Love Just Is

.

Epilogue: Love just is

Berbulan-bulan telah berlalu. Hubungan mereka berjalan lambat, namun sempurna untuk Sebastian dan Ciel. Mereka tak perlu terburu-buru, mereka memiliki banyak waktu di dunia ini yang akan mereka habiskan bersama. Lagipula, mereka masih perlu banyak belajar, tentang hubungan yang mereka jalani, dan tentang satu sama lain.

Ciel masih harus terus menemukan berbagai sisi dan hal baru dalam hidup yang belum diketahuinya. Ia masih harus tumbuh ke dalam pribadinya yang lebih dewasa, dan belajar mengambil keputusannya sendiri.

Sebastian, meskipun mengetahui banyak hal karena kepintarannya, bahkan hal-hal yang tidak diketahui kebanyakan orang dari kebiasaannya membaca, juga masih harus banyak belajar dari pengalaman, yang hanya bisa didapatkan dari kehidupannya sehari-hari dan memerlukan waktu. Ia juga perlu membiarkan Ciel berkembang dengan kemampuannya sendiri dan melepaskan stigma bahwa Ciel tak mungkin berbuat salah.

Bukan berarti Sebastian tak bisa sesekali membantu. Sebastian tentunya menjawab segala pertanyaan yang Ciel miliki ketika ditujukan ke arahnya. Karena itulah salah satu cara kau bisa mengetahui sesuatu, dengan bertanya pada seseorang yang mengetahui jawabannya.

Salah satu pertanyaan, dan percakapan yang melekat di benaknya adalah yang terjadi ketika mereka sedang berada di sebuah taman suatu sore, dimana mereka bercengkrama setelah selesai menonton suatu film di bioskop. Ciel bersikeras bahwa itu kencan, dan Sebastian hanya tersenyum dan mengiyakan saja.

"Aku benar-benar tak mengerti, Sebastian," ujar Ciel saat itu, duduk di salah satu bangku taman sambil sesekali menyeruput sodanya.

"Apa yang kau tak mengerti?" tukas Sebastian, mengawasi teman kecilnya—yang kini sudah naik statusnya menjadi kekasihnya—yang masih sangat polos di matanya, membuat Sebastian masih harus banyak menahan diri untuk… melakukan hal-hal yang lebih daripada kecupan singkat di sudut bibir saat mereka berpisah di depan pintu rumah Ciel.

"Kau tahu, kadang-kadang kita bahagia ketika kita jatuh cinta."

"Seperti ketika kau pertama kali jatuh cinta pada Alois?" timpal Sebastian. "Hmm ya, seperti kata pepatah, cinta itu indah. Cinta bisa terasa sangat manis."

Ciel mengangguk, namun kemudian mengernyit. "Tapi… di saat yang sama, kau pasti merasa… hal yang berlawanan kan? Karena aku sering cerita padamu? Padahal kau juga sedang jatuh cinta padaku, kurasa tak mungkin hal itu terasa manis juga untukmu."

"Tetapi sekarang aku sudah merasa bahagia. Kita bersama kan?"

"Ya, tapi…"

Sebastian tersenyum, "Ciel, cinta itu seperti dadu. Cinta memiliki banyak sisi, tidak hanya satu."

"Hah?"

"Tentunya aku tak perlu menjelaskan padamu lagi, kalau cinta ada berbagai macam, seperti kepada orang tua, teman, atau perasaan yang lebih romantis…" Sebastian menyebutkan satu-persatu, diikuti anggukan Ciel. Ia meneruskan.

"Seperti yang kau bilang tadi, cinta bisa terasa manis dan indah. Seperti yang kau rasakan terutama ketika kau pertama kali jatuh cinta dan perasaanmu tersampaikan. Tetapi cinta bisa juga terasa pahit, seperti kalau kau melihat orang yang kau cintai mencintai orang lain, atau kalau kau ditolak.

Cinta juga bisa membuatmu buta, karena cinta membuatmu hanya melihat kualitas terbaik dari orang yang kau cintai. Kau menolak mengakui orang yang kau cintai berbuat salah atau memiliki kekurangan.

Cinta kadang membingungkan. Ia membuatmu ragu, kadang kau merasa hangat dan senang, kadang kau merasa gelisah dan kesal. Cinta kadang membuatmu bahagia sampai-sampai kau menangis, atau sedih sampai kau tertawa seperti orang gila.

Cinta kadang menyakitkan, ketika kau dikhianati orang yang kau cintai, atau ketika orang yang kau cintai tak sengaja dan tanpa sadar menyakitimu."

Sebastian berhenti sejenak, meresapi apa yang dirinya sendiri katakan. Kalau dijabarkan seperti itu, sepertinya cinta adalah sesuatu yang tidak menguntungkan, dan terbilang aneh. Tetapi kemudian Sebastian tersenyum tipis. "Tapi karena cinta, kau akan kembali menerimanya. Karena cinta itu memaafkan. Bahkan setelah semua itu, kau tak ingin melepaskan cinta. Begitulah manusia, ingin mencintai dan dicintai."Karena cinta menurutnya, setimpal, dan lebih berharga daripada semua yang harus ia alami dan derita.

Ciel mengangguk tanda mengerti ketika Sebastian menjelaskan satu persatu, yang mana lebih mudah ia pahami karena ia telah mengalaminya secara pribadi. Tetapi kalau disatukan… Ciel tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Jadi, yang mana sebenarnya cinta, Sebastian? Menurutku semuanya berlawanan. Mungkin kau salah? Mana bisa sesuatu memiliki dua arti yang berlawanan kan."

"Ciel, semuanya itu cinta, tak ada yang salah. Cinta ya cinta. Tak kurang dan tak lebih."

Ciel mengerutkan dahinya, mencoba memahami apa yang baru saja Sebastian ucapkan.

"Cinta bisa berarti apa saja, tergantung situasinya. Tapi apapun keadaannya, itulah cinta."

Ciel makin mengernyit. Sebastian tertawa melihat ekspresinya, dan mengecup dahinya. Kedua lengannya merengkuhnya erat.

Mungkin Ciel masih harus tumbuh dan belajar, mengalami lebih banyak untuk mengerti apa itu cinta. Selama itu Sebastian akan berada di sampingnya dan mengalami cinta bersama, menuntun Ciel untuk memahami bahwa cinta sederhananya tercipta dan ada, dan ia pantas untuk dipertahankan untuk semua suka dan duka yang menyertainya.

.

Love is sweet but bitter sometimes
It gives you cold dreads and warm feelings
It calms you, and wrecks your nerves
Love is confusing, makes your head spinning

.

Love is patient yet longing
It is cruel but always forgiving
It makes you happy, that you want to cry
Love is painful, but you'll never let it fly

.

Oh so contradictive love can be
But love, just simply is
(nothing less, nothing more)

The End

A/N. Dua chapter terakhir yay XD. Akhirnya selesai hahahah /tewas/ Chapter-chapter sebelum ini sudah direvisi, tapi semuanya minor, tidak ada perubahan plot. Thanks untuk support, alert/fav dan reviewnya. Thanks untuk semua yang sudah baca, terutama yang baca dari awal sampai akhir!

Akhirnya bisa pindah ke fanfic yang lain /ditimpuk/