CHAPTER 9

.

.

.

Sehun mulai sembuh, meskipun dia belum bekerja, Chanyeol tidak mengijinkannya. Laki-laki itu bersikeras bahwa Sehun belum boleh bekerja dan dia memerintahkan dokter Junmyeon menghubungi langsung atasan Sehun sehingga tidak masuknya Sehun selama empat hari tidak akan menjadi masalah.

Besok dia harus masuk. Dia sudah sehat, itu hanya flu biasa dengan perawatan Chanyeol yang sangat intensif disertai dengan obat dari dokter Junmyeon yang sangat manjur, dia sudah merasa cukup kuat hari ini. Dan Sehun merindukan Luhan. Sudah empat hari dia tidak ke rumah sakit. Kemarin tubuhnya masih terlalu lemah, tapi sekarang dia sudah agak kuat dan tidak sabar ingin segera melihat Luhan.

Suster Nana menelepon dan menceritakan perihal Chanyeol yang mengangkat teleponnya pada waktu Sehun tertidur sekaligus meminta maaf jika dia sudah hampir membuka rahasia Sehun. Setelah itu, Sehun bersikap hati-hati kepada Chanyeol, menunggu lelaki itu bertanya padanya. Tapi Chanyeol bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Jadi Sehun berpikir Chanyeol tidak menganggap telepon dari suster Nana itu sebagai sesuatu yang serius.

Sehun sudah berpakaian rapi, saat itu jam lima sore. Chanyeol masih akan pulang jam sembilan malam, jadi dia masih punya waktu lebih dari cukup untuk menengok Luhan. Dengan riang karena akhirnya bisa berkunjung lagi ke rumah sakit, Sehun berjalan dan membuka pintu keluar apartemennya hanya untuk berhadapan dengan sosok Chanyeol yang akan membuka pintu untuk masuk, Chanyeol mengamati Sehun yang berpakaian rapi.

"Mau ke mana?" tanyanya langsung.

Sejenak Sehun terperangah tak menyangka akan berhadapan dengan Chanyeol, matanya mengerjap gugup.

"Eh aku..," Sehun mengerjap lagi, "Aku mau membeli bahan makanan di supermarket," gumamnya mengucapkan hal pertama yang terpikir di dalam benaknya.

Chanyeol mengernyit, "Kau masih sakit. Tidak boleh keluar-keluar. Kau bisa membeli bahan makanan itu besok. Lagipula aku sudah membawa makanan" Chanyeol menunjukkan kantong kertas di tangannya dan melangkah masuk lalu menutup pintu apartemen. Ketika dirasakannya Sehun masih terpaku, dia menoleh dan mengangkat kantong makanan itu.

"Kau tidak mau menatanya di piring sementara aku mandi?" tanyanya lembut.

Sehun terperangah dan mengangguk, lalu menerima kantong itu dari Chanyeol. ketika Chanyeol melangkah ke kamar mandi, Sehun menata makanan di dapur dengan frustasi. Kenapa Chanyeol sudah pulang sore-sore begini? Kenapa waktunya begitu tidak tepat?

Sehun menyempatkan diri menghubungi suster Nana dan menjelaskan perihal batalnya kunjungann ke rumah sakit. Untunglah suster Nana mengerti lalu menjelaskan secara singkat kondisi Luhan yang stabil sehingga kemungkinan operasi ginjalnya bisa dilakukan beberapa hari lagi. Sehun merasa sangat lega mendengarnya, dengan cepat dipanjatkan doa permohonan untuk Luhan lalu melanjutkan menata makanan itu.

Semua masakan yang dibeli Chanyeol tampak hangat dan menggiurkan sehingga mau tak mau menggugah selera Sehun.

"Kau pasti sangat menyukainya. Itu menu andalan dari restoran favoritku," Chanyeol masuk ke dapur dengan megnenakan pakaian santai. Dia sudah bertransformasi dari pebisnis yang dingin ke lelaki yang lebih mudah didekati.

"Mana kopiku?" gumamnya di sebelah Sehun.

Chanyeol berdiri bergitu dekat hingga membuat Sehun gugup. Dengan ceroboh dia hampir melompat menjauh dari Chanyeol, membuat lelaki itu mengangkat sebelah alisnya sambil menatap Sehun.

"A..akan ku buatkan.." gumam Sehun dengan pipi merah padam.

"Tidak. Nanti saja akan ku buat sendiri. Kemarilah, aku belum memeriksamu sejak tadi" Chanyeol merentangkan tangannya sambil bersandar di meja dapur.

Sehun memandang ragu ke tangan Chanyeol yang terentang, lalu beralih merengkuhnya ke dalam pelukannya.

"Hmm.. kau harus seperti aroma bayi" gumam Chanyeol tenggelam di sela rambut Sehun.

Chanyeol juga harum, pikir Sehun dalam hati. Aroma sabun yang sudah familiar dengannya dan mau tak mau Sehun merasa nyaman ada di dalam pelukan Chanyeol. Mereka berdiri sambil berpelukan beberapa lama tanpa suara tanpa kata. Ketika akhirnya Chanyeol mengangkat kepalanya dan menatap Sehun, matanya tampak membara.

"Kau sudah tidak demam lagi," suaranya terdengar serak dan Sehun mengerti artinya. Chanyeol sudah terlalu lama menahan diri. Lelaki itu tidak menyentuhnya selama tiga malam. Dari mengingat besarnya gairah Chanyeol kepadanya, sepertinya itu sudah hampir mencapai batas maksimal pengorbanan Chanyeol. Sehun sangat mengerti.

"Iya..aku sudah tidak demam lagi" balas Sehun lembut.

Chanyeol mengerang lalu menekankan tubuhnya makin rapat pada tubuh Sehun hingga kejantanannya yang sudah mengeras menekan Sehun, membuat pipi Sehun memerah. Dengan lembut Chanyeol mengusap pipi Sehun.

"Begitu liar di ranjang, tapi masih bisa memerah pipinya ketika ku goda," dengan lembut Chanyeol meniupkan nafas panas di telinga Sehun, membuat tubuh Sehun menggelenyar, "Apakah aku juga bisa membuat yang di bawah sana merona ketika ku goda?"

Tangan Chanyeol menyentuh Sehun dengan lembut, membuat nafas Sehun terangah. Jemari yang kuat itu menelusup ke dalam, menyentuh Sehun dan menggodanya, membuatnya basah. Chanyeol mendorong Sehun ke atas meja dapur dan membuka pahanya. Lalu dengan cepat membuka celananya dan menyatukan dirinya dengan Sehun. Kerinduannya begitu dalam sehingga kenikmatan yang terasa begitu menyengat seakan-akan jiwanya dipukul dengan tabuhan percikan orgasme tanpa ampun.

Entah hati mereka saling berseberangan, tapi ternyata tubuh mereka saling membutuhkan. Sehun setengah terbaring di atas meja dapur dengan tubuh Chanyeol melingkupinya. Lelaki itu membutuhkannya dan Sehun dengan caranya sendiri membutuhkan Chanyeol. Ketika paha mungil Sehun melingkupi pinggang Chanyeol, Chanyeol menekankan dirinya kuat-kuat, menggoda batas pertahanan Sehun.

"Chan..yeol.." Sehun merintih, tanpa sadar mengucapkan nama Chanyeol dan ucapan itu bagaikan musik hangat di telinga Chanyeol.

"Ya manis..katakan manis, kau ingin aku berbuat apa?" bisik Chanyeol parau disela tubuhnya yang bergolak untuk memuaskan Sehun. Di sela nafasnya yang tersengal yang terpacu cepat. "Kau ingin aku memuaskanmu ya? Aku akan memuaskanmu, manis.. Aku akan memuaskanmu sampai kau tidak akan pernah bisa menemukan kepuasan yang sama dari siapapun" dengan posesif Chanyeol menekan Sehun menyatakan kepemilikannya.

"Kau tidak akan pernah menemukan lelaki lain…" suara Chanyeol tercekat ketika hantaman orgasme melandanya, membawa Sehun ikut dalam pusaran puncak kenikmatannya.

Dan akhirnya, mereka baru menyantap makan malam hampir lewat tengah malam.

.

oOo

.

Ruangan itu sangat sunyi, hanya suara alat-alat penunjang kehidupan yang berbunyi secara teratur. Sehun duduk di sana, di samping ranjang Luhan, menatap Luhan yang terbaring dengan damai. Dua jam lagi operasi ginjal Luhan akan dilaksanakan.

Kau harus kuat bertahan ya.. demi aku kau harus bertahan. Kau harus bertahan demi aku, oppa.. Berkali-kali Sehun merapalkan kata-kata itu seperti sebuah doa yang tidak ada putusnya.

Luhan tampak lebih kurus dan pucat, dan begitu diam. Tapi Sehun meyakini masih ada kekuatan hidup yang tersembunyi di dalam tubuh Luhan. Sehun mempercayainya, Sehun percaya kepada Luhan. Seluruh harapannya masih bertumpu pada kepercayaannya itu. Kemungkinan keberhasilan operasi itu adalah 40:60 dan Sehun bergantung kepada 40% itu. Dia percaya Luhan adalah lelaki yang kuat. Buktinya dia sudah berhasil bertahan sampai sejauh ini.

Suster Nana masuk ke dalam ruanga dan menyentuh pundak Sehun, "Kondisinya stabil, Sehun. Aku yakin dia akan berhasil melalui ini semua.."

"Iya suster..Luhan oppa pasti kuat"

Suster nana mengecek denyut nadi Luhan lalu menatap Sehun seolah teringat lagi, "Bagaimana kau berpamitan kepada Mr. Park?"

Sehun merona, "Aku bilang menemani teman yang akan melahirkan.." gumamnya pelan, merasa berdosa karena tidak bisa berbohong.

Hari ini hari minggu, Chanyeol kebetulan berencana melewatkan waktunya seharian dengan Sehun. Tapi dengan alasan palsu dan kebohongan yang terbata-bata, Sehun berhasil membuat membuat Chanyeol melepaskannya. Meskipun dahi Chanyeol tampak berkerut curiga ketika Sehun berpamitan tadi pagi.

"Kalau beigtu kenapa kau tak mau ku antar?" kejar Chanyeol tadi pagi ketika Sehun menolak tawarannya.

"Karena temanku ini mengenalmu sebagai bosku. Nanti dia bisa mengetahui semuanya" jawab Sehun cepat-cepat.

Lelaki itu mengerutkan keningnya lagi, tidak puas. "Apa dia salah satu pegawaiku?"

"Bukan!" Sehun langsung menyela keras, karena setelah mengenal Chanyeol lebih dekat, Sehun tahu kalau dia menjawab 'ya', maka Chanyeol pasti akan menyuruh salah satu staf personalianya untuk mengecek apakah benar ada karyawannya yang akan melahirkan, dan dia akan mendapati kalau Sehun berbohong.

"Dia bukan pegawaimu, tapi dia banyak mengenal teman-teman kantor dan aku dia tahu tentangmu. Jadi kalau dia melihatmu dia bisa bertanya-tanya kepada yang lain.."

"Oke, kalau begitu di rumah sakit mana?"

Sehun kehilangan kata-kata, berusaha mencari jawaban. "Eh.. aku tidak tahu di rumah sakit mana"

Dengan cepat Chanyeol melangkah ke hadapan Sehun yang berusaha menghindari tatapannya.

"Kau bilang akan menemani temanmu itu di rumah sakit, bagaimana mungkin kau tidak tahu di mana rumah sakitnya?"

"A.. aku.." dengan gugup Sehun menelan ludah, "Aku akan menunggu di kos yang lama. Suaminya akan menjemputku nanti", disyukurinya jawaban yang terlintas cepat di otaknya. Dia jarang berbohong dan tidak pandai berbohong. Sementara Chanyeol terlihat seperti seorang detektif yang mencurigai tindakan kriminal yang dilakukan di belakangnya.

"Suaminya?"

Jawaban itu sepertinya membuat Chanyeol tidak senang karena ekspresi wajahnya semakin menggelap, "Kau membiarkan suaminya menjemputmu? Kalian hanya berdua di jalan?"

Sehun merasa gugup, tapi kemudian dia merasa ingin tertawa mendengar perkataan Chanyeol yang terasa aneh.

"Chanyeol~ssi," gumam Sehun jengkel, "Dia seorang suami, dan istrinya akan melahirkan anaknya. Apa yang ada di dalam pikiranmu?"

Perkataan itu membuat pipi Chanyeol merona, dan dia melangkah mundur.

"Ah, ya.. maaf.." lalu lelaki itu menatap Sehun tajam, "Kau boleh pergi tapi begitu sampai di rumah sakit, kau harus menghubungiku"

"Ya," jawab Sehun cepat sehingga Chanyeol menatapnya semakin curiga.

"Kau harus menghubungiku, oke?"

"Oke," jawab Sehun dengan cepat lagi.

"Sehun.." suara Chanyeol terdengar jengkel.

"Oke, aku janji.." jawab Sehun akhirnya.

"Dan sebelum jam delapan malam kau harus pulang"

"Baik Chanyeol~ssi" Sehun berjanji meski tidak tahu apakah dia bisa menepatinya.

Dan sekarang dengan sengaja Sehun mematikan ponselnya. Bagaimanapun kemarahan Chanyeol nanti akan ditanggungnya, sekarang yang paling penting adalah Luhan.

"Sudah waktunya.." gumam suster Nana, membuyarkan lamunan Sehun.

Dua perawat lain masuk ke ruangan dan mulai mempersiapkan mesin-mesin penunjang kehidupan untuk Luhan. Lalu mulai mendorong tubuh Luhan ke luar ruangan. Sehun mengikuti dari belakang, sampai Luhan menghilang di pintu khusus ruang operasi.

Dengan lemah dia menoleh ke suster Nana, "Berapa lama operasinya?"

Suster Nana memeluk Sehun lembut, "Untuk operasi berat seperti ini, minimal 4 jam.."

4 jam…

5 jam…

6 jam…

Nafas Sehun mulai terasa sesak. Berkali-kali dia melirik lampu di atas pintu ruangan operasi. Tetapi tetap tidak ada gerakan di sana. Di setiap detik yang terlewatkan dengan begitu lambat, nafas Sehun terasa makin lama makin sesak.

Kenapa lama sekali? Apa yang terjadi? Apakah para dokter mengalami kesulitan? Bagaimana kondisi Luhan oppa di sana? Pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di dalam benak Sehun, membuatnya makin cemas dan ketakutan.

Suster Nana sudah berkali-kali menengok keadaan Sehun di sela-sela tugas jaganya, membawakan Sehun segelas teh dan makanan kecil karena Sehun tidak mau makan.

"Makanlah dulu. Aku tidak mau kau pingsan nanti" gumam suster Nana sambil memijit lembut bahu Sehun.

Dengan lemah Sehun menggeleng, "Tidak bisa suster, aku terlalu cemas untuk makan"

"Kalau begitu minumlah tehmu, kau sama sekali belum makan sejak tadi. Setidaknya teh manis bisa memberikanmu sedikit tenaga"

Dengan patuh Sehun meneguk teh manisnya, lalu menatap ke pintu lagi dengan cemas.

"Kenapa lama sekali operasinya?"

Suster Nana menghela nafas, "Aku tidak tahu tapi Luhan kan kasus khusus. Para dokter harus benar-benar berhati-hati menanganinya, mungkin itu yang memerlukan waktu lebih lama.."

Pandangan Sehun tetap tidak terlepas dari pintu ruang operasi. Ketegangannya semakin meningkat ketika lamput di atas pintu ruang operasi menyala. Tanpa sadar dia terlompat dari tempatnya berdiri dan setangah berlari menyongsong dokter.

Dokter itu tersenyum sebelum Sehun bertanya. Dia mengenal Sehun, mengenal kegigihan gadis itu memperjuangkan kehidupan tunangannya. Dan tanpa sadar turut merasakan empati pada pasangan itu.

"Tidak apa-apa, Sehun. Luhan lelaki yang kuat, operasinya berhasil.."

Tubuh Sehun langsung lunglai penuh rasa syukur hingga sang dokter harus menopangnya.

.

oOo

.

"Pulanglah dulu, Sehun. Ini sudah hampir jam tiga pagi," suster Nana yang masih setia menemani mengguncang pundak Sehun.

Dia kasihan melihat gadis itu tertidur kelelahan di samping ranjang Luhan. Begitu Luhan keluar dari ruang pemulihan dan kembali ke kamar perawatan intensif, Sehun tak pernah beranjak dari sisi Luhan. Tidak makan, tidak minum. Hanya duduk di sana menggenggam tangan Luhan yang terbalut infus seolah akan ada keajaiban di mana Luhan akhirnya sadarkan diri.

Kasihan sekali kau, nak.. suster Nana menggumamkan rasa tersentuhnya dalam hati.

Sehun berusaha mengumpulkan kesadarannya, tanpa terasa tadi dia tertidur karena kelelahan.

"Kamu harus pulang Sehun. Ingat, mungkin Mr. Park kebingungan mencarimu.."

Astaga! Ya Tuhan! Sehun benar-benar lupa. Chanyeol! Astaga..lelaki itu pasti akan mencarinya dan sekarang dia pasti sedang marah besar!

Dengan gugup Sehun bangkit dari kursinya. Sedikit gemetar membayangkan kemarahan Chanyeol nantinya.

"Aku minta sopir rumah sakit mengantarmu pulang, jadi kau tak perlu naik taksi dini hari begini" suster Nana berusaha meredakan kegugupan Sehun.

Dengan cepat Sehun mengecup tangan Luhan yang masih ada di dalam genggamannya memeluk suster Nana dan setengah berlari keluar.

.

.

.

Ruangan itu gelap. Gelap dan sunyi. Hingga bunyi klik ketika Sehun menutup pintu terdengar begitu keras. Dengan gugup Sehun menelan ludah.

Kenapa sepi? Ke mana si Chanyeol? Apa mungkin dia pulang ke rumahnya? Syukurlah kalau begitu kejadiannya. Sehun berusaha menenangkan dirinya tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan rasa gugup yang menghadapi apa yang akan terjadi nanti. Seperti hitungan mundur penantian sebuah bom yang akan meledak saja.

Dan bom itu memang meledak. Dalam hitungan beberapa menit pintu depan terbuka. Tidak! Bukan terbuka, tapi terdorong dengan kasarnya, lampu-lampu menyala.

Chanyeol tampak begitu menakutkan. Matanya menyala-nyala, rambutnya acak-acakan, bahkan pakaiannya yang biasanya selalu elegan dan rapi tampak kusut. Yang pasti lelaki itu kelihatan begitu murka mendapati Sehun berdiri di ruang tamu apartemen itu, hanya menatapnya.

Dengan gerakan kasar dia meraih pundak Sehun dan mengguncangnya keras sampai Sehun merasa pusing.

"Ke mana saja kau?!" teriak Chanyeol lepas kendali.

Sehun berusaha menjawab tapi kepalanya terasa pusing karena Chanyeol masih mengguncangnya.

"Aku mencarimu ke segala penjuru, kau tahu?!", masih berteriak, "Semua rumah sakit bersalin di kota ini ku datangi satu persatu, tapi kau tak ada! Ke mana saja kau?!"

"Chanyeol, kalau kau terus mengguncangnya seperti itu, dia akan muntah sebentar lagi," sebuah suara tenang terdengar di belakang Chanyeol. Membuat lelaki itu terpaku seolah baru menyadari kehadiran sosok di belakangnya.

Kyungsoo berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu. Sepertinya menikmati pemandangan Sehun yang didamprat oleh Chanyeol. Chanyeol menarik nafas dalam-dalam beberapa kali berusaha mengontrol emosinya.

Sialan benar Sehun! Sialan benar gadis ini! Tidak tahukah dia begitu cemas tadi ketika sampai malam Sehun tidak juga pulang? Tak tahukah dia betapa hati Chanyeol dicengkeram ketakutan yang amat sangat ketika mencoba menghubungi Sehun dan menemukan bahwa ponselnya mati?

Beribu pikiran buruk berkecamuk di dalam benak Chanyeol. Bagaimana kalau Sehun kecelakaan? Atau dia menjadi korban kejahatan? Bagaimana kalau gadis itu terluka parah dan tidak dapat datang kepadanya untuk meminta pertolongan?

Dan sekarang, menemukan gadis itu berdiri di ruang tamu apartemennya tanpa kekurangan suatu apapun membuat Chanyeol dibanjiri perasaan lega yang amat sangat. Lega sekaligus murka, murka karena gadis itu telah membuatnya kacau balau, murka karena gadis itu telah membuatnya berubah dari Chanyeol yang tenang menjadi Chanyeol yang kacau, murka karena gadis itu telah menumbuhkan sebentuk perasaan yang tidak dia kenal sebelumnya.

"Pro..proses melahirkan temanku bermasalah. Dia..dia eh.. harus dioperasi.." Sehun masih berusahan mengumpulkan nafasnya, diguncang dengan begitu kerasnya membuat pandangannya berkunang-kunang.

Tangan Chanyeol masih berada di pundaknya mencengkeram kuat, "Kalau begitu apa susahnya meneleponku?! Kenapa kau matikan ponselmu hah?!"

Sehun mengerjapkan matanya gugup, "Baterai ponselku. Habis…"

"Memangnya tidak ada cara lain buat menghubungiku? Aku hampir gila memikirkan kau ada di mana! Apa kau pikir aku tidak mencemaskanmu?! Kau tahu aku hampir melaporkan kehilanganmu ke kantor polisi.."

"Chanyeol, sudahlah.. toh dia sudah pulang dengan selamat" Kyungsoo menyela, berusaha lagi meredakan kemarahan Chanyeol.

Dengan tajam Chanyeol menoleh kepada sabahatnya itu, "Cukup Kyungsoo. Kau boleh pulang. Terima kasih sudah menemaniku tadi"

Kyungsoo hanya mengangkat bahu menghadapi pengusiran halus itu. Dia menepuk kemejanya yang juga kusut lalu melangkah ke luar pintu.

"Kau harus menenangkan otakmu. Kalau kau seperti ini, makin lama aku makin tidak emnganalmu" kata-kata Kyungsoo ditujukan pada Chanyeol, tapi matanya menatap tajam ke arah Sehun, menyalahkan, "Dan kau, tuan putri, lain kali belajarlah sedikit bertanggung jawab" sambungnya dingin sebelum melangkah keluar dan menutup pintu di belakangnya.

Ruangan itu menjadi begitu hening sepeninggal Kyungsoo. Chanyeol diam. Dan Sehun juga diam, menilai emosi Chanyeol. Takut salah bicara atau bertindak yang mungkin bisa menyulut emosi Chanyeol semakin parah.

Setelah mengamati dengan hati-hati, Sehun menarik kesimpulan kalau kemarahan Chanyeol sudah mulai mereda. Matanya sudah tidak menyala lagi seperti api biru, dan nafasnya sudah teratur. Hanya tatapan tajam dan bibirnya yang menipis itu yang menunjukkan masih ada sisa kemarahan di sana.

"Maafkan aku,," bisik Sehun pelan, takut-takut.

Sejenak Chanyeol tampak akan mendampratnya lagi tapi dia menarik nafas panjang berusaha menahan diri.

"Sudahlah," gumamnya, melangkah melewati Sehun memasuki kamar.

Dengan gugup Sehun berusaha mengejar langkah Chanyeol yang begitu cepat.

"Maafkan aku. Aku tidak berpikir kau akan secemas itu" Sehun tersengal berusaha menjajari langkah Chanyeol menuju kamar, "Aku.. aku terlalu terfokus pada operasi temanku itu lalu aku….. Park Chanyeol!" Sehun setengah berseru karena lelaki itu berjalan terus tanpa memperhatikannya.

Chanyeol berhenti melangkah, menatap Sehun, tampak begitu dingin.

"Yang penting kau sudah pulang dengan selamat" jawabnya datar.

"C..Chanyeol~ssi?"

Sehun merasa ragu mendengar nada dingin dalam suara Chanyeol.

"Sudah, aku mau tidur!" geram Chanyeol marah sambil melangkah ke arah ranjang.


TBC


chapter ini emang udah mulai sedikit menyinggung soal Luhan meski masih dalam kondisi ga sadar, jadi yang mau tau gimana soal Luhan selanjutnya.. sabar wkwkwkwk

dan sekarang malah Chanyeolnya yg marah..trus gimana nasib Sehun selanjutnya?

tapi di awal kan udah sempet kangen2an naena lagi hahahaha

bocoran next chap: Junmyeon mulai tau siapa Sehun sebenarnya