Be With You

.

.

.

10

.

.

.

^_^ Happy Reading ^_^

.

.

.

Buagh

Tubuh Chanyeol mundur beberapa langkah setelah menerima sebuah pukulan yang tak disangkanya. Belum sempat dia sadar apa yang terjadi, sebuah pukulan kembali melayang ke arahnya dan tepat mengenai hidungnya dan membuat hidungnya berdarah. Tubuh Chanyeol langsung limbung ke belakang, pria itu terjatuh ke lantai.

Buagh

"Sehun-ah!" pekik beberapa petugas medis yang lain, yang kebetulan ada di sekitar pintu masuk ruang IGD.

Ya!

Pelaku pemukulan itu adalah Oh Sehun.

Pria itu sudah menunggu Chanyeol, sejak pukul enam pagi, dan begitu melihat Chanyeol keluar dari mobilnya beberapa menit yang lalu, Sehun langsung melayangkan pukulannya tanpa peringatan.

Mata Sehun masih berkilat marah, rangkulan Kai dihempasnya, kemudian dia kembali merangsek mendekati Chanyeol yang dibantu beberapa orang untuk berdiri.

Sehun langsung menarik kerah baju Chanyeol, membawa Chanyeol berdiri sejajar dengannya.

"Aku sudah pernah mengingatkanmu, aku tak main-main dengan itu. Kau! BUKANKAH AKU SUDAH MENGATAKAN PADAMU, JANGAN PERNAH MENYAKITI BAEKHYUN ATAU KAU TAK BERAKHIR SELAMAT DI ICU!"

Beberapa petugas yang sudah mulai bergerombol di sana, mundur beberapa langkah setelah mendengar teriakan keras Sehun.

Takut?

Sudah pasti, Sehun bukan tipe pemarah dan mereka tak pernah sama sekali melihat Sehun marah. Baru kali ini dan hal itu membuat bulu kuduk mereka meremang.

"A-ada apa ini Sehun-ah?" tanya Chanyeol diantara nyeri yang mulai menyebar di wajahnya.

"Kau masih bertanya ada apa? SETELAH MEMBUATNYA MENUNGGUMU SEMALAMAN, DI TENGAH HUJAN, KAU MASIH BERTANYA ADA APA? KAU PUNYA OTAK TIDAK PARK CHANYEOL! AAAAARRRGGGHHH!"

BUAGH...

BUAGH ...

BUAGH!

Kali ini tak hanya wajah Chanyeol yang menjadi sasaran amukan Sehun, tapi juga perut dan bagian tubuh yang lainnya.

"KAU PIKIR KAU SIAPA BISA MENYAKITINYA SEPERTI ITU, KAU SIAPA?"

"Uhuks... Uhuks... Sehun-ah!" Chanyeol berusaha untuk berdiri tapi hal itu tak dibiarkan begitu saja oleh Sehun.

Sekuat tenaga Sehun menendang Chanyeol, lagi.

Membuat Chanyeol tersungkur tak berdaya.

Sehun melangkah mendekati Chanyeol yang sudah babak belur di hajarnya, kemudian di tariknya kembali kerah baju rekan sepropfesinya itu.

"Aku! Tidak main-main dengan ucapanku dan KAU! KAU BERUSAHA TERUS MEMANCING KESABARANKU PARK CHANYEOL!"

"Uhuks...uhuks...aku bisa menjelaskan semuanya Sehun-ah."

"SIMPAN SEMUA PENJELASANMU ITU, KARENA AKU TAK BUTUH HAL ITU! Kau tahu, Baekhyun bukan hanya sekedar sahabatku, tapi... DIA SAUDARA PEREMPUANKU! Kau menyakitinya Park Chanyeol, kau melukainya, dan itu tidak kau lakukan SEKALI!"

Buagh...

Buagh...

Buagh...

"MATI KAU PARK CHANYEOL!"

Buagh...

Buagh...

Buagh...

"OH SEHUN SONGSAENG!" pekik Donghae keras, membuat Sehun terpaksa menghentikan aksinya. Matanya masih berkilat marah saat tubuhnya berbalik menatap Donghae.

"Kalian kenapa hanya melihat, bukan melerai? Cepat bawa Park songsaeng ke dalam. Dan kau, ikut aku!" Donghae membubarkan kerumunan orang itu dan memanggil Sehun ikut dengannya.

Tak ada pilihan lain bagi Sehun selain menurut pada atasannya itu.

Namun sebelum dia mengikuti Donghae, terlebih dahulu dia sempat melayangkan ancaman pada Chanyeol.

"Jangan pernah menampakkan dirimu di depan Baekhyun lagi, karena kalau sampai hal itu terjadi, aku tak akan membiarkanmu lepas begitu saja. Camkan itu!"

.

.

.

"Aaargh!" Sehun mengaduh lirih saat Donghae menendang tulang keringnya.

Sakit? Sudah pasti, tapi dia masih bisa menahannya. Dia cukup tahu salahnya dan tahu apa konsekuensi dari kesalahan yang sudah dilakukannya itu.

"Kau pikir tempat ini arena tinju, hingga kau bebas melakukan kekerasan? Kau seorang dokter, yang mencontohmu banyak, karena begitu banyak dokter magang disini. Kalau kelakuanmu sebagai salah satu senior mereka seperti ini, mau jadi apa mereka semua nanti!" Donghae meluapkan amarahnya.

"Jeosonghamnida profesor Lee, saya tahu saya salah."

"Kalau kau tahu apa yang kau lakukan itu salah, kenapa masih kau lakukan? Jangan kotori prestasi yang kau ukir dengan tindakan main hakim sendiri. Apa kau tidak tahu arti dari kata musyawarah? Semua bisa dibicarakan dengan cara baik-baik, tidak harus dengan kekerasan."

Donghae duduk di tempatnya, menatap Sehun yang masih berdiri di depannya. Nafasnya diatur pelan.

Yang berdiri dihadapannya ini, juga putra dari sahabat baiknya. Salah satu dokter anastesi terbaik yang dimilikinya, yang jarang menunjukkan emosinya atau bahkan mengamuk seperti tadi, apalagi di depan banyak orang.

Dia paham Sehun memiliki alasan melakukan hal itu. Tapi apapun itu, tindakan main hakim sendiri yang dilakukan Sehun tak bisa dibenarkan.

"Kau akan di skors satu minggu Sehun-ah. Pikirkan perbuatanmu dan minta maaflah pada Chanyeol!"

Sehun tak langsung menjawab. Dia melepas jas dokternya, kemudian mengeluarkan amplop putih dari saku jas itu dan meletakkannya di hadapan Donghae.

"Saya mengundurkan diri." Ujar Sehun datar.

Donghae menatap Sehun tak percaya.

"Apa maksudmu?"

"Saya tidak bisa lagi bekerja sama dengan seseorang yang terus menerus menyakiti saudara saya. Mungkin alasan saya terlalu mengada-ada, tapi inilah yang saya rasakan. Baekhyun, lebih dari sahabat bagi saya. Saya pernah berjanji di depan ayahnya, bahwa saya 'lah yang akan melindungi dia sampai dia benar-benar menemukan kebahagiaannya. Selama ini saya diam, karena dia meminta saya untuk melakukannya. Tapi sekarang, tidak lagi. Saya tidak akan tinggal diam melihatnya terus di sakiti. Sekali lagi, maafkan saya kalau sudah membuat malu instansi kita. Saya permisi, ahjussi."

Sehun mundur dan keluar dari ruangan Donghae dengan airmata yang hampir saja jatuh.

Berat baginya melepas semua yang sudah dicapainya selama ini sebagai seorang dokter. Pekerjaan impiannya, cita-cita yang sudah di pupuknya sedari dia kecil. Namun, demi Baekhyun, dia rela melakukannya.

Ya! Sehun tak bisa lagi di satu tempat yang sama dengan Chanyeol. Hatinya terlalu sakit untuk hanya sekedar melihat pria itu. Karena saat melihat Chanyeol, bayangan akan Baekhyun yang sedang menangis langsung terlintas di benaknya.

"Oh songsaeng!"

Sehun menatap Irene, yang menatapnya takut. Dia, dengan gontai menghampiri Irene.

"Irene-ah! Maaf kalau selama ini aku banyak membuatmu sakit hati, sebesar apapun cinta yang kau berikan untukku, itu tak akan mengubah sedikit pun perasaan cintaku pada Luhan. Jadi berhentilah mulai saat ini."

"Oppa!"

"Mianhae. Jaga dirimu baik-baik."

Sehun menepuk pelan pundak Irene, lalu melangkah pergi dari tempat itu. Dia tak peduli dengan beberapa pasang mata yang menatapnya penuh tanya.

Sementara itu

Donghae masih duduk di tempatnya, menatap amplop putih yang di tinggalkan Sehun di atas mejanya.

Ada apa? Apakah terjadi sesuatu setelah Chanyeol begitu tergesa-gesa ingin menemui Baekhyun kemarin malam?

Bisa jadi demikian, karena Sehun tak mungkin marah kalau tidak ada alasannya. Dan alasan yang tepat, tentulah ada hubungannya dengan Baekhyun dan Chanyeol.

Dan kalau sampai Sehun mengambil keputusan sebesar itu, sudah dapat di pastikan kalau itu bukan masalah yang sepele.

Donghae berdiri dari duduknya, kemudian keluar dari ruangannya.

.

.

.

"Baekhyun-ah! Kau harus makan walau sedikit, agar bisa minum obat dan demammu segera turun."

Baekhyun membuka matanya yang masih sangat berat, memperhatikan Luhan yang tengah menyiapkan bubur untuknya.

Sudah dua kali Luhan membangunkannya untuk makan dam minum obat, tadi yang pertama sudah ditolaknya, dan inginnya, sekarang juga kembali ditolak.

Dia hanya ingin tidur, melupakan semua yang telah terjadi padanya, tapi...

"Sehun akan membawamu ke rumah sakit kalau nanti saat dia pulang kau masih demam tinggi."

Dengan terpaksa Baekhyun bangun dari tidurnya. Rumah sakit bukanlah ide yang baik sepertinya.

Baekhyun tersenyum samar, kepalanya benar-benar sakit setelah semalaman menangis sambil hujan-hujanan.

Luhan menyiapkan meja kecil, kemudian meletakkannya di depan Baekhyun. Diatas meja itu, dia meletakkan semangkuk bubur, segelas air putih dan dua butir pil penurun panas yang tadi di berikan Sehun padanya, untuk di minumkan pada Baekhyun.

"Perlu di suapi?" Luhan memperhatikan dengan seksama raut wajah Baekhyun.

"Ani. Aku bisa sendiri." Baekhyun mulai menyendok buburnya, dan menyuapkannya ke dalam mulutnya.

Pelan-pelan dia berusaha mengunyah dan menelan bubur itu. Sebenarnya rasanya tak buruk, namun setelah tiga kali suapan, dia menyudahi makannya. Mulutnya tak bisa merasakan apa-apa, perutnya juga terasa mual.

"Kau harus menghabiskannya!" Luhan masih menatap Baekhyun dengan seksama.

"Aku mual Lu, rasanya... Hueks."

Bubur yang baru masuk, tumpah seketika karena Baekhyun muntah.

Luhan bergerak cepat, mengambil kain apapun yang ada disana, lalu mengelap kedua tangan Baekhyun yang kotor karena tumpahan muntahnya.

Dengan lembut Luhan memijat punggung Baekhyun, berharap rasa ingin muntah yang dirasakan Baekhyun akan segera reda.

"Hueks... Hueks... Hueks..." Baekhyun kembali muntah, dengan sisa-sisa makanan dalam perutnya.

Luhan masih memijat punggungnya, beberapa saat kemudian, Luhan mendengar suara isakan Baekhyun.

Dengan telaten, Luhan mengambil kain kotor tempat Baekhyun memuntahkan isi perutnya, lalu meletakkannya ke keranjang.

Setelah itu, dia mengambil tempat duduk dihadapan Baekhyun dan mengenggam erat kedua tangan sahabatnya itu.

"Waeyo?" tanyanya lembut.

"Aku pasti sangat merepotkan kalian ya?"

Luhan memeluk Baekhyun.

"Ani. Aku tak merasa di repotkan, jawaban Sehun pun pasti sama."

Baekhyun melepaskan pelukan Luhan, lalu menatap sahabat baiknya itu dengan mata berairnya.

Begitu banyak yang ingin dibagi Baekhyun pada sahabatnya itu, namun dia tak tahu harus memulai semuanya darimana. Terlalu berat apa yang dirasakannya, hingga airmata menjadi satu-satunya bahasa yang mewakili segala keluhnya.

"Maafkan aku Baek-ah. Kalau aku tak memintamu menunggu penjelasannya, mungkin kau tak akan sesakit ini." Luhan memegang lembut pipi Baekhyu.

Ada satu hal yang di sesali Luhan atas kejadian semalam. Harusnya kemarin dia mengiyakan keinginan Baekhyun untuk mengakhiri hubungannya dengan Chanyeol, bukan malah meminta Baekhyun menunggu Chanyeol, menunggu penjelasan dari Chanyeol.

"Jangan merasa bersalah Luhannie. Aku tak menyalahkanmu."

"Tapi..."

"Ssssstttt... jangan seperti ini Luhannie. Ini bukan salahmu, sudahlah." Baekhyun memeluk Luhan erat. Bukan, yang terjadi padanya bukan salah Luhan. Semua yang terjadi hari ini memang harus terjadi, dan mungkin memang harus sesakit ini Tuhan menegurnya.

Baekhyun, diantara rasa kehilangan yang dirasakannya, dia bersyukur masih memiliki dua orang yang begitu menyayanginya ini. Ya... Di Seoul, Luhan dan Sehun lebih dari sekedar sahabat.

"Demamnya sudah turun?"

Luhan melepaskan pelukan Baekhyun, lalu menoleh dan mendapati Sehun berdiri di ambang pintu kamar Baekhyun.

"Belum. Dia baru saja muntah." Luhan berdiri dari duduknya lalu mendekati Sehun, sambil membawa keranjang pakaian kotor.

"Aku akan meninggalkan kalian."

Sehun mengangguk pelan, membiarkan Luhan pergi. Dan dia kemudian mendekati Baekhyun.

Pria tampan itu, tak banyak yang bisa dia berikan untuk sahabatnya itu, selain sebuah pelukan erat.

Dan disana, semua tangis Baekhyun tumpah, pada Sehun, gadis itu seakan tengah mengadukan sakit yang dirasakannya. Tak ada puasnya. Dia ingin menangis sekarang, saat ini, karena bila esok tiba, dia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa hanya akan ada senyuman setelah ini.

"Kita ke Jeju, kita kunjungi eommoni disana, eotte?"

Baekhyun tak menyahut, hanya mengangguk pelan dalam pelukan Sehun.

"Kau tidak kerja?" Baekhyun menarik dirinya dari pelukan Sehun. Dimata sahabatnya itu, dia bisa melihat betapa banyak airmata yang coba dihalau pria itu.

"Aku ambil cuti panjang. Lagipula, sudah sangat lama aku tidak liburan. Jadi... Kita bisa sekalian liburan disana. Kita panen jeruk, kita bisa memancing, kita bisa bepergian ke pantai, museum dan semuanya."

Baekhyun meraih tangan Sehun dan menggenggamnya erat.

Dia tahu, semua beban berat yang dirasakannya, Sehun juga pasti merasakannya. Dan dia tahu, Sehun tak tinggal akan diam atas kejadian ini.

"Sehunnie,...!"

"Aku menghajarnya." Lirih Sehun yang mampu menjelaskan segalanya pada Baekhyun. Dia sangat mengerti akan apa yang baru saja dikatakan Sehun, siapa yang dihajar Sehun? Dia tahu dan dia sudah menduganya.

Baekhyun menatap Sehun lama.

Lihatlah betapa dekat hubungan mereka, bahkan tanpa ditanya oleh Baekhyun, Sehun bisa menjawab apa yang hendak ditanyakannya.

Baekhyun kemudian merangkul Sehun sebentar, lalu menatap Sehun lagi dalam waktu yang lama.

"Aku tidak bisa tinggal diam lagi Baek-ah. Aku tak bisa membiarkan dia begitu saja. Dia, melakukan semua yang dia mau, tanpa memikirkan bagaimana perasaan orang yang dilukainya. Dia itu manusia apa bukan!" Sehun mengeluarkan emosinya. Matanya berkilat marah.

"Gomawo sudah sangat menyayangiku, Sehunnie."

Sehun membelai sayang pipi Baekhyun. Lalu tersenyum lembut.

"Kau harus minum obatmu, setelah itu kita berangkat ke Jeju." Sehun memberikan dua pil ke Baekhyun, walau dihadiahi sahabatnya itu dengan tatapan memohon, Sehun tetap meminta Baekhyun membuka mulutnya.

"Aku akan menyiapkan semuanya, kau bisa menunggu sambil tidur sebentar."

Baekhyun mengangguk dan kembali merebahkan dirinya. Sehun merapikan selimut Baekhyun, lalu mengusap sayang dahi Baekhyun sebelum meninggalkan kamar gadis itu.

.

.

.

"Lepaskan!" seru Chanyeol tak terima, saat Kai memegangi dirinya yang hendak beranjak dari tempat tidurnya.

"Kau masih harus dirawat hyung. Tenanglah." Sahut Kai yang masih berusaha menghalau tubuh Chanyeol.

"Tahu apa kau? Aku yang lebih tahu bagaimana keadaanku, lepaskan!" Chanyeol menghempaskan tangan Kai, dia beranjak dari tempat itu. Berdiri sempoyongan.

"Ada apa ini?" Donghae datang dengan beberapa staff paramedis lainnya.

Salah satu dari mereka melaporkan bahwa Chanyeol membuat keributan setelah luka di tubuhnya di obati.

Dan hal itu berhasil membuat tekanan darah Donghae naik, setelah sebelumnya Sehun, sekarang Chanyeol. Ada masalah apa sebenarnya?

"Saya sudah memintanya beristirahat, tapi dia..." kai mencoba menjelaskan pada Donghae, namun langsung di sambar Chanyeol.

"Aku harus pergi ahjussi. Aku harus menemui Baekhyun sekarang." Suara Chanyeol terdengar bergetar, kepalanya pening, perutnya nyeri akibat tendangan Sehun yang dilayangkan padanya berulangkali.

"Kau tak melihat banyak luka di tubuhmu? Istirahatlah dulu, urusan Baekhyun bisa nanti." Donghae mendekati Chanyeol dan meminta pria itu untuk kembali ke tempatnya.

"Ani. Harus sekarang ahjussi. Aku tidak mau dia semakin salah paham." Chanyeol menolak dan sudah akan berjalan meninggalkan tempat itu.

"Ikut aku!" Donghae membantu Chanyeol, membimbingnya mengikutinya ke ruang kerjanya.

Setelah sampai ruang kerjanya, Donghae mendudukkan Chanyeol di sofa.

"Jelaskan ada apa? Aku merasa lama-lama tempat ini akan menjadi ring tinju dengan melihat kalian seperti ini. Kalau kau lupa, ini rumah sakit."

"Mian ahjussi."

"Kenapa Sehun sampai seperti itu?" tanya Donghae dengan tatapan menuntut.

Chanyeol menarik nafasnya pelan. Kemudian mulai menceritakan kejadian kemarin malam.

Mulai dari dia yang akan menuju Namsan tower, tempatnya membuat janji dengan Baekhyun setelah kepulangannya dari Daegu lalu pada akhirnya dia memutar berbalik arah ke Gimpo airport, menuju Daegu karena kabar Seulgi melakukan percobaan bunuh diri ternyata cukup membuatnya khawatir akan keadaan gadis itu. Tak ada yang ditutup-tutupi, Chanyeol bercerita dengan jujur.

"Kau menghubungi Baekhyun saat akan ke Daegu lagi?" tanya Donghae.

Melihat bawahannya itu mengangguk Donghae hanya bisa mendesah pelan.

"Kau tahu hubunganmu dan Baekhyun masih sangat rawan? Kau tahu apa yang dipikirkannya saat dia tahu kau ke Daegu untuk siapa? Kau sudah putus dari Seulgi, Chanyeol-ah. Ok! Katakan ini sebagai bentuk rasa kemanusiaan, haruskah kau datang kesana? Chanyeol! Disana, ada banyak dokter yang membantu dan mengobati Seulgi dan lagi, yang terjadi pada gadis itu adalah tanggungjawabnya sendiri, bukan tanggungjawabmu! Katakan aku kejam, tapi...hah!"

Donghae berdiri dari duduknya dan berjalan mondar mandir dengan memegangi kepala bagian belakangnya.

Masalah ini bukan masalahnya, tapi rasanya dia ikut pusing karena hal ini. Dan dia tak tahu harus memberikan komentar apalagi terhadap persoalan ini.

Ok! Chanyeol sudah putus dari Seulgi, jadi segala urusan gadis itu harusnya tak lagi ada sangkutpautnya dengan Chanyeol. Tapi...

"Kalau tahu ternyata yang sebenarnya terjadi seperti ini, aku tak menyalahkan Sehun kalau dia sampai menghajarmu seperti itu. Kau tahu, Sehun sampai mengajukan pengunduran dirinya karena dia tak mau lagi bekerja sama dengan seseorang yang terus menerus menyakiti sahabatnya. Dia! Dia sangat tahu bagaimana cara membalas kasih sayang yang diberikan Baekhyun padanya, dan kau yang mendapatkan hal itu lebih besar, malah menyia-nyiakannya!"

"Aku tidak menyia-nyiakan hal itu adalah ahjussi. Kalau aku menyia-nyiakannya, aku tak akan pernah berusaha mencintainya!"

"Tapi kenyataannya seperti itu. Baekhyun, sudah menjaga hatinya untukmu, sejak dia masih duduk di bangku sekolah, sejak dia diberitahu ayahnya bahwa kau 'lah yang nantinya menjadi suaminya dan yang kau lakukan? Apa yang sudah kau lakukan untuknya? Hah... Aku tak tahu apa yang akan dilakukannya setelah ini, tapi kalau kau pikir jalanmu akan mudah setelah ini, kau salah Chanyeol-ah. Kalau hanya sekedar luka dihati, mungkin dia masih bisa memaafkan, tapi bila di dalam luka itu ada rasa kecewa, kau harus siap berjuang lebih keras Chanyeol-ah."

Chanyeol menunduk dalam. Dia tahu, jalannya mungkin tak semudah sebelumnya. Dia hanya berharap Baekhyun mengerti dan mendengar penjelasannya.

.

.

.

Luhan mengecup singkat pipi Sehun bergantian, kemudian memeluk tubuh tinggi itu untuk waktu yang cukup lama.

"Kau jaga dia. Jangan lupa mengirim pesan kalau sudah sampai Jeju. Sampaikan salamku untuk eommoni." Sehun menepuk pelan punggung Luhan.

"Kau tidak kecewa dengan keputusan yang ku ambil ini?"

Luhan menggeleng pelan.

"Apapun itu, aku akan selalu mendukungmu. Kalau kau tidak jadi dokter lagi, mungkin kau bisa menjadi sopir kami." Luhan menatap Sehun,yang dibalas pria itu dengan kecupan sayang.

Di tempat yang lumayan jauh dari pasangan itu, Baekhyun duduk dengan tas ransel besar di sampingnya. Menatap iri kemesraan antara Sehun dan Luhan.

Andai dia bisa merasakan yang mereka rasakan. Andai jalannya untuk mendapatkan kebahagiaan tak sesulit ini. Saat ini tentu dia sedang tertawa bahagia dengan seseorang yang paling dicintainya itu.

Namun sepertinya, bayangannya tak sesuai dengan kenyataan yang terjadi, dia harus rela melepas semuanya, demi kebahagiaan orang yang paling dicintainya itu.

"Kau sudah siap?" Sehun berdiri di hadapannya, meraih ranselnya dan menempatkan ke punggung lebar itu.

Baekhyun mengangguk kemudian berdiri dari duduknya. Sebelum pergi, dia sempat memeluk Luhan.

"Maaf membebanimu dengan banyak pekerjaan Lu."

"Tak apa. Asal setelah ini kau tersenyum lagi, itu sudah lebih dari cukup untuk membalas jerih payahku bekerja sendirian selama kau tinggalkan."

Baekhyun tersenyum kecil.

"Aku pinjam Sehun."

Luhan ikut tersenyum lebar.

"Asal jangan lupa untuk dikembalikan, karena dia milikku."

"Kalian pikir aku barang." Sehun merengut kesal.

Baekhyun dan Luhan tertawa lebar, kemudian berujar bersamaan.

"Kau adalah barang milik kami yang paling berharga. Ahahahhaha..."

"Ya!"

"Sudah. Kalian harus segera berangkat. Itu petugas informasi sudah memanggil."

"Kami pergi Lu!" pamit Baekhyun.

Luhan melepas kepergian dua orang yang disayanginya itu dengan tatapan getir. Bukan, dia bukan tak rela Sehun menyertai Baekhyun.

Dia hanya tak habis pikir akan takdir Tuhan yang sedang di jalani Baekhyun. Kenapa kisah cinta sahabatnya itu harus selalu penuh dengan airmata? Tak bisakah kebahagiaan Baekhyun datang lebih cepat?

'Semoga setelah ini, hanya ada kebahagiaan untukmu Baekkie. Aku akan selalu berdoa pada Tuhan untuk itu.'

.

.

.

Chanyeol langsung menghampiri Luhan, begitu melihat Luhan turun dari mobilnya yang terparkir di depan butiknya.

Luhan tentu saja terkejut dengan kehadiran Chanyeol yang jujur saja untuk saat ini sangat tak diharapkannya. Terlebih melihat keadaan Chanyeol yang babak belur dengan banyak perban yang menghiasi tak hanya wajah tapi juga lengan dan beberapa bagian tubuh lainnya.

"Luhan-ah! Katakan padaku, dimana Baekhyun sekarang berada?"

"Kau masih peduli padanya? Bukankah kekasihmu yang di Daegu lebih penting?" Luhan memicing menatap Chanyeol yang sepertinya menahan sakit karena lukanya. Pria itu terlihat memegangi perutnya saat berbicara.

"Luhannie jangan seperti ini. Aku tahu aku salah dan aku ingin meluruskan kesalahpahaman ini. Jebal! Beritahu aku dimana Baekhyun sekarang berada." Ujar Chanyeol memohon.

Dia tak tahu harus kemana lagi, setelah tadi dari rumah yang baru disewa Baekhyun dan Luhan dan tak diijinkan masuk oleh penjaga disana. Informasi yang dia dapat dari petugas itu, Baekhyun keluar dari rumah itu dengan membawa tas besar.

Baekhyun pergi? Itulah yang ada dalam pikiran Chanyeol. Tapi pergi kemana? Itu yang tidak Chanyeol tahu, pikirannya benar-benar buntu. Dan entah bagaimana ceritanya, laju mobilnya mengarah ke butik ini.

Untuk menghubungi Sehun jelas tak mungkin, pria itu terlanjur sakit hati padanya, pastilah panggilan atau pesan singkatnya tak akan di gubris. Baekhyun, apalagi, panggilannya sejak semalam diacuhkan oleh gadis itu. Awalnya dia beranggapan mungkin Baekhyun sudah tidur, tapi setelah pukulan Sehun berulang kali bersarang di tubuhnya, pemikirannya langsung berubah. Terjadi sesuatu yang serius.

"Jebal Luhannie, aku harus segera meluruskan kesalahpahaman ini."

Melihat Chanyeol yang seperti itu, Luhan akhirnya bermurah hati, dia meminta Chanyeol mengikutinya masuk ke dalam butik.

Tidak mungkin mereka akan terus berbicara di pinggir jalan dengan disaksikan orang banyak. Itu hal yang paling memalukan.

"Duduklah!" perintah Luhan setelah sampai ke ruangannya dan meminta Chanyeol duduk di sebuah kursi kayu. Dia kemudian keluar dari ruangan itu dan beberapa saat kemudian kembali dengan secangkir kopi untuk Chanyeol.

Luhan mengambil tempat duduk di hadapan Chanyeol.

Entah bagaimana rasanya badan Chanyeol sekarang, luka di bibir, hidung, lengan dan mungkin bagian tubuh yang lain, membuat Luhan menatap miris. Sehun pastilah sangat keras melayangkan pukulannya pada Chanyeol.

"Aku... "

"Untuk saat ini dan entah sampai kapan, jangan temui Baekhyun lagi, Chanyeol-ah."

Luhan berujar lembut dan tenang, namun bagi Chanyeol, suara Luhan justru seperti petir yang menyambarnya di siang hari ini.

Tidak!

Dia harus bertemu Baekhyun dan menjelaskan kesalahpahaman ini.

"Aku tidak bisa melakukannya, aku harus menemuinya. Aku perlu meluruskan kesalahpahaman ini Lu."

"Semua sudah terlambat saat kau memutuskan untuk ke Daegu."

"Aku ke Daegu memiliki tujuan, selain untuk pekerjaanku, aku kesana untuk menyelesaikan urusanku dengan Seulgi."

"Dan kembali lagi kesana, mengabaikan Baekhyun yang sudah menunggumu?"

Chanyeol menatap Luhan dengan tatapan tak fokus, benar yang dikatakan Luhan, dia semalam mengabaikan Baekhyun. Tapi...

"Kalau kau datang, mungkin dia akan mengurungkan niatnya untuk menyerah atas hubungan kalian. Tapi karena kau tak datang, hal itu sudah cukup menjadi alasan untuknya meninggalkanmu."

"Seulgi mencoba bunuh diri Luhan-ah."

"Lalu itu menjadi tanggung jawabmu. Kau tahu inilah tujuannya, kau mendatanginya dan hubungan kalian bisa dimulai lagi. Kalau kau tegas akan perasaanmu, dan kalau hatimu benar-benar sudah memilih Baekhyun, seharusnya apapun itu tak akan bisa membuatmu mengabaikan Baekhyun."

Chanyeol menunduk dalam, keputusannya yang dirasa tepat semalam, ternyata salah besar.

Tanpa terasa airmatanya merembes, lolos dari ujung matanya.

Luhan menatap Chanyeol kasihan. Dia tahu bagaimana perasaan Baekhyun dan dia juga memahami apa yang Chanyeol rasakan. Tapi dia tak bisa berbuat banyak, selain membuat Chanyeol sementara menjauh dari Baekhyun.

"Aku memang temanmu Chanyeol-ah. Aku memahamimu, tapi maaf, untuk saat ini aku tak bisa membantumu."

"Jebal."

"Penjelasan apapun yang kau berikan saat ini, tak akan mengubah apa-apa. Baekhyun sudah memutuskan menyerah. Yang kau lakukan padanya tak hanya membuatnya sakit hati, tapi lebih dari itu, dia sudah kecewa padamu Chanyeol-ah."

"Aku ingin bersamanya."

"Mungkin tidak untuk saat ini Chanyeol-ah. Percayalah, akan selalu ada pelangi setelah hujan badai. Tunggulah sedikit lagi, sambil berjuang untuknya, aku yakin kalau kalian memang jodoh, Tuhan pasti memberikan jalanNya."

Chanyeol menatap Luhan.

"Mian. Aku bukan orang yang tepat untuk kau mintai tolong dalam hal ini. Karena kalau disuruh memilih, aku jelas akan membantu Baekhyun dari pada dirimu. Sekarang, pulanglah Chanyeol-ah!" Luhan berdiri dari duduknya dan melangkah ke pintu.

"Baekhyun ke Jeju?"

Luhan sedikit tersentak. Namun tak berlangsung lama, raut wajahnya kembali datar seperti sebelumnya. Sebenarnya, Baekhyun pergi ke Jeju bisa ditebak oleh siapa saja, karena apa? Karena ibunya ada disana dan Baekhyun bila menghadapi masalah yang cukup pelik, memilih ibunya 'lah sebagai tempatnya bersandar.

"Jangan menyusulnya kesana atau kesempatanmu untuk bersama dengannya semakin tak ada." Ujar Luhan datar. Chanyeol tengah menatapnya saat ini.

"Kau mengancamku?"

"Silahkan kalau kau menganggapnya seperti itu." Luhan mengendikkan bahunya.

Cukup lama Chanyeol menatap Luhan, sebelum kemudian dia mengalihkan tatapannya keluar jendela.

Otaknya tak mampu berpikir jernih. Dia ingin bertemu Baekhyun, saat ini juga dan menjelaskan semuanya. Tapi mendengar apa yang dikatakan Luhan, menemui Baekhyun saat ini bukanlah ide yang bagus sepertinya.

Baekhyun kecewa atas sikapnya dan rasa kecewa itu jauh lebih menyakitkan daripada hanya sekedar sakit hati.

Sepertinya, dia harus sedikit lebih sabar bila ingin kembali memiliki Baekhyun.

Chanyeol berdiri dari duduknya, kemudian melangkah gontai keluar dari ruangan Luhan.

.

.

.

Chanyeol memasuki apartemennya gontai. Begitu kakinya menginjak bagian dalam, kilasan kenangannya dengan Baekhyun tiga minggu terakhir ini melintas begitu saja.

"Channie! Ayolah! Sekali saja, biar aku yang melakukannya!"

"Kau duduk tenang disini, menonton acara TV, aku akan menyelesaikan semuanya, SENDIRI."

Chanyeol mendudukkan dirinya di sofa depan TV, di sini, dia biasanya bercanda dengan Baekhyun, menceritakan tentang jalannya sebuah operasi dengan Baekhyun yang selalu menjerit histeris karena takut.

Disini, tempatnya menggoda Baekhyun yang sedang menikmati kripik kentangnya.

"Ya! Kau bisa mengambilnya sendiri disana, kenapa menggangguku?!"

Chanyeol menyandarkan kepalanya, berusaha memejamkan matanya sesaat.

Ingatannya ditarik pada saat pertama kali bertemu Baekhyun. Di sekolah menengah atas.

"Apa kau tak melihat ada orang yang berdiri disini?"

"Mian o-oppa."

"Oppa? Nuguya? Aku? Sejak kapan aku jadi kakakmu? Jangan memanggilku seperti itu lagi, karena kau bukan siapa-siapa buatku!"

Tak berapa lama, ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat lalu, saat Donghae lantang meneriakinya.

"...Baekhyun menjaga hatinya untukmu, sejak masih sekolah menengah, sejak dia tahu bahwa nanti kaulah yang akan menjadi suaminya!"

"Apa yang kulakukan untukmu ternyata tak sebanding dengan apa yang kau lakukan untukku, Bee." Airmata Chanyeol kembali menetes.

Chanyeol cukup lama berada di tempat itu, sampai kemudian dia bangkit dan melangkah ke ruang kerjanya.

Saat membuka ruang kerjanya, yang pertama kali tercium hidungnya adalah aroma Baekhyun yang menguar kuat.

Membuat rindunya semakin membuncah di hatinya.

Tuhan!

Aku merindukannya. Ijinkan aku mencintainya sekali lagi dan untuk selamanya.

Doa Chanyeol sambil duduk di kursi kerjanya.

Entah mendapat dorongan dari mana, Chanyeol membuka laptopnya.

Sesaat dia tertegun akan gambar wallpapernya.

Fotonya bersama seluruh anggota keluarganya. Betapa sudah sangat lama dia tak bertemu dengan kedua orangtuanya, betapa dia sangat merindukan kakak perempuannya dan juga keponakan cantiknya.

Tangannya dengan terampil membuka setiap folder yang ada disana. Pertama yang dibukanya adalah folder dengan nama my engagement.

Yang tersimpan disana adalah foto-foto pertunangannya dengan Baekhyun. Yang kalau dia boleh berkata jujur, sebenarnya dulu dia tak ingin menyimpan foto itu, namun kakaknya memelototinya dan berujar dengan nada mengancam.

"Kau tak harus melihatnya setiap hari. Aku hanya menyimpan disini untuk kenang-kenangan. Awas kalau dihapus! Setiap pulang kesini aku akan memeriksa laptopmu, kalau sampai foto-foto ini hilang, tamat riwayatmu Park Chanyeol!"

Bibir Chanyeol tersenyum kecil, menatap Baekhyun disana, yang tengah tertawa lepas bersama kakaknya dan Luhan serta istri Changmin. Gadis itu terlihat bahagia disana.

Lalu pada foto lainnya, Chanyeol dapat melihat betapa Baekhyun sangat mencintainya, gadis itu menatapnya yang tengah menyematkan cincin di jari manisnya.

"Kenapa aku baru menyadari bahwa kau sangat cantik, Bee?"

Chanyeol masih melanjutkan perburuannya, foto-foto itu di-scroll ke samping, hingga dia menemukan foto yang membuatnya menyadari kebenaran dari apa yang pernah dikatakan Donghae padanya.

"...saat ini, hanya Baekhyun yang di dengar ayahmu."

Dalam foto itu Baekhyun duduk ditengah-tengah, diampit ayah dan ibunya, dengan penuh perasaan sayang, kedua orangtuanya itu mencium kedua pipi Baekhyun, bersamaan.

Baekhyun memejamkan matanya sambil tersenyum manis, seolah menikmati limpahan kasih sayang yang diberikan kedua orangtuanya pada gadis itu.

Mata Chanyeol berkaca melihat itu, kerinduannya semakin besar pada gadis itu. Begitu mudah mencintai gadis itu, dengan segala yang dimiliki gadis itu.

Di foto lain, terlihat bagaimana Baekhyun bercengkrama dengan keluarganya, tawa Baekhyun seolah berarti tawa bagi setiap orang yang berada di sekelilingnya.

Chanyeol mengambil laptopnya dan memeluknya begitu erat. Airmatanya deras mengalir membasahi pipinya.

"Aku mencintaimu Bee, aku mencintaimu. Kembalilah Bee, aku merindukanmu."

.

.

.

"Waeyo?" tanya Sehun yang cukup terkejut dengan apa yang terjadi pada Baekhyun.

Gadis yang sedang memandang keluar jendela pesawat itu, tiba-tiba tersentak dan langsung memegangi dadanya.

"Ani. Aku hanya merasa ada yang memanggilku."

.

.

.

TBC

.

.

.

Note : Terima Kasih untuk semua Cinta dan perhatian kalian terhadap cerita ini. Review dari kalian, semuanya aku baca satu persatu, tapi maaf belum bisa balas satu persatu.

Terima kasih sekali lagi untuk dukungan kalian semuanya.

Pas bikin part awal di chap ini, rasanya sedikit terbawa emosi. Kesel aja sama Chanyeol... Ehehehehe

.

.

.

^_^ Lord Joongie ^_^