Gempa menghembuskan nafasnya kesal sambil berjalan dibawah payung, karna hujan masih belum berhenti, dan sepertinya hujan malah bertambah deras, sesekali Gempa menatap langit yang masih mendung, lalu kembali berjalan menuju rumahnya.

Kali ini ia pulang telat, di karnakan ia masih harus menyelasaikan laporan pertanggung jawaban di setiap acara, lalu di lanjutkan dengan rapat dadakan, membahas tentang acara olimpiade di sekolahnya, dan Gempa mau tidak mau harus melakukannya karna ia adalah ketua osis.

Tak lama berjalan akhirnya, ia akan sampai rumah, namun siapa sangka ?

Langkahnya berhenti saat ia melihat seseorang yang tergeletak di depan pintu rumah tetangganya, tanpa fikir panjang, ia langsung mendekati gadis tersebut.

Dan ketika Gempa melihat gadis tersebut, matanya langsung membulat terkejut.

"Yaya" panggilnya tak percaya.

Wajah Yaya memucat, tangannya mulai berwarna putih begitu pun dengan bibirnya, kedua matanya tertutup rapat, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ia akan sadar, baju seragamnya terlihat kotor karna lumpur dan genangan air seragamnya juga basah sempurna.

Gempa masih mencari kunci rumah Yaya di setiap tempat namun hasilnya…

'Nihil'

Gempa tidak menemukan apa-apa, ia kembali berfikir, bagaimana cara membawa Yaya ke dalam rumah ? sementara pintu masih terkunci dan belum terbuka.

'Jendela'

Namun bagaimana ia akan lewat Jendela jika juga harus membawa Yaya, lagi pula, jendela rumah Yaya juga terkunci, tidak ada yang tidak terkunci.

Gempa menghembuskan nafasnya pelan, lalu membawa Yaya dengan 'bridal styel ' kearah ruamhnya, ya ia tidak punya pilihan lain selain rumahnya, Gempa tidak mungkin sanggup meninggalkan seseorang yang sedang tidak sadarkan diri sendirian, apa lagi itu adalah seorang gadis dan orang yang berharga untuknya.

Gempa meninggalkan payungnya di depan rumah Yaya, lalu kembali berjalan kerumahnya, tak butuh waktu lama untuk sampai di rumahnya karna rumah Yaya dan Boboiboy bersaudara bersebelahan.

Saat di depan pintu, Gempa berusaha meraih knop pintu lalu membukanya perlahan, dan membuka sepatunya, dan menaruhnya di sembarang arah.

"Tadaima (Aku pulang)" salam Gempa sambil berjalan kearah ruang tamu.

Gempa menatap saudaranya yang kini terkejut melihat dirinya, lalu beralih ke seseorang yang berada dalam gendongan Gempa, terlebih lagi kini Gempa membawanya dengan gaya 'Bridal styel', dan kini terlihat.

Api dan Taufan yang sedang bermain sambil berteriak histeris, kini menatap Gempa dengan bingung, dan tidak mempedulikan permainannya yang belum di pause terlebih dahulu.

Air yang sedang membaca bukunya, kini mengalihkan padangannya kearah Gempa dengan tatapan heran lalu menaruh bukunya di atas meja tanpa menandai halaman yang sedang ia baca.

Halilintar yang sedang mengganti-ganti saluran Tv, mengalihkan pandangannya pada Gempa dengan menyerit heran.

"Gomennasai minna (Maaf semua)" pinta Gempa sambil berjalan ke arah sofa, Air yang mengerti maksud Gempa, ia pun langsung pindah duduk di samping Halilintar.

Gempa menaruh Yaya di sofa dengan perlahan, lalu berjongkok di sampingnya dan menaruh telapak tangannya di kening Yaya untuk mengetahui suhu tubuhnya.

Seingat Gempa tangan Yaya begitu dingin dan hampir berwarna putih sempurna, namun saat ia menyentuh kening Yaya, suhunya berbeda, melainkan suhunya sangat hangat, Air yang mengerti keadaan ia langsung menuju dapur lalu mengambil air es dan sebuah sapu tangan.

Api dan Taufan hanya saling pandang, dan masih memproses apa yang terjadi, Halilintar tetap melihat Yaya dengan datar.

"Taufan nii-chan" panggil Api pelan.

Taufan melihat Api samba menatap heran.

"Apakah ada seseuatu yang aneh dari Gempa nii-chan ?" Tanya Api setengah berbisik.

Taufan memasang pose berfikir lalu mengangguk pelan.

"kamu benar Api, tidak biasanya Gempa nii-chan membawa seorang gadis ke rumah" jawab Taufan menanggapi pertanyaan Api.

Walaupun Taufan dan Api sudah berbicara dengan suara pelan, namun Halilintar masih mendengarkan pembicaraan mereka.

"Baka ! tentu saja Gempa menolongnya karna Yaya pingsan dan tidak ada orang lain disana selain Gempa" jawab Halilintar setengah membentak.

Seketika mata Api dan Taufan langsung berbinar mendengar jawaban sang kakak yang kini menjawabnya lebih panjang dari biasanya, Halilintar yang merasa di perhatikan merasa risdih dan kesal.

"Apa ?" Tanya Halilintar sambil menatap tajam ke Api dan Taufan.

Seketika Taufan dan Api langsung terdiam lalu membuang mukanya bersamaan.

"Gempa" panggil Halilintar sambil menatap keluar jendela.

"Nani ? (Apa ?)" Tanya Gempa bingung.

"Sudah kamu cek suhunya ?" Tanya Halilintar masih dengan nada dinginnya, namun siapa sangka ?

Dibalik nada dinginnya itu ia sangat khawatir pada Yaya yang belum sadarkan diri.

"Suhunya cukup tinggi" jawab Gempa sambil melihat thermometer yang ia pegang.

"Kalau begitu, kamu coba kompres dulu, jika suhunya belum turun kita bawa Yaya ke rumah sakit" jawab Halilintar tidak mengalihkan pandangannya.

"Baiklah" jawab Gempa mengerti.

"Hali nii-chan" panggil Taufan pelan dengan bingung.

Halilintar hanya menjawab dengan tatapan tajam.

Taufan yang melihat sang kakak menatapnya dengan tajam langsung terdiam takut dan terkekeh pelan.

"Nandemonai (Tidak ada)" jawab Taufan masih terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal.

Sedangkan Halilintar hanya memutar kedua bola matanya malas.

"Aku akan ke kamar" ucap Air pelan lalu menguap.

"Untuk ?" Tanya Taufan polos.

"Tidur" jawab Air sambil memutar kedua bola matanya lalu kembali menuju kamarnya.

"Kami juga ingin ke kamar, iya kan Api" ucap Taufan sambil meyakinkan Api.

Api mengangguk dengan cepat.

"Baiklah" jawab Gempa lembut.

Tak lama kedua mata Yaya terbuka perlahan, dan melihat sekitar.

"Yaya, kamu sudah sadar ?" Tanya Gempa sambil tersenyum lembut.

Sedangkan Yaya hanya menatap heran dan bingung sekitarnya.

"Aku menemukanmu di depan rumah tak sadarkan diri Yaya" jawab Gempa.

"Gomennasai (Maaf) pasti aku telah merepotkan" ucap Yaya menyesal.

"Ya, kamu sangat merepotkan, jadi cepatlah pulang !" jawab Halilintar sambil menuju kamar.

"Hali nii-chan !" bentak Gempa kesal.

Sedangkan Halilintar tetap melangkahkan kakinya kearah kamar.

"Gomen (Maaf)" pinta Gempa sambil tersenyum.

'Apa Halilintar marah denganku ?' batin Yaya smbil menunduk bersalaha karna telah merepotkan banyak orang.

'Tapi, kenapa Gempa membelaku ?' Tanya Yaya kembali dalam hati.

'Apa aku mempunyai salah dengan Halilintar ?' Tanya Yaya kembali pada dirinya.

"Yaya" panggil Gempa pelan.

Tidak ada jawaban dari Yaya, gadis itu hanya menunduk bersalah.

"Yaya" panggil Gempa kembali dengan suara yang lebih keras.

"Eh.." Yaya hanya bergumam tidak jelas, menjawab panggilan Gempa.

"Sebaiknya, kamu pulang Yaya !" pinta Gempa lembut sambil menepuk kepala Yaya pelan.

Yaya hanya dapat terdiam saat mendapatkan perilaku seperti itu dari Gempa.

Di samping itu, sepasang mata mengawasih gerak-gerik mereka dengan tatapan kesal dan tidak terima.

"Meinu (Menyebalkan)" ucap Halilintar kesal sambil masuk kedalam kamar.

"Arigatou Gempa" ucap Yaya sambil tersenyum lalu kembali ke rumahnya.

Sementara Api dan Taufan kini sedang tertawa di dalam kamar.

"Hahahaha" tawa Api yang hampir lepas kendali.

"Kecilkan suaramu Api !" perintah Taufan.

"Waw, Aku tidak menyangka Gempa nii-chan akan seperti itu !" ucap Api dengan mata berbinar.

"Hehehe" kekeh Taufan pelan.

"Apakah Gempa nii-chan pertama kalinya dekat dengan gadis ?" Tanya Api sambil menatap Taufan dengan memohon agar diberi tahu.

"Coba ku ingat" ucap Taufan sambil pose berfikir.

"Ayolah, pasti ada kan ?" Tanya Api sambil memohon.

Kini yang dipikiran Taufan hanya ada Hanna, seorang gadis yang bukan dekat dengan Gempa saja, melainkan dekat dengannya dan Halilintar.

"Hanna" ucap Taufan tanpa sadar.

"Wah, namanya Hanna ya ?" ucap Api antusias.

"Eh, iya hehehe" ucap Taufan yang kini salah tingkah.

Api manatap Taufan dengan heran mengapa sang kakak yang tiba-tiba salah tingkah saat mengatakan nama gadis yang pernah dekata dengan Gempa ?

Kini Api menatap Taufan penuh selidik, Api tidak tau apa-apa karna ia dan Air kembali ke jepang saat umurnya 11 tahun 2 bulan setelah kejadian kecelakaan tersebut.

Saat Api dan Air tiba dirumah mereka merasa ada sesuatu yang aneh dari 3 kakaknya.

Halilintar yang berubah menjadi pendiam, anti sosial dan selalu menutup dirinya.

Gempa yang berubah menjadi sosok jarang bicara dengan orang baru, dan selalu menjaga jarak.

Hanya Taufan yang menyambut dirinya dan Air dengan ceria dan semangat, Gempa hanya tersenyum akhirnya dapat berkumpul kembali, sedangkan Halilintar tidak ada respon, sepertinya ia sudah tidak peduli lagi apa yang akan terjadi.

Api kembali berfikir, apa mungkin ada hubungannya dengan Hanna ?

Gadis yang pernah dekat dengan Gempa.

"Onni-chan" panggil Api pelan.

"Naze (Kenapa) ?" Tanya Taufan sambil menatap bingung Api.

"kau menyukai Hanna ?" Tanya Api polos sambil mengamati Taufan yang kini mulai memanas wajahnya.

"Iie (Tidak)" jawab Taufan dengan cepat.

Api semakin jahil meledek Taufan saat wajah Taufan yang kini mulai memerah seperti udang rebus.

"Kamu menyukainya Taufan nii-chan" jawab Api dengan yakin.

Sedangkan Tuafan hanya dapat terdiam mendengar ucapan Api.

"Hahaha, kamu tidak dapat berbohong Taufan nii-chan" jawab Api kembali yang kini tertawa puas.

"Urusai (Diam) !" ucap Taufan kesal lalu keluar dari kamar, meninggalkan Api yang masih tertawa akan sikapnya yang tsundere.

Saat Taufan membalikkan badan ia langsung terkejut karna kini dihadapannya ada Gempa yang menatap bingung.

"Do shita no (Ada apa) Taufan" Tanya Gempa bingung.

"Nandemonai (Tidak ada)" jawab Taufan yang kini langsung meninggalkan Gempa dengan beribu pertanyaan dikepalanya.

Kini tujuan Taufan hanya menuju taman belakang.

-Rumah Yaya-

Yaya menatap keluar jendela dengan bingung, akan sikap Gempa yang selalu baik dengannya, dan sikap Halilintar yang selalu dingin padanya.

Langit perlahan berubah menjadi warna biru muda keunguan dan mulai berawan, menandakan akan kembali hujan, begitupun dengan burung-burung yang mulai berterbangan kembali kesarangannya dengan cepat.

Angin berhembus dengan kencang kali ini meniupkan rambut Yaya yang kini tidak memakai kerudungnya, begitu pun saat angin berhembus kekulitnya, Yaya merasakan dingin, Yaya berniat akan menutu jendela dan kembali istirahat, namun ia kurungkan niatnya saat melihat kilat dan disaat bersamaan ia melihat mata Halilintar yang kini menatapnya dengan tajam.

Hujan pun turun perlahan bersamaan kenangan dan ingatan masa lalu yang Yaya sulit untuk mengingatnya, namun saat ini, dengan mudahnya Yaya dapat melihat semua video masa lalunya dengan perlahan, bersamaan dengn hembusan angin.

-Flash back-

Halilintar lagi-lagi mengamuk karna orang tuanya akan membawa Api dan Air keluar negri, dan memisahkannya dari saudara-saudaranya lagi.

"Oka-san (Ibu)" panggil Halilintar lemah sambil menatap kedua orang tuanya.

"Gomen (Maaf), Hali ini keputusan otou-sanmu" jawab sang ibu pelan.

"Hali nii-chan" panggil Gempa pelan.

"Ini tidak adil !" bantah Halilintar kesal.

Sedangkan Taufan berada di pojokan ruangan sambil menangis karna akan berpisah lagi dengan saudara-saudaranya.

"Kita pergi" ucap sang ayah sambil membawa Air yang sedang tertidur.

"Gomennasai (Maaf) Hali" ucap sang ibu lalu mengikuti sang ayah menuju mobil.

Halilintar hanya terdiam di tempat sambil menunduk dan menangis, kali ini ia tidak akan tahu kapan akan bertemu dengan kedua adiknya, dan Halilintar tidak pernah tahu untuk apa kedua orang tuanya membawa Air dan Api.

Suara mobil terdengar dan semakin lama mulai menghilang.

Halilintar langsung melebarkan kedua matanya terkejut dan tidak percaya, dengan cepat ia langsung berlari menuju keluar rumah dengan cepat, gempa yang menyadari sang kakak keluar dengan cepat mengikuti sang kakak dari belakang.

"Hali nii-chan" panggil Gempa terkejut.

Namun sayang Halilintar terlambat, orang tuanya sudah membawa kedua adiknya.

"OKA-SAN OTOU-SAN !" teriak Halilintar berusaha agar suara teriakannya terdengar, namun sayang suara teriakan itu tidak terdengar di telinga kedua orang tuanya.

"Hali nii-chan" panggil Gempa pelan sambil menatap sang kakak.

Tidak ada respon dari Halilintar.

"Hali nii-chan" panggil Gempa lagi sambil mendekat pada Halilintar.

"Jangan mendekat !" bentak Halilintar tiba-tiba.

"Hali nii-chan" panggil Gempa lagi saat melihat sang kakak yang berlari tanpa arah.

Halilintar kini hanya dapat berlari dan berlari tanpa henti dan tanpa arah, hingga sampai pada sebuah pohon yang besar ia menyandarkan dirinya.

Padahal Halilintar selalu mengikuti perkataan kedua orang tuanya.

Halilintar selalu berusaha menjadi sosok yang diinginkan kedua orang tuanya.

Halilintar sudah berusaha keras untuk menjadi yang diinginkan kedua oang tuanya.

Namun kali ini ?

Halilintar hanya ingin Api dan Air untuk tidak dipisahkan lagi dari mereka, Halilintar selalu memohon dan mengatakan hanya ini yang ia inginkan, namun sayang, kedua orang tuanya tidak pernah menanggapai permintaan Halilintar.

"Hei, jangan menangis" pinta sura tersebut dengan lembut.

Halilintar tidak merespon.

Hanna menyentuh Halilintar sebentar, namun dengan cepat langsung ditepis oleh Halilintar.

"JANGAN SENTUH AKU!" bentak Halilintar keras, melihatkan iris matanya yang berwana merah ruby.

-Flash back off-

Yaya terdiam saat melihat mata Halilintar yang berwarna merah ruby tersebut, entah apa yang kini Yaya pikirkan, namun ia sangat takut kini melihat tatapan Halilintar, dengan cepat Yaya menutup jendela dan hordengnya.

"Hanna" ucapa Halilintar pelan sambil menatap langit.

Halilintar yang melihat hujan semakin lebat kembali menutup jendela dan hordengnya agar hujan tidak masuk kedalam kamarnya.

-Ruang tengah-

Taufan memasuki rumah perlahan, tubuhnya basah karna hujan, apa yang dipikirkan Taufan kali ini, namun ia sangat bersalah saat mengingat nama Hanna, rasa bersalah itu masih menghantui dirinya.

"Taufan nii-chan" panggil Gempa terkejut saat melihat kakaknya yang basah dengan hujan.

"Gempa" panggil Taufan pelan memberikan cengirannya, lalu kembali berjalan menuju kamarnya.

"Taufan nii-chan" panggil sang adik khawatir.

Taufan menuju kamarnya dan mengganti bajunya yang basah, setelah itu ia kembali terduduk di atas kasur sambil memegang sebuah foto.

"Taufan nii-chan, boleh aku masuk ?" Tanya Gempa perlahan di balik pintu sambil mengetuk pelan.

"Ha i (Iya) Gempa" jawab Taufan lemah.

Gempa memasuki kamar Taufan dengan perlahan lalu duduk disamping sang kakak.

"Taufan ni-chan" panggil Gempa lagi.

"Apa dia masih hidup Gempa ?"

"Apa dia akan memaafkanku ?"

Gempa terdiam mendengar pertanyaan dari Taufan, Gempa tidak dapat memberitahu Taufan kali ini jika Hanna masih hidup dan kini berganti nama menjadi Yaya.

Gempa tidak ingin Taufan mengetahui jika nyatanya Hanna masih hidup namun hilang ingatan, ia akan tambah bersalah pada Hanna jika diberi tahu, dan kini yang Gempa bisa lakukan hanya terdiam dan tidak memberi tahu.

"Sampai kapan kamu akan terus merasa bersalah onni-chan ?" Tanya Gempa pelan.

"Entahlah Gempa" jawab Taufan sambil menatap foto tersebut.

#

#

#

Tbc

Hai ! *Melamabaikan tangan* #diamukreaders

Halilintar : Begitulah nasib akhir Farida.

#datangdenganwajahkusut

Api : Hahahaha, ada apa dengan wajahmu Farida-chan ?

JANGAN TERTAWA KAU API DAN JANGAN PANGGIL AKU FARIDA-CHAN !1

Taufan : Waw, Authornya lagi PMS ya ?

Aku sedang tidak PMS taufan -"

Gempa : Hehehe, sabar Author ^^

Huaaaa GEMPA ! *meluk Gempa*

Air : Drama -"

Gomennasai minna, baru bisa lanjut sekarang aku mulai sibuk belajar kemarin hehehe

Halilintar : Sibuk atu sok sibuk ?

DIAM KAU !

Dan sekarang aku masih uts jadi maaf kalau lama updatenya ^^

Aku udah buat agar alurnya tidak keluar dari cerita dan tidak terlalu lama dan cepat, dan maaf kali ini ceritanya tidak panjang sekali lagi maaf kalau buat kalian kecewa.

Boleh aku minta pendapat chap ini ?

Kalau tidak jelas dan ceritanya mulai aneh, tidak aku lanjutkan ^^ jadi pendapat kalian berharga untuk chap selanjutnya ^^

Ok yang uts semangat ya aku juga lagi uts, kita saling menyemangati aja ^^ semoga dapat nilai yang memuaskan ^^