Halo, semuanya… *nyapa dengan lemesnya*

Nih, udah kita update… *makin lemes*

Okeh, sedikit curcol dulu, boleh 'kan? HUEEEEEEEE! Ada yang dateng ke warnetku, 3 perempuan ganjen(?) yang minta diketikin. Dan aku harus ngetikin 3 BUKU MAKALAH, besok sore diambilnya. HUEEEEEEEEE! *frustasi, kesel, mewek* banyak banget… *makin lemes lagi* jari-jariku pasti copot semua… *ngayal* (All: udahlah jangan banyak curhat gaje di sini! Itu mah derita lu!)

Yasud, cukup sudah aku curhatnya. Menurut kalian, gimana? Aku minta pendapat ya! *dibantai readers*

Ini dia, chapter 10~!


.

.

Sakura ingin mengamuk saat ini, lebih dari apapun! Gumaman penuh kutukan terus keluar dari mulutnya seiring gerakannya merapikan seprai di ranjang tunggal miliknya, membuat ia tampak menyeramkan. Ralat, sangat menyeramkan! Kalau saja membunuh orang itu tidak dilarang, mungkin dia sudah menjadi pembunuh saat ini. Ya, orang itu, yang sedang bersandar di ambang pintu sembari memperhatikan setiap inci pergerakan Sakura. Dialah penyebab semua kekacauan ini.

Yah, bayangkan. Kau baru tiba di rumahmu setelah perjalanan panjang yang tidak mengenakkan, dan kau disambut dengan hangat oleh ibu dan kakakmu. Lalu secara tiba-tiba tanpa kau duga sebelumnya, datanglah seseorang yang dengan sukses menghancurkan rencana-rencana indahmu untuk beberapa waktu ke depan. Uchiha Sasuke, kau benar-benar keterlaluan!

"Sudah selesai, Sakura?"

Sakura mendelik. Oh, betapa itu sangat tidak berpengaruh terhadap pemuda di hadapannya. "Jangan berucap seolah aku ini pembantumu, Uchiha." desisnya tak senang.

Sasuke mengangkat sebelah alisnya. "Tampaknya mood-mu sedang buruk."

Sakura menggeram pelan. Hei, apa Uchiha sialan yang satu ini sedang mengejeknya? Dia pikir ini gara-gara siapa, huh?

"Tapi... ah, biasanya juga sikapmu selalu seperti itu. Jadi, di mana aku harus meletakkan ini?" ucapnya sambil mengangkat ransel hitam di tangannya.

Sakura mendengus. "Terserah!"

Kali ini, dia akan membiarkan sang Uchiha menang. Hanya untuk kali ini saja.

"Kalau sudah selesai, segeralah turun ke ruang makan. Kakak dan ibuku sudah menunggu untuk makan siang."

"Hn, baik." Sasuke masih sempat memamerkan senyum terbaiknya, sebelum Sakura berbalik meninggalkannya di kamar itu. Sesaat setelahnya, senyuman itu berubah menjadi seringaian.

'Inilah untungnya menjadi Uchiha, Haruno Sakura!'

Angel Ruii

"Maaf ya, Sasuke-kun... Hanya ini yang bisa kami hidangkan untukmu, padahal seharusnya kau bisa makan lebih baik dari ini..." ucap Rin dengan nada menyesal.

"Tidak apa-apa, Basan, ini juga sudah cukup, kok." balas Sasuke sambil tersenyum manis.

"Yah, mau bagaimana lagi. Sebenarnya kami sudah berniat membuat pesta kecil-kecilan untuk menyambut Sakura, tapi imouto-ku yang bodoh ini mati-matian menolaknya. Kalau saja kami tahu Sasuke-kun akan datang, kami pasti–"

"Kalian terlalu berlebihan." sela Sakura datar sementara ia menyumpit tumis sayuran ke mangkuknya.

"Eh, berlebihan? Menurutku tidak berlebihan sama sekali, kok. Sasuke-kun 'kan tamu kita, sudah seharusnya kita melayaninya dengan baik, benar 'kan, Kaasan?" balas Konan sambil melirik ibunya, yang hanya membalas dengan anggukan mantap.

"Hn, kau benar, dia memang tamu kita. Tamu tak diundang, tepatnya." ucap Sakura sinis.

"Sakura! Tidak sopan!" tegur Rin sambil menatap tajam putri bungsunya.

Oh, tentu saja Sakura tidak peduli dan terus melahap makan siangnya. Memintanya bersikap sopan pada seorang Uchiha Sasuke? Jawabannya hanya satu: NO WAY!

"Tidak apa-apa, Basan, saya sudah terbiasa, kok."

Dan Sasuke berhak menerima Piala Oscar atas kepiawaiannya dalam berakting. Oh, berhati-hatilah Sasuke, sepasang sumpit sedang bersiap-siap untuk menyerang wajah gantengmu itu!

Setelah acara makan siang itu berakhir, Sakura dan Konan segera membereskan meja makan mereka. Sementara itu, Rin menemani Sasuke di ruang tamu.

"Sasuke-kun itu benar-benar keren! Iya 'kan, Sakura?" ujar Konan disela kegiatan mereka mencuci peralatan makan yang kotor.

Sakura tidak menjawab, hanya memutar bola matanya bosan. Tangannya sibuk meremas spons sabun hingga berbusa lalu menggosokkannya ke piring kotor untuk kemudian dibilas oleh kakaknya.

"Hm, kau ini, selalu saja dingin kalau berurusan dengan laki-laki!" ucap Konan sebal karena diabaikan oleh adiknya sendiri.

"Biar saja, toh, aku tidak akan mati karenanya." sahut Sakura ketus.

Serta merta Konan menatap Sakura sambil mengernyit heran. "... Sepertinya kau sedang emosi ya, Sakura?"

Semua gerakan gadis bubblegumitu terhenti.

"Heh... siapa bilang? Aku baik-baik saja, Neesan..."

Apanya? Siapa yang akan percaya jika kau mengatakannya dengan nada berat dan dalam seperti itu, Sakura? Dan lagi... aura-aura aneh apa yang memancar dari tubuhmu itu?

'Aku tidak akan jadi seperti ini kalau saja Uchiha sialan itu tidak muncul di hadapanku!'batinnya geram.

Flashback

Sakura merasa dirinya berada di antara dunia nyata dengan halusinasi. Orang itu, yang berdiri di depan pintu, yang sedang nyengir kaku dengan badan menggigil, bagaimana bisa...? Ah, mungkin ini memang hanya halusinasi. Ya, pasti begitu, 'kan?

"Siapa yang datang, Sakura?"

Oke. Tampaknya dugaan halusinasi tadi harus dihapus, melihat Konan yang kini juga ikut-ikutan bengong di ambang pintu. Tidak mungkin dua orang berbeda bisa berhalusinasi akan hal yang sama, 'kan?

Dan Sakura tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi, tahu-tahu Uchiha satu itu sudah duduk manis di hadapan ibu dan kakaknya. Dia bahkan tidak tahu sejak kapan Sasuke mengganti pakaiannya yang basah oleh hujan dengan pakaian yang baru. Sakura terlalu shock, tentu saja.

"Jadi... kau datang ke sini untuk berlibur, dan karena kau tidak menemukan penginapan maka kau berkeliling di tengah hujan untuk mencari rumah kami karena hanya Sakura yang kau kenal di sini, begitu?"

"Benar, Basan."

Hening menyelimuti. Suara hujan yang tidak sederas tadi kini mendominasi suasana di rumah sederhana bertingkat dua itu.

Rin terdiam sambil menatap sang Uchiha.

Konan mengikuti jejak ibunya.

Sasuke... diam saja menunggu keputusan yang akan diterimanya.

Dan Sakura, dia hanya bisa berdo'a di dalam hati.

"Baiklah, kau boleh menginap di sini, Sasuke-kun!"

'JEGEEEEER'

Suara halilintar barusan seolah sengaja menambah efek 'sangar' atas apa yang diucapkan Rin. Yah, hanya bagi Sakura saja, sih. Faktanya, tiga orang lain di ruangan itu justru seperti berada di dunia mereka sendiri tanpa menghiraukan keberadaan Sakura.

"T-tunggu dulu!" seru Sakura setelah tersadar dari keterkejutannya.

"Hm? Ada apa, Sakura-chan?" tanya Rin dengan senyum manisnya.

"A-apa maksud Kaasan dengan mengizinkan orang asing menginap di rumah ini? Kaasan tidak boleh sembarangan memutuskan begitu!" protes Sakura. Dahinya tampak berkerut saking kesalnya.

"Orang asing? Bukankah Sasuke-kun ini teman sekelasmu?"

"Tetap saja dia – ah, itu tidak ada hubungannya! Lagipula, kenapa tidak menyuruhnya mencari penginapan saja, sih?"

"Kau lupa, Sakura? Di Ame 'kan tidak ada penginapan?" timpal Konan.

Crap! Sakura benar-benar lupa akan hal itu.

"T-tapi, kalau dia menginap di sini dia harus tidur di mana?"

Mereka semua terdiam. Hm, benar juga. Kamar tidur di rumah ini hanya ada dua, kamar Sakura di lantai atas sedangkan Konan sekamar dengan Rin. Nah, Sasuke tidur di mana, coba?

"Ah! Sasuke-kun kan bisa tidur di kamarmu, Sakura?" ucap Rin sambil nyengir lebar.

"HAH?"

Baik Sakura, Sasuke, maupun Konan sama-sama kaget dengan putusan Rin yang kelewat santai itu.

'D-di kamar Sakura? A-apa Kaasan tidak salah?' batin Konan.

'A-a-ap-apa! Menyuruh si Uchiha ini tidur di k-kamarku? Yang benar saja!'batin Sakura.

'Waduh... ini, sih, terlalu cepat...'' batin Sasuke.

Hee? Apanya yang 'terlalu cepat', Sasuke?

Melihat ekspresi aneh dari ketiga anak muda di depannya, tak urung membuat Rin tergelak. "Hahaha... kenapa kalian memasang tampang seperti itu? Tenang saja, maksudku bukan Sakura dan Sasuke-kun harus tidur bersama. Maksudku, Sasuke-kun akan tidur di kamar Sakura, sedangkan Sakura tidur bersamaku dan Konan."

Ketiganya pun menghela napas lega. Beuh, ibu satu ini bener-bener, deh!

"Nah, jadi semua sudah beres, 'kan? Sakura, kau rapikan kamarmu dulu untuk dipakai Sasuke-kun, ya? Sekarang waktunya menyiapkan makan siang~!"

Hei! Sakura bahkan belum menyatakan persetujuannya untuk hal ini! Kaasan tercintanya malah sudah melarikan diri ke dapur dengan dipapah oleh Konan. Ini, sih, keputusan sepihak namanya! Tidak adil!

End of Flashback

Tanpa disadarinya, Sakura telah sukses membengkokkan sumpit stainless hingga hampir membentuk sudut siku-siku. Konan yang melihatnya pun bergidik ngeri. Dia tahu benar sifat adiknya itu. Sakura itu jarang marah, tapi sekali ia marah maka pilihan terakhirmu agar tidak dijadikan pelampiasan adalah: kabur!

"S-Sakura, sisanya k-kau lanjutkan sendiri, ya? N-Neesan harus meminumkan obat u-untuk Kaasan.. Jaa ne!"

Dengan itu, Konan pun berhasil melarikan diri. Sakura hanya bisa mendecih kesal, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Angel Ruii

Sementara itu, di ruang tamu kediaman Haruno...

"Kau kenapa, Konan?" tanya Rin yang heran melihat putri sulungnya datang dengan setengah terbirit-birit dari arah dapur.

"Aku ini berusaha menyelamatkan nyawaku, Kaasan! Sakura sedang marah besar! Kalau sumpit saja bisa dibengkokannya dengan satu tangan, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasibku jika terus berada didekatnya!" Konan kembali bergidik, kini ditambah dengan efek horor di wajahnya.

Mendengar hal itu, Rin justru terkekeh geli. Ck, ibu macam apa itu?

"Hahaha... kau ini, tidak usah berlebihan begitu. Sakura tidak mungkin melakukan apa-apa terhadapmu. Itu 'kan hanya emosi sesaat?" ucapnya seraya menatap putrinya yang tengah beranjak menuju meja kecil di samping pintu kamar tidur mereka.

Konan meletakkan segelas air di atas sebuah nampan kecil beserta beberapa bungkus obat-entah-apa-namanya, lalu berbalik menatap sang ibu dengan jengah. "Kaasan jangan suka meremehkan emosi sesaat. Apa Kaasan tidak ingat, sekitar setahun yang lalu Sakura pernah menghajar dua orang preman yang mencoba merampas uang kita sampai babak belur? Ha, aku bahkan bisa mendengar dengan jelas suara tulang-tulang mereka yang patah! Mengerikan!" sahutnya seraya meletakkan nampan tersebut ke atas meja.

"Hahaha... Tentu saja aku ingat. Waktu itu seru sekali, putriku memang hebaaat~!"

Konan dan Sasuke -yang sedari tadi hanya mendengar percakapan mereka- dibuat sweatdrop seketika. Seru? SERU? Bagian mananya yang seru?

"Kaasan ini... Sudahlah, ayo minum obatnya."

Sembari meminum obat yang terdapat dalam berbagai warna, bentuk, dan ukuran, Rin masih saja mengumbar senyum. Entah apa yang ada di pikiran ibu beranak dua satu itu. Nah, kalau Sasuke, dia sedang merenungkan apa yang didengarnya barusan. Kalau benar sifat Sakura seperti itu, berarti dia harus berpikir dua kali untuk memancing emosi Sakura. Tapi... gimana, ya? Soalnya setiap kali melihat ekspresi Sakura yang sedang emosi itu menyenangkan sekali, sih! Dibanding ekspresinya yang datar-datar saja, wajah kesal atau marah gadis bubble-gumitu jauh lebih menarik. Yah... mungkin akan berbeda jika Sakura mau tersenyum padanya. Tapi, jangankan tersenyum, menatap matanya pun sangat jarang dilakukannya!

Ck, heran, deh. Bukankah yang seharusnya bersikap stoicitu adalah Uchiha seperti Sasuke? Sekarang kenapa jadinya terbalik? Eng... mungkin filosofi-nya begini: dingin ditambah dingin, hasilnya tetap saja dingin, iya 'kan? Jadi, salah satunya harus menghangat terlebih dahulu. Es pun jika dihangatkan lama-kelamaan juga akan mencair, 'kan? Mungkin itulah yang bisa menggambarkan situasi kedua tokoh utama kita. Selain itu, kalian juga perlu tahu, bahwa seorang Uchiha ternyata tak perlu bersikap 'sok keren' di depan orang yang dikasihinya. Tidak percaya? Kalau begitu silakan tanya pada Nyonya Uchiha Mikoto, mengenai bagaimana 'kehangatan' seorang Uchiha Fugaku saat mereka sedang berduaan. Ehm, ehm…

"Sasuke-kun..."

Panggilan Rin tersebut sukses mengembalikan Sasuke ke dunia nyata. Setelah memaksa untuk tersenyum, walau hasilnya tetap terlihat kaku, ia pun menjawab, "I-iya, ada apa, Basan?"

"Apa yang kau lamunkan? Atau jangan-jangan... kau sedang melamunkan Sakura, hm?" tanya Rin dengan senyumnya yang sedikit err... menggoda?

"A... aah... tidak kok, Basan. Saya tidak sedang melamunkan apapun..."

Sasuke nyengir garing. Gimana rasanya tuh, kepergok sama calon mertua sedang memikirkan... eh, tunggu. Apa tadi? CALON MERTUA?

"Ckckck, kau tidak perlu mengelak, Sasuke-kun. Apa kau tahu, aku sudah lumayan sering menghadapi pemuda sepertimu…" Rin sengaja menggantungkan kalimatnya, lalu melanjutkan dengan setengah berbisik, "…yang mencoba untuk mendekati putriku, Sakura!"

Sasuke yang pada dasarnya memang agak pucat berubah semakin pucat. Yang benar saja, jadi Kaasan Sakura ini sudah tahu niat sang Uchiha yang sebenarnya? Ya ampun...

"Kau tak perlu heran, Sasuke-kun. Kaasan kami memang seperti ini, suka mengurusi urusan anak muda!" ujar Konan sambil tersenyum geli.

"Hei, hei, Konan-chan, memang apa salahnya? Toh, ini menyangkut anakku sendiri..." sungut Rin tak terima. Konan hanya terkekeh senang.

"G-gomennasai, Rin-basan, Konan-san..." ucap Sasuke gugup seraya menundukkan kepalanya.

"Lho, kau meminta maaf untuk apa, Sasuke-kun? Hahaha... tak perlu sungkan begitu..." sahut Rin santai.

Lagi-lagi Sasuke hanya bisa tersenyum kaku. Sungguh, ia tak menyangka bahwa ibu dan kakak Sakura bisa seramah ini. Ia kira mereka akan sama dinginnya dengan pinky girl satu itu. Namun nyatanya…

"Sakura itu..." ucap Rin setelah beberapa saat mereka terdiam. "...tidak seperti yang tampak dari luarnya. Sebenarnya, dia itu sangat rapuh..."

Sasuke memandang Rin, bingung. Sedangkan ibu dua anak itu membalasnya dengan tersenyum.

"Mungkin kau belum tahu, ya? Dulu, kami pernah ditinggalkan oleh seseorang yang telah menjadi pegangan hidup kami. Dia, ayah dari Konan dan Sakura, mantan suamiku, pergi tanpa jejak setelah–"

"Cukup, Basan. Aku sudah tahu tentang hal itu." sela Sasuke cepat.

Rin dan Konan sontak menatapnya kaget. "Kau... sudah tahu?" Sasuke mengangguk sekali. "Dari mana kau mengetahuinya?"

"Sakura sendiri yang menceritakannya padaku."

Kedua ibu dan anak itu terperangah mendengar ucapan Sasuke. Pasalnya, Sakura yang mereka kenal tidak mungkin mau menceritakan hal tersebut pada orang lain.

"Sepertinya Sakura mempercayaimu, Sasuke-kun..." ujar Rin sembari tersenyum lembut.

"Apa?"

"Kau tahu 'kan, tidak mudah mencari orang yang bisa kita percaya untuk berbagi rahasia. Apalagi Sakura, dia itu tidak gampang percaya pada orang lain. Itu artinya, kau adalah orang yang beruntung, Sasuke-kun!"

Tak ada yang bisa dilakukan Sasuke selain tersenyum malu-malu sekaligus senang. Sakura mempercayainya? Wah, dia harus mentraktir 5 porsi ramen untuk Naruto kalau itu memang benar adanya! Eh, ngomong-ngomong, kenapa harus Naruto, ya?

"Karena itu, Sasuke-kun..." ucap Rin kemudian, melenyapkan semua pikiran aneh di otaknya. "…kami minta padamu untuk menjaga Sakura selama ia di Konoha. Bagaimanapun, dia hanya sendirian di sana, mana mungkin kami tidak khawatir. Kami harap kau mau membantu, Sasuke-kun..."

Tatapan mata Rin saat itu, benar-benar mencerminkan kecemasan seorang ibu. Begitu pula dengan Konan.

"Tentu saja, Basan. Aku akan menjaga Sakura. Tidak hanya untuk kalian, tapi... juga untuk diriku sendiri..."

Wah, ada pemandangan langka nih. Kapan lagi coba bisa melihat seorang Uchiha Sasuke blushing?

"Hihihi... ternyata kau ini sangat manis, Sasuke-kun~!" ujar Konan dengan senyum menggoda.

Sasuke terkesiap. Manis? MANIS? Seumur hidupnya baru kali ini ada yang berani bilang kalau Sasuke itu manis! Eh, tapi sebenarnya ada yang lebih parah, lho. Siapa lagi kalau bukan si Itachi. Kakaknya itu dengan nekat menyebutnya imut! Itu pun hanya sekali karena Sasuke langsung mencekiknya hingga hampir tewas.

"Oh ya, apa kau tahu, Sasuke-kun? Sakura itu sangat takut pada petasan, lho!" ucap Rin dengan nada riang.

"Benarkah?" balas Sasuke seraya tersenyum.

"Tentu saja! Pernah waktu dia berumur se–"

"Berhentilah berbicara yang tidak benar mengenai aku, Kaa-san."

Ketiganya menoleh kaget mendapati orang yang mereka bicarakan sedang berdiri di dekat pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

"Se-sejak kapan kau ada di sana, Sakura?" tanya Konan gugup.

"Sejak sepuluh detik yang lalu."

Berarti Sakura tidak mendengar apa yang mereka bicarakan sebelumnya. Aman.

"Oh ya, Sakura, hujannya sudah reda, lho?"

"Memangnya kenapa?" tanya Sakura balik.

"Rencananya setelah ini kau mau ke mana?"

"Tidak ke mana-mana."

Rin tersenyum lebar. Ini pertanda buruk.

"Kalau begitu, pergilah jalan-jalan ke taman," Wah, perhatian sekali. "sekalian ajak Sasuke-kun, ya?"

Tuh 'kan!

"Aku-tidak-mau!" sahutnya tegas dengan penuh penekanan.

"Sakura..."

Glek! Tatapan tajam itu... Tatapan yang menuntut itu...

"I-iya, iya! Sepuluh menit lagi!"

Karena perintah Kaasan, adalah mutlak!

.

.


TBC


PENGUMUMAN KEMBALI, SAUDARA-SAUDARAKU SEKALIAN! *cuih!*

Update-an fic ini emang banyak halangannya. Dan sekarang, ada halangan yang baru, loh! Pasangan collab-ku mulai mau kerja, nih… Hiks hiks, kalian bisa maklum kan? Okeh, kita do'ain aja semoga usahanya lancar, dan setiap pulang bawa oleh-oleh buatku! XD *dihajar rame-rame*

Dan, apa kalian kaget sama alur cerita chapter satu ini? Yap, aku sendiri juga gitu… XD *PLAAAK!* Apa menurut kalian chapter ini terasa diperpanjang? Yap! XD

Udahlah, akhir kata: REVIEW! Semakin cepat dan semakin banyak kalian review, semakin cepet update, deh! *loh?*

Top of Form