Disclaimer: Masashi Kishimoto

Chapter 10

"Sakura?"

Hinata menatap Sakura, perasaannya tak menentu. Antara senang, kesal, dan kalut. Gadis itu menarik napas, setidaknya dia tidak terlalu lelah atas kecelakaan tadi. Hasil check up juga lumayan, sehingga ia tidak perlu berlama-lama di rumah sakit yang membosankan ini.

"Kau baik-baik saja?" tanya Sakura.

"Lumayan." Hinata menyahut singkat, "Oh ya, sebelum kecelakaan itu kau mau membicarakan sesuatu denganku, ada apa, Sakura?"

"Banyak hal..."

"Aku tahu," kilah Hinata, "Kuharap kau tidak terlalu berbasa-basi... aku lelah."

"Apa kau masih dendam padaku karena aku menjauhkan diri darimu? Seharusnya aku berterima kasih padamu kala itu, tetapi aku..." Sakura mulai terisak, "Kau pasti bisa membaca pikiranku... aku tak mampu mengucapkannya langsung... sentuh aku saja, tak apa. Maafkan aku..."

Hinata tak mengerti maksud Sakura. Dia hanya menyerngit bingung saat Sakura berjalan mendekatinya dan mengulurkan tangan.

Perlahan, Hinata menyentuh tangan itu. Membaca pikiran Sakura.

Penyebab kecelakaan itu aku...

Hinata langsung tersentak. "Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku!?"

Sakura semakin terisak, dia meraih tangan Hinata sambil terus menangis.

Shion memintaku untuk mencelakakanmu. Kau tahu, ia benci sekali padamu... maafkan aku karena tak mampu mengucap terima kasih, dan tak mampu melindungi dirimu sehingga aku diperdaya dirinya...

Hinata menatap Sakura tak percaya, dadanya terasa sakit. "Jadi kau yang membuatku... astaga, Sakura."

"Sungguh, maafkan aku Hinata."

Hinata tampak bergeming. Ia termasuk seseorang yang tak mudah untuk memaafkan, tapi... ini Sakura. Seseorang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

"Aku akan melakukan apapun untukmu, asalkan kamu mau memaafkanku." Tiba-tiba Sakura berlutut dihadapannya, membuat Hinata sontak berdiri dari tempat tidurnya, menarik Sakura agar bangun.

"Sakura, jangan begini..."

Mendengar suara hati Sakura membuat Hinata tahu... gadis ini tulus... walau pernah melakukan hal salah...

"Berdirilah, Sakura." ucap Hinata, masih menarik Sakura agak segera berdiri.

Sakura berdiri perlahan, menatap manik mata Hinata setelah sekian lama tidak menatap mata itu.

"I trust you. Aku juga bukan sosok yang sempurna, jadi... sekalipun aku sempat merasa benci dan kesal padamu... aku membaca ketulusanmu. Kita saling memaafkan saja, ya? Seharusnya sejak awal aku juga bercerita padamu, agar kau tak merasa takut." kata Hinata, tersenyum. "Kita adalah teman, kan?"

Sakura mengangguk, tersenyum lega. Ia kembali menangis ketika Hinata memeluknya erat, tanda damai.

"Daripada mengutamakan masalah yang membuat hubungan pertemanan kalian merenggang, lebih baik mengutamakan rasa rindu itu... Kesalahan masa lalu bukan berarti menunda untuk maju kedepan."

Ah, kata-kata lelaki itu. Sakura memejamkan matanya, ada rasa hangat yang merayapi hatinya. Kini dibenaknya terbayang lelaki itu, Sasuke. ia tak peduli sekalipun Hinata akan tahu, karena Hinata sedang memeluk dan menyentuh punggungnya.

"Kau memikirkan Sasuke." bisik Hinata.

"Iya."

"Kau pasti berani menemuiku karena kata-katanya, ya. ternyata ucapannya bagus juga." ucap Hinata, merenggangkan pelukannya dan melepasnya perlahan. Kemudian dia menatap Sakura, "Dia orang yang baik, kok."

"Hn."

"Orang baik untuk orang yang baik." kilah Hinata, kemudian tertawa.

"Hei, maksudmu..." wajah Sakura mulai memerah.

Hinata hanya tersenyum kecil. "Nothing. Ah, aku mau beres-beres dulu barangku yang tertinggal disini."

Tampaknya Hinata tidak memperhatikan lagi mengenai wajah Sakura yang memerah.

-X-

"Ck!"

Naruto tiba-tiba memukul pahanya sendiri, membuat Sasuke yang berada dalam ruangan itu heran. "Ada apa?"

"Tidak," sahut Naruto cepat, ia tersenyum.

"Jangan memukul kakimu sendiri. Kakimu sudah patah, retak, apa kau mau membuatnya lebih parah lagi?" omel Sasuke.

Naruto hanya tertawa. "It's okay, Sasuke."

Tawa palsu. Senyum palsu.

Pikirannya penuh dengan adegan Hinata yang mencium Sai, membuat hatinya merasa tak tenang. Ia tahu Hinata menyukai Sai, tetapi ia tak tahu Hinata bisa senekat itu. apa lagi pikirannya hanya sejenak dan mengabur begitu saja.

Dalam kondisinya yang sekarang, bagaimana ia bisa menghentikan adegan masa depan yang muncul diotaknya secara tiba-tiba tadi? Ah. Kali ini, Naruto hanya bisa pasrah.

-X-

"Welcome to home, Hinata."

Hinata tahu, saat ini senyum hadir diwajahnya.

"Padahal kau hanya beberapa jam tidak ada di rumah. Aku sudah menyiapkan pakaianmu, karena menurut dokter kau bisa koma atau rawat inap berhari-hari. Aku hanya sejenak saja mengalami rasa tak ada dirimu di rumah, tapi... rasanya benar-benar tak enak kalau gak ada dirimu." ucap Sai, ia tersenyum.

Kemudian, secara otomatis Hinata menghambur kepelukan lelaki itu, lalu mengecup bibir lelaki itu. Sai hendak membalas cium gadis ini, tetapi ada satu hal yang terlintas dibenaknya tiba-tiba.

Bukan dia. Bukan Hinata.

Hinata mundur selangkah setelah mendengar suara itu. Wajahnya terlihat pucat, matanya menatap Sai tanpa ekspresi.

"Maaf." Hanya itu yang terucap dibibir kecil Hinata, lalu melangkah menuju kamarnya.

Meninggalkan Sai yang masih terpaku.

-X-

"Bodoh!" maki Hinata pada dirinya sendiri.

Apa yang didengarnya tadi? Bukan dia. Bukan Hinata.

Bukan dirinya yang ada dihati Sai, seharusnya ia tahu. Seharusnya ia tidak lepas kontrol tadi. Perlahan air matanya meluncur turun, napasnya mulai terasa sesak.

"Hinata." panggilan Sai dari balik pintu justru membuat hatinya terasa semakin sakit.

Hinata semakin menangis seengukkan, tak tahu harus bagaimana caranya mengontrol dirinya sendiri. Hari ini dia benar-benar kacau.

"Kau baik-baik saja?"

Hinata melangkah menuju tempat tidurnya, meringkuk dibalik selimut, berharap tangisannya reda bila ia tertidur.

-X-

Hinata suka padanya.

Itu yang Sai pikirkan ketika Hinata melepas kecupnya, peluknya, dan menjauh dari dirinya. Tetapi apa yang ia pikir tadi? Ia melupakan kalau Hinata bukan gadis biasa, dapat membaca pikirannya saat itu.

Sai memang berniat membalas kecup itu, namun yang terbayang adalah sesosok gadis lain, bukan Hinata.

"Hinata." Sai berusaha memanggil Hinata dari balik pintu, mengubah suasana gamang ini menjadi seperti biasa. "Kau baik-baik saja?"

Samar, Sai mendengar suara langkah yang terseok-seok menuju tempat tidur, dan ia tak dapat berbuat apa-apa lagi selain menunggu Hinata menenangkan dirinya sendiri.

-X-

"Hanabi!"

"Hei, Sasuke." Hanabi tersenyum simpul.

"Menjenguk Naruto?" tanya Sasuke.

Hanabi mengangguk. "Iya."

"Hm. Aku sudah tau siapa yang menjadi salah satu penyebab kecelakaan itu," tukas Sasuke.

"Oh ya?" hanabi langsung tertarik dengan topik itu, kemudian menoleh. "Siapa?"

"Kurasa tak perlu membicarakannya sekarang. Itu bukan suatu hal yang penting." ucap Sasuke lagi.

"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Sasuke." kata Hanabi. Sejak dulu dan sekarang, memang selalu begitu. Hubungan mereka berakhir karena tidak samanya pendapat mereka dalam berbagai hal. "Bukankah sebaiknya pelakunya menemui Hinata dan Naruto, mengakui kesalahannya dan..."

"Jangan memperumit masalah, Hanabi." cetus Sasuke. Kemudian, lelaki itu menepuk puncak kepala Hanabi pelan. "Aku pergi dulu."

-X-

Matahari belum bersinar diufuk timur, tetapi Hinata telah terbangun, mandi lalu mengenakan seragam sekolahnya. Ia memasukkan buku-buku pelajarannya asal, kemudian menyelinap keluar.

Ia berjalan menuju rumah sakit, syukurlah tidak terlalu jauh. Ia ingin bertemu Naruto, hatinya tergerak begitu saja. Lelaki bermata biru itu adalah satu-satunya tempat hatinya bisa berlabuh untuk sejenak.

Ia memasuki lorong-lorong rumah sakit yang nyaris tak pernah sepi, bau obat menusuk hidungnya. Hinata berjalan menuju lorong dimana kamar Naruto berada, dan masuk kedalam kamar rawat inap lelaki itu.

Tampaknya laki-laki itu belum terbangun.

Kedua mata lelaki itu tersenyum, ketika tertidur, bibir lelaki itu membentuk seulas senyum tipis. Andai Hinata bisa membaca pikir lelaki dihadapannya ini, ia akan menyentuh tangannya dan membaca mimpi Naruto.

Hah, orang gila mana yang menjenguk sepagi ini.

Hinata tersenyum memandangi Naruto, kemudian berjalan menuju tepian jendela kamar. Langit mulai cerah, semburat warna kuning mulai tampak.

Ah, sunrise.

"Hei."

Hinata menoleh, lalu tertawa melihat rambut Naruto yang berantakkan. "Rambutmu terlihat konyol sekali. Serius."

"Berhenti tertawai aku seperti itu," dengus Naruto pura-pura marah. "Jangan kira aku tidak tahu kalau kau datang."

"Eh?"

"Aku tidak bisa tidur selama di rumah sakit. Atmosfernya benar-benar terasa berbeda." tukas Naruto. "Aku ingin pulang."

"Kau bahkan belum bisa berjalan dengan baik." keluh Hinata.

"Uh, kau mengingatkanku pada hal yang tak ingin kuingat."

Hinata tergelak lagi, kemudian terdiam melihat senyum diwajah Naruto. Senyuman tipis yang manis, yang membuatnya terpaku.

"Terpesona padaku?" tanya Naruto sambil tertawa.

"Apa yang kau katakan..."

Naruto tersenyum lagi. Matanya menatap lurus Hinata.

"Baik, aku akui jika aku kalah... aku yang terpesona." ucap Naruto.

"Apa maksudmu?" tanya Hinata. Wajahnya berubah merah, ada desiran aneh yang masuk kedalam hatinya perlahan-lahan.

"Melihatmu dari sini yang membelakangi matahari pagi... kau tampak seperti siluet yang indah, tahu." jawab Naruto. Senyumnya kembali merekah. "Duduklah disampingku."

Hinata secara otomatis duduk disebelah Naruto, pada ruang kecil tersisa untuknya duduk. Deru napasnya teratur, tetapi perasaannya tak keruan.

"Aku senang karena kau adalah orang pertama yang kulihat pagi ini. Hari ini aku ada terapi untuk kakiku ini, kau mau menemaniku?" ujar Naruto.

"Hari ini aku sekolah." kata Hinata.

"Sekalipun ini terdengar menyesatkan, tetapi aku mau kau bolos hari ini." tukas Naruto.

"Apa?"

Bagi Hinata yang rajin masuk sekolah untuk belajar, bolos adalah hal yang jarang dilakukannya. Gak pernah ada kata bolos dalam kamus hidupnya.

"Ayolah, aku bahkan bolos untuk menyelamatkanmu, sehingga kau baik-baik saja hari ini," tukas Naruto.

Akhirnya Hinata mengangguk. "Oke."

-X-

Sai memasuki pintu gerbang sekolah dengan perasaan campur aduk. Pagi tadi, pintu kamar Hinata sudah terbuka lebar, dan gadis itu telah lenyap.

Hinata memang sudah besar, ia tahu.

Sudah beberapa kali Hinata menghilang dan kembali dalam kehidupannya. Hinata bisa menjaga dirinya sendiri.

Tetapi setelah menyadari Hinata menyukainya, untuk kali pertama dia merasa khawatir.

"Ohayou, Sai!"

Sayang sekali, bukan Hinata yang dikhawatirkannya menyapa dirinya.

"Ohayou, Hanabi."

"Lesu sekali kau hari ini." ucap Hanabi. Dia tersenyum, menatap Sai.

Sai berdeham, kemudian memandangi Hanabi yang lebih pendek darinya.

"Uh. Hinata menghilang pagi ini. Entah dia kemana... apa ia di sekolah atau tidak..."

"Hinata menjenguk Naruto hari ini. ia tidak masuk, harus menemani terapi Naruto pagi ini. Dia memberikan email padaku sejam yang lalu." Hanabi berkata, suaranya terdengar berat. "Apa kalian bertengkar?"

Sai mengangkat kedua bahunya, lalu mengangguk.

"Jadi, Hinata tidak memberi tahu apapun padamu? Meninggalkan sepucuk pesan sedikitpun... tidak?"

"Begitulah." Sai menyahut lesu.

"Kalian bertengkar masalah apa?" tanya Hanabi ingin tahu.

Sai mengulum bibirnya. Untuk kali pertama, Hanabi melihat wajah Sai memerah.

"Kalian tidak bertindak mesum, kan?" tanya Hanabi, ekspresinya berubah keruh.

"Tentu... tentu saja tidak!" protes Sai, lalu melangkah menjauh.

"Saiii..."

"Hm?"

"Kau pernah bilang kalau cinta bisa datang karena kau penasaran." ucap Hanabi, tampak berusaha keras menjajari langkahnya. "Kau sedang tidak jatuh cinta kepada Hinata, kan?"

"Tidak." kata Sai tegas. "Aku yakin tidak. Hanya... ah. Bukan hal penting."

Hanabi mulai tertawa. Mendengar tawa gadis itu, membuat Sai merasa nyaman.

"Sampai nanti istirahat." ujar Hanabi. "Kita kan di kelas berbeda."

"Oh ya, Hanabi," Sai mencekal tangan Hanabi. Dia mengulum bibirnya beberapa saat. "Kita tidak jadi ke tokyo tower kemarin. Hari ini... bisa?"

Hanabi tersenyum, kemudian mengangguk.

-X-

Huft! Chapter 10 selesai juga ^o^

Aku minta maaf karena lamanya mengupdate fanfict ini, tidak seperti biasanya. Aku baru saja selesai menghadapi UTS seminggu penuh. Rasanya benar-benar melelahkan, aku bahkan sampai terkena demam beberapa hari.

Terima kasih telah membaca, sampai jumpa di chapter selanjutnya xD