Warning : Huruf yang dicetak miring adalah paragrap flashback. Ada banyak flashback di chapter ini. AU, OOC, Typo (s)


Disclaimer : Naruto is Sakura's mine (santai-santai, maksudnya untuk di sini Naruto punyanya Sakura dulu yak). Naruto belongs to Masashi Kishimoto.


Chapter 10 : Significances Relationship

.

.

.

Jam setengah lima tepat mereka tiba di pusat pembelanjaan. Ini pertama kalinya Sakura ke salah satu mall yang berada di Konoha. Desain bangunannya tidak jauh berbeda yang berada di Hokaido. Semenjak berprofesi menjadi pembantu. Ia tidak punya lagi waktu yang bisa dibuang hanya untuk sekedar minum kopi di salah satu kedai-kedai mall.

Mereka turun dari dalam mobil ini. Di parkiran, suasana tidak terlalu ramai. Ya, semua orang tahu, hanya ada benda mati beroda empat di dalam sini.

"Sakura, biasanya kau suka membeli kado apa untuk acara pernikahan temanmu?" tanya Naruto.

"Yaaa, tergantung orangnya menyukai apa. Ngomong-ngomong Hinata suka apa?" Sakura balik bertanya. Sementara kedua kaki mereka sedang menuju ke pintu lift yang berada di ujung sebelah kiri parkiran.

"Hm, dia suka benda-benda yang unik. Seperti hiasan dinding dan beberapa guci antik."

"Oh, Hinata penyuka benda-benda unik ya?"

Pintu lift terbuka dan mereka berdua masuk ke dalam sana. Kebetulan dalam lift sedang kosong—membebaskan mereka untuk terdampar ke lantai berapa pun yang mereka mau.

"Kukira kau ingin piknik dulu sore ini, baru setelah itu kita ke sini."

"Tadinya pun begitu, tapi aku rasa lebih baik kita pikniknya malam nanti saja." Naruto melebarkan cengirannya. Ia tahu di pikiran Sakura pasti tertuju pada makanan yang berada di dalam mobil akan sudah tidak hangat lagi.

"Apa di sini ada toko yang menjual berbagai macam porselin?" tanya Sakura ketika mereka sudah keluar dari dalam lift.

"Ada cukup banyak juga." Naruto melihat tangan Sakura yang menggantung tidak membawa apa pun. Tubuh tegapnya ia dekatkan kepada Sakura, dan dengan perintah otaknya yang sangat mudah, jari-jari Naruto tertaut di antara jemari Sakura. Sakura langsung menoleh beradu pandang dengan mata shappire pria itu, kemudian pandangannya berangsur turun ke arah kedua tangan mereka. Apa ini berarti sebuah kencan bagi mereka?

Sakura membalas mengeratkan jemarinya tanpa bicara. Adalah sebuah senyuman tipis yang secara tidak ragu-ragu ia lemparkan kepada pria itu. Perempuan itu berpikir, ia tidak keberatan ada sebuah tangan hangat yang memegangnya sampai ia mati nanti sekali pun. Hal-hal seperti ini, tiba-tiba membuatnya menyadari bahwa situasi di antara mereka sudah tidak sama seperti pertama kali bertemu kemarin.

Warm and comfortable.

"Coba kita masuk ke toko itu dulu ya?"

Naruto segera membawanya ke sebuah toko pernak-pernik yang berada tidak jauh dari jangkauan mereka. Ada beberapa guci dan barang antik dari kayu jati di sini. Sakura tidak pernah berbelanja barang seperti ini selama hidupnya. Jadi, ia tidak tahu—mana yang punya nilai seni tinggi dan mana yang biasa-biasa saja. Seingatnya, ibunya punya koleksi seperti ini juga di dalam rumahnya.

"Hm, aku tidak bisa memilih yang mana yang bagus." Naruto tampak menimang yang mana yang akan ia beli di antara susunan benda-benda beling tersebut.

Sakura menoleh ke arah susunan benda kayu jati dengan berbagai bentuk di sudut lain toko ini. "Bagaimana kalau dari jati saja? Kayu jati tidak akan mudah pecah dan tahan lama."

"Kau benar." Mereka berdua melangkah ke susunan ukiran kayu jati tersebut.

Mata Sakura langsung tersita pada sebuah benda jati yang berbentuk mangkuk jaman kuno. Warnanya coklat tua elegan sekali. "Apa ini bisa diisi dengan sup?"

"Aku kira itu hanya sebuah pajangan."

"Tapi, ini cantik sekali!" Sakura tidak percaya ia akan terpesona pada sebuah mangkuk. Mangkuk itu cukup besar, kemungkinan bisa diisi sup untuk dimakan lima orang.

"Kalau begitu, ini aku berikan untukmu." Naruto segera mengambil alih mangkuk itu—menyerahkannya kepada pelayan.

"Eh, maksudku aku memang mengaguminya, kau bisa membelinya untuk dapur kita."

Sepertinya Sakura salah mengambil kata-kata, apakah mereka berdua adalah komunal? Apa yang salah? Memang mereka hidup bersama.

"Oh, iya. Hari ini adalah ulang tahunmu, kan?"

Sakura menggaruk pipinya canggung. Ulang tahun bukanlah hal yang patut dirayakan seperti anak-anak kecil. Apalagi mengingat umur yang semakin tua ini. Dua puluh delapan tahun, siapa yang bisa percaya? "Ya, tapi semakin bertambah umur semakin menyedihkan." Sakura berusaha agar nada bicaranya terkesan ceria. Tidak, ia tidak bersedih karena semakin tua.

"Memangnya berapa umurmu?" Naruto mencondongkan wajahnya lebih mendekat ke arah wajah Sakura, meneliti apakah ada kerutan di antara kulit-kulit wajahnya? Baik, tidak ada memang. Tidak jauh-jauh otaknya menebak antara dua tiga sampai dua lima.

"Dua delapan." Rasanya ia tidak berdaya untuk mengatakan itu. Hanya bisa memalingkan wajah, agar semburat tipis kemerahan tidak terlihat.

"Yang benar? Kau seperti baru berumur dua lima!"

Diam-diam Sakura menarik senyum, dan pilihan terakhir yang bisa ia lakukan hanya mengalihkan pembicaraan. "Bagaimana kalau kau mengambil meja hias jati ini saja untuk kado pernikahan Hinata?"

.

.

.

Ino kembali menandaskan satu cangkir pendek berisi cappucino hangat di meja kerjanya. Ini sudah cangkir ketiga yang ia telan. Dengan meminum cairan kental hangat itu, ia bisa mengatasi rasa kantuk ketika mengadakan operasi bedah nanti. Oh, bisa saja ia salah menyayat bagian daging orang karena matanya berat berkunang-kunang—dan itu bukanlah alasan yang tepat untuk melakukan kegagalan.

Kembali ia teringat pada pertemuannya dengan Gaara pagi hari tadi. Ino menopang dagu pada salah satu tangannya. Matanya menatap lurus seperti sedang memikirkan sesuatu.

"Sudah lama sekali kita tidak bertemu ya?"

"Aku tidak punya banyak waktu untuk berbincang, katakan saja ada dimana Sakura sekarang?"

Gaara menyesap cangkir kopinya terlebih dahulu dengan sangat tenang. Ekspresi kelewat tenangnya mungkinkah sedang menunjukkan bahwa keadaan Sakura sedang baik-baik saja. "Memangnya apa yang akan kau lakukan kalau kau mengetahui keberadaannya sekarang?"

Ino hanya diam saja, cangkir teh yang berada di hadapannya masih belum tersentuh. Ada banyak sekali yang bisa ia lakukan jika ia mengetahui dimana keberadaan temannya itu. Salah satunya adalah menyelamatkan profesinya, membawanya kembali bekerja ke rumah sakit. Menjadikannya teman persaingan untuk semua urusan. Saling mengejek dan saling memotivasi. Hanya dengan Sakura ia bisa melakukan semua hal-hal itu.

"Sebelum itu ada yang ingin aku tanyakan. Berapa lama waktu yang diberikan pihak rumah sakit umum Hokaido untuk merespon surat peringatan yang dikirimnya?"

"Dua minggu, Sakura hanya diberikan waktu dua minggu untuk meresponnya."

"Kalau begitu, masih ada tujuh hari lagi untuk menyelematkan Sakura."

"Cepat katakan dimana dia!" Ino hampir saja menggerbak meja atas aksi tidak sabarannya.

Gaara menyeringai. Ia puas melihat ekspresi Ino yang menggebu-gebu ingin segera tahu dimana Sakura sekarang. "Ini alamat yang bisa kau tuju." Gaara menggeser sebuah memo kecil berwarna coklat. Di sana tertulis sebuah alamat dari kota Konoha.

"Apa kedua orang tuanya sudah mengetahui ini?"

"Orangtuanya tidak setenang itu jika sudah mengetahuinya."

"Kenapa kau tidak menyuruh dia pulang saja kepada orang tuanya?"

"Aku tidak bisa melakukan itu, sepertinya kau bisa melakukannya."

.

.

.

"Apa kau pernah piknik pada malam hari seperti ini?"

"Tentu saja tidak pernah, Hokaido tidak dikeliling perbukitan seperti Konoha. Oh ya, tolong bukakan garasinya, aku harus mengeluarkan bekal untuk kita." Sakura keluar dari dalam mobil, segera berjalan ke bagian belakang mobil ini. Saat ia akan membuka garasi, angin yang berhembus dari atas sini begitu kencang dan juga terasa cukup dingin. Padahal musim dingin telah berakhir, namun ketika orang-orang berada di atas perbukitan tentu saja titik suhu di sini berbeda.

"Apa kau baik-baik saja Sakura?" entah sejak kapan Naruto kini sudah berada di sampingnya, mengambil tikar plastik membantu Sakura menyiapkan keperluan piknik mereka.

"Ya, aku baik-baik saja. Lalu, dimana kita akan duduk?"

"Di dekat lampu jalan saja."

Sakura kembali menutup pintu garasi dan mengikuti Naruto berjalan sampai ke perbatasan bukit. Di sana ada pagar-pagar besi yang panjang mengelilingi pinggiran bukit. Ada juga lampu-lampu jalan yang berdiri setiap sepuluh meter sekali sebagai penerangan di sekitar sini. Mereka membentang tikar di atas rerumputan yang cukup basah. Sakura bersyukur karena tidak salah untuk memutuskan membawa tikar plastik daripada kain bermotif monokrom. Err.. sebenarnya monokrom adalah motif favoritnya dalam segala hal.

Tangan Sakura cekatan mengeluarkan termos panas untuk membuat teh. Untung saja ia berinisiatif untuk membawa air panas kemari. Ia butuh menghangatkan badan.

"Apakah disini legal untuk kita berpiknik?"

Naruto duduk terlebih dahulu di sana sebelum menjawab, "kalau sore ada banyak keluarga yang makan di sini. Orang bilang nafsu makan akan lebih meningkat jika kita makan di alam terbuka."

"Oh, benarkah?" Sakura menyusun kotak-kotak bento dan memberikan sumpit kepada Naruto. "Mungkin karena udaranya dingin makanya nafsu makan orang jadi meningkat."

Naruto menggangguk-angguk setuju. "Ya, kurasa kau benar. Aku akan mencoba membawa ibuku nanti pergi makan keluar di tempat seperti ini." Naruto mulai memasukkan sepotong telur dadar ke dalam mulutnya.

"Memangnya ada apa dengan ibumu?" Sakura segera makan, ia takut jika lama di biarkan terbuka nasi di dalam mangkuk pasti akan lebih dingin lagi.

"Kemarin ibuku harus tinggal di rumah sakit. Kata ayah, ia terlalu banyak mengonsumsi obat diet. Sehingga nafsu makannya turun dan benar-benar hilang."

Sebuah keluhan yang sering ia dengar dulunya. Dan pertanyaan inilah yang akan ia ajukan; "Apa dia merasakan lapar?"

"Entahlah. Tapi, kudengar ia akan segera muntah jika memasukkan apapun ke dalam mulut."

"Ah, kasus yang sangat familier sekali dalam kehidupanku."

"Kemungkinan itu gejala Anoreksia," tebak Sakura. Mendadak ia malah teringat sesuatu. Sebuah kejadian yang benar-benar pernah terlewati di masa dahulu. Saat itu, ia bukanlah apa-apa. Ia hanya seorang gadis SMA yang tidak tahu tentang masalah penyakit atau mengatasinya.

"Anoreksia? Maksudmu gangguan psikologis yang terobsesi untuk kurus?"

"Kuharap ini baru gejalanya saja. Dulu sewaktu aku SMA sepupuku pernah mengalami ini. Ia begitu takut untuk gemuk dan selalu melakukan diet ketat. Sampai pada akhirnya dia mendapatkan gejala Anoreksia. Kami pikir dia demam biasa, beberapa gejala aneh yang bukan berkaitan dengan demam pun muncul, seperti rambut rontok dan selalu berkaca untuk meyakinkan dirinya kalau ia tetap kurus."

"Apa yang terjadi selanjutnya?"

"Tidak ada makanan yang bisa masuk ke dalam mulutnya, ia hanya bisa merasakan makanan dari selang infus dan beberapa suntikkan gizi dari dokter. Kami heran, kenapa badannya semakin hari semakin kurus saja, padahal asupan gizi setiap hari sudah diberikan. Sampai suatu hari aku melihatnya sendiri, ia memuntahkan kembali makanan yang di berikan oleh perawat." Sakura menurunkan mangkuk nasinya. Mendadak ia sudah kenyang mengingat itu. "Kau bisa bayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Dan kurasa ibumu masih terlihat cukup sehat di akhir aku bertemu dengannya kemarin."

Naruto beberapa saat terdiam. Cerita Sakura tidak harus ia takutkan kepada kondisi ibunya. Ia yakin ibunya akan baik-baik saja. "Besok aku akan berangkat ke Kirigakure. Apa kau bisa melihat kondisi ibuku secara langsung saat ini?"

"Apa boleh aku ikut kesana besok?"

"Sebenarnya ayahku sudah memesankan dua tiket untuk kita. Aku harap kau mau ikut denganku."

Beberapa saat Sakura tampak menimang tawaran dari Naruto. Pergi bersamanya untuk menemui kedua orang tuanya. Sakura tidak yakin dengan hal itu, tapi ia juga ingin melihat kondisi Kushina. Dan bila perlu ia akan membantu kesehatannya. "Baiklah, aku akan ikut."

"Benarkah? Kukira tadinya kau tidak mau!" Naruto langsung menggenggam tangan Sakura. matanya berbinar cerah di antara cahaya lampu jalan bukit ini.

"Aku hanya ingin melihat apakah benar ibumu terkena Anoreksia." Sakura tersenyum melihat respon Naruto yang sangat senang mendengarnya bersedia ikut kesana. "Ya, sudah. Selesaikanlah dulu makanmu."

"Baiklah," Naruto melepas genggaman tangannya dan beralih ke sumpit. Sementara Sakura kembali menyesap air tehnya yang sudah tidak terasa panas lagi. Suatu pikiran terlintas di kepala Naruto; tentang smartphone itu dan hubungan yang signifikan antara Sabuko no Gaara dan Sakura Haruno. Ia penasaran, apakah mereka berdua memiliki hubungan spesial?

Dengan gerak lambat Naruto mengangkat wajahnya memperhatikan ekspresi Sakura yang tengah sibuk dengan mangkuk nasi. "Oh, ya Sakura. Apa hubunganmu dengan Gaara?"

Sakura diam beberapa detik mendengar pertanyaan itu. Kata yang paling tajam dipendengarannya adalah 'hubungan', otaknya berusaha mencerna kata itu untuk menggali masa lalu yang pernah ia alami. "Oh, Gaara itu teman SMA-ku. Tapi, dulu kami jarang sekali saling tegur sapa karena dia itu pria yang dingin."

"Bagaimana kalian bisa terlihat dekat seperti itu?"

Sakura tidak menyangka, dari sudut pandang Naruto, apakah mereka benar-benar terlihat dekat? "Mungkin karena kami sama-sama sudah dewasa."

Entah kenapa mendengar kata 'kami', Naruto sedikit tidak suka. Hei, dia juga sudah dewasa!

"Yang paling aku ingat dahulu adalah saat lomba masak di carnaval sekolah. Gaara memberikanku sebuah penghargaan karena dia membelaku dari juri yang lain."

Naruto seperti tersedak ludahnya sendiri mendengar itu. "Bagaimana bisa?"


Setiap satu tahun sekali hari acara carnaval selalu dirayakan oleh tiap sekolah-sekolah di negara Jepang. Satu minggu penuh siswa-siswi disibukkan mendekorasi kelas bahkan satu sekolah agar suasana lingkungan benar-benar terasa hidup. Ada banyak jenis lomba yang diadakan pada hari itu. Salah satunya adalah lomba memasak yang diadakan oleh anggota OSIS SMA Hokaido 1.

"SAKURA SEMANGAT!"

Sakura mengangkat wajahnya dari teriakkan teman-teman yang sedang menonton pertandingannya. Sesaat ia menarik senyum tetapi untuk sporter yang di sisi lain tidak kalah berisik dari kelasnya juga.

"UCHIHA SARADA, berjuanglah, kita pasti menang."

Sakura menoleh ke salah satu keluarga Uchiha yang berada di kitchen sheet sebelahnya. Wanita itu, dalam dua tahun terakhir menjuarai perlombaan memasak. Sakura sangat mengagumi dia. Ah, semua keluarga Uchiha memang memiliki otak yang jenius dan juga berbakat.

Tiba saat penilaian. Para peserta di persilahkan untuk beristirahat dan keluar dari arena perlombaan, Sakura segera menghampiri salah satu teman sekelas mereka yang dari tadi melompat menyemangatinya.

"Sakura, aku yakin kau pasti menang!"

Sakura menggaruk pipinya malu mendengar pujian itu. "Belum tentu, senior yang lain sepertinya lebih baik, Konan."

"Aku sudah tidak sabar mendengar pengumumannya!"

"Mungkin nanti sore, ayo kita kembali ke kelas dulu. Stan kita juga harus berjalan!"

Tetapi saat Sakura dan Konan berjalan menuju kelasnya mereka malah mendengar sesuatu dari ruang OSIS, di dalam sana mereka seperti sedang memperdebatkan sesuatu. Mereka berdua berhenti di sana, mendengarkan samar-samar rapat mereka yang terbilang kacau karena suara-suara dengan nada berantakkan yang saling terlempar. Karena penasaran Sakura mengintip dari ujung jendela yang tirainya terbuka sedikit.

Ia melihat pria berkepala merah di sana sedang beradu argumen dengan beberapa anggota lain dan ada seorang guru juga di sana.

"Mereka sedang mendiskusikan apa, Sakura?" Konan berbisik dari punggung Sakura.

"Ada Ayame-sensei di sana, mungkin lomba memasak tadi."

"Oh, benar juga. Ayame-sensei kan panitia lomba masak."


"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Kau sudah mengetahui hasil pemenangnya dari menguping tadi?" Naruto menyela di tengah cerita masa lalu Sakura.

Sakura menggeleng sambil memainkan kedua sumpitnya sebagai jawaban bukan. "Kami anak kelas sepuluh tidak akan mungkin menang melawan senior."

"Mana bisa begitu, aku yakin masakkanmu enak sekali."

"Memangnya kau sudah tahu aku masak apa?"

Eh, benar juga. Naruto memang belum mengetahui itu. Kemungkinan Sakura membuat makanan Jepang yang paling enak seperti; hayashi raisu, omuraisu, hyamugi atau ramen?

"Kebetulan pas acara kemarin ada sponsor dari salah satu makanan instan yang mendukung acara kami. Jadi, jenis perlombaannya adalah kreasi membuat mie instan agar lebih cantik dan lebih menarik. Yang menang hasil karyanya akan dipajang di salah satu majalah."

"Lalu, masakkanmu dipajang di majalah?"

"Memangnya aku menang?" Sakura bertanya balik.


Tidak ada penyesalan sedikitpun ketika hari itu nama Sakura tidak disebutkan sebagai pemenang lomba memasak di tahun pertamanya sekolah. Tapi, tetap saja. Pengumuman itu berdampak kecewa pada sporter yang berada di belakang Sakura.

Sakura menoleh ke belakang. Ia berkata pada semua teman-teman sekelasnya yang berada di sana. "Maaf ya, sudah mengecewakan kalian. Aku memang tidak berbakat."

Karena rasa kecewa, kelas 10-A lebih baik pulang ke stan saja, daripada mendengar sorakkan kemenangan dari kelas lain. Sakura merasa tidak enak dengan teman-temannya walaupun sudah berusaha dengan maksimal.

Acara terakhir adalah menyaksikan bersama masakkan milik Sarada Uchiha yang tengah dipoto oleh salah satu kru dari pihak perusahaan makanan instan tersebut. Dalam bulan-bulan ini, masakan berbahan dasar mie instan tersebut akan tampil di salah satu lembar majalah. Sakura yakin, betapa bangganya diri ini jika ia bisa melampaui Sarada.

Setelah juara satu, dua, tiga itu turun dari panggung. Ayame-sensei berkata dari balik mic untuk mengumumkan sesuatu kembali. "Baiklah, itu tadi adalah ketiga pemenang dari lomba memasak. Dan masih ada satu pengumuman lagi dari lomba ini. Kita masih memiliki sebuah penghargaan untuk pemenang kategori lomba memasak mie intan."


"Jangan-jangan kau membuang bumbunya saat perlombaan berlangsung?" tebak Naruto dengan tepat yang direspon Sakura dengan anggukkan pembenaran kali ini. "Bagaimana mungkin?"

"Awalnya aku dimarahi karena melakukan itu. soalnya aku tidak suka dengan MSG yang terkandung di sana," jelas Sakura apa adanya. "Aku hampir saja didiskualifikasi karena melakukan itu."

"Tentu saja, itu berarti kau secara terang-terangan mengatakan kalau bumbu dari pihak perusahaannya tidak pantas dikonsumsi."

"Aku kan tidak tahu."

"Lalu, apa yang terjadi selanjutnya?"

"Selanjutnya aku mengetahui kalau ternyata Gaara mendukungku."

Terdengar dengusan dari Naruto. Sakura bisa menebak kemungkinan ia tidak suka atau cemburu? Tapi, Naruto tetap bersikeras kalau ia tidak boleh berlebihan—hanya mendengar masa lalu Sakura, ia menekan, melarang dirinya untuk mengakui cemburu.


"Gaara-kun, tunggu!"

Gaara menoleh menunggu wanita berambut merah muda itu tepat berdiri di depannya dan berhenti. Pernapasan Sakura sedikit berpacu karena ia habis berlari.

"Ada apa?"

Sakura langsung mengalungkan piagam yang ia dapat barusan ke leher Gaara. Ia tidak mungkin menerima itu kalau Gaara tidak membelanya di ruang OSIS beberapa saat yang lalu. "Berkat kau aku tidak terlalu mengecewakan harapan kelasku." Sakura berkata bersungguh-sungguh dengan mata berbinar cerah. "Terimakasih, Gaara."

Gaara melirik piagam berwarna perak terkalung di lehernya. "Aku hanya suka caramu memasak, mengganti bumbunya dan membuat dengan yang baru. Aku hanya mengatakan kepada mereka kau pantas menjadi juara itu saja. Karena masakkanmu murni sehat."

Sakura menggeleng. "Aku tidak menyangka ada orang yang sependapat denganku."

Tangan Gaara terulur untuk mengacak rambut merah muda itu. "Mungkin karena mereka masih menghargai perusahaan yang mendukung acara ini." Kemudian pria itu berbalik melangkah sambil menenteng tas sekolahnya.

"Sekali lagi terimakasih!" walau Gaara tidak berbalik, Sakura tetap membungkukkan badan hormat dengan semangat.


"Disitulah aku mulai terkesan dengan dia. Semua juri tidak suka dengan tindakkanku. Tetapi dia mendukungku!"

Naruto menyipitkan mata. Dari cerita Sakura barusan, tidak ada kesan yang bisa diambil sedikitpun untuk dibanggakan. Mungkin kalau posisi Gaara adalah dirinya baru akan terasa berkesan untuknya.

"Oh ya, tadi aku lihat sekilas pemandangan dari sini begitu bagus," Sakura berdiri masih dengan menenteng gelas teh dan berjalan ke depan pagar besi.

"Itu adalah penampakkan kota Konoha pada malam hari, Sakura." Tidak terasa, sembari mendengarkan cerita Sakura, ternyata mangkuknya sudah tidak bersisa lagi.

Mata Sakura terlihat takjub. Berapa banyak lampu-lampu yang hidup di bawah sana? Ratusan, bahkan ribuan yang terpancar dari gedung dan rumah-rumah, seperti sebuah hiasan saja. Indah sekali.

Angin bertiup kencang sekali lagi, menerbangkan rambut merah mudah ringan itu ke arah samping. Beberapa helai, Sakura singkirkan ke belakang, agar tidak menutupi jarak pandang matanya. Ini luar biasa. Suasana seperti ini tidak pernah ia dapatkan ketika berada di Hokaido.

Sakura merasakan tangan Naruto berada di kedua lengan atasnya. Sementara dagu pria itu tengah menyentuh kepalanya. Perasaan tenang dan nyaman ini rasanya ingin tetap ia pertahankan mengabaikan kuku-kuku jarinya yang sudah mulai membeku.

"Aku suka tempat ini." Sakura menggumam. Hari ulangtahunnya tidak seburuk seperti tahun-tahun yang lalu, "terimakasih sudah mengajakku kemari."

Sakura bisa merasakan Naruto kini tengah menarik senyum lebar dari belakangnya, menghirup dalam-dalam aroma wangi yang berasal dari rambut Sakura untuk memenuhi rongga paru-parunya. Leher pria itu maju melewati bahu Sakura, dengan cepat satu kecupan di pipi telah ia daratkan. "Sama-sama, Sakura-chan."

.

.

.

Tsudzuku

.

.

.

Terimaksih buat yang sudah membaca dan mereview di chapter kemarin. I love you to the moon and back back back ba—udah ah, gak stop-stop jadinya :p

Levio Kenta Uzumaki, Rizka scorpiogirl, Ae Hatake, boy (Hallo, makasih sudah RnR apalagi dibilang suka sama ceritanya wkakka mungkin bentar lagi mereka akan saling menyadari perasaan masing-masing), Hikikaze Naoe, namikazehyunli, lora bozz 29, Banyu695, asdfc(Bwakakka, eh aku ngakak loh baca Gaara adalah Rakun XD), ElleoraNS, wahyu khalil (Chapter kemarin cukup panjang kok, tiga ribu kataan makasih sudah RnR), ara dipa, Arum Junnie, Arata Aurora, Sai Akuto, Guest (makasih ya udah merespon, dibilang jadi hidup ceritanya jadi seneng nih, eh lebai), SR not AUTHOR, maple, JUstice drAgon, Zii mawar Choklat, Yuuki Namikaze, adityapratama081131, alfa-kun (hallo, new readers, terimakasih sudah membaca. Soal suami Hinata kita lihat aja ya), Guest (Oh kebetulan sekali, chap ini full NS and next chapter too. Dan terimakasih sudah mereview), Puterateluan, R van Helsing, KEN 1411.

Sampai ketemu di chapter selanjutnya. Oh, ada sesuatu yang ingin kalian sampaikan? Silahkan tulis di kotak review yaaa.