habis. Itulah rahasia dari pedang pembunuh naga yang langka itu.

"Ukh ...," Kyuubi memegang pedang itu dan berusaha untuk mencabutnya dari dada kirinya."Ka-Kau tidak akan bisa membunuhku begitu saja, Sasori."

Sasori, itulah nama seorang pria berambut merah yang memegang pedang Ascalon itu. Umurnya sekitar 25 tahun. Termasuk ras iblis sehingga dia bisa terbang dengan menggunakan kedua sayapnya yang berwarna hitam. Sayapnya itu berbentuk seperti sayap kelelawar.

Sasori hanya tersenyum sinis sambil memegang erat gagang pedang Ascalon itu.

"Kau akan mati sebentar lagi, Red Dragon. Karena itu, serahkan Red Heart dan Brass Heart itu padaku."

Senyuman sinis juga terukir di wajah Kyuubi.

"Heh, kau tidak akan pernah mendapatkan dua Dragon Heart itu. Karena aku sudah mentransferkan dua Dragon Heart itu ke tempat lain dengan teknik Teleport Random. Pasti orang lain yang telah menemukan Dragon Heart itu sekarang."

"A-Apa?!"

Sungguh kaget mendengarnya disertai kedua mata yang membulat. Sasori sangat geram dibuatnya.

"KURANG AJAR! KAU TELAH MEMBUATKU SANGAT MARAH! MATILAH KAU!"

Semakin didorongnya dengan kuat pedang itu ke dalam dada kiri Kyuubi. Kyuubi pun merasakan sakit yang tidak dapat ditahan lagi. Rasanya tidak dapat dibayangkan. Tubuhnya seperti disengat listrik dengan daya tegangan yang sangat tinggi.

"AAAAAAAAAAAAAAAH!" teriak Kyuubi sekeras mungkin sehingga membuat semua orang yang menonton di bawah sana, menjadi panik dan takut melihatnya.

Teman-teman Kyuubi yang berada di halaman depan istana merah, juga merasakan hal yang sama. Mereka ingin membantu Kyuubi sekarang juga.

"KYUU! BERTAHANLAH! KAMI AKAN SEGERA MENOLONGMU!"

Sementara di salah satu atap bangunan yang terbuat dari batu karang, terlihat Yato yang bersembunyi dan berdiri seraya menonton pertarungan Kyuubi vs Sasori dengan teropong yang dibawanya dari rumahnya. Dia santai-santai saja tanpa sedikitpun membantu Kyuubi. Tidak mau melibatkan diri dalam menjadi Blue Dragon. Dia hanya ditugaskan untuk mencari tahu siapa Red Dragon sebenarnya atas perintah Madara. Kini dia sudah mendapatkan jawabannya.

"Oh, itu dia orangnya, jelmaan Red Dragon sebenarnya. Tapi, dia sudah kalah karena ditusuk sama pedang aneh. Hm ... Pedang apa itu ya?" kata Yato berwajah penasaran sambil menurunkan teropongnya dan menggeser telunjuknya dari kiri ke kanan. Menciptakan window akun miliknya yang berbentuk persegi panjang.

Diarahkannya window akun itu untuk memotret pedang yang telah menusuk dada kiri Kyuubi.

KLIK!

Gambar berhasil didapatkan. Lalu dia kembali menyentuh sesuatu pada window akunnya dengan telunjuknya.

"...!" Terbelalaklah kedua mata Yato saat mengetahui informasi tentang pedang milik Sasori itu."PEDANG PEMBUNUH NAGA! ASCALON!"

Informasi yang mengejutkan dari data informasi dari pedang Ascalon. Data informasi yang tertulis seperti ini:

ITEM INFORMATION DATA

Name: Ascalon

Kind: Sword

Class: SSS

Use: Killing Dragon

Skill: Sucking Dragon life or sucking HP

Begitulah data informasi tentang Ascalon. Pedang langka yang termasuk dalam kelas SSS dan dapat membunuh naga sekali tusukan.

Kini Kyuubi sudah terkena damage bertubi-tubi dari hisapan energi kehidupan oleh Ascalon. Ascalon tidak dapat dicabut sebelum membuat korbannya mati. Kenyataan yang harus dihadapi. Tidak dapat dihindari lagi.

HP laki-laki berambut merah itu sudah berkurang secepat mungkin dalam hitungan detik. Sasori menyeringai sinis dengan wajah yang mengerikan.

"Kau akan mati ... Meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Dengan begitu, kematian temanku Deidara sudah kubalaskan. Aku sangat puas jika melihatmu mati tepat di depan mataku."

"Hah ... Hah ... Hah ...," napas Kyuubi tersengal-sengal karena merasakan badannya sudah melemah."A-Aku tidak akan mati ..."

"Dasar, keras kepala sekali kau ini!"

Senyuman Sasori menghilang. Digantikan dengan wajah yang datar. Terpaku memandangi wajah Kyuubi yang sudah memucat. Kedua mata merahnya meredup dan ...

PRAAAAAANG!

Tubuh Kyuubi meledak dan pecah berkeping-keping. Membentuk poligon yang bertebaran di udara. Meninggalkan teriakan pilu dan tangisan dari orang-orang yang menonton mereka dari bawah sana.

"Oh, tidak! Red Dragon sudah mati!"

"Tidak mungkin. Ini tidak mungkin."

"KYUUBI! MANA MUNGKIN KAU MATI BEGITU SAJA? KAU BERCANDA, KAN?"

"Hiks ... Hiks ... Hiks ... Red Dragon ..."

"INI PASTI MIMPI, KAN? RED DRAGON TIDAK MATI!"

"RAJA KITA SUDAH KALAH!"

"TIDAK MUNGKIN ITU. INI PASTI MIMPI!"

Semua orang di seluruh Tropic City itu, sangat ribut dan gempar atas kematian Raja mereka yang baru saja diketahui adalah Red Dragon sesungguhnya. Hal ini membuat mereka sangat syok. Terlebih bagi teman-teman Kyuubi itu.

Di antara pecahan poligon yang beterbangan di udara, Sasori memegang erat gagang Ascalon dengan dua tangannya. Membentuk seulas senyum di wajahnya. Senyuman puas yang tidak akan berakhir.

"Sudah kubilangkan kau akan mati, Red Dragon. Huh, akhirnya kau mati juga sekarang. Aku sangat puas telah membunuhmu dengan Ascalon ini ...," Sasori menatap bilah pedang itu dengan lama."Deidara ... Akhirnya dendam ini sudah kubalaskan untukmu. Semoga kau hidup tenang di alam sana. Aku tidak akan melupakanmu, sahabat baikku."

Senyuman puas yang beraura jahat itu berubah menjadi senyuman seorang teman yang tulus. Hatinya merasa tenang untuk sementara waktu ini.

Namun ...

ZLUUUUUUB!

Mendadak sesuatu menusuknya dari belakang. Lalu sesuatu itu menembus keluar dari perutnya. Rupanya sebuah tombak berhasil menusuk dirinya tanpa disadarinya sedikitpun.

"A-Apa ini?" Sasori membulatkan kedua matanya dan baru menyadari jika HP-nya sedikit lagi mendekati daerah merah. Dia lupa mengisi HP-nya sampai penuh. Sehingga terjadilah penyerangan tiba-tiba yang tidak disangkanya ini.

Dia pun menoleh ke arah belakang untuk melihat siapa yang telah menusuknya.

JREEEENG!

Rupanya Nibi. Gadis berambut panjang biru yang diikat ponytail. Mengepakkan kedua sayap putih karena dia termasuk ras malaikat. Dia adalah pemain yang jago bertarung dengan menggunakan tombak.

Wajah gadis seperti kucing itu sangat marah. Merah padam begitu. Mengeras dan menegang.

"AKU AKAN MEMBUNUHMU DENGAN TOMBAKKU INI!" seru Nibi melengking keras."RASAKAN INI! BLUE FIRE!"

BWOOOOOOSH!

Secara ajaib, tombak tadi mengobarkan api biru yang besar dan langsung membakar tubuh Sasori dengan cepat.

"WUAAAAAAAAAH!" pekik Sasori yang sangat menggelegar hampir memenuhi wilayah Red.

GROOOOOO!

Tubuh Sasori terbakar sampai gosong sampai pecah berkeping-keping menjadi pecahan poligon yang tersebar di udara.

SYUUUUT!

Pedang Ascalon lepas dan jatuh ke bawah saat Sasori telah lenyap dari dunia ini. Gerakan pedang itu sangat cepat sehingga menarik perhatian Nibi.

"Ah, pedang itu ..."

Gadis itu segera berbalik terbang ke bawah untuk mengejarnya seraya memegang tombaknya erat-erat.

Tapi, terlambat.

BATS!

Pedang Ascalon disambar cepat oleh kilatan biru yang melesat terbang dan menghilang begitu saja. Gerakan yang tidak bisa terlihat oleh mata biasa itu, berlangsung selama sedetik saja.

"...!" Nibi kaget dan memilih melayang-layang di udara karena melihat Ascalon disambar oleh kilatan biru yang aneh."Kilatan biru apa itu? Pedang itu diambil sama kilatan biru itu."

Sekarang tidak ada apapun lagi di langit itu. Cuma sekumpulan hujan salju yang mulai turun dalam intensitas ringan. Meninggalkan pertanyaan yang muncul di pikiran Nibi, tentang pergerakan kilatan biru aneh itu.

"...?"

.

.

.

"Aaaaaaah ... Kirito lama banget datangnya," keluh seorang gadis berambut kastange yang berpakaian serba biru muda."Katanya janjian di sini. Tapi, dia yang datang terlambat."

Asuna, begitulah nama gadis itu. Dia berdiri di pintu gerbang teleport di Central City, untuk menunggu Kirito yang berjanji akan mengajaknya kencan hari ini. Apalagi cuaca sedang tidak bersahabat. Hujan salju dalam intensitas ringan. Di mana semua jalanan kota yang ada di wilayah Silver dipenuhi hamparan salju yang menebal. Sehingga tidak memungkinkan para peri keluar dalam kondisi cuaca super dingin seperti ini. Karena hal itu dapat membuat sayap mereka akan membeku dan rusak parah. Jika itu sampai terjadi, maka mereka tidak bisa terbang lagi sebelum sayap mereka disembuhkan dengan item langka yaitu bernama "Wings Healing."

Begitulah, item Wings Healing hanya ada satu di dunia DHO ini. Hanya satu orang juga yang mempunyainya yaitu Asuna sendiri. Dia mendapatkan Wings Healing saat berburu monster di hutan raksasa bersama teman-temannya, sejak tiga bulan yang lalu.

Kini item itu masih tersimpan dengan baik olehnya. Bersama Kirito, yang baru saja berhubungan dengannya tanpa ikatan pernikahan yang disahkan oleh sistem game. Status mereka sekarang adalah "pacar".

Hari ini adalah hari kencan pertama mereka. Mereka berjanji akan berjalan-jalan sore dan makan malam di Flower City. Karena di Flower City, terdapat restoran paling romantis buat para pemain yang berpasangan. Sebagian besar para pemain menghabiskan waktu kencan mereka dengan pasangan mereka di sana sambil ditemani pemandangan taman hijau yang penuh dengan bunga-bunga beranekaragam. Namun, karena sekarang sudah memasuki musim dingin, maka Flower City dipenuhi dengan tanaman bunga mawar berwarna putih yang langka disebut "Frozen Rose."

Sungguh momen yang manis di hari ini. Bagi Asuna, inilah momen terpenting bagi hidupnya selama terjebak di dunia digital ini.

Mata coklat karamelnya terus diarahkan ke ujung jalan kota yang dipenuhi banyak pemain yang lalu-lalang. Hingga mendapati wajah seseorang yang ditunggu-tunggunya selama hampir satu jam lebih.

"Asuna!" seru laki-laki berambut hitam yang berpakaian tebal serba hitam, berlari-lari cepat sembari melambai-lambaikan tangannya pada Asuna.

KIIITS!

Kedua mata Asuna menajam. Kedua pipinya manyun. Wajahnya merah padam seketika karena kesal.

"Huh, kau ini! Berani-berani sekali kau buat aku nunggu selama ini! Sudah satu jam lebih, tahu!" sembur Asuna dengan berapi-api.

Begitu dekat dengan Asuna, Kirito menghentikan larinya dan tertawa cengengesan.

"Maaf, tadi ada rapat mendadak di wilayah White."

"Huh, itu alasanmu saja."

"Kalau gitu, maafin aku ya."

"Ya, aku maafin kamu kok."

"Baguslah, kita jadi kencan, kan?"

"Jadi."

GYUT!

Tangan Asuna digenggam oleh Kirito. Langsung ditariknya Asuna begitu saja.

"Ayo, kita pergi sekarang juga!"

"Eh, tu-tunggu dulu, Kirito ..."

Tangan Kirito yang satu lagi mengeluarkan Teleport Crystal. Lalu menyerukan suatu kalimat perintah.

"FLOWER CITY, TELEPORT!"

.

.

.

Di hutan raksasa atau lebih dikenal dengan nama Gigant Forest yang berada di Forest City. Masih di wilayah Silver.

Di tengah hamparan salju putih yang menebal seiring hujan salju terus turun dalam jumlah sedikit, semua tanaman di sana juga ikut diselimuti oleh hamparan salju. Membuat suasana semakin dingin. Uap-uap udara terbentuk saat mulut seseorang terbuka, mencoba berjalan sendirian di tengah hutan yang semakin gelap karena sebentar lagi malam datang untuk menendang siang.

Naruto tampak berpakaian serba tebal dengan warna hitam dan jingga. Dia menyandang pedang berwarna jingga dengan gagang berbentuk burung garuda. Itulah pedang yang bernama Ultimate Wind Sword. Mencoba mencari sesuatu yang kini belum juga dia temukan selama tiga bulan ini.

"Tianyi itu ... Apa dia masih ada di sekitar sini?" tanya Naruto pada dirinya sendiri.

Berjalan tanpa henti di tengah hutan belantara yang sepi itu. Berharap bisa bertemu lagi dengan gadis misterius yang bernama Tianyi itu. Untuk memastikan sesuatu hal bahwa Tianyi itu bukan seorang gadis AI. Melainkan seorang pemain biasa yang juga ikut terjebak di dunia DHO ini. Juga memastikan keberadaan monster tanaman bernama Summoner Plant itu. Apakah monster itu benar-benar ada di hutan seperti ini?

Jika itu benar, Summoner Plant masih ditemukan di sekitar hutan raksasa ini, berarti keberadaan Tianyi juga ada di sini. Tentu hal itu, sungguh membuat Naruto senang nantinya. Dia ingin mengetahui tentang siapa sebenarnya Tianyi itu lebih jauh lagi.

Untuk memastikan adanya keberadaan monster yang masih berkeliaran di hutan raksasa tersebut, Naruto menggunakan sistem program "Monster Scanning" yang berada tepat di window akun-nya. Menampilkan beberapa bulatan merah yang menandakan adanya monster yang masih berkeliaran dalam suasana sedingin ini.

Kebanyakan monster yang keluar pada musim dingin adalah monster berjenis serigala dan beruang kutub. Monster-monster yang sangat berbahaya, berukuran sekitar 1-2 meter dan termasuk kelas A. Sehingga siapa saja harus berhati-hati jika masuk ke hutan raksasa pada musim dingin seperti ini.

Si bocah berambut pirang itu tidak takut sama sekali dengan bahaya yang mungkin saja akan mengancamnya. Dia tetap bersikukuh mencari Tianyi itu, biarpun apa yang terjadi.

Tiba-tiba ...

"Hei, siapa kau?"

Seseorang menyapanya dengan nada dingin. Berasal tepat dari arah belakangnya.

Naruto pun menoleh dan mendapati seorang gadis yang berdiri tak jauh darinya.

"Ka-Kau ..."

.

.

.

"HAH? A-APA?! YUKI-SAMA KABUR DARI ISTANA?!"

Sang Black Dragon menjerit sekeras-kerasnya saat mendengar perkataan Tobirama yang baru saja membaca pesan dari salah satu prajurit istana es. Mengabarkan jika Yuuki kabur dari pengawasan ketat para prajurit yang notebene adalah anggota Snow Knight itu.

"Begitulah ... Isi pesan dari Sai," kata Tobirama bersikap tenang. Tidak panik seperti Madara yang benar-benar tidak sabar ingin mencari adik sepupunya yang menghilang entah kemana.

"Kita harus mencarinya sekarang, Seto."

"Tunggu ... Memangnya kita akan mencarinya kemana, hah?"

DOOONG!

Aura kepundungan menghujani diri Madara. Dia berbalik badan sambil tertawa ngeles.

"Hohoho ... Kau benar. Jadi, kita harus mencarinya kemana?"

Pria berambut putih itu menghembuskan napasnya yang terasa berat dan menggeser telunjuknya ke kanan. Terbentanglah layar digital virtual berbentuk persegi panjang. Lalu menyentuh sebuah menu utama untuk mencari program yang bernama "Couple Scanning."

Seulas senyum pun terukir di wajahnya. Madara yang melihatnya, menjadi bengong di tempat.

"Kenapa kau malah senyum-senyum sendiri gitu?"

Pandangan dilayangkan pada Madara, yang berdiri tepat di reruntuhan bangunan yang ada di Iron City, wilayah Brass. Padahal mereka sedang meninjau perkembangan wilayah Brass yang kini dipenuhi dengan pemukiman darurat yang dibangun dari tenda. Banyak pemain menghabiskan waktu mereka hanya untuk mengejar monster-monster penghasil item logam yang bernilai tinggi.

"Aku tahu di mana Yuki-sama berada sekarang."

"Oh ya? Di mana dia?"

"Dia sedang terbang menuju Dragon Seven Area."

"Kalau gitu, ayo kita segera pergi ke sana!"

"Baiklah!"

Maka kedua Dragon itu segera pergi meninggalkan wilayah Brass dengan menggunakan Teleport Crystal. Sekelebat cahaya ungu pun membawa mereka menuju ke Dragon Seven Area secepatnya.

.

.

.

BERSAMBUNG

.

.

.

NOTE:

Chapter 10 update nih!

Terima kasih udah membaca sampai di chapter ini. Nggak lama lagi cerita ini akan tamat. Sekitar 5 chapter lagi.

Akan mulai terkuak sebuah misteri di chapter yang akan datang. Nantikan aja pas di bulan Juli ya soalnya saya mau hiatus. Ini fic yang terakhir yang saya tulis untuk hari ini.

Mohon maaf lahir dan bathin karena puasa mulai dekat. Marhaban ya Ramadhan bagi kalian yang beragama Islam.

Jangan lupa review lagi ya! Makasih! ^^

Finish: Selasa, 31 Juni 2016