Nothing in this story is mine except maybe the story line...
Chapter 10:
Still Not Come Back!!??
By:Vanilla Amano
"Fuu… capenya…" kata Akaba.
"Ini gerbong menuju rumah bukan?" Tanya Riku kepengen.
"Maunya sih gitu… tapi pasti ga segampang itu…" Sakuraba sigh.
"Heh, bocah-bocah sialan! Jangan ngeluh mulu! Masih mending kita udah keluar dari game kedua!" kata Hiruma kesel.
"Aku ga ngomong apa-apa…" kata Kakei. Tiba-tiba dia melihat cahaya didepannya. "Aku melihat jalan keluar…"
Mereka semua nyengir lebar.
"Aku harap ini jalan kerumah!!" seru Riku bahagia sambil menyambar cahaya itu dengan kecepatan Rodeo Drivenya.
"Woi, pendek! Jangan langsung nyongsong gitu—!!"
"Jangan panggil gue pendek!"
***
Mungkin kalo bicara soal nasib sial, mereka jagonya. Kelihatannya memang belom ditakdirkan buat mereka balik ke dunia asalnya...
Kenapa?
Karena di dunia asal mereka ga ada "orang-orang ini".
"Aku tokoh utamanya!" kata cowo berambut biru yang bawa-bawa headset dilehernya(tampangnya emo).
"Ngga! Aku! Orang aku lebih terkenal!" kata cowo berambut silver dan memakai kacamata hitam(tampangnya cool).
"Orang tuh lebih suka tipe emo kaya gue tau!"
"Lo tuh terlalu emo!"
"Udahlah… sesama tokoh utama jangan saling mengejek…" cowo yang memakai topi berkomentar.
"Tau… kalian ini beruntung loh bisa jadi tokoh utama, daripada kita yang Cuma tokoh sampingan…" komentar cowo berambut coklat yang memakai kacamata oranye.
"Hei, hei… bisa kita sudahi ini dan melawan musuh didepan mata? Aku cape nih..." kata cowo berambut silver lainnya dengan cool.
"Senpai, udahan ah…" cowo berambut silver(nah lo banyak amat yang rambutnya siver!) dan bertampang sangar lainnya menyahut.
"Ini masalah harga diri tau…" cowo emo dan cool tadi sama-sama mengeluarkan senjata mereka.
"Woi!! Kalian serius!!!???"
Tapi pertarungan mereka terhenti... kenapa? Karena kejatuhan 5 orang asing dari surga... atau neraka??
"GYAAA!!!!"
"GYAA JUGA!!!!"
"Hah!? Dimana ini!?"
"Yang jelas bukan di dunia kita!!"
"Lagi!!?? Kali ini kita nyasar kemana!!??"
"........................." akhirnya, mereka saling bertemu pandang, dan bengong.
"Anou…" si cowo emo memecah keheningan. "Kalian ini siapa??"
"Kekeke! Bukankah lebih sopan memperkenalkan diri lebih dulu sebelum meminta orang memperkenalkan diri duluan, emo sialan!!??" Hiruma langsung mengacungkan shot gun kesayangannya kearah si emo. Kelihatannya dia sudah punya ide mereka ada dimana.
"T-tunggu dulu! Kekerasan tidak memecah segalanya!" seru si silver sangar.
"Aneh mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu… tapi betul itu! Kita harus bicarakan semua dengan rasional!" kata si silver cool.
"Bukan itu masalahnya!!" si topi dan si kacamata oranye berteriak.
"Heh?"
"Bodoh! Kalian lupa ya!?" si silver berkacamata jadi panik. "Dia kan punya pelindung!!!"
"APAAA!!!??"
Tiba-tiba...
"Target:lock. Activating attack!" sebuah suara memecah kebodohan mereka. bersamaan dengan selesainya suara itu, mereka semua diserbu oleh rentetan peluru.
"GYAAA!!!" alhasil, semua pingsan kecuali si emo. Kenapa? Karena dia satu-satunya yang ga kena peluru bius itu.
"Waduh... semua pada pingsan..." kata si emo.
"Kau baik-baik saja?" tanya si penembak.
"Umm, Aigis… kurasa kau berlebihan…"
***
"Uhh…" Riku tersadar dari pingsannya yang lumayan lama. Dia bangun dari tempatnya tiduran sedari tadi. "Dimana ini?" gumamnya.
"Akhirnya bangun juga, si tukang tidur..." seseorang disebelahnya bicara. Dia menoleh dan mendapati Hiruma ada disebelahnya pasang tampang kesal.
"Eh, Hiruma... kamu kenapa?" tanya Riku kebingungan.
"Kesel," jawab Hiruma pendek.
"Ia. Tapi kesel kenapa?"
"Soalnya giliran gue aja udah langsung nyadar kita ada di game mana en cara namatinnya gimana, gue malah pingsan lagi!! En bos kali ini... lumayan susah dikalahin!!" Hiruma ngamuk-ngamuk ga jelas.
"Hiieecchh!!!???" Riku, tiba-tiba berubah jadi kaya Sena, langsung lompat ke Kakei yang ada tidak jauh darinya.
"Sudahlah... Hiruma emang lagi bad mood sejak baru bangun tidur..." hibur Kakei sambil mengelus-elus puncak kepala Riku. Udah kaya ibu ngehibur anaknya aja…
"Gimana ga, hah!!??? Cih, pokoqnya, abis ini bakal langsung gue tamatin ini game!!" kata Hiruma geram. "Liat aja nanti!! Gue bakal balik ke dunia gue ga lama lagi!! Gue udah bosen jatoh mulu dari langit dan kemudian pingsan!! Gue mau cepet-cepet berdiri di lapangan lagi!!!"
Mereka berempat mengamati Hiruma ngamuk-ngamuk ga jelas. "Fuu... cuekin aja si bodoh itu... ga ada gunanya kita terus merhatiin dia kecuali kalo mau kena semprot, baik oleh peluru maupun ludahnya..." kata Akaba sambil membenerin sunglassessnya.
Kakei tiba-tiba teringat sesuatu. "Ngomong-ngomong soal peluru, yang nembakin kita pake peluru bius tadi siapa?" tanyanya.
"No idea, man," Sakuraba angkat bahu. "Tapi kayanya yang kali ini juga orang baik. Soalnya kita ada ditempat yang ga kerasa hawa-hawa jahatnya. Ia kan Hiru—maksudnya Akaba?" cepat-cepat dia berbalik ke Akaba soalnya pas mau nanya Hiruma, tuh setan buaya langsung ngacungin shot gun ke dia.
"Fuu... gitu deh..." kata Akaba datar. "Aku masih memikirkan gitarku... fuu... bagaimana nasibnya... akhirnya aku tidak bisa membalas dendam hancurnya dia..."
"Gitar..." Kakei tampak berpikir. "Aku lupa..." dia melepas tangan yang dia pakai untuk mengelus-elus kepala Riku tadi(Riku masih nemplok sama dia) untuk mengambil sesuatu di kantong celananya. "Nih, Akaba." Dia melemparkan sesuatu yang baru dia ambil dari kantongnya ke Akaba.
Akaba menangkap benda itu dan meliriknya tanpa minat. Tapi begitu melihatnya, matanya langsung berubah. "I, ini…!!!???"
"Tante Legretta memberikannya padaku tepat sebelum dia kesamber petir. Katanya dia nemuin ini ada di deket sarangnya Behemoth dan kemudian karena dia pikir itu senjata jenis baru jadi dia benerin. Mungkin pas kamu buang serpihannya jatuhnya ke sana kali ya... untung si tante temuin..." jelas Kakei panjang lebar.
"Wah, kasian dia," komentar Riku. "Udah susah-susah benerin gitarnya Akaba malah mati sebelum sempat menerima ucapan terima kasih..."
"Ini..." Akaba gemetar hebat dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Ini kan Cuma prototypenya!! Sama sekali ga ada mirip-miripnya sama gitar gue yang dulu!!!" dia ikut-ikutan ngamuk kaya Hiruma. Mereka berdua keliatan horor banget berdua... yang satu setan blonde yang satu lagi setan red-pink head. Pantesan di Dissidia mereka jadi antagonis…
"Aku belom jelasin ya kalo tuh prototype bisa berubah ukuran ke ukuran aslinya lagi asal dia mengucapkan spell yang tepat?" kata Kakei pelan.
"Jahatnya kau, Kakei…" kata Sakuraba prihatin sambil merhatiin Akaba yang ikutan berubah jadi iblis kaya Hiruma.
"Mungkin sekarang saat yang tepat untuk minta penjelasan tentang keberadaan kita ke orang-orang yang ada disini. Ga ada gunanya nanya ke Hiruma sekarang." Usul Riku.
"Sebenernya kita juga mikiran hal yang sama," tiba-tiba, seseorang masuk ke ruangan mereka berada sekarang. Mereka bertiga(yang masih normal) langsung siaga.
Si emo dan si silver berkacamata berdiri di ambang pintu dengan gaya emo dan cool-nya masing-masing. "Kalian ini siapa?" tanya mereka berdua berbarengan, terus langsung bertatapan kesal.
"Kau ini... jangan ikuti kalimatku!" kata si emo kesal.
"Sudah jelas aku mengatakannya duluan! Kau saja yang memfoto kopinya!" protes si silver berkacamata.
"Huh! Aku memang benci padamu!"
"Wee! Sama, aku juga!!"
"Anou… bukannya kalian berdua ini teman?" Tanya Riku kebingungan melihat sikap kekanak-kanakan yang tidak pernah dia lihat lagi di dunianya selain dari Kotaro Sasaki, kicker Bando Spiders.
"Kutu buku sok keren ini bukan temanku!!"
"Siapa yang mau temenan sama emo kaya begini!!"
"Padahal kalo mereka tutup mulut mereka punya karisma sendiri… sekarang jadi ilang deh tuh karisma…" kata Kakei tanpa ekspresi.
"Hmm… sedikit tajam, tapi memang benar…" Sakuraba manggut-manggut setuju.
"Cih, baiklah. Kalian ini siapa?" Tanya si silver berkacamata lagi.
"Aku Kakei, ini Riku, dia Sakuraba," Kakei menunjuk dirinya sendiri, Riku dan Sakuraba. "Yang disana—anggap saja kami tidak mengenal mereka saat ini—adalah iblis-iblis yang bernama Akaba—berambut merah—dan Hiruma—jabrik blonde."
"Oh," si emo manggut-manggut. "Aku Arisato Minato, dan orang sok keren disebelahku adalah—"
"Seta Shouji, dan aku tidak sok keren tapi emang beneran keren," kata si silver berkacamata sebal.
"Baiklah..." kata Sakuraba. "Ada banyak yang ingin kami tanyakan, tapi pertama-tama! Siapa orang yang membuat kami pingsan tadi?" tanyanya.
"Oh itu," Minato merasa bersalah. "Dia Aigis. Robot yang bertugas melindungiku. Tapi kurasa dia sedikit berlebihan saat menjalankan tugasnya."
"Lalu, ini dimana?" lanjut Riku.
"Ini dimana? Ini di Inaba," jawab Shouji bingung. "Masa kau tidak tahu? Aku tahu tempat ini terpencil dan hanya kota kecil saja... tapi paling tidak seharusnya kau kan tahu."
"Maaf... kami bukan berasal dari sini, hehe..." tawa Riku garing.
KRIK... KRIK... (mulai kebawahnya, mungkin bakal jadi spoiler buat yang belom main)
"Nah, bukan waktunya bersantai, bocah-bocah sialan!!" tiba-tiba Hiruma balik ke wujud normalnya lagi. Semua sampe kaget. "Emo sialan, silver kacamata sialan! Gue tau kalian lagi otw ngalahin musuh terakhir!! Si emo sialan lagi ada di detik-detik terakhir menuju puncak Tartarus, sementara si silver kacamata sialan lagi berlari-lari tanpa arah di Yamatsu Hirasaka!!"
"Hah!!?? Koq lo tau sih!!??" kata Minato tidak percaya.
"Lo... cenayang!!???" tanya Shouji bego.
"Kekeke! Sejenisnya lah…" kata Hiruma yang merasa bangga memiliki pengetahuan sendiri. "Emo sialan lagi ngejar-ngejar Nyx, sementara silver kacamata sialan lagi ngejar-ngejar Izanami. Apa gue salah??"
"Ngga… sama sekali ga…" Minato dan Shouji jadi kagum sendiri sama Hiruma sementara teman-teman seperjalanannya sweatdropped.
"Si Hiruma ini… memakai pengetahuannya tentang game buat menguasai para main character ya…" bisik Riku pelan.
"Ia. Dia keren ya, bisa melakukan hal seperti itu..." balas Sakuraba ga kalah pelan.
"Tapi ga peduli kaya gimanapun kalian berusaha!! Emo sialan bakal tetep mati walaupun gamers udah namatin THE ANSWER sekalipun di Persona 3 Fes!! Sementara si silver kacamata sialan bakal tetep pindah sekolah dan dengan tenang ga diketahui lagi nasibnya soalnya ga ada Persona 4 Fes!! Kekeke!!" tawa Hiruma setan banget.
"Fuu... Hiruma, kau sosiopat sekali..." kata Akaba.
"Inilah dunia, kawan!" Hiruma nyengir. Ketara banget Minato sama Shouji shock mendengar penuturuan Hiruma. Apalagi Minato.
"Apa… tidak ada cara menghindari kematian yang sudah begitu dekat…" katanya pelan sehingga efek sedihnya jadi lebih dramatis.
"Ada satu," kata Hiruma, membuat semua temannya terbelalak. "Bawa gue sama temen-temen gue ke final battle lo pada. Dijamin 100%, hasil bakal berbeda sama aslinya."
***
Fuh, cape juga. Mana bentar lagi UN pula…di chapter ini spoilernya banyak, soalnya susah kalo ga pake spoiler. Review kuterima dengan tangan terbuka, haha!! Oia, maklum ia kalo aku ga updet buat waktu yang lama!! Soalnya mau fokus ke UN dulu nih!! Chapter ini aja aku butuh waktu lama banget buat nyelesain soalnya aku bikin di sela-sela waktu istirahat!!
