Dengan kasar Sasuke memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Perasaan kesal, marah, menyesal… bersatu dalam benaknya. Dia kesal dengan sikap Sakura beberapa saat lalu, baginya itu kekanak-kanakan. Tapi… tidakkah Sasuke berfikir, bahwa yang kekanak-kanakan itu dirinya? Tidakkah dia berfikir, mungkin jika dia bias mengerti Sakura, semuanya akan baik-baik saja. Tidak akan berakhir buruk seperti ini.

Ya, andai saja Sasuke seperti itu.

Xxxx


She is Mine

Naruto © Masashi Kishimoto (forever, and never be mine T.T)

Story © Mila Mitsuhiko

Warning : AU, OOC, gaje, abal, dan keanehan lainnya—tapi nekat dipublish.

Chapter # 10

`Saya tidak memaksa siapapun untuk membaca fic ini, bagi yg merasa fic ini tidak layak untuk dibaca, atau tidak sebaik yang anda mau... saya harapkan anda mengerti dan bersikap bijak. Just Go`


Sasuke mengehempaskan dirinya di atas kasur. Jari-jarinya memijit pelan keningnya yang terasa sakit. Semuanya terjadi begitu cepat. Dirinya dan Sakura belum genap sehari menjadi sepasang kekasih. Lalu… berakhir begini saja?

Terdengar seseorang memasuki kamarnya. Sasuke menolehkan kepalanya ke arah pintu.

"Mau apa kau?" tanya Sasuke dingin.

Orang tadi belum menjawab, memilih untuk duduk dulu di atas kasur—berada di samping saudara kembarnya.

"Kau bodoh." Itu bukan jawaban dari pertanyaan Sasuke. Hanya sebuah pernyataan yang ingin sekali Sai ungkapkan pada Sasuke.

"Keluar!" perintah Sasuke tajam.

Sai diam. Lalu bangkit dari duduknya. "Lihat? Kau itu tidak pantas memiliki Sakura." Sai berjalan ke arah jendela kamar Sasuke—tidak keluar seperti apa yang diperintahkan kembarannya. "Kau hanya bisa menyakitinya, membuatnya menangis-"

"DIAM, SAI!" bentak Sasuke.

"-membuatnya sakit hati," Sai masih melanjutkan. "Dan yang pantas untuknya-"

BUGHH

Satu tinjuan keras mengahantam sudut bibir Sai. Daerah itu kini dialiri darah segar berwarna merah gelap. Rasa sakit terasa sangat nyata di sana.

Dengan pelan, Sai mengusap sudut bibirnya itu—yang menjadi korban kemarahan Sasuke.

"Sasuke, ini sakit." Sai melangkahkan kakinya keluar kamar. "Tapi hati Sakura pasti lebih sakit dari ini," ucap Sai lalu keluar dari kamar Sasuke.

Sasuke hanya bisa mengepalkan tangannya, dan melempar apapun benda yang ada di dekatnya.

Xxxx

Setelah berjam-jam di atas kereta api. Akhirnya Sakura sampai juga di Kirigakure, tanah kelahirannya. Seharusnya orang-orang akan bahagia jika pulang kembali ke kampung halamannya. Tapi tidak dengan Sakura. Senang, bukan sesuatu yang bisa dirasakannya saat ini.

Ketika sampai dirumahnya, suasana sangat sepi. Sepertinya dia terlambat untuk melihat wajah ayahnya untuk yang terakhir kali.

"Sakura…" suara serak seseorang memanggilnya.

Sakura menoleh. "Ibu?" Sakura melihat di hadapannya, wanita cantik berambut hitam panjang, dengan mata merahnya yang sembab. Sakura segera menghamburkan pelukan pada wanita itu. "Ayah mana?" tanya Sakura

"Di-dia sudah dikuburkan sayang…"

"Mengapa tidak tunggu aku, bu?"

"Ma-maaf…"

"Aku akan ke makam ayah!" ucap Sakura kemudian berlari meninggalkan ibunya. Yang dia fikirkan hanya satu, ayah.

Xxxx

Sakura berlari menerjang tanah yang becek yang terkena hujan semalam. Bahkan sesekali dia terpeleset dan jatuh. Tapi dia tidak berhenti. Dia tidak ingin membuang-buang waktunya. Dia ingin segera sampai kesana.

Sampailah dirinya di pemakaman umum. Dia belari memasukinya, melihat satu per satu pusara yang ada di sana. Mencari goresan yang bernamakan ayahnya 'Asuma Sarutobi'. Dan tentu saja itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Mengingat tak hanya ada satu nisan di sana.

Menangis dan berlari. Sakura merasa lelah hingga dia terjatuh di depan pusara seseorang. Pusara yang kelihatannya masih baru. Masih dipenuhi bunga-bunga segar. Sakura perlahan bangkit, lalu memperhatikan tulisan yang tergores di nisan tersebut…. Nama ayahnya.

Sakura sekali lagi terjatuh, kini tepat di atas tanah basah tersebut. Terasa hangat. Seakan dirinya memeluk tubuh sang ayah.

"Ayah… mengapa begitu cepat? Kau bahkan belum melihatku menjadi seorang seniman 'kan?" tanya Sakura. Tubuhnya dipenuhi butiran-butiran tanah hitam. Dia tidak menangis. Dia tidak ingin menangis di depan ayahnya. Dia ingin kuat.

Perlahan titik-titik air jatuh dari langit. Makin lama, titik-titik air itu makin ramai dan cepat. Jatuh menghantam Sakura dan sekelilingnya. Hujan yang datang denga tiba-tiba dan deras. Ingin berlari, tapi tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam tubuh Sakura.

Perlahan, semua terasa gelap.

Xxxx

KRIEET

Terdengar suara pintu terbuka. Lalu langkah seseorang yang sengaja dipelankan. Agar tidak membangunkan orang yang sedang tertidur di atas kasur. Tamu ini, lalu mengusap pelan kening orang yang sedang tertidur tadi.

"Sasuke…" gumamnya pelan.

Merasa terpanggil, Sasuke perlahan membuka mata. Dan di hadapannya terlihat seseorang – wanita yang tersenyum padanya.

"Sakura?" ucapnya. Mata onyxnya belum sepenuhnya sadar dengan apa yang ada di depannya.

Gadis tadi mengehentikan gerakan tangannya. "Ino. Aku Ino." Suara tak lagi selembut tadi.

Sasuke mengerjapkan matanya. Lalu melihat lagi ke arah gadis di depannya. "Ino? Sedang apa kau di kamarku?"

"Aku… ingin bertemu denganmu. Aku… rindu denganmu."

"Keluar!"

Ino terkejut. "A-apa?"

"Kamar Sai bukan di sini," ucap Sasuke lalu memeluk guling di sampingnya.

"Tapi aku-"

"Keluarlah. Aku tidak ingin melihat siapapun."

Dengan rasa kesal dan malu, Ino memutuskan untuk keluar dari sana. Dia tahu, di saat seperti ini… Sasuke akan sangat menyeramkan.

Xxxx

Sakura membuka matanya perlahan. Dan melihat suasana di sekitarnya. Kepalanya terasa sakit dan pusing. Hal terakhir yang dia ingat adalah… berada di makan ayahnya, lalu di serang hujan deras yang datang tiba-tiba. Lalu… mengapa sekarang bisa ada di dalam kamar? Kamar yang baru pertama kali dilihatnya.

"Aku di mana?" tanyanya. Tiba-tiba terdengar seseorang masuk. Sakura menolehkan kepalanya.

Merah.

Dia melihat sosok berambut merah di hadapannya. Sosok itu tersenyum lembut. Matanya terlihat sayu. Memandangnya saja membuat Sakura merasa tenang.

"Aku ada di-"

"Di kamarku," jawab orang itu, seakan tahu apa yang akan ditanyakan Sakura.

DEG

"A-apa?" Sakura masih bingung. "Me-mengapa aku memakai baju kering dan… ini baju lelaki 'kan?" Sakura terkejut. Dia baru menyadari semua itu.

"Kau pingsan di makan. Aku membawamu kesini. Karena kau basah, aku meminjamkanmu pakaianku." Orang tadi tersenyum. Bukan senyum mesum.

Sakura terbelalak. "A-apa? Kau melihat semuanya?"

Dia menggeleng. "Tenang saja, aku tidak semesum itu," dia tersenyum lagi. "Nenek Chiyo yang menggantikan pakaianmu."

"Nenek Chiyo?"

"Dia nenekku. Sekarang sedang membuatkan makan malam."

Sakura merasa lega dengan ucapan lelaki di depannya.

"Siapa namamu?" tanyanya.

"Sakura…"

"Aku Sasori. Salam kenal." Lelaki itu menjulurkan tangan kanannya. "Salam kenal," ucapnya.

"Hmmm… salam kenal," ucap Sakura lalu menjabatkan tangannya pada Sasori.

Hangat.

Sangat hangat.

xxxx


TBC...

Thanks

Feedback! (buru-buru)