~ Not Over You ~
Chapter 10
.
..
...
Luhan baru saja selesai dari acara mandinya, dan kini giliran Sehun-lah yang berada dikamar mandi. Hari ini ia tak masuk sekolah karena Sehun melarangnya keras. Namja itu bilang ia masih perlu banyak istirahat paska demamnya yang baru turun. Namja pucat itu hanya tak mau dirinya sakit lagi atau lelahan karena pekerjaannya. Sehun bahkan juga melarangnya untuk berankat kerja sore nanti dan kekasihnya itu yang akan memberitahu kepada pihak sekolah dan juga tempat Luhan berkerja.
Saat mengingat betapa overnya Sehun berkata mengenai hal ini padanya tadi, saat itu Luhan tak bisa menyembunyikan senyumannya itu. Tersenyum malu dengan kedua pipinya terhiasi rona merah. Ughh...Sehun sudah membuatnya tersipu dan hanya karena perkataan namja itu padanya.
Hhh...
Menghela nafasnya pelan lalu perlahan ia melangkahkan kedua kakinya kearah dapur, guna mengambil segelas air untuk ia minum. Ia akan sedikit meringis ketika melangkah. Rasa sakit cukup perih terjadi dibokongnya yang jelas ia tau apa penyebabnya. Mengingat hal itu hanya akan membuatnya semakin merona saja. Sesampainya disana ia langsung mengambil segelas air putih lalu meminumnya habis dan meletakkan gelas kosong itu diatas pantry disana.
Matanya bergulir kearah sekitarnya, terhenti saat menangkap kearah sampingnya tepat ditempat piring kotor yang tampak berantakan disana. Kembali diam sebelum ia berjalan menghampiri tempat piring kotor tersebut. Disana ia membersihkannya, merapikan beberapa perlengkapan alat dapur itu. Mencuci piring-piring yang kotor dan membersihkan kotoran yang ada disana hingga kembali bersih. Pikirnya Sehun pasti jarang membersihkan dapurnya ini, atau bahkan tidak pernah. Terlihat dari semua yang benar tampak kotor juga berantakan. Apa lagi beberapa bungkus mie instan berserakan dilantai dan tempat sampah yang penuh karena tak dibuang-buang.
Luhan tersenyum maklum, ia mengerti karena Sehun bukanlah seperti dirinya. Walau hidup sendiri dan membiayai kebutuhannya dengan berkerja, tapi ia bisa melakukan segalanya demi kebutuhannya itu. Sementara Sehun yang ia tau kekasihnya itu berkehidupan yang sangat dibilang cukup, lebih bahkan dan bisa tinggal diapartement mewah seperti ini. Tapi namja itu tampak tak perduli akan kebutuhannya sendiri, karena ia bisa melakukannya cukup hanya dengan mengeluarkan uangnya. Maka ia bisa bertahan. Sangat berbeda dan Luhan paham akan hal seperti ini. Jadi wajar namja pucat itu sampai tak memperhatikan kebersihan tempat tinggalnya.
Luhan sampai ragu, apakah Sehun selalu tidur diapartement? Atau mungkin namja itu jarang ada diapartementnya?
GREB
Ia terkejut saat merasakan sepasang tangan melingkari pinggangnya dari belakang. Menghentikan lamunannya tadi mengenai sosok yang mungkin benar sedang memelukkan ini. Ia pun tolehkan kepalanya kebelakang sekedar melihat wajah sosok itu. Aroma mint bercampur dengan maskulin membuatnya terlena karena aroma tersebut berasal dari tubuh sosok dibelakangnya itu.
"Apa yang sedang kau lakukan heum?"
"Aku hanya sedang membersihkan dapurmu" sosok itu tersenyum tampan padanya, sampai berhasil membuat kedua pipinya memanas karena malu.
"Seharusnya kau tak perlu melakukannya, kau baru saja sembuh dan biarkan saja semua itu kotor" balas Sehun sambil meletakkan dagunya diatas pundak kiri Luhan.
"tidak apa, ini kotor dan harus dibersihkan Sehun-ah, lagi pula aku sudah tidak apa-apa kok" Sehun kembali tersenyum tipis dengan mengeratkan pelukannya ditubuh kecil Luhan.
"kalau begitu, terima kasih karena sudah membersihkannya" Luhan ikut tersenyum merona, menyentuh kedua tangan Sehun yang setia melingkari pinggangnya itu, dengan kepalanya ia sandarkan dipundak kanan sang kekasih. Hingga mereka bisa bertatapan saling melemparkan senyuman. Sampai akhirnya Sehun memulainya, membuat mereka kembali berbagi ciuman manis disana. Saat-saat seperti inilah yang Luhan sukai.
.
.
.
~ Not Over You ~
.
.
.
"Maaf tidak mengabari kalian lebih dulu..."
"tidak apa-apa Lu, setidaknya kami tidak khawatir lagi bukan?"
"ne..."
"sekarang kau baik-baik saja'kan?"
"yah, aku baik-baik saja jadi tak perlu khawatir."
"benarkah?, saat pulang sekolah nanti aku dan Kyungsoo akan menjengukmu"
"tidak perlu, aku sudah sembuh kok sungguh..."
"Benar tidak apa-apa?"
"hmm...sungguh tak apa" terdengar helaan nafas dari seberang sana. Sebelum kembali suara terdengar lagi.
"Baiklah...yasudah syukurlah jika kau benar tidak apa-apa, tapi ingat hubungi aku dan Kyungsoo jika terjadi sesuatu ne!"
"heum ne..."
Pip
Luhan menatapi ponselnya itu setelah sambungan telephonenya dengan Baekhyun terputus. Menghela nafas karena setidaknya sahabatnya itu percaya padanya jika ia benar baik-baik saja saat ini. Ia sempat terkejut tadi saat Baekhyun berkata akan menjenguknya, padahalkan ia masih berada diapartement Sehun dan jelas rumahnya tidak ada siapa-siapa disana. Tapi setelah ia menyakinkan lagi pada sahabatnya akhirnya ia sedikit legah karena mereka tidak jadi menjenguknya hari ini.
Ia menyandarkan punggungnya disandaran sofa disana. Menatap diam langit-langit ruangan yang ia tempat itu. Sebelum suara langkah seseorang mengalihkan perhatiannya. Dan sudah tampak Sehun datang berjalan kearahnya dengan dua bungkusan ditangannya. Namja itu mengambil tempat disebelahnya sambil meletakkan dua bungkusan itu diatas meja depan mereka.
"aku membeli makanan, apa kau lapar?" tanyanya menatap Luhan, yang ditanya hanya tersenyum kecil sebelum mengangguk iya. Langsung saja Sehun membuka bungkusan tersebut, dimana terdapat kotak yang berisikan makanan untuk mereka berdua. Dengan sebuah sempit Sehun menyodorkannya guna menyuapi kekasihnya itu. Luhan pun tak menolak ia menerimanya dengan baik. Lalu akan tersenyum malu ketika Sehun lebih dulu tersenyum padanya. Maka satu suapan kembali ia dapatkan lagi.
"emm...kau sendiri tidak makan?"
"yah, aku aka memakannya bersamamu"
kembali saling tersenyum saat Sehun menyuapkan dirinya sendiri ikut memakannya. Lalu kembali pada Luhan hingga seterusnya bergantian. Sesekali Sehun akan menjulurkan tangannya sekedar membersihkan pinggir bibir bawah Luhan jika ada sisa makanan yang menempel disana dengan ibu jarinya. Maka Luhan akan bertekuk wajah menyembunyikan rona wajahnya disana.
Sampai beberapa menit terlewati acara makan mereka pun selesai dengan tak tersisa makanan yang telah Sehun beli. Kini masih ditempat yang sama keduanya duduk terdiam. Sebelum Sehun kembali bersuara.
"setelah ini kau harus meminum obatmu! Walau sudah sembuh tapi kau harus tetap meminumnya arra!" perintahnya mau tak mau Luhan mengangguk menurut saja. Dan Sehun pun beranjak kekamarnya mengambilkan beberapa obat untuk Luhan minum. Selang beberapa menit namja itu kembali dengan segelas air putih ditangannya.
"ini minumlah" memberikan Luhan beberapa tablet dari obat tersebut, dan Luhan menerima lalu meminumnya dengan baik bersama segelas air putih itu. Setelah itu meletakkan gelas kosong keatas meja didepan mereka. Sampai mereka saling bertatapan disana, melemparkan senyuman malu-malu sebelum tangan Sehun terulur untuk meraih tubuh Luhan dan memeluknya hangat.
"malam ini tetaplah sini bersamaku, aku hanya tak ingin kau kembali sakit jika berada sendiri dirumahmu itu heum" Luhan tersenyum mendengarnya membalas pelukan Sehun ditubuhnya. Meletakkan kepalanya bersandar penuh didada bidang sang kekasih.
"ne."
Rasanya sangatlah nyaman berada dipelukan hangat Sehun. Ia suka sampai ia tak ingin hal ini berlalu cepat. Tetap seperti ini selama ia mau, mendengarkan detak jantung Sehun membuatnya tenang. Bahkan ia jadi ingin tertidur ketika elusan lembut terasa dikepalanya. Ia pun sudah memejamkan matanya menikmati betapa nyamannya ia rasakan diwaktu kebersamaannya dengan Sehun saat ini.
Sehun tak jauh berbeda ia pun menikmatinya pula, membiarkan tangannya terus bermain disuraian halus milik namja yang ada dibekapannya ini. Tersenyum tipis saat wajahnya ia rundukkan guna melihat wajah Luhan yang sudah terpejam damai. Sesekali pula ia akan mencium pucuk kepala Luhan. Menghirup aroma wangi vanila disuraian coklat milik kekasihnya itu. Ia bawa tubuhnya sendiri bersandar disandaran sofanya. Ikut terpejam membiarkan dirinya larut dalam suasana hangat mereka. Tanpa sadar keduanya pun akhirnya terlelap bersama disana.
.
.
.
~ Not Over You ~
.
.
.
"kita akan pergi kemana Sehun-ah?"
"nanti kau juga akan tau, sekarang ikut saja denganku!"
Mengangguk menurut dan mereka masuk kedalam mobil mewah milik sang playboy. Sore ini entah akan kemana Sehun membawanya. Yang jelas sepertinya namja pucat itu akan membawanya pergi jalan-jalan. Maka dengan mobil mewahnya Sehun melaju dijalan. Sedangkan Luhan duduk diam disampingnya, sesekali melihat kearah kaca jendela disebelahnya. Menatapi pemandangan yang ada diluar sana. Beralih pada Sehun saat merasa tangannya digenggam oleh tangan hangat namja itu. Hingga mereka saling melemparkan senyuman. Sebelum Sehun kembali focus kearah depan.
Selama kurang lebih 10 menit mereka sampai disebuah pusat perbelanjaan. Langsung saja Sehun dengan masih menggenggam tangan Luhan membawa kekasihnya itu masuk kedalam. Berkeliling dan mungkin akan berbelanja beberapa barang yang ia inginkan. Seperti disalah satu toko pakaian atau aksesoris. Luhan hanya akan diam saja ketika terus dibawa oleh Sehun berkeliling. Melihat-lihat pula barang-barang disana. Atau ia akan duduk diam disalah satu bangku disana sambil memperhatikan Sehun yang tampak sibuk memilih-milih.
Hampir 3 paper bag telah Sehun hasilkan dari berbelanjanya, lalu ia akan kembali menarik Luhan ketoko yang lainnya. Hal yang sama Sehun lakukan ketika sampai ditoko selanjutnya. Atau pergi lagi ketempat lain saat tak ada yang menarik disalah satu toko tersebut. Saat itu Luhan mulai merasa lelah terus berjalan kesana-kemari.
"Sehun..." ia berhenti melangkah karena kelelahan mau tak mau Sehun pun ikut berhenti karena tangan mereka masih bergenggaman. Ia menoleh kebelakang dimana ada kekasih kecilnya disana.
"kau lelah?" mengangguk pelan sambil menekuk wajah lelahnya. Sehun pun bergerak meletakkan sebentar paper bag belanjaannya itu dilantai, lalu melangkah mendekati kekasihnya. Berdiri tepat dihadapan namja kecil itu. Dengan kedua tangannya ia tangkup wajah manis itu.
"mianhae, sudah membuat lelah hanya karena membawamu berkeliling heum"
"gwaenchana, hanya aku saja yang terlalu lemah..." ia tersenyum agar Sehun tak merasa bersalah hanya karena hal ini. Dan namja itu ikut tersenyum pula sebelum memeluknya hangat ditengah ramainya tempat mereka berada sekarang. Luhan malu karena sadar jika mereka masih ditempat umum, belum lagi tak jarang para pengunjung lain tengah menatapi mereka disana. Karena Sehun yang masih memeluknya. Tapi sang playboy itu malah tak perduli akan hal tersebut.
"sebentar lagi, setelah itu kita akan pergi heum!"
"n-ne, tapi Sehun bisakah lepaskan pelukan ini? Mereka menatapi kita..." Sehun tersenyum tipis mendengarnya, bergerak akhirnya untuk melepaskan pelukannya itu. Dan kembali meraih tangan Luhan juga tak lupa membawa paper bagnya itu. Pergi ketempat lain yang akan mereka kunjungi selanjutnya.
.
Dengan bibir bawah yang terkulum ia tak lepas menatapi sosok didepannya ini, sosok Sehun yang tengah sibuk menjilati ice krim coklat miliknya. Bukan karena Sehun yang memakannya, tapi karena ice krim itu begitu tampak menggoda baginya. Ia sedikit kesal pasalnya Sehun tak memperbolehkannya untuk sedikit saja merasakan nikmatnya ice krim tersebut. Tapi namja pucat itu malah tengah memakannya didepannya saat ini. Dan itu sangat menyebalkan. Seakan Sehun sengaja mengerjainya.
"Sehun..." panggilnya dengan suasa pelan.
"hm?" balas singat Sehun.
"emm...aku sungguh tidak apa-apa kok, aku tidak akan sakit lagi, jadi..."
"jadi apa?"
"aku...aku ingin itu" tunjuknya tepat pada ice krim yang tengah Sehun makan itu, tapi begitu tau apa yang Luhan maksud. Sehun malah bergeleng kepala menolak.
"tidak Luhan, kau tidak boleh!"
"waeyo? Aku'kan sudah tidak sakit lagi Sehun-ah"
"justru itu, kau bisa sakit lagi jika makan-makanan yang dingin."
Saat itu Luhan merengutkan wajahnya lucu, lalu menundukannya masam merasa begitu kecewa padahal ia sangat ingin ice krim tersebut, tapi sekali lagi Sehun melarangnya. Sementara namja pucat itu tengah tersenyum dalam hati melihat betapa lucunya wajah kekasihnya saat ini. Tak tega juga sebenarnya karena Luhan benar ingin ice krim ditangannya ini. Tapi ia tetap tak bisa memberikannya.
Ia berjalan mundur ditempatnya terus dengan sibuk pada ice krimnya. Mereka sekarang sudah berada ditaman kota berjalan-jalan disepanjang jalan taman tersebut. Luhan yang masih menatapinya kusut dan ia terus melangkah mundur didepan namja rusanya. Sampai tak sadar jika mungkin ia bisa saja menabrak orang lain yang berjalan pula dibelakangnya.
Dan benar saja, seseorang tak sengaja menyenggol bahunya. Hingga ia sedikit tersentak dan...
DUG
PUK
Keduanya terdiam ditempat bersamaan melihat kearah bawah tepatnya ditanah yang mereka injak. Lalu saling menatap sesaat sebelum Luhan lebih dulu tersenyum dan tertawa kecil. Sehun pun yang melihatnya ikut tertawa. Karena dibawah sana ice krim yang seharusnya masih ada ditangan Sehun, kini sudah jatuh ketanah dan hancur tak berbentuk lagi. Itu akibat senggolan dilengannya tadi sehingga ice krimnya jadi jatuh.
Masih tertawa merasa begitu lucu saja saat ini, melihat ice krim itu kini sudah berpindah tempat. Luhan pun senang karena tak ada lagi ice krim yang ia inginkan sekarang. Bukannya sedih akan hal itu.
.
.
.
~ Not Over You ~
.
.
.
"mau bermain?"
"tapi aku tidak bisa bermain Sehun-ah"
Sehun menganggukan kepalanya sejenak dengan satu tangannya memegang sebuah bola basket yang ia pinjam pada beberapa anak-anak yang tadi bermain dilapangan ini. Mereka saat ini sudah berada disebuah lapangan basket luar yang ada ditaman kota. Dan Sehun sengaja membawa Luhan kesana untuk mengajak namja itu bermain sebentar.
"Aku bisa mengajarimu jika kau mau, bagaimana?" untuk sesaat Luhan berpikir, menatap namja tinggi didepannya ini yang tengah memainkan bola ditangannya itu. Sebelum ia tersenyum kecil dan mengangguk setuju. Langsung saja Sehun membalas tersenyum pula, mulai bergerak memantul-mantulkan bola orange itu kelantai lapangan.
"memantulkan bolanya, kau bisakan sepeti ini?" tanyanya masih bergerak.
"heum..."
"kalau begitu, kau coba!" dengan melemparkan pelan bola itu kearah Luhan, lantas Luhan pun menerimanya dengan baik dan mulai melakukan hal yang sama seperti Sehun tadi. Memantulkannya sambil bergerak perlahan. Tanpa Sehun duga, Luhan tiba-tiba berlari dengan membawa bola tersebut kearah ring didepan sana. Berlari cepat saat tepat didepan ring ia melompat seketika, lalu bola tersebut ditangannya ia lemparkan tepat kearah ring tersebut. Dan...
ZRAKK
Bola ternyata masuk begitu saja, Sehun melihatnya dengan wajah tak percaya. Luhan berbalik badan Tersenyum manis disana.
"wahh...kau berbohong heum, bagaimana bisa kau bilang tidak bisa melakukannya heoh?" sunggut Sehun berpura-pura kesal, tapi Luhan malah tertawa kecil disana.
"hahh...baiklah sekarang kita akan benar-benar bermain!" selanjutnya Sehun bergerak cepat mengambil bolanya. Berlari dan mulai pula bermain diikuti Luhan yang masih tersenyum manis padanya.
.
Luhan akan berengut ketika ringnya kembali kemasukan bola yang Sehun mainkan. Jika dihitung ini sudah ke-20 kalinya Sehun mencetak angka, sementara dirinya baru 5 bola itu sungguh menyebalkan. Jelas ia memang bisa bermain, tapi tak sehebat kekasihnya itu yang pada dasarnya sangat mahir dalam permainan ini. Lebih lagi Sehun adalah penyerang dalam tim basket sekolah mereka Luhan pasti bukan apa-apanya. Seperti saat ini disaat Sehun kembali berlari guna mencetak angka untuk kesekian kalinya, ia hanya bisa berdiri diam menatapinya ditengah lapangan dengan nafas yang cukup tak beraturan.
Dan namja tinggi pucat itu berbalik ikut menatap padanya disana setelah memasukkan bolanya kering. Sehun memasang wajah heran ketika mendapati tatapan dari Luhan, mengedipkan matanya beberapa kali sebelum ia melangkah mendekati yang lebih kecil.
"waeire? Kau lelah?" tanyanya begitu sudah berdiri dihadapan Luhan yang masih menatapnya. Kekasih kecilnya itu pun bergeleng bertanda bukan.
"lalu?" Luhan menunduk sesaat lalu mengangkat satu tangannya untuk mendorong kecil dada bidang Sehun, sampai sang playboy tersebut sedikit terdorong kebelakang dan kembali memasang wajah tak mengerti. Tapi Luhan justru tersenyum tipis.
"aku sudah bilang, aku tidak bisa bermain..." cicitnya kini mempoutkan bibirnya lucu.
"dan kau terus mencetak angka, itu...menyebalkan!" saat itu Sehun hanya bisa memasang wajah tak bisa diartikan antara terkejut dan bingung. Baru pertama kali ini ia melihat Luhan berwajah lucu seperti itu padanya, wajah lucu dengan berengut kesal mungkin? Dan itu terlihat sangat manis. Karena tersadar akan rasa terpesonanya pada sosok kecil itu, Sehun berdehem sesekali menatap arah lain, lalu kembali pada wajah Luhan didepannya. Ia tersenyum kaku.
"Maaf jika aku menyebalkan menurutmu, kita berhenti saja main heum?"
"Tidak." Luhan menolak dengan kepala yang bergeleng lagi. Sehun jadi semakin bingung sendiri.
"aku ingin memasukkan bola itu lagi, tapi kau harus mengangkatku..."
Hhh...
Sesaat ia menghela nafas sebelum tersenyum mengerti, ia raih satu tangan Luhan menariknya agar mengikutinya berjalan kearah depan ring sana. Sampai itu ia berjalan lagi guna mengambil bola basket yang ada dilantai lapangan. Kembali berdiri didepan kekasihnya itu. Memberikan bola tersebut kepada Luhan yang menatapnya bengong.
"jja, masukan bolanya dan aku akan mengangkat tubuh dari sini!" ujarnya memberitahu, Luhan pun mengerti mengangguk paham sambil memegang bola itu dengan kedua tangannya. Setelah itu ia merasa tubuhnya terangkat.
Dan benar saja Sehun tengah mengangkat tubuhnya dari depan. Melingkarkan kedua tangannya dipinggul kekasihnya itu, lalu mengangkatnya perlahan. Lantas langsung saja Luhan mengangkat kedua tangannya yang memegang bola itu keatas. Mendongak melihat kearah depan dimana ring itu berada. Hingga ia pun akhirnya melemparkan bola tersebut kedalam ring disana dan...
ZRAKK
Masuk dengan baik dan ia tak bisa untuk tidak tersenyum senang. Menundukkan wajahnya agar bisa bertemu tatap dengan Sehun yang juga tersenyum disana.
"Sehun-ah, bolanya masuk..." serunya ceria
"hm, kau hebat"
Saling tersenyum senang tepat saat matahari mulai menenggelamkan sinarnya. Disana Sehun terpaku melihat betapa indahnya sosok Luhan saat tersenyum padanya. Wajah manis dengan kedua manik bak rusanya bersinar indah. Inilah mengapa ia tidak bisa untuk membohongi dirinya sendiri, terjatuh pada perasaan yang ia rasakan saat bersama Luhan. Sosok namja kecil yang telah merubah semua perasaan dan hatinya.
Perlahan Sehun menurunkan tubuh Luhan yang ia angkat itu, turun hingga mereka kembali berhadapan dengan tangan Sehun yang kini beralih memeluk pinggang Luhan, dan Luhan sendiri membiarkan kedua tangannya bertengger dikedua bahu kekasih pucatnya itu. Saling bertatapan dalam. Maka hening terjadi selanjutnya.
"Luhan...kau adalah milikku..." bisik Sehun lembut dengan perlahan mendekatkan wajahnya kewajah berseri Luhan.
"Milikku...selamanya..." lanjutnya sebelum semakin dekat dan mempertemukan sepasang bibir mereka menjadi satu. Luhan memejamkan kedua matanya saat itu terjadi, tersenyum kecil disela ciuman mereka. Disusul oleh Sehun pula sambil mulai melumat perlahan bibir Luhan secara bergantian.
Ia sengaja kembali sedikit mengangkat tubuh Luhan agar namjanya itu berdiri tepat dikedua kakinya. Luhan menerimanya baik bahkan kedua tangannya sudah ia lingkarkan dileher Sehun. Membalas setiap pergerakan Sehun dibibir kecilnya. Sungguh indah ia suka sekali lagi saat-saat kebersamaannya dengan Sehun. Jika boleh sedikit egois, ia ingin Sehun terus bersamanya dan melakukan segala hal dengan sang playboy hanya berdua. Maka ia akan merasa bahagia ketika hal itu terjadi padanya.
'Sehun-ah, aku mencintaimu...'
.
.
.
~ Not Over You ~
.
.
.
Luhan tak lepas dari senyumannya, bahkan saat mereka sudah kembali keapartement milik Sehun. Ia terus membayangkan betapa menyenangkannya hari ini. Banyak hal memang yang mereka lakukan bersama, mungkinkah ini bisa disebut dengan berkencan? Entahlah yang pasti Luhan menganggap hari ini adalah hari paling terbaik untuknya. Bersama Sehun menghabiskan waktu berdua benar membuat jantungnya berdetak tak jelas saat kembali mengingat semuanya. Ia senang sungguh Sehun dibuatnya nyaman.
Didepan sebuah cermin yang ada dikamar kekasihnya, Luhan berdiri disana menatapi pantulan dirinya dicermin tersebut. Tersenyum manis sambil menyentuh ujung bibir bawahnya dengan tangannya itu. Lalu beralih pada bandul kalung yang melingkar indah dilehernya. Kalung pemberian Sehun. Ia merasa benar telah dimiliki seutuhnya oleh namja pucat itu.
Menyentuh bandulnya dan mengusapnya lembut sangat indah, ia benar suka dengan kalung ini terlebih karena ini pemberian dari sang kekasih hati. Hahh...ia sungguh senang.
Ia beralih menoleh pada pintu kamar mandi disana, dimana terdengar suara gemercik air dari dalamnya. Ia tau saat ini Sehun tengah mandi disana, karena seharian berjalan dan berkeliling namja pucat itu cukup merasa lelah dan pasti lengket akibat keringat. Luhan pun juga begitu bahkan lebih merasa lelah dari pada Sehun. Apa lagi saat tadi mereka bermain basket dilapangan. Lantas keduanya memutuskan untuk kembali keapartement untuk mandi, juga malam pun sudah tiba.
Luhan memutuskan untuk keluar kamar setelah cukup menatapi penampilannya saat ini. Hanya sebuah kaos putih dan celana kain hitam sebatas lutut melekat ditubuhnya. Ia keluar dari kamar bertepatan dengan bunyi bell dipintu depan berbunyi. Sedikit ragu untuk kesana sekedar melihat siapa yang datang malam seperti ini? Tapi ia pun memberanikan diri untuk melangkah kesana. Pikirnya siapa tau itu adalah teman Sehun berkunjung atau ingin bertemu dengan kekasihnya itu.
Lantas ia menghampirinya dan berniat membuka langsung pintu tersebut.
CKLEK
Maka pintu itu pun lantas terbuka, baru saja akan bertanya siapa Luhan mematung didepan pintu ketika sudah melihat siapa yang berkunjung keapartement tersebut. Saat itu Luhan tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya. Ketika didepannya sosok wanita cantik berdiri angkuh namun sempat terkejut pula saat melihatnya.
"kau?" suara wanita itu tak percaya.
"Su-sunbae..."
Hingga suara langkah tiba-tiba terdengar selanjutnya, yang Luhan yakini kini tengah mendekat kearahnya bersama sosok wanita itu.
"Luhan, siapa yang datang?" Sehun yah, namja itu mendatangi keduanya sekedar bertanya siapa yang datang keapartementnya itu karena ia pun sempat mendengar suara bell berbunyi. Lantas ia pun keluar dari kamar usai mandi. Hingga mendatangi Luhan yang mematung didepan pintu.
Tapi ketika ia sudah berada disana pula, ia malah ikut terkejut bukan main melihat sosok wanita berdiri tepat didepan kekasihnya itu.
"Sehun..."
Mata yang terbelalak kejut ia menatap tak percaya pada sosok wanita yang ia sangat benci melihatnya itu.
"kau...Irene noona?"
.
.
.
~ T.B.C ~
.
.
.
Mian guys saya updatenya agar terlambat hehee...
Lagi pusing nyari ide buat lanjutin ni ff XD
Tapi tetep lanjut kan?
Sebelum maaf juga kalo ada beberapa typo yang nyangkut/? Dimari, cz saya skarang lgi ngetiknya langsung lewat hp, jadi rada susah buat perbaikin lagi alis malas juga sih salah satunya XD
Okeh itu aja dah, untuk review yg sebelum masih saya berterima kasih banget sama kalian^^
Sungguh membuat saya senang gk ketulungan setiap membaca reviewan dari kalian
I lop you dah semuanya^^
Sampai jumpa dikelanjutan ff ini yah^^
Xdhinnie0595
09/08/16 (gk salah bulan lagi kan hehee XD )
