Disclaimer : demi apapun, naruto bukan punya saya, punya masashi sensei, aku hanya pinjam saja.
.
.
Run away
.
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
.
Run away by author03
Uzumaki Naruto x Hinata Hyuga.
Romance\Drama
.
.
.
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 10
.
.
.
"Hallo, kau sudah berhasil masuk?"
"Saya sudah berhasil masuk dan dia memberi saya tinggal dilantai empat."
"Sungguh? Mana mungkin?"
"Iya, dia membiarkan saya tinggal disini."
"Kalau begitu awasi dia. Lakukan apa yang harus kau lakukan jika dia melakukan sesuatu padamu."
"Ha'i, saya akan menjalankan tugas saya."
"Wwwwwwoooiii! Bangun!"
Deg!
Gadis diatas sofa mewah itu berduduk kaget. Siapa? Mengapa ia tidur disofa? Dimana ini? Siapa yang memanggilnya?
...
Beberapa menit loading, dirinya pun mengingat apa yang terjadi. Ia minum air yang diberi obat tidur, alhasil dirinya tak sanggup lagi menahan kantuk, tertidur diatas sofa dilantai lima.
"Siapa kau? Mengapa kau disini?" tanya gadis yang tak lain adalah Shion pada seorang gadis bersurai pink tak jauh darinya.
.
.
.
.
"Cari kemana kereta ini pergi! Tunggu ditempat perhentian dan temukan dia." sang lelaki bersurai kuning itu masih saja panik. Para pengawal yang merasa terpanggil langsung berhamburan pergi.
Lelaki bersurai kuning bernama Naruto itu mengigit panik jari kuku jempolnya. Apa yang harus ia lakukan? ia harus cepat menemukan Hinata dan menjelaskannya.
.
.
"Naruto-sama. Kereta ini menuju ke Sumogakure." dua menit berlalu dan seorang pengawal muncul dengan ucapannya.
"Bawa mobil. Kita ke sana saat ini juga!"
.
.
.
.
"Hiks hiks.." gadis yang akhirnya berhasil menghentikan tangisannya pun berdiri, tak lupa menghapus jejak air mata di pipinya dan masih membiarkan semua mata menatapnya aneh dan penasaran.
"Hiks. Dimana kereta ini pergi?" tanya Hinata kepada siapa saja, ketika ia membalikkan badannya dan menatap dua baris manusia yang terduduk diatas kursi.
"Sumo.." jawab seorang wanita pelan.
"Terima kasih." jawab Hinata singkat. Ia harus segera keluar dari sini sebelum Naruto dan yang lain menyusulnya. Mereka pasti akan menunggu dimana kereta ini berhenti.
.
.
.
Cczzztt...
Kereta berhenti, pintu perlahan terbelah dan sekumpulan manusia berseragam hitam langsung berhamburan masuk tanpa menunggu manusia dari dalam melangkah keluar.
Sepuluh manusia itu mencari ke setiap sudut kereta tapi mereka tetap tak menemukan apa yang mereka cari.
...
Diam-diam tanpa disadari, seorang gadis bersurai indigo menyelinap keluar dari toilet menuju pintu keluar paling depan. Memutari kereta dan meloncat masuk ke kereta yang entah bertujuan kemana, disebelah. Apapun itu, yang jelas ia harus pergi.
Tuutttt..
Rel berbunyi dan kereta melaju pergi.
.
Sedangkan sepuluh pengawal tadi menghampiri bos mereka yang masih sibuk mencari dengan berita buruk.
"Kuso!" Naruto meninju kuat dinding kereta. Dimana Hinata? Dimana dia?
Air mata di mata kirinya menetes tanpa sadar, menandakan ia sangat panik dan takut saat ini.
.
.
.
05.21
Selama perjalan entah kemana ini. Hujan deras terus terlihat. Tapi untungnya ketika tiba distasiun beberapa jam lalu, hujannya berhenti.
Terlihat gadis bersurai indigo itu masih terduduk di pinggir jalan. Jalannnya cukup sepi dan terasa dingin. Mengapa bisa sedingin ini?
Gadis yang adalah Hinata itu menekuk lutut dan memeluknya. Kepalanya setia menatap ke bawah. Ia bahkan tak tahu dimana ini. Mengapa dingin sekali?
...?
Wajah cantik dan sedikit memerah karena menangis itu terangkat ketika sebutir benda putih menyentuh kaki telanjang nya?
Apa ini?
Hujan butiran putih? Salju?
...
"Hiks.. Hiks.. Haaaaaa!" tangis itu kembali pecah. Musim dingin telah tiba?
"Hiks.. Hiks.. Itu artinya. Hiks.. Tanggal empat belas kemarin bukan valentine. Hiks.. Itu. Hiks. Itu artinya aku belum. valentine. Hiks.." tangis semakin pecah. Dadanya terasa sakit sekali. Valentine bulan ini, bukan bulan kemarin.
"Hiksssss.. Hiksss.." ia akan menyimpulkan bahwa Naruto bukanlah jodohnya.
"Hikssss..huaaaaa!" mengapa dadanya sakit sekali? Ini bukan waktunya memikirkan valentine. Harusnya ia memikirkan Naruto yang telah menghianatinya lagi.
.
.
.
Tangan bergetar itu mengotak-atik layar ponselnya. Menekan satu nama dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Tutt..
Clik. Telepon itu terangkat dengan kilat seperti biasanya.
"Hallo?" sapa orang diseberang sana.
"Toneri,, Hina-Hinata hilang. Dia melihatku dengan seorang perempuan dan dia salah paham." ucapan layaknya bom didalam tubuhnya.
.
.
.
"Sudah kubilang sejak awal. Sekarang apa yang bisa kulakukan?!" marah sang lelaki bersurai perak ketika langkahnya terhenti di pinggir jalan. Seketika saja salju yang tadinya dingin terasa hangat untuknya, ditambah jaket musim dinginnya. Sungguh membuatnya gerah.
"Tidak, dia sudah tahu semuanya. Ini masalah lain. Seorang menjebakku. Ini sungguh kecelakan, Toneri." ucap seberang sana kecewa.
...
Toneri berpikir sejenak. Apa maksud dari dia sudah tahu semuanya? Dia sudah tahu sikap sialan Naruto selama ini?
"Aku sungguh tak melakukannya lagi. Itu kecelakan. Seorang gadis menjebakku." tambah Naruto khawatir.
...
"Aku akan membantumu. Tenanglah. Aku akan menemukannya. Jangan khawatir. Berjanjilah kau tak akan melakukan apapun yang akan menyakitimu." jawab Toneri. Ia akan melakukan apapun untuk membantu temannya. Mengingat Naruto terdengar sangat frustasi membuatnya sedikit takut bahwa dia bisa saja melukai dirinya sendiri.
"Temukan dia. Kumohon."
"Aku akan menemukannya." Toneri memutuskan sambungan secara sepihak.
"Kita harus segera pergi." empat orang berpakaian serba hitam mengekori Toneri yang baru saja melangkah pergi. Padahal ia sungguh sangat sibuk saat ini. Sungguh memusingkan.
.
.
.
Toneri pov..
06.48
Tap tap tap..
Sepatu mahal ku mencetak jalanan yang mulai dipenuhi salju. Aku tak memakai mobil karena awalnya aku ingin menikamati salju pertama ini tapi masalah teman ku sungguh membuat moodku hancur.
Berjalan dengan angkuh dan menghiraukan siapapun disekitar tapi langkahku tiba-tiba terhenti.
...
Surai indigo itu terasa sangat halus layaknya sutra dan piyama di badan itu membuatnya terasa lucu, sangat menghipnotis diriku untuk mendekat.
...
Entah sadar tak sadar aku memilih membalikkan badan ku dan menghampiri gadis yang tengah terduduk dipinggir jalan sambil membenamkan wajahnya ke lipatan lututnya itu.
"Permisi?" sapaku pelan ketika aku membungkuk dan membuat wajahku tepat di depan wajahnya yang terbenam.
Deg.
Aku membeku ketika wajah itu terangkat. Matanya berkaca-kaca dan sembab. Meskipun begitu dia terlihat sangat cantik bak bidadari dan terlihat sangat manis layaknya wajahnya di taburi banyaknya gula.
Aku merasa...
Jatuh cinta pada pandangan pertama..
.
Toneri pov end.
.
.
.
Hinata menghapus air mata didekat matanya ketika ia mengangkat kepalanya dan menatap seorang lelaki bersurai perak?
"Maaf." Hinata berdiri dari posisi duduknya. Ia bahkan tak tahu mengapa ia meminta maaf.
...
Entah apa yang Toneri pikirkan saat ini. Tangannya tanpa sadar menanggalkan jaket musim dingin mahal dibadannya dan melapiskannya ke badan gadis bersurai indigo ini.
"Mengapa kau disini? Disini sangat dingin." Toneri membuka pembicaraan.
"Sa-saya tak tahu saya berada dimana." ucap Hinata jujur ketika kepalanya tertunduk. Air matanya kembali memberontak ingin keluar ketika Naruto kembali membayangi nya.
"Siapa namamu?" tanya Toneri pelan. Ya ampun, ia sampai melupakan ia sudah hampir terlambat untuk ke kantornya.
"Hi-Hinata Hyuuga." jawab Hinata jujur dan langsung membuat Toneri tersentak kaget.
"Hi-Hinata Hyuuga?"
Deg.
.
.
.
.
"Kau sungguh akan mati. Kau membuat misiku gagal. kau sialan." umpat Yugao marah. Bossnya akan marah padanya. Gadis sialan ini sudah menceritakan semuanya dengan lancar dan tanpa rasa bersalah. Mengapa ia begini ceroboh? Tertidur dengan mudahnya?
"Bla bla bla. Aku tak perduli. Misiku juga gagal." jawab gadis bersurai pink itu dengan sinis sambil terus mengekori Yugao.
"Sialan! Dimana jalan keluarnya?!" marah yugao kesal sambil terus memukul dinding yang lagi-lagi menghalang jalannya.
"Kau bekerja disini tapi tak tahu dimana ini." jawab Sakura enteng dan kesal. Mereka terus saja berputar-putar entah kemana. Rumah ini sungguh mengesankan dan mewah. Bahkan Sakura tak bisa menebak berapa harganya. Berterima kasihlah pada gadis bersurai indigo yang tiba-tiba muncul dan membuatnya gagal mendapatkan semua ini. Sialan!
"Brengsek! Kau membuat aku mengejarmu kelantai bawah dan entah kemana. Aku hanya bekerja dilantai lima dan jalan yang aku lewati selalu sama. Aku mana tahu jalan lainnya. Kau benar-benar brengsek!" marah Yugao sambil mendorong dada rata sialan itu. Sungguh menjengkelkan. Bagaimana dengan misinya jika ia bahkan tak bisa keluar dari sini?
"Hei! Berani sekali kau mendorongku. Itu karena kau bodoh. Jangan salahkan aku." jawab Sakura dengan santainya sambil membalas mendorong dada Yugao.
Puk! Satu bogem mendarat mulus dipipi Sakura yang langsung membuatnya K.O kelantai.
"Gadis sialan!" Yugao menginjak kesal kaki Sakura. Sungguh menjengkelkan.
.
.
.
"Hi-Hinata Hyuuga?"
Deg.
Hinata menganggukan pelan kepalanya.
"Kau calon istri Naruto." ucap Toneri memastikan.
Hinata menundukkan kepalanya. Ia tak tahu harus berkata apa.
...
Toneri akan menganggap itu sebagai jawaban iya. Ia bahkan belum melakukan pencarian apa-apa tapi malah sudah menemukan gadis yang dicari Naruto ini tapi..
Deg. Tidak! Bagaimana mungkin ia jatuh hati pada gadis ini hanya dengan sekali lihat? Tapi dia memang sangat cantik dan memukau...
Toneri menggeleng pelan kepalanya, menyingkirkan perasaan yang buruk itu.
"Maafkan aku, tapi kau harus pulang. Naruto mencarimu kemana-mana." ucap Toneri yang membuat Hinata menatapnya terkejut.
"Tidak. Aku tak mau." Hinata berlari pergi tapi seorang lelaki berpakaian hitam yang hampir ia lewati menahan tangannya.
"Maafkan aku tapi Naruto ingin kau pulang." Toneri melangkah menghampiri gadis yang bernama Hinata tadi.
"Hiks.. Aku tak mau. Hiks.." tangis Hinata seketika terdengar. Lengan nya terus memberontak ingin dilepas tapi tak berhasil. Ia tak perduli siapa lelaki ini. Ia hanya ingin pergi. Ia tak mau melihat Naruto lagi.
"Kau harus tahu. Naruto sudah megatakannya padaku. Kejadian it"
"Tidak. Hiks. Aku tak mau tahu. Lepaskan aku. Hiks..hiks.. Kumohon." sela Hinata yang kemudian menghentikan aksi rontakannya. Kepalanya tertunduk. Ia tak mau kebohongan lagi. Naruto sudah menghianati nya. Lagi.
...
"Hiks..hiks.." merasa tak tega akan tangisan itu. Toneri pun memerintahkan pengawalnya untuk melepaskan tangan mungil itu.
Toneri memperdekat jaraknya dengan Hinata. Berencana berbicara baik-baik padanya tapi siapa sangka Hinata malah melingkarkan kedua tangan ke lehernya dan memeluknya erat.
"Hiks.. Aku tak mau kembali. Kumohon. Hiks hiks.. Jangan membawaku kembali kesana. Hiks kumohon..." pinta Hinata memohon ketika wajahnya terbenam tanpa sadar ke pundak kiri Toneri. Dadanya terasa sangat sakit. Ia hanya perlu sandaran saat ini.
Deg.
Toneri membeku. A-apa-apaan ini?
Perasaan apa ini...?
"Hiks.. Kumohon." Hinata menyamankan wajahnya ke pundak Toneri. Persetan dengan air mata nya yang sudah membasahi baju yang tercium mahal ini. Ia tak perduli. Dadanya terasa remuk. Sakit sekali.
...
Tanpa sadar kedua tangan Toneri terangkat.
...
Melingkar secara pelan ke punggung Hinata. Disatu sisi, dirinya menolak memeluk gadis ini tapi disatu sisi lagi, sesuatu didalam dirinya berhasil mengalahkan penolakan itu. Perasaan yang aneh.
"Hiks. Aku tak mau kembali kesana. Hiks." Toneri menepuk pelan punggung Hinata, berharap dia bisa kembali tenang. Kesadarannya membeku seolah ia tak sadar akan apa yang tengah ia lakukan saat ini. tidak, lebih tepatnya badannya tak bisa melawan. Badannya tak mau bergerak sesuai keinginannya. Ia tengah memeluk calon istri temannya. Entah benar-benar tak sadar atau tak mau mengakuinya.
"Jangan menangis lagi."
.
.
.
.
Entah sudah berapa lama, kaki yang terbalut sepatu mahal itu berjalan mondar-mandir dilantai ruang tamu dirumah besarnya. Ia takut. Dari sekian banyaknya orang yang mencari kesana-kesini, tak ada satupun orang yang berhasil menemukan Hinata? Bagaimana mungkin? Dimana Hinata?!
Naruto sungguh takut dan panik saat ini.
...
Belum satu detik bokong itu menyentuh sofa mahal diruang tamu. Bokong itu kembali terangkat. Sepatu mahal itu kembali menginjak sana-sini.
Naruto bahkan melupakan rasa cepek kakinya karena sangking takutnya. Bagaimana cara nya menjelaskan bahwa itu adalah salah paham jika Hinata tak ditemukan?
"Naruto-sama. Saya mendapat kabar bahwa ada seseorang melihat Hinata-sama memasuki kereta ke Suna." lapor seorang pengawal yang entah sejak kapan berada di hadapan Naruto.
"Perintahkan semuanya dan ke Suna saat ini juga."
.
.
.
.
Tidak tidak!
Toneri melepaskan pelukannya. Tidak. Ia tak bisa jatuh hati begitu saja pada calon istri temannya. Ini tak benar. Bagaimana bisa ia terhipnotis begini?
Hinata menghapus air matanya dengan kedua tangannya. "Ma-maafkan saya." ucapnya menyesal. Ia sungguh tak sadar memeluknya tadi. Ia hanya butuh sandaran.
"Kau harus tahu. Narut"
"Saya mohon. Jangan mengatakan apapun lagi. Hiks.. Saya tak mau mendengar alasan lagi." Hinata menghapus air mata nya yang kembali menetes yang lagi-lagi membuat Toneri seolah hampir dilahap habis oleh ketidaksadarannya.
"Kalau begitu tinggallah dirumahku untuk sementara waktu." tawar Toneri. Toneri bersumpah akan menjelaskannya pada Hinata ketika dia sudah lebih tenang. Yang penting saat ini adalah tak membiarkannya menghilang. Meskipun tak akan sulit untuk menemukannya lagi jika dia pergi(menurut Toneri).
...
Berpikir sejenak tapi akhirnya mau tak mau Hinata menggangukkan kepalanya. Ia tak punya tempat tinggal dan tak tahu tempat ini. Jika lelaki ini adalah teman Naruto, harusnya dirinya akan aman tapi tidak tidak. Jika lelaki ini adalah teman Naruto, harusnya dia pasti seperti Naruto kan? Mereka pasti suka bermain perempuan kan? Bagaimana jika.. Tidak. Dia tak akan berani. Dia adalah teman Naruto, bukan?
"Terima kasih banyak." jawab Hinata pelan. Ia tak punya pilihan. Siapa tahu lelaki ini bisa membantunya bersembunyi dari Naruto?
.
.
.
.
Dua jam berlalu, dimana Toneri merasa gadis dihadapannya ini sudah lebih tenang pun berpikir untuk memulai pembicaraan.
...
Hinata masih saja menundukkan kepalanya. Menatap kosong segelas teh hangat didepannya yang mungkin sudah dingin. Rumah ini.. Membuatnya teringat pada Naruto.. Mengapa mereka membuat rumah begini mirip?
Bisa Hinata simpulkan lelaki ini mungkin juga sekaya Naruto tapi itu tak penting saat ini.
"Kau sudah merasa baikan?" Toneri membuka pembicaraan yang membuat Hinata menatapnya.
Hinata mengangukkan kepalanya sebelum menjawab. "Terima kasih."
...
"Hinata, kau harus dengar penjelasanku. Naru"
"Tidak. Saya mohon." air mata kembali menetes dari mata kiri Hinata. "Dia telah menghianati ku. Dua kali." sambung Hinata sambil menghapus air matanya. Ia tak mau lagi penjelasan. Ia tak lagi mempercayai Naruto. Tak lagi.
...
Lagi-lagi hati Toneri luluh akan air mata itu. Tidak. Ini sungguh tak benar. Dirinya tak seharusnya berperasaan seperti ini. Ia sudah berjanji akan menemukan Hinata dan membawanya pulang ke Naruto.
...
Beberapa menit terdiam tanpa bersuara. Hinata pun membuka pembicaraan. "Saya mohon. Jangan katakan apapun pada dia." ucap Hinata berharap yang cukup membuat Toneri kebingungan. Tidak. Toneri sudah berjanji pada Naruto ta-tapi dia tak ingin pulang.
Deg..
Jantung Toneri berdetak semakin cepat. Tidak. Mengertilah. Hal ini tak bisa terjadi. Mengapa hatinya ini tak mau mengerti? Mengapa hati nya terus menyuruhnya wajib menyimpan Hinata untuk dirinya? Tidak tidak. Tak akan.
...
Toneri masih tak menjawab. Ia tak berani menjawab. Apa-apaan ini? Bagaimana bisa ia berencana menghianati temannya hanya untuk seorang gadis yang baru saja ia temui beberapa jam lalu?
Krrriinngg...
Deringan ponsel berhasil memberi jeda pada hawa ragu dan memohon diruangan yang dipenuhi barang mewah ini.
Toneri meraih ponsel dari dalam saku celananya dan menatap ke arah Hinata yang masih menatapnya.
"Naruto.." nama yang tercetak dilayar ponselnya.
Hinata menggelengkan pelan kepalanya, memberi tanda agar Toneri merahasiakan keberadaan dirinya. "Jangan, kumohon."
.
.
.
Clik.
"Toneri. Apa kalian berhasil menemukannya? Aku dengar mereka mengatakan Hinata ke Suna." pertanyaan langsung Naruto lontarkan ketika sambungannya terhubung. Ia sungguh butuh jawaban saat ini. Ia tahu Toneri akan melakukan apapun untuk menemukan Hinata. Ia yakin itu. Toneri akan menemukan Hinata secepat dia mengangkat telepon dari Naruto ini.
.
.
.
Deg.
Toneri terdiam ketika pertanyaan dari orang diseberang sana terdengar lewat ponsel di dekat telinga kirinya.
Ini salah Naruto bukan? Dirinya sudah mengingatkan Naruto tapi tak dia hiraukan. Jadi, tak ada salahnya jika Toneri membantu gadis malang ini kan?
...
Hinata kembali menatap penuh harap Toneri ketika Toneri menatapnya. Hinata sungguh tak mau kembali kesana.
.
.
.
"Katakan padaku. Kau pasti sudah menemukannya, kan?" Naruto kembali bertanya dengan penuh harap. Dia pasti sudah menemukan Hinata. Naruto yakin. Toneri akan melakukan segala macam cara untuk membantunya.
.
.
.
Toneri semakin membeku ketika Naruto kembali bersuara. Naruto begini mempercayainya. Mana bisa ia menghianati Naruto. Tapi bagaimana dengan perasaan gadis itu? Tidak. Ini hanya salah paham. Naruto tak melakukan kesalahan apapun, ditambah Naruto mengatakan gadis itu sudah mengetahui segalanya. Ini hanya salah paham. Naruto tak bersalah dalam kasus ini. Gadis itu hanya salah paham. Mereka akan baikan ketika gadis ini tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi bagaimana dengan apa yang Toneri rasakan kini? Perasaan aneh ini?
...
Lagi-lagi Hinata menampilkan wajah memohon ketika Toneri menatapnya.
"Kumohon. Katakan kau sudah menemukannya." Naruto kembali bertanya dengan penuh harap yang semakin memusingkan Toneri. Toneri semakin ragu atas apa yang akan ia jawab.
Gadis itu atau temannya?
...
.
.
Toneri mungkin akan menyesali pilihan ini seumur hidupnya tapi teman nya ini adalah segalanya untuknya. Ia tak bisa menghianati Naruto meskipun Hinata adalah cinta pandangan pertamanya. Ia tetap tak bisa menghianati temannya.
"Aa-aku.."
.
.
.
"A..aku.."
.
.
.
.
To be continue.
.
.
Cinta atau teman?
.
.
.
Abe-chan: Lol? makasih udh ingatin bahwa itu stasiun. Typo. Lupa. Biasa lah :v
Durarawr : good job :v
Nah. Untuk semuanya udah di up kilat ya..
Oh ni sedikit bonus.
.
.
"Shion, semuanya minta maaf karena salah paham padamu." ucap Author meyampai kan pesan para reader yang sudah negatif thinking. Uhuk huk.
"Baiklah baiklah.. Lagipula aku memang selalu menjadi penjahat di cerita yang author tulis, tak heran jika mereka curiga ketika membaca namaku." jawab Shion malas.
"Hehe.."
.
.
.
Bye Bye
