The Vague Heart
Disclaimer of Masashi Kishimoto
Story By Rina Apple
Warning : Cerita abal-abal, penuh typo
ΩΩΩ
Summary :
Haruno Sakura, cantik, kaya, cerdas, dan memiliki segalanya, suatu malam menghabiskan waktu di sebuah bar dan pagi harinya ia terbangun di kamar sebuah apartement. Kesal dan marah terhadap orangtuanya yang menjodohkannya dengn pria asing, sakura memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya dan menjadi orang lain untuk menenangkan diri. Bagaimana kehidupan Sakura ketika mengetahui bahwa lelaki pemilik apartemen tempat ia bangun adalah seorang duda yang dingin, arogan, dan tidak lagi tertarik terhadap wanita?
PART X : DINNER
SAKURA POV
Kau tau, apa hal yang paling memalukan di dunia ini? bagiku, hal yang paling memalukan di dunia ini ketika aku menemukan diriku tidak dapat menguasai diriku sendiri dan tanpa sadar memikirkan atau melakukan hal bodoh yang bertentangan dengan akal sehatku. Seperti pagi ini misalnya, aku kehilangan kendali atas diriku ketika mendapati aku terbangun dalam posisi yang ekstrim dengan Sasuke.
Damn! Bagaimana bisa aku tidur dengan posisi memeluk Sasuke begitu erat! Aku bahkan meletakkan kakiku di atas tuduhnya seperti yang kulakukan pada gulingku dan yang begitu memalukan aku merasa nyaman dengan hal itu! Lebih parahnya lagi ketika ia memojokkanku di pintu kamar mandi tadi, dengan sangat sadar aku mendesah ketika nafas hangatnya menyapu leherku. Demi Tuhan aku mendesah! Ini sudah keterlaluan. Jika aku masih ingin mengendalikan kewarasanku, aku harus menjauhi Sasuke. Berdekatan dengannya hanya akan membuatku dalam posisi yang memalukan.
"Sakuraaa,,,,,,,!"
Aku berjengit kaget ketika mendengar teriakan Ino di pintu kamarku. Penampilan Ino tampak kacau dengan wajah yang tanpa make up, baju yang acak-acakan dan,,, oh, apa itu? Ada bekas merah keunguan di lehernya! Dengan santai Ino berjalan menuju ke arahku tanpa melepaskan senyum menyebalkannya.
"apa?!" sahutku ketus mengingat apa yang telah dilakukannya padaku tadi malam.
Ino tertawa renyah tanpa rasa bersalah, dengan bersemangat ia memelukku dengan erat." Sakuraaa,,,, aku menemukannya!"
Aku mengerutkan dahiku ketika mendengarnya. "apa maksudmu? Menemukan apa?"
Ino merenggangkan pelukannya dan menatapku penuh binar." Aku telah menemukan pangeranku! Kurasa,,, aku jatuh cinta"
"HAAA?"
Jangan bercandaaa! Aku berteriak dalam hati. Bagaimana mungkin dengan mudahnya Ino berkata bahwa ia sedang jatuh cinta, setelah sekian lama aku berteman dengannya baru kali ini aku mendengar ia telah jatuh cinta! Padahal sejak kecil banyak yang secara terang-terangan menyatakan perasaannya pada Ino, dan sahabatku itu tidak pernah menerima satupun para lelaki itu. Dan sekarang dengan mudahnya ia bilang padaku ia telah jatuh cinta?
"bagaimana bisa? dengan siapa? Lalu,,, aarrrggghhhh! Cepat ceritakan semuanya padaku!" seruku tidak sabar.
"ehmm oke. Namanya Sai, dia,,,"
"apa? Sai?" aku tidak dapat menahan seruan ini keluar dari mulutku. Ketika mendengar nama Sai, aku jadi teringat kejadian tadi malam.
Ino mengangguk, ia tampak sedikit bingung. "kau mengenalnya?"
Aku menggeleng pelan." Tidak. Hanya pernah mendengar namanya saja. Lanjutkan ceritamu"
Ino mengerucutkan bibirnya, namun ia tetap melanjutkan ceritanya." Aku bertemu dengannya baru tadi malam di bar" sial. Wajah Ino merona ketika bercerita. "ketika aku keluar dari kamar mandi, aku sedikit mabuk, aku tidak dapat menjaga keseimbangan tubuhku dengan baik, hingga akhirnya aku terjatuh di lantai, namun sebelum tubuhku menyentuh lantai, ada yang menahan tubuhku. Dan katika aku memandangnya,,,, demi tuhan Sakura! Aku langsung terpesona. Ia bagaikan magnet dan aku tidak dapat mengabaikannya"
"lalu?" aku menaikkan alisku. Oke, cerita cinta Ino menjelaskan kejadian tadi malam, setidaknya aku tidak perlu lagi bertanya tentang hal ini.
"lalu,,, semanya terjadi begitu saja, kami berdansa dan tiba-tiba saja aku sudah berada di apartemennya" sial. Ino makin merona, aku penasaran, pasti ada sesuat yang terjadi. Sesuatu lain yang membuat Ino sampai merona seperti ini hanya dengan menceritakannya saja.
"ah ya, dan melupakanku tentu saja" cibirku. Ino hanya membalas dengan senyum malu-malunya.
"aku tidak tau apa yang terjadi, aku tidak ingat jika aku sedang bersamamu, saat itu yang kuinginkan hanyalah menghabiskan malamku bersamanya, dan dia,,,,,, begitu luar biasa"
"apa maksud nya dengan dia yang luar biasa?" oke. Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Melihat Ino yang hanya tersenym malu-malu membuatku terkejut. "Ino! Jangan bilang kalau kau sudah melakukan 'itu' dengan Sai!"
Ino makin melebarkan senyumnya. Ia tampak salah tingkah, dengan gugup ia menganggukkan kepalanya dan jari-jarinya yang memegang ujung bajunya. "aku,,, maksudku kami, memang melakukannya"
"demi Tuhan Ino! Kau menyerahkan keperawananmu pada lelaki yang baru semalam kau kenal? Yang benar saja!" aku langsung berteriak katika Ino menyelesaikan perkataannya. Aku marah, tentu saja. Aku tidak ingin sahabatku salah jalan dengan menyerahkan sesuatu yang begitu berharga pada seseorang yang tidak jelas, apalagi baru semalam Ino mengenalnya.
"aku,,, tidak tahu Sakura, itu terjadi begitu saja. Dan aku,,, tidak menyesalinya" lirih Ino masih dengan wajah tertunduk.
Aku mendesah frustasi. Ini buruk, lebih buruk dari masalahku sendiri. Aku harus menyelesaikan masalah Ino, dari nada bicaranya saja, aku yakin Ino tidak akan bersikap tegas pada Sai jika suatu saat nanti ada suatu masalah yang terjadi pada mereka.
"kau benar-benar menyukainya?" kemarahanku berangsur hilang dan kini beralih dengan rasa penasaran. Bagaimana sahabatku sang super model yang cantik dan populer bisa bersikap bodoh hanya dengan satu malam bersama seorang lelaki seperti Sai?
"aku mencintainya. Ini gila, aku tidak pernah merasakan ini sebelumnya, rasanya,,,,, sungguh menakjubkan" ucap Ino dengan mata yang berbinar. Sial, sepertinya Ino benar-benar menyukai lelaki ini, ini hampir sama denganku pada saat Sasuke menciumku, rasanya menakjubkan dan,,,,,,, oke. Stop! Pikiranku benar-benar sudah kacau.
"dia hanya seorang bartender. Kau seorang model terkenal Ino, Sai tidak mungkin bisa memenuhi kebutuhanmu" ini terdengar jahat, namun Ino harus mengetahui fakta ini. ino memiliki kehidupan yang mewah dan dengan pekerjaan Sai yang hanya seorang bartender, aku yakin hubngan mereka tidak akan mudah.
"aku sudah bilang jika aku akan berhenti jadi model" jawab Ino menopang dagunya, "lagi pula, aku yakin aku bisa menerimanya, uang bukanlah segalanya jika kau sudah menemukan hal yang lebih menarik dari itu"
Aku mendesah pasrah. "itu terdengar aneh jika kau yang mengatakannya Ino"
Ino terkikik geli. Matanya masih penuh binar ketika aku menggodanya seperti itu. "dari pada itu, apa yang terjadi padamu tadi malam?"
"tidak ada" aku tidak akan menceritakan apa yang terjadi padaku tadi malam pada Ino. Aku yakin ia tidak akan berhenti tertawa jika mendengar ceritaku.
Ino mengangguk paham. "lalu bagaimana hubunganmu dengan calon tunanganmu?"
Aku mendengus. Pengalihan pembicaraan ini sedikit menggangguku. Lagi-lagi tentang perjodohan menyebalkan itu, "entahlah. Nanti malam Gaara mengajakku makan malam"
"wow! Sepertinya itu menyenangkan"
"sayangnya aku tidak berpikir seperti itu" balasku acuh. Kurebahkan tubuhku di kasur dan memandang langit-langit kamarku. Disaat seperti ini entah kenapa pikiranku melayang pada Sarada. Aku benar-benar merindukannya, ia pasti kecewa padaku ketika aku meninggalkannya seperti ini. pasti ia sedang termenung di kamarnya sendirian ambil memandangi potret ibunya, berharap ia juga memiliki seorang ibu.
"sakura? Kau kenapa?" Tanya Ino yang kini berbaring disampingku.
"aku merindukan Sarada" jawabku pelan
"kenapa kau tidak menemuinya saja?" ucapan Ino menyadarkanku. Benar! Kenapa hal itu tidak terpikirkan sama sekali? Aku bisa menemui Sarada di sekolahnya dan menjelaskan padanya jika aku pergi bukan karena meninggalkannya. Mengetahui hal itu, tanpa sadar aku tersenyum, membayangkan Sarada akan menyambutku dengan pelukannya dan kami berdua akan menghabiskan waktu bersama seperti dulu.
"oke. Sekarang kau seyum-senyum sendiri" ino menaikkan alisnya ketika melihatku tersenyum.
Tanpa aba-aba, aku langsung memeluknya dengan erat. "terimakasih Ino,,,,, aku akan menemuinya besok"
"oke. Oke. Tapi lepaskan dulu!" seru Ino merengganggkan pelukanku. Aku hanya meringis dan pikiranku kembali melayang pada Sarada. Rasanya, aku tidak sabar menunggu hari esok.
ΩΩΩ
Ini menyebalkan! aku mengerucutkan bibirku sepanjang perjalanan ketika Gaara menjemputku untuk makan malam. Ketika ia mengajakku, aku tidak mengatakan iya tapi juga tidak, aku belum sempat memikirkannya, namun tiba-tiba saja setengah jam yang lalu Gaara ke rumahku dan dengan sopan meminta ijin kepada kedua orang tuaku untuk mengajakku makan malam. Kedua orangtuaku yang sejak awal sangat mendukung perjodohan ini, langsung memaksaku, dan aku yang tidak mungkin melawan hanya bisa pasrah dan kini berakhir di mobil ini bersama Gaara.
"maaf jika aku sudah mengacaukan malammu" suara Gaara memecah lamunanku. Kulirik Gaara yang tengah berkonsentrasi menyetir.
"tidak apa-apa. Ini bukanlah hal yang terlalu buruk" jawabku sekenanya. Aku tidak ingin memberikan kesan yang buruk namun aku juga tidak dapat melupakan kekesalanku padanya.
Gaara tersenyum tipis, "kau pasti akan menyukai makan malam ini"
Aku menaikkan alisku. Gaara terlihat percaya diri, dan ini membuat rasa penasaranku bangkit. "apa ada hal yang istimewa?"
Gaara makin tersenyum misterius " kita akan makan di restoran favoritku, kau tidak akan bilang tidak suka jika mencoba makanan disana. Aku jamin itu"
"hanya itu?"
Senyum Gaara berubah menjadi tawa yang ringan, ketika Gaara menghentikan laju mobilnya karena lampu merah, ia menatapku. Entah kenapa aku merasa gugup, tatapan Gaara mengandung keseriusan, hal yang tidak pernah kutemui selama mengenalnya.
"aku ingin membicarakan hal yang penting denganmu"
Aku menelan ludahku dengan susah payah. Jangan bilang jika Gaara akan membahas soal perjodohan ini, karena sejujurnya aku juga tidak tahu apa keputusanku. Gaara adalah orang yang baik, rasanya aku tidak akan tega jika mengecewakan orang sebaik dia, namun jika harus menerima perjodohan ini, rasanya ini bukanlah hal yang seharusnya. Aku juga tidak mengerti, kenapa aku belum merasa yakin dengan perjodohan ini, padahal seperti yang dikatakan Sasori, Gaara adalah sosok lelaki yang mungkin akan menjadi yang terbaik untukku.
Lamunanku buyar ketika Gaara kembali melajukan mobilnya membelah jalanan malam ini, selama perjalanan aku maupun Gaara terdiam. Aku sendiri tidak tahu harus memberikan respon apa. Aku masih bingung dengan semua ini. akhirnya Gaara menghentikan laju mobilnya di parkiran sebuah restoran yang sangat mewah. Dilihat dari bangunannya ini pasti restoran kelas atas, aku juga sering makan malam di restoran mewah dengan keluargaku, namun aku belum pernah ke pergi ke restoran ini. kami pun masuk ke dalam restoran, dan ketika aku memasuki restoran ini, mau tidak mau aku merasa takjub dengan desainnya. Dari luar tampak sangat modern dan high class, namun ketika memasukinya, aku merasakan kenyamanan dan keramahan tradisional. Restoran ini di desain dengan menggabungkan ciri modern namun juga menonjolkan tradisional. Aku benar-benar mengaguminya, ini menakjubkan.
"aku akan memesan meja dulu sebentar" ucap Gaara sambil tersenyum padaku.
Aku mengerutkan keningku. Jadi sebelum makan disini harus memesan meja dulu? Aku pun mengangguk dan Gaara berlalu. Aku kembali mengagumi interior restoran, ini sentuhan yang sangat berbeda dari restora-restoran yang sebelumnya pernah aku datangi. Aku sedikit tersentak kaget, ketika merasakan ada sesosok tubuh kecil yang menerjangku dari belakang, tampaknya ada yang secara tidak sengaja menabrakku. Setelah mendapat keseimbanganku, aku pun berbalik untuk mengetahui siapa yang telah menabarkku, dan ketika aku melihatnya aku terpaku. Rambut hitam dan mata onyxnya sangat familiar, apalagi dengan kacamata nya yang berbingkai merah, tapi,,, mungkinkah?
"bibi Sakura?"
Aku mengerjapkan mataku ketika mendengar suaranya. Ya Tuhan, ini benar-benar Sarada kah?
"Sarada?" aku menurunkan tubuhku untuk bisa menyamai tinggi tubuh Sarada, ia tampak sangat manis malam ini, gaunnya yang berwarna peach, sangat cocok dengan kulitnya yang putih. "apa yang kau lakukan disini?"
"aku sedang makan malam disini" jawab Sarada masih menundukkan kepalanya. "bibi Sakura kemana saja?"
Ketika aku akan menjawab pertanyaan Sarada, tiba-tiba saja ada seorang wanita paruh baya yang bergegas menghampiri kami, dan langsung menyentuh pundak Sarada dari belakang. Terlihat dari raut wajahnya yang tengah kawatir, rambut hitam panjangnya tampak sangat indah membingkai wajahnya yang putih, wanita ini sangat elegan dengan gaun panjangnya yang berwarna biru, sama seperti Sarada, wanita ini juga memiliki sepasang mata onyx.
"sayang? Apa yang sedang kau lakukan?"
Mendengar itu, Sarada langsung mendongakkan wajahnya ke arah wanita itu, tanpa berbicara sepatah kata apapun, Sarada memeluk kaki wanita itu, dan dengan lembut wanita itu membawa sarada dalam gendongannya.
"maaf? Apakah cucuku telah merepotkan anda?" Tanya wanita itu yang kini kutau adalah nenek Sarada. Aku sedikit tidak menyangka jika Sarada memilki seorang nenek yang masih muda seperti ini. jika wanita ini adalah nenek Sarada, mungkinkah wanita ini juga ibunya Sasuke?
"tidak. Sarada sama sekali tidak merepotkanku" jawabku sambil memasang senyum terbaikku.
Wanita itu balas tersenyum lembut, " kalau begitu, kami permisi dulu"
Tunggu! Aku ingin berteriak seperti itu, namun lidahku tetap diam. Aku ingin lebih lama bersama Sarada, aku sangat merindukannya, dan melihatnya malam ini semakin membuatku ingin dekat dengannya dan mendengarnya bercerita tentang apa saja yang terjadi selama aku tidak bersamanya. Aku yakin ia pasti sangat kesepian tinggal di apartemen itu bersama ayahnya yang dingin.
"nenek,,,,," suara Sarada terdengar lirih, dengan malu-malu Sarada mengangkat kepalanya menatapku kemudian beralih menatap neneknya. "aku ingin bersama bibi Sakura"
Perasaanku langsung berbunga ketika Sarada mengatakan ingin bersamaku. Aku juga, sangat ingin bersama Sarada dan menghabiskan waktuku bersamanya,setidaknya untuk malam ini, aku ingin lebih dekat dengannya.
"bibi Sakura?" wanita itu tampak menaikkan alisnya kemudian memandangku. Aku sempat gugup ketika onyx itu menatapku intens, kemudian aku merasakan kelegaan ketika wanita itu kembali tersenyum lembut padaku.
"sakura, aku minta maaf, sepertinya kita tidak bisa makan malam disini, semua meja telah penuh, jadi,,,," aku meoleh kebelakang ketika mendengar tepukan di bahuku dan beberapa saat kemudian aku melihat sosok Gaara dan langsung saja ia mengatakan jika kami tidak jadi makan malam disini.
"Gaara-kun?"
"Mikoto baa-san?"
Tatapanku kini beralih ke arah wanita itu dan kembali ke Gaara. Apakah mereka sudah saling mengenal?
"bagaimana kabarmu? Dan Ya Tuhan, sudah lama sekali aku tidak melihatmu" wanita itu yang kini kuketahui bernama Mikoto, tampak bersemangat ketika menyapa Gaara, tampaknya mereka sudah saling kenal sejak lama.
Gaara tampak salah tingkah, ia tampak tidak peraya diri. "aku sedang sibuk mengurusi perusahaan keluargaku yang berada di Suna, jadi aku belum sempat datang ke Konoha lagi" tatapan Gaara tampak melebar ketika menatap Sarada yang tengah berada dalam gendongan wanita itu, dengan sedikit gemetar telunjuk Gaara menunjuk ke arah Sarada. "Mikoto Baa-san, apakah dia,,,,"
Wanita itu mengangguk dengan anggun dan tersenyum, " kenalkan, ini adalah anaknya Sasuke-kun, namanya Sarada, ayo sayang, beri salam pada paman Gaara"
"hai paman Gaara,,," Sarada memberi salam dengan menganggukkan kepalanya ke arah Gaara.
Gaara tampak kehabisan kata-kata, sejak memandang Sarada ia belum membuka suaranya lagi. Entahlah, ini terasa sedikit ganjil untukku, seakan-akan Sarada bukanlah hal yang biasa untuk Gaara. Gaara hanya mengangguk kaku ketika membalas salam Sarada.
"bagaimana kalau kalian bergabung dengan kami? Bukankah Gaara tadi mengatakan jika tidak ada meja yang kosong? Kebetulan kami memiliki banyak meja kosong" ucap wanita itu bersemangat.
Ini kesempatan bagus. Aku bisa bersama Sarada tanpa memikirkan rencana makan malamku bersama Gaara.
"maaf Mikoto Baa-san, kami tidak ingin merepotkan" jawaban Gaara membuatku membulatkan mataku dan menatap Gaara dengan sengit! Sialan! Disaat seperti ini aku jadi sangat membenci Gaara.
Mendengar jawaban Gaara wanita itu tertawa geli, "ayolah, kau tau jika ini semua sama sekali tidak merepotkan. Kau adalah sahabatnya Sasuke-kun, dan aku sudah menganggap semua sahabatnya anakku sebagai keluarga. Jadi jangan membuat alasan seperti itu, karena aku tidak menerima penolakan"
Sekarang aku tau darimana datangnya sifat pemaksa Sasuke, karena dengan mendengarkan wanita ini berbicara aku sudah bisa mengiranya. Meski anggun dan lembut wanita ini juga memiliki sifat pemaksa, seperti Sasuke. Aku melirik Gaara yang tengah berpikir, ia tampak menimbang-nimbang apakah harus menerima tawaran ini atau tidak.
"aku ingin menerima tawaran ini, namun aku juga harus meminta pendapatnya Sakura" Gaara mengalihkan pandangannya padaku.
"aku tidak keberatan dengan hal itu" aku menjawab dengan cepat. Aku tidak akan membuang kesempatan ini, aku makin bersemangat ketika melihat senyuman tersungging di bibir Sarada.
"baiklah, sebaiknya kita segera kesana" ucap wanita itu mulai berjalan ke dalam restoran. Aku dan Gaara mengikuti langkah wanita itu hingga kami sampai di ruangan yang sepertinya di khususkan untuk mereka. Ada sebuah meja panjang dan beberapa kursi yang mengelilinginya. Disebelah kanan meja ada tiga orang, aku tidak bisa melihat wajah mereka karena posisi mereka yang membelakangiku. Namun aku dapat mengira jika mereka terdiri dari seorang wanita dan dua orang lelaki. Aku menaikkan alisku ketika mengenali model rambut salah satu diantara mereka. Itu pasti Sasuke.
Sedangkan disebelah kiri meja, aku melihat seorang lelaki paruh baya yang memiliki ciri fisik tidak jauh berbeda dengan Sasuke ataupun wanita ini. rambut hitam dan mata onyx, sepertinya itu sudah menjadi ciri mereka. Aku menghentikan langkahku, ketika kami sudah dekat dengan meja, lelaki paruh baya itu, yang memang menghadap kedatangan kami, menatap kami dengan kening berkerut, tatapannya bermula dari Gaara, aku dan terakhir ke arah wanita disampingku.
Aku merasa gugup, tanganku tampak sedikit berkeringat. Aku belum pernah mengalami hal ini. maksudku, aku belum pernah makan malam dengan keluarga lain selain keluargaku. Aku memang selalu menghindari acara semacam ini, meskipun terkadang ayah dan ibuku sempat memaksa untuk ikut.
Aku memekik kaget, ketika Sarada dengan tiba-tiba turun dari gendongan wanita itu dan langsung berlari menuju ke kursi yang diduduki Sasuke. Sasuke tampak tidak siap dengan serangan putrinya dan mereka tertawa bersama, namun tawa mereka hilang ketika mata Sasuke menangkapku. Ia langsung menatapku dingin seakan-akan aku adalah bencana di hidupnya. Ya Tuhan! Bisakah dia menghentikan hal itu? Aku merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu.
"maaf menunggu lama" wanita itu berjalan ke arah lelaki paruh baya itu yang kuyakini sebagai suaminya, ia mengisyaratkan agar aku dan Gaara mengikuti langkahnya dan duduk disampingnya. " tadi waktu kaa-san mengantarkan Sarada ke kamar kecil, kaa-san bertemu dengan Gaara-kun dan temannya, jadi kaa-san putuskan untuk mengajak mereka bergabung karena mereka sudah kehabisan meja"
Semua yang ada di meja, tampak menatap kearah kami berdua. Jujur saja aku risih jika ditatap seperti itu, apalagi tatapan Sasuke yang seakan-akan mengulitiku hidup-hidup.
"gaara? Kau benar-benar Gaara nya Sasuke?" Tanya lelaki yang berada disebelah Sasuke. Lelaki ini tampak sangat mirip dengan Sasuke, namun tetap saja lelaki ini terlihat lebih dewasa dan matang.
"ck! Jangan membawa-bawa namaku seenaknya" ujar Sasuke memalingkan wajahnya ke arah lain. Aku menangkap kesan Sasuke tampak menghindari adu tatap dengan Gaara. Mikoto baa-san tadi mengatakan jika Gaara adalah sahabatnya Sasuke, dan lelaki ini juga mengatakan hal jika Sasuke dan Gaara memiliki hubungan yang dekat, sedangkan ketika melihat interaksi antar keduanya yang saling menghindar-terutama Sasuke- membuatku bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi dengan mereka?
Aku dan Gaara pun duduk bersebelahan, dan entah kebetulan atau tidak, kursiku berhadapan tepat, dengan kursi yang tengah di duduki Sasuke. Aku merasakan hawa permusuhan yang sangat kental ketika tanpa sengaja beradu tatap dengan Sasuke. Aku tak habis pikir dengan hal itu, sebenarnya apa sih masalahnya? Aku sudah keluar dari apartemennya, aku juga sudah menolongnya di bar, dan sekarang dia memusuhiku? Yang benar saja!
"hei, tidak usah merasa canggung disini" ucap lelaki yang mirip dengan Sasuke. "perkenalkan namaku Itachi dan disebelahku ini adalah istriku Konan"
Aku menundukkan kepalaku ketika menatap seorang wanita berambut biru pendek di sebelah Itachi, wanita yang cantik dan lembut, sangat cocok bersanding dengan Itachi yang tampan dan ramah.
"jadi, siapa nama mu?" Tanya Itachi yang kini menatapku penuh keingintahuan.
"ehm, namaku Haruno Sakura, kalian bisa memanggilku Sakura" jawabku gugup, apalagi ketika mataku menatap lelaki paruh baya yang duduk di sebeblah Mikoto baa-san yang kuyakini adalah kepala keluarga disini.
"sakura?" Itachi tampak memikirkan sesuatu, "sepertinya aku pernah mendengar nama itu"
"kau terlalu banyak mendengar nama, Aniki" Sahut Sasuke tampak acuh
"oh, aku ingat! Apakah kau Sakura yang diceritakan oleh Sarada?" Tanya Itachi menatapku antusias. lagi-lagi aku merasa kikuk, bukan hanya Itachi yang kini memandangku penuh rasa ingin tahu, tapi seluruh yang ada di meja ini, kecuali Sasuke tentunya.
"paman benar, bibi Sakura adalah mama Sarada yang selama ini Sarada ceritakan" sebelum aku menjawab, Sarada sudah terlebih dahulu menjawab pertanyaan Itachi, dan demi apapun, aku merasa sangat bahagia ketika Sarada menjawab dengan jawaban yang menyatakan jika aku adalah ibunya.
"Wah,, wah,,, Sasuke, jadi ini pengasuh yang istimewa itu?" Itachi tampak menyeringai ke arah Sasuke, " aku penasaran kenapa kau tidak mau mengenalkannya kepada kami?"
"hentikan itu" suara dingin Sasuke tampaknya tidak berpengaruh terhadap Itachi yang masih saja memasang seringaiannya. Tampaknya perdebatan seperti ini bukanlah sesuatu yang baru bagi mereka.
"jangan menggoda adikmu lagi Itachi "suara lembut Mikoto baa-san, menengahi perdebatan kecil itu, kemudian Mikoto baa-san tampak mengalihkan fokusnya padaku. "nah, Sakura-chan, apakah kau mau menjadi ibunya Sarada-chan?"
Meski sedikit gugup, namun untuk pertanyaan ini aku tidak akan ragu untuk menjawabnya, "tentu saja, aku tidak keberatan dengan hal itu. Lagipula, aku juga sangat menyayangi Sarada" ucapku sambil tersenyum, dan melirik ke arah Sarada yang tampak tersenyum.
"jadi apa itu berarti kau juga mau menjadi pendampingnya Sasuke-kun?"
"kaa-san!" itu suara teriakan Sasuke.
Aku hanya menatap Mikoto baa-san dengan pandangan yang menerawang? Aku tidak salah dengar, kan? Apakah baru saja Mikoto baa-san secara tidak langsung melamarku untuk anaknya? Ya tuhan! Aku tidak pernah berpikir sejauh ini, aku memang sangat menyayangi sarada dan bersedia menjadi ibu baginya kapan saja, namun jika untuk menjadi pendamping Sasuke, rasanya aku tidak sanggup membayangkannya! Apa yang bisa diharapkan dari lelaki dingin dan arogan sepertinya?
"ehm, maafkan aku telah menyela, namun Mikoto baa-san, sepertinya Sakura tidak akan pernah bisa menjadi pendampinya Sasuke, karena Sakura adalah calon tunanganku" aku merasakan tangan Gaara merangkul pundakku.
Lagi-lagi aku hanya terperangah mendengar perkataan Gaara! Apalagi ini? sejak kapan aku memutuskan untuk menerima perjodohan ini? apalagi soal pertunangan! Demi Tuhan! Rasanya aku ingin segera keluar dari sini dan menenggelamkan diriku di dalam kamarku yang nyaman!
"oh begitu, maafkan aku Gaara, aku tidak tahu jika Sakura-chan adalah calon tunanganmu" ujar Mikoto baa-san dengan nada yang sendu.
"Tapi aku setuju jika Sakura menjadi ibunya Sarada, Sarada juga bisa menganggapku sebagai ayahnya jika ia mau" tanpa memperdulikanku yang menuntut penjelasan darinya, Gaara kembali mengucapakn sesuatu yang lagi-lagi membuatku terperangah. Drama apalagi ini?
"itu tidak akan terjadi" suara baritone Sasuke menggema. Nadanya terdengar tajam dan dingin, matanya pun menatapku dan Gaara sinis.
"ehem! Sebaiknya kita hentikan perdebatan ini dan mulai acara makan malamnya" aku mendongak menatap lelaki paruh baya di samping Mikoto baa-san dengan penuh kelegaan. Untuk beberapa saat lalu, atmosfer di ruangan ini begitu penuh dengan masalah, dan entah kenapa aku merasa semua masalah ini ada hubungannya denganku. setidaknya dengan pengalihan ini aku dapat menghirup udara segar tanpa beban. Ya, setidaknya untuk saat ini.
ΩΩΩ
Aku dan Gaara pulang dalam keadaan saling diam. Sepanjang perjalanan kami hanya membisu tanpa ada tegur sapa. Aku marah dan kesal, bisa-bisanya Gaara mengatkan kepada orang lain jika aku adalah calon tunangannya, padahal aku belum memberikan keputusan apa-apa mengenai perjodohan ini.
"sakura,,,"
"hem?" aku membalas sapaan Gaara tanpa minat. Aku sudah lelah dengan segala kejadian malam ini, dari pertemuan dengan Sarada, permintaan dari Mikoto baa-san, dan terakhir pernyataan gila dari Gaara. Rasanya aku hanya ingin beristirahat di kamarku.
"sakura, maafkan aku " nada suara Gaara yang penuh penyesalan membuatku tertarik.
"kenapa kau mengatakan hal itu kepada mereka? Kau tahu sendiri, jika kenyataannya tidaklah seperti itu, Gaara" ucapku tanpa memandangnya dan lebih memilih memandang jalanan.
"aku hanya ingin melindungimu" jawaban Gaara membuatku mengernyitkan dahiku.
"melindungi dari apa? Sebenarnya apa maksudmu, Gaara?" sekarang aku benar-benar penasaran dengan hal ini, akupun membalikkan tubuhku menghadap ke arah Gaara yang kini tengah menyetir.
"Sasuke. Dia berbahaya. Aku tidak ingin kau disakiti oleh Sasuke" jawab Gaara penuh dengan penekanan.
Aku ingin tertawa. Jadi hanya karena Sasuke? Bagaimana bisa Gaara berpikir jika aku akan disakiti oleh Sasuke? Aku bukanlah wanita yang mudah ditaklukan, apalagi oleh orang semacam Sasuke.
"kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Itu hal yang tidak mungkin, kau tahu?"
"insting. Aku punya insting yang kuat tentang hal ini dan aku hanya memastikan agar instingku tidak menjadi kenyataan"
"kupastikan instingmu tidak akan menjadi kenyataan Gaara" aku bersedekap dan kembali memikirkan perkataan Gaara. Insting itu tidak akan menjadi kenyataan, aku memang tidak berpikir akan menerima perjodohan dengan Gaara, namun aku juga tidak akan menghabiskan sisa hidupku dengan pria dingin arogan seperti Sasuke. Tidak akan!
ΩΩΩ
Ada yang kangen dengan fanfic abal-abal ini?
Heheeheee,, makin gag jelas,kan?
Ya udah, minta reviewnya ya?
