Chapter 10 - "Pizza"

BTS Jimin X Reader || Marriage-life, Fluff || R || 405 words

.

.

.

"Blog lagi?"

Park Jimin muncul bersama sekotak pizza yang baru saja datang setelah dipesannya. Pria itu kini mengistirahatkan pinggulnya di atas sofa, turut duduk dengan menyandarkan kepalanya pada bahuku. Tidak kujawab pertanyaannya, karena kuyakin ia sudah tak butuh lagi begitu pandangannya tertuju pada layar komputer portabel di atas pahaku seraya mengecap potongan pizza pertamanya.

Seperti babi, dia banyak makan belakangan ini. Tidak apa-apa, sebab akan lebih mengkhawatirkan jika dirinya tidak selera makan. Tidak masalah jika dia berubah menjadi gendut, aku mencintainya, dan perasaan yang telah tercetak permanen dalam dadaku itu takkan luntur begitu saja hanya karena biku-biku ototnya memudar. Di mataku ia akan tetap tampan melebihi pangeran dalam dongeng sekalipun.

Kulengokkan kepalaku padanya, masih bersantai pada bahuku dengan mulut yang penuh, dia membalas tatapanku, tampak bahagia dengan makanannya. Seusai itu aku kembali membuat keributan kecil dengan jariku yang bergerak diatas papan tombol. Ada beberapa artikel yang harus kuselesaikan malam ini.

"Terpujilah tuan yang menemukan cara pembuatan pizza dulu," ujarnya. "Ini hanya roti, bukan? Hanya saja diberi sedikit daging dan saus, mengapa bisa lezat begini? Aku sungguh jatuh cinta. Aku sangat menyukai pizza. Pizza, apa kau ini datang dari surga?"

Apa-apaan babi ini sekarang? Mencerocos tiada henti menyanjung makanan. Membuatku cemburu saja. Ia bahkan tidak berhenti membicarakan pizza dan makanan lainnya selama itu, berisik dan agak menganggu rasanya. Tidak terhitung berapa kali aku melakukan kesalahan dalam mengetik akibat celoteh tak berujungnya.

"Kamu mau potongan terakhir pizzaku? Ini enak, cobalah," Jimin mencoba menjejalkan makanannya pada mulutku, sedangkan aku meminggirkan kepala untuk menolaknya.

"Aku tidak lapar."

"Yesss, terima kasih, Tuhan," syukurnya yang kemudian melahap makanan itu sendiri, terlihat begitu gembira karena tak perlu berbagi pizza tercintanya padaku.

Aku menepuk dahi, "Kalau kamu masih mau, kenapa ditawarkan kepadaku?"

Jimin mengecap lebih cepat, buru-buru melembutkan apa yang ada dalam rongga mulutnya agar dapat segera ditelan dan dapat segera bercakap. "Karena aku menyukaimu lebih dari pizza."

...menjadi hening.
Tapi aku tidak dapat menahan senyumku. "Apaan, sih."

Melihat aku yang jadi malu Jimin tertegun sejenak sebelum akhirnya tertawa, dia hanya mengatakan yang sebenarnya, tidak sadar bahwa kalimat yang baru saja ia ucapkan itu terkesan gombal romantis hingga membuat ratusan kupu-kupu dalam perut istrinya menggila. Jimin merangkulku, menggelitik daguku dengan gemas. "Apanya, sayang? Kenapa kenapa kenapa?"

Masih dengan senyum yang gagal kutahan, pun rona merah yang tak dapat kukendalikan, aku meletakkan laptop di atas meja sehingga aku dapat membalas gelitikannya. Menggelitik perutnya, ingin membuat pria menyebalkan ini kegelian sampai mati.

Sial, artikelku terbengkalai.

~fin