My Precious Woman
.
.
.
A Remake from KyuSoo's Fanfiction "You're My Precious" by Author Another Girl in Another Place
Cast :
Kim Jongin
Do Kyungsoo
Warning : a Genderswitch FF, Mature Content
.
.
.
"Melamun apa?"
Jongin menyenggol pipi Kyungsoo dengan punggung tangannya. Kyungsoo sontak berjengit dan menoleh, dan ketika mendapati siapa yang menyentuhnya barusan ia mengernyit tidak suka. Alisnya berkerut dan bibirnya sedikit mengerucut sebal.
"Mengganggu!"
Jongin tersenyum tipis. Benar 'kan? Beginilah kelakuan Kyungsoo jika dalam keadaan sadar. Judes sekali terhadapnya. Jongin tidak lagi merasa kesal dan marah kini, ketika Kyungsoo bersikap ketus padanya. Dulu ya, karena ia tidak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari gadis lain. Hanya Kyungsoo yang berani kepadanya.
Jongin naik keatas ranjang Kyungsoo hingga menimbulkan sedikit bunyi berderit. Ranjang itu cukup besar untuk menampung tubuh Kyungsoo yang kecil, dan sepertinya tak masalah jika Jongin ikut berbaring disana.
"Apa yang kau lakukan?!" Desis Kyungsoo tajam.
"Tidak ada."
Jongin menyahut santai seolah tak terjadi apapun. Ia mulai menggerakkan tangannya melingkari tubuh Kyungsoo lembut, berusaha tak menyakiti tubuh itu. Kyungsoo bergeser berusaha menjauh, tetapi ia tidak bisa lagi terus bergerak ke tepi. Hanya itu pilihannya, atau ia akan jatuh terjerembab ke lantai yang dingin.
"Kau bisa jatuh jika terus menjauhiku, Kyungsoo."
Jongin memegang pinggang Kyungsoo dan sedikit menarik gadis itu hingga merapat padanya. Kyungsoo mencoba melepas tangan Jongin yang memeluknya, tetapi ia malah meringis kesakitan.
"Nah, lihat sekarang. Kau sendiri yang kesakitan 'kan?"
Jongin meraih tangan kanan Kyungsoo yang tersambung dengan selang infus. Karena tadi gadis itu menggerakkan tangannya terlalu keras, jarum infusnya tertarik dan nyaris melukai tangan Kyungsoo sendiri.
Jongin mengusap tangan Kyungsoo pelan agar sedikit mengurangi sakitnya. Tangannya masih saja mengelus punggung tangan Kyungsoo, tetapi mata Jongin beralih menatap wajah Kyungsoo yang masih meringis kecil.
Jongin sedikit tersenyum menatap pipi Kyungsoo, kemudian tanpa diperintah ia memajukan wajah dan bibirnya menyambangi pipi mulus itu pelan.
Kyungsoo mendadak kaku, dan Jongin bisa merasakan itu. Hidung Jongin mengendus sisi wajah Kyungsoo, menghembuskan nafas hangatnya disana.
"Aku benar-benar merindukanmu, apa kau tahu?"
Kyungsoo diam, tidak berniat menjawab ataupun merespon ucapan Jongin. Sikap pria ini terlalu membingungkan untuknya, dan Kyungsoo tidak mengerti mengapa Jongin bisa berubah seperti itu.
Jongin menghela nafasnya melihat Kyungsoo yang sama sekali tidak berminat merespon ucapannya barusan. Dugaannya Kyungsoo mengigau tadi malam semakin kuat.
"Kau melamunkan apa tadi?" Tanya Jongin pelan.
Kyungsoo melirik Jongin dan mendengus. "Bukan urusanmu."
"Tentu saja urusanku. Kau milikku, maka apapun urusanmu maka menjadi urusanmu juga."
Kyungsoo menggeram pelan.
"Aku bukan milikmu, aku tidak mau menjadi milikmu, Kim Jongin! Berhentilah menggangguku dan urus saja pacar-pacarmu sana!"
"Kekasihku sekarang adalah dirimu, maka yang akan kuurus tentu saja kau."
Kyungsoo mendelik dan menoleh menatap Jongin. Ia hendak memaki Jongin lagi namun ucapannya kembali tertelan di tenggorokannya.
Jongin sudah mencium bibirnya. Awalnya lembut dan perlahan, tetapi kian lama kian menuntut dan dalam. Oh ayolah, berapa lama sudah Jongin menahan diri untuk tidak mencumbu gadis ini? Jongin hampir gila menahannya, dan sekarang ia merasa Kyungsoo sudah pulih dan sehat kembali, maka tak ada hal yang menghalanginya untuk mencium gadis keras kepala ini.
"Lepp-aashh… Ak-hmph!"
Kyungsoo berusaha mendesis diantara bibir Jongin yang terus menginvasinya, tetapi susah sekali. Jongin mengunci rahangnya, membuatnya susah menolehkan kepalanya. Kyungsoo merasakan nafasnya tersendat, ia tak bisa bernafas dengan benar. Lidah Jongin menggapai langit-langit mulutnya. Benda lunak itu basah dan hangat, membuat Kyungsoo merasa geli.
Kyungsoo memejamkan matanya rapat-rapat, tidak kuat menahan semua sensasi aneh yang melanda tubuhnya. Jongin membuka matanya sedikit, mencoba melihat reaksi Kyungsoo saat ini. Ia tersenyum di tengah cumbuannya, puas melihat Kyungsoo yang terpejam pasrah didepannya.
Jongin kembali memejamkan matanya dan mengulum bibir Kyungsoo lebih dalam. Lalu melepasnya hingga menimbulkan bunyi kecapan kecil, dan mengecupnya sekali lagi.
Kyungsoo masih terengah, tangannya tanpa sadar meremas kemeja Jongin. Ia masih memejamkan matanya, menstabilkan nafasnya kembali. Jongin menyeringai kecil.
"Nah, itu baru pemanasan, sayang. Aku akan melakukan yang lebih lagi kalau kau sudah sembuh sepenuhnya. Aku harus pergi, sebentar lagi adikku akan menjengukmu."
Kyungsoo membuka matanya, kesal mendengar kalimat Jongin barusan walaupun tak urung wajahnya tampak memerah. Ia memukul pundak Jongin.
"Pergi saja sana! Dan jangan kembali lagi!"
Jongin menggenggam tangan Kyungsoo yang baru saja memukulnya. Ia menggigit punggung tangan Kyungsoo, membalas apa yang baru saja dilakukan gadis itu padanya.
"Ah!"
Kyungsoo berjengit, menatap Jongin semakin marah. Namun Jongin malah tersenyum-senyum memandangnya, kemudian pria itu bangkit dari ranjang rumah sakit. Merapikan pakaiannya sejenak dan merunduk untuk mencium Kyungsoo lagi. Tetapi gadis itu sudah memalingkan wajahnya terlebih dulu, hingga bibir Jongin hanya mengenai pipinya.
Jongin tersenyum lagi. Ah, ia benar-benar tidak sabar menunggu Kyungsoo sehat kembali. Sikap gadis itu yang menantangnya justru membuatnya semakin bersemangat.
"Baiklah, BabySoo, aku pergi dulu. Nanti malam aku akan mengunjungimu lagi. Oke?"
Jongin mengecup belakang kepala Kyungsoo dan menepuknya sekilas, setelahnya ia melangkah keluar dari kamar rawat Kyungsoo.
.
.
.
Tiga minggu sudah Kyungsoo berada di rumah sakit itu. Gadis itu sudah uring-uringan meminta pulang, sejak seminggu yang lalu ia sudah merasa sehat dan baik-baik sajsa. Kakinya bahkan sudah bisa melangkah kembali, walaupun dengan tertatih. Gipsnya akan dilepas jika ia sudah diperbolehkan pulang nanti.
"Huuuuun, kapan aku pulaaaaanng?"
Sehun menatapnya sambil tertawa. Ia sedang bertugas menyuapi Kyungsoo makan siangnya, sementara Luhan mengupas buah. Saat ini akhir pekan, jadi mereka memiliki waktu luang lebih untuk menemani Kyungsoo di rumah sakit.
"Sabar sedikit, Soo. Kau ini sedang sakit, sadar tidak sih?"
Luhan yang menyahut setengah mengomeli Kyungsoo.
"Aku bosan, Luhanie~ Kau tidak berada di posisiku, makanya kau tidak tahu seperti apa rasanya berbaring disini selama dua puluh tiga hari! Hah!"
Luhan terkekeh. "Kau bahkan menghitung harinya, Soo. Luar biasa, kau pasti benar-benar rindu dunia luar ya?"
Kyungsoo merengut. Ia memanyunkan bibirnya saat Sehun mengarahkan sesendok makan siangnya ke depan mulutnya.
"Ayolah, Soo. Kau seperti anak kecil."
"Memang aku masih kecil!"
"Apanya? Kau tidak sadar umur ya?"
"Aku memang anak kecil, dasar bawel!"
"Kau hampir mencapai dua puluh dua tahun! Apanya yang anak kecil? Kau itu pendek, bukan kecil!"
"Yah! Berani sekali mengataiku pendek! Dasar albino!"
"Apa kau bilang? Ka—"
"YA! Berhenti bertengkar!"
Luhan memekik diantara mereka—Sehun dan Kyungsoo. Matanya melotot pada dua sosok di hadapannya.
"Kalian sama saja! Kekanakan! Semuanya anak kecil!"
Luhan berkacak pinggang, sudah membanting pisau buahnya sejak tadi. Pusing mendengar kekasihnya dan sahabatnya bertengkar tidak penting. Gadis pirang itu baru saja akan membuka mulutnya lagi, kalau saja pintu kamar rawat Kyungsoo terbuka.
Ketiganya serentak menoleh ke arah tamu baru itu, well, bukan baru sebenarnya. Luhan langsung menurunkan tangannya yang masih bertengger di pinggangnya, kepalanya sedikit membungkuk memberi salam pada si tamu.
"Ah, harusnya bisa kutebak. Kalian berdua pasti ada disini."
Sehun tampak sebal melihat kehadiran tamu itu, yang tak lain adalah kakaknya sendiri.
"Tidak usah bertele-tele, kau mau apa kesini, hyung?"
Tamu itu, Jongin, tersenyum miring. Matanya menatap Kyungsoo sejenak, membuat gadis itu berpaling malas dari pandangannya.
"Kurasa kau tahu apa mauku, dongsaeng."
Jongin mengangkat alisnya dan menatap Sehun menyeringai. Lalu Jongin mengalihkan pandangannya kepada Luhan.
"Hei, Nona, bukankah lebih baik kau berjalan-jalan keluar dengan tunanganmu itu? Cuaca sedang bersahabat diluar sana, cocok untuk pasangan yang sedang kasmaran seperti kalian untuk menghabiskan waktu bersama. Bagaimana?"
Luhan diam, tidak tahu harus menjawab apa. Ia melirik Sehun meminta bantuan.
"Kenapa tidak kau saja yang pergi, huh?"
Suara Kyungsoo terdengar sinis mengusir Jongin, tetapi hal itu tidak membuat senyum Jongin hilang.
"Aku tidak akan mengikuti saranmu, babySoo."
Kyungsoo tampak muak. Ia kembali memalingkan wajahnya ke arah lain. Malas sekali menatap Jongin.
"Hun, tadi perancang Kim meneleponku karena ponselmu tidak aktif. Katanya ada sesuatu yang ingin disampaikannya padamu dan tunanganmu, soal baju pernikahan kalian."
Sehun menyipit memandang kakaknya ragu, tetapi ia tetap merogoh ponselnya di saku celananya. Benar saja, ponselnya memang mati. Lowbatt mungkin.
Sehun menghela nafas, kemudian menatap Luhan.
"Chagi, aku pinjam ponselmu. Aku mau menghubungi perancang Kim sebentar."
Luhan mengangguk gugup. Ia mengulurkan ponsel miliknya.
Sejenak tak ada yang berbicara. Sehun berbincang dengan perancang Kim diseberang sana, sementara Luhan menungguinya dengan gugup. Sesekali mencuri pandang ke arah Jongin. Tetapi Jongin tidak peduli, ia tahu, mungkin Luhan sedikit canggung dengan kehadirannya. Ia tidak akan lagi mengusik gadis adiknya itu, perhatiannya hanya tertuju pada satu gadis yang tengah bersungut-sungut di depannya ini.
Kyungsoo benar-benar tidak mau melihatnya. Gadis itu terus menatap keluar jendela kamar rawatnya. Risih karena Jongin terus menatapnya lekat. Ish, bisa tidak sih pria itu tidak menatapnya seperti itu?!
Suara Sehun terdengar, memecah keheningan. "Chagi, kurasa kita harus mendatangi perancang Kim. Soal gaunmu."
"Oh, oke. Tapi…Kyungsoo?"
"Kalian tenang saja. Kyungsoo aman bersamaku."
"Aku akan lebih aman kalau sendiri, tanpa dirimu!"
Jongin tidak mendengarkan Kyungsoo. Ia malah mendudukkan dirinya di kursi di samping ranjang Kyungsoo.
"Sudah, kalian pergilah. Jangan biarkan perancang Kim menunggu lama."
Sehun menatap kakaknya dengan pandangan menilai. Kemudian ia mengangguk dan memandang Kyungsoo.
"Oke, Soo. Aku minta maaf tidak bisa menemanimu lebih lama. Aku—kami harus pergi. Gaun Luhanie, kau tahu."
Kyungsoo menatap Sehun dan Luhan, kemudian mengulas senyum tipisnya.
"Ya, tidak apa-apa. Pergilah."
Luhan balas tersenyum dan merunduk, mencium pipi Kyungsoo dan mengusap kepalanya sayang. Setelah itu Sehun. Saat pria itu mencium pipinya, Kyungsoo sempat berbisik. "Seret kakakmu keluar, Hun."
Sehun hanya tersenyum kecil. Ia mengusap pipi Kyungsoo.
"Aku janji dia tidak akan berbuat macam-macam. Telepon aku jika dia mulai bertingkah. Oke?"
Kyungsoo mengangguk. Mereka asyik bertiga, mengabaikan Jongin yang melotot melihat Sehun mencium Kyungsoo, walaupun hanya di pipi. Kyungsoo miliknya, tidak ada yang boleh menciumnya selain dirinya! Seharusnya begitu, setidaknya menurut pemikiran posesif Jongin yang semakin menjadi-jadi.
"Kami pergi dulu Soo, Kim Sajangnim…" Luhan membungkuk hormat pada Jongin.
"Untuk apa kau memanggilnya 'Sajangnim'? Kita tidak sedang di kantor, chagi…"
Jongin sempat mendengar omelan adiknya sebelum Sehun dan tunangannya keluar dari kamar rawat Kyungsoo. Ia mendengus geli.
Jongin kembali memusatkan perhatian pada Kyungsoo. Ah, akhir pekan yang indah. Jongin memastikan ia akan menghabiskan waktunya bersama Kyungsoo, tanpa ada pengganggu apapun atau siapapun. Walalupun harus menghabiskan hari yang cerah ini di rumah sakit, Jongin tidak keberatan.
Jongin mulai beringsut mendekati Kyungsoo, naik ke ranjang itu seperti biasa.
"Halo, babySoo…"
"Apa yang kau lakukan?! Lepas!"
Kyungsoo merinding saat Jongin mengendus telinganya perlahan. Tangannya bergerak hendak meraih ponselnya diatas nakas disamping ranjangnya, ingat pesan Sehun tadi.
Hampir saja ia menggenggam ponselnya, saat satu tangan panjang sudah lebih dulu menyambarnya. Kyungsoo terperangah, melihat Jongin menggenggam ponselnya dan tanpa rasa bersalah mengantongi benda itu di saku celananya.
"Aku sudah memutuskan, aku ingin menghabiskan weekend bersamamu. Tanpa gangguan apapun. Kau mengerti itu?"
Kyungsoo masih melongo tak percaya, dan ekspresinya itu membuat Jongin tidak tahan untuk menciumnya seperti biasa.
"Astaga Kyungsoo, jangan salahkan aku kalau bibirmu menjadi santapanku hari ini."
Kyungsoo melotot horor pada Jongin.
.
.
.
ToBeContinue
Yaaass chap ini pendek, saya tau. Soalnya cerita aslinya emang segini :D
Trima kasih untuk yang udah komen dan slalu nunggu cerita ini komen kalian itu saya semangat buat cerita ini.
Oh menanggapi komentar uname UnA Na, kaisoo disini ena-ena sekali kok langsung "isi", soalnya mereka ena-ena pas Kyung lagi masa subur haha. Sharing aja, ada temenku yang udah nikah dia baru ena-ena sekali dan seminggu kemudian uda positif hamil (lakinya tokcer). Dan itu dia pas masih masa subur. Jadi emang mau berapa kalipun ena-ena kalo lagi nggak masa subur ya susah kalo mau hamil, tapi kalo pas masa subur sekali aja juga langsung gol kkkkkk.
Udah ah ngomong apasih ini wkwk
Jangan lupa review ya guys, see you :*
