Cerita sebelumnya: Sephiroth, vampir yang selama ini diincar Cloud, akhirnya muncul. Kemunculannya yang menimbulkan kekacauan pesta karena membunuh Presdir Shin-Ra, membuka peluang Cloud dkk untuk kabur dari sarang. Lolos dari seorang Turks dan dua satpam vampir, Cloud dkk yang mencuri mobil dari basement akhirnya selamat sampai gereja Aerith. Mereka pun memutuskan untuk mengadakan perjalanan ke Cosmo Canyon dan Rocket Town esok paginya. Di atas gedung, Sephiroth memberi proyek pada Hojo, entah apa yang direncanakannya. Hojo pun memberitahunya soal Aerith, seorang Cetra yang tengah mengandung anak dari hasil hubungan terlarangnya dengan vampir darah murni. Hal ini membuat Sephiroth berang dan ingin menghabisinya. Di sisi lain, Aerith semakin bertekad mewujudkan tujuan, sebuah keadaan damai antara vampir dan manusia yang tentunya sangat bertentangan dengan ambisi Sephiroth...


CHAPTER 9

Cloud berkedip.

Ia merasa dirinya begitu segar mendapati secercah sinar matahari masuk melalui lubang atap pagi itu menyentuh dirinya. Bangkit duduk di kursi gereja tempat ia berbaring sebelumnya, ia menemukan Aerith bersimpuh di tepi kolam entah apa yang gadis itu sedang lakukan, telunjuknya seperti mengaduk-aduk kolam. Tidak melihat yang lainnya, Cloud pun melangkah pelan menghampirinya. Merasakan Cloud telah bangun di belakangnya, Aerith pun menoleh dan menyapanya dengan senyuman.

Sebuah senyuman inosen bak malaikat membuang segala keburukan yang ada.

Sama sekali tak ada bayangan apa yang akan terjadi kemudian.

Aerith masih tetap tersenyum ramah saat tangan Cloud menyentuh lehernya. Ia bahkan tak bertanya-tanya. Atau mungkin tak sempat bertanya-tanya karena mendadak tenggorokannya sudah dirasa tercekat. Jangankan suaranya, napasnya sama sekali tak mau keluar. Rasanya bagai terbakar saat paru-parunya seolah menjerit meminta udara. Tubuhnya pun terebah jatuh. Wajahnya mulai membiru karena kehabisan pasokan oksigen. Lidahnya sedikit terjulur dan air liur perlahan menetes dari tepi bibirnya. Matanya masih fokus menatap wajah Cloud yang ekspresinya sama sekali tak berubah. Tubuhnya mengejang pasrah, sama sekali tak ada perlawanan meski tahu Cloud sedang mencabut nyawanya.

Begitulah, Cloud menyaksikan detik-detik terakhir kehidupan Aerith sampai kepala gadis itu terkulai lemah di tangannya. Ia bahkan belum melepaskan tangannya sama sekali dan terus memijat keras bagian depan leher yang dicengekeramnya kuat itu meski bisa melihat mata Aerith sudah tidak bisa berkedip lagi dan hanya bisa meninggalkan tatapan hampa yang mendalam.

Teriakan Tifa kemudian mengalihkan perhatiannya dengan beralih menatap gadis berambut hitam lurus itu. Cloud bisa melihat wajah ternganganya dengan sedikit air mata mengalir. Ia seperti hendak mengatakan sesuatu tapi kata-katanya tak keluar karena terguncang. Cloud tak mengerti mengapa Tifa mengeluarkan ekspresi demikian.

Memangnya apa yang dilihatnya?

Bagai dikembalikan ke kenyataan, Cloud pun kembali menatap ke bawah. Ia merasakan horor menggerayangi tubuhnya saat perlahan menarik jari-jarinya. Dan begitu mendapati bekas-bekas legam dan terpelintir di kulit yang ada di balik jarinya, Cloud tersentak mundur. Ia tak berani mengetahui siapa pemilik leher itu.

"Aku tak melakukannya!" katanya membela diri.

"Tapi aku menyaksikan semuanya," balas Tifa. "Kamu bangun dari kursi lalu mendekati Aerith dan..." Ia tak mau melanjutkan kalimatnya.

"Percayalah padaku, Tifa," lanjut Cloud berdiri menghampirinya. "Aku tak..."

"Jangan dekat-dekat," seru Tifa menampiknya. "Kau..."

Cloud tak mendengar apa yang Tifa ucapkan. Tapi ia bisa membaca gerak bibirnya.

...Pembunuh.

...Pembunuh.

...Pembunuh.

Tubuh Cloud langsung membeku. Ia sama sekali tak berbuat apa-apa saat Tifa perlahan mundur tanpa sekalipun membuang tatapan kemarahannya. Memanggilnya untuk tetap tinggal pun tak ada daya. Begitu Tifa menghilang dari pandangannya, tubuhnya pun lemas. Masih bergetar, ia pun menoleh karena merasakan kemunculan orang lain di belakangnya.

Ia pun melihat sesosok tubuh tembus pandang diterpa cahaya. Orang itu menekuk salah satu lututnya untuk berjongkok. Tangannya turun membelai pipi Aerith, mengelap liurnya, mengembalikan lidahnya, hingga kemudian jemarinya menutup kelopak mata gadis itu. Ia juga merapikan tangan Aerith dan menyilangkannya di perut.

Siapa?

Cloud berusaha menajamkan penglihatan tapi cahaya yang begitu terang tetap mengaburkan wajah orang itu. Bahkan saat orang itu kini tengah mendekat ke arahnya dengan tangan terjulur hendak meraihnya, Cloud masih belum dapat melihat wajahnya. Kaki Cloud tak bisa bergerak untuk mundur saat sang hantu mendaratkan telapak tangannya di wajah Cloud dan menyelimuti pandangannya.

Semua pun berubah gelap.

.

.

.

"Cloud?"

Cahaya kembali memasuki matanya, membuatnya mengerjap karena tak siap menerima rasa terang setelah diterpa kegelapan dalam tidurnya. Wajah Tifa pun perlahan terlihat jelas dengan ekspresi kecemasan. Cloud merasa tubuhnya dibahasi keringat. Ia juga merasakan adanya lilitan-lilitan perban yang melingkari dada dan punggungnya. Simpul lilitan itu terbentuk di bahunya. Darah tampak merembes dari bekas luka tembaknya yang dikorek Nunchaku semalam.

"Kau sempat demam," kata Tifa mengelap dahi Cloud dengan handuk sebagai kompres. "Sudah kuduga, kau tak mungkin sekuat itu setelah tertembak."

"Aerith." Kata itulah yang pertama kali keluar dari mulut Cloud. "Di mana Aerith?"

Gerakan Tifa yang mengelap wajah Cloud terhenti. Sulit untuk menjelaskan bagaimana perasaannya ketika Cloud justru mengucapkan nama gadis lain sementara ia jelas-jelas di sisinya.

"Katakan padaku, Tifa. Di mana Aerith?" kata Cloud mengulangi pertanyaannya dengan nada lebih keras. Ia juga mengguncangkan bahu Tifa. "Di mana dia?

DIdesak begitu, Tifa pun menjawabnya. "Aerith mampir ke rumahnya. Barret juga ikut untuk menengok Marlene. Mereka perlu pamit pada keluarga masing-masing bukan?"

Cloud pun menghela napas lega. Mimpi itu begitu nyata. Sangat nyata.

Cowok pirang jabrik itu bisa melihat ekspresi Tifa yang menatapnya berubah bingung tapi ia sendiri tak bisa menjelaskan padanya. Ia tak mengerti mengapa mimpinya berganti setelah sekian lama dan berkali-kali memimpikan Tifa. Jika biasanya ia merasa memiliki kesadaran penuh dalam mimpinya karena memang keinginan tak ingin gagal melindungi Tifa begitu terpatri kuat di hatinya, kali ini ia merasa seperti dituntun seseorang untuk melakukan perbuatan yang tak pernah terpikirkan akan ia lakukan itu. Lagipula, mengapa mimpinya selalu berkaitan dengan kematian? Siapa pula sosok misterius yang selalu muncul dalam mimpi yang berbeda itu? Apa yang ingin ia sampaikan padaku sebenarnya?

Dan yang terpenting adalah...

Apakah ini firasat masa depan yang baru?

Apa aku akan membunuh Aerith dengan tanganku sendiri?

...

Di saat yang sama, Sephiroth juga membuka mata.

Ia tengah menempati kursi dan meja bekas Presdir Shin-Ra dengan tangan tertopang di dagunya. Posisi duduk tersebut menandakan ia baru saja berkonsentrasi penuh. Pikirannya seperti telah dibawa mengarungi ruang tak kasat mata, menembus dinding bawah tanah Shin-Ra, dan keluar menemukan mangsa yang ingin ia susupi itu. Tentunya bukan sekedar mimpi yang ingin ia kontrol. Hal itu sudah langsung terbayangkan olehnya begitu mendengar Hojo memberitahu soal keberadaan Cloud. Senyum jahatnya waktu itu menyiratkan bahwa ia tak perlu susah-susah mengejar sang gadis buruan yang ingin ia cabik-cabik itu. Namun, untuk kali ini ia memang hanya bermaksud mempraktikannya untuk pertama kali dalam taraf percobaan. Toh, ia tahu di atas sana matahari tengah bersinar sehingga kekuatannya tidak penuh dalam mengirimkan gelombang otak.

Meski demikan, Sephiroth sebenarnya masih ingin bermain-main lebih lama dengan 'mainan'nya itu. Sayang, hal itu harus terhenti.

"Zack, kau selalu mengganggu...," decaknya. "Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan pada bonekaku?"


Kalm adalah kota pertama yang akan dijumpai setelah rombongan Cloud keluar Midgar. Kedua kota tersebut dibatasi padang berbatu sepanjang kurang lebih tujuh puluh kilo. Masih dengan mobil curian yang sudah dicongkel emblemnya, mereka sampai butuh total lima jam lebih untuk sampai ke jantung kota Kalm. Padahal sebenarnya, jaraknya tidak sejauh itu. Hanya saja, untuk keluar dari Midgar yang megapolitan itu sendiri saja harus memakan dua jam karena banyaknya traffic light dan jumlah kendaraan yang berlalu lalang.

Red XIII sempat memandu Barret menyetir. Keempat manusia di dalam mobil sebenarnya belum pernah mendengar daerah Cosmo Canyon. Entahlah, mungkin daerah itu adalah daerah yang sengaja terisolir karena berisi kaum seperti Red XIII. Sambil melihat peta, untuk pergi ke sana, mereka harus melewati Junon, Costa del Sol, Gold Saucer, Corel, dan Gongaga setelah Kalm. Cukup jauh memang. Perjalanan jelas tak akan cukup dalam sehari karena sampai harus menyebrang benua.

Mereka tadi berangkat pukul sepuluh pagi. Cloud sudah baikan dan ia sendiri yang paling tak ingin menunda keberangkatan. Usai berpamitan dengan keluarga, Aerith berbelanja cukup banyak untuk bekal perjalanan mereka, tak lupa ia membawa beberapa stel pakaian untuk dirinya dan Tifa. Barret juga membawa peralatan berkemah kalau-kalau diperlukan. Tidak mungkin kan mereka terus-menerus bermalam di penginapan? Uang harus dihemat. Lagipula, tidak baik tidur di dalam mobil.

Barret sebenarnya masih bisa terus menyetir sampai Junon meski baru bisa sampai tengah malam, baru paginya mereka mengambil penyeberangan ferry. Tifa-lah yang meminta mereka berhenti di Kalm karena ia ingin Aerith banyak beristirahat untuk kesehatan bayinya. Tak mungkin tenaganya harus diforsir dalam tiga malam berturut-turut ini sesudah insiden markas AVALANCHE dan semalam lagi di sarang vampir.

Begitu masuk kamar, Tifa dan Aerith langsung merebahkan diri di kasur empuk. Rasanya bagai sebulan mereka tidak merasakannya. Cloud pun sekali lagi harus berbagi kamar dengan Barret. Dan dilihat dari kondisinya yang tengah menanjak, ia sudah bisa membayangkan lelaki negro besar itu bakal tidur dengan sangat pulas dan mendengkur. Sementara itu, karena hewan tidak bisa dibawa masuk ke dalam penginapan. Red XIII yang sudah banyak tidur di waktu siang pun bilang ingin mencari makan herbivora liar.

Dengan rambut basah usai bergantian mandi, Tifa pun duduk di sebelah Aerith.

"Bagaimana rasanya," tanya Tifa mengelus perut Aerith yang agak membuncit.

Aerith pun melempar senyuman. "Kelak kau pasti akan merasakannya, Tifa."

"Yeah, semua wanita pasti akan mendapat gilirannya," timpal Tifa kemudian memeluk bantal. "Itu impian semua wanita bukan?"

"Hihihi." Tawa Aerith terdengar usil. "Ingin punya anak berapa dengan Cloud?"

"Eeeee?" Muka Tifa langsung memerah. "Tidak. Itu... Itu..."

"Siapa yang tadi bilang kalau itu impian semua wanita ya?" goda Aerith.

"Iya, tapi... tapi..." kata Tifa memegangi kedua pipinya. Bola matanya juga berputar ke arah lain. "Sepertinya Cloud tertarik padamu."

Mata emerald Aerith melebar. "Dia mau denganku yang sudah tidak perawan ini?"

"Jadi kau mau?" Nadanya terdengar sedikit cemberut.

Aerith tertawa geli. "Tifa, Tifa, kau ini lucu sekali kalau cemburu. Dia itu belahan jiwamu lho."

"Bagaimana kau bisa bilang begitu?"

"Kau sendiri kenapa bisa berpikir Cloud tertarik padaku?" tanya Aerith balik.

Tifa pun mengingat kejadian tadi pagi di gereja saat ia merawat Cloud. Karena cowok itu mencari Aerith dengan tatapan penuh harap, hanya itu kesimpulan yang mudah terbesit oleh Tifa. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, sepertinya lebih tepat jika Cloud begitu peduli dengan Aerith sama seperti dirinya, bukankah itu alasan mereka berdua masuk ke sarang vampir? Tifa yakin ia juga akan bertanya di mana sahabatnya yang tengah hamil itu berada jika ia tak melihatnya saat bangun.

Karena Tifa tidak segera menjawab, Aeritn pun tetap lanjut berbicara, "Masa tidak terjadi apa-apa saat kalian disekap berdua satu sel?"

Kalau dibilang tidak terjadi apa-apa sih ia sempat memelukku, batin Tifa. Tapi rasa-rasanya Cloud ingin mengatakan sesuatu saat itu. Ia bilang apa yang akan disampaikannya mungkin sama dengan apa yang ingin aku ungkapkan. Masa sih... Cloud mau bilang 'itu'?

"Tuh kan," seru Aerith seolah melihat asap keluar dari ubun-ubun Tifa. "Oya Tifa, kau itu sebenarnya terlihat lebih keibuan dariku lho."

"Masa?"

Aerith memundurkan posisi duduknya dan bersandar pada bantal yang diberdirikan. "Marlene saja bilang ingin jadi anakmu. Masa aku yang lebih tua darimu ini dipanggilnya onee-chan? Tapi aku suka sih. Aku kan memang belum setua itu untuk disebut ibu."

"Sebentar lagi kan kau akan jadi seorang ibu."

"Oke. Catat ya? Yang boleh memanggilku ibu hanya anakku saja, tehehee," lanjut Aerith nyengir lebar. Pandangannya lalu kembali melembut dan ia pun mengelus perutnya sendiri. "Jujur saja, aku memang sudah tidak sabar melihatnya lahir."

"Aku akan terus mendampingimu sampai ia lahir dengan selamat, Aerith."

"Terima kasih, Tifa. Kau memang sahabat baikku."

Aerith kemudian bersenandung kecil seolah meninabobokan bayinya. Masih memeluk bantalnya,Tifa terus memandangi temannya itu. Ia sendiri sudah lama memimpikan ingin punya keluarga kecil yang akan ia bina bersama orang yang disayanginya toh ia merasa dirinya bukan remaja lagi karena sudah berkepala dua. Cloud kah orang itu? Tifa tak yakin. Cowok itu memang tak jelas tapi kalau bisa, ia ingin memang Cloud-lah belahan jiwanya. Ia pun mengamini ucapan Aerith.

Saat itulah, Tifa merasa merasa suasana ini sangat tepat untuk membahas sesuatu yang masih mengganjal di hatinya. Akhirnya waktu yang ia cari sejak ungkapan Elmyra itu datang juga.

"Ngomong-ngomong, orangnya seperti apa?" tanya Tifa kemudian.

"Hmmm?" respon Aerith tanpa menoleh.

"Dia," kata Tifa lagi, "vampir belahan jiwamu itu."

Mendengarnya, Aerith pun terdiam dan perlahan menatap Tifa beberapa saat sebelum menunduk.

Melihat reaksi Aerith, Tifa pun buru-buru meralat. "Ah, abaikan saja kalau kau keberatan bercerita. Maaf menanyakan tiba-tiba."

"Waktu itu aku masih tujuh belas tahun." Aerith mulai berbicara. "Masih polos, belum tahu apa itu cinta, dan langsung begitu saja terpikat melihatnya. Vampir darah murni itu sangat tampan, Tifa, kupikir semua gadis yang melihatnya pasti tergila-gila. Aku sendiri tak kuasa mengalihkan pandanganku dari tatapan matanya, aku tak ingin melepasnya pergi. Sebagai Cetra, tentu aku tahu apa yang ia iakukan di luar sana. Namun aku tak peduli meski melihatnya datang penuh lumuran darah segar di sekitar kerah bajunya. Aku hanya ingin bersamanya. Dan ia menyambut perasaanku."

"Darah murni katamu? Seperti Sephiroth?" sahut Tifa.

Aerith mengangguk. "Rasanya seperti jadi pengkhianat bangsa sendiri bukan?"

Tifa menggeleng, "Kurasa, vampir yang sampai bisa dicintai olehmu pasti tidak jahat sepertinya."

Aerith mengangkat bahu. "Aku terkejut kau bisa berkata begitu."

Tifa sendiri ikut terkejut betapa kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya begitu saja. "Aku... Aku mencoba memikirkannya. Soal kebencian ini..."

"Itu wajar mengingat peristiwa kelam di desa kalian."

"Tapi, kau kan juga... Maksudku, ibu kandungmu..."

"Kejadianmu belum lama, Tifa. Kurasa, perlahan kau akan mengerti dengan sendirinya. Aku sendiri juga dalam lima tahun ini mengalami banyak pergolakan batin, khususnya saat aku kembali mempertanyakan tindakanku waktu usiaku menginjak 20 tahun. Aku pernah memutuskan hubungan dengannya. Dia vampir, aku manusia; hubungan ini tidak sehat. Aku tidak bisa terus-terusan menjadi anak kecil yang ia manja. Aku juga tak bisa membiarkan diriku terus acuh dengan fakta bahwa ia memangsa sesamaku. Manusia tumbuh dewasa."

"Lalu, bagaimana kalian memperbaiki hubungan hingga akhirnya kau hamil?"

"Banyak hal yang sudah terjadi, Tifa. Dia pun juga punya masalahnya sendiri di Shin-Ra dan dia tak pernah menceritakannya. Aku terkejut ia masih kembali ke gereja setelah aku memutus hubungan. Yang kutahu, ia menangis dengan tubuh penuh luka. Dari balik punggungnya, ia seolah berkata ia membutuhkanku. Kakiku lemas saat itu, aku merasa akulah yang menyebabkan ia begitu. Itulah awal ia terbuka akan hal-hal yang tak kutahu mengenai vampir. Dan ia barusan mendapat tugas untuk mengeksekusi ayahnya sendiri, sebuah tugas yang berat dan ia sendiri hampir tewas karenanya. Katanya, ia ingin melihatku untuk terakhir kali sebelum berubah seperti vampir-vampir darah murni lainnya. Itu hal terburuk yang pernah aku dengar, membayangkannya akan mengalami hal yang sama. Aku ingin mencegahnya. Ternyata aku masih mencintainya. Aku pun berusaha menemukan cara. Dan dari situlah kali pertama kami mulai bertukar pikiran mengenai vampir dan manusia. Cara hidup kami, kelebihan dan kelemahan kami, serta perbedaan lainnya."

Jadi itu asal kenapa Aerith bisa tahu soal vampir darah murni yang berubah menjadi berserk, ujar Tifa membatin. "Jika bisa dicegah, apakah itu maksudnya vampir bisa dibuat tak perlu sampai memangsa manusia?"

"Aku menjadi donor tetapnya."

"Donor?"

"Konsepnya sama seperti kita mendonorkan darah kita untuk sesama. Bedanya, vampir tak membutuhkan jarum dan selang."

"Ia menyedot darahmu langsung?" Tifa langsung ngeri membayangkannya.

"Awalnya, aku memberinya kantong darah yang kubeli dari rumah sakit dan ia minum sedikit-sedikit. Ia juga bilang akan berburu darah hewan liar untuk selingan. Namun nutrisi terbesar vampir, apalagi darah murni sepertinya, tetaplah darah segar yang langsung diambil dari nadi kita dan aku tak mau melihatnya jatuh sakit. Jadi aku memberikan darahku padanya. Kau tidak tahu sensasinya, Tifa. Lama-lama kami terbiasa."

Tifa cukup terkejut. "Kau sudah sering melakukannya? Ibumu bilang ia baru melihat bekas gigitan itu sekali."

"Waktu itu aku pulang pagi sih jadinya ibu langsung menginterogasiku sebelum sempat kututupi. Biasanya kan tidak, tehehee," ulasnya nakal. "Lagipula, dua hari juga bekasnya sudah hilang kok."

Tifa pun semakin dalam menatap Aerith, berusaha percaya. Entahlah, kalau tidak bertemu dengan Aerith dan tahu sederet latar belakangnya, mungkin ia tak akan pernah mendapat kesempatan untuk mengubah pandangan. Dan kebencian ini akan semakin mengendap.

"Rasa-rasanya aku bisa membayangkan hubungan kalian begitu indah," komentar Tifa. "Andai semua vampir bisa sepertinya."

"Ada. Pasti ada," sambung Aerith. "Tanpa kita sadari, vampir dan manusia sudah lama bekerja sama di dalam gedung Shin-Ra, pasti ada beberapa."

"Kau benar. Aku harus belajar optimis padamu."

"Aku belajar optimis darinya."

Tifa semakin penasaran. Rasanya ia jadi mengagumi sosok vampir tersebut. "Boleh tahu siapa namanya?"

Bibir Aerith mengulum senyum beku kembali. Ia pikir hatinya sudah tertata baik karena bisa leluasa bercerita tentang hubungannya dengan sang vampir pada Tifa. Ia tak sadar sedari tadi berusaha mengunci mulutnya agar nama itu tak sampai keluar karena sebuah kenangan buruk sebagaimana Tseng dan Hojo pernah menyebutnya.

Tifa pun melihat sebulir air mata mengalir turun ke pipi sahabatnya.

"Zack," sebutnya lirih, "Zack Fair."

Nama itu tak bisa membuat Tifa menyembunyikan keterkejutannya dari Aerith. Gadis berambut brunette itu pun segera menyeka air matanya dan berbalik mencercar sang barmaid.

"Kau kenal Zack?" tanyanya antusias. "Jadi benar yang hendak kau katakan di gereja kemarin itu, orang yang menolongmu adalah dia? Bukan Zangan, gurumu? Apa yang ia lakukan di desamu? Apa benar ia ke sana sekitar tiga bulan yang lalu?"

Tifa berusaha menahan diri sebaik mungkin. Padahal saat itu ia sendiri tengah berempati mengartikan air mata Aerith tapi nama itu benar-benar memunculkan memori buruk buatnya. Ia sadar reaksi refleknya tadi jelas memancing sahabatnya itu. Dan ia bisa mengerti apa yang sekiranya telah terjadi, membuatnya semakin bingung bagaimana sebaiknya menjawab.

"Tifa!" desak Aerith.

"A-Aku akan menceritakan padamu peristiwa Nibelheim sejauh yang aku tahu...," jawab Tifa akhirnya. Bagaimanapun juga, Aerith berhak tahu. "Tapi kumohon, untuk saat ini, jangan beritahu Cloud."

"Kenapa jangan?"

"Aku takut jika ia tahu, akan terjadi hal yang lebih buruk. Aku tahu bahwa sebenarnya Cloud sering bermimpi buruk, ia sering menyebut nama Sephiroth dalam tidurnya. Kami semua sangat syok waktu itu. Salah satu dari ingatan kami pasti ada yang salah. Jadi, aku sendiri tak yakin dengan yang akan kuceritakan padamu."

"Ba-baiklah," balas Aerith memelankan nada bicaranya. "Aku mengerti."

...

Di kamar seberang, Cloud tidak ingin tidur.

Bukan karena Barret sudah mendengkur keras akibat letih menyetir. Bukan pula karena jarum jam dinding masih menunjukkan waktu yang belum terlampau malam sebagaimana dirinya kini lebih terbiasa tidur sangat larut.

Cowok jabrik itu lalu mendekat ke arah pintu dan memasang gerendel. Ia juga memastikan sekali lagi apakah semua jendela sudah terkunci rapat.

Rasanya bagai paranoid.

Bukan karena ia takut ada seseorang masuk ke kamarnya. Ia lebih takut dirinya nanti berjalan tidur dan membuka paksa kamar perempuan.

Atau kisah di dalam mimpinya menjadi kenyataan.

Sebab suara-suara itu sudah dirasakannya mulai bergema masuk ke dalam telinganya.

Suara-suara dari masa lalunya.

Berbisik.

Ingin mengontrolnya. Ingin memanipulasinya. Ingin menggerakkannya.

Cloud tak mau menyerah. Yang ia tahu ia tak boleh tertidur.

Harus.

Lalu dari kejauhan, terdengar samar suara auman Red XIII. Mungkin serigala itu telah kenyang.


Rufus Shinra melangkah di sektor 6 Midgar. Ia baru saja keluar dari sebuah bar dan merasa kesal karena alkohol tidak bereaksi pada tubuhnya, padahal ia ingin merasakan kenikmatan mabuk seperti manusia. Ia bisa melihat orang-orang masih berpakaian kantoran dengan ikatan dasi yang sudah kendor bergerumul ingin melepas penat. Mereka juga bernyanyi-nyanyi sumbang.

Salah seorang menghampiri dirinya, mungkin mengira Rufus tak ubahnya seperti mereka.

Rufus hanya memalingkan mukanya karena ada Tseng yang sigap mengusir mereka dengan tatapan tajam. Tak perlu bicara, hal itu sudah cukup untuk membuat mereka tak ingin mengundang Rufus lebih jauh.

Kalau bisa sebenarnya, Rufus ingin melumat mereka langsung satu persatu. Tapi di sana, ia tengah berpura-pura berbaur sebagai manusia. Ia tak ingin meninggalkan kesan bagi manusia, yang mungkin tahu wajahnya bahwa ialah Sang Presdir Shin-Ra Corp yang baru sejak hari ini, ternyata adalah seorang predator ganas. Untuk itu, ia perlu pengawal demi terus menjaga citra dirinya.

"Aku haus," katanya pada Tseng.

Dan itu pertanda bagi Tseng, untuk membiarkan bebas tuannya.

Pria klimis tersebut lalu berjalan sendirian ke tepi jalanan yang sepi sambil terus mengantongi tangan di saku jasnya yang panjang berkibar seolah merasa kedingingan. Hanya ada satu lampu di dekat tempatnya berdiri dimana seorang wanita bersandar pada tiangnya dan sesekali mengecek jam tangan. Rufus menoleh ke papan petunjuk jam keberangkatan bus, ia pun menyeringai pelan. Nampaknya mangsa kali ini bukan pelacur yang biasa mendekatinya karena terpikat penampilan necisnya yang sanggup membayar mahal sekali puas.

Rufus benci pelacur.

Para wanita yang tidak ada harganya.

Ibunya juga tidak ada harganya di mata ayahnya.

Dijadikan vampir, seharusnya kecantikannya itu abadi.

Namun, pelacur tetap pelacur.

Tertarik karena uang. Diperdaya oleh uang. Dan dibuang karena uang juga.

Karena itulah, Rufus lebih senang dengan feromon vampirnya yang terkutuk.

Wanita itu kemudian beradu pandangan dengan Rufus, mengira pria yang berdiri tak jauh darinya itu tengah mencari taksi lewat. Dan senyum Rufus seolah mengisyaratkan bahwa ia adalah pria tampan kesepian yang tidak berniat jahat dengan seorang wanita yang tengah sendirian. Wanita itu pun membuka celah ruangnya untuk dimasuki saat Rufus menghampirinya. Rangsangan yang menggodanya bahkan membuat dirinya membiarkan begitu saja bis yang sedari tadi ia tunggu itu sempat berhenti dan membuka pintu otomatisnya, sebab ia tak mau melewatkan momen tersebut, membiarkan dirinya terbius oleh sorot mata Rufus.

Bahwa vampir sepertinya memiliki wajah yang indah. Dan seksi.

Seksi yang nakal dan tak senonoh.

Yang sebenarnya lebih terangsang dengan aroma darah lawan jenisnya yang lezat.

Dua tujuan yang berbeda itu membuat bibir mereka pun bertemu.

Rufus tak perlu menyeretnya ke gang sempit sebagaimana ia biasa memberi pelajaran pada para pelacur yang mengemis padanya, berkali-berkali menegaskan pada dirinya sendiri ia tidak sama dengan ayahnya. Kali ini, ia perlakukan korbannya begitu lembut hingga sekelompok orang yang lewat pun tak menggrubis mereka. Dan Rufus ingin berlama-lama di situ sebelum bibirnya bergerak turun mencari titik denyut nadi di leher. Mangsa yang sangat jarang dan situasi yang sangat pas di malam yang dingin.

Sempurna.

Tenggelam dalam sensasi yang diberikan sampai-sampai tak menyadari apa yang tengah terjadi, wanita itu pun perlahan terkulai lemah dalam pelukan Rufus. Vampir itu menjilat sisa darah yang menetes dari lobang yang ia buat sebelum akhirnya ia menarik taringnya yang menancap dan membopong sang korban yang terlihat seperti tertidur normal. Tak ada orang yang melintas, Rufus pun melesat tinggi ke atap sebuah ruko yang sudah tutup. Ia kira tak ada yang melihat perbuatannya itu.

"Anda akan repot membuang mayatnya, Tuan Presdir."

Rufus pun segera menoleh ke sosok yang menyapanya. "Reeve? Sedang apa kau di sini?"

"Saya kepala departemen kependudukan, Sir. Saya biasa berkeliling. Jadi saya tahu bahwa buletin lokal di sektor ini sudah beberapa kali memajang berita ditemukannya mayat-mayat wanita di kontainer sampah."

"Terakhir kali aku melakukannya, AVALANCHE yang mencium jejakku sudah dibereskan Turks," kata Rufus tersenyum dingin. Rupanya waktu satu setengah tahun berlalu bagi vampir yang melampaui abad seperti mereka terasa seperti baru kemarin. Ia lalu melempar saja mayat tersebut kepada Reeve. "Kalau kau punya ide untuk membuka pintu saluran air bawah tanah yang bau, buang saja dia di situ."

Reeve mengamati mayat wanita di tangannya tersebut. "Yang ini halus sekali tanpa kamuflase, anda serius berniat menebar teror pada manusia soal keberadaan kaum kita?"

"Ia bukan pelacur, aku tak ingin menggores tubuh indahnya," jawab Rufus. Sejenak kemudian ia terkekeh. "Justru kukira tadi kau sedang bermaksud meninjau lokasi untuk merelokasi titik di mana kita akan mendirikan menara-menara sutet Shin-Ra."

"Anda belum memerintahkan saya. Dan jujur, saya sama sekali tidak ada inisiatif demikian."

"Kau benar," kata Rufus. "Kita tak bisa menyembunyikan matahari dan meneror mereka kala siang. Kalau Sephiroth pintar, bukan itu caranya menaklukkan jutaan manusia yang ada di sini. Kupikir ia sedang mengujiku sejauh mana aku dapat membantu mewujudkan obsesi gilanya."

"Anda sudah menyadari bahwa kita akan terdesak jika..."

"Aku tak mau mendengar hal itu," potong Rufus tegas.

"Maafkan kelancangan saya."

"Kau pikir aku tak tahu rancangan yang kau kerjakan diam-diam di departemenmu itu, Reeve?"

Reeve hanya menelan ludah. Rufus pun terus memandang tajam deputinya itu selama beberapa saat sebelum akhirnya berbalik dan menyilangkan tangan di belakang.

"Baiklah. Untuk sementara ini, kuhargai hal itu sebagai kelancangan yang positif. Tapi aku tetap akan mengambil jalan bahwa vampir selamanya akan berada di dalam kegelapan dan kau harus tunduk padaku sebagai deputiku," lanjut Rufus.

Reeve pun menghela napas lega. Rufus masih meneruskan bicaranya.

"Baguslah jika kita sudah sejalan terhadap beberapa hal. AVALANCHE saja tidak mau membeberkan eksistensi kita ke publik, kita akan aman selama manusia tak tahu hal itu. Usahaku mengisolir Nibelheim karena ulah Sephiroth sejauh ini berhasil, ayah tamak itu bahkan tidak tahu persisnya. Sebaliknya, kalau hanya sendirian, Sephiroth pasti bisa bertahan hidup. Iblis itu tak peduli harus mengorbankan berapa banyak pihak kita."

"Mengenai Sephiroth," sahut Reeve, "saat ini saya sudah punya rencana tapi mungkin anda tidak suka rencana saya."

"Katakan."

Reeve lalu mengemukakan rencananya pada Rufus. Sang Presdir pun mendengarkan dengan seksama. "Saya akan bergerak sendiri," katanya mengakhiri. "Palmer, Heidegger, dan Scarlet tak akan saya libatkan."

Rufus tersenyum dingin. Ia sangat tahu betapa tiga orang itu begitu pintar menjilat ayahnya. Mudah untuk menerka mereka akan berpindah mengekor Sephiroth. Dan setelah paham bahwa iblis itu tak bisa dipengaruhi, bahwa mereka sendiri juga tak mau menanggung risiko dibinasakan olehnya karena dianggap mengganggu; mereka pasti akan menempeli dirinya yang Presdir baru. Mau tak mau ia terpaksa menghidupi parasit. Toh, tiga vampir bodoh itu masih bisa ia kendalikan sebelum mereka mungkin saja menusuknya dari belakang dan mencari aman sendirian.

Begitulah, sejauh ini Rufus merasa terbantu dengan usulan Reeve, ia pun tak ingin cuci tangan terlalu jauh agar tak membuat Sephiroth curiga. Apalagi kadepnya yang satu itu bersedia bertanggung jawab penuh dengan rencananya. Rufus hanya perlu melihat bagaimana hasilnya nanti.

"Memanfaatkan kelompok yang kabur itu katamu? Menarik."

Bersambung...


Preview/Teaser chapter berikutnya:

"Eit, mau apa kalian?" seru seorang gadis berambut bob. "Jangan macam-macam dengan pendekar sepertiku ya?" Yang lain pun sweatdrop. "Pendekar? Kau ini pencuri tahu!"

"Tangkap kelelawar itu!" seru Barret. "Pasti ada vampir di dekatnya!" Sebaliknya Aerith bilang, "Ia imut tuh. Bawa saja ya?"

"Kakek, aku pulang!" seru Red XIII. "Ada yang ingin mereka tanyakan soal Cetra dan para lintah."


A/N: Berapa banyak yang terkecoh oleh adegan pertama ya? Ayo, ngaku di kotak review! Tapi mungkin ketebak juga sih. Masa crita yg alurnya lambat gini tau2 langsung menyajikan kematian Aerith? Pasti Cloud cuma ngimpi! XDDDD

Sekedar info, ada beberapa adegan yg dibuang SE sebelum game dirilis, salah satunya adalah adegan Tifa menunjukkan foto pada Aerith, bahwa cerita Cloud yg ke Nibelheim itu ada yg salah, dan Tifa meminta Aerith untuk tidak mengatakan pada Cloud. Adegan ini mungkin dibuang karena pertimbangan biar sosok Zack lebih misterius lagi kali ya? Btw, kemarin habis menjelek-jelekkan Twilight Saga. Nyatanya, Aerith saat berusia 17 th yg jatuh cinta ma vampir super ganteng ga ada bedanya ma Bella.

Aku baru nyadar kalau ini kisah vampir, tapi dari awal belum pernah nunjukin adegan vampir sedang menghisap darah manusia. Hojo sempet sih, tapi bukan itu adegan yg aku maksudkan. Aku pengen yg elegan, awalnya mau pake Zack di flashback ntar tapi daripada kelamaan nyampenya, terpaksa pake Rufus deh hehehe. Nah, kalau vampir memangsa manusia yg serba brutal dan menyerempet gore, itu jatah Sephiroth.