Game On
.
Characters belong to Masashi Kishimoto.
.
This Is SasuHina Story!
Alternative Universe! Out Of Character! Typical Errors!
You've been warned!
.
And please note that I already got you warned that anything can happen.
.
Inspired by an romance-action novel yang saya lupa judulnya T.T
.
.
.
"Lama sekali," Sasuke mendengking rendah, ia berdiri seketika sosok Hinata muncul dari balik pintu flat. "Ke mana saja?"
Memang sejak malam di mana Hinata menceritakan sebagian masa lalunya, mereka memutuskan untuk bertingkah seperti biasa. Tanpa beban persepsi atas masing-masing atau apapun. Semuanya berjalan begitu saja seolah tak ada bahasan berat seperti tempo hari.
Sasuke tak pernah bertanya lagi, dan Hinata pun enggan buka mulut. Bukan apa-apa, hanya saja bahasan tentang Neji masih begitu sensitif dirasanya. Mereka hanya membicarakan perihal ringan tentang apa yang terjadi dalam keseharian mereka belakangan atau hal enteng lainnya.
Sapaan Sasuke membuat Hinata agak berjengit, pasalnya ini bukan waktu biasa pria itu kembali ke flat mereka. "Kau pulang lebih awal," ujar Hinata dengan pernyataan yang nyaris terdengar seperti pertanyaan.
Sasuke mengangguk pelan. "Karena aku... ingin melihatmu."
Hinata menggeleng, mendengus geli. "Mungkin yang kau maksud adalah 'merindukanku'," goda Hinata yang berhasil membuat pria itu memalingkan pandangan dan menekuk sebal wajahnya.
"Pekerjaanku selesai lebih awal," gumam Sasuke.
Hinata berjalan ke sofa dan menjatuhkan bokongnya di sana, membiarkan Sasuke yang masih berdiri tak jauh darinya. "Kau tidak ingin bertanya bagaimana interviewku tadi?"
Sasuke masih berdiri, tangannya bersedekap di depan dada. "Kau terlihat sedang dalam suasana hati yang baik. Jadi kutebak interviewnya berjalan lancar, bukan?"
Hinata tersenyum, memamerkan barisan giginya kemudian mengangguk pelan. "Aku cukup membuat para penguji terkesan, kurasa," jelasnya pendek.
Hinata merasa tak perlu menyebutkan tentang beberapa penguji yang jelas-jelas berusaha mendapatkan perhatian lebih darinya, itu bukan hal yang penting. Yang pasti para pengujinya tadi juga terlihat puas dengan presentasi dan kemampuan kerjanya.
"Mungkin saat kongres nanti aku bisa mendapat akses penuh pengawasan gedung. Setidaknya aku perlu dua Minggu untuk mempelajari dan menguasai denah dan rute yang cocok untuk kita lewati," tambah Hinata.
"Kau terdengar seperti badan intel internasional, kau tahu," Sasuke tertawa menanggapi. Ia memosisikan dirinya duduk di samping Hinata dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. "Omong-omong, kau ada waktu besok?" Sasuke mengusak ujung hidungnya pada rahang Hinata.
"Kenapa?"
"Ada pesta kecil. Kau mau ikut denganku?"
Hinata menarik dirinya hanya untuk menatap Sasuke penuh tanya. "Pesta?"
"Besok malam aku diminta datang ke pesta ulang tahun Shion," jelasnya singkat.
"Shion? Siapa?" satu alis Hinata tertekuk penasaran.
"Anak perempuan yang aku kawal."
"Wow," Hinata melebarkan kelopak matanya. "Dan dia mengizinkan para pengawalnya ikut berpesta bersama? Rendah hati sekali."
"Ya... tapi sebenarnya ini hanya pesta tambahan, sepertinya. Dia memang cukup akrab bahkan dengan bawahan-bawahannya."
"Kau pikir aku boleh ikut?" tanya Hinata hati-hati.
"Tentu. Maksudku... Shion tahu tentangmu."
"Tunggu," Hinata semakin memisahkan diri dari Sasuke untuk lebih meneliti pria itu. "Kau bilang dia tahu tentangku? Kau bercerita tentang aku ke orang lain?" tanyanya dengan nada menuntut. Bukan apa-apa, hanya saja mereka harus berhati-hati dalam misi kali ini.
"Dia terus menanyakan tentang keseharianku belakangan ini. Dan kau tahu sendiri aku bukan tipikal yang bisa berbohong," Sasuke merespons, terdengar tengah membela diri.
Hinata masih menatap Sasuke dengan tatapan menyelidik, tentu ia paham tentang Sasuke yang merupakan tipikal blak-blakan, dan mungkin memang saking blak-blakannya, pria itu agak lupa cara untuk berbohong. Tapi tetap saja ada sesuuatu yang sepertinya mengganjal pada perasaan Hinata saat ini.
"Kau terlihat sudah nyaman berkomunikasi dengan orang lain," gumam Hinata dengan nada yang agak menuding tak suka.
"Salah siapa?" Sasuke berkilah enteng. "Kau benar-benar tidak sadar ya tentang apa saja yang kau lakukan terhadapku?" Sasuke melingkarkan satu lengannya di pinggang Hinata, menarikwanita itu untuk duduk lebih dekat dengannya. "Sudah kubilang, Hinata. Aku nyaris gila. Beberapa orang yang bekerja denganku bahkan mengatakan belakangan ini aku lebih banyak tersenyum dan itu membuatnya ngeri," Sasuke tertawa renyah.
Hinata tak menjawab, namun apa yang dikatakan Sasuke cukup membuatnya lebih lega. Ia kemudian memilih untuk menyandarkan kepalanya pada dada bidang Sasuke dan menikmati waktu mereka dalam diam.
..
...
..
Saat Sasuke mengatakan soal pesta ulang tahun itu, Hinata tak sempat mengira akan sebanyak ini orang yang hadir. Ia lebih terkejut menyadari tempat pesta itu digelar. Mereka pergi bersama ke sebuah klub malam berkelas, klub malam yang suasananya cukup familiar bagi orang sekelas Hinata.
Dentum musik menggema terpantul oleh dinding kedap, cahaya dengan gradasi biru hingga ungu memancar ke segala arah seperti laser, kerumunan menggila menikmati pesta. Beberapa kali tubuh Hinata maupun Sasuke terhantam ringan oleh orang-orang yang berseluk-beluk di sana.
"Kukira kau mengawal seorang anak perempuan," Hinata agak berteriak di dekat telinga Sasuke untuk melawan volume musik di sana. Tentu saja ia mempertanyakannya, tidak ada 'anak perempuan' yang berpesta di klub orang dewasa seperti ini.
Sasuke menengok ke arahnya dan tersenyum kecil. "Menurutku dia masih anak-anak. Ayo," Sasuke merespons kemudian mengamit tangan Hinata, menariknya menyeberangi kerumunan hingga sampai ke bagian bar. "Dan!"
"Dan?" Hinata mengulang apa yang Sasuke teriakkan.
Selanjutnya seorang pria bertubuh kekar muncul di samping mereka, pria itu mengenakan kaus hitam polos, hampir seperti yang Sasuke kenakan di bawah jaket kulitnya. Hinata mengedarkan pandangannya sejenak dan menyadari sekelompok pria berbadan tegap lainnya yang juga memakai pakaian serupa. Seperti mereka sepakat mengenakannya bersamaan, atau karena mereka masih dalam waktu tugas.
"Hey!" seorang yang Hinata pastikan 'Dan' menyapa dengan penuh semangat.
"Wow... lihat siapa yang muncul?" seorang wanita bersurai cokelat muncul di sisi Dan kemudian melempar lirikan ke arah Hinata sejenak sebelum maniknya kembali terfokus ke Sasuke. "Pangeran Es kita akhirnya memutuskan untuk datang."
Tak tahu harus melakukan apa, Hinata hanya mengedarkan pandangannya dan beberapa kali melirik Sasuke. Keningnya berkerut ringan melihat pria itu tersenyum kepada dua orang di hadapan mereka.
Sasuke tersenyum kepada orang-orang sipil? Sejak kapan kemajuan seperti ini terjadi? Dan mereka ini, kenapa mereka berbicara dengan Sasuke dengan akrabnya seperti Sasuke merupakan sosok pria dingin yang biasa mereka temui.
"Oh lihat, siapa di sini?" suara asing yang lain menyapa gendang telinga Hinata.
Refleks Hinata memutar kepalanya kemudian menangkap sesosok gadis muda bersurai pirang. Gadis itu terlihat tinggi, langsing dan cantik, sangat cantik kalau Hinata bisa menilai. Usianya mungkin tak jauh dari usia Hinata, terlihat seperti gadis di awal dua puluhannya. Dan dilihat dari cara berpakaiannya, sudah jelas gadis ini bukanlah salah satu rekan kerja Sasuke.
"Aku kira kau akan melewatkan pesta ini," gadis pirang itu berujar sambil menyeringai kecil ke arah Sasuke.
Dan dengan cepat Hinata mengerti jenis seringai apa yang sedang gadis itu lancarkan terhadap pria di sisinya itu. Mata Hinata memicing, namun ia memilih untuk tak mengarahkan tatapannya itu ke si gadis pirang.
"Oh, hey..." sapaan Sasuke terdengar, Hinata masih memalingkan pandangannya. "Ini Hinata," ujarnya tak terlalu keras, membuat Hinata mendelik ke arahnya. Hinata menatap Sasuke tak percaya.
"Nata?" si gadis pirang menanyakan, pasalnya ujaran Sasuke tadi agak terendam debum musik.
Sasuke berkedip dua kali kemudian menyadari maksud tatapan tajam Hinata ke arahnya. Tentu Hinata memprotesnya karena hampir membeberkan nama asli wanita itu.
"Natalia," koreksi Sasuke dengan suara yang lebih jelas. "Dia Lia yang pernah kuceritakan padamu. Hanya saja aku terbiasa memanggilnya Nata," kilahnya. "Oh ya, Nata. Dia Shion... bosku," dengan cepat Sasuke mengalihkan pembicaraan awal.
"Oh, temanmu itu," Shion mengulurkan tangannya ke arah Hinata dan Hinata menjabatnya meski dengan kesan ogah. "Dan Kyo, berhenti menganggap aku ini bosmu. Kita kan berteman," sanggah gadis pirang itu setengah merajuk ke arah Sasuke.
"Senang bertemu denganmu, Shion," Hinata menggumam sambil memaksakan satu senyum kecil.
Teman. Sasuke mengatakan pada gadis pirang itu bahwa Hinata adalah temannya. Oh, tentu saja, memangnya apa yang Hinata harapkan?
"Kyo benar-benar keras dan sangat menutup diri saat pertama bergabung. Tapi lihat sekarang, dia lebih terlihat ramah, bukan?" Shion bercerita pendek kepada Hinata dengan nada yang seolah membanggakan Sasuke.
Hinata terdiam. Sasuke mengatakan bahwa dirinya berubah karena Hinata. Tapi bagaimana jika bukan itu yang terjadi? Bagaimana jika sebenarnya pria itu melunak karena interaksi di lingkungan barunya?
"Begitukah?" Hinata merespons pendek, ujung matanya menangkap lengkung tipis di bibir Sasuke. Bukankah bagus jika Sasuke lebih terlihat memasyarakatkan diri? Bukankah itu yang Hinata usahakan selama ini? Tapi kenapa rasanya agak menyebalkan melihat pria itu tersenyum untuk publik seperti ini?
"Oh ya, Kyo... bisa kau kunci pintu masuknya. Waktunya memulai pesta dan aku tidak ingin gangguan apapun," ujar Shion.
Sasuke hanya mengangguk sekali kemudian memandang Hinata sebentar sebelum berlalu.
"Ada yang ingin kau pesan?" tanya Dan entah dari mana datangnya. "Kau temannya Kyosuke, itu artinya kau juga teman kami," senyumnya lebar.
"Pesankan dia minuman terbaik di sini, Dan," Shion berteriak dari seberang meja kemudian kembali terlibat percakapan dengan sekumpulan gadis-gadis.
"Ini," Dan menyodorkan satu gelas tinggi dengan cairan biru metalik ke arah Hinata yang kemudian dibalas senyum terima kasih. "Kau benar-benar tidak terlihat seperti wanita yang bisa berteman dengan lelaki macam Kyosuke," Dan terkekeh atas komentarnya sendiri. "Kalau kutebak kalian lebih dari itu, bukan?" godanya.
Hinata menunduk, menatap minuman di genggamannya. Wajahnya agak panas padahal belum sedikit pun ia sesap cairan itu. "Tidak juga," ujarnya pelan namun cukup untuk didengar oleh lawan bicaranya.
Tawa kecil kembali terdengar. "Iya juga tidak apa-apa. Kau terlihat cocok untuk mengimbanginya," setelah itu Dan tak mengomentari lebih panjang soal percakapan mereka itu. "Omong-omong, ada beberapa teman yang harus kusapa. Nikmati pestanya, oke," dengan itu Dan melenggang pergi.
Hinata kemudian mencari tempat lain untuk duduk, ia agak tak nyaman duduk di bar yang menurutnya terlalu memusat. Pada akhirnya ia memilih satu kursi tinggi di salah satu sisi ruangan tanpa menyadari dua wanita lain bercakap di dekatnya.
"Katanya dia akan berhenti sekitar seminggu lagi," ujar salah satunya yang entah mengapa masih Hinata ingat sebagai suara si gadis pirang.
Dan bicara soal berhenti, Hinata tahu Sasuke akan berhenti dari pekerjaannya sekarang sembilan hari lagi untuk mencoba masuk ke bagian pengamanan kongres. Jadi... apakah yang mereka bicarakan ini Sasuke? Dan apa Hinata benar bahwa suara tadi adalah milik si gadis pirang itu?
"Ayolah, Shion. Aku yakin kau sudah cukup memberikannya tanda-tanda soal ketertarikanmu," ujar yang lainnya, membuat salah satu anggapan Hinata benar. Bahwa si gadis pirang itu terlibat pembicaraan.
"Memang, tapi sepertinya dia tidak menyadarinya. Tidak peka," rajuk Shion agak kesal.
"Sudahlah, lagipula dia hanya seorang pengawal. Aku yakin perasaanmu itu hanya kekaguman sesaat," timpal salah satunya.
"Aku benar-benar menyukai Kyo!"
Nama yang disebutkan barusan membuat Hinata melirik ke arah suara mereka. Kyo. Kyosuke. Itu adalah nama yang digunakan Sasuke di sini. Pria itu memang belum mengatakan padanya, namun beberapa percakapan kecilnya dengan rekan Sasuke membuatnya mengetahui hal itu.
Hinata mendapati gadis yang diperkenalkan Sasuke dengan nama Shion tadi memang ada di sana, dan satunya lagi merupakan wanita bersurai cokelat yang sempat menyapa mereka ketika mereka datang tadi.
"Aku menyukainya dan aku akan mengatakan hal itu padanya malam ini. Apapun yang terjadi!" ujarnya bulat. "Oh sial, si brengsek itu! Aku terpesona olehnya sejak hari pertama aku melihatnya dan dia sama sekali tidak melihatku sebagai seorang gadis!" omel Shion setengah cemberut. "Omong-omong, kau lihat teman wanita yang dibawanya?"
"Ya, kenapa?"
"Apa kau pikir mereka bukan sekedar teman? Maksudku... mungkinkah Kyo mengacuhkanku karena dia sudah..."
"Oh ayolah, Shion. Semenit yang lalu kau benar-benar bersemangat soal pernyataanmu. Dan sekarang kau seolah menciut dengan asumsi yang bahkan belum tentu benarnya," potong si surai cokelat.
"Kau benar. Aku tidak boleh mundur sebelum berperang."
"Lakukan apapun yang akan membuatmu senang, Shion," tanggap si surai cokelat lagi sebagi kata penyemangat tersirat.
Hinata meletakkan gelasnya asal di atas meja kemudian menjauh dari sana, agak tak nyaman mendengar curhatan bocah pirang itu. Dan entah kenapa, tiba-tiba saja suasana hatinya merosot drastis, ia sama sekali tak bersemangat untuk barang tinggal di pesta ini sedikit lebih lama lagi.
Hinata mengabaikan suasana sekelilingnya dan melangkah cepat meniti tangga spiral ke arah lantai atas yang merupakan lantai di mana pintu utama terletak. Hinata baru berhenti saat tanpa sadar tubuhnya membentur tubuh tinggi yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Didongakkan kepalanya hingga ia menyadari sosok itu adalah Sasuke.
"Mau ke mana?" tanya Sasuke instan.
"Aku mau pulang," sahut Hinata rendah.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya... agak lelah," setelah mengatakan itu, Hinata kembali mengambil langkah menuju pintu utama tanpa basa-basi tambahan.
"Hey," Sasuke mencekal pergelangan tangannya ringan dan menariknya kembali agar lebih mendekat. "Ada apa?"
"Tidak apa-apa, Sasuke," Hinata menatap manik hitam yang begitu menuntutnya itu.
"Kyo!" suara Shion terdengar oleh mereka berdua, membuat keduanya refleks menengok.
"Aku pulang dulu, oke," Hinata tak meminta izin Sasuke dengan kalimat itu, ia hanya menegaskan bahwa ia akan pulang lebih awal.
Genggaman tangan Sasuke di pergelangan Hinata terlepas dengan mudah. "Tunggu," Sasuke berniat untuk menahan Hinata sebentar lagi namun terhenti karena lagi-lagi Shion memanggilnya, malah kali ini, gadis itu sudah nampak beberapa meter dari dirinya.
"Ada apa?" Shion bertanya setelah jarak mereka cukup dekat.
"Maaf, sepertinya aku harus pulang terlebih dahulu," jawab Sasuke cepat. "Omong-omong, selamat ulang tahun, Shion," tambahnya sebelum berbalik.
"Tidak! Kau tidak boleh pergi, Kyo!" Shion mengamit lengan Sasuke untuk menahannya.
"Maafkan aku. Sampai jumpa besok, oke," Sasuke melepas diri kemudian melangkah tergesa ke arah yang terlebih dahulu dilalui Hinata. "Ayo," Sasuke meraih tangan Hinata dan menggenggamnya tanpa menghentikan langkah mereka keluar dari gedung klub. "Jadi, bisa katakan padaku apa yang mengganggumu? Kau terlihat... payah," tanyanya lagi setelah mereka sudah berada di luar gedung.
Hinata diam untuk beberapa menit sebelum bergumam. "Tidak ada apapun. Ayo pulang."
Sasuke menaikkan satu alisnya tak percaya dengan jawaban yang ia dapat. "Kenapa? Apa sesuatu terjadi di dalam sana?"
Kali ini Hinata sama sekali tak menjawab Sasuke. Ia hanya melingkarkan lengan kanannya di lengan Sasuke dan agak menyeret pria itu ke tepi jalan untuk mencari taksi.
..
...
..
"Jadi... hanya ini yang perlu aku lakukan hari ini?" Hinata bertanya memastikan setelah salah satu mentornya menjelaskan tugasnya untuk mengawasi monitor-monitor yang tersambung dengan beberapa kamera pengawas di gedung itu.
"Untuk saat ini, ya. Hanya ini."
Hinata mengangguk mengerti kemudian masuk ke dalam ruang pengawas. Setidaknya ada dua belas layar kaca berukuran sedang di sana dengan setiap monitornya berisi empat bagian objek berbeda. Baris pertama dan ketiga menampakkan pemandangan yang monoton dari beberapa titik di gedung itu. Sedangkan pada monitor baris ke dua, gambar yang terekam tampak bergerak pelan hingga jangkauan sekitar sembilan puluh derajat.
"Hari ini tidak akan ada acara apapun, bukan?" Hinata bergumam.
"Yap," salah satu petugas yang sudah terlebih dahulu berada di sana menyahut. "Hari ini gedung sedang steril. Tidak akan ada hal besar yang terjadi, kecuali jika tiba-tiba ada Superman menyerang," tambahnya dengan nada malas, terlihat sekali orang itu tengah bosan.
Hinata hanya mengangguk tanpa memberikan komentar. Matanya menatap lekat tiap-tiap monitor di hadapannya, menelaah beberapa hal. Kamera pengawas dipasang di setiap lantai juga di setiap pintu masuk dan keluar.
Otaknya berputar. Jika ia harus berada di ruangan ini untuk mengamankan alarm juga kamera-kamera itu, artinya Sasuke harus masuk ke dalam kongres sendirian. Pilihan yang sulit karena mereka berdua harus keluar dan langsung menuju bandara bersama-sama pada menit di mana misi mereka terlaksana.
Jalan yang memungkinkan jika hanya rencana itu yang bisa mereka gunakan adalah dengan mencari pintu keluar yang sama yang bisa mereka akses pada waktu yang bersamaan pula. Tidak boleh ada saling menunggu atau mereka berkemungkinan besar tertangkap sebagai orang yang dicurigai.
Hinata menghela napas, itu artinya ia harus menganalisis denah gedung ini. Setiap lantainya, setiap sisinya, setiap sudutnya. Dengan begitu ia mungkin bisa memastikan mana jalur yang nantinya bisa ia bersihkan untuknya juga untuk Sasuke keluar.
Hari itu berlalu begitu lambat, sama seperti rekan-rekannya, Hinata tampak bosan memandangi layar-layar monoton itu. Tanpa sadar ia mendesah lega saat shift-nya selesai. Beberapa pengarahan Hinata terima sebelum ia benar-benar lepas dari jam kerjanya.
Langit biru mulai menjadi gelap. Hinata berjalan santai menuju flat. Entah apa yang membuat waktu dirasanya lebih cepat, yang ia sadari gedung flat-nya sudah nampak di hadapan mata.
Langkahnya melambat saat ia mendapati Sasuke berdiri bersandar di pintu masuk gedung. Ada pertanyaan di tatapan ametisnya. Sedang apa Sasuke berdiam di sana? Hinata memilih akan menanyakannya nanti. Ia kembali melangkah dengan kecepatan normal mendekati Sasuke.
"Sasuke," panggil Hinata ringan, namun seketika tatapannya berubah heran melihat air wajah pria itu yang mengeras.
Tanpa mengatakan apapun, barang membalas sapaan Hinata, Sasuke meraih pergelangan tangan wanita itu dan menyeretnya kembali menjauh dari gedung flat mereka.
"Sasuke? Apa yang terjadi?" tanya Hinata langsung, menyadari ada yang tidak biasa dari semua ini.
"Kau akan tahu nanti," jawabnya tajam.
Hinata tak tahu sejak kapan sebuah taksi menunggu di tepi jalan. Yang pasti Sasuke terus menariknya hingga masuk ke kursi penumpang belakang. Detik setelah menutup pintu taksi, Sasuke menyuarakan sebuah alamat yang tak Hinata ketahui, membuat wanita itu hanya memandangnya penuh pertanyaan.
"Sasuke, kita akan ke mana?"
"Aku menemukannya," bukan jawaban yang pas untuk pertanyaan Hinata, namun setidaknya pria itu mau bicara.
Hinata berkedip bingung. "Menemukan siapa? Atau apa?"
Namun lagi-lagi, pertanyaan Hinata berakhir menggantung tanpa jawaban dari yang ditanya.
..
...
..
"Sasuke, kita... di mana?" Hinata membisik tanpa sadar.
Mereka berada di depan sebuah gedung usang yang terlihat masih sering terpakai. Sinar kuning dari lampu bohlam di beberapa bagian tak cukup menghidupkan dinding-dinding dengan cat terkelupas di sekelilingnya. Gerbang besinya mengingatkan Hinata akan jeruji. Singkatnya suasana di sana terkesan lebih horor dirasa Hinata.
"Apa yang kita lakukan di sini?" nampaknya Hinata tak bisa berhenti bertanya.
Hinata mengeratkan genggaman Sasuke di telapak tangannya. Tangan kanan Sasuke yang terbebas mengambil sesuatu di balik jaketnya. Sesuatu yang semakin membuat Hinata bertanya-tanya.
Malam itu Sasuke mengenakan kaus cokelat yang ditimpa dengan jaket hitam juga bawahan jeans warna pudar. Singkatnya Sasuke tak terlihat seperti berencana membunuh seseorang dengan dandanan seperti ini. Namun pistol di tangan kanannya seolah meneriakkan kebalikan opini itu.
"Sasuke," Hinata mendesis rendah, ametisnya menatap lekat senjata api di tangan pria itu.
Sasuke melepas genggaman tangannya pada Hinata kemudian membuat tubuh mereka saling berhadapan. "Aku ingin kau siap untuk apapun nanti, oke?" tangan kirinya menangkup pipi Hinata ringan sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan pendek pada bibir wanita itu. "Ayo," Sasuke kembali mengomando untuk bergerak.
Hinata mengikuti langkah Sasuke tanpa protes meski di benaknya masih sesak dengan tanya. Beberapa kali ia jilat bibirnya sendiri, maniknya agak sulit beralih dari M9 di tangan Sasuke.
Baiklah. Mungkin Sasuke memiliki misi lain yang harus ia selesaikan di sini yang Hinata tidak ketahui. Seperti halnya misi membunuh Hidan di Denmark, Hinata juga tak diberithukan soal itu, bukan? Tapi jika ini jenis misi yang sama, mengapa pria itu membawa serta Hinata?
Mengingat hal itu membuat Hinata mengingat kembali siapa mereka. Siapa Sasuke. Seorang agen. Dan membunuh adalah bagian dari pekerjaannya.
Hinata menghela napas. Harusnya ia sudah bisa terbiasa melihat Sasuke menjalankan pekerjaannya. Membunuh. Tapi setelah mengetahui sisi lembut pria itu, semuanya terasa menjadi lebih sulit bahkan untuk dibayangkan.
Lamunan sesaat Hinata buyar saat Sasuke mencoba membuka pintu dengan memutar daun pintunya. Namun tak juga terbuka, nampaknya pintu itu terkunci. Tanpa membuang waktu lagi, Sasuke menendang keras pintu kayu itu, membuat suara debumannya menggema di ruang kosong itu.
Hinata berkedip. Mereka adalah agen dan Sasuke merupakan salah satu yang paling terlatih. Prinsip untuk masuk dalam diam harusnya menjadi pedoman dasar mereka. Namun sepertinya Sasuke sama sekali tak mempertimbangkan untuk bergerilya saat ini. Seperti ia datang memang untuk menantang siapa pun yang akan mereka hadapi nanti.
Seorang pria bertubuh gempal yang memang berada di dalam ruangan itu seketika terlonjak saat pintu didobrak paksa.
"Siapa kalian?!" pria itu berteriak dalam bahasa Mandarin sambil mengacungkan pistol ke arah Sasuke.
Hinata tak menyadari pergerakan Sasuke, yang ia tahu selanjutnya adalah bahwa pria itu sudah tak lagi di dekatnya. Hal berikutnya yang ia sadari, Sasuke berhasil menjatuhkan senjadi yang tertodong ke arahnya dengan satu tendangan memutar yang terlihat sederhana.
Kini tanpa perlindungan, pria gempal itu mengangkat tangan dengan air wajah yang berganti menjadi ketakutan. Sasuke mendekati pria itu dengan cepat dan meraih lehernya sebelum menghantamkan pria itu ke permukaan meja. Sasuke menahan pria itu dengan posisi mencekik dengan satu di atas meja sambil satu tangan lainnya mengarahkan moncong pistol di kening si pria gempal.
"Aquila," ujar Sasuke singkat namun penuh tuntutan. Pria gempal itu menjawab terburu dengan bahasa Mandarin, membuat Sasuke seketika menatap Hinata mengharapkan sesuatu.
Hinata tentu mengerti apa yang pria itu katakan, namun kondisinya yang masih belum lepas dari kejut membuatnya membutuhkan waktu lebih lama untuk sekedar menyampaikan terjemahan dari apa yang dikatakan pria yang berada di bawah ancaman Sasuke itu.
Hinata berkedip beberapa kali sebelum membuka mulutnya. "Dia ada di gudang pabrik besi lama. Beberapa blok dari sini," ujarnya menerjemahkan.
"Bagus," respons Sasuke kepada Hinata sebelum menarik pelatuk pistolnya menembak pria gempal itu tepat di kening.
Mata Hinata melebar, mulutnya agak ternganga tak percaya. "Kenapa kau membunuhnya? Dia sudah memberitahumu apa yang kau butuhkan, bukan?"
"Oh ayolah, Hinata. Kau harus terbiasa. Dia hanya sebuah nyawa, kau akan menghabisi ratusan nyawa lain di kongres nanti," kilah Sasuke sambil kembali berjalan menuju tujuan baru mereka.
"Aku tahu itu. Tapi apa dia ada hubungannya dengan Akatsuki?"
Sasuke mengeraskan rahangnya, jengah dengan pertanyaan Hinata yan menurutnya tak penting itu. "Tidak," jawabnya singkat.
Tak sampai lima menit, mereka tiba di gudang terbengkalai di belakang gedung yang barusan mereka kunjungi. Kegelapan yang lebih pekat menyambut kedatangan mereka.
"Siapa itu Aquila? Atau... apa itu?" Hinata berbisik sambil terus mengekori Sasuke.
"Itu bahasa Latin dari elang," Sasuke menggumam balik. "Dialah yang kita cari."
"Kau bisa bahasa Latin?"
"Kau sungguh menanyakan hal itu, Hinata?" Sasuke memutar bola matanya.
"Yah, aku hanya asal bertanya," gumam Hinata asal. "Lagipula kau tidak terlihat akan menjawab pertanyaan lain dariku."
Sasuke menggeleng sebagai responsnya. Ia kemudian menilik situasi sekitar dari balik jendela. "Empat," gumamnya.
"Apa?" Hinata baru akan melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang Sasuke amati, namun pria itu menarik kerah belakangnya, membuatnya tertahan di tempat. "Kau menghitung jumlah musuhmu?"
"Seorang pembunuh tidak diperbolehkan bertindak idiot. Aku hanya punya lima peluru sekarang," jelasnya.
"Oh, gila! Itu artinya kau tidak boleh meleset," Hinata berkomentar, agak panik mengetahui persiapan mentah mereka. "Harusnya aku membawa senjataku tadi."
Sasuke tidak menghiraukan Hinata, baginya apa yang ada di tangannya cukup untuk malam ini. Digenggamnya kembali tangan Hinata sebelum ia tarik wanita itu untuk kembali mengikutinya. Sasuke mendorong pintu di hadapan mereka dengan tenaga berlebih, membuat bahan seng yang mendasari pintu itu berbunyi nyaring.
Tepat setelah mereka melangkah masuk, empat sosok pria berdiri tersentak, mendadak mengabaikan paket-paket berbagai macam obat-obatan yang semula mereka kelompokkan di atas meja.
Hinata mulai berpikir mungkin agensi meminta Sasuke mengatasi transaksi obat-obatan terlarang dari kelompok kecil seperti mereka juga. Namun tak lama nantinya setelah memikirkan alasan itu, Hinata menemukan pemikirannya sama sekali tak tepat.
"Siapa kalian?!" suara berat itu dalam sedetik menyita perhatian Hinata, membekukan sekujur tubuhnya sesaat.
Jantung Hinata berdetak di atas kecepatan rata-rata menyadari fakta bahwa ia begitu mengenal suara itu. Manik ametisnya dengan cepat mencari sumber suara. Dan berikutnya, Hinata merasa sekitarnya runtuh melihat kembali sosok itu.
"Hinata?" pria yang menjadi sasaran tatap Hinata terlihat sama terkejutnya.
Hinata menatap sosok itu tanpa berkedip. Itu benar dia. Pria yang begitu Hinata takuti untuk sekedar bertemu. Pria yang benar-benar Hinata hindari terlebih sejak ia menjejakkan kaki di negara ini. Pria itu... Hyuuga Neji.
.
to be continued...
..
.
Lama bangeeet yaa... but thank you for anticipating for this update
Chap ini juga semacem interlude aja deh kayanya, saya beneran menghindari membuat 'noda berlebih' di fic ini mengingat ini bulan suci :3
Anyway, selamat berpuasa untuk yang menjalankan :)
Keep reading keep reviewing, see you in the next chap...
Toodleesssss~~~ :3
