.

.

Naruto Fanfiction

Disclaimer : Naruto belongs to Masashi Kishimoto

Rated: M

Genre : Romance, Fantasy, Angst

.

.

Madara membelai helaian rambut Sakura, helai demi helai, mencium aroma dari tenguk leher dan membuat tubuh Sakura menegang. Beberapa kali Sakura mengerang karena sensasi yang diberikan oleh Madara. Ini bukan pertama kalinya Sakura melakukan hal intim, dengan Neji satu kali ketika mereka bertemu dan Neji melamarnya, tapi bukan berarti Sakura memberikan kesuciannya pada Neji. Teringat pada Neji membuat Sakura yang tadi menutup mata, kini membuka kedua emeraldnya.

Ah, sudahlah...

Sakura menyerah soal Neji.

Tanpa ragu, Sakura mengangkat kedua tangannya dan memeluk leher Madara dan membelai kepala sang raja. Merasa belaian Sakura sangat lembut, Madara memejamkan matanya, merasakan setiap sentuhan yang Sakura berikan padanya. Madara mengangkat tubuh Sakura dan membawanya ke kasur, tempat di mana mereka akan melajutkan ke tahap berikutnya.

Sakura terlihat pasrah, wajahnya merona ketika melihat Madara tersenyum lembut di atas tubuh Sakura. Madara mengecup telapak tangan Sakura, pergelangan, lengan, menuju bahu, leher, telinga sampai sekarang mereka saling tatap. Sakura membelai pipi Madara dan membalas senyum sang raja, kemudian mereka mendekat sampai bibir mereka bertemu.

Sakura membuka pelan jubah sutera milik Madara, sampai tubuh gagah Madara terekspos. Wajah merona Sakura benar-benar membuat Madara luluh. Ini bukan perihal napsu belaka, gadis ini berbeda, Madara mengizinkan Sakura menyentuhnya, mengizinkan gadis itu melihat sisi yang tidak pernah diperlihatkan olehnya pada siapapun, bahkan Madara mengizinkan Sakura memiliki kerajaan ini jika dia berkenan.

Ini bukan perihal agar Sakura menjadi penyembuh pribadinya.

Bukan napsu belaka...

Madara menyayangi Sakura.

Tidak, lebih dari itu..

Madara memginginkan Sakura menjadi miliknya.

"Akh!"

Madara memeluk Sakura dengan sangat erat, pertama kalinya bagi Sakura pastilah sangat sakit. Sakura bukan semata-mata menyerahkan kesuciannya pada Madara karena kecewa dari Neji, bukan. Ada suatu ikatan yang tidak bisa dijelaskan oleh kata-kata, perasaannya pada Madara, dia ingin memeluk laki-laki ini dalam pelukannya. Madara memang terlihat gagah dan ditakuti seluruh Goblin, tapi Sakura sangat tahu bahwa di dalam diri sang raja ada kerapuhan yang sangat rentan.

Sakura terus memeluk Madara, menjerit pelan nama sang raja, Madara terus memberikan kepuasan untuk mereka berdua, sampai tiba pada puncaknya, Madara mengatur napas dan menjatuhkan dirinya di atas Sakura.

.

.

Itachi menatap bulan, tatapannya terlihat lurus, bentuk pupilnya pun masih berbeda. Merasakan apa yang Sakura rasakan memang bukanlah hal yang mudah, entah bagaimana dengan Sakura yang bisa merasakan perasaan Itachi, yang jelas saat ini Itachi memejamkan kedua matanya dan tersenyum sambil melipat kedua tangannya dan bersender di pilar. Rambut panjangnya dia biarkan tergerai.

"Nii-san."

Itachi menoleh pada Sasuke yang berdiri di belakangnya, "Kau belum tidur?" tanya Itachi.

Sasuke berdiri di samping Itachi dan terdiam menatap beberapa tanaman yang menjadi hiasan di istana itu, "Boleh kutanya tentang sesuatu?"

Tatapan Itachi seolah memberi jawaban pada Sasuke.

"Apa yang kaulakukan jika Karin tiba-tiba berpaling pada laki-laki lain?"

Itachi mengerjapkan kedua matanya kemudian tersenyum, "Itu tidak mungkin, dia sangat mencintaiku," jawaban Itachi yang penuh percaya diri membuat Sasuke menyesal telah bertanya.

"Kau selalu mengatakan bahwa Karin tidak akan bisa lepas darimu, dan pada kenyataannya sampai saat ini pun dia masih mencintaimu, walaupun terkadang kau selalu bersikap pura-pura cuek dan tak acuh hanya demi menguji kesetiaannya, dia masih berdiri untukmu, jujur aku kagum dengan Karin."

Itachi masih bersender di pilar, namun kali ini tatapannya kembali menuju langit, "Tidak semua yang kita inginkan akan sesuai kenyataan, Sasuke." Itachi terlihat serius, "jika suatu saat Karin memilih laki-laki lain, itupun ada kesalahan dariku yang tidak pernah menanggapinya dengan serius. Tapi, kau harus ingat... mencintai itu tidak boleh pamrih."

"Maksudnya?"

"Jika kau mencintai wanita, kau tidak boleh pamrih akan mendapatkan perasaan yang sama, berharap boleh, tapi jangan sampai setiap keputusannya, dukunglah, jangan bebankan dia dengan perasaanmu," ujar Itachi.

Sasuke terdiam dan mengepalkan kedua tangannya, "Tapi... pasti ada kalanya rasa untuk memilikinya, hanya untukku."

Darah Uchiha memang posesif.

"Kalau dia juga mencintaimu, maka kau bebas memilikinya, aku pun belum paham bagaimana perasaannya, yang jelas saat ini... sosok yang benar-benar membuatnya nyaman adalah Madara, apa kau bisa bersaing dengannya?" ledek Itachi yang sudah mengetahui siapa yang dimaksud oleh Sasuke.

Wajah Sasuke merona.

Eh?

Tunggu.

"Madara? Nyaman? Sakura?" tanya Sasuke bingung, "bukankah dia bertunangan dengan Neji Hyuuga?"

Kedua mata Itachi terbelalak, "Apa!?"

"Nii-san, jika Sakura dan Madara benar-benar menikah, sudah dipastikan akan terjadi bencana besar diantara ras Uchiha dan Hyuuga," ujar Sasuke.

Itachi kembali berpikir, jadi itu alasan kenapa perasaan Itachi membingungkan. Apa yang Sakura bimbang, bisa Itachi rasakan. Neji, Sakura sedang bimbang soal hubungannya dengan Neji. Karena itu, Itachi merasa Sakura tidak stabil. Itu jawabannya.

"Ternyata begitu," gumam Itachi.

"Hn?"

Itachi menggelengkan kepalanya, tersenyum, dan mengacak-acak rambut Sasuke, "Sudah malam, tidurlah, terima kasih untuk cerita hari ini."

Begitu Itachi pergi, Sasuke termenung menatap kolam yang di isi oleh beberapa jenis ikan.

"Madara..." gumam Sasuke yang terlihat kesal pada wajahnya, "sial... kenapa harus dia... diantara semua wanita, kenapa harus Sakura."

.

.

Cahaya matahari menerobos masuk ke ruangan sang raja. Memaksa onyx dan emerald untuk membuka mata mereka. Sakura terbangun dan menyesuaikan pandangannya dengan cahaya yang masuk, sedangkan Madara memutuskan untuk meneruskan tidurnya di pelukan Sakura. Namun, Sakura tahu bahwa Madara sudah terbangun, hanya saja dia menolak untuk membuka matanya. Sakura tersenyum dan membelai kepala Madara dengan kembut, memeluknya erat. Madara tersenyum atas perlakuan Sakura. Seumur hidupnya, dia tidak pernah diperlakukan selembut ini dari siapapun.

Seolah tidak ingin mengganggu Madara, Sakura bergerak pelan untuk beranjak dari kasur, gerakannya terhenti oleh Madara yang menarik kembali pinggang Sakura dan memeluknya, "Siapa yang mengizinkanmu pergi?"

"Ma-Madara-sama..."

Sakura masih merasa malu, dengan tubuh mereka yang tidak memakai sehelai benang sama sekali, Sakura langsung menutupinya dengan selimut, dia masih tidak percaya bahwa dirinya dan Madara telah bercinta. Madara membuka sebelah matanya dan mendekap tubuh Sakura, "Panggil aku Madara, seperti tadi malam."

Wajah Sakura semakin merona, dia menutup wajah memakai kedua tangannya, "A-aku tidak bisa... Madara-sama... aku..."

"Madara," ucap Madara dengan tegas namun lembut, "hanya Madara."

Sakura memejamkan kedua matanya, pasrah, "Baiklah... Madara... aku harus kembali ke kamarku..."

Madara mengendurkan dekapannya, dia memperhatikan Sakura yang menutupi tubuhnya dengan kain dan mulai memungut pakaiannya di lantai. Madara menyangga kepala memakai tangannya sambil setengah terbaring, "Mulai nanti malam, kamarmu di sini."

Mendengar ucapan Madara membuat tubuh Sakura mematung, Sakura menoleh dengan tatapan syok, "Tu-tunggu, jangan! Kita belum resmi menikah, lagipula nanti-"

"Tidak ada tapi, aku tidak ingin tapi," potong Madara.

Sakura terdiam dan menatap Madara dengan tatapan bimbang. Madara mengulurkan tangannya dan diraih oleh Sakura, berjalan sesuai tarikan lembut pada tangannya menuju kasur, Sakura duduk di tepi-nya. Madara menatap Sakura dengan intens yang saat ini tatapannya tertuju pada lantai. Sang raja mengarahkan kepala Sakura padanya dan mencium Sakura dengan sangat lembut, "Aku ingin segera menikahimu, satu kamar denganmu, agar setiap pagi aku bisa melihat wajahmu."

Sejak kapan Madara bisa romantis seperti ini?

Sakura sangat canggung mendapatkan perlakuan Madara yang luar biasa lembutnya. Ciuman kilat yang diberikan Madara pun membuat Sakura merasa bahagia, "Tapi statusku..."

"Aku mengerti, kau harus membatalkannya, akan kukirim surat pemberitahuan untuk keluarga Hyuuga," ucap Madara.

Sakura mengangguk pelan dan tersenyum.

.

.

Hari sudah siang, Sakura sudah berpakaian lengkap dan kini berjalan di koridor istana. Bertemu Itachi adalah hal yang paling pertama dia hindari, namun sayang takdir berkata lain. Sakura berpapasan dengan Itachi dan Mikoto, dengan salah tingkah, Sakura memungkukkan tubuhnya pada Mikoto dan Itachi, "Selamat siang, Mikoto-san, Itachi."

"Sakura, apa kabar? Sudah dua hari aku tidak melihatmu," ucap Mikoto yang membalas salam Sakura.

"Ehm, aku mengurus sesuatu, hehehe," jawab Sakura gugup.

Mikoto menghampiri Sakura dan membelai pipi wanita itu, "Kalau kau butuh teman cerita, sesama perempuan, aku bisa kapan saja."

Sakura sempat terkejut oleh tawaran Mikoto, dia sangat berterima kasih pada Mikoto yang sudah sangat menyayanginya seperti anak sendiri, Sakura tersenyum dan menggenggam tangan Mikoto, "Ng, terima kasih, Mikoto-san."

"Hhhh." Mikoto menghela napas kecewa, "andai saja kau menjadi istri salah satu anakku, betapa bahagianya aku, ternyata kau akan menikah dengan Madara."

Sakura berusaha menyembunyikan rona merah di pipinya, namun Mikoto bisa melihat jelas bahwa Sakura kini tengah btersipu, Mikoto tersneyum dan memeluk Sakura, "Asal kau bahagia, aku akan mendukungmu."

Sakura terdiam dan melirik Itachi yang tersneyum dan mengangguk. Sakura membalas senyuman Itachi dan pelukan Mikoto, "Terima kasih, Mikoto-san."

"Ibu, aku ada perlu dengan Sakura, boelhkah aku mengajaknya keliling istana?" pinta Itachi.

"Oh, tentu saja, silakan," jawab Mikoto dengan senyumannya yang meledek.

Itachi menggandeng tangan Sakura dan sedikit menggelengkan kepalanya atas kelakuan Mikoto. Ketika mereka sudah sampai di pekarangan bunga yang terletak di belakang istana, Itachi menuntun Sakura pada pohon besar yang rindang dan duduk di bawahnya.

"Ada apa, Itachi?" tanya Sakura.

Itachi menatap Sakura yang baru saja duduk di sampignya, laki-laki itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya pada Sakura, "Ceritakan padaku, bagaimana kau dan Madara bisa terjadi?"

Wajah Sakura merona total.

"K-kau mengintip kegiatanku!" protes Sakura sambil memukul pelan Itachi.

"Jangan salahkan aku, aku bisa merasakan emosi dan tahu apa yang kau lakukan, ini berkat darahmmu," jawab Itachi yang menahan tangan Sakura.

Sakura menatap Itachi dengan gugup dan menjawab, "Aku sendiri masih bingung, bagaimana perasaanku padanya."

"Pada awalnya aku memang tidak menyukai Madara, namun semakin ke sini perlakuannya padaku semakin lembut. Sedikit demi sedikit Madara memperlihatkan sosok yang sebenarnya," ucap Sakura.

"Positif, kau menyukainya," ucap Itachi, "ternyata kau tipe 'M'." Itachi menambahkan, Sakura memukul pelan lengan Itachi dan kemudian mereka terkekeh pelan.

"Sakura," panggil Itachi yang kini berwajah serius, "ada yang harus kubicarakan denganmu, tentang statusmu."

Sakura mendengarkan.

"Ketika kau berhubungan dengan Madara, statusmu adalah masih sebagai tunangan dari Hyuuga Neji, apa kau pernah berpikir apa yang akan Neji lakukan jika dia mengetahui hal ini?" tanya Itachi.

Sakura menatap Itachi dengan tegas, "Neji tidak peduli padaku, percayalah. Jika dia memang peduli, kenapa sudah hampir enam bulan aku masih berada di sini?"

Alasan yang bagus.

Itachi kembali menganalisa, "Aku hanya mencemaskan kedepannya, kurasa pihak Hyuuga tidak akan terima kau menikah dengan Madara."

"Mereka tidak punya hak untuk-"

"Mengatur kebahagiaanmu. Memang, tapi mengingat karakter dari Hyuuga Neji yang tidak terima kekalahan itu..." Itachi tersenyum pada Sakura seolah mereka sama-sama tahu karakter Neji, "kau harus mempersiapkan hatimu, di pihak mana dirimu sekarang, Sakura."

"Tapi Madara bilang dia bisa mendamaikan para Goblin, Madara akan- emph-"

Itachi membungkam mulut Sakura memakai telapak tangannya, "Jangan, kau tidak boleh membeberkan rencana sakral itu, bahkan pada Sasuke dan Shisui sekalipun," ujar Itachi berbisik di telinga Sakura, "kau tidak tahu betapa tabu-nya perihal tentang Indra tersebut."

Sakura mengangguk pelan, bersyukur Itachi memberitahunya dengan cepat, sebelum dirinya membuat kekacauan di istana ini.

"Itachi," panggil Sakura pelan, "apapun yang terjadi, aku akan berpihak pada Madara," lanjutnya dengan senyuman tulus.

Itachi bisa melihat kejujuran dan kemantapan hati dari pancaran mata Sakura. Mengerti, Itachi mengangguk dan mengusap kepala Sakura, "Padahal aku akan lebih bahagia jika kau menjadi adikku, Sakura."

"Eh? Aku sudah menganggapmu sebagai kakak kok, bahkan aku sebenarnya ingin memanggilmu nii-san, seperti Sasuke-kun memanggilmu," ucap Sakura dengan polos.

Itachi terkekeh, dia benar-benar merasa kasihan pada Sasuke yang bahkan perasaannya tidak disadari oleh Sakura, "Panggil aku sesukamu, asal jangan panggil aku sebagai suamimu, bisa-bisa aku dibantai Madara."

Mereka tertawa. Sakura sangat bersyukur ada Itachi di sampingnya, seolah sebagai pengganti Sasori yang sudah lama tidak mendampinginya. Sasori... dalam hati Sakura, dia ingin sekali mencari Sasori di luar istana, namun Madara pasti tidak akan pernah mengizinkannya untuk itu. Sakura hanya bisa berdoa agar Sasori baik-baik saja, di mana pun dia berada.

.

.

Neji menyiapkan beberapa peralatan senjata untuk keluar istana, sudah ada kereta kuda ayng siap dikemudikan kapan saja. Tujuannya hanya satu, Akatsuki. Neji harus bisa membuat Akatsuki berada di pihaknya jika ingin menggulingkan Madara.

Kecepatan kereta kuda itu tidak tanggung-tanggung, seolah Neji tidak mempunyai waktu lagi untuk bersantai. Ketika Neji pergi, Hinata lah yang memegang kendali di istana, saat ini Hinata sedang menikmati berendam di air panas dengan beberapa pelayan yang membilas rambutnya. Begitu selesai, Hinata dipakaikan baju khas kerajaan Hyuuga.

"Nona Hinata, ada surat untuk tuan Neji," ucap salah satu pelayan yang datang berlutut.

Hinata meraih surat itu, kedua matanya terbelalak ketika melihat lambang Uchiha tertera di sana, tidak ambil pusing, Hinata membuka suratnya dan semakin terkejut dengan isi surat itu. Hinata meremas lembaran kertas itu dan berdiri, "Siapkan merpatiku dan kirim surat ini pada Neji."

"Baik," jawab sang pelayan.

"Brengsek, setelah Neji, Sasori, sekarang dia menjerat Madara!" umpat Hinata, "apa jangan-jangan sebenarnya dia ingin menjadi penguasa? Huh, wanita licik!"

Hinata menatap langit dengan wajah kesal, dia melihat merpatinya sudah terbang dengan cepat, "Bagus, Neji nii-san belum jauh dari sini, semoga surat itu sampai."

.

.

Sasori menatap langit dengan tatapan dingin, tangannya mengepal, pikirannya kacau. Adiknya, Sakura, apa yang terjadi dengannya sekarang. Sejak Sakura menyerahkan diri pada Uchiha, Sasori benar-benar putus asa, berkali-kali dia mengirim surat pada klannya namun tidak pernah ada yang menjawab pertanyaannya. Ekspresi Sasori saat ini membuat Deidara, teman seperjuangannya cemas.

"Sasori..."

"Dei," ujar Sasori tiba-tiba, menghentikan niat Deidara yang ingin menghiburnya, "apakah kita bisa masuk ke istana Uchiha dengan baik-baik?"

Deidara menatap Sasori dengan ekspresi terkejut, "Kau gila? Kau baru saja membunuh adik dari raja di Uchiha. Madara, kau membunuh adik dari Uchiha Madara, dan sekarang kau bertanya apakah bisa masuk ke sana baik-baik? Wajahmu sudah dihapal untuk dipenggal."

"Aku harus memastikan keselamatan Sakura," ucap Sasori.

"Adikmu yang menjadi tawanan itu?" tanya Deidara dan Sasori mengangguk.

Deidara menggaruk kepalanya yang tidak gatal, bagaimana caranya juga Deidara tidak tahu, sedangkan tujuan Sasori masuk Akatsuki adalah untuk melawan Uchiha dan membebaskan Sakura dari cengkraman Uchiha.

"Sakura," ucap Sasori pelan, "dia adalah satu-satunya keturunan murni dari ras Haruno, entah kenapa hanya Sakura yang dapat menghidupkan lagi sesuatu yang sudah mati."

"Menghidupkan yang sudah mati?" tanya Deidara bingung.

Sasori membalikkan tubuhnya dan bersender di pilar, "Dulu aku pernah sekarat, dan Sakura berhasil menyembuhkanku."

"Bagaimana caranya?" tanya Deidara.

Sasori tidak menjawab, dia tidak ingin ada yang tahu bahwa racun yang berada di dalam dirinya adalah darah hasil campuran dirinya dan Sakura. Apabila Sakura memberikan darah pada sesama ras apalagi adik atau kakaknya, maka yang menerima darah dari Sakura akan berubah menjadi racun, itulah sebabnya Sasori selalu muntah darah dan sakit-sakitan. Merasa Sasori tidak juga menjawabnya, Deidara menghela napas.

"Sebaiknya kau istirahat."

Deidara menepuk pundak Sasori dan pergi meninggalkannya.

Sasori masih sangat ingat apa yang terjadi saat itu, dia memergoki Sakura yang sedang berciuman dengan Neji, di situ Sasori sangat marah, kenapa tidak ada yang memberitahunya tentang hubungan mereka berdua. Sejujurnya, Sasori tidak terlalu setuju dengan hubungan mereka, karena Sasori tahu... sangat tahu, bahwa alasan pertama Neji menjadikan Sakura tunangannya adalah karena kekuatan yang Sakura miliki.

.

.

Sasuke merebahkan tubuhnya di kasur, bayangan Sakura masih saja terlintas di benaknya. Mengingat sebentar lagi Sakura menjadi istri Madara membuat Sasuke kesal dan resah, kenapa dia tidak bisa memiliki Sakura? Kenapa dari awal dia harus kasar pada Sakura? Kalau tahu jadinya seperti ini, Sasuke akan memilih bersikap lembut pada Sakura. Berbeda dengan Shisui yang memang ramah pada siapa saja, Sasuke memang tipe yang tidak bisa berbaur.

Mengingat bagaimana Madara menyayangi Sakura, dan ebtapa Madara menjaga Sakura... Sasuke tidak akan pernah bisa menang dari Madara. Tentu saja hal itu membuat Sasuke sangat kesal, akhirnya dia hanya bisa menggerutu di bawah bantal yang menutupi wajah tampannya.

.

.

Madara berdiri di tepi jendela, ekspresinya sangat serius menatap bulan yang kini menampakan diri seutuhnya. Kedua mata itu berubah menjadi merah, rasanya darah di dalam tubuh Madara bergejolak, ingin sekali membunuh siapapun yang berada di dekatnya. Madara menahan rasa itu, rasa yang selalu ia alami ketika bulan purnama tiba.

"Madara?" panggil Sakura dengan lembut yang baru saja tiba, "kau belum tidur?"

Madara tidak menjawab, merasa ada yang aneh... Sakura mendekati Madara dan menyentuh lengan sang raja. Madara bergidik dan menghindari kontak dengan Sakura, betapa terkejutnya Sakura ketika melihat sosok Madara yang kini terlihat buas.

"Ma-Madara..."

Laki-laki itu menjauh sambil memegangi kepalanya, geraman kecil terdengar dari Madara. Sakura sangat bingung, sebenarnya apa yang terjadi.

"Madara.. ini aku, Sakura..." perlahan Sakura mendekati Madara yang masih meringkuk.

Sakura mencoba menyentuh lengan Madara lagi, namun kali ini Madara berhasil mencengkram pergelangan tangan Sakura. Madara terlihat sangat berbeda, sosoknya kali ini sangat aneh, sebuah taring keluar dari mulutnya, matanya memerah dan bentuknya pun berbeda.

"Madara!"

"Uuugghhh!"

Madara menggeram. Sakura tahu, Madara sedang berjuang agar tidak mengamuk, sampai akhirnya Sakura menemukan sumber yang menyebabkan Madara seperti ini. Sakura berlari dan menutup semua jendela, sesudahnya Sakura memeluk Madara dengan sangat erat.

"Sudah tidak apa-apa, Madara tenanglah..."

Tubuh tegang Madara mulai melemas, pelukan Sakura berhasil membuatnya rileks. Merasa Madara sudah tidak lagi menggeram, Sakura melepaskan pelukannya dan merengkuh wajah Madara, melihat ekspresi Madara yang sendu membuat Sakura sedih, sampai akhirnya Sakura mencium bibir Madara.

Madara menatap wajah Sakura yang sedang menciumnya dan memejamkan kedua matanya. Sayang sekali Madara tidak melihat emerald yang indah itu ketika menciumnya, Madara memejamkan kedua matanya dan membalas ciuman Sakura.

Ciuman itu berubah menjadi panas, Madara mulai mengecup leher Sakura dan membuka pakaian calon ratu-nya tersebut. Ah, wangi Sakura memang membuatnya sangat tenang. Madara membaringkan Sakura di kasur dan mulai menyerang wanita itu. Sakura tidak protes, perlakuan Madara diterima oleh Sakura tanpa rasa protes sedikitpun.

Meskipun Sakura penasaran apa yang terjadi pada Madara tadi, itu bisa ditanyakan besok. Sekarang, Sakura hanya ingin membuat raja-nya itu lebih tenang dan rileks, mereka bercumbu seolah tidak ada yang bisa melepaskan mereka satu sama lain.

.

.

Sosok itu menatap lalki-laki yang kini berhadapan dengannya, dengan ekspresi yang datar.

"Kau ingin aku bergabung dengan Hyuuga untuk melawan Uchiha?"

"Benar sekali."

Sosok laki-laki berambut oranye itu menyeringai geli, "Hahaha, kau lucu, pasukanku saja sudah cukup untuk menyerbu mereka, mugnkin maksudmu adalah KAU bergabung dengan kami."

Sialan, Neji lupa betapa sombongnya pemimpin Akatsuki ini.

"Benar, Yahiko, itu maksudku," jawab Neji yang menahan kesalnya.

"Menarik, sungguh menarik."

"Sebelum itu, bisakah aku bertemu dengan salah satu anggotamu? Sasori namanya," pinta Neji.

"Hm." Yahiko bergumam pelan dan memanggil salah satu pelayan, "panggilkan Sasori."

Neji tersenyum puas, ini saatnya untuk menggulingkan Madara dan mendapat gelas raja Goblin. Ketika sedang menunggu kehadiran Sasori, Neji melihat ada merpati yang mendarat di tepi jendela. Seolah mendapatkan izin dari Yahiko agar memasukan merpati itu, Neji mengulurkan tangannya pada kaki merpati yang terikat oleh benang dan kertas. Neji membuka kertas itu dan membaca isinya.

"Anda memanggilku?" tanya Sasori yang baru saja tiba.

"Ada yang mencarimu," tunjuk Yahiko pada Neji.

Sasori menoleh ke arah Neji, "Neji?!"

Neji tidak menjawab, dia terlihat sangat kesal dan marah. Diremasnya surat itu dengan sangat kencang dan dilempar ke arah Sasori. Dengan cekatan Sasori menangkap kertas itu.

"Kau baca, baca dengan seksama!" geram Neji.

Sasori masih bingung pada awalnya, kenapa Neji bisa semarah itu, begitu Sasori membuka kertas itu... terlihat ada pemberitahuan bahwa Sakura akan menikah dengan Madara dan memutuskan pertunangannya dengan Neji. Sasori membaca ulang kembali kata demi kata.

"Benar kata Hinata," ucap Neji kesal, "Sakura pengkhianat."

"Dalam surat ini, sudah hampir enam bulan Sakura berada di istana Uchiha," ujar Sasori, "selama enam bulan ini... apa kau tidak berusaha untuk menyelamatkannya?"

Neji tersentak.

"Selama hampir enam bulan ini, aku berhasil menjatuhkan satu Uchiha yaitu adik dari Uchiha Madara," ujar Sasori dengan nada yang dingin, "kau, apa yang telah kau lakukan untuk menyelamatkan Sakura? Kenapa tiba-tiba Sakura membatalkan pertunangan kalian dan memilih untuk menikah dengan Madara?"

Yahiko berdiri dan mendekati mereka, "Bisa jadi adikm itu, Sakura... dia merasa menikahi Madara adalah hal yang menguntungkan, itu yang pertama." Yahiko menjelaskan, "tapi, Madara bukan tipe yang dapat menikah dengan siapa saja, kecuali menguntungkan baginya. Alasan kedua yaitu, Sakura dipaksa oleh Madara untuk menikahinya.

Neji menatap Sasori dengan tatapan sinis, "Jangan pernah bilang aku tidak melakukan apa-apa demi menyelamatkan Sakura," ucapnya kesal, "aku yakin pernikahan ini faktor nomor dua yang Yahiko jabarkan."

"Kalau memang begitu, aku harus menghadapinya sendiri," ujar Sasori.

"Kau tidak akan menang," ucap Yahiko, "kita tunggu waktunya yang tepat, baru kita serbu istana Uchiha."

-TBC-


A/N : sekian dulu untuk chapter ini ya, aku ada deadline lain yg harus dikerjain, mungkin aku akan lanjit ngetik fict abis lebaran, mohon bersabar ya (⌒▽⌒)

XoXo

V3 Yagami