Tanaka berguling – guling ditempat tidurnya. Guling kanan… guling kiri… begitu terus berulang – ulang. Sesekali ia menutup wajahnya sambil menggeleng – geleng dengan wajah merona merah. Tanaka malu, mengingat kejadian tadi siang benar – benar membuat jantungnya berdetak kencang. Ah… kalau begini, bagaimana mungkin Tanaka bisa bertemu Ohta besok disekolah?

Lupakan… lupakan… lupakan…

Tanaka terus saja mengucapkan kata itu seakan – akan sedang merapal mantra. Ya mau bagaimana lagi, jujur saja sebenarnya itu ciuman pertama Tanaka, dan ciuman pertamanya malah dengan laki – laki? Oh, Tanaka tidak menyesal kok kalau laki – laki itu Ohta.

Eh?

"Onii-chan?"

Tanaka segera beranjak duduk. Rino berdiri diambang pintu kamarnya dengan tatapan memicing kearahnya.

"Kenapa?" Tanya Tanaka bingung.

Rino mendekat, ia menarik lengan kemeja yang dikenakan Tanaka. "Onii-chan pakai baju yang benar dong." Katanya.

Walah, Tanaka baru sadar kalau ia tidak mengganti pakaiannya sejak awal Ohta memakaikannya. Tanaka mengalihkan pandangannya dari Rino. Ah, pasti sekarang wajahnya sudah memerah karena malu.

"A—ah, iya aku akan ganti baju. Kau keluarlah." Tanaka beranjak dan mendorong adiknya keluar kemudian menutup pintu kamarnya.

Tanaka menuju kelemari pakaiannya. Lemarinya memiliki kaca besar sehingga mampu menampilkan bayangan Tanaka seluruh tubuh. Lagi, wajah Tanaka bersemu merah. Ia menutupi mukanya sambil menggeleng – gelengkan kepalanya kekanan dan kekiri. Aduh, kalau seperti ini Tanaka jadi kelihatan seperti seorang gadis muda yang lagi kasmaran. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian santai biasa, Tanaka kembali menjatuhkan dirinya diatas kasur. Matanya menatap langit – langit kamarnya sambil menerawang kira – kira apa yang akan terjadi besok.

.

.

Tanaka benar – benar bertingkah seperti gadis remaja yang tengah kasmaran. Bayangkan saja, ia yang biasanya malas level dewa sudah bangun pagi – pagi sekali bahkan sebelum Rino bangun. Tanaka segera mandi, berlama – lama berendam sambil mengoleskan banyak sabun serta mencuci rambutnya dengan perlahan – lahan. Astaga, bahkan aroma sabun dan shampoo yang digunakan Tanaka sampai tercium dari kamar adiknya. Seberapa banyak sebenarnya Tanaka menggunakannya?

Rino mengernyit heran saat mendapati kakaknya telah siap dengan seragam lengkap dan bau wangi semerbak memenuhi ruangan.

"Onii-chan, ini masih terlalu pagi loh."

Tanaka menoleh, ia ternyemun manis. Rino sempat tertegun mendapati kakaknya bisa tersenyum seperti itu. Dimana Tanaka si pemalas berwajah datar itu?

"Aku bahkan baru bangun tidur lho."

Tanaka menggaruk – garuk tengkuknya yang Rino yakini sebenarnya tidak gatal. "I—iya, ano, Onii-chan hanya tidak mau terlambat—"

"Loh, bukannya Onii-chan tidak pernah khawatir soal itu."

Benar kok. Tanaka memang tidak peduli soal waktu, yah memang Tanaka pada dasarnya pemalas sejati. Dan sekarang, Tanaka benar – benar keluar dari karakternya. Apakah efek jatuh cinta bisa sampai seperti ini?

"Yaah, i—tu…"

Rino mengangkat bahu, ia segera beranjak kekamar mandi meninggalkan kakaknya yang belum selesai bicara. Dasar adik durhaka.

Tanaka masih diam ditempat hingga beberapa menit, lalu ia segera menuju meja makan dan emmakan roti tawar yang dibeli adiknya semalam. Satu hal yang Tanaka tidak sadari, sepertinya efek ciuman Ohta benar – benar dahsyat sampai mampu membuat cowok pemalas semacam Tanaka jadi seperti ini.

Tanaka masih asyik dengan makanannya saat ia mendengar suara bel didepan rumah. Ia beranjak setelah merapikan seragamnya.

"O—Ohta?"

Ohta tersenyum renyah. Ah, Ohta kan memang pemuda lemah lembut sejati meski tidak sinkron dengan wajahnya yang terlihat begitu mengintimidasi itu.

"Ohayo."

"Hm…O—ohayo."

"Tumben kau sudah siap?"

Tanaka gelagapan. Iya juga sih, biasanya ketika Ohta menjemputnya Tanaka masih kerepotan dengan bajunya yang acak – acakan. Tapi sekarang, Tanaka sudah benar – benar rapi dan wangi.

"A—ah, kalau begitu biar aku ambil tas ku dulu."

Ohta terkekeh melihat kelakuan Tanaka yang seperti salah tingkah didepannya. Melihat wajah Tanaka yang seperti itu membuat sudut bibirnya tidak tahan untuk tidak tertarik. Tanaka begitu menggemaskan dengan wajahnya yang merona samar. Manis.

Tidak berapa lama Tanaka sampai kedepan dengan tasnya. Senyum tipis tercetak di bibir mungil itu. Ah, Tanaka tidak akan mungkin mengeluarkan senyum lebar seperti Katou atau Shimura.

"Tanaka, karena kau beberapa hari yang lalu tidak masuk sekolah kau sudah ketinggalan banyak pelajaran loh. Mau kupinjamkan catatanku?"

Tanaka mendongak memandang sosok tinggi disampingnya. "Ya baiklah." Jawabnya singkat.

Ohta tersenyum, kemudian telapak tangannya yang besar itu mendarat dihelaian hitam milik Tanaka kemudian mengacak – acaknya dengan gemas.

Tanaka menggembungkan pipinya kesal. Ia menampik telapak tangan Ohta dari kepalanya kemudian emmandang nyalang pada Ohta.

"Jangan merusak rambutku Baka-Ohta!"

Ohta tertawa terbahak – bahak melihat wajah marah Tanaka yang tidak ada seram – seramnya sama sekali. Astaga… bahkan disaat marahpun Tanaka masih kelihatan manis. Sebenarnya, orang tua Tanaka bagaimana membuat anak yang seperti ini? ada teknik khusus kah?

"Jangan tertawa!"

"Hahahaha… Ha—ah, ma—maaf Tanaka, tapi wajahmu itu lucu sekali." Ohta menyeka air mata yang menetes disudut matanya, sementara tangannya membelai kepala Tanaka dengan lembut.

Tanaka langsung diam, merasakan telapak tangan besar Ohta bergerak diatas kepalanya. wajahnya terasa panas, pun dengan tubuhnya. Sepertinya, tadi Tanaka sudah mandi dengan air dingin dan berlama – lama disana, tapi kenapa sekarang gerah ya?

"Tanaka?"

"A—apa?"

Ohta menunduk, memperhatikan wajah Tanaka. Sementara Tanaka yang ditatap seperti itu makin malu. "Kau sakit ya?" dahi Ohta ditempelkan di dahi Tanaka. Astaga… terlalu dekat.

"A—aku, tidak—" Tanaka membuang napas kasar. "A—aku baik – baik saja!" Ujarnya sambil menutup mata.

Ohta menaikkan sebelah alisnya. Lah? Kenapa Tanaka seakan ketakutan begitu? Wajahnya memerah dan itu sebenarnya lucu menurut Ohta. Tapi Tanaka tidak perlu sampai menutup matanya begitu.

"Hey, hey, kenapa kau ketakutan begitu?" Ohta memegang pundak Tanaka sambil menatapnya intens.

Tanaka membuka matanya. "Uh, aku baik – baik saja kok. Dari tadi ka uterus menanyakan itu." Tanaka menggembungkan kedua pipinya sambil membuang muka.

Ohta terkekeh. Ah, Tanaka memang tidak pernah membuatnya bosan. Apalagi setelah kejadian kemarin, mereka semakin dekat saja.

Sesampainya mereka disekolah, mereka berdua langsung dihampiri oleh Katou dan Shimura. Dua orang yang sejak awal ikut terlibat—ah, lebih tepatnya melibatkan diri dalam masalah mereka. Katou dan Shimura menghampiri keduanya dengan raut wajah penuh Tanya. Tentu saja, seingatnya kemarin Ohta masih bersikap dingin dan enggan membicarakan Tanaka dan Tanaka sendiri tidak masuk sekolah, dan sekarang… mereka bedua berangkat bersama dengan ekspresi gembira begitu.

"Jadi?" Shimura melipat kedua tangannya didepan dada sambil menuntut jawaban dari mereka berdua.

Tanaka berkedip – kedip tidak paham sambil menatap Ohta. "Ada apa ini?"

Ohta terkekeh pelan. Ah, sepertinya kali ini Ohta benar – benar harus berbagi kepada dua orang didepannya ini. meski tidak banyak, secara tidak langsung sebenarnya mereka berusaha membantu mereka berdua.