Trapped-in-Hunhan
Presents
.
First and Second
.
Warning : YAOI, Typo(s), SO FICTIVE
.
Like always
It will come to an end
Am I really in love?
Or am I dating to break up?
Once again, it comes to me
An easy ending
It's always the same ending
Just the same old, easy ending
(Epik High – Happen Ending)
.
"Jadi apapun permasalahanmu dengan Nana, selesaikanlah baik-baik karena kalian saling mencintai"
Sehun ingin tertawa ketika dia mendengar kalimat terakhir Chanyeol yang dilontarkan kepadanya sebelum laki-laki jangkung itu pergi meninggalkannya sendirian.
Tertawa miris, tepatnya, karena Chanyeol tidak tahu bahwa Sehun baru saja sadar akan suatu hal; bahwa dia sudah tidak mencintai Nana sejak dia bersama dengan Luhan.
Chanyeol tidak mengerti jika Sehun tidak tahu harus menyelesaikan dari mana.
Karena permasalahan bukan berada pada Sehun dan Nana, melainkan Sehun dan Luhan.
Dan Luhan sendiri sudah menjalani hidupnya tanpa Sehun dengan baik. Luhan tidak merasa memiliki masalah dengan hubungannya dengan Sehun, sedangkan Sehun punya.
Itulah yang membuat Sehun saat ini tertawa hampa. Sendirian. Dengan rasa sesak di dadanya.
"Jadi apapun permasalahanmu dengan Nana–"
Permasalahan dengan Luhan yang tidak merasa bermasalah dengan Sehun.
"–selesaikanlah baik-baik–"
Tidak tahu bagaimana menyelesaikannya karena Sehun sendiri tidak tahu mana yang harus diselesaikan.
"–karena kalian saling mencintai"
Dan yang terakhir dan yang terpenting; mereka tidak lagi saling mencintai.
Untuk yang terakhir, setidaknya itu yang dipikirkan Sehun. Mengingat Luhan tidak mungkin masih mencintainya.
Laki-laki bermarga Oh itu merasa dirinya adalah orang paling bodoh di dunia ini.
Dia meninggalkan orang yang dia cintai, hanya untuk pergi ke orang yang dia anggap dia cintai, dan berakhir dengan menyadari siapa yang dia cintai sebenarnya ketika orang yang dia cintai itu sudah melepas apapun ikatan mereka.
Tiba-tiba, Sehun kehilangan semangat hidup.
First and Second
Luhan berlari-lari.
Jantungnya bertalu-talu.
"Luhan"
Luhan mengutuk segala transportasi umum yang di saat seperti ini tidak bisa mengantarnya, sehingga dia harus berlari di tengah rintikan hujan.
Pria itu tidak akan merasa keberatan, jika saja dia tidak takut terlambat.
"Tolong aku"
Mengingat suara Sehun yang bergetar dan terdengar putus asa membuat pikirannya semakin tidak jernih. Seperti air hujan yang sudah bergabung dengan segala hal yang berada di aspal tempat dirinya berlari.
Aku harus cepat.
Laki-laki itu menghilang cukup lama, itu yang Luhan ketahui dari Jongin –yang diberi tahu oleh Nana yang menangis.
Semua orang mengkhawatirkannya. Tetapi Luhan tidak sempat menghubungi semua orang itu.
Yang jelas, prioritas Luhan adalah menemui Sehun sesegera mungkin sebelum dia kehilangan Sehun lagi.
Dari kejauhan, halte itu sudah nampak.
Seakan mendapat kekuatan, Luhan berlari semakin cepat.
"SEHUN!"
Suara laki-laki itu berusaha mengalahkan derasnya hujan.
Luhan sudah sampai di halte tempat dia bertemu Sehun ketika dia dirundung masalah dengan Ayahnya di waktu yang lalu.
Dia berdiri di sana, melihat Sehun yang berdiri di ujung lainnya.
Basah kuyup, sama seperti dirinya.
Yang berbeda adalah; dia tidak terlihat hidup.
Tap.
Luhan maju satu langkah.
Tap.
Dan dengan wajahnya yang masih pucat dan kosong, Sehun ikut maju satu langkah.
Tap.
"Ada apa denganmu?" Luhan bertanya dengan berhati-hati sembari kembali maju satu langkah.
Tap.
Tidak ada jawaban dari Sehun yang terlihat seperti mayat berjalan, tapi satu langkah kembali diberikan oleh lelaki yang berusia empat tahun lebih muda dari Luhan itu.
Tap.
Mereka berdua kini saling berhadapan.
Mata rusa Luhan berusaha menyelami mata Sehun yang hanya memantulkan kembali bayangan dirinya, tanpa ada tanda-tanda kehidupan di sana.
"Se–"
"Luhan"
Suara itu terdengar datar, namun kental akan keputusasaan.
Hangat adalah yang dirasakan Luhan setelahnya.
Getaran adalah yang dirasakan Luhan berikutnya.
Luhan juga bisa merasakan hembusan napas di lehernya. Hembusan napas dari orang yang sedang memeluknya saat ini.
"Tolong"
"Tolong aku"
"Kumohon tolong aku"
Masih sama seperti ketika Sehun meneleponnya tadi, Luhan tidak mengerti kenapa. Kenapa Sehun meminta tolong kepadanya. Kenapa Sehun terdengar sangat putus asa. Luhan sungguh tidak mengerti kenapa.
Namun, Luhan membalas pelukan Sehun. Mengusap punggung laki-laki yang berusia empat tahun lebih muda darinya itu dengan perlahan-lahan.
"Aku di sini, Sehun. Aku di sini"
First and Second
Luhan duduk tepat di depan Sehun.
Tangannya sibuk mencoba mengurangi tingkat kebas Sehun dengan mengelapkan handuk tebal ke kepala laki-laki itu.
Sedangkan matanya masih sibuk merajut benang-benang tak kasat mata dengan mata Sehun yang memandangnya dengan begitu intens.
"Kenapa kau memandangku seperti itu?" selesai dengan kepala Sehun, Luhan beralih menuju ke leher dan bagian bawah kepala lainnya dari mahasiswa yang sudah beberapa minggu ini menghilang tanpa kabar itu.
Sehun menggenggam tangan Luhan, membuat pria yang empat tahun lebih tua darinya itu mendongak ke arahnya.
Tanpa mengatakan apapun kepada iris mata rusa yang memancarkan pertanyaan itu, Sehun mengambil handuk dari tangan yang ditahannya.
Kemudian dia mengusapkan handuk itu ke arah kepala lain yang berada di depannya.
Sehun memberikan senyuman kecil. "Kau juga masih basah, Lu"
Luhan terdiam melihat senyuman Sehun yang entah bagaimana begitu berbanding terbalik dengan ekspresi mati rasanya beberapa jam yang lalu.
Dan lagi-lagi Luhan mendapati mata Sehun yang sedang memandangnya.
Luhan kembali bertanya. "Kenapa kau memandangiku terus?"
"Tidak apa" Sehun tersenyum kecil lagi. "Aku hanya tidak percaya aku masih bisa bertemu denganmu"
"Apa maksudmu?" rasa penasaran Luhan semakin menjadi-jadi. Tidak percaya masih bisa bertemu bukanlah kalimat biasa. Di sana tersirat bahwa Sehun sempat merasa tidak akan bertemu Luhan lagi. Dan Luhan ingin tahu mengapa. "Aku tetap berada di kantor, di apartemen, bertemu dengan Minseok di bar. Kalau kau tidak menghilang selama berminggu-minggu, kau tentu bisa menemuiku"
Namun, Luhan harus merasa bersalah melihat redupnya lagi kedua iris Sehun seusai rentetan katanya dia ucapkan.
Senyuman kecut itu terbentuk pada wajah pucat Sehun. "Kau tahu bukan kalau aku ini pengecut? Aku selalu lari dari masalahku"
Luhan diam. Mencoba menebak-nebak masalah apa yang dihindari Sehun kali ini.
"Jadi aku hanya melakukan apa yang selalu aku lakukan. Menghindari masalahku"
Pria bermata rusa itu bisa melihat Sehun yang bangkit dan membawa handuk itu entah ke mana.
Punggung itu terlihat terbebani, Luhan bisa melihatnya.
Sehun, kau itu kenapa?
First and Second
Malam ini Luhan tidak kembali ke apartemen bersamanya dengan Jongin.
Luhan takut jika dia pergi, Sehun akan lari entah kemana lagi.
Bahkan Luhan tidak menghubungi Jongin, meskipun pria itu tahu kekasihnya akan sangat mengkhawatirkannya.
Luhan hanya tidak mau berbohong kepada Jongin. Tetapi, di saat yang sama dia tidak mau Jongin tahu.
Alasannya karena Luhan tidak berani memberi tahu siapapun dia sudah bertemu dengan Sehun, bahkan berada di dalam apartemen tempat dia singgah sementara waktu.
Jika Sehun tahu, dia yakin Sehun akan merasa diumbar rahasianya di depan publik.
Jadi di sinilah Luhan, memakan semangkuk ramennya bersama dengan Sehun yang ada di sebelahnya. Mereka berada di ruang tengah, menonton siaran televisi.
"Kau memandangiku, Lu"
Luhan segera mengalihkan pandangannya ke kuah merah dengan mie, potongan daging, dan sayuran di mangkuknya. "Anggap saja sama seperti kau tadi terus memandangiku"
Luhan mendengar Sehun mendengus menahan tawa. Dan itu membuatnya melihat ke arah mahasiswa itu. Sehun juga sedang memandanginya. "Tentu saja berbeda"
"Di mana letak perbedaannya? Aku juga tidak mengira masih bisa bertemu denganmu"
Sehun mengusak surai Luhan dengan tangannya. "Kau tidak lari dari masalahmu. Kau tidak lari dariku"
Kemudian laki-laki tinggi itu berdiri sambil membawa mangkuk ramennya yang sudah kosong.
Meninggalkan Luhan yang masih bertanya-tanya di setiap sumpitan ramennya.
First and Second
Sehun memandangi pria yang tertidur di sofa itu.
Dengan perlahan dia bersimpuh, merendahkan diri agar bisa melihat wajah tertidur itu dengan lebih leluasa.
Pria itu tertidur pulas. Bulu matanya yang lentik terlihat jelas. Bibirnya yang tipis terbuka sedikit.
Jemari Sehun mulai bermain di permukaan wajah itu. Baru satu jari yang berada di atas pipinya, dan Sehun sudah merasakan berbagai macam perasaan mencambuknya.
Yang mendominasi adalah rasa rindu.
Sehun tidak berbohong ketika dia berkata dia lari dari masalahnya.
Dia memang lari dari Luhan dan Nana.
Dia lari dari rasa bersalahnya kepada Nana.
Dia lari dari rasa cintanya kepada Luhan.
Dia lari dari rasa takutnya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Nana maupun Luhan.
Tetapi, itu semua membuat Sehun semakin merindukan Luhan. Dan tanpa sadar siang tadi dia menelepon Luhan. Meminta tolong, seakan Luhan tahu apa masalah Sehun –yakni kebodohannya sendiri.
Puas memandangi wajah itu, Sehun mengangkat tubuh yang lebih ringan darinya itu ke arah kamarnya.
Dia meletakkan Luhan di atas ranjangnya, lalu memberikan selimut kepadanya.
Setelah ragu-ragu beberapa saat, akhirnya Sehun menunduk, dan menempelkan bibirnya ke dahi Luhan.
"Selamat tidur, Lu"
First and Second
"Aku akan mengantarmu pulang"
Luhan dengan cepat mengalihkan pandangan dari toast selai apel di tangannya dan memandang Sehun penuh dengan keterkejutan.
"A–Aku tidak apa-apa berada di sini lebih lama lagi" balas pria yang lebih pendek itu cepat.
Sehun tersenyum sambil menggeleng kecil melihat reaksi Luhan. Dia tahu Luhan tidak mau dirinya pergi lagi. Tetapi, Sehun sudah memutuskan.
"Terima kasih sudah datang untukku kemarin, bahkan menemaniku semalaman" Luhan seperti mendengar rangkaian kata perpisahan dan dia merasa tidak nyaman dengan ini. "Tetapi aku tidak mungkin menahanmu selamanya, bukan?"
Pria yang lebih tua memberengutkan bibirnya, menunjukkan raut wajah kurang puas. "Apakah kau akan lari dari masalahmu itu selamanya?"
"Aku pun ingin menghadapinya" Sehun berdiri dan mencuci piringnya, tampak putus asa menjawabnya jika didengar dari nada bicaranya yang sarat akan kepasrahan. "Tapi aku tidak tahu bagaimana"
"Kalau kau mengatakan kepadaku tentu aku akan membantumu mencari jalan keluarnya"
Sehun tertawa hambar. "Kau sendiri tidak akan mengerti dan akan lari dariku"
Luhan tidak mengerti. Luhan benar-benar tidak mengerti. Oleh karena itu dia ingin sekali mengerti. Tetapi Sehun selalu menolak membuat Luhan mengerti. Bahkan dia seperti tidak akan mengatakannya kepada siapapun.
Oleh karena itulah pria pekerja kantoran itu menaikkan suaranya. "Maka dari itu jelaskan padaku apa masalahmu Sehun!"
"Aku akan menyelesaikannya nanti, Lu"
Luhan tidak suka ketidakpastian dari Sehun. "Kapan itu nanti?! Berminggu-minggu seperti yang sudah kau lakukan?! Kau akan menghilang lagi dan membuat semua orang khawatir. Nana, Jongin–"
Sehun tertawa kecut mendengar kata "khawatir" dan nama Jongin berada dalam satu kalimat. "Apakah kau kemari karena Jongin khawatir kepadaku lagi?"
"Semua orang mengkhawatirkanmu, Sehun" Luhan memandang Sehun dengan heran. Apa yang salah dengan Jongin khawatir kepadanya? "Bahkan Minseok mencarimu!"
Luhan bisa melihat kilatan serius di mata Sehun ketika laki-laki itu bertanya "Lalu kau sendiri bagaimana? Apakah kau mengkhawatirkanku, Lu?"
"Bukankah sudah ku–"
Mata itu masih memandang Luhan tajam. "Apakah kau mengkhawatirkanku karena kau termasuk dari semua orang itu, atau karena kau sendiri mengkhawatirkanku?"
Luhan berdiri, berjalan sampai Sehun tepat di depannya. "Aku tidak mengerti. Memang apa bedanya?!"
Menghela napas, Sehun melewati Luhan dan kembali duduk. "Sudahlah. Lebih baik kau pulang. Aku akan baik-baik saja"
"Baik-baik saja?!" Luhan membalikkan badan Sehun dengan menarik bahunya. "Bagaimana lari bisa membuatmu baik-baik saja?!"
"Lalu bagaimana menyelesaikannya?" nada ejekan terdengar dari pertanyaan Sehun itu. Tetapi Luhan tahu Sehun sedang mengejek dirinya sendiri. "Apakah tidak lari tapi juga tidak mengerti bagaimana cara menghentikan masalah itu lebih baik daripada menghindarinya?"
"Tapi kau tidak akan pernah bisa menghentikan masalah jika kau lari darinya Sehun!"
Sehun hanya diam dan berdiri. Berjalan meninggalkan dapur, dan Luhan mengikutinya dengan perasaan khawatir, geram, marah, bingung, ingin tahu, tidak mengerti, yang menjadi satu membentuk rasa frustasi.
"Kau mau ke mana?!"
Sehun mengambil jaketnya dari tempat penggantungan. "Mengantarmu pulang"
Luhan memandang Sehun dengan nyalang dan serius sambil menggelengkan kepalanya. "Tidak"
"Jangan mempersulitnya, Lu"
Luhan memandang Sehun dengan tidak percaya. "Siapa di sini yang mempersulitnya?! Kau!"
Sehun rasanya sudah tidak bisa menahan diri lagi karena dia tahu Luhan benar-benar tidak akan mengerti tetapi entah kenapa dia masih saja memaksa ingin mengerti. "Luhan, sudahlah. Aku tidak ingin membahas ini seka–"
Namun tentu saja Luhan tidak akan berhenti. "Aku tidak–"
Dan tentu saja itu membuat Sehun meledakkan apa yang selama ini dia pendam dalam permukaan hatinya.
"MASALAHKU ADALAH AKU MASIH MENCINTAIMU!"
Dan ledakan itu adalah murni kesalahannya sendiri.
"A–Apa?"
Jantung Luhan rasanya berhenti berdetak ketika dia mendengar suara Sehun yang baru saja membentaknya. Bukan karena bentakannya, tetapi lebih kepada informasi yang disampaikannya. "A–Apa yang kau katakan?!"
Sehun menggigit bibirnya. Merasa semakin bodoh karena kelepasan begitu saja. Jantungnya tidak bisa dikontrol karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Sudahlah lupakan saja"
Tetapi dia tidak bisa diam saja karena Luhan menahan tangannya ketika dia hendak berlalu. Dia bisa melihat Luhan, yang meski masih terlihat shock, tetap menahannya erat. "Ju–Just … just tell me, Sehun"
Sehun menggigit bibirnya lagi sebelum dia menghembuskan napas pelan.
"Aku lari darimu" Sehun memandang ke arah mana saja selain ke kedua iris rusa itu. "Aku lari darimu karena aku masih mencintaimu"
Hening.
Sehun bisa merasakan genggaman Luhan pada dirinya yang mengendur.
Sehun bisa melihat kilatan tidak percaya terpantul pada kedua iris indah itu.
"Kau … hanya bercanda … kan?"
Sehun tertawa sarkastik mendengarnya. "Ya, aku hanya bercanda. Oh, aku harap aku hanya bercanda"
"Tidak" Luhan menggelengkan kepala, dan entah kenapa tungkai-tungkainya membawanya mundur, menjauhi Sehun. "Kau tidak mungkin masih mencintaiku"
Sehun tidak senang meskipun dia benar dalam satu hal; Luhan tidak akan mengerti. "Tapi itu kenyataannya. Kau bilang kau akan mengerti"
Surai-surai rambut Luhan bergerak kembali karena Luhan menggeleng lagi. "Ta–Tapi.."
Luhan bisa melihat luka dalam pandangan Sehun, meski lelaki yang lebih muda empat tahun darinya itu sedang tersenyum. Senyuman miris. "Kau tidak mengerti, bukan?"
Luhan ingin sekali Sehun segera tertawa mengejek dan mengatakan ini semua hanyalah jebakannya untuk mengganggu Luhan.
Tetapi hal itu tidak pernah datang. Dan itu lebih mengganggu Luhan.
"Aku mencintaimu, hyung" Sehun berjalan mendekat, sampai dia tepat di depan Luhan. "Aku masih mencintaimu"
Pria yang lebih pendek itu benci keseriusan dalam iris mata lawan bicaranya, maupun kesungguhan dalam nada bicaranya.
"Ti–Tidak" Luhan menggeleng kembali. Mata rusanya masih memantulkan ketidakpercayaan. Kakinya mundur. "I–Ini tidak mungkin"
Namun, Sehun hanya memandanginya dengan air muka terluka.
Dan itu membuat Luhan semakin tidak nyaman.
Oleh karena itu, tanpa berpikir apapun dia segera membuka pintu apartemen tempat singgah Sehun, dan berlari.
Berlari meninggalkan Sehun.
Untuk saat ini, dia tidak lagi peduli jika Sehun pergi lagi.
Untuk sesaat, dia tidak lagi peduli jika dia tidak bisa bertemu Sehun lagi.
Sedangkan laki-laki yang membuat Luhan lari sendiri hanya tertawa hambar dengan rasa nyeri yang luar biasa sakit di dadanya.
Lagi-lagi dia benar akan hal yang lainnya.
"Kau sendiri tidak akan mengerti–"
Luhan tidak hanya benar-benar tidak mengerti.
"–dan akan lari dariku"
Dia juga lari dari Sehun.
First and Second
Sehun tahu dirinya tidak bisa lari dari masalah selamanya.
Sehun pernah merasakannya ketika dia menyembunyikan hubungannya dengan Nana dari Luhan.
Namun, lagi-lagi dia lari dari masalahnya.
Dan kali ini, masalah tidak hanya berhasil menyusul jarak yang sudah dia tempuh, masalah itu menubruknya dan melindasnya.
Namun yang aneh adalah; yang hancur dan rusak hanyalah perasaannya.
Yang merasakan sakit tak terkira adalah jantung hatinya.
.
Sama seperti sebelumnya, semuanya memiliki akhir.
Ketika laki-laki itu mulai bertanya apakah dia jatuh cinta, atau apakah dia merajut hubungan hanya untuk memutuskannya, akhir itu datang.
Sebuah akhir yang mudah.
Mudah ada. Mudah terjadi.
Hanya sebuah akhir lama seperti biasanya, akhir yang mudah.
Mudah menghancurkannya. Mudah menyakitinya.
To Be Continued
Guess who's back? Me!
Akhirnya KKN selesai. Mohon maaf sudah menunggu lama. Terima kasih yang tetap di sini setia menanti~
Meski saya bilang akhir September baru update, sebenarnya KKN saya sudah selesai beberapa hari yang lalu. Tapi buat jaga-jaga saja kalau-kalau habis KKN kena WB. Atau kalau keperluan ke Jepang-nya ribet.
Yes, if the preparations are going well, I'll likely fly to Japan because I get a scholarship there. Doakan agar urusan saya dilancarkan ya n(_ _)n
Untuk yang Alohomora, mohon ditunggu ya QwQ I'm currently collecting moods for it!
And ... thank you very much for reviewers, followers, and favoriters!
Sekali lagi mohon maaf atas keterlambatan update n(_ _)n
oohluhan| ParkNada | Double Kim | Arifahohse | wollfdeer520 | Fangirl TwoThousandandFourteen | Novey (iya diulang tapi yang kemarin itu pakai sudut pandang Sehun juga OwO) | blueselu | milkluhans | Seravin509 | Riku Aida | ZzzxHan | kaika0788 | mischa baby | lzu hn | auliaMRQ | Menglupi | sehunABC | juniaangel58 | ludeer | readersngebet | hanjesperlu520 | Luge | HHS Hyuuga L | Guest | Tasya | ohsnapitzmay
So,
Mind to review?
