Chapter 19

Athena VS Athena

Kaki Dohko terasa tak bertulang, dia jatuh berlutut, masih tidak memercayai apa yang dilihatnya.

"Bangun dohko!" seru Lecca, "kau dengar dia bukanlah seperti dulu lagi, dia bukan Athena dia hanya seorang ghost bernama Rusty!"

Mendengar itu semua gold saint yang ada di ruangan itu terperangah tidak percaya, wanita yang berdiri di depannya ini dipanggil oleh Lecca sebagai Athena.

"Jangan bercanda Lecca!" seru Shura, "bagaimana kau memanggil ghost ini dengan Athena"

"Dia tidak bercanda bodoh! Kalau ucapan Lecca bercanda, Dohko dan popemu tidak akan bereaksi seperti itu" tunjuk Adder

Tidak hanya Shura tetapi semua gold saint melihat reaksi Dohko dan Shion, membuat mereka semua mau tidak mau memercayai kata-kata Lecca.

"Pope Shion, apakah arti semua ini?!" tanya Aiolos

"Lecca tidak berbohong, dia adalah reinkarnasi Athena terdahulu, Nona Sasha, dan laki-laki di sebelahnya adalah Sisyphus..." Shion menggigit bibir bawahnya, menggeretakkan giginya kuat-kuat.

"Sisyphus?" ulang Aiolos

"Gold saint Sagitarius sebelum dirimu Aiolos" lanjut Shion

"Tidak mungkin!" racau Dohko, dia memejamkan matanya rapat-rapat berharap kalau ini hanya mimpi buruk dan dirinya akan segera dibangunkan oleh seseorang, tetapi begitu dia membuka matanya lagi, Sasha masih berdiri di depannya, wajahnya tidak berubah, bahkan matanya, tetapi cosmonya hitam dan gelap.

Rusty memandang satu persatu orang yang ada di ruangan itu dan pandangannya berhenti pada Athena, dia menyungggingkan senyum jahatnya, dan mengeluarkan tombak pedangnya.

"Draco, kau urus pengkhianat itu" kata Rusty menunjuk Lecca dan Adder, "aku akan mengurus nona kecil ini" ia kembali memandang Athena, dan melebarkan senyumnya.

Athena menyeruak maju diantara, Aiolos dan Shion dan berdiri di depan Aldebaran dan Mu.

"Tetaplah di tempat kalian!" tegas Athena pada para gold saint di belakangnya.

"Tapi Athena, kami tidak bisa berdiam diri begitu saja" sergah Mu

Aldebaran mengangguk setuju.

"Ini perintah!" kata Athena keras.

Rusty yang mendengar percakapan Athena terlihat mencibir, dan mengeluarkan decak cemoohnya.

"Kau datang untuk mengambil nyawaku?" tanya Athena

"Ya" jawab Rusty singkat, dengan pandangan mencemooh

Athena memandang Rusty, memperhatikannya dari atas kebawah, benarkan tubuh yang berdiri di depannya pernah dipakai untuk menghidupkan jiwanya, benarkah Rusty adalah Athena yang terdahulu? Apa yang membuatnya menjadi ghost apa dia punya keinginan terbesar yang belum terselesaikan atau Astarte menipu tubuh ini. Ada sedikit keraguan timbul dalam benak Athena, meskipun begitu dia merasakan ada satu keterikatan dengan Rusty yang tidak bisa dijelaskan, entah kenapa perasaan bersalah dan sedih menyeruak di dadanya saat memandang Rusty, apakah ini perasaan yang tertinggal pada jiwa Athena yang sebelumnya menumpangi tubuh Rusty.

"Sayang sekali aku tidak bisa bermain-main dengan saintmu Athena" kata Rusty, sambil memainkan tombak pedangnya.

"Nona Sasha, apa kau tidak ingat padaku!" seru Shion

Rusty melirik tajam pada Shion, "siapa Sasha?!" tukasnya

Shion melebarkan matanya dan bukan main terkejutnya, pandangannya beralih pada Draco "Sisyphus! Apa kau tidak mengenaliku!" teriak Shion putus asa

"Namaku Draco, bukan Sisyphus" balas Draco

"Sudah kubilang dia bukan Athena!" seru Lecca mengingatkan kembali, "dan kau harus terima itu, dia hanya boneka Astarte"

"Jangan ribut Lecca, sudah cukup kau mengoceh!" Draco menlancarkan serangannya, Adder langsung menangkisnya.

"Berani kau melukainya kubunuh kau!" ancam Adder

"Aku jadi takut" ejek Draco

"Nah, Athena kita mulai" ucap Rusty, dia melompat menebaskan tombak pedangnya, Athena mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi, menahan serangan Rusty, kedua senjata itu saling beradu menimbulkan bunyi denting yang nyaring, mereka berdua saling bertahan, dan mendorong.

Dengan satu dorongan mereka melepas pertahannannya, melompat mundur bersamaan. Kemudian saling menyerang.

"Apa kau bisa melindungi mereka Athena, hanya dengan kedua tangan manusiamu itu?" tanya Rusty.

"Aku pasti bisa!" balas Athena, dia menggeretakkan giginya keras-keras menahan serangan Rusty, serangan itu terasa semakin keras dan kuat.

"Kau terlalu naif" Rusty menusuk tombak pedang itu, kembali Athena menangkisnya, tetapi dia kelihatan kelelahan, keadaan Athena ini membuat Aiolos dan para gold saintnya khawatir, Athena bertindak begitu atas saran Lecca, maka itu sedari tadi Shura mendelikkan matanya pada Lecca, dan terlihat kesal.

"Naif atau tidak apapun akan kulakukan untuk melindungi mereka dari ghost seperti dirimu!" seru Athena, kini giliran Athena menyerang, membuat Rusty mundur menghindari serangan Athena, serangan itu mendarat di lantai dan membuat lantai batu itu berlubang.

"Menarik juga" kata Rusty melirik lantai yang berlubang akibat serangan Athena.

"Bagaimana kalau yang ini, Athena!" Rusty melompat tinggi-tinggi seolah terbang, dan menghujamkan tombak pedangnya ke Athena.

"Athena, hati-hati!" teriak Aiolos, Athena mengangkat kedua tangannya, mencoba membuat perlindungan. Bunyi berdebam yang keras terdengar dan lantai aula kuil Athena bergetar, menebarkan debu yang datang dari pecahan batu yang terkena serangan Rusty.

"Athena! Tidak!" seru Shura, debu yang bertebaran itu menutupi pandangan para gold saint, mengerikan, lantai di sekeliling medan pertarungan Rusty dan Athena retak dan terbelah. Kabut debu semakin menipis, semua para gold saint menahan nafasnya, begitu juga Lecca dan Adder serta Draco yang menghentikan duel mereka.

Athena berhasil menahan serangan dahsyat itu, dia menahannya dengan tongkatnya yang dipegangnya dengan kedua tangannya., satu kakinya tertekuk, menahan berat tubuhnya, pelipisnya terluka dan berdarah.

"Hebat, kau masih bisa menahannya" ucap Rusty

"Sudah kubilang apapun..."

"Jangan berkata naif seperti itu, apa kau bisa menolong mereka!" potong Rusty keras, terlihat muak dengan perkataan Athena yang muluk tentang melindungi.

"Kau tidak akan bisa melindunginya, yang kau lakukan hanya membuat mereka mati!" sembur Rusty.

Athena mengerutkan keningnya, dan ia melihat kepingan kenangan itu, tumpukan mayat, laki-laki bersayap putih besar dengan laki-laki bermata hitam tanpa warna putih, darah, teriakan kesakitan.

"Apakah ini ingatan yang tertinggal" pikir Athena, begitu melihat kenangan itu, tubuh yang ditinggalkannya menaggung luka, penyesalan. Athena ingat dulu dia terpaksa menyegel Lucifer dengan 12 birthstone. Menyisakan Dohko dan Shion, untuk menjaga segel itu sampai dia kembali ke bumi ini, dia bisa melihat wajah duka Dohko dan Shion ketika jiwanya meninggalkan tubuh Sasha.

Rusty melihat celah kelengahan Athena, dia langsung menendang perut Dewi Perang itu, Athena meringis dan terlempar hingga tersungkur, di dekat Dohko yang masih berlutut tak berdaya, tubuhnya tidak mau mendengar perintahnya, kepalanya terasa kosong.

"Dohko, lindungi Athena!" teriak Aiolos, yang mencoba adu cepat berlari dengan Rusty yang menyerang Athena, tetapi jarak Aiolos terlalu jauh dalam kejapan mata Saga sudah ada di depan Athena menamenginya, melihat itu Lecca berlari menyongsong Saga dan melindungi lelaki yang mencoba melindungi Athena, terlambat menangkis serangan dari Rusty, membuat lecca terkena tebasan tombak pedang milik Rusty di bahunya sampai bahunya sobek dan darahnya muncrat mengenai wajah Saga.

Rusty tertawa penuh kemenangan, "kena kau" ucapnya

"Jangan senang dulu" tanpa mempedulikan lukanya Lecca menusukkan pedang pendeknya ke perut Rusty.

"UKKKHH! Ku..kurang ajar!"teriak Rusty begitu melihat pedang itu bersarang di perutnya, dia mundur tombak pedangnya terlepas dari tangannya, Rusty memegangi perutnya, dan terhuyung dan terjatuh, melihat itu Draco berlari menangkap Rusty.

"Nona...!" ujar Draco, luka di perut Rusty seperti memangsanya, membusuk dengan cepat.

Rusty memegang perutnya yang kini meleleh, dia meringis, mengejang dan tubuhnya terkulai lemas, perlahan berubah menjadi onggokan pasir.

Draco mendelik kearah Lecca yang terluka, dia terlihat murka tanpa basa-basi dia langsung menyerang Lecca menghunuskan tombak pedang milik Rusty, sepertinya dia ingin Lecca mati, Lecca bisa merasakan dendam menggelora di dada Draco mendesak semua panca indera Lecca. Secepat kilat Adder melompat di depan Lecca menusuk leher Draco tanpa ampun, terdengar bunyi deguk yang mengerikan, pedang itu membuat lubang menembus leher Draco, matanya melotot melihat Adder tangannya menggapai-gapai Adder, berusaha menarik Adder, Adder pun menekankan lagi pedangnya sampai pangkal pedang itu menempel di leher Draco, gerakan tangan Draco makin menggila, bagai mana bisa nyawanya masih ada di tubuhnya sedangkan pedang itu sudah menusuknya tepat dilehernya, Draco berhasil meraih kerah baju Adder dan menariknya mendekat wajah mereka hanya beberapa senti saja, Adder bisa merasakan hembusan nafas Draco yang memburu, darah mengalir dari sela bibirnya.

"Dengar Ad..Adder, As..Astarte mengirim du..dua demon untuk men..yamar.." ucap draco terbata-bata dalam suara yang hanya bisa di dengar Adder.

"Apa?!" seru Adder "siapa yang akan dia jadikan medium?"

"Gold...saint" Draco terbatuk darah menyembur dari mulutnya tangannya masih mencengkeran baju Adder matanya masih terbuka pada saat jiwanya meninggalkannya.

Adder menarik pedangnya, Draco jatuh tergeletak di kakinya, tubuh manusianya berubah menjadi naga sebesar kambing., lalu perlahan memudar menjadi pecahan cahaya yang terbang ke langit.


Chapter 20

Double Impact

Adder berbalik menghampiri Lecca, yang jatuh berlutut sambil memegangi bahunya yang berdarah, darah itu mengalir deras, dia menekannya keras-keras, merapatkan bibirnya, ia menahan rasa sakit yang mejalari seluruh tubuhnya.

"Kau tak apa?" tanya Adder cemas, melihat luka menganga yang cukup besar di bahu Lecca

"Sedikit sakit" Lecca masih mencoba menahan rasa sakit itu, dia melirik Saga yang ada di belakangnya,.

"Kau masih mau menyelamatkannya?!" ujar Adder sinis, melihat adegan tadi dirinya merasa kasihan terhadap Lecca, Lecca tahu hanya ada Athena, Athena dan Athena di hidup dan matinya Saga, tetapi kenapa Lecca masih mencintainya, walaupun Adder tahu Saga juga memiliki perasaan yang sama pada Lecca, tetapi tetap saja tindakan Saga tidak bisa diterima oleh Adder, percuma saja kau bilang mencintainya tetapi sama sekali tidak bisa melindunginya, bukan main sebalnya Adder pada Saga.

"Jangan memandangnya seperti itu Adder, kau harus mengerti posisinya, dia hanya melaksanakan tugasnya" bela Lecca

"Silakan saja kau bela terus dia!" sungut Adder, "ini " Adder menunjuk luka di bahu Lecca, "dan ini" kali ini menunjuk dada Lecca, "mana lagi bagian yang akan dia lukai lecca?!"

Lecca tak menjawab gerutuan Adder, dia memegang bahu Adder dan berdiri, kakinya masih gemetar karena menahan sakit.

Saga masih mematung di tempatnya, darah hangat itu mengenai sebagian wajahnya, dan pandangannya jatuh pada darah yang mengenang di samping Lecca, lalu pandangannya beralih pada Lecca yang kini meringis, dan ada Adder, dia tahu Adder tak senang dengan tindakan ini terbukti kini Adder memandanginya dengan tatapan tajam. Dia mengusap wajahnya, darah merah itu anyir tercium, ini darah Lecca, Saga memandang tangannya, dan mengepalkannya erat-erat dia mengerti memang rupanya dia telah membuat Lecca terluka baik fisik maupun hati, dia tak bisa membuang Athena, dia merasa tak pantas mencintai Lecca, tetapi gadis itu tak mengatakan apapun tentang perasaannya pada Saga, apa dia masih mencintai laki-laki seperti dirinya ini? Pikir Saga, dirinya pun tak berani menanyakannya.

"Dohko apa yang sedang kau pikirkan!" seru Aiolos menjengut kerah Dohko, kepalanya tertunduk lesu, sepertinya di shock dengan kehadiran Rusty tadi.

"Aiolos, sudahlah" sela Athena yang dibantu berdiri oleh Shion dan Mu

Pandangan Athena menyapu ruangan dan berhenti pada sosok yang berdiri di tak jauh darinya, dalam gerakan cepat tadi Athena tahu Lecca ada di depan Saga dan karena itu dia terluka. Saga, pria itu masih berdiri ditempatnya, wajahnya terlihat lebih sedih dari sebelumnya, wajahnya berlumur cipratan darah, darah orang yang juga sangat ingin dilindungi dan sangat ia cintai, tanpa berbicara lagi Athena mengetahui bagaimana perasaan Saga. Dia melihat tangan pria itu mengepal. Pandangannya beralih kini bertubrukan dengan mata Lecca, gadis itu masih memegang bahunya, warna baju birunya berubah menjadi ungu, tercampur dengan warna merah darah, wajahnya terlihat pucat dari sebelumnya, Athena melihat ada genangan darah di dekat kaki Adder.

Lecca berjalan menghampiri Athena melewati Saga tanpa bicara, juga tak memandangnya, matanya menatap lurus-lurus kearah Athena. Lecca berhenti di depan Athena, tak ada ekspresi apapun yang ditunjukkan oleh wajah Lecca, emosi semua campur aduk sehingga menjadi ketiadaan, dalam hati tindakan Saga yang seperti tadi sungguh membuat Lecca kecewa, sakit hati, marah, cemburu, tapi yang bisa dilakukan Lecca adalah mengerti posisi Saga.

Athena jadi salah tingkah, Lecca memandangnya seperti itu, tangannya terangkat mencoba meraih bahu Lecca.

"Jangan" ucap Lecca dingin, tangan Athena berhenti di udara, dia menarik tangannya lagi, kata-kata Lecca pelan tapi terdengar sangat tajam baginya.

"Jangan pernah perlihatkan kelemahanmu di depan para ghost dan demon, kau harus kuat meskipun kau lemah" kata Lecca datar.

Usai mengatakan itu dia kembali melewati Saga, juga tak memalingkan wajahnya, tapi dia berhenti beberapa langkah dari Saga dan berbalik, memberanikan diri menatap wajah Saga, tidak dia tidak membenci Saga sama sekali, tetapi percikan api cemburu sudah melukainya.

"Maafkan aku, Lecca" ucap Saga dengan suara yang hanya bisa di dengar Lecca.

Lecca tak menjawab apapun, dia menundukkan kepalanya sambul tersenyum sedih kemudian menghampiri Adder, yang masih memelototi saga.

Aiolia dan Milo yang melihat adegan itu tak bisa mengeluarkan kata-kata yang pas untuk Saga atau Lecca, mereka cukup paham bagaimana posisi Saga dan juga perasaan Lecca.

Sementara itu, Shion dan Mu memapah Athena dan mendudukkannya di kursi besar yang ada di aula istana, wajah Shion masih memperlihatkan kecemasan, tetapi Athena membalasnya dengan tersenyum.

"Aaahh…! Sudah kuduga" celetuk Aphrodite, membuat semua yang ada di ruangan itu menoleh kepada pria cantik itu.

"Apa yang kau maksud dengan 'sudah kuduga' itu?" sahut Aldebaran yang berdiri disebelah Aphrodite, Aphrodite menelengkan kepalanya dan tersenyum pada Aldebaran.

"Sudah kuduga aku, tak bisa mengandalkan ghost sialan itu" katanya sambil menyeringai

"Aldebaran! Menjauh darinya!" teriak Adder tiba-tiba. Lecca langsung bereaksi dengan teriakan Adder, tak berpikir panjang dia langsung berlari melewati Adder, tapi Adder menariknya cepat segerombolan akar berduri yang menjalin satu sama lain muncul dari lantai batu, Shura ditarik Aiolos dan Shion serta Mu menamengi Athena, akar berduri itu merambat naik menjebak, Milo, Aiolia, Aldebaran, Dohko dan Saga.

"Lepaskan aku Adder!" berontak lecca

"Tidak! Duri itu beracun kau tak bisa selamat dari duri kepunyaannya" balas Adder keras, sambil melihat kearah Aphrodite yang sekarang berubah menjadi sosok Murmur.

"Milo, Aiolia!" teriak Athena dia juga mau menerobos pertahanan yang dibuat Mu dan Shion.

"Jangan yang mulia, anda dengar tadi Adder bicara apa? Akar itu beracun!" ujar Shion

Aiolos dan Shura bagai terpaku ditempatnya.

"Lepaskan aku!" jerit Lecca lagi, "biarkan! Biarkan aku menyelamatkannya!" ditengah akar yang terus merambat naik dia bisa melihat Saga, Aiolia dan Milo dililit akar dan bergelut berusaha melepaskan diri, terdengar tawa keras dari Murmur

"Saga..Saga...Saga!" teriak Lecca putus asa, Adder erat sekali memeganginya, dirinya dibungkus rasa takut yang sangat amat, inilah yang dia takutkan, kehilangan Saga, tidak ini tidak akan terjadi, satu persatu Lecca mendengar jeritan para gold saint, Milo, Aiolia, Dohko, Aldebaran, Saga. Putus asa, Lecca masih mencoba meraih Saga.

"Tidak..tidak ini tidak boleh terjadi Adder tidak!" ratap Lecca airmatanya berderai-derai di pipinya, dia melihat Saga terkulai disangga akar yang melilitnya baru berwarna madu melayang beberapa senti dari dadanya, kemudian batu itu melayang dan mendarat di telapak tangan Murmur, di tangannya juga ada lima batu lagi.

Akar itu masih membuat perlindungan untuk majikan mereka, dengan mengeliat-geliut di tubuh Murmur. Adder menggeretakkan giginya, matanya terus mencari celah untuk melancarkan serangannya dan mengambil kesempatan untuk melumpuhkan Murmur, tetapi dia tak melihat celah lemah itu.

"Bagaimana Lecca?" ejek Murmur

"Serahkan batu itu!" seru Lecca, masih mencoba melepaskan diri dari Adder.

"Ambilah, kalaun kau bisa melewati akar ini" tantang Murmur dengan pandangan mencela

"Kurang ajar!" maki Shura dia maju nekat melewati akar itu, tapi Aiolos langsung menariknya.

"Jangan gegabah!" mata Aiolos menatap tajam kearah Murmur, "memang itu yang diinginkannya Shura"

"Rupanya kau sedikit lebih pandai daripada Athena, Saint Sagitarius, sama seperti Draco. Yah, tentunya saat dirinya belum menjadi seorang yasha" kata Murmur

"Excalibur!" seru Shura melancarkan serangannya, tetapi bahkan pedang excalibur miliknya yang dijuluki pedang tertajam tak dapat memotong akar yang bakan kelihatan sangat rapuh

Murmur berdecak mengejek, "kau harus gunakan lebih dari excalibur untuk memotong akar-akar ini, tuan Shura" ucap Murmur sombong

"Oh ya?" sahut Aiolos, dia terlihat tenang meskipun tangannya sudah berkeringat, dia mencoba mengikuti saran Lecca, untuk tidak memperlihatkan perasaannya, kelemahannya, ketakutannya di depan demon atau ghost, seperti yang sekarang di lakukan Adder, Aiolos tahu Adder sedang membidik sesuatu dan sepertinya dia sudah menemukannya, Aiolos mengerling Adder mata mereka bertemu.

'Seranglah disaat yang tepat aku akan megulur waktu' mata Aiolos seakan mengatakan itu, Adder mengangguk pelan.

Sementara Murmur terus diajak bicara dengan Aiolos, lama-lama demon satu ini memperkendur pertahanannya.

"Disana!" seru Adder, "venom struck!" Adder melancarkan serangannya, dan telak mengenai punggung Murmur, "Shura sekarang!" perintah Aiolos langsung saja Shura menebaskan excalibur miliknya, mambuat luka menganga di dada murmur, darah hitam memuncar, dia jatuh berlutut, sambil memegangi dadanya yang terus mengeluarkan darah, tenggorokannya terasa di cekik, racun Adder mulai bereaksi, Murmur tahu benar siapa Adder, dan kekuatannya, akar-akar itu turun tenggelam kembali kedalam tanah, dan akar-akar yang melilit para gold saint, juga terlepas mereka berlima jatuh berdebam ke lantai batu.

Murmur terbatuk-batuk darah, dia melihat Adder mendekatinya dua pedang pendek itu siap sedia ditangannya.

Murmur tertawa pelan, "kau pikir kau sudah menang Lecca, Adder, dan kau sialan!" Murmur memandang Aiolos dan Shura, dia mengangkat tangannya, dan menepuknya ke lantai.

"Cih!" desis Adder dia berlari menyongsong Murmur, tetapi terlambat Murmur tenggelam kedalam tanah dan menghilang.

"Sialaaan!" maki Shura kesal, dia menjejak-jejak tanah tempat Murmur menghilang, lalu mengalihkan pandangannya kepada Lecca yang terduduk di samping Saga, pandangannya kosong menatap tubuh Saga yang tergeletak tak berjiwa, dia tidak histeris atau menjerit atau meratap seperti yang dia lakukan tadi, matanya dihiasi butir besar mutiara bening yang menggelinding cepat dari pipinya, tangannya mencengkeram erat ujung bajunya.

"Ini semua gara-gara kau!" tuding Shura, sambil menghampiri Lecca hendak melampiaskan kemarahannya, "dari awal aku tak setuju kalau kau mengumpulkan kami seperti hewan ternak begini!" celoteh Shura, "ini pasti rencanamu, untuk apa airmata itu hah! Kau hanya pura-pura sa..." kata-katanya terputus ujung pedang Hyperion hanya satu senti dari wajahnya,

"sekali lagi kau berceloteh, aku tak segan-segan membunuhmu dan menyerahkan birthstonemu dan juga gold saint yang tersisa pada Astarte paham!" ancam Adder, "kau dengar Shura, aku tak akan ambil peduli terhadap kalian lagi, cukup sudah kau mencelanya, kau tak tahu apa yang dia alami untuk sampai kemari" lanjut Adder masih menghunuskan pedangnya ke wajah Shura, "kalau bukan karena laki-laki itu!" teriak Adder dia menunjuk Saga yang tergeletak dengan pedang yang tadinya ada di wajah Shura, matanya berkilat-kilat.

Shura langsung membisu, Adder terlihat begitu menakutkan, Shura mengerling Lecca, kini gadis itu menangis tanpa suara di depan tubuh Saga yang semakin dingin, dan gold cloth miliknya berubah warna, sama seperti milik Shaka dan Deathmask.

"Shura" Aiolos menepuk bahu Shura, dan menggeleng pelan, pandangannya beralih ke Lecca yang masih menangis dalam diam. Aiolos mendekati Lecca dan berjongkok di depannya. Tangannya ragu ingin menyentuh bahu gadis itu tapi akhirnya tangannya sampai di bahu Lecca, Aiolos tersentak ternyata bahu Lecca bergetar keras meski tak terlihat sampai kau benar-benar memegangnya, Aiolos meremas pelan bahu Lecca. "Lecca?" panggilnya lembut, tetapi Lecca hanya terdiam seperti tadi, dia masih memandangi saga, sepertinya dia bukan berada di dunia ini lagi, dia tahu bagaimana rasa hati lecca sekarang.

Aiolospun bangkit dan memberi Lecca sedikit ruang untuk menumpahkan semua kesedihannya, dia meninggalkan Lecca, Adder yang bertemu pandang dengan Aiolos menundukkan kepala sedikit wajahnya seakan berterimakasih pada Aiolos yang berbaik hati mau meninggalkan Lecca sendirian, Adder juga berpikir dia tidak akan mencegah Lecca menangis bahkan sebenarnya, Adder ingin Lecca menjerit, keras dan berteriak sekencang-kencangnya, supaya apa yang dirasakannya terlepas, tapi Lecca tidak melakukannya, walau airmatanya tak berhenti mengalir dan mentalnya hancur Lecca sama sekali tidak histeris, sebagai gantinya ia melukai dirinya dengan mengigit bibirnya sampai berdarah, Adder tak berani mendekati Lecca seperti yang dilakukan Aiolos, menurutnya akan lebih baik dia membiarkan gadis itu sendiri sampai dia benar-benar kuat kembali, Adder yakin itu mungkin yang terbaik buat Lecca.

Aiolos menghampiri Athena yang kini duduk di kursi besarnya masih menunduk, wanita yang satu ini juga bersedih, mungkin tidak sesedih Lecca, dia memandang saintnya yang tersisa, Mu, Aiolos, Shura bergantian. Lalu memandang Shion.

"Apakah ada kabar dari Camus?" tanya Athena

"Belum" jawab Aiolos

"Kita harus memastikan kabar Camus secepatnya, dan Shion " kata athena sambil menyandarkan pungungnya ke kursi yang di dudukinya, "panggil dia kembali"

"Dia?!" ulang Shura

"Kau pasti siapa tahu siapa 'dia' yang kumaksud Shura" balas Athena

"Anda mau minta tolong padanya"

"Kita kekurangan orang, hanya dia bala bantuan yang sejajar dengan Saga, jangan kau lupakan itu Shura" sela Shion

"Memangnya dia mau kembali kemari?" tanya Mu

"Kalau Athena yang memanggilnya dia pasti akan datang, meski aku tahu dia lebih tak patuh daripada kakaknya" ujar Shion

"Dia pasti mau datang" Aiolos menyakininya.

Athena menghela nafas, dan kembali mengerling ke Lecca, yang masih teronggok bersama jasad Saga.

"Kembalikan jasad mereka ke istana mereka masing-masing, kita juga harus mencari tubuh Aphrodite" perintah Athena, dia bangkit dari duduknya dan menghilang dibalik tirai di belakang singgasananya, Pope Shion mengekor dibelakangnya.

"Aku akan mengembalikan Saga lebih dahulu dan akan kembali lagi untuk mengambil Aiolia" jelas aiolos

"Kalau begitu aku akan mengantar, Dohko dan Milo" kata Shura

"Aku akan mengantar Aldebaran" Mu mengangkat tubuh besar Aldebaran dengan mudah, Shura langsung menggotong Dohko dan Milo dikedua bahunya.

"Biar aku yang membawa Aiolia" tawar Adder

"Tidak, Aiolia bisa menunggu" tolak Aiolos, membuat Adder menaikkan sebelah alisnya, "Kau harus membawa Lecca" tambah Aiolos

Adder tak membalas ucapan Aiolos, mereka berdua mendekati Lecca, tanpa berkata apa-apa, Lecca layu seperti bunga, lemas ketika Adder menyingkirkannya dari atas tubuh Saga, dia sudah tak menangis tapi kini seperti mayat hidup.

"Siap?" tanya Aiolos dia menggendong Saga, Adder mengangguk dan menggendong Lecca, gadis itu menurut saja ketika Adder mengangkatnya, dan merekapun berjalan menuju istana Gemini.

Sesampainya disana Aiolos menidurkan Saga ditempat tidurnya, sedang Lecca di dudukkan di kursi besar yang tak jauh dari ranjang tempat Saga terbaring, sekali lagi Aiolos mendekati Lecca, dan berjongkok di depannya, dia meraih tangan Lecca yang kini sedingin es.

"Lecca" panggil Aiolos, masih Lecca terdiam tak memandang Aiolos, Saint Sagitarius itu mencondongkan tubuhnya dia memegang kedua pipi Lecca dan mengarahkan wajah Lecca hingga mereka berpandangan, "pandang aku Lecca!" ujarnya sedikit memaksa

Walaupun Lecca memandang wajah yang ada di depannya tapi ia belum sepenuhnya sadar.

"Aku membutuhkanmu Lecca!" seru Aiolos, "hanya kau yang tahu dimana Astarte berada, kau dengar?! Aku membutuhkanmu, kita masih bisa...kita masih bisa merebutnya kembali"

Ada sinar yang muncul dimata Lecca yang kosong, wajah Aiolos dan suaranya sudah menggapainya kembali, menggapainya dan menariknya dari keputusasaan hatinya.

"Aiolos?" ucap lecca pelan

"Kau paham Lecca, aku butuh dirimu, kita masih punya waktu untuk merebut kembali semua birthstone itu, Saga menunggumu di tempat Astarte, dan hanya kau yang tahu dimana Astarte" kata Aiolos, masih memegang pipi Lecca.

Lecca menggenggam erat dua tangan Aiolos yang ada di pipinya

"Kau masih memercayai diriku?" tanya Lecca, "setelah apa yang kuperbuat? Akulah yang mencelakakan kalian!"

"Itu bukan kesalahanmu Lecca dan aku percaya padamu" balas Aiolos lembut

Perkataan aiolos itu membuat Lecca tertunduk dan berlinang airmata, Aiolos mengangkat wajah Lecca, dengan tangannya dia menghapus airmata Lecca, Lecca tersenyum melihat wajah Aiolos, dia menyadari wajah pria ini begitu mirip dengan adiknya Aiolia, lalu ia tertawa pelan.

Aiolos tersenyum simpul matanya hangat menatap Lecca, dia paham sekarang kenapa adiknya begitu menyanyagi gadis ini, dia bangkit dari jongkoknya, melepas tangannya dari pipi lecca, dia memandang lecca sekali lagi dan berbalik meninggalkan Lecca. Keluar dari ruangan itu.

Aiolos bertemu dengan Adder di aula istana Gemini pria bermata ular itu menyandarkan sebelah bahunya pada pilar yang berdiri dekat taman tengah istana Gemini, sambil melipat tangannya, matanya mengikuti bunga sakura yang jatuh berguguran.

"Aku sudah selesai" tegur Aiolos, membuat Adder terenyak, lalu menoleh pada Aiolos.

"Terima kasih" kata Adder singkat

"Untuk apa?" tanya Aiolos

"Menenangkannya" Adder melihat adegan pegang pipi tadi dan kalimat yang diucapkan Aiolos pada Lecca.

"Kau cemburu?"

"Tidak, hanya saja aku tak berpikir untuk mengeluarkan kata-kata seperti dirimu" ujar Adder dia mendengus.

"Aku malah membiarkannya sendiri" tambahnya, Adder melihat tangannya dan mengepalkannya, terlihat sedikit kesal, Aiolos memandang Adder lekat-lekat sepertinya ada yang mengganjal dihati adder yang ingin dia katakan namun tak juga keluar dari mulutnya, Aiolos berpendapat pada dirinya apakah hal ini perlu dia tanyakan pada Adder, sebuah pertanyaan yang terlalu bodoh menurutnya, tetapi kalau tidak ditanyakan dirinya yakin perasaan itu hanya tenggelam didasar hati adder atau menguap begitu saja atau menjadi batu dalam hati adder, setelah menimbang-nimbang akhirnya Aiolos buka mulut.

"Adder...apa kau mencintai Lecca?"

Spontan Adder langsung menoleh, matanya terbelalak mendengar pertanyaan yang diajukan Aiolos.

"Maaf ini mungkin pertanyaan yang bodoh tapi, aku ingin mengetahuinya" kata Aiolos buru-buru, melihat reaksi Adder

Adder masih menatap Aiolos tapi wajahnya tak sekaget tadi, tapi ia tersenyum seakan jawaban atas pertanyaan itu adalah hal yang memalukan.

"Apa itu penting aku jawab Aiolos?" Adder balik bertanya

"Ya" balas Aiolos singkat.

"Kalaupun" Adder kini mengalihakan pandangannya ke arah taman, "cinta itu ada maka dia tak perlu mengetahuinya, toh dia sudah menetapkan pilihannya" ucap Adder pelan.

Aiolos menepuk bahu adder "pergilah temui dia" seraya pergi meninggalkan istana Gemini. Adder memandangnya sampai sosok Aiolos hilang dari pandangannya, lalu menghela nafas, iapun melangkah menuju kamar Saga, sampai di depannya dia meraih kenop pintu dan membuka pintu kamar itu, ia menemui Lecca masih duduk di tempatnya, gadis itu tak memalingkan wajahnya menatap Adder, matanya masih terpaku pada jasad Saga yang terbaring di depannya.

Merasa dirinya tak diperlukan Adder membalikkan badannya dan meraih kembali kenop pintu.

"Mau kemana kau?" tanya Lecca, tangan Adder berhenti beberapa senti dari pintu dan menoleh ke Lecca, gadis itu kini memandangnya.

"Kupikir kau butuh waktu untuk sendiri dan..."

"Kau pernah bilang padaku Adder" potong Lecca, "kau pernah bilang padaku kalau kau akan ada disisiku dan meminjamkan bahumu untukku bersandar, saat aku membutuhkanmu"

"Aku ingat itu, Lecca"

Lecca berdiri dari duduknya, "aku membutuhkan bahu itu sekarang" katanya, Adder berjalan mendekati lecca dan berdiri tepat di depan gadis itu, Lecca mendongakkan wajahnya, Adderpun merentangkan kedua tangannya, merengkuh Lecca dan menjatuhkan dalam pelukannya, tangan Lecca menelusup di pinggang Adder yang ramping dan kuat, otot Adder terasa nyaman di pipi Lecca, bahunya yang tegap membuat Lecca menjerembabkan wajahnya lebih dalam di bahu adder. Adder membelai rambut Lecca lembut, sesekali mencium rambut Lecca.

"Terimakasih adder" bisik Lecca

Adder tak menjawab, pelukannya semakin erat.