"Mama, kapan Papa akan pulang?"

"Ziyu, ini pertanyaan yang kelima puluh delapan dalam waktu kurun setengah hari."

"Mama, kapan Papa akan pulang?"

"Lima puluh sembilan."

"Mama, kapan papa akan pulang?"

"Demi Tuhan, Oh Ziyu, Mama sedang sibuk. Ini yang keenam puluh, omong-omong."

"Wah, aku memecahkan rekor!"

"Mama bekerja keras membersihkan rumah sementara tongkat sihir itu nganggur," sebuah suara berat menginterupsi Luhan dan Ziyu dari belakang. Sosok cowok jangkung, bermata sipit, dan berbahu bidang, menatap keduanya dengan tatapan kelewat datar. "Lagipula, untuk apa membersihkan rumah? Toh nanti juga kotor lagi. Ziyu pasti akan bermain dengan jembalang di kebun dan membawa mereka ke sini."

"Aku bukan anak kecil, Haohao. Aku tidak mau bermain dengan jembalang lagi. Mereka menjijikkan," Ziyu bergidik ngeri. Haowen tampak tidak peduli.

"Papa akan pulang siang ini. Jadi usahakan rumah bersih," jawab Luhan. "Uh... soal tongkat sihir... Mama... tidak tahu mantra yang cocok untuk membersihkan semua kekacauan ini," laki-laki cantik itu menunjuk serbuk tepung yang berceceran di lantai, keju leleh yang tumpah dan mengeras, dan pemanggang yang berwarna gosong.

"Coba Reparo. Itu mantra efektif."

Luhan menepuk dahinya. Profesor Jinwoo, guru Mantra di Hogwarts, pernah mengajarinya mantra itu saat kelas dua. Dia kadang merasa malu terhadap anaknya sendiri, yang kecerdasan otaknya jauh di atas rata-rata, berbeda dengan Luhan yang bahkan kesulitan menyebutkan kegunaan dari Mantra Panggil. Setelah membereskan kekacauan yang diperbuatnya (dia bersumpah tidak akan membuat pai keju menggunakan cara Muggle lagi), dia pergi mandi, sementara kedua anaknya sibuk bermain di halaman belakang.

Suaminya akan pulang hari ini. Bekerja di Departemen Hubungan Sihir Internasional membuat Sehun jarang berada di rumah. Dan musim panas tahun ini, Sehun tidak ada jadwal apa-apa, sehingga dia akan pulang ke Seoul dan menghabiskan waktu sampai Haowen dan Ziyu kembali ke Hogwarts. Luhan mematut diri di cermin; kemeja abu-abu kebesaran dan celana biru gelap, dia sengaja memberikan sedikit warna merah di bibir dan pipinya, supaya terlihat lebih segar. Oke, sudah tampan, lebih tampan dari hari-hari biasanya—dia benci mengakui bahwa dia terlihat sangat cantik saat ini.

"Aku pulang."

Perkataan itu diucapkan tepat setelah terdengar bunyi pop keras. Luhan sontak menoleh ke belakang, tersenyum lebar melihat wajah tampan suaminya. Tanpa aba-aba, Sehun langsung menciumnya lalu memeluknya erat.

"Apakah berlebihan jika aku menangis sekarang?" tanya Luhan di dalam dekapan sang suami.

"Dan kenapa kau menangis?"

"Aku rindu padamu," suaranya pecah. "A-aku... aku..."

"Sayangku," Sehun mengecup dahi Luhan sambil tetap memeluknya. "Maafkan aku. Maafkan aku karena sudah membiarkanmu tidur sendirian. Aku mencintaimu."

Mereka berpelukan selama hampir setengah jam. Luhan menangis tanpa suara, diam-diam merutuki sikap kekanakannya dalam hati, malu sekali, namun rasa rindunya terhadap Sehun lebih kuat daripada gengsinya. Sehun membopongnya ke kamar, mengunci pintunya. Luhan langsung mengangkat kepala, menatap nanar pintu yang terkunci itu, tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

"Tidak, tidak, aku tidak akan melakukan itu," kata Sehun, seolah dapat membaca pikiran Luhan. "Kita akan tidur. Tunggu aku berganti baju dulu. Mulai sekarang, kau tak akan tidur sendirian lagi, Sayang. Aku berjanji."

Dan siang itu, mereka tidur berpelukan.


"Padahal kita belum sempat bertemu Papa," ujar Haowen sambil membalik halaman bukunya.

"Mereka sedang apa ya, di kamar?" tanya yang cewek, yang sedang asyik melamun.

"Tidak mungkin mereka membuat adik untuk kita."

"Haohao, itu jelas tidak mungkin. Mama akan sangat kerepotan jika ada adik kecil di antara kita."

"Ini sudah malam, dan bahkan Mama belum masak makanan," Haowen mendengus. "Masa kita makan ramen lagi?"

"Mereka pasti keasyikan di dalam sana," Ziyu ngelantur.

"Ziyu, sudah kubilang mereka sedang tidak membuat adik untuk kita," tegas Haowen.

"Sehun... ngh... lebih kuat..."

"Terus, sayang... ngh..."

"H-hampir sampai, di sana..."

Ah, sepertinya keberuntungan tidak sedang berpihak pada Haowen.


"Sehun... ngh... lebih kuat..." Luhan mendorong lemari baru itu sekuat tenaga.

"Terus, sayang... ngh..." di sebelahnya, Sehun juga sedang berusaha membuat lemari itu setidaknya bergeser lima senti lagi.

"H-hampir sampai, di sana... NAH!" Luhan tersenyum puas ketika lemari berhasil diletakkan di pojok ruangan. Sekarang, dia tidak perlu pusing ingin menaruh buku-bukunya di mana.


we going Kokobop.

down down baby.

review?