Everything's Back to Normal
Chanbaek
Yaoi
Mpreg
M
10
.
.
.
Akhir-akhir ini Baekhyun gampang terkejut meskipun ia sedang tertidur pulas, sekecil apapun suara akan membuatnya tersentak terlebih jika pintu kamar digedor-gedor dengan sangat brutal dari luar. Baekhyun bergerak mengganti posisi tidur dan tangannya melayang untuk memukul-mukul pundak Chanyeol agar sang mantan suami terbangun, namun Chanyeol malah menarik pinggangnya untuk merapat sambil mengerang.
"Papa! DADDY! Bangun sudah pagi. Papaaaaaaa!"
Dhuk!
Dhuk!
Dhuk!
Dhuk!
Dhuk!
"Chanyeol, bangun." Baekhyun menampar-nampar pipi Chanyeol dan si tinggi itu langsung mengerjap-ngerjap pelan, membiasakan matanya menangkap cahaya lampu tidur yang keemasan dan menatap sejurus pada dinding kaca yang menampilkan langit biru pagi hari.
"Selamat pagi." Ucapnya dan mengecup kening Baekhyun sebelum beranjak duduk, melihat kearah pintu dengan jengkel. Bahkan engsel pintu hampir terlepas saking kuatnya si kembar menggedor atau mungkin juga menendang dengan kaki-kaki kecil mereka.
"Pagi. Sepertinya ada yang tidak sabar ingin ke Sekolah." Baekhyun terkekeh lalu ikut duduk sebelum mengusap rambutnya yang seperti sangkar burung.
"Sehunie, sebaiknya kita mandi saja dulu."
"Ish, tidak mau! Sehunie mau mandi sama papa!"
"Tapi bukannya Sehunie mau belajar mandi sendiri?!"
"Sehunie berubah pikiran. Sehunie takut memakai shampoo sendiri."
"Biar Kyungsoo yang gosokkan ke kepala_"
"Tidak mau, Kyungie!"
Plak!
"Dasar anak ayam! Jangan memanggil Kyungsoo seperti itu!"
Chanyeol menggeleng-geleng mendengar jeritan khas si kembar lalu turun dari ranjang, menarik sehelai handuk pada sangkutan dan melilitkannya pada pinggang sebelum mendekati Baekhyun yang masih terduduk dikasur dan memberikannya kecupan manis dibibir.
"Aku akan mandi bersama anak-anak, kau ingin ikut?"
Baekhyun melotot sesaat dan mendengus jengkel, "Tidak. Aku tak yakin kau bisa menahan nafsumu dan berakhir merayuku. Aku tak mau anak-anak melihat kemesumanmu, Yeol."
"Okay." Chanyeol tertawa dan pergi mendekati pintu, saat ia menarik pintu, objek si kembar dengan wajah bantal, rambut berantakan dan piyama yang kusut menyambut pemadangan pagi. Apalagi mereka masih berdebat dengan wajah yang mengerut, sama-sama tak mau mengalah kali ini.
"Hei, hei. Pagi-pagi sudah ribut. Yang diam pertama kali akan daddy beri hadiah."
Dan seperti mantera, mereka segera merapatkan mulut dan berdiri rapi sambil mendongak menatap wajah daddy mereka yang mendengus geli.
"Nah, ayo mandi bersama daddy."
"Yeay! Sudah lama kita tidak mandi bersama, dad!" Pekik Sehun yang langsung memeluk kaki Chanyeol.
"Kyungsoo ingin mandi sambil bermain cerita bebek karet!"
Si tinggi segera menggendong Kyungsoo dan Sehun lalu membawa mereka menjauh setelah melempar senyum untuk Baekhyun yang sedang memakai bathrobenya.
.
.
.
"Selamat pagi, papa manis!" Sehunie datang dengan seragam rapi, rambutnya yang banyak diberi hair cologne dan ditata rapi ke atas serta bedak yang sedikit berantakan diwajahnya.
"Selamat pagi juga, papanya Kyungsoo!" Kyungsoo menyahut dari belakang adiknya, ia tak jauh berbeda dengan penampilan Sehun namun yang membuat Baekhyun terkesima adalah dasi kupu-kupunya yang tidak miring sama sekali.
"Selamat pagi anak-anak papa yang tampan." Baekhyun meninggalkan pan-nya sesaat untuk merunduk memberikan kecupan selamat pagi di pipi gembil si kembar. Lalu mereka menarik kursi makan dan mengambil posisi disana.
Tak lama, Chanyeol muncul sambil membenarkan dasinya yang kurang rapi. Ia membuka kulkas untuk mengambil sekotak susu dan menuangkannya kedalam satu gelas, hanya untuk Kyungsoo.
"Sehunie masih tidak mau susu sapi?" Tanya Chanyeol saat menyodorkan gelas untuk Kyungsoo.
Sehun menggeleng keras dan menatap jijik pada gelas susu yang Kyungsoo minum.
"Sehunie hanya suka susu papa."
Chanyeol menghela nafas setelah mengusap sudut bibir Kyungsoo, ia menatap anak bungsunya dengan tatapan perhatian. Sebenarnya membiarkan Sehun terus menyusu tidak baik, akan sangat buruk jika kebiasaan itu tak akan hilang sampai tahun-tahun kedepan.
"Sehunie harus membiasakan diri untuk tidak menyusu pada papa. Karena apa?" Chanyeol menjeda sesaat, "Karena jika adik Sehunie akan lahir nanti, dia pasti akan menangis karena susunya Sehunie ambil."
"Apa? Sehunie akan punya adik?" Sehun mengerjap menatap daddynya yang tersenyum simpul.
Baekhyun menatap Chanyeol dengan alis yang terangkat, ia ingin sekali menampar pipi sang mantan dengan spatula panas ditangannya.
"Semoga saja." Jawab Chanyeol penuh harap pada Tuhan.
"Sudahlah. Lebih baik sarapan dulu dan Chanyeol, simpan saja harapanmu itu." Baekhyun memberikan tatapan peringatan selagi memindahkan piring berisi roti bakar keatas meja makan, "Kau sudah terlalu tua untuk punya anak lagi!"
"Aku masih tiga puluh dua tahun dan masih sanggup menyemburkan benihku di rahimmu-mmpphh." Mulut Chanyeol terbekap dengan roti bakar panas.
"Aish." Baekhyun mengumpat dan si kembar terlihat masa bodo dengan kedua orang tua mereka. Memilih menatap satu sama lain dan mengangkat pundak hampir bersamaan.
.
.
.
Penat.
Luhan rasa ia butuh tidur untuk menjernihkan pikirannya yang bercabang entah kemana, namun puncaknya tetap akan ada nama Chanyeol. Lelaki rusa itu membanting tubuhnya diatas sofa merah yang tersedia di ruang make up khususnya dan terpejam untuk sesaat.
Tujuh menit lamanya, Luhan membuka mata kembali dan mengambil ponsel di saku jeansnya. Secara sadar tangannya tergerak untuk menekan ikon galery ponsel dan memilih pada satu foto, foto yang membuat ia tersenyum miris dan hanya bisa mengelusnya dengan rasa iri yang mendalam. Dimana sebuah foto yang ia dapat dari ponsel seseorang.
Sebuah potret keluarga dimana Chanyeol dan Baekhyun duduk berdampingan dan anak-anak mereka berada di pangkuan dengan senyum sumringah dari keempatnya. Luhan sangat ingin menggeser posisi Baekhyun, ingin sekali tapi rasanya sangat sulit.
Dengan senyum yang melengkung kebawah dan mata yang berkaca-kaca, Luhan membuka aplikasi edit dan mencoret wajah Baekhyun sampai tertutup seluruhnya. Ia benci. Ia benci ketika Baekhyun lahir lebih dulu, ia benci dengan fakta Baekhyun lebih dulu bertemu dan jatuh cinta dengan Chanyeol, ia benci dengan fakta bahwa Baekhyun melahirkan anak kembar untuk Chanyeol.
Dan ia benci dengan dirinya yang hanya bisa mencintai Chanyeol seorang.
.
.
.
Pria penggila anggur itu mengetuk-ngetukkan telunjuk diatas meja kekuasaannya. Sebuah permen tangkai terletak diatas dokumen yang tertutup dan menjadi objek mata tajamnya yang hampir tak pernah berkedip, ditangannya terdapat segelas wine. Ruang kerjanya terlihat seperti makam, begitu sepi, begitu sunyi. Hanya ada ia dan semua perasaan abstraknya didalam benak.
Seunghyun tak pernah berinteraksi sebegitu dekatnya dengan anak-anak Baekhyun, ia benci mengetahui jika putra tunggalnya menikahi seorang tak berpendidikan dan memalukan seperti Baekhyun. Lalu melahirkan anak kembar yang mana semakin membuat ia muak. Chanyeol terlahir hanya untuk mengabdi kepadanya, yang berposisi sebagai ayah kandung. Chanyeol lahir hanya untuk mendengarkan perintahnya, bukan untuk menyenangkan lelaki miskin dan sombong seperti Baekhyun.
Ia benci orang tak berpendidikan.
"Park.. Kyungsoo. Park.. Sehun." Lirih Seunghyun setelah meletakkan gelas winenya diatas meja dan memegang permen pemberian cucu pertamanya itu. "Kenapa nama itu terdengar baik ditelingaku? Aish."
Tanpa berpikir banyak, Seunghyun menekan angka tiga pada panggilan cepat dan tak perlu menunggu untuk seseorang mengangkatnya.
"Taejoon-ah.."
.
.
.
Baekhyun duduk ditaman Sekolah Dasar seorang diri, sesekali mengecek ponselnya sebagai sarana penghilang bosan. Masih harus menunggu sepuluh menit lagi sebelum bell pulang dibunyikan, beberapa ibu-ibu lain terlihat melakukan hal yang sama namun bedanya mereka sedikit dibumbui obrolan gosip. Baekhyun mencuri dengar, bahwa yang menjadi topik pembicaraan mereka adalah seseorang yang menghabiskan empat ronde bersamanya semalamam.
Sesekali Baekhyun tersenyum mengejek namun matanya tetap terfokus pada ponsel, seolah ia memang tersenyum dengan apa yang ia lihat pada layar benda tipis ditangannya.
"Auh, model Luhan memang paling sempurna. Aku tak menyangka ia akan mendapat pria mapan seperti Park Chanyeol. Beruntungnya dia~"
"Mereka memang pantas diliput."
"Aku tak bisa membayangkan betapa mewahnya pernikahan mereka nanti dan seperti apa anak mereka."
Baekhyun memanas, telinganya sudah mengeluarkan asap bahwa ia tak sanggup mendengar obrolan ibu-ibu yang bahkan tak lebih cantik darinya.
"Daripada suami yang sebelumnya, auh aku tak bisa membayangkan jika Park Chanyeol masih bersama dengan lelaki tak tahu diri itu."
"Kau benar, lelaki itu hanya menyusahkan keluarga Park yang terhormat. Ku tebak mereka pasti malu mempunyai menantu dari desa."
"Menurutmu apa ia menggunakan susuk untuk menarik Park Chanyeol?"
"Oh! Itu bisa saja."
"Pasti susuknya terlepas sekarang, buktinya Park Chanyeol meninggalkannya, hahaha."
Saking fokusnya Baekhyun pada mereka, sampai tangannya meremas ponsel sangat kuat dan hampir meremukkannya jika ia tak terkejut dengan pekikan si kembar. Siswa tingkat pertama Sekolah Dasar berhamburan keluar dari kelas dan menemui ibu mereka, begitu juga Baekhyun yang langsung cerah kembali melihat anak-anaknya berlari sambil memegang selembar kertas.
"Papa!"
Sekumpulan ibu-ibu tadi terkejut ketika melihat si kembar Park yang melewati mereka dan menuju pada seseorang yang beberapa detik lalu menjadi obrolan mereka, tentu saja itu memalukan. Bagaimana Baekhyun yang terlihat tersenyum manis dan mengelus puncak kepala anak-anaknya padahal mereka yakin bahwa Baekhyun mendengar semuanya.
"Ibu guru menyuruh kami menggambar. Lihat punya Sehunie!" Sehun menunjukkan kertas putih bercoret-coretkan crayon bermacam warna, "Sehunie menggambar rumah impian."
"Dan Kyungsoo menambahkan anjing impian disini," Tunjuk Kyungsoo pada bentuk anjing kriwil berwarna hitam di sudut kertas itu, "Kyungsoo akan menamainya Toben."
"Kenapa Toben?" Tanya Baekhyun tanpa meluruhkan senyumnya yang benar-benar terlihat manis.
Jika orang-orang yang tak mengenalnya pasti Baekhyun dikira lelaki lajang yang belum menikah.
"Hanya ingin." Jawab Kyungsoo asal lalu ia mengangkat gambarnya sendiri, "Disini Kyungsoo menggambar keluarga kita dan juga Kai."
'ibu' dua anak itu terkikik seorang diri melihat gambar orang yang seperti lidi hanya saja ditambah rambut yang berbeda-beda bentuk. Diatas kepala orang-orang itu terdapat nama yang memudahkan orang untuk mengetahuinya.
"Anak-anak papa pintar sekali, bahkan ibu guru memberi nilai seratus." Baekhyun memuji sambil mencubit gemas pipi gembil Kyungsoo dan Sehun.
Seakan lupa pada suasana hatinya yang sempat retak, si kembar mampu merekatkan retakan itu kembali dan membuat perasaannya berbunga-bunga. Lantas ia menggandeng si kembar dan mengajaknya untuk memakan es krim. Meninggalkan tatapan takjub dari beberapa orang yang mati kutu.
"Apa itu tadi Byun Baekhyun dan si kembar Park?"
"Astaga! Kita sangat dekat dengan mereka, bagaimana ini?!"
.
.
.
.
Minggu pagi, Baekhyun berubah menjadi pemalas semenjak semalam ia menghabiskan waktunya didepan closet. Yang ia lakukan hanya berbaring tanpa berniat beranjak kecuali ketika ia harus bertemu lagi dengan closet dan terduduk disana bermenit-menit.
"Papa, tadi daddy menelpon dan bilang bahwa kita akan bermain ke Lotte World!" Sehun memanjat tempat tidur Baekhyun dan meloncat-loncat dengan ponsel Baekhyun ditangannya.
"Benarkah? Pergilah dengan Kyungsoo. Oh dimana kakakmu itu?"
"Sedang menyusun Lego."
Baekhyun menarik kaki Sehun sampai anaknya itu terduduk dan beberapa kali memantul dikasur, Sehun segera berbaring disamping papanya setelah mengecup pipi Baekhyun. Mereka bertatapan untuk beberapa saat sebelum Baekhyun mengatakan sesauatu yang mengundang kebingungan diwajah Sehun.
"Sehunie, bagaimana jika Sehunie memiliki adik?"
Baekhyun hanya bertanya, itu belum tentu benar dan ia hanya memastikan bahwa Sehun akan menerima anggota keluarga baru mereka nantinya jikapun yang ia pikirkan semalam ini benar. Sudah terhitung tiga kali ia tidur bersama Chanyeol dan mantan suaminya itu selalu keluar didalamnya. Sesuatu itu mungkin sudah hadir diantara mereka tanpa sadar.
"Adik? Apa papa menginginkan adik?"
"Papa bertanya dengan Sehunie, kok. Kenapa bertanya balik?" Baekhyun memencet hidung Sehun yang berubah murung.
Baekhyun merasa was-was dengan ekspresi Sehun yang 90% menolak. Jika begitu, yang harus ia pikirkan sekarang bagaimana caranya ia juga harus menolak sesuatu yang belum dipastikan itu. Jika Sehun dan Kyungsoo tak menginginkannya, ia tak punya alasan untuk memiliki keturunan baru. Baginya sikembar seberharga Gedung Putih yang tak boleh lecet.
"Kalau papa menginginkan adik baru, Sehunie juga ingin. Tapi Sehunie ingin adik perempuan, Sehunie tak mau memiliki adik yang seperti Kyungsoo."
Reflek sudut bibir Baekhyun tertarik perlahan menyungging senyuman. "Jadi Sehunie menginginkannya?"
"Uhm! Sehunie ingin adik perempuan!"
"Baiklah, mari berdoa pada Tuhan semoga adik Sehunie perempuan." Baekhyun menepuk-nepuk pantat Sehun, "Tapi rahasiakan ini dari Daddy dan Kyungsoo, okay?"
Sehun segera menautkan kelingkingnya dengan Baekhyun, "Janji!"
"Yeay! Sehunie akan memiliki adik perempuan yang cantik seperti Hani nuna! Yeay!
Sehun kembali meloncat-loncat diatas kasur membuat Baekhyun mual, ia akan beranjak menuju kamar mandi namun suara debaman langsung membuatnya terbelalak dan pergi ke sisi tempat tidur yang lain. Ia menemukan Sehun tersungkur dengan wajah menghadap lantai.
"Astaga Sehunie!" Baekhyun segera melihat keadaan anaknya dan mendapati bercak darah dilantai kamar yang putih.
"Hiks gigi Sehunie, sakitth hiks hiks." Baekhyun melihat darah kental mengotori gigi-gigi susu Sehun dan bibirnya yang tak berani mengatup. Liur terus merembas dari dalam mulutnya mengotori baju.
"Wah! Gigi Sehunie akhirnya copot." Mungkin Baekhyun terlihat seperti iblis yang tersenyum senang sedangkan anaknya sedang menangis ketakutan. Lelaki itu mengambil gigi kecil Sehun yang ada dilantai.
"Pa, suara apa it_gigi Sehunie!" Kyungsoo mendekat dan geregetan ketika melihat gigi kecil Sehun telah ada ditangan Baekhyun. "Sehunie ompong! Hahahaha!"
"Papa hiks."
"Okay, okay. Mari bersihkan mulut Sehunie."
Baekhyun masih terkekeh-kekeh kecil melihat Sehun yang masih belum berani mengatupkan mulutnya, tetesan darah mengikuti mereka sepanjang menuju kamar mandi. Sedangkan Kyungsoo berada di ambang pintu sambil terus mengejek Sehun yang resmi kehilangan gigi pertamanya.
.
.
.
Chanyeol memekik ketika Sehun mendatanginya pertama kali saat ia baru tiba diapartemen Baekhyun, sambil menunjukkan bagian gusinya yang terlihat bebas disela gigi-gigi lain.
"Bagaimana bisa copot?" Chanyeol berjongkok agar tingginya setara dengan Sehun dan mengecek mulut anaknya itu, Sehun terus memainkan gusi ompongnya dengan lidah karena merasa tak biasa.
"Anak nakal itu jatuh dari tempat tidur." Celetuk Kyungsoo asal-asalan yang tak sengaja lewat.
"Apa? Astaga, itu mengapa dagu Sehunie memar."
"Tak apa. Ayo kita pergi, dad!"
Chanyeol menemukan Baekhyun sedang mengancingkan kemejanya dan berjalan menuju konter, mantan suaminya itu tampak belum berbenah namun sudah cukup harum yang membuat Chanyeol ingin sekali melumat bibir tipis Baekhyun.
"Kau tak ikut?"
Baekhyun menggeleng sambil mengusap tengkuknya, "Tidak. Aku akan ke kafe. Kau pergilah dan jangan pernah melepas tangan anak-anak saat sudah disana."
"Lho, mereka akan makin senang jika kau ikut."
"Aku sudah mengatakan pada mereka aku tak bisa ikut. Pergilah, mereka sudah siap dengan kets baru mereka." Tunjuk Baekhyun pada si kembar yang sudah berdiri rapi didekat pintu apartemen, jangan lupakan ransel karakter mereka yang tak bisa tinggal.
"Baiklah, jaga dirimu. Hubungi aku jika ada hal buruk."
"Bukankah lebih baik menelpon 911?" Olok Baekhyun. Chanyeol tak bisa menahan dirinya lagi untuk menghampiri Baekhyun dan menerjang bibirnya sampai kepala Baekhyun terdorong ke belakang.
"DADDY! JANGAN MENCIUM PAPA, ISH!" Sehun menarik-narik kemeja Chanyeol dari belakang, rela tak rela si tinggi harus melepas rangkulannya pada pinggang Baekhyun dan menatap si bungsu yang sedang bersedekap dan membuang wajahnya cemberut.
"Baiklah-baiklah, ayo kita pergi!"
.
.
.
.
Helaan nafas mengiringi langkah Baekhyun disepanjang koridor Rumah Sakit, tangannya memegang sebuah map cokelat berisi surat keterangan pemeriksaan. Ia tak tahu ini baik atau buruk. Baginya masih terlalu cepat, sesuatu itu terlalu bersamangat untuk hadir diantaranya dan Chanyeol juga kakak-kakaknya.
"Baekhyun?"
Masih ingatkah jika Baekhyun mudah sekali terkejut dan sangat sensitif dengan suara apapun yang muncul mendadak? Maka ia tersentak saat berbalik dan menemukan Junmyun berdiri disampingnya.
"Ah~ Jun." Baekhyun tersenyum mendapati temannya dengan jas putih yang terlihat keren.
"Kau terkejut? Maafkan aku." Junmyun merasa bersalah, mereka berbincang ringan selagi berjalan menuju taman Rumah Sakit. Junmyun juga membelikannya cup kopi panas.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Baekhyun menggeleng ringan, "Hanya memeriksa kesehatan. Kau sendiri sedang senggang?"
"Iya, aku baru selesai memeriksa pasien dan sedang sedikit mengambil waktu untuk istirahat."
Lelaki yang lebih muda meminum kopinya sebelum memutar ke topik yang lain. Memangnya topik apalagi yang disukai para orang tua jika bukan mengenai anak-anak?
"Bagaimana dengan Kai?"
"Ah, kebetulan kau bertanya. Minggu depan Kai akan mengikuti lomba menari di Sekolahnya, aku pikir untuk mengajakmu dan sikembar menonton."
"Benarkah? Ah, Kyungsoo pasti senang sekali, Jun. Ia begitu mengagumi Kai. Kyungsoo akan menyempatkan berceloteh tentang Kai saat kita bicara."
"Aku tak tahu Kai bisa seberuntung itu disukai oleh Kyungsoo, Baek-ah."
Dering ponsel memutus obrolan mereka sejenak, Baekhyun permisi sebentar untuk mengangkat telepon dari Chanyeol yang mengatakan jika ia telah menitip si kembar pada Minseok sedangkan Chanyeol harus pulang ke rumahnya karena Seunghyun. Baekhyun sempat marah karena Chanyeol melepas tanggung jawab, ia memijit pelipisnya merasa pusing mendengar ribuan ungkapan maaf.
"Jun, aku harus pulang. Si kembar membutuhkanku."
"Oh, baiklah. Hati-hati dijalan, Baekhyunie."
Baekhyun tersenyum dan berjalan cepat meninggalkan taman Rumah Sakit. Tanpa sadar ia juga meninggalkan map cokelat di kursi taman putih, Junmyun mengambilnya dengan kernyitan. Mendapati nama salah satu Dokter kandungan pada luar amplop yang ia kenal.
.
.
.
.
.
Chanyeol mendapati aura aneh saat ia menduduki kursi makan yang sudah dipenuhi oleh ayah dan ibunya juga keluarga Luhan. Lelaki bermata rusa itu tampak kosong dengan tangan yang berada di sisi piring tanpa mau memotong daging yang mulai mendingin. Wajah Seunghyun juga tampak santai meskipun ada kerutan samar dikeningnya.
"Chanyeol sudah datang, kurasa kita bisa meluruskan ini segera, Seunghyun." Ucap ayah Luhan dengan raut yang sama sekali tak senang. Tak seperti biasa dimana ia akan bercanda-canda dengan Seunghyun.
Chanyeol hanya diam, sesekali melirik ibunya yang diam-diam melengkungkan bibirnya tanpa tahu Seunghyun.
"Chanyeol, katakan apa yang ingin kau katakan." Tembak Seunghyun melihat putranya yang tersentak, semua mata menatapnya tak terkecuali Luhan. Sekarang ia bisa melihat wajah itu memucat dengan lingkar hitam dibawah matanya.
"Apa yang ingin ayah dengar?"
"Katakan saja!" Sentak Seunghyun sambil meremas garpunya, "Jangan membuat pikiranku berubah lagi."
"Nak Chanyeol, kau mencintai putraku?" Ibu Luhan angkat bicara sedetik setelah Seunghyun menyelesaikan kalimatnya.
Si tinggi itu seperti berada didalam mesin cuci, begitu pusing dengan keadaan yang tidak langsung pada titiknya. Sangat bertele-tele.
"Aku mencintai Baekhyun, Nyonya. Aku masih sangat mencintai mantan suamiku, maaf jika kau harus mendengar ini."
Nafas tersendat yang begitu sesak Luhan keluarkan dari mulutnya, ia menatap nanar Chanyeol yang duduk dihadapannya tanpa berniat membantah ucapan Chanyeol. Ia pikir, sudah berakhir.
"Maka batalkan pertunangan ini."
Chanyeol terbelalak. Ia menatap ayahnya yang sedang fokus pada daging di piring, seolah melupakan martabatnya didedepan sahabat yang kini tampak mengeraskan rahangnya. Luhan menangis tanpa suara, ia lalu bangkit paling pertama setelah mengusap air diwajahnya diam-diam.
"Ayah.."
"Ayah menyerah, Chanyeol." Ucap Seunghyun akhirnya sebelum ikut bangkit dan pergi dari ruang makan, meninggalkan Chanyeol dengan perasaannya yang tak berpihak. Sedih atau haruskah ia senang?"
"Sebelum kau datang, kami telah membicarakannya dengan ayahmu, Chanyeol. Ku pikir aku tak bisa membiarkan Luhan hidup bersamamu atas keterpaksaan, itu hanya akan semakin membuat putraku terluka." Ayah Luhan tersenyum simpul diikuti istrinya.
"Kami akan kembali ke China bulan depan."
"Begitukah? Maafkan aku, Tuan, Nyonya." Chanyeol membungkuk sangat merasa bersalah namun tak dipungkiri bibirnya sulit untuk dikontrol, ia terus menyunggingkan senyum tertahan.
Tak berapa lama ayah dan ibu Luhan pamit pergi meninggalkan Chanyeol dan ibunya yang sedang meminum jus amat santai.
"Jangan bilang ibu sudah tahu berita ini." Chanyeol memberikan tatapan menuduh.
"Tidak, kok. Ayahmu berubah sejak tadi malam, ia banyak berpikir dan ibu tidak tahu bahwa yang ia pikirkan itu pembatalan pertunanganmu." Sooyoung menatap putranya bahagia, "Ayahmu juga berniat melakukan jumpa pers, ini pasti akan menjadi trending topic selama satu minggu ke depan."
"Jangan biarkan Baekhyun melihat ini, Chanyeol ingin ini menjadi kejutan untuknya." Chanyeol terkekeh bersemangat.
"Ibu mendukungmu, Yeol."
"Terima kasih, ibu."
.
.
.
Tadi Chanyeol datang hanya sebentar untuk melihat si kembar dan Baekhyun, sembari membawa dua kotak pizza berukuran besar. Si kembar telah tepar dengan perut kekenyangan bahkan lupa menyikat gigi. Jadi sebelum pulang, si tinggi mengangkat kedua putranya menuju kamar dan sedikit bermanja-manja dengan Baekhyun di ruang tv.
Kini Baekhyun sedang merawat wajahnya didepan cermin, setelah memberikan serum dan menepuk-nepuk wajahnya ia mengangkat piayamanya sebatas dada. Menampakkan perutnya yang sedikit berisi dari sebelumnya. Memang kemarin-kemarin ia hanya mual dan itu pun tidak terlalu sering, ia tidak mengidam apapun dan malah cenderung menghabiskan waktu untuk berbaring saja. Chanyeol sempat bertanya kenapa mantan suaminya itu tampak berbeda, namun Baekhyun dengan sangat lihai mengalihkan topik.
Tidak seperti saat mengandung si kembar, Baekhyun bahkan sangat lemah hanya untuk membuka mata. Perutnya sering merasa keram dan mualnya hampir setiap saat. Terlebih yang menyakitkannya adalah saat itu Chanyeol tak ada disampingnya, si tinggi malah menghabiskan waktu di kantor dan pulang larut malam saat ia telah tertidur.
Baekhyun takut jika untuk sesuatu yang sekarang ini, Chanyeol kembali seperti dulu. Tak peduli dan mengabaikan. Meskipun beberapa bulan ini Chanyeol banyak menunjukkan perubahan dan terlihat sangat bersungguh-sungguh, nyatanya Baekhyun masih khawatir. Ia tak berani mengatakan pada Chanyeol bahwa ia sedang mengandung bayinya untuk yang kedua kalinya.
.
.
tbc
