pake aplikasi kok malah gak beraturan sih... kedua kalinya coba pake dan kedua kalinya juga kecewa... ewww...
_
_
Bagian 10
--
--
Paginya aku merasakan mataku berat, bahkn tubuhku seperti akan meriang. Ini tak bagus, jangan bilang kejadian semalam membuatku stres dan terkena demam. Lucu sekali.
"Huffft..." Aku beranjak dari ranjang. Tadi malam aku mengabaikan Karin yang pasti juga mengabaikanku. Aku tahu kami bertengkar dalam diam. Mungkin seperti ini yang disebut perang dingin?
Dan seharusnya aku tahu jika pagi ini alu tak mungkin bisa dengan mudah mengabaikan teman satu rumahku itu. Tidak, kemarahan tak jelasku sekarang tidak terlalu terasa. Hanya sedikit menyisalan rasa enggan.
"Pagi Sakura." Akhirnya dia yang menyapa lebih dulu. Kami sering bertengkar, karna hal sepele tentu saja. Dan Karin selalu menjadi pihak yang menyapa terlebih dahulu terlepas dari siapa yang salah atau benar. Ini hanya karna sifat burukku sebagai seorang introvert yang tak bisa memulai lebih dulu. Kalian bisa menyalahkanku.
"Pagi." Lirihku. Dengan canggung aku menuang air putih ke dalam gelas dan meminumnya.
"Ku pikir kita perlu bicara." Ucapnya yang membuat tubuhku meremang. Dia selalu terlihat lebih dewasa dariku setiap ada masalah diantara kami. Tentu saja ini menjengkelkan.
"Kau harus pergi mengajar." Gumamku menggelengkan kepalaku malas-malasan.
"Jamku hari ini dimulai pukul sembilan. Jangan khawatir." Aku menahan erangan jengkelku. Aku sungguh belum siap membicarakan hal sialan tadi malam. Tapi bukankah seharusnya aku tahu jika Karin tak pernah menunda dalam menyelesaikan masalah. Karin memang seperti itu. Dia bukan tipe orang yang akan memendam entah itu perasaannya atau kemarahannya.
"Apa?" Gumamku meraih kursi dan duduk dihadapannya.
"Kau marah padaku karna aku mencium Sasuke?" Aku merasakan otot-ototku menegang mendengar pertanyaannya. Ini bukan hal mengejutkan. Karin memang orang yang selalu berterus terang.
"Aku tak punya hak untuk marah." Gumamku. Dan aku cukup terkejut mendengar nada sinis dari ucapanku.
"Baguslah kalau kau sadar." Acuhnya yang membuatku ingin menjerit marah. Tapi tentu saja aku menahannya. Konyol sekali jika marah karna hal yang tak jelas. Aku tak memiliki alasan kuat. "Aku ingin marah karna kau bersenang-senang dengan Sasuke dibelakangku. Bahkan kau berkali-kali pergi makan... atau sebut saja itu berkencan... dengannya dan tak mengatakan apapun padaku." Aku diam. Perasaan bersalah itu memang ada. Namun tertutup oleh perasaan marah mengingat ciuman Karin tadi malam.
"Ini sangat menggelikan. Aku menceritakan segalanya padamu seperti orang gila sementara kau bisa tertawa mengejek karna jelas Sasuke selalu bersamamu." Bukan seperti itu. Aku bahkan sudah berusaha mendorong Sasuke menjauh. Tapi aku tak ingin menjelaskan apapun, karna itulah aku hanya diam mendengarkannya. Sejujurnya aku bukanlah seseorang yang akan bersusah payah mengklarifikasi sesuatu.
"KATAKAN SESUATU!! KAU SENANG MELIHATKU SEPERTI ORANG GILA MENCERITAKAN BETAPA AKU MENGHARAPKAN SASUKE YANG JUSTRU SELALU BERSAMAMU?!" Aku tersentak mendengar teriakan frustasi Karin. Bahkan bulir-bulir air mata mulai merebak menyelimuti manik rubynya.
Mulutku terbuka tertutup berusaha mengatakan sesuatu. Tapi apa? Aku bahkn tak tahu apa yang harus aku katakan. Aku terlalu bingung menyampaikan apa yang ku rasakan.
"Kau pasti melihatku seperti orang tolol." Isaknya akhirnya setelah tak mampu menahan air matanya.
Aku mengepalkan tangan dibawah meja. Tak ada kata yang bisa aku rangkai. Sejujurnya aku tak memiliki keinginan menghiburnya, membela diri atau apapun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang harus aku lakukan. Ya, aku hanyalah seorang introvert menjengkelkan.
"Harusnya kau bilang padaku jika Sasuke mengatakan suka padamu. Harusnya kau bilang padaku jika Sasuke selalu bersamamu. Harusnya kau bilang padaku... hiks...hiks.." Aku menahan diri entah dari apa. Yang aku tahu, aku tak mungkin menyakitinya dengan mengatakan Sasuke menyukaiku sementara dia sedang semangat melakukan pendekatan. Bagaimana mungkin aku bisa mengatakan Sasuke selalu bersamaku selagi dia bahkan menginap dirumah orangtua Sasuke. Apapun yang ku lakukan, pada akhirnya tetap saja aku menyakitinya. Dan bagian paling menjengkelkannya adalah aku tetap gagal mengeluarkan sepatah katapun.
"Kau bodoh. Kau membuatku seperti orang bodoh. Apa sebenarnya yang ada dikepalamu? Kita bahkan sudah melewati lebih seribu hari bersama dan kau mengacaukannya hanya karna hal seperti ini." Karin berusaha menghapus air matanya dan menatapku. Tepat dimataku. Dan aku hanya fiam mematung dengan segala perasaan yang bergejolak menjadi satu.
"Sasuke mengatakan semuanya padaku. Tentang kalian. Semuanya."
"Eh?" Aku gagal memberi respon yang lebih baik dari ini. Padahal aku sungguh terkejut.
"Aha ha ha kau memang introvert menyebalkan." Kekehnya yang justru membuatku semakin linglung. "Aku masih membencimu, asal kau tahu. Tapi yang perlu kau ingat, aku masih menomorsatukan diriku sendiri. Kau pikir aku seputus asa itu sampai menyia-nyiakan waktuku demi mengejar orang yang terang-terangan tidak menyukaiku. Aku cantik, pintar, supel dan yang jelas bukan introvert sepertimu. Masih banyak lelaki tampan diluar sana yang siap menjadi jodohku..."
"Karin..." Gumamku masih tak percaya mendengar semua ocehannya. Aku justru ingin bertanya apa sebenarnya isi kepalanya?
"Apa? Setengah isi dunia ini pria. Kurang kerjaan sekali aku menyia-nyiakan waktuku untuk berebut satu pria. Yang membuatku jengkel adalah ketidaktahuanku tentang kalian. Itu membuatku seperti orang bodoh mengejar-ngejar Sasuke. Memalukan sekali." Gerutunya mencebikkan bibirnya.
"Kau tidak marah?"
"Tentu saja marah! Kenapa juga kau harus menyembunyikan kedekatanmu dengan Sasuke?" Karin menarik pipiku hingga terasa sakit.
"Tapi ku pikir ..."
"Makanya, berhentilah menonton sinema tak jelas yang selalu melebih-lebihkan masalah." Gerutuannya justru membuatku bernafas lega. Benar, seharusnya aku tahu jika memang inilah Karin. Seperti katanya, dia cantik, pintar dan supel. Mana mungkin membuang-buang waktunya mengejar hal yang jelas merugikannya.
"Oke. Aku harus mandi dan bekerja." Karin bangkit dari duduknya.
"Tunggu, lalu kenapa kau berciuman dengan Sasuke tadi malam!?" Jengkelku. Dan aku semakin mengerang jengkel melihatnya menaikkan sebelah alisnya dan menyeringai.
"Tentu saja menjilat cupcake manis lebih dulu dari pemiliknya adalah hal menyenangkan." Ucapnya disertai tawa lebar yang menjengkelkan.
Aku menggerutu melihatnya dengan santai masuk ke kamar mandi. Ch... untung saja aku sudah lebih dulu berciuman dengan Sasuke. Dasar Karin menyebalkan.
Menghela nafas lega, aku memilih masuk ke kamarku. Senyum manis terulas begitu saja dibibirku. Aku senang. Karin tak marah dan kemungkinan Sasuke benar-benar akan menjadi milikku.
Jika mengingat kelakuan dan pemikiran berlebihanku kemarin, rasanya sungguh memalukan. Aku mengerucutkan bibirku. Karin itu memang akan selalu menjadi yang terbaik. Diantara Sasuke dan Karin tentu saja tak bisa disamakan. Mereka memiliki posisinya masing-masing. Ah apa aku harus berterima kasih pada Sasuke karna sudah menceritakan segalanya pada Karin?
"Heee ada yang sedang senang?" Komentar Ayame saat melihatku bersenandung sembari membersihkan salah satu meja.
"Ehe he he." Cengirku tanpa menjawab pertanyaannya.
"Apa? Apa?"
"Apanya?" Tanyaku tak paham melihat Ayame menempel-nempel padaku.
"Ayolah, jangan pelit berbagi kebahagiaan." Rengeknya yang justru membuatku tergelak.
"Kerja yang benar. Kalian menakuti pelnggan." Komentar Neji yang langsung membuatku merengut. Tapi hanya satu detik, Neji benar-benar tak bisa menghapus senyumku hari ini.
"Akan ku ceritakan nanti." Janjiku pada Ayame.
"Benar loh." Aku mengangguk-angguk berjalan ke arah pintu sementara Ayame membawa piring kotor ke dapur.
"Selamat datang." Sapaku riang pada pelanggan kesekian kami hari ini.
Perasaan senang itu sangat amat membantu. Membuat pekerjaan terasa ringan dan menyenangkan. Membuatku tetap tersenyum meski mendapat omelan menyebalkan dari Neji atau celetukan sinis dari Shion.
"Kemarilah putri yang sedang senang." Panggil Sora saat jam kerja kami habis. Aku terkekeh sembari mendekatinya. "Nah selagi pencicip nomor satuku sedang senang, ku harap kau akan memberikan komentar yang menyenangkan juga." Lanjut Sora menyuapkan Cake dengan wana pink dan oranye.
Rasanya perpaduan stroberi dan mangga. Sedikit aneh tapi enak. Sangat enak, Sora memang tak pernah gagal menyenangkn lidahku.
"Aneh tapi enak!" Ucapku mengacungkan dua jempol.
"Bisakah eliminasi kata 'aneh'nya?" Gerutunya yang membuatku terkekeh. "Jadi sekarang ceritakan apa yang membuatmu sangat senang." Sora menyodorkan sepiring cake didepanku lalu menopang dagu menatapku.
"Mmmmm cake ini enak." Ucapku setelah memakan satu sendok lagi. Sora tertawa.
Kali ini sesendok cake gagal mencapai mulutku karna seseorang melahapnya lebih dulu. Aku terkejut dan mendongak. Dan efeknya membuat panas tubuhku meningkat. Itu Sasuke.
"Hasil karyamu selalu enak." Pujinya pada Sora.
"Tidak ada lowongan untuk menjadi pencicip lagi sobat." Sahut Sora yang membuat keduanya tertawa mengabaikanku. Itu bukan masalah karna aku sendiri sibuk meredakan degupan jantungku.
"Kau belum akan pulang?" Tanya Sasuke lagi pada Sora.
"Masih harus membuat beberapa kali percobaan lagi. Bulan depan beberapa menu yang kurang baik penjualannya akan diganti. Dan itu berarti kerja keras untukku." Keluh Sora.
"Selamat berjuang kalau begitu. Dia aku bawa." Ucap Sasuke sembari menyeretku pergi.
"Aa perlakukan dia dengan baik, keponakan boss. Dia pencicip berhargaku." Teriak Sora yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Sasuke.
"Bye Sora." Ucapku.
"Jadi, kira-kira apa yang membuat pencicip berharga ini senang? Ku kira kau akan sedikit depresi mengingat tadi malam." Ucap Sasuke saat memasangkan helmku. Aku tertawa kecil. Detakan menggila itu menerjang jantungku lagi saat pikiranku mengusulkan hal nekad.
Sasuke mengangkat alisnya melihatku terkekeh senang. Tanpa menjawab pertanyaannya aku berjinjit dan mengecup bibirnya. Wajahku memanas. Tapi aku senang. Tidak ada yang perlu ditahan-tahan lagi kan?
"Wow Sakura. Ini benar-benar kejutan. Tapi sungguh, aku tak tahu apa yang terjadi padamu. Aku mengkhawatirkan kau dan Karin. Tadi malam aku dengan lancang menceritaka..." Lagi, aku berjinjit dan mengecup bibirnya.
Sasuke terdiam. Perlahan tangannya menutup mulutnya, lalu wajahnya dan dia tertawa. Aku menggigit bibirku senang melihat reaksinya.
"Sungguh, jangan membuatku terlalu gemas padamu. Ceritakan padaku apa yang terjadi." Sasuke memelukku. Helm ini mengganggu, tapi tak mengurangi rasa senangku.
"Mmm aku lapar, Sasuke." Gumamku.
"Baiklah tuan putri. Kita akan makan sebelum mendengarkan ceritamu." Aku terkekeh mendengar jawabannya.
--
_
tbc
~~
Keyikarus
25/10/2017
