Hello! First fic nih…

Semoga semuanya suka ya! Maaf kalo ada typo atau salah-salah kata.

It's all belongs to J.K. Rowling! Dan aku hanya bikin fanfic supaya cerita Harry Potter gak memudar walaupun udah abis :)

Nah, soal banyak tokoh baru, emang bermaksud dibikin buat couple-couplean hehe… abisnya nih kan overall cerita Harry Potter itu nyawanya di Weasley yang anak-anak dan cucu-cucunya bejibun, tapi berhubung Harry nikah sama Ginny udah gabisa lagi weasley di saling dipasangin, makanya bikin tokoh baru supaya asik ajaa hehehe!

Enjoy!

. . . .

Carlisle segera berlari keluar dari Three Broomsticks. Draco mengejarnya.

Ia membuka pintu dan udara dingin kembali menusuk kulitnya. Namun, Ia terus berlari. Tidak mempedulikan James yang berusaha menahannya. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan cengkraman James dan kembali berlari. Tanpa arah, tanpa tujuan.

Ia bisa mendengar derap kaki Draco yang terus mengejarnya. Ia mempercepat larinya dan berbelok di tikungan yang sepi. Jalan buntu. Ia segera bersembunyi di balik tembok pembatas rumah.

Suara Draco terdengar lagi, tapi segera hilang. Draco berhenti berlari. SSemenit kemudian terdengar suara Draco yang bergema.

"Aku tahu kau disini!" katanya. Carlisle menahan tangisannya sekuat tenaga.

"CARLISLE!" kata Draco sekali lagi. Carlisle mulai menghirup napas agar lebih tenang, walapun airmata masih meleleh di pipinya.

"Aku begini karena aku menyayangimu!" seru Draco. Suaranya semakin keras, membuat Carlisle tidak bisa menahan tangisannya lagi. Draco mendengar suara orang menangis dari balik tembok. Tapi, tidak berusaha untuk menghampirinya.

"Bohong," samar-samar terdengar suara seorang gadis. Suaranya bergetar dan sangat perlahan. Tapi, Draco tetap bisa mendengarnya.

"Tidak," jawab Draco. Nadanya lebih rendah daripada tadi. "Demi semua orang, demi aku, kalau kau memang menyayangiku."

Carlisle menutup mulutnya dengan kedua tangannya dan bersandar lemas. Seluruh tubuhnya tidak dapat membendung lebih banyak kesedihan dan airmata lagi. Seluruhnya telah melebur, membuat salju terasa lebih dingin daripada sebelumnya. Ia ingin jujur tadinya, tapi ternyata hal itu tidak mudah, setelah menutupi hal yang sangat besar selama bertahun-tahun. Ia ingin melakukannya demi Draco, dan demi James, tapi Ia tidak sanggup. Ia mencintai mereka berdua.

"Aku tidak menyayangi semua orang… Dan juga tidak menyayangimu," lanjut Carlisle.

Draco mencelos. Rasanya seperti rasa sakit disayat oleh pedang baja. Bahkan, lebih buruk daripada kutukan penyiksa. Carlisle juga merasakan hal yang sama, karena harus membohongi orang lain dan perasaannya sendiri.

"Baiklah. Jangan cari aku lagi. Mungkin kau sudah merasa cukup bahagia," kata Draco. Kali ini suaranya yang bergetar menahan tangis. Ia segera berbalik, berjalan membelakangi jalan buntu itu. Ia tidak menghampiri Carlisle. Ia terlanjur sakit hati, Ia tidak peduli lagi soal apapun. Yang pasti Ia harus menjauh dari tempat itu.

Carlisle terduduk lemas, di balik tembok itu dan mulai menangis pilu.

Pintu Hogwarts Express dibuka. Rose segera menyeret seluruh barang-barangnya dan turun. Hugo langsung menyusulnya dengan tergopoh-gopoh. Rose mencari ayah dan ibunya yang tak kujung terlihat. Tapi, Ia melihat paman dan bibinya, Harry dan Ginny. Mereka segera menghampiri Harry dan Ginny.

"Uncle Harry! Aunt Ginny!" sapa Hugo. Harry menyambut pelukan Hugo dan Rose memeluk Ginny. James, Albus, dan Lily belum kelihatan ada di dekat mereka.

"Lihat Mom dan Dad?" tanya Rose. Ginny menggeleng lembut, "Belum, Sayang. Mungkin mereka sedang beli makanan atau sedang ambil troli."

"Lihat James, Albus dan Lily?" tanya Ginny. Rose mengangguk, "Lily dan Albus tadi sedang ambil barang-barang."

"James?" tanya Harry, lagi. Rose mengangkat bahunya tanda bahwa Ia tidak tahu. "Ia tidak berada di kompartemen yang sama dengan kami, juga tidak masuk kereta bersama kami, Ia tampaknya ada di ujung gerbong, di dekat tempat duduk anak-anak Slytherin," tutur Hugo.

Harry segera mengangguk. James pastilah sedang menunggu Carlisle.

Tidak berapa lama, Lily, Albus dan James keluar dari kereta. Tapi, James tampak sangat tidak bersemangat.

"Dad! Mom! Maaf harus menunggu, kami mencari-cari James," kata Lily. Ia mengecup pipi Harry dan Ginny. Albus memeluk ayah dan ibunya. James hanya diam.

"James, ada sesuatu yang salah?" tanya Ginny sambil membelai rambut James. James membiarkan Ginny membelainya sekali dan setelah itu menepisnya.

"Aku baik, Mom," jawab James. Ia tersenyum walaupun sangat dipaksakan. Ginny mengerti dan membalas senyuman James.

Tiba-tiba seorang anak datang menghampiri mereka. Scorpius Malfoy mengenakan celana jeans, T-Shirt warna biru tua polos dan jaket bahan warna hitam. Postur tubuhnya sangat menunjang dan membuat banyak anak perempuan melihat ke arahnya.

"Permisi, Mr. Potter, Mrs. Potter," sapanya dengan sopan. Harry mengangguk pelan dan menjabat tangannya. Ginny, tanpa disangka, memeluk Scorpius sehingga membuat Scorpius membeku dan tidak bergerak.

"Tidak perlu bicara begitu, Scorpius. Panggil aku Aunt Ginny dan panggil saja Harry Uncle," kata Ginny. Scorpius yang masih terbelalak menggumamkan 'Ya' pelan. Hugo, Rose, Lily dan Albus menahan tawa mereka, sedangkan James menatap lurus ke gerbang kereta dengan gelisah. "Jangan bingung, Mom dan Dad-mu itu sahabat kami sekarang," timpal Ginny, lagi. Scorpius tersenyum kecil dan membuat jantung Lily berdebar kencang.

"Hai, Lil," sapa Scorpius. Lily terkejut melihat Scorpius yang nekat menyapanya di depan orangtuanya. Lily segera melambaikan tangannya kecil. Ginny dan Harry hanya saling pandang melihat sikap anak bungsunya itu.

"Car… Dad aku pergi sebentar," sambar James. Ia ingin beranjak pergi, tapi Ia menghentikan langkahnya.

Harry segera menoleh. Seorang wanita paruh baya mengenakan mantel cokelat muda memeluk Carlisle. Itu pasti neneknya, seorang Vagnuire. James membatalkan rencananya dan kembali berdiri mematung. Semua orang saling pandang melihat sikapnya itu.

.

Hari ini tepat hari natal dan keluarga Weasley mengundang Draco beserta keluarganya ke The Burrow untuk merayakan natal bersama. Draco tentu saja dengan senang hati menerima undangan dan datang bersama istri dan anaknya. Mereka datang menjelang siang hari dan memutuskan untuk menginap setelah dipaksa oleh Mr. Weasley. Semua menerima Draco dengan baik, bahkan Ron, tapi George masih bersikap dingin terhadap Draco. Draco mengerti, wajar saja kalau George bersikap seperti itu karena dulu 'kaumnya' telah membunuh saudara kembarnya. Meskipun bukan Draco yang membunuhnya, tapi tetap saja Draco yang disalahkan mengingat bahwa Ia adalah salah satu mantan Pelahap Maut.

Acara natal menuju puncaknya di malam hari. Para istri beserta Molly memasak makanan terbaik mereka dan anak-anak mendekorasi ruangan sesuka mereka.

"Makanlah Mr. Malfoy, mungkin ini memang saat-saat yang canggung karena pertama kalinya ikut pesta natal bersama kami, tapi tahun depan kami akan mengundangmu lagi, jadi tenang saja," kata Mrs. Weasley, ramah. Astoria tampak malu-malu dan Draco tersenyum. Scorpius hanya bisa diam saat melihat George memutar kedua bola matanya. Fred langsung menendang kaki ayahnya.

Scorpius mulai disukai anak-anak Weasley, mulai dari Victoire, Dominique dan Louis yang senang membicarakan tentang hewan-hewan gaib dengannya. Lalu Molly dan Lucy tidak henti-hentinya menanyakan beberapa resep ramuan kepada Scorpius. Fred, Roxanne, Albus, James, Teddy dan Hugo senang sekali membicarakan soal Quidditch dan Scorpius sangat cocok dengan Rose, karena mereka sama-sama memiliki hubungan 'khusus' dengan buku. Lily lumayan senang dengan suasana seperti ini, karena secara tidak langsung Scorpius juga sedang menarik perhatiannya.

"Jangan panggil Mr. Malfoy, panggil saja aku Draco," jawab Draco. Keluarga Weasley menyetujuinya dan mulai memulai obrolan dengan kata 'Draco' berkali-kali. Anak-anak (kecuali Teddy dan Victoire) selesai makan lebih dulu dan segera naik ke kamar mereka untuk membuka kado-kado natal. Kebetulan Albus dapat permainan baru, sesuatu yang seperti permainan monopoli bernama 'Richesse' yang dibawa Fleur dari Perancis. Mereka memainkan itu sampai larut malam.

James satu-satunya yang tidak ikut bermain. Ia sibuk sendiri dengan buku-bukunya dan terus mencatat, seperti sedang menganalisa sesuatu. Ini memang bukan hal yang biasa dilakukan James, tapi menurut Rose, James hanya mengalami akibat-patah-hati yang akan segera menghilang setelah Ia bisa melupakan Carlisle sejenak. Anak-anak hanya mengangguk saja mendengar penjelasan Rose, mereka tidak terlalu mengerti soal itu. Mungkin Teddy dan Victoire yang sudah cukup dewasa mengerti, tapi mereka tidak berkomentar sama sekali.

"Weasleys' Wizard Wheezes! Aku beli!" seru Lily, bersemangat.

"Wah, inisih namanya kau langsung menang, lihat saja harga sew-" kalimat Roxanne terputus. James tiba-tiba berteriak seperti melihat naga hidup-hidup. "AAAAKUU TAHUU!"

"JAMES! KAU BISA BUAT AKU SERANGAN JANTUNG! DIAM!" bentak Louis. James langsung memberikan seringai jahilnya lagi. Akhirnya, setelah rasanya berabad-abad Ia tidak menunjukan seringai itu.

"Ada apa, James? Kau menemukan sesuatu?" tanya Roxanne. James segera melompat turun dari tempat tidurnya.

"Aku tidak keberatan jika masih ada tempat untuk satu pemain lagi," kata James.

Anak-anak lainnya mulai menyoraki James yang mulai bermain. Tapi, tetap saja Lily yang menang sampai akhir karena Ia telah 'membeli' toko Weasleys' Wizard Wheezes. Dominique hanya bisa mendengus karena Ia berkali-kali 'masuk' ke Azkaban.

James sudah kembali ceria lagi dan ini artinya buruk untuk Lily. Lily yakin dan percaya bahwa kakaknya yang satu itu tidak akan membiarkannya 'hidup-hidup' di depan Scorpius. Baru saja Lily memikirkannya, James langsung memulai aksi jahilnya.

"Bagaimana kalau besok kita main Mini Quidditch di halaman belakang?" tanya Fred. Mata Albus, Lily dan James segera berubah menjadi berbinar-binar. Lucy segera menyambar, "Tidak! Potters, kalian tidak akan kami biarkan berada dalam tim yang sama."

"Mana adil!" kata Albus. Lily mengangguk setuju. Anak-anak lain hanya tertawa melihat kelakuan mereka yang bersikukuh ingin berada tim yang sama. Terang saja, mereka sudah tahu kemampuan para Potter masing-masing, kalau ketiganya disatukan tidak akan ada yang bisa mengalahkan mereka. James segera mencari-cari kesempatan untuk meledek adik bungsunya itu.

"Kalau Lily dan Scorpius berada di tim yang sama, yang jadi chaser depannya siapa?" kata James. Lily segera mendengus.

"Tentu saja Scorpius."

"Tentu saja Lily."

Scorpius dan Lily saling menunjuk satu sama lain secara bersamaan. Scorpius tersenyum malu-malu sedangkan Lily mengacungkan tinjunya kepada James yang langsung disambut tawa dari anak-anak lainnya. Scorpius adalah seorang chaser paling handal di asramanya, tapi tentu saja sangat sulit baginya untuk mengalahkan duo chaser James-Lily. Seumur hidupnya, baru satu kali Ia mengalahkan James dan di Pertandingan Quidditch Antar Asrama kemarin, Ia kalah telak dari James dan Lily. Tapi, tetap melaju ke final setelah mengalahkan Ravenclaw.

"Stop meledek mereka, Jamie," kata Rose membela Lily. Lily tersenyum penuh kemenangan kepada James.

"Kalau Rose jadi beater saja, seperti Jeremy. Benarkan?" balas James. Wajah Rose langsung memerah diiringi oleh suara tidak percaya dari anak-anak lain.

"Jadi, itu benar Rose? Kau dengan Jeremy Bluebird? Anak kelas enam itu?" tanya Hugo penuh semangat. Anak-anak lain berusaha menyimak Rose yang mulai memberikan jawaban.

"Aku tidak menyukainya, James. Kami hanya pergi bersama."

Terdengar seruan 'Oooooow' panjang dari anak-anak itu. Seruan seperti itu adalah seruan khas The Burrow yang selalu terdengar setiap malam natal.

"Benar. Maksudku… ya, kau tahu kan, Aaron Wood?" jawab Rose. Aaron Wood adalah tak lain dan tak bukan, anak dari Oliver Wood.

"Oh, ya… jadi kau menyukainya? Lalu, kenapa kau malah pergi ke pesta dengan Jeremy?" sambar Molly. Rose menghela napas panjang sebelum menjawab pertanyaan itu."Ya… dia tidak mengajakku."

Rose mengangkat bahunya. Lily jadi prihatin terhadap Rose karena Ialah satu-satunya orang yang tahu bahwa Rose sangat menyukai Aaron dan itu berlangsung sudah sangat lama, bahkan sebelum Lily masuk ke Hogwarts.

"Yang penting dua-duanya beater kan?" sela James. Rose segera menonjok bahu James.

Malam itu berlangsung seru karena James kembali ke keadaannya yang semula. Sementara itu, banyak rencana telah tertulis di otaknya.

"Dad?" panggil James. Harry sudah berpakaian rapih, lengkap dengan jubah aurornya tapi,tetap saja rambutnya yang berantakan mencuat ke segala arah. Pagi ini Ia sudah harus bekerja, padahal masih satu hari setelah natal dan sialnya lagi, hanya para Auror yang dipaksa masuk pagi-pagi.

"Ya?" jawab Harry sambil mengoleskan selai di rotinya. Harry duduk sendirian di meja makan, sedangkan Ron masih memasak di dapur. Entah apa yang dimasaknya, tapi baunya benar-benar menyengat. Untung saja sekarang ruang makan dan dapur diberi sekat, kalau masih satu ruangan, Harry tidak bisa membayangkan apakah Ia masih memiliki selera yang cukup untuk sarapan.

"Aku... mau bicara," kata James. Ia menarik kursi di sebelah kanan Harry dan duduk disana. Harry menegakkan duduknya dan mulai menggigit rotinya, "Bicara apa?"

"Soal, boggart Carlisle itu… aku kemarin baca buku sejarah sihir dan kurasa aku menemukan tanda yang aku perkirakan bisa saja jadi tanda yang ada di lengan orang itu, boggart itu," kata James putus-putus. Ia bingung harus menggunakan kalimat apa untuk membuat Harry mengerti. Tapi, Harry segera mengerti dan melihat James penuh semangat.

"Tanda Pelahap Maut kan, James?" balas Harry. James terkejut, karena ternyata hal yang sudah dipikirkan oleh ayahnya sejak lama baru saja Ia ketahui. Ia mengangguk pelan.

"Nah, James. Aku mengenal seseorang yang pernah memiliki tanda itu," kata Harry. James mendekatkan posisinya dengan posisi Harry dan menatap mata ayahnya penuh minat. "Siapa?"

"Draco Malfoy."

James terbelalak mundur. Ada mantan Pelahap Maut di rumah ini? Apa dunia sudah gila?

"Tapi, Ia sudah berubah, James. Ia tidak jahat dan tidak berbahaya," timpal Harry. James merasa lebih tenang. Setidaknya kalau Harry bilang begitu, biasanya semuanya akan baik-baik saja.

"Lalu, kenapa tak kau tanyakan padanya?" sahut James. Harry menggigit rotinya dan meneguk segelas Butterbeer. Aroma sedapnya menguar ke seluruh penjuru dapur.

"Karena… kami memiliki sejarah, yang sebaiknya tidak kami bicarakan lagi," jawab Harry, tenang. James langsung mengerti maksud perkataan Harry. Ayahnya dan Draco dulu berada di pihak yang berlawanan, dan pasti mereka pernah melakukan suatu hal yang menurut mereka tidak perlu dilakukan lagi sekarang.

"Jadi, harus tanya ke siapa?" tanya James.

"Kau kenal anaknya."

"Scorpius?"

"Setidaknya, mungkin Scorpius bisa lebih mudah membicarakan hal ini dengan ayahnya, sen..hi..di," jawab Harry sambil mengunyah rotinya.

Ron keluar dari dapur sambil menepuk-nepuk perutnya. Sepertinya, Ia sudah makan di dapur dan entah bagaimana caranya Ia bisa menikmati makanan yang baunya begitu menyengat. Tapi, setelah itu Harry dan Ron segera mengucapkan sampai jumpa kepada James dan lenyap ke kantor mereka.

James masih terdiam di tempat duduknya dan merenung. Scorpius? Bisakah?

.

"JAMES! AKU KOSONG!" teriak Lily. Segera saja James melemparkan quaffle tepat ke arah Lily. Lily segera melesat cepat, melewati Dominique dan Fred dengan nimbus 2000 pemberian ayahnya. Sekejap saja Ia sudah berhadapan muka dengan Hugo, sang keeper. Tapi, berhadapan dengan keeper saja tidaklah mudah, 2 buah bludger tengah berusaha menghadangnya. Lily segera menikung dengan cepat dan melemparkan quafflenya. Masuk.

"ALBUS! CEPAT!" teriak James.

Albus segera meluncur ke tenggara, mengejar bola kecil berwarna emas. Di belakangnya Scorpius membuntuti, tapi tetap saja tidak bisa menyaingi kecepatan firebolt milik Albus. Albus mendapatkan snitchnya. Para potter menang lagi. Biar bagaimanapun orang memaksa mereka untuk pisah, tetap saja mereka tidak berhasil. Ketiganya tetap bersikukuh untuk berada dalam satu tim.

Rose meneriaki mereka dari bawah.

"SUDAH AKU BILANG! MEREKA TIDAK BISA BERADA DALAM SATU TIM!"

Albus segera menghampiri James dan Lily. Para Potter terbang berdampingan di atas udara, tertawa terbahak-bahak. Bangga, tentu saja, karena mereka kembali berhasil mengalahkan Weasley lainnya dan seorang Malfoy.

James segera menghampiri Scorpius ketika mereka telah tiba di daratan. Rose tengah membuka tasnya dan memberikan bekal kepada saudara-saudaranya. Mereka harus cepat-cepat makan sebelum jam sewa lapangan habis.

"Scorpius, aku perlu bicara, penting," kata James seraya menarik lengan Scorpius ke pojok lapangan.

"Jadi… katakan padaku segalanya," Scorpius melipat kedua tangannya dan bersandar di tembok bangku penonton. Kalau Lily sedang melihatnya Ia bisa-bisa menjerit tidak karuan.

"Ayahmu dulu Pelahap Maut, kau tahu itu?" sahut James. Scorpius mengangguk.

"Para Pelahap Maut punya tanda, di lengannya, betul kan?" tanya James lagi dan Scorpius tetap melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya sebelumnya, menggerakan kepalanya ke atas dan ke bawa.

"Apa masalahnya?" balas Scorpius.

James segera menceritakan segala hal tentang bentuk Boggart Carlisle. Dan tanda itu, tanda yang Ia curigai sebagai tanda kegelapan.

"Kalau begitu ceritanya panjang, kita butuh bicara di The Burrow, sekarang lebh baik kita makan dan langsung pulang, aku juga ingin memberitahumu sesuatu," jawab Scorpius. Ia segera mengajak James untuk menghampiri Rose dan mengambil jatah makanan mereka.