Kuroko Kyoudai no Basuke
Chapter 10 is up!
Sumimasen, minna~.·´¯`(▂)´¯`·.. Saya udah lama gak update. dua bulan ini saya kewalahan dengan acara pindah rumah, ospek dan juga tugas-tugas dari dosen yang saya cintai dan saya hormati (kok malah curhat?). Saya jadi gak sempat nerusin FF tercintaku ini huhu T_T. Rencananya besok saya akan lanjutin lagi nulisnya, tapi besok ada Ospek jurusan jadi gak bisa, trus malemnya ada acara shalawat wajib bagi maba. jadi baru minggu bisa nulis lagi. Hontou ni Sumimasendeshita.ヾ((●>□<)ノ*:..。o○SOЯЯЧ○o。..:*ヽ(>□<●))ノシ.
ato nama account-ku berubah! ini petunjuk yang sangat jelas (sehingga tak dapat dibilang petunjuk) tentang request dari Kishiro Haisane-san, setelah aku pikir berulang-ulang.
Caution : This fanfic just a work of fiction. If there are something that happen to be the same, I deeply apologize.
Tsugawa yang mendengar perkataan Tetsuya hanya dapat tertawa geli. "Kau mau membayar hutang Kagami?" Setelah mengatakan hal itu Tsugawa berbalik untuk berbicara dengan teman satu timnya. "Omuro-san, apa aku dapat mengganti mark-ku?" katanya.
"Hah? Kenapa?" Tanya orang yang dipanggil dengan nama Omuro.
"Yah... Kelihatannya aku mendapat perantara yang mau membayarku." Kata Tsugawa dengan memandang Tetsuya.
Pertandingan yang mempunyai sisa waktu lima menit itupun dimulai kembali dengan kembalinya Tetsuya di lapangan. Kagami yang tetap berada di bench memandangi game yang terjadi di depan matanya dengan serius. Ryu yang ada disampingnya hanya berharap pertandingan itu segera selesai dengan kemenangan Seirin.
Nampaknya kondisi tubuh Ryu makin memburuk karena matanya yang masih dapat digunakannya untuk melihat pertandingan tadi, sekarang sudah tidak fokus. Nafasnya yang ia buat senormal mungkin sudah mulai tak dapat dia kendalikan, nafasnya mulai terdengar tersengal-sengal. Sakit di kepalanya mulai tak tertahankan dengan hal yang terjadi sebelumnya. Telinganya juga tak dapat dipakai mendengarkan dengan baik. Namun Ryu tetap saja ingin duduk di sana dan melihat pertandingan tersebut dan mencoba bersikap senormal mungkin agar tak ada yang tahu jika dia sedang sakit.
"Aku terkejut ketika mereka mengirimu masuk dan bukan Kagami, tapi akhirnya mereka memasukkan kelas satu juga... Kelihatannya senpai dari Seirin tidak terlalu dapat dapat diandalkan." Perkataan Tsugawa membuat Tetsuya menolehkan kepalanya. "Bukankah mereka mengatakan kalau mereka mengeluarkan kalian berdua dari lapangan karena itu kehendak mereka. Tapi sekarang kau disini." Lanjut Tsugawa.
Beberapa detik Tetsuya terdiam sebelum menjawab perkataan dari Tsugawa. "Aku yang meminta untuk dimasukkan. Lagipula, jika kamu telah melihat pertandingan, kamu tak akan berpikir secara demikian. Jika senpai mempunyai kehendak, kohai juga mempunyai rasa hormat. Untuk membantu senpaitachi yang aku hormati, aku akan mengalahkanmu."
Untuk beberapa detik saja Tsugawa terdiam mencerna perkataan Tetsuya dengan tetap memandangi Tetsuya. Namun dalam beberapa detik itu juga, Tetsuya menghilang dari hadapan Tsugawa yang membuatnya kaget bukan kepalang.
Tetsuya yang telah lepas dari penjagaan langsung berlari menuju daerah Seiho dan mendapatkan pass dari Izuki dan kemudian ia berikan pada Hyuga yang dengan mudahnya lepas dari penjagaan pemain Seiho. Dengan senyum lebar Hyuga melompat setelah mendapatkan bola dari Tetsuya dan memasukkannya pada ring lawan.
Seiho yang bingung atas apa yang terjadi melanjutkan pertandingan dengan berbagai pertanyaan seperti 'Bagaimana bisa mereka terlepas dari penjagaan?'. Omura yang melakukan pass pada pemain satu timnya, dicuri bolanya oleh Hyuga yang lalu mengoper ke Mitobe melalui Tetsuya. Dan dua angka tercetak kembali untuk Seirin.
"Apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi?" Teriak Tsugawa yang terlihat kesal dengan hal yang baru saja mereka alami.
"Mereka dapat membaca pergerakan kita dengan sempurna!" Teriak balik Omuro.
Ryu yang melihat dengan sedikit kabur dapat memperkirakan apa yang sedang terjadi di dalam lapangan. "Riko-senpai, memangnya berapa lama kalian melihat rekaman pertandingan Seiho kemarin?" Tanya Ryu dengan senyuman kecil yang ia paksakan.
"Eh? Apa yang kau katakan? Hanya sebentar kok!" Jawab Riko dengan senyuman lebar.
"Usotsuki..." Kata Ryu yang hanya dibalas senyuman lebar Riko.
"Berkat kalian, DVD player kami sampai rusak." Dari arah lapangan terlihat Hyuga berkata pada Iwamura.
"Na, apa maksudnya?" Tanya Kagami pada Ryu setelah mendengar percakapannya dengan Riko.
"Beladiri kuno itu sama seperti namanya berasal dari zaman dulu. Cara kerja dari hal itu sangat berbeda dengan olahraga modern. Menggunakan beladiri kuno ke dalam olahraga basket adalah kekuatan dari Seiho, tapi... Jika dikatakan itu keahlian mereka, maka mereka juga akan punya kebiasaan. Misalnya, biasanya orang akan melangkah ke arah yang mereka tuju saat mereka mulai bergerak. Tapi pemain Seiho mengarahkan jempol kakinya ke arah yang mereka tuju sebelum mereka bergerak. Dengan kata lain, jika kita mengenali kebiasaan mereka, kita dapat mempredikisi gerakan yang akan mereka lakukan." Jelas Ryu panjang lebar pada Kagami yang hanya membuat Kagami berkedip dan Riko menoleh ke arahnya karena Riko memikirkan hal yang sama persis dengan yang diucapkan Ryu.
Kagami yang menoleh ke arah Ryu menyadari sesuatu yang aneh pada Ryu. Dengan tanpa sadar Kagami mengarahkan tangannya ke atas dahi Ryu, dan sontak saja Ryu menepis tangan itu setelah kulit tangan Kagami bersentuhan dengan kulit dahinya. Kagami yang sadar jika Ryu tengah sakit melebar matanya tak percaya.
"Tubuhmu panas!" Kata Kagami dengan suara yang cukup keras namun tidak cukup keras untuk didengar para pemain yang ada di lapangan. Mendengarnya Riko menoleh pada Ryu dan meletakkan tangannya di atas dahi Ryu yang lagi-lagi ditepis Ryu.
"Kau harus segera pergi ke unit kesehatan." Kata Riko yang khawatir dan juga agak menyesal karena tidak menyadari jika Ryu sakit.
"Tidak. Aku tak akan bergerak selangkahpun sebelum pertandingan ini selesai. Dan juga Kagami-senpai tolong jangan berteriak dengan suara yang keras." Jawaban keras kepala Ryu tentu tidak diterima oleh semua anggota tim basket Seirin yang berada di bench.
"Ryu, jangan keras kepala dan segeralah pergi ke unit kesehatan!" Kata Riko dengan tegas.
"Tidak mau!" Ryu tetap kukuh pada pendiriannya kalau ia ingin tetap disini. Kagami yang mendengar jawaban Ryu merasa kesal sendiri dan dia melayang kan tangannya pada kepala Ryu.
Seperti telah mengerti apa yang akan terjadi, Ryu menutup matanya dengan sangat rapat menunggu datangnya rasa sakit dari kepalanya. Namun hal yang ditunggu oleh Ryu tidak kunjung datang, maka dia membuka sebelah matanya dengan takut-takut. Setelah membuka kedua matanya, Ryu hanya melihat Kagami yang memandangnya lekat-lekat. Tangan Kagami berjarak beberapa cm dari kepala Ryu. Setelah beberapa saat Kagami memandangi mata Ryu, dia menghela nafasnya dan menurunkan tangannya ke kepala Ryu dengan lembut.
"Kau itu hanya asisten pelatih, jangan lakukan hal yang tak dapat kau lakukan. Jika memang sakit, katakan saja. Jika tidak kau hanya akan menambah beban kami. Jika kau masih kuat, kau boleh disini tapi jangan sekali-kali menangis karena kesakitan. Namun jika kau sudah tak dapat bertahan, cepatlah pergi dari sini." Kagami berkata hal tersebut sembari mengelus lembut kepala Ryu dengan wajah yang sedikit merah.
Ryu yang mendengar perkataan Kagami terdiam untuk beberapa saat untuk mencerna perkataan Kagami yang sayup-sayup dapat didengarnya. Senyuman kecil terukir dibibir Ryu setelah terdiam beberapa saat dan membuat wajah merah Kagami bertambah merah.
"Cho-chotto, apa yang kau katakan Kagami-kun?" Riko yang berada di samping mereka mengatakan hal tersebut karena Kagami mengatakan hal yang bertolak belakang dengan keinginannya.
"Jika dia menginginkannya biarkan saja." Jawab Kagami.
"Walaupun begitu, bagaimana jika kondisinya malah makin memburuk?" Tanya Riko.
"Pelatih, apa kau tidak melihat matanya? Apa kau tega melakukannya saat matanya seserius itu melihat pertandingan? Lagipula jika kau mengirimnya ke unit kesehatan, salah satu dari pemain yang ada di lapangan malah akan khawatir, kan?" Kagami berkata dengan mengarahkan pandangannya pada Tetsuya.
Riko yang mendengar perkataan Kagami berpikir keras akan apa yang harus dia putuskan. Setelah beberapa saat, Riko menghela nafas panjang dan berkata dengan terpaksa. "Baiklah, Ryu boleh tetap disini. Tapi jika kondisimu mulai memburuk, kau harus segera pergi ke Unit kesehatan agar tidak membuat kakakmu dan anggota tim yang lain khawatir. Mengerti?"
Ryu yang mendengar keputusan berat dari Riko menolehkan kepalanya pada Riko. "Mengerti. Dan juga, nii-san tak akan khawatir." Jawaban Ryu mendapat balasan tatapan mata dari Riko dan Kagami yang seolah mengatakan 'Mana mungkin!' padanya itu.
Ryu yang merasakan pesan mereka memberi senyum kecil. "Kan nii-san masih harus membayar hutang Kagami-senpai. Dia mana mungkin mempunyai waktu luang untuk mengkhawatirkan aku. Jika dia sampai kalah, akan ada hukuman berat untuknya." Pada kalimat terakhir, senyum manis Ryu berubah menjadi senyuman sadis sekilas dan membuat para pemain Seirin didekatnya bergidik ngeri.
Kembali melihat pertandingan yang terjadi di lapangan, para pemain Seirin mulai dapat membaca pergerakan Seiho setelah lama sekali menghadapi mereka. Terlihat sekali jika mereka kesusahan menghadapi mereka pada quarter sebelumnya karena belum dapat terbiasa dengan gerakan Seiho. Namun pada dua-perempat yang terakhir, mereka mulai dapat mengimbangi permainan dari Seiho.
"Kuse ni kusen (Kebiasaan sulit untuk dikalahkan)." Dalam kondisi seperti itu, hanya hal itu yang dikatakan oleh Izuki.
"Begitulah." Balas Tsuchida dengan wajah yang terlihat lelah.
Pertandingan yang berlangsung sangat memperlihatkan keinginan Seirin untuk dapat menang karena mereka berusaha dengan sekuat tenaga untuk dapat mengalahkan Seiho.
"Jadi ini keinginan para senpai..." Kata Kagami yang melihat mereka dengan pandangan serius. Lalu wajahnya terlihat sedikit terkejut dan membuat Ryu ingin tahu. Ryu mencoba melihat apa yang tengah diperhatikan Kagami dan menemukan kakaknya yang tengah Kagami perhatikan.
Setelah beberapa saat, hanya satu kata yang terlontar dari mulut Kagami. "Hebat..."
Riko yang mendengar perkataan Kagami menoleh padanya. "Kau baru menyadarinya? Dia selalu seperti ini."
Ryu yang juga mendengar perkataan Kagami tersenyum dan berkata. "Onii-san keren, kan?"
Perkataan Ryu membuat Kagami berkata secara terbata-bata. "A-apanya? Padahal dia lemah..." mendengar perkataan dari Kagami, Ryu menoleh dengan cepat dan memandangnya dengan mata yang mengatakan 'jika kau mengatakan hal yang tak perlu lagi... kubunuh kau!' dan membuat Kagami diam seketika.
Bola yang dicetak oleh Tsuchida membalikkan keadaan Seirin dan Seiho dengan score 70-69 untuk keunggulan Seirin satu poin dan dengan waktu sisa setengah menit.
"Kita tak boleh membiarkan mereka mencetak lagi!" Teriak Hyuga pada pemain Seirin.
Namun semangat Seiho masih belum luntur dengan ditandainya Iwamura yang melaju kencang dan mencetak dua poin melewati dua orang.
"Jangan meremehkan seorang raja! Kalian butuh 10 tahun lagi untuk dapat mengalahkan kami!" Teriak Iwamura.
Pertahanan Seiho makin ketat saja pada detik-detik terakhir. Mereka menggunakan formasi all court man-to-man. Izuki yang tengah memegang bola kesusahan untuk dapat melewati Kasuga. Dan di saat itu, Mitobe berdiri di belakang Kasuga dan melakukan screen saat Izuki melewati Kasuga dan memberikan bola ke arah Tetsuya. Tetsuya yang melakukan ancang-ancang akan memberikan pass pada Tsuchida diblock oleh Tsugawa tepat di depannya membuat semua pemain Seirin terkejut.
"Kuroko!" Kagami yang melihat Tetsuya tak bergerak selama beberapa saat berteriak dan menyadarkan Tetsuya yang ada di lapangan.
Dengan cepat Tetsuya mengerakkan tangannya melewati bola dan menggerakkan tangan yang satunya lagi setelah menemukan target passnya. Hyuga yang mendapatkan bola dari Tetsuya langsung saja memposisikan tubuhnya dan melompat melakukan three point shoot. Bola melambung dan masuk tepat dalam ring, bersamaan dengan seusainya bola masuk, suara buzzer terdengar.
Setelah terdiam beberapa saat, semua anggota tim basket Seirin berteriak senang atas kemenangannya dari Seiho. Ryu yang lega dengan hasil yang keluar dari kerja keras pemain Seirin, menghela nafas panjang dan merilekskan sedikit tubuhnya. Kagami dan juga Riko terlihat ingin menangis saking bahagianya.
Namun Seiho yang menerima kekalahan terlihat sangat kecewa, terlebih lagi Tsugawa yang terlihat sekali berambisi besar untuk dapat mengalahkan Seirin dengan perbedaan angka yang besar.
"Kenapa bisa? Seirin baru saja dibentuk tahun lalu! Kita latihan lebih banyak daripada mereka! Tahun lalu mereka sama sekali tak dapat menandingi kita! Dilihat dari manapun, kamilah yang lebih kuat!" Teriakkan Tsugawa yang berada dalam rasa kekecewaannya itu terdengar ke seluruh stadium.
"Cukup, Tsugawa." Iwamura meletakkan tangannya dipundak kohainya tersebut untuk menghentikan keluhannya tersebut.
"Tapi..." Tsugawa yang tercekat tidak meneruskan perkataannya.
"Bukan 'yang kuat yang menang'. Tapi 'yang menanglah yang kuat'. Mereka lebih kuat daripada kita. Itu saja." Iwamura yang merasa cukup mengatakan hal tersebut, menurunkan tangannya dari bahu Tsugawa yang masih terlihat merasa kecewa.
"Beritahu aku namamu!" Teriak Tsugawa pada Tetsuya yang membuat Tetsuya agak terkejut.
"Namamu!" Ulang Tsugawa untuk memperjelas keinginannya.
"Kuroko Tetsuya desu." Jawab Tetsuya.
"Aku akan mengingatnya. Aku tak akan melupakannya." Wajah serius Tsugawa terpapar dengan jelas.
"Terimakasih." Hanya itu yang dapat Tetsuya katakan untuk membalas perkataan dari Tsugawa.
Seperti biasa, untuk menandai berakhirnya pertandingan basket, para pemain berbaris dan saling mengucapkan rasa terimakasih mereka atas pertandingan yang baru mereka lakukan. Riko yang melihat dari pinggir lapangan terlihat sangat senang dengan matanya yang berkaca-kaca pertanda bahwa dia akhirnya menangis.
"Selamat, kalian semua." Kata Riko yang membuat tangan besar mendarat ke atas kepalanya.
"Bertindaklah tegar, pelatih. Ini masih belum waktunya untuk menangis. Kau boleh senang setelah kita menang dalam pertandingan kejuaaraan selanjutnya." Kata Hyuga yang merupakan pemilik tangan tersebut.
Karena pertandingan telah usai, para pemain kembali pada bench masing-masing untuk bersiap kembali pada tempat loker mereka. Ditengah persiapan mereka, terdengar suara peluit dari arah lapangan sebelah yang menandakan pertandingan yang dilakukan disana telah selesai.
"Kelihatannya mereka juga sudah selesai." Kata Kagami seraya melihat lapangan sebelah.
"Kau benar." Balas Tetsuya menanggapi perkataan Kagami.
Pertandingan yang dilaksanakan di lapangan sebelah merupakan pertandingan antara SMA Shuutoku melawan SMA Ginbo yang berakhir dengan 113-38 dengan kemenangan telak Shuutoku. Shuutoku dapat mendapatkan score sebanyak itu bahkan dengan Midorima dan Takao di bench menunjukkan bahwa mereka memang sekolah dengan tim basket yang kuat.
Dari pojok matanya, Ryu dapat melihat bahwa kakaknya dan Kagami tengah melihat lawan mereka selanjutnya yaitu Shuutoku. Namun Ryu tahu dengan jelas bahwa yang mereka lihat adalah Midorima yang merupakan ace dari SMA Shuutoku tersebut.
Setelah beberapa saat, semua pemain Seirin telah siap untuk kembali ke loker mereka. Tetsuya berjalan menghampiri adiknya yang masih saja duduk di bangku pemain itu.
"Apa kau dapat berjalan?" Tanya Tetsuya dengan lembut seraya mengulurkan tangannya kepada Ryu.
"Aku tak apa-apa!" Sifat dasar Ryu yang keras kepala itu muncul lagi di saat seperti ini. Tanpa menerima uluran tangan dari kakaknya, Ryu berdiri dari tempatnya duduk dengan perlahan. "Lihat! Aku tak apa-apa 'kan!" Ryu mencoba mengerakkan kakinya untuk berjalan, namun belum sampai dua langkah tubuhnya telah oleng. Dengan sigap Tetsuya menangkap adiknya yang mungkin saja akan jatuh jika tidak segera diselamatkan.
"Haaah... kau sama sekali tak apa-apa. Kemari, aku akan membopongmu." Tetsuya mengalungkan tangan Ryu pada lehernya dan membantu adiknya itu berjalan. Wajah Ryu memerah seketika, entah itu karena dia sedang malu atau karena demamnya yang makin buruk di setiap detiknya.
Para senpai mereka yang berjalan terlebih dahulu di depan mereka sontak menolehkan kepala mereka ke belakang karena Tetsuya dan Ryu lama sekali berjalannya.
"Ryu-chan kenapa?" Tanya Hyuga dengan ada nada cemas.
"Ah, aku sampai lupa. Ryu-chan kelihatannya terkena demam." Riko yang ada di samping Hyuga mengatakan hal tersebut dan menyadarkan beberapa orang yang juga tahu akan kondisi tubuh Ryu.
"Oi, oi. Apa kau tak apa-apa?" Tanya Izuki dengan mendekati Ryu dan meletakkan tangannya di dahi Ryu. Entah karena reflex atau kesal, Ryu menepis tangan Izuki sedetik setelah tangan tersebut menyentuh dahinya.
"Aku tak apa-apa!" Kata Ryu dengan ketus seraya melangkahkan kakinya kedepan untuk berjalan dengan bantuan kakaknya. Namun belum sampai 10 langkah mereka berdua oleng seperti akan jatuh. Beruntung sekali karena reflex Kagami yang cepat mereka berdua tidak jadi terjatuh.
"Kau sama sekali tak apa-apa!" Teriak Kagami pada Ryu yang dia pegang kerah baju belakangnya. Ryu yang mendengar teriakkan Kagami mencoba tak menggubrisnya dan berjalan ke depan.
"Ck, tak ada pilihan lain!" Kagami yang sudah tak mau tahu akan tingkah kekanak-kanakan Ryu mengangkat tubuh yang lebih kecil darinya itu dan menggendongnya selayaknya karung beras.
"Cho-, apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!" Ryu yang tak terima akan perlakuan kasar Kagami segera memberontak dalam gendongan(?) Kagami.
"Oi, diamlah sedikit! Jika kau tak bisa diam, nanti kau malah akan kujatuhkan!" Kagami berusaha sekuat tenaga untuk menjaga Ryu agar tetap ditempatnya.
"Biarkan saja! Perempuan mana yang mau digendong seperti karung beras begini!" Teriak Ryu yang langsung saja disesalinya karena kepalanya tambah sakit setelahnya.
"Bagaimana kalau begini?" Dengan sigap, Kagami merubah posisi Ryu sehingga sekarang dia digendong bridal-style oleh Kagami. Beberapa saat Ryu terdiam dalam posisi itu. Namun dalam seketika wajah Ryu bertambah merah karena malu.
"Senpai, kau menyentuh apa?! Aku tak mau kau gendong seperti ini! Lagipula, aku sedang memakai rok, bagaimana kalau celana dalamku sampai kelihatan!?" Perkataan Ryu sontak membuat wajah Kagami memerah dan seluruh anggota tim basket Seirin minus Tetsuya menahan tawa mereka.
"A-aku tak menyentuh apapun!" Dengan muka yang makin merah tiap detiknya, Kagami berteriak untuk menutupi rasa malunya. Lalu setelah mempertimbangkan matang-matang, Kagami menurunkan Ryu dan berjongkok di depannya. Ryu yang tak dapat menangkap maksud dari gerak Kagami hanya berdiam diri ditempatnya.
"Apa yang kau lakukan? Cepat naik!" Kagami yang tidak sabar dengan otak lelet Ryu berkata demikian. Ryu yang akhirnya mengerti naik ke punggung Kagami dengan perlahan. Setelah dikiranya pas, Kagami menaikkan tubuhnya.
"Senpai, jangan sentuh hal yang tak perlu ya..." Lirih Ryu yang membuat wajah Kagami yang tadinya telah normal berubah merah kembali.
"Tak akan! Kau diam saja dan jangan banyak bergerak sampai kita di unit kesehatan!" Kata Kagami tegas seraya berjalan maju.
"Senpai, kau tahu arah menuju unit kesehatan?" Perkataan Ryu membuat Kagami berhenti ditempatnya.
"Dimana?" Pertanyaan polos (read:bodoh) Kagami membuat semua anggota Seirin sweatdrop.
"Ayo, aku antar." Kata Tetsuya seraya berjalan mendahului Kagami untuk menunjukkan jalan menuju unit kesehatan.
Di Unit Kesehatan, Kagami menurunkan Ryu ke atas ranjang secara perlahan lalu menyibukkan dirinya mencari barang-barang yang kiranya dapat membantu menurunkan demam Ryu. Ryu yang melihat tingkah Kagami itu melihatnya dengan heran. Memang dokter sedang tidak ada namun Kagami tak perlu repot-repot mengurusi dirinya bukan? Lagipula bukankah Kagami itu tidak menyukai keberadaan Ryu di Seirin?
Karena terlalu asik berpikir, Ryu tidak sadar akan posisinya yang kini berbaring dan juga kompres yang ada di atas kepalanya. Dari posisinya itu, Ryu dapat melihat dengan jelas raut muka Kagami yang dengan sigap merawatnya.
"Ada apa?" Kagami mengeluarkan suaranya setelah sekian lama Ryu memandangi dirinya tanpa berkedip sekalipun.
"E-eto... aku ingin jus." Kata Ryu reflex setelah tersadar dari lamunannya.
"Jus apa?" Tanya Kagami.
"O-orang sedang demam tentu saja harus minum jus jeruk bukan?" Tanya balik Ryu.
"Baiklah. Tunggu disini dan jangan banyak bergerak." Perintah Kagami seraya keluar dari ruangan itu untuk membeli jus.
Dalam ruangan tersebut hanya tersisa Kuroko bersaudara setelah Kagami keluar.
"Kagami-senpai kenapa?" Pertanyaan yang telah lama ada di otak Ryu akhirnya keluar juga dan memecahkan suasana hening diantara mereka.
"Bukankah dia hanya mengkhawatirkanmu?" Tanya Tetsuya balik.
"Kagami-senpai? Bukankah dia membenciku?" Pertanyaan halus Ryu yang ia utarakan hanya mendapat balasan senyuman kecil dari kakaknya.
Dalam waktu itu, Kagami kembali dengan membawa jus untuk Ryu.
"Nih!" Kata Kagami sambil menyodorkan kotak jus jeruk itu pada Ryu.
"Cepatlah kembali ke ruang loker dan beristirahatlah untuk memulihkan tenaga sebelum pertandingan kalian melawan Shuutoku!" Kata Ryu setelah menerima jus jeruk dari Kagami. Dia merasa tidak enak sendiri pada dua orang yang ada dihadapannya tersebut.
"Kau ini! Aku sudah susah-susah merawatmu, kau malah mengusirku!" Kagami yang tak dapat menangkap maksud tersembunyi dari Ryu membentaknya.
"Shh.. diamlah! Ini ruang kesehatan! Dan juga..." Ryu tak meneruskan perkataannya.
"Apa?" Tanya Kagami yang masih saja agak kesal.
"A-arigatou, senpai." Lirih Ryu yang membuat Kagami mematung seketika di tempatnya.
"Huh? A- iya. Aku pergi dulu." Kata Kagami seraya pergi dari tempat tersebut dan disusul Tetsuya dengan senyuman kecil di bibirnya.
Ryu yang ditinggal sendirian hanya dapat menggelengkan kepalanya karena tingkah aneh senpainya itu. Walaupun begitu, sikap kaget Ryu akan perubahan Kagami dapat dimengerti karena dalam waktu kurang lebih satu bulan sejak Ryu ada di Seirin, sifat Kagami benar-benar mencerminkan kalau dia membenci Ryu.
Flashback
Hari pertama.
Setelah pertemuan yang membicarakan lawan mereka yaitu Papa Mbaye Shiki dari Senegal, latihan kembali dimulai dengan Ryu dan Riko yang melihat perkembangan mereka.
Selama latihan, Ryu dapat merasakan pandangan tajam seseorang yang ditujukan pada dirinya. Awalnya dia tak menghiraukannya, namun setelah sekian lama Ryu tak tahan juga. Dia mengangkat kepalanya dari papan tulisan yang dia pegang dan menatap langsung orang yang sejak tadi memandangnya.
"Apa senpai ada perlu denganku?" Tanya Ryu dengan nada bosan.
"Tidak, tidak ada." Kata orang tersebut dengan tetap menatap Ryu.
"Jika senpai tak perlu apa-apa kenapa senpai memandangiku sejak tadi?" Tanya Ryu lagi.
"Tidak. Itu.. kau..." Orang tersebut bicara dengan terpotong-potong.
"Kenapa? Bicaralah yang jelas, Kagami-senpai." Ryu yang telah habis kesabarannya mengatakan hal tersebut.
"Kau kan ada di SMP yang sama dengan Kiseki no Sedai, mereka orang seperti apa?" Akhirnya pertanyaan Kagami muncul juga.
"Kisedai? Mereka sekumpulan orang aneh." Jawaban singkat Ryu tentu saja tak dapat membuat Kagami puas.
"Maksudku kau kan sering mengumpulkan data, kau punya data mereka kan?" Tanya Kagami.
"Walaupun aku punya data mereka aku tak akan memberitahukannya padamu." Jawaban Ryu ini sontak membuat Kagami marah padanya.
"Hah? Apa maksudmu tak dapat memberitahukannya padaku?! Apa kau memang hanya spy yang mengambil data kami dan menyerahkannya pada lawan kami?! Pada Kiseki no Sedai." Teriakan Kagami sontak membuat para anggota Seirin menolehkan kepalanya pada mereka berdua.
"Bukankah kubilang aku itu bukan spy. Lagipula informasi tentang Kagami-senpai itu tak ada harganya untuk para Kisedai." Perkataan Ryu malah menambahkan api kemarahan dari Kagami.
"Teme... Apa maksudmu?!" Teriak Kagami sembari menarik kerah baju seragam yang Ryu kenakan.
"Maksudku menggunakan data terlebih dahulu sebelum kau mau menghadapi mereka sama saja dengan kau mencari jalan pintas tanpa mau berusaha dengan latihan keras. Jika kau sudah mengetahui data mereka, maka kau akan malas latihan dan hanya akan memikirkan cara terbaik untuk mengalahkan mereka." Kata Ryu panjang lebar.
Kagami yang mendengarkan penjelasan Ryu itu termenung ditempatnya, begitu juga para anggota tim basket Seirin lainnya.
"Kau..." Kagami yang sekian lama terdiam tak dapat mengutarakan apapun.
"Ah! Air minumnya sudah habis, aku harus mengambilnya lagi. Nih, handuk! Lap keringatmu dengan benar!" Kata Ryu yang menyerahkan handuk ke Kagami dan segera berlari keluar dari gym. Kagami yang ditinggalkan begitu saja hanya dapat mematung ditempatnya.
Hari ketujuh
Latihan di Seirin berlangsung seperti biasanya, yaitu dengan latihan fisik yang keras dan juga latihan individu Tetsuya dan Kagami.
Saat latihan tanding antara kelas satu dan dua, Kagami terus saja memberikan death glare ke arah Ryu yang tengah duduk di bench pemain. Setelah sekian lama, Kagami yang sedang membawa bola saat itu melemparkannya ke arah Ryu dengan sangat keras. Ryu yang dapat melihat bola datang dari sudut matanya dengan santainya mengangkat tangan kanannya. Tangan yang dia angkat dapat dengan mudahnya menangkap bola keras dari Kagami dan membuat semua pemain terkaget-kaget.
"Kagami-senpai, yang benar kalau mengoper. Kau tidak punya mata? Bolamu keluar tau. Nih!" Ryu melemparkan bola yang ada ditangannya ke arah Kagami dengan keras, sangat keras untuk ukuran anak bertubuh kecil seperti Ryu. Kagami yang tidak siap menangkapnya harus menahan derita tatkala bola yang dilempar Ryu menghantam perutnya dengan keras sehingga membuatnya terjatuh kesakitan.
"Senpai, reflexmu kurang bagus. Sebaiknya kau perbaiki itu." Seakan tak memperhatikan Kagami yang kesakitan Ryu mengucapkan hal itu dan pergi begitu saja membuat Kagami mengumpat padanya.
Saat latihan selesai, Kagami yang masih saja kesakitan tinggal di ruang klub untuk istirahat sebentar.
"Dasar sial! Sakit sekali perutku. Awas saja nanti, akan kubalas dia." Gumam Kagami.
Pada saat itu, pintu ruang klub terbuka dan masuklah orang yang baru saja Kagami bicarakan.
"Mau apa kau?" Tanya Kagami dengan kesal.
"Ini." Kata Ryu seraya menyerahkan baskom berisi air dan handuk kecil.
"Untuk apa?" Balas Kagami.
"Untuk mengompres perutmu. Jika tidak segera di kompres, mungkin saja akan lebam."
"Ha? Aku tak butuh itu, cepat pulang sana!" Balas Kagami ketus.
Ryu yang tidak sabar berjalan mendekat ke arah Kagami yang tengah duduk di bangku dan berjongkok seraya mengangkat kaos yang dikenakan oleh Kagami. Hal tersebut sontak membuat Kagami kaget dan memerah mukanya.
"A-Apa yang kau lakukan?!" Jerit Kagami.
"Mengompres perutmu, memangnya apa lagi? Sigh, kulitnya sudah mulai membiru sebaiknya cepat-cepat kita kompres." Ryu yang berkonsentrasi mengompres perut Kagami tidak tahu menahu dengan keadaan Kagami saat ini.
"Jangan banyak bergerak, kalau bisa sebaiknya kau tiduran saja." Kata Ryu dengan lembut dan dituruti saja oleh Kagami. Setelah sekian lama berdiam diri, Kagami memecah keheningan tersebut.
"Kenapa kau merawatku? Bukankah kau membenciku?" Tanya Kagami.
"Kenapa? Tentu saja karena ini juga salahku. Lagipula jika kau sakit saat pertandingan, Seirin akan kehilangan salah satu pemain terbaik mereka. Dan juga aku tak pernah membencimu senpai, apa yang membuatmu berpikir demikian?" Kata Ryu dengan tetap mengompres perut Kagami dengan telaten.
Kagami terdiam beberapa saat setelah mendengar perkataan Ryu.
"Baik, kurasa sudah selesai. Aku pergi dulu, ya. Sampai jumpa." Ryu berkata cepat dan meninggalkan ruangan klub dengan terburu-buru, berhubung waktu yang sudah tergolong malam.
Hari keempat belas
Seusai latihan pada hari itu, Ryu tinggal di ruang klub untuk mengatur menu latihan para pemain Seirin. Karena terlalu berkonsentrasi pada kertas-kertasnya, Ryu kaget saat merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipnya.
"Akh, dingin!" Pekik Ryu seraya melihat benda apa yang telah tertempel pada pipinya. Ternyata benda dingin tersebut merupakan sports drink dan orang yang menempelkannya pada pipinya adalah...
"Kenapa kau ada di sini sampai selarut ini?" Tanya suara orang tersebut, yang tak lain dan tak bukan adalah pelatih tim basket Seirin.
"Ah terimakasih, Riko-senpai. Aku sedang menyusun menu latihan yang cocok untuk para senpai." Jawab Ryu. Mendengar jawaban Ryu, Riko terdiam beberapa saat.
"Senpai, kau kenapa?" Tanya Ryu yang merasa kalau senpainya itu sedang aneh.
"Eh? Ah, tidak. Hanya saja kau terlihat suka melakukan tugasmu ini. Padahal pertama kali aku melihatmu mengatakan kalau kau merupakan asisten pelatih kami, kau terlihat tidak tertarik. Apa alasanmu?" Tanya Riko yang membuat mata Ryu membelalak sedikit. Ryu menghela nafas sebelum dia menjawab Riko.
"Senpai tahu kalau alasan aku menjadi asisten pelatih itu karena aku kalah taruhan dengan Kiyoshi-senpai?" Tanya Ryu.
"E-EEEEEEH?!" Kata Riko yang kaget.
"Sebenarnya saat itu aku sedang tidak ingin berhubungan dengan hal yang berbau basket lagi. Senpai sudah pernah lihat stat-ku kan? Kakiku cedera dalam sebuah kecelakaan dan juga kecelakaan itu melibatkan seseorang. Orang tersebut mengalami cedera berat sehingga dia harus operasi dan rehabilitasi, sehingga membuatnya tak dapat bermain basket lagi." Riko mendengarkan penjelasan Ryu dengan sangat seksama.
"Lalu?" Tanya Riko meminta Ryu untuk meneruskan ceritanya.
"Orang disekitarku mulai menyalahkanku atas kejadian itu. Teman-temanku mengatakan bahwa itu bukanlah salahku dan aku mempercayai mereka, pada awalnya." Ryu bercerita dengan menundukkan wajahnya.
"Apa maksudmu 'pada awalnya'?" Tanya Riko membuat Ryu tersenyum miris.
"Itu karena semakin lama aku mendengar mereka mengatakannya, semakin aku mempercayai perkataan mereka. Hal tersebut membuat aku benar-benar takut dan menganggap rendah diriku, aku merasa jika aku tak pantas untuk bahagia lagi. Aku tak pantas untuk bermain basket lagi. Aku tak pantas untuk sembuh. Maka dari itu aku memutuskan untuk tidak melakukan operasi pada kakiku dan membiarkannya sembuh dengan sendirinya atau bisa juga kakiku membusuk dan harus diamputasi." Riko terkejut mendengarkan hal yang dikatakan Ryu, namun dia tetap melanjutkan ceritanya. "Namun pada saat aku masuk SMP, orang itu terus mengusikku untuk masuk ke klub basket. 'Kau tidak perlu bermain, kau hanya perlu membantu mereka untuk berkembang. Saat ini Teiko membutuhkanmu.' Katanya. Maka dari itu, aku masuk ke klub basket lagi." Mata Ryu mulai berkaca-kaca.
"Selama aku ada di klub basket, aku merasa bahagia. Aku dapat melihat perkembangan teman-temanku sejak kecil karena mereka juga ada di klub basket. Menyenangkan sekali... namun beberapa waktu yang lalu, salah satu temanku yang telah menjabat sebagai kapten tim basket Teiko mengeluarkanku dari klub basket." Ryu berhenti sejenak untuk menghela nafasnya.
"Maka dari itu, aku saat itu tak ingin berhubungan dengan basket. Tapi dia tetap saja memaksaku. Jadi apa boleh buat, aku lakukan saja dulu. Ternyata malah melihat perkembangan tim basket Seirin membuatku menjadi lebih ceria lagi. Aku benar-benar berterimakasih padanya." Ryu mengangkat wajahnya yang tersenyum membuat Riko tertegun.
Tanpa mereka sadari, seseorang tengah menguping pembicaraan mereka. Orang tersebut kembali ke ruang klub untuk mengambil benda yang dilupakannya namun dia mendengar percakapan mereka dan menghentikan niatnya. Setelah mendengarnya hingga akhir, dia melangkahkan kakinya sambil meletakkan kedua tangannya pada belakang kepala merahnya.
Yah, akhirnya selesai nih ch 10. untungnya lebih panjang dari biasanya.
Untuk Hanariko Catarina-san : Hontou ni gomenasai, _:(´□`」 ∠):_. Saya lama banget updatenya, dan akhirnya baru sekarang selesainya.
Untuk Kishiro Haisane-san : Hontou ni gomenasai, _:(´□`」 ∠):_. Maaf, saya tidak dapat update cepat. namun dalam update kali ini, saya memusatkan perhatian pada Ryu-chan untuk menebus dosa saya.
Jya, mata ne~
R&R please.
