A VOICE TO YOU

Chaper 10 : I Will Change, Is This True?

Terimakasih Mina-san atas dukungannya hingga aku bisa meng-update chapter 10. Untung saja aku membawa tugasku ketika kerja dan kukerjakan di sela-sela waktu kerjaku, jadi ketika pulang, aku langsung bisa menulis kembali. Yosh! Dan Warning! Di chapter ini mungkin ada adegan sedikit M, tapi masih taraf aman. Mohon maafkan author.

Balasan Review

Stayawake123 : Terimakasih, aku tidak menyangka akan mengagumkan karena jujur aku kurang puas dengan apa yang aku tulis.

Miyu Mayada : Iya, karena pertama aku kehabisan ide dan kedua aku geregetan karena alurnya yang lambat di chapter 8.

Ochana : Begitu ya? Kenapa kamu jadi silent rider? *sekedar ingin tahu, tidak dijawab tak apa. Aku juga nggak nyangka respon Ocha-san karena aku sebenarnya tidak puas dengan apa yang kutulis di chapter 9.

92 : Benarkah? Syukurlah . . . ya, Lucy nggak sadar kalau ia bicara begitu pula dengan Natsu yang nggak sadar Lucy telah bicara padanya. Oh iya, makasih doanya karena Author ini akhirnya bisa update. Selamat membaca chapter 10 . . .

Nafikaze : Ya, benar sekali. Kurasa mungkin keduanya, karena Lucy nanti akan kembali Dilema.

Hrsstja : Kesimpulan yang kamu ambil TEPAT. Tapi aku belum menjelaskan semuanya, baru clue saja. Kisah dibalik semua pertanyaan Natsu juga pertanyaan readers akan dijawab oleh Jude sendiri nantinya.

Fic of Delusion : Iya kan? Aku suka Natsu yang begitu. Hohoho, tapi kurasa tidak keduanya karena ia melakukan itu karena . . . yah akan kujawab di chapter 10.

Hama : Maaf, updatenya telat. Minggu kemarin aku update malam senin, hal yang jarang aku lakukan. gomenasai.

Rdragneel : Siap!

Ndul-chan Namikaze : entahlah aku sendiri juga bingung otak Natsu dikemanakan. Tapi yang jelas tebakan anda benar. Untuk Sting, jangan senang dulu ya . . . karena kemungkinan Sting juga melihat semuanya. Tentu saja masih lama, genre-nya saja Drama. Aku inginnya sih sedikit bertele-tele, tapi yah . . . tunggu saja kedepannya bagaimana. Untuk requestmu akan aku fikirkan.

De-chan : benarkah? Ya ampun, maafkan aku. Aku tetap update kok. Iya, walaupun sebenernya aku tidak begitu puas dengan chapter 9, tapi aku suka bagian Lucy berdebat dengan Natsu, sesuatu banget! Tapi . . . awalnya aku berfikir Sting satu-satunya yang tidak melihat kejadian itu, tapi setelah dikaji lagi akhirnya aku berubah fikiran . . . tara, selamat membaca. Terimakasih doanya de-chan.

Hannah : SO PASTI. Coz aku nggak suka yang namanya end yang gantung apalagi sampai sad ending, No Wayyyyyyyyy . . .

Freedom Friday : Senangnya kamu suka chapter 9, terimakasih. Iya, semuanya karena Natsu. Lisanna dan Sting sama-sama baiknya, tidak ada keduanya yang berniat jahat. Hiks, sedih dengan nasib mereka nantinya, mungkin aku akan fikirkan pasangan untuk Lisanna. Tapi untuk Sting? Errr

Cemilan : eh? Nama anda cemilan? Rasanya aku nggak enak hati memanggil anda seperti itu. Terimakasih dukungannya, dan aku akan terus update karena sebenarnya aku punya komitmen untuk selalu update sebelum tanggal 20 Juni.

Aoi Yukki : Maaf sekali, tebakan Yukki-san salah, hehehe. Scene tabrakan yang tidak tertebak kan? Iya, kasihan Lisanna. Tapi tidak hanya itu saja, tunggu yang lebih menyakitkan di chapter 10 ini.

ACKeeileun : Kalau menurut Author sih iya, tapi Natsu sendiri ia masih bingung dengan perasaannya. Dan terimakasih sudah bilang bagus, #bungkuk 90 derajat.

Guest : aku akan jawab untuk kedua nama dengan tag ini. Ya, mungkin Natsu punya, akan aku jelaskan lagi entah chapter berapa. Dan akan kuusahakan memperbanyaknya, aku sih tidak jamin, soalnya aku menulis apa yang ada difikanku saja.

Putri aqua : Makasih, enggak kok. Aku akan bertanggung jawab menyelesaikan fic ini.

KuroNalu : Iya, aku sudah revisi, tapi ketika baca ulang ada typo dan aku malas revise lagi. Gomenasai. Aku senang kalau kamu menyukainya, nantikan terus ya.

Nakumi : Tuh kan kamu juga kasihan sama Natsu, atau author bilang mulai err jatuh cinta? *maaf, bercanda. Aku nggak nyangka kalau aku bisa membuat scene-scene seperti itu mengingat aku ini baru dalam menulis. Tapi syukurlah kamu menyukainya, arigato ne . . .

Naomi Koala : Lama tidak bertemu Naomi-san. Kalau tidak salah Naomi-san ketinggalan 4 chapter. Aku kagum kalau kamu Naomi-san bisa membaca 4 chapter sekaligus dalam semalam. Berapa jam tuh? Aku saja baca satu chapter 40 menit. Terimakasih masih mau membaca fic ini, akan aku lanjut kok. Soalnya aku punya target harus menyelesaikan ini sebelum lebaran.

Kha-chan : Tentu saja, hahaha. Makasih atas reviewnya.

.

.

.

Fairy Tail milik Hiro Mashima-sensei

.

.

.

"TUTUP MULUTMU!" bentak Lucy

"Kau yang harusnya menutup mulutmu" kata Natsu datar dan menarik tangan Lucy

"Ap . .-"

Natsu membungkam Lucy dengan bibirnya. Mata Lucy membulat sempurna. Pasalnya kini Natsu tengah menciumnya dihadapan semua orang. Ia meronta, dipukulnya dada Natsu. Jantung Lucy berdegup dengan kencang, wajahnya memanas, ia berusaha menyadarkan dirinya, namun bibir lembut Natsu membuainya dan seakan menghilangkan akal sehat dan seluruh keras kepalanya. Lisanna mematung melihatnya, ia lemas dan terduduk dilantai.

"Meskipun kukatakan untuk berhenti, hatiku terus pergi ke arahmu bahkan tidak bisa beristirahat untuk sejenak, ini menjadi beban yang sulit untuk kukendalikan, Mengapa aku tak bisa bahkan untuk membuangmu? Apa yang telah terjadi denganku?" kata Natsu dalam hati

"Aku mengulurkan tangan dan melihat dengan mataku, tapi tak peduli berapa kali kusebut namamu, kau selalu menjauh dariku. Aku telah gila karena semua ini. tak bisakah kau melihatku? Tak bisakah kau menyadari betapa frustasinya aku?" kata Natsu dalam hati

...

Sting dan Rogue menaiki tangga menuju lantai 2, mereka sedikit heran melihat koridor yang dipenuhi banyak orang dan mata mereka mengarah ke arah yang sama, Sting mengernyitkan dahi. Ia berjalan dan berusaha melihat apa yang tengah mereka lihat, betapa tekejutnya ia melihat apa yang ada disana. Natsu tengah mencium Lucy, mata Sting membulat. Darahnya seakan dipompa dengan kecepatan super dan langsung naik ke ubun-ubun, nafasnya memburu dan dadanya mulai naik turun, bahkan matanya mengkilap tajam. Rogue melihat Sting dan pemandangan bak melodrama itu bergantian, ia mengernyitkan dahinya dan merasa was-was, ia takut kalau sampai sepupunya itu melakukan tindakan bodoh seperti beberapa waktu lalu.

Natsu belum melepaskan Lucy, sedangkan Lucy ia juga masih terbuai. Sungguh sentuhan Natsu tidak bisa ditolaknya. Namun tiba-tiba sebuah ingatan menghampiri Lucy, ingatan dimana Natsu menghempaskannya di gudang, mencaci makinya, dan mempermalukannya di pesta. Dengan sekuat tenaga didorongnya Natsu kemudian . . .

PLAK

Lucy menampar wajah Natsu dengan tangan kanannya. Natsu shock, ia tidak bereaksi apapun selain terkejut. Entah ia terkejut karena tamparan Lucy atau . . .

"Aku membencimu! Jangan pernah dekati aku lagi! Bahkan jangan pernah kau berani menyebut namaku! Aku muak!" bentak Lucy dan meninggalkan Natsu yang masih dalam keterkejutannya

"Levy, ayo kita pergi" ajak Lucy melewati teman birunya. Sedangkan Levy juga masih shock, tapi dengan segera ia sadar dan mengikuti Lucy. Ia sempat menoleh ke arah Natsu, matanya sayu tanda ia khawatir. Sebelumnya belum ada gadis yang berani menampar Natsu, mungkin pemuda itu sangat shock sekarang ini.

Sedangkan setelah sepeninggalan Lucy, perlahan Natsu memegangi wajahnya yang baru saja ditampar dengan pandangan bingung dan tidak percaya.

"Apa yang baru saja aku lakukan?" tanya Natsu dalam hati

Natsu mengedarkan pandangan matanya, semua mata menatapnya shock, bingung, kasihan dan sebagian kesal. Perlahan matanya melihat sosok gadis bersurai perak yang terduduk lemas dengan mata kosong dan derai air mata. Lisanna, Natsu tercengang melihatnya. Apa ia yang membuat gadis itu menangis? Sesak, Natsu merasa sesak atau itu efek karena ia merasa kasihan? Ingin sekali kakinya melangkah dan menangkan gadis itu kalau semua akan baik-baik saja. Tapi tunggu, semua? Yang benar saja, ia sudah melakukan perbuatan diluar batas dengan mencium Lucy tanpa persetujuannya dan ditambah didepan umum. Natsu menundukkan wajah, menyembunyikan raut penyesalannya di balik poni pinknya.

"Aku benar-benar sudah gila! Tidak seharusnya aku melakukan itu pada Luce, tidak seharusnya juga aku melukai Lisanna. Cih! Apa yang harus aku lakukan? aku mencintai Lisanna, tapi kenapa aku tak sanggup melangkah untuk mendekatinya? Aku membenci Luce tapi kenapa aku malah menciumnya dan bahkan terbuai dengan kelembutan bibirnya? Aku bahkan tidak tahu kenapa aku melakukannya? Apa karena sebegitu frustasinya aku hingga tanpa sadar aku melakukan hal tak pantas itu? bagaimana mungkin? Apa yang harus aku lakukan? Lisanna akan membenciku dan Luce, ia akan sangat membenciku" kata Natsu dalam hati

Ketika Natsu mengatakan Lisanna akan membenci dirinya, entah kenapa ia merasa baik-baik saja, tak ada rasa sakit seperti saat Lucy membentaknya dan mengatakan ia membencinya. Sakit, benar-benar sakit. Ditambah perkataan Lucy yang melarangnya mendekatinya atau sekedar menyebut namanya, sungguh membuat Natsu merasa ditusuk-tusuk dan disayat habis-habisan. Padahal sebelumnya ia mengatakan maaf tapi bukannya dimaafkan malah ia semakin dibenci. Sungguh Natsu benar-benar frustasi sekarang ini. ia bingung bagaimana akan menghadapi Lucy nantinya, akankah ia baik-baik saja menatapnya? Tentu jawabannya adalah tidak, karena mengingat ciumannya barusan membuat degup jantungnya meningkat. Perasaan aneh yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya dan hatinya seakan ingin meledak saat ini juga.

"Hatiku sakit tapi kenapa jantungku berdegup kencang? Apa ini yang dimaksudkan oleh Gray? Apa benar aku memang . . ." tebak Natsu

Aku membencimu!

Jangan pernah dekati aku lagi!

Bahkan jangan pernah kau berani menyebut namaku! Aku muak!

Natsu memegangi dadanya. Rasa sakit yang semakin menjadi-jadi, semakin menyayatnya dan semakin menggodanya untuk menangis. Matanya mulai berkaca-kaca, ia menguatkan dirinya untuk bertahan dan tidak menangis. Karena ia adalah laki-laki dan seorang laki-laki tidak akan pernah menangis. Namun tanpa izinnya cairan itu kembali menetes, hancur sudah pertahanan Natsu. Saat ini juga ia menyadari bahwa dirinya tetaplah sama, ia hanyalah seorang bocah lemah. Bocah lemah yang beberapa waktu lalu sempat sombong, ternyata kesombongan itu tak lain hanyalah sebuah tameng demi menutupi hatinya yang lemah.

Sting berjalan melewati Natsu sambil menggenggam tangannya erat. Ingin rasanya ia memukul pemuda pink itu, namun ia tidak punya hak untuk marah. Lucy bukan milik siapapun, jadi tidak masalah jika ada laki-laki yang menciumnya. Harusnya ia berfikir jernih, namun tidak. ia tidak bisa berfikir seperti itu karena gadis itu adalah Lucy, walaupun mereka tak ada hubungannya, tapi Sting merasa memiliki hubungan dengan gadis itu. Karena, Lucy adalah satu-satunya gadis yang berhasil masuk ke hatinya.

Lisanna masih tidak bergerak, hingga beberapa temannya mencoba membantunya berdiri tapi gadis itu tidak bergeming. Juvia datang dan bingung, tapi ia melihat Lisanna menangis. Dengan segera ia membantu Lisanna berdiri dan mengusap air matanya. Ia sudah membuka mulutnya, namun berhenti saat melihat tatapan kosong Lisanna. Tatapan itu melihat kearah Natsu. Juvia bingung dan hanya memandang mereka bergantian.

Toilet perempuan di lantai 2. Lucy masuk toilet cukup lama. Sudah 5 menit berlalu tapi gadis itu tak kunjung keluar. Levy menggedor-gedor pintu, meneriaki nama temannya dan memintanya untuk membuka pintu. Fikiran Levy sudah kemana-mana, ia takut Lucy melakukan tindakan berbahaya atau semacamnya.

"Lu-chan, buka pintu! Kumohon buka pintunya!" teriak Levy

"Lu-chan! Kau dengar aku? Kumohon buka pintunya!" teriak Levy lagi

"Lu-chan!" Teriak Levy

SRRRRRRRR

Hanya suara keran air yang menjawabnya.

Didalam, keran air terbuka. Lucy tengah mengusap-usap bibirnya. Ia mengusap bibir itu berulang kali menggunakan tisu dan air, sudah 5 menit berlalu namun Lucy merasa belum bisa menghapus jejak Natsu disana. Ia kesal, marah, emosi, tidak hanya pada Natsu tapi pada dirinya yang dengan bodohnya terbuai. Lucy terus menggosok-gosok bibirnya sampai bengkak. Ditatapnya bayangan dirinya dicermin. Wajahnya dan rambutnya basah, matanya mengkilap tajam.

"Natsu Dragneel, aku benar-benar membencimu! Aku tidak akan pernah memaafkanmu bahkan ketika kau bersembah sujud padaku sekalipun!" kecam Lucy

NGIIIINNNGGG

Tiba-tiba sebuah ingatan masuk ke kepala Lucy. Lucy terdiam, memorinya berputar.

Flashback

Lucy kecil tengah berdiri di jendela kamar yang mengarah ke balkon. Matanya melihat ke arah luar dari balik tirai. Diluar pagar kini ia melihat seorang anak laki-laki tengah menunggunya sambil meniup-niup kedua tangannya guna menghangatkan tubuhnya yang dingin. Lucy menyipitkan matanya, wajah anak itu tak terlihat olehnya.

Kini Lucy kecil tengah mengenakan mantel pink dengan tangan gemetar. Ia meraih payung dan membuka pintu utama rumahnya masih dengan tangan yang gemetar. Perlahan ia melangkah keluar, disetiap langkah ia selalu mengatakan pada dirinya sendiri untuk tidak goyah.

"Aku tidak boleh goyah" kata Lucy dalam hati

Namun sulit, rasanya ia ingin berteriak saat ini juga. Kata goyah itu sangat menyakitkan baginya. Ia tidak yakin akan sanggup mengatakannya, tapi jika ia tidak melakukannya maka ayahnya yang akan bertindak dan tentu ia tidak ingin hal itu terjadi. Ditutupinya wajahnya dengan payung dan sampailah ia dihadapan anak laki-laki itu.

"Untuk apa kau kesini?" tanya Lucy

"Apa? Lu**, kita kan sudah berjanji untuk bertemu. Aku menunggumu dari kemarin-kemarin" kata anak laki-laki yang terlihat seperti bayangan dengan polos

"Menunggu? Untuk apa kau menunggu? Aku tidak pernah memintamu menungguku" kata Lucy ketus

"Karena kita adalah teman" jawab anak laki-laki

"Sejak kapan aku mengatakan kalau kau temanku? Dan juka seingatku, aku tak pernah mengatakan margaku dan dimana aku tinggal. Jadi bagaimana mungkin kau bisa sampai sini?" tanya Lucy kecil dengan dingin

"Lu**" gumam anak laki-laki

"Pergilah, aku tak mau melihatmu" kata Lucy

"Tapi Lu** . . ." kata anak laki-laki terbata-bata

"Enyah kau dari hadapanku!" kata Lucy dan meninggalkan anak laki-laki seperti bayangan itu yang terpaku di luar pagar di tengah dinginnya malam bersalju.

Flashback End

Mata Lucy membulat, ia mematung membiarkan air terus mengalir deras di westafel. Diluar Levy masih terus berteriak. Entah karena apa, kali ini yang Lucy dengar hanyalah kata-kata di ingatannya yang terngiang sangat keras di telinganya.

Enyah kau dari hadapanku!

Kata-kata itu kemudian disusul dengan perkataan kasarnya pada Natsu baru saja.

Aku membencimu!

Sakit, hati Lucy terasa ngilu dan sakit. Seperti ada sebilah pedang yang menyayatnya. Pedang yang sangat tajam hingga sekali sayatan mampu menghancurkan segala amarahnya. Ya, kali ini Lucy memegangi dadanya dengan tangan gemetar. Lagi-lagi anak laki-laki seperti bayangan itu. Tapi kenapa kali ini? kenapa ia memintanya untuk enyah? dan kenapa kata itu disusul oleh kata-katanya untuk Natsu? Apapun alasannya yang jelas ia merasa sakit sekarang. Bahunya juga mulai berat seakan tiba-tiba dijatuhi beban berton-ton beratnya. Tak terasa liquid bening menetes menuruni wajah pucatnya. Sontak saja Lucy terkejut, ia memegangi cairan itu perlahan.

"Apa ini?" gumam Lucy

Jangan pernah dekati aku lagi!

Bahkan jangan pernah kau berani menyebut namaku! Aku muak!

Beban dipundaknya seakan meledak, Lucy gemetar sempurna. Kenapa ia terngiang perkataannya sendiri pada Natsu? kenapa? Segala pertanyaan memutari otaknya. Namun tuhan seakan menghukumnya. Karena tidak hanya itu, ingatan yang baru saja masuk juga terus menghunusnya. Diusapnya air mata yang mengalir deras tanpa perintah, terus diusap tapi tetap tidak mau berhenti.

"Kenapa aku rasanya menyesal mengatakannya? Pada anak seperti bayangan itu dan bahkan pada Natsu?" gumam Lucy dengan lirih

Kaki Lucy sudah lemas, tak kuat dengan apa yang tengah melandanya, ia-pun terduduk di lantai. Tatapan matanya kosong namun mata itu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Perlahan tangan kanannya merogoh sesuatu dikantungnya. Jimat keberuntungannya, ia menggenggamnya erat.

"Aku benci ini. rasa sakit ini, rasa sesal ini. aku benci. Kenapa aku mengusirnya? Dan kenapa aku memintanya untuk enyah? Apa salahnya? Apa yang sebenarnya telah aku lakukan? dan apa hubungannya dengan Natsu? kenapa aku merasa sangat sakit setelah mengucapkannya? Kenapa? Kenapa?" tanya Lucy dalam hati

Levy panik. Sudah 15 menit berlalu dan jam terakhir pasti sudah dimulai. Ia melirik jamnya dan benar saja. Digedornya kembali pintu toilet itu tapi tak ada jawaban.

"Lu-chan! Keluarlah! Bersembunyi tidak akan menyelesaikan masalah! Aku akan membantumu jadi keluarlah sekarang juga atau aku akan meminta Gray atau Gajeel untuk mendobraknya!" teriak Levy

"Lu-chan!"

CEKLEK

Pintu terbuka. Lucy keluar dengan tatapan datarnya, bibirnya bengkak, wajahnya dan rambutnya basah terlebih seragamnya sedikit berantakan. Levy tentu khawatir, tapi belum sempat ia bertanya, Lucy sudah menjawabnya.

"Aku baik-baik saja" jawab Lucy datar dan melewati Levy begitu saja

Melihat sahabatnya seperti itu entah kenapa sakit rasanya. Lucy tidak pernah seperti itu, selama ini ia mengenal Lucy sebagai pribadi yang lembut. Walaupun seisi kelas mengucilkannya dan menatapnya penuh benci, Lucy tidak membalas mereka. Bahkan ketika dengan tidak manusiawinya Natsu mengatakan sengaja memfitnahnya dan meminta maaf, Lucy dengan mudah memaafkannya. Sungguh, ia tidak tahu apa yang tengah dirasakan Lucy hingga membuatnya menjadi seperti layaknya patung tak bernyawa.

Jam Pelajaran terakhir di kelas 1-5. Bob-sensei tengah menerangkan rumus-rumus momentum dengan panjang lebar. Semua sangat serius memperhatikannya kecuali beberapa siswa dengan surai pink dan blonde. Mata Natsu menerawang, memikirkan apa yang baru saja dilakukannya dan apa yang akan dilakukannya kemudian. Sedangkan Sting. Pemuda itu sesekali melirik tajam Natsu. Ia juga menggoyang-goyangkan kakinya tanda sedang gelisah karena Lucy belum masuk kelas padahal sudah 20 menit berlalu. Tiba-tiba . . .

SREK

Pintu terbuka, Lucy masuk begitu saja ke kelas diikuti Levy. Ia masuk tanpa permisi. Bob-sensei menghentikan mengajarnya sejenak. beberapa teman sekelasnya berbisik.

Lucy, dia hebat. Bisa berdebat dengan Natsu dan membuatnya mematung seperti itu

Hei, lihatlah. Dia tidak menunjukkan rasa malunya setelah dapat ciuman dari Natsu

Apa dia itu gadis normal?

Entahlah, dia tidak bisa ditebak. Setelah lama tidak bicara akhirnya ia bicara karena berdebat dengan Natsu

Lucy tentu mendengarnya tapi ia menghiraukannya, peduli apa mereka dengan masalahnya. Ia hanya berdecih pelan yang tentu tidak disaradari semua orang.

"Lucy, Levy, kalian terlambat" Kata Bob-sensei lembut

"Maafkan kami" jawab Lucy datar kemudian berlalu dan duduk

Mata Sting membulat, ia mendengar Lucy bicara lagi? apa telinganya salah dengar? Ekor matanya mengikuti Lucy hingga gadis itu duduk dibangkunya.

"Ya, tidak apa Lucy" jawab Bob-sensei belum menyadari kalau Lucy bicara

TIK TOK TIK TOK

"APA? LUCY! KAU BICARA?" Bob-sensei terbelalak dan meninggikan suaranya saking terkejutnya

"Memangnya sejak kapan sensei aku tidak bicara?" tanya Lucy dan seketika Bob-sensei bungkam. Entah kenapa muridnya itu terlihat sedikit berbeda, atau lebih dibilang menyeramkan.

Semua heran dengan pertanyaan Lucy. Tidakkah ia menyadari kalau ia tidak bicara sebelumnya? Entahlah, hanya Lucy yang tahu jawabannya. Karena menurutnya ia tidak pernah tidak bicara. Ya, karena ia selalu bicara dalam hati. Mata Natsu berangsur menatap Lucy dengan pandangan tak dapat diartikan. Sebegitu bencikah Lucy pada dirinya hingga ia berubah menjadi seperti itu? Sungguh, sangat sakit rasanya. Menyadari ada yang menatapnya, Lucy menoleh dan Natsu hanya diam, ia memilih menunduk menghindari tatapan Lucy. Rasanya ia tidak sanggup menatap mata itu, mata yang memancarkan segala kemarahan, kebencian, dan berbagai bentuk tatapan mengintimidasi. Namun Natsu tidak mengelak, ia pantas mendapatkannya. Lebih baik seperti ini daripada Lucy yang selalu menghindarinya.

Pelajaran kembali dimulai. Detik demi detik berlalu, namun perlahan waktu bergerak melambat seperti film. Warna berubah memudar menjadi putih dan abu-abu. Hanya Natsu dan Lucy yang berwarna disana. Namun warna indah milik Lucy perlahan menghitam, Natsu terbelalak melihatnya, ia ingin sekali berteriak namun suaranya tidak bisa keluar. Hingga tiba-tiba . . .

BRAK

Natsu berdiri. Kelas hening sesaat, semua mata menatapnya heran tapi minus Lucy. gadis itu bahkan tidak menoleh sama sekali. Bon-sensei hanya tersenyum melihat tingkah muridnya yang ketiduran di kelas.

"Natsu, kurasa kau harus mencuci mukamu" kata Bob-sensei dan langsung dituruti oleh Natsu. ia berjalan melewati tempat duduk Lucy kemudian keluar dari kelas. Tak selang lama seteleh kepergian Natsu, Sting-pun ikut permisi.

Toilet laki-laki. Natsu mencuci mukanya dengan gusar. Ia berharap air dapat menjernihkan fikirannya yang sedang kacau, namun percuma. Tidak berhasil. Tiba-tiba seseorang sudah berada disamping Natsu dan juga mencuci mukanya. Natsu menoleh, didapatinya Sting yang sudah memcuci muka dan menatap pantulan dirinya dicermin dengan ekspresi datar.

"Kenapa? Apa aku mengganggumu dari acara semedimu?" tanya Sting datar

"Apa?" Natsu tidak paham, ia mematikan air dan mengernyitakan dahi menatap Sting

"Oh, rupanya aku mengganggu ya. Tidak kusangka seorang Natsu Dragneel melakukan hal seperti itu pada gadis yang dia benci" olok Sting masih dengan nada datar

CTAR

Sebuah guntur menghujam benak Natsu. ia tidak menyangka kalau Sting juga melihatnya. Ia masih shock, namun tiba-tiba seringaiannya muncul, ia tertawa sinis.

"Lalu, apa kau cemburu karena aku berhasil mendapatkan ciuman pertamanya?" tanya Natsu memancing amarah Sting

"Hn, Aku tidak serendah itu hingga merebut paksa ciuman pertama seorang gadis" jawab Sting dengan mengepalkan tangannya, matanya sudah menatap Natsu dengan tajam.

"Baiklah, anggap aku apapun. Tapi, asalkan kau tahu saja, mulai sekarang aku tidak akan membiarkan sembarangan pria mendekati Lucy" ancam Natsu

Sting tertawa terbaha-bahak, Natsu tentu tersinggung mendengarnya. Tapi sesaat kemudian Sting menghentikan tawanya dan kembali kedalam mode seriusnya.

"Kau percaya diri sekali, kawan. Lucy membencimu sekarang, apa kau sangat yakin kalau ia akan membiarkanmu berada didekatnya?" serang Sting

"Melindunginya tidak harus berada didekatnya, kawan" jawab Natsu santai dan sukses menusuk Sting

"Ya, karena kau adalah Iblis, Natsu" jawab Sting menyembunyikan amarahnya. Natsu hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Sting. Ia tengah dalam mood tidak baik saat ini, meladeni Sting maka akan berbuah malapetaka karena mungkin tangannya akan ringan dan mendarat di wajah ketua klubnya itu. Namun ketika ia berada disambang pintu, ia berhenti.

"Dan kau adalah Iblis kedua" gumam Natsu yang masih didengar oleh Sting

Sepeninggalan Natsu. Sting meninju dinding. Matanya mengikap tajam dan sangat mengerikan.

...

Bel berbunyi menandakan jam pelajaran telah usai. Bob-sensei merapikan berkasnya. Ia mengumumkan kalau ujian semester akan diadakan minggu depan. Wajah seisi kelas berubah lesu mendengarnya, tapi berbeda dengan Lucy yang terkesan biasa saja.

"Oh ya, Laxus-sensei meminta kau untuk mengambil jadwalnya Sting" pinta Bob-sensei dan pergi meinggalkan kelas diikuti Sting

Tak lama kemudian Sting kembali dan membagikan jadwal ulangan Semester. Ia membagikan satu persatu, hingga ketika ia membagikan kepada Lucy, ia berhenti sejenak.

"Kenapa?" tanya Lucy datar dengan wajah datar pula

"Tidak, belajarlah yang rajin" ucap Sting yang entah kenapa membuat wajah datar Lucy bersemu merah mendengarnya. Natsu melihatnya dengan tatapan tidak suka, Gray dan Loki hanya menghela nafas. Mereka juga tidak habis fikir dengan sikap kedua insan itu dimana salah satunya sangat membenci namun tanpa sadar sudah jatuh cinta sedangkan satunya dulu sangat lembut dan rentan namun sekarang kelembutan itu sirna sudah digantikan dengan kebencian yang teramat sangat hingga membuat keduanya saling kejar-menghindar, memperhatikan-mengacuhkan, mengkhawatirkan-menghiraukan. Keduanya seperti sedang melakukan aksi reaksi yang akan menarik satu sama lain hingga menimbulkan sebab akibat.

Sting memberikan selembar jadwal itu pada Natsu yang diterima dengan tatapan tajam. Sting tersenyum melihatnya, senyuman yang menurut Natsu memiliki makna tersembunyi. Selesai memberikan jadwal, para siswa di kelas 1-5 bersiap pulang. Natsu dan Lucy berdiri bersamaan, menyadari itu ia menoleh melihat Natsu seraya menaikkan sudut bibirnya seolah meremehkan. Natsu terpana, ia shock. Gray dan Loki juga merasakan hal yang sama. Kemana perginya Lucy yang lembut itu? kini Lucy seperti layaknya Erza kedua, mengerikan. Itulah yang difikirkan keduanya. Lucy berlalu begitu saja diikuti Levy yang sebenarnya menahan bulu kuduknya untuk tidak berdiri. Namun . . .

"LUCE! BERHENTI!" kata Natsu dengan keras dan membuat Lucy menghentikan langkahnya

"Sudah kubilang untuk tidak menyebut namaku seperti itu kan?" tanya Lucy datar namun menusuk. Natsu tak gentar, ia menaikkan sudut bibirnya.

TEGANG

Keadaan kelas kembali tegang, teman sekelas Lucy yang belum pulang tak mau melewatkan kesempatan melihat Lucy dan Natsu berdebat, karena menurut mereka ini menarik mengingat Lucy tidak pernah bersikap sebegitu beraninya selama ini bahkan Sting yang sudah melangkankan kakinya diambang pintu berhenti dan menoleh kebelakang.

"Baiklah, aku akan melakukannya asalkan kau bisa mengalahkanku" kata Natsu atau lebih tepatnya tantang Natsu

"Apa maksudmu?" tanya Lucy tidak mengerti

"Di ujian ini, jika kau bisa mengalahkan nilaiku, aku akan berhenti memanggil namamu dan menjauh darimu. Tapi . . ." kata Natsu

Lucy mengerutkan dahinya, ia berfikir kalau tantangan Natsu sangat mudah baginya. Ia adalah Lucy Heartfilia, tentu kejeniusannya sudah tak perlu diragukan lagi. Lucy terkekeh pelan, semuanya merinding begitupula dengan Sting. Ia tidak menyangka gadis yang disukainya kini sudah bertransformasi menjadi mengerikan.

"Kau tidak salah menantangku?" tanya Lucy

"Tidak" jawab Natsu pasti

"Baiklah, tapi apa yang harus kulakukan jika misalnya aku kalah?" tanya Lucy

"Tentunya itu tidak mungkin" batin Lucy

Sebenarnya dalam lubuk hati Lucy, ia merasa senang ditantang oleh Natsu. karena entah kenapa mendengar pemuda itu menantangnya, seperti mengingatkannya pada anak laki-laki seperti bayangan dalam mimpinya yang juga selalu menantangnya tapi berujung ia permalukan. Sungguh, ia pasti akan menikmati saat-saat mempermalukan Natsu, pemuda yang kini tengah mungkin dibencinya.

"Kalau aku menang, kau harus BERKENCAN DENGANKU" jawab Natsu dan membuat Lucy melotot

"Kau gila?" tanya Lucy sukses membuat semuanya bergidik bahkan Sting yang terbelalak mendengar perkataan Natsu, menjadi sangat shock mendengar kata-kata kasar yang keluar dari bibir mungil Lucy.

"Cih! Terserahlah! Akan kupastikan kau kalah dan menjauh dari hadapanku!" kata Lucy pasti dan meninggalkan kelas, ia bahkan melewati Sting dan seakan tidak mengindahkan keberadaan pemuda itu. Pemuda yang selama ini berada disisinya saat ia terpuruk. Pemuda yang selalu memberikan sandaran ketika ia menangis. Mungkin sekarang mata hati Lucy mulai tertutup dengan sesuatu yang bernama kebencian.

Sting menyusul Lucy dan dengan sigap meraih tangannya dan membuat gadis itu berbalik. Hampir saja Lucy mengeluarkan makiannya, tapi ia terkejut mendapati siapa yang tengah memegang pergelangan tangannya.

"Sting?" tanya Lucy

"Aku perlu bicara padamu sebentar" kata Sting

Kebun belakang sekolah. Lucy duduk di kursi tempat biasanya Natsu duduk, sedangkan Sting berdiri disampingnya. Sudah beberapa menit berlalu, tapi pemuda yang mengajaknya untuk bicara tidak kunjung membuka suaranya. Lucy mengernyitkan dahinya seraya menatap Sting, yang ditatap sedikit salah tingkah dan berdehem.

"Lucy, aku ingin bertanya padamu" kata Sting membuka suaranya

"Silahkan" jawab Lucy lembut

"Apa kau membenci Natsu?" tanya Sting

"Aku tidak perlu menjawabnya kan, kukira kau sudah tahu" jawab Lucy dan dibalas helaan nafas oleh Sting

"Kau tidak takut membencinya?" tanya Sting lagi

"Kenapa harus takut?" tanya Lucy balik

"Benci dan Cinta itu beda tipis Lucy, kau tahu apa yang dialami Natsu sekarang adalah hasil kebenciannya padamu" papar Sting dengan bijak namun suaranya serak seakan penuh luka ketika mengatakannya

"Jangan berguarau, aku sedang tidak bersedih hingga kau harus membuat candaan seperti, Sting" jawab Lucy dan ia terkekeh

Tiba-tiba . . .

TAP

Sting memegang wajah Lucy, mata Lucy terbelalak. Baru kali ini Sting berada sangat dekat dengannya, hembusan nafas Sting bahkan menggelitik Lucy. Otomatis perlakukan itu membuat sang gadis merona, Sting tersenyum dan menyentuh bibir Lucy dengan jempolnya. Lucy menelan ludahnya, sungguh ia tidak habis fikir apa yang dilakukan Sting. Dan, anehnya lagi kenapa ia tidak memberontak? Padahal jika itu Natsu, sudah pasti ia akan menendangnya dengan segenap kemampuan bela dirinya.

"Aku serius Lucy" jawab Sting seakan menggoda Lucy

"Natsu sudah melakukannya, tidak mungkin kau tidak merasakan apa-apa kan?" tanya Sting dan mengusap bibir Lucy lagi. Lucy tak sanggup berkata-kata, ia terlalu terpaku dengan wajah Sting yang terbilang tampan. Tunggu, sejak kapan Sting tampan? Apa Sting memang tampan dan ia baru menyadarinya? Lucy merasa fikirannya mulai tidak waras. Ditepisnya fikiran aneh itu dan menjawab Sting.

"Ya, aku merasakan sesuatu. Perasaan marah lebih tepatnya" jawab Lucy dengan nada kesal

"Lalu kau mengusap bibirmu sampai bengkak?" tanya Sting

"Iya, tapi bekasnya tidak mau hilang!" jawab Lucy lagi

"Apa kau mau aku menghilangkannya?" goda Sting mengeliminasi jaraknya dengan Lucy. nafas Lucy tercengat, ia tidak tahu harus bagaimana karena ia bisa menebak apa yang akan Sting lakukan padanya. Melihat wajah Sting yang semakin dekat, entak karena apa atau karena reflek Lucy memejamkan matanya. Namun . . .

"Hmpp" Sting menahan tawa

Lucy membuka matanya perlahan. Dihadapannya kini Sting tengah menahan tawanya. Kesal karena dipermainkan, ia mendorong Sting kemudian menggembungkan pipinya. Sting tak kuat menahan tawa, ia tertawa lepas hingga mengeluarkan air mata.

"Hentikan itu, Sting" gumam Lucy lembut

Natsu, Gray dan Loki pulang dengan berjalan bersama. Loki tak henti-hentinya mengatakan bodoh pada sahabatnya itu karena sudah menantang seorang Lucy Heartfilia. Sedangkan yang diteriaki hanya memutar bola matanya bosan, tapi entahlah apa yang tengah ia rasakan sekarang. Tidak ada yang tahu, kecuali ia sendiri. Gray juga mendukung Loki, ia fikir kalau Natsu sudah benar-benar tidak waras sekarang ini. Sebegitukah frustasinya ia hingga ia melakukan perbuatan konyol itu? dibilang konyol, hari ini sahabatnya itu sudah melakukan segala kekonyolan diluar akal sehat. Ya, sahabatnya itu yang tidak pernah menyentuh gadis yang selama ini jadi kekasihnya bahkan menjadi tunangannya malah mencium gadis lain terlebih dihadapan semua orang. Sungguh Gray pusing memikirkannya saja, ia bingung cara berfikir sahabat pinknya itu.

"Natsu, kau sudah benar-benar gila! Bagaimana dengan Lisanna, bodoh!" kata Loki

"Bagaimana apanya, ia tunanganku kan" jawab Natsu santai

"Hei, hei ... kau sedang belajar menjadi playboy rupanya. Tapi kau tahu, ini salah. Seorang playboy juga memiliki batas. Se-playboy apapun diriku jika aku sudah memiliki tunangan yang kucintai maka aku tidak akan melakukan hal seperti itu" kata Loki seraya menghela nafas kasar

Natsu diam. Ia tahu kalau ia sudah menyakiti Lisanna. Sebenarnya ia ingin menemui gadis itu tapi ia terlalu malu dan tidak tahu bagaimana harus menjelaskan, karena sekali lagi ia belum begitu mengerti dengan perasaannya. Disatu sisi ia ingin sekali mengejar Lucy apapun yang terjadi tapi dilain sisi ia tidak ingin melepaskan ikatan pertunangannya dengan Lisanna begitu saja. Egois memang, tapi ia tidak ingin kehilangan keduanya. Jadi ia memilih bertaruh dengan Lucy, karena ia tahu persentase kemungkinan ia menang hanya 20 % mengingat dirinya yang malas belajar. Tapi, bukan berarti ia tidak akan berjuang, siapa tahu dengan usahanya kali ini ia mendapatkan jawabannya. Jika ia menang maka ia akan mengakui kalau dirinya jatuh cinta pada Lucy, dan jika ia kalah ia akan janji menghilang dari hadapan gadis itu. Setidaknya itulah janji yang ia buat pada dirinya sendiri karena kata kencan yang dikatakannya sebelumnya hanyalah sebuah dalih belaka.

...

Lisanna pulang kerumah dengan wajah sembabnya. Sang kakak, Mirajane bingung melihat adiknya yang murung dan wajah sembab seperti habis menangis. Belum sempat ia bicara menanyakan apa yang terjadi, Lisanna sudah melaluinya dan menuju ke kamarmya yang berada dilantai 2. Ia masuk kamarnya dan mendekap bantal kemudian kembali terisak, sakit rasanya. Kemana Natsu yang selama ini ia kenal? Tidak adil rasanya jika Natsu meninggalkannya demi gadis yang dibencinya atau sudah dicintainya itu. Ia ingin sekali bertanya dengan Natsu bagaimana kelanjutan hubungan mereka, tapi ia mengurungkan niatnya karena ingat jawaban Natsu siang tadi.

Kediaman Dragneel. Natsu pulang sendirian, ia disambut oleh Virgo dan ibunya yang sedang berada diruang tamu tengah menonton berita. Natsu tak mengindahkan berita itu dan berangsur ke kamarnya. Ternyata berita itu menampilkan perusahaan Hearfilia Corp yang tengah dilanda krisis. Nyonya Grandine yang semula tersenyum menanggapi kepulangan putranya menjadi serius ketika telinganya mendengar penuturan host di berita tersebut.

Heartfilia Corp tengah dilanda krisis. Beberapa saham mereka terjual begitu saja. sedangkan saat ini sang Presdir hanya menjelaskan kalau itu bukan masalah besar dan meminta media untuk tidak membesa-besarkannya.

Sejauh ini pihak publik curiga kenapa Jude Heartfilia tidak menghadiri rapat pemegang saham saat sahamnya diperjual belikan demi menyelamatkan perusahaan. Ada rumor yang mengatakan kalau ia tengah menjalani pengobatan atas penyakitnya dan menyembunyikannya dari pihak dewan agar posisinya sebagai presdir tidak tergoyahkan. Sekian berita dari kami.

TIK

Televisi dimatikan. Virgo terpaku ditempat, ia tidak tahu menahu kabar Tuan besarnya selama ini. Tapi matanya berubah menjadi sendu ketika menyadari bagaimana kalau Hime-nya mengetahui ini. Pasti Lucy akan sangat terpukul. Sementara nyonya Grandine memegangi dagunya serius. Ia tidak habis fikir dengan Jude, tapi kemudian ia menaikkan satu alisnya. Mungkin ini balasan dari tuhan karena Jude sudah mengusir putrinya tanpa sepeser uangpun.

Pintu terbuka, Lucy pulang. Virgo berdiri dan mengambil alih tas milik Himenya itu.

"Kau pulang sedikit terlambat, Lucy" kata nyonya Grandine mendekati Lucy

"Tidak ada sesuatu yang terjadi kan?" tanya nyonya Grandine lagi

"Tidak, bibi" jawab Lucy kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamarnya

"Oh begitu ya . . ." jawab Grandine

EH?

"Tunggu, apa yang baru saja kudengar? Lucy bicara? ia bicara?" nyonya Grandine histeris. Tak ada jawaban dari Virgo, karena ia juga terkejut. Merasa tak ada jawaban, nyonya Grandine mengguncang-guncangkan tubuh Virgo.

Lucy menghela nafas seraya menutup pintu kamarnya. Ia menyambar handuk dan pergi ke kamar mandi, fikirannya sangat kalut hari ini. Mungkin dengan mandi akan sedikit menyegarkan fikirannya. Namun ketika ia memutar shower, air mati. Disebelah, Natsu juga melakukan hal yang sama. Baru saja melepas pakaian dan bersiap mengguyur tubuh kekarnya, tak ada air yang keluar. Ia mengernyit. Tiba-tiba . . .

"Natsu-sama, Lucy-sama. Air dilantai 2 mati. Jadi pakai kamar mandi di lantai 1 jika kalian ingin mandi" teriak Capricorn di luar kamar keduanya dan kembali bekerja.

Sementara itu . . .

"Fiuh, aku harus cepat, badanku sudah lengket" keluh Lucy mengenakan piyama dan turun kelantai satu. Ia melewati nyonya rumah ini dan pelayan setianya yang menatapnya penuh tanda tanya hingga ia menghilang masuk kamar mandi.

"Cih!" decih Natsu sedikit kesal. Ia mengenakan handuknya dan menyambar piyama mandinya kemudian turun kelantai satu juga. Bibirnya komat-kamit tidak jelas, melihat itu nyonya Grandine heran. Sudah beberapa minggu ini putranya anteng tapi kenapa lagi ini? mereka bahkan melupakan kalau Lucy tadi masuk kamar mandi di lantai satu.

Nyonya Grandine memijat pelipisnya, ia tidak mau pingsan lagi karena ulah anak sulungnya itu. Wendy yang melihat ibunya jadi khawatir. Kemudian ia mengingatkan ibunya untuk menyiapkan makan malam, sang ibu menepuk jidatnya. Akhinya ia menarik Virgo ke dapur diikiti Wendy yang mengekori mereka dengan senyum yang tidak dapat diartikan.

Lucy tengah berendam di bath up dengan tenang. Ia berusaha menjernihkan kepalanya untuk tidak memikirkan kejadian hari ini. Ia akan berubah, ia tidak akan lemah lagi hingga ditindas oleh orang lain. Memikirkannya saja entah kenapa membuat dirinya tersenyum. Namun senyuman itu memudar ketika ia mengingat kembali bayangan anak kecil di dalam mimpi dan ingatannya.

Selama ini, setiap malam ia selalu bermimpi aneh. Seperti dirinya yang bermain dengan bayangan anak laki-laki di taman. Tertawa bersama dan melakukan hal menyenangkan bersama. Anehnya lagi mimpinya itu selalu indah, walaupun sebenarnya ia penasaran siapa anak itu tapi ia tidak mempermasalahkannya asalkan ia bahagia sesaat walaupun dalam mimpi. Tapi hari ini, disaat ia mengumpat dan mengucapkan kalimat sakral yaitu membenci Natsu entah kenapa sebuah ingatan masuk kedalam otaknya. Ingatan dimana ia mengusir bayangan anak laki-laki dengan sadisnya dan itu membuat hatinya sakit.

Kini Lucy memegangi dadanya yang kembali merasa sakit. Ia heran apakah itu ada hubungannya dengan Natsu. Seingatnya ia belum pernah bertemu Natsu sebelumnya, karena ia tidak pernah memiliki teman seusianya sebelumnya. Rasa sakit itu menjalari sekujur tubuhnya dengan cepat hingga nafas Lucy tercengat. Jantungnya bergemuruh, kata-kata kasarnya pada Natsu kembali terngiang.

Jangan pernah dekati aku lagi!

Bahkan jangan pernah kau berani menyebut namaku! Aku muak!

Rasa sakit itu semakin menjadi-jadi hingga Lucy meringis kesakitan. Tiba-tiba sebuah suara kecil terngiang dikepalanya.

Maaf kalau itu hanya sederhana. Lain kali, aku akan memberikan sesuatu yang lebih berharga dari ini. sesuatu yang akan kau jaga seumur hidupmu

"Apa ini?" tanya Lucy dalam hati sambil memegangi kepalanya

"Sesuatu yang berharga?" tanya Lucy lagi

Tanpa ia sadari, setetes liquid bening mengalir dipipinya. Lucy menyentuhkan dan terkejut, apakah dirinya menangis lagi? Ia benar-benar bingung, padahal ia tidak disiksa sekarang, maksudnya disiksa secara fisik. Tapi ingatan yang baru saja hinggap seolah menyayat batinnya dan itu sangat sakit. Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.

"Kenapa aku ini? kenapa ada ingatan aneh masuk ke kepalaku ketika memikirkan semua perkataanku pada Natsu? Kenapa?" tanya Lucy dalam hati

Natsu membuka pintu kamar mandi begitu saja karena memang tidak dikunci dan tulisan dilaur jelas-jelas terterang kalau kamar mandi . . .

TIDAK TERPAKAI

Dengan santai Natsu melepas piyamanya dan menampilkan tubuh atletisnya yang pasti akan membuat gadis manapun pingsan melihatnya. Dibukanya korden yang menutup akses ke bath up, baru saja ia membukanya, matanya Onyx-nya membulat sempurnya. Nafasnya tercengat melihat pemandangan didepannya. Punggng putih Lucy yang terekspos sempurna karena rambut panjangnya diikat tinggi keatas. Untuk sesaat Natsu sampai lupa bernafas. Untung saja Lucy sedang berendam dan membelakanginya. Kalau tidak gadis itu pasti berteriak dan membuat kehebohan. Namun mata Natsu menangkap sesuatu yang aneh dipunggung gadis itu, disana terdapat sebuah bekas luka, bekas luka cambuk sepertinya. Tanpa ia sadari ia berjalan mendekat dan menyentuh luka itu. Lucy yang sedang dalam fikirannya sadar seketika karena merasakan sentuhan lembut dikulit punggungnya. Bisa dirasakannya sebuah nafas lembut seseorang. Nafas yang tentu ia mengenalinya, wajah Lucy memerah, ia hendak berbalik dan berteriak namun perkataan Natsu menghentikannya.

"Jangan berbalik atau kau ingin melihat sesuatu yang tidak pernah kau bayangkan" cegah Natsu, dan Lucy menurutinya. Ia menahan nafas ketika dengan lembut Natsu mengusap luka dipunggungnya.

"Apa ini?" tanya Natsu lembut

"Bukan urusanmu, singkirkan tanganmu sekarang juga!" jawab Lucy

Natsu seolah menulikan pendengarannya. Tatapannya berubah menjadi sendu ketika membayangkan seseorang mencambuk Lucy hingga seperti ini.

"Siapa yang melakukan ini padamu?" tanya Natsu lagi

"Sudah kubilang bukan urusanmu!" jawab Lucy ketus

"Siapa kau hingga mengatakan itu padaku!" lanjut Lucy lagi

"Aku? Aku Natsu Dragneel. Penantang sekaligus petaruh kalau aku akan menang dalam kompetisi kita" jawab Natsu mendekatkan wajahnya ke telinga Lucy, Lucy menegang mendengarnya. Ia tidak pernah membayangkan Natsu akan seberani itu, spontan Lucy menutupi tubuhnya dan Natsu-pun tersenyum. Ia berdiri dan menutup kembali tirai kemudian mengenakan piyamanya. Ia keluar dari kamar mandi dengan . . .

Wajah memerah sempurna. Tangannya gemetar, dilihatnya tangan kanannya yang tadi menyentuh luka ditubuh Lucy. Ditambah ia melihat Lucy yang sedang . . . Natsu menggelemgkan kepalanya. Ia berani bersumpah kalau ia tidak melihat tubuh gadis itu, TIDAK! tapi mengingat luka dipunggung Lucy, dada Natsu merasa sakit kembali. Bukan ia yang melakukannya, tapi entah kenapa ia merasa bersalah?

Makan malam di kediaman Dragneel berjalan dengan hening. Sementara Natsu berusaha tidak melihat Lucy, ia merasa canggung atas kejadian di kamar mandi tadi. Sedangkan Lucy santai-santai saja menanggapinya. Tanpa siapapun ketahui, Lucy menggoyang-goyangkan kakinya gundah ketika Natsu tidak sengaja menatapnya. Ia berani bersumpah kalau ia tidak terbuai oleh sikap pemuda itu, TIDAK!

Natsu dan Lucy makan dalam diam. Sementara nyonya Grandine menatap keduanya tidak mengerti dan penasaran. Yang lebih membuatnya penasaran adalah, apa Lucy memang bicara. ia mengambil nafas kemudian mencoba bertanya.

"Kau baik-baik saja Lucy? kau terlihat sedikit gundah" tanya nyonya Grandine sukses membuat kaki Lucy diam.

"Tidak bibi, aku baik. jangan khawatirkan aku" jawab Lucy dan . . .

BURRRR

Igneel menyemburkan makanannya begitupula dengan Wendy yang langsung mendapat tatapan tajam dari Grandine.

"Lucy, kau bicara?" tanya Igneel tak percaya

"Lucy-san bicara?" tanya Wendy mengulangi pertanyaan ayahnya

"Eh? Aku . . . iya bibi" jawab Lucy lembut dan menundukkan kepalanya. ia baru sadar kalau hari ini ia bicara. Natsu bahkan menghentikan acara mengunyah makanannya, ia juga baru menyadari kalau Lucy bicara. Merasa atmosfer terasa berbeda, Grandine membuka kembali suaranya dan mengalihkan pembicaraan. Lucy yang gugup meraih gelasnya guna meminum air putih disana.

"Oh ya, minggu depan kan ujian semester. Aku khawatir denganmu Natsu. Apa kau akan mendapat nilai jelek lagi?" tanya sang ibu mengalihkan pembicaraan.

Tidak tahukan Grandine kalau pengalihannya malah membuat keduanya menegang, karena masing-masing teringat kejadian beberapa waktu lalu di kamar mandi. Lucy menelan airnya dengan susah dan menunduk karena wajahnya mulai panas. Ia sedikit menggibaskan tangannya, dan tingkahnya mendapat sorotan dari Wendy. Gadis kecil itu tersenyum penuh arti mengingat dirinya yang dengan sengaja membalik tulisan di depan kamar mandi. Ia terkekeh membayangkan kakaknya melihat Lucy. Kenakalan remaja memanglah hal yang perlu diwaspadai.

"Ibu tidak ingin melihat nilaimu jelek lagi Natsu, ibu malu. Bagaimana kata orang kalau pewaris Dragneel Corp ternyata siswa tidak pandai? Derajatku sebagai seorang ibu tentu tidak menerimanya. Jadi bagaimana kalau kau mengambil les privat?" bujuk sang ibu

"Benar juga ya, dengan begitu aku bisa mengalahkan Lucy dan . . . mengakui semua ini? argh! Entahlah! Yang penting aku harus menang!" kata Natsu dalam hati

"Kurasa tidak masalah ibu" jawab Natsu mencoba sedatar mungkin agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sedangkan sang ayah melongo, selama ini Natsu tidak suka yang namanya belajar, ia hanya akan belajar jika Lisanna memaksanya.

Lucy kembali meminum airnya.

"Tidak! aku tidak setuju!" kata Wendy

"Hei! Kenapa tidak?" tanya Natsu mulai meninggikan suaranya

"Kenapa harus menyewa guru privat kalau guru privat itu sudah ada disini?" kata Wendy membuat semua orang bingung tak terkecuali Lucy yang masih meneguk airnya.

"Apa maksudmu?" tanya Natsu tidak paham

"Lucy-san bisa mengajarimu kan" ucap Wendy dengan senyum manisnya

"Uhuk! Uhuk!" Lucy tersedak air gara-gara mendengar perkataan Wendy, ia menatap Wendy dengan pandangan bagaimana mungkin aku?

"Lucy-san sangat pintar, Virgo yang mengatakanya sebelumnya. Ia menyelesakan materi SMA ketika usinya 12 tahun" kata Wendy menyombongkan dirinya

"Apa? Bagaimana mungkin? Kalau aku mengajarinya, dia akan menang dariku dan aku akan berkencan . . . dengannya. Tidak! aku bahkan tidak pernah membayangkan pergi bersama dirinya" batin Lucy

Lucy berharap kalau ayah dan ibu Natsu tidak menyetujuinya. Namun harapannya sirna ketika nyonya Grandine menatapnya dengan berbinar-binar tanda setuju dengan pendapat putrinya. Natsu tidak bereaksi, atau pemuda itu memang menginginkannya? Lucy mengeram kesal dalam hati tapi ia tidak sanggup menolak ketika nyonya Grandine memohon sambil memegang kedua tangannya.

...

Dan, disinilah Natsu dan Lucy berakhir. Setiap malam menjelang ujian semester, Lucy selalu berada dikamar Natsu. Ia mengajar pemuda itu dengan separuh hati. Ia membenci Natsu, selalu berdoa agar pemuda itu menjauh tapi kenapa malah sebaliknya. Ia bersumpah akan memenangkan taruhan dan mendapat hadiahnya.

"Ini dikalikan secara silang seperti ini. kumpulkan x dan kumpulkan angka. Hingga menjadi seperti ini. maka kau akan mendapatkan nilai x dengan cara membagi angka dengan angka x" jelas Lucy pada Natsu

Sedangkan yang dijelaskan hanya manggut-manggut paham. Lucy kembali menjelaskan, tanpa ia tahu Natsu tersenyum melihatnya. Ia jadi ingat ketika Lucy mengajarinya dulu. Ah, sungguh indah. Senyumnya mengembang ketika ia juga mengingat Lucy yang mengacuhkan keberadaannya dan menatapnya sinis di sekolah tapi tidak dirumah. Alasannya, karena gadis itu tidak mungkin bisa mengacuhkannya, tidak mungkin kan Lucy menerangkan tanpa mengucapkan sepatah katapun? Gadis itu bahkan tak segan-segan duduk disampingnya dan mengarahkannya menjawab soal. Nafas Natsu tercengat, ia bisa mencium bau shampo yang digunakan oleh Lucy. Bau yang nyaman dan membuatnya terlena.

Jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam. Natsu mengambil air dan masuk ke kamarnya. Ia terkejut ketika mendapati Lucy yang tidur dengan pulas di meja belajarnya. Dengan perhatian Natsu menggendongnya ala bridal style dan mengantar gadis itu kekamarnya. Sesampainya dikamar, segera ia baringkan tubuh mungil itu dengan pelan agar tidak membangunkannya. Tiba-tiba . . .

"Mama, aku merindukanmu" gumam Lucy dan setetes cairan bening mengalir di ujung matanya. Natsu menyekanya, melihat Lucy selemah itu ia jadi teringat saat dimana ia dengan kasarnya menarik Lucy dan menyiramnya dengan ia dingin dimalam hari. Sakit, lagi-lagi Natsu merasa sakit mengingatnya, ia menepis semua itu. Ia sudah berubah, ia tidak akan menyakiti Lucy lagi. Tapi siapa yang tahu . . .

Semenjak kejadian Natsu mencium Lucy, tersebarlah kabar kalau mereka berpacaran diam-diam. Mendengarnya saja membuat telinga Lucy gatal, ia bahkan tidak segan-segan menatap tajam siapapun yang berdesas-desus tentang dirinya.

Jam Istirahat, Lisanna datang dikelas dan meminta waktu pada Natsu. Sting dan Lucy yang tengah bercanda menghentikan aktifitas mereka sejenak. Sepeninggalan mereka, ekspresi Lucy berubah. Ia kembali bercanda dengan Sting tapi pemuda itu tahu kalau Lucy tengah menutupi apa yang dirasakannya saat ini.

"Kau tidak pandai berbohong, Lucy" batin Sting

Atap sekolah. Lisanna dan Natsu saling berhadapan. Mereka canggung satu sama lain. Natsu mulai membuka suara.

"Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu" ungkap Natsu jujur

"Aku tahu" jawab Lisanna singkat

"Karena aku tahu, maka aku akan . . ." kata Lisanna memberi jeda, ia mengambil nafas sejenak dan menghembuskannya

"Memutuskan pertunangan kita" lanjut Lisanna. Natsu terbelalak, ia tidak menyangka Lisanna akan mengatakan itu.

"Aku tidak mau" jawab Natsu dan tentu Lisannta terkejut, entah kenapa ia merasa senang ketika mendengarnya, tapi rasa senang itu sirna ketika ia mengingat percakapan teman-temannya yang mengatakan Natsu sedang bertaruh dengan Lucy. Dimana jika Lucy kalah maka gadis itu harus mau berkencan dengan Natsu. Sakit, sakit rasanya. Ia merasa sudah cukup, ia tidak sanggup lagi jika harus bersabar menunggu penjelasan Natsu.

"Kenapa? bukankah kau menyukai Lucy?" tanya Lisanna dengan mata berkaca-kaca

"Sudah kubilang, aku belum mengerti semua ini, Lisanna. Aku berharap pertunangan kita tidak putus. Kau tahu kan kalau aku mencintaimu" kata Natsu datar, ia bahkan tidak menyadari sudah memberi harapan palsu lagi pada gadis perak itu

"Tidak Natsu, walaupun kau mencintaiku, tapi aku sudah tidak bisa menerimanya. Cintamu hanya sebatas cinta seorang teman bagiku. Tidak lebih, terserah kau jika tidak mau memutuskannya, karena menurutku aku sudah mengakhirinya" jawab Lisanna dengan suara serak karena menahan isakan tangis

"Lisanna" kata Natsu seraya mendekat dan mengulurkan tangannya. Didekapnya Lisanna, dan gadis itu terisak pilu. Mungkin ini terakhir kalinya ia merasakan kehangatan itu. karena kedepannya kehangatan itu akan menjadi milik orang lain.

Hari ujian dimulai. Natsu berdoa agar ia bisa memahami isi soal karena selama ini soal-soal itu seperti bahasa Alien untuknya. Ia membuka lembaran soal perlahan, dan ajaibnya tulisan itu sangat ia pahami. Semua yang diajarkan oleh Lucy keluar, dengan senyum yang terpatri jelas Natsu menyelesaikan soalnya dengan mudah.

Besok adalah hari terakhir ujian semester. Malam ini Lucy juga harus mengajari Natsu, ia merasa bertanggung jawab atas perkataannya yang setuju mengajari Natsu sampai selesai ujian. Ia mengetuk pintu kamar pemuda itu tapi tak ada jawaban. Dengan perlahan ia memutar knop pintu dan mendapati Natsu tidur telungkup dimejanya. Lucy mendekat, ia tersenyum kecil melihat wajah Natsu yang dipenuhi oleh goresan pena dan spidol. Pasti ia sangat bekerja keras, itulah yang difikirkan Lucy. Ia berusaha melihat apa yang tengah Natsu kerjakan, sebuah buku sejarah yang sangat tebal. Lucy sampai heran bagaimana bisa Natsu memiliki buku langka macam itu, karena setahunya buku sejarah untuk kalangan pelajar itu hanya ada 10 di seantero jepang. Ia membuka-buka buku itu dan sebuah photo jatuh ke lantai dengan posisi gambar menghadap lantai. Diambilnya photo itu dan membaliknya, betapa terkejutnya ia melihat photo apa itu. itu adalah photo . . .

Natsu bersama dirinya sewaktu kecil.

Photo itu adalah foto ketika mereka berada dihamparan taman bunga dan Natsu yang tengah memakaikan mahkota dari rajutan bunga ke kepala Lucy kecil. Mereka tersenyum bahagia layaknya seorang pengantin. Ingin sekali Lucy berteriak saat ini juga, namun dengan segera ia membekap mulutnya agar tidak berteriak dan membangunkan Natsu.

"Apa ini? kenapa aku bisa ada difoto ini?" tanya Lucy dalam hati

TES

Lagi. Lagi-lagi Lucy menangis, ia menyentuh pipinya. Digelengkannya kepalanya perlahan. Ia mulai menghubungkan bayangan anak kecil di mimpi dan ingatannya. Dan ia mulai berfikir apakah itu Natsu. Bagai dihantam palu besar, tangan Lucy lemas dan menjatuhan photo tersebut. Tubuhnya bergetar dan air matanya mengalir deras.

"Tidak mungkin, aku tidak ingin itu. aku tidak ingin itu adalah Natsu. aku tidak mau, tidak . . ." kata Lucy dalam isakannya

"Ti . . dak" kata Lucy pelan dan memegangi kepalanya yang mulai berdenyut-denyut. Nafasnya mulai memburu. Ingatan akan kecelakaan maut itu kembali menghantuinya, semua perkataannya sebelum kecelakaan itu. Lucy menunduk seraya menjambak rambutnya. Ia menahan isakannya agar tidak terdengar oleh Natsu.

"Aku tidak ingin mengingatnya" isak Lucy lagi

Sedangkan Natsu. ia tengah bermimpi. Ia bermimpi dimana dirinya sedang melihat sepasang anak kecil tertawa bersama dihamparan bungan. Anak laki-laki kecil yang diketahui adalah dirinya dimasa kecil tengah merajut mahkota dari bunga. Tak selang lama setelah mahota cantik itu selesai, ia mengucapkan janji pada sang gadis kecil bersurai blonde yang tak lain adalah Lucy.

"Aku Natsu Dragneel, bersedia menemani Luce dalam suka maupun duka, kaya ataupun miskin. Dan aku berjanji akan selalu berada disampingnya hingga ajal memisahkan kita" ucap Natsu kemudian ia mengenakan mahkota bunga itu pada Lucy

"Aku Lucy akan menerima Natsu Dragneel apa adanya dan akan menyayanginya sampai ajal memisahkan kita" kata Lucy tersenyum manis dengan rona merah di wajahnya.

Natsu mendekatkan wajahnya dan . . .

CUP

Ia mencium pipi Lucy dengan Lembut.

"Luce, aku akan memberikan sesuatu yang berharga padamu. Tapi kau janji akan menunggu ya, karena aku tidak bisa memberikannya sekarang" kata Natsu dan dijawab anggukan manis Lucy. Ya, ini kali kedua ia berjanji tapi belum juga menepatinya karena uangnya belum cukup untuk membelikan itu untuk Lucy.

Natsu dewasa melihat dirinya yang menatap layar televisi dengan raut wajah terkejut. Natsu kecil menjatuhkan kotak kecil yang baru dibelinya. Ia segera berlari ke tempat yang dikatakan host di televisi.

Kini Natsu kecil manatap seorang gadis kecil yang tengah meraung-raung melihat sang ibu yang hendak ditutupi tanah. Kakinya lemas, ia terjatuh dan ikut menangis. Ia tidak pernah menyadari selama ini kalau Lucy adalah model ternama dimana ibundanya yang juga model telah meninggal di kecelakaan maut saat berangkat menuju lokasi shooting di daerah gunung yang terjal. Ingin sekali ia berteriak memanggil namanya, namun suaranya tidak bisa keluar.

Pemandangan didepannya sirna. Karena kini Natsu bermimipi dirinya melihat Lucy yang tengah terisak dikamarnya seraya melihat photo masa kecil mereka. Mata Natsu terbelalak. Dengan segera ia mencoba meraih Lucy, namun tangannya menembus gadis itu, ia terpana. Bagaimana mungkin? Ia terus mencoba tapi tetap tidak bisa. Mata Natsu mulai berkaca-kaca. Akhirnya karena tidak berhasil meraih Lucy, ia memilih berjongkok menyamai tingginya dengan Lucy dan menatapnya pilu.

"Seperti mawar merah, kau menusukku dengan tangisanmu yang seperti duri. Ini juga panas seperti nyala api. Tidakkah kau melihat mataku yang terjatuh dalam kesedihan karena melihatmu? Jangan membuatku ikut menangis, Luce. Aku tidak akan memintamu untuk mengingatku, tidak akan. Cukup menatapku dengan cahaya jernih itu, cahaya yang seperti lilin tertiup angin dan membuatku ingin mendekapmu. Kumohon jangan seperti ini, usap air matamu dan jangan membuatku sakit, Luce" kata Natsu dalam hati diiringi cairan bening yang mulai membasahi pipinya.

To Be Continue

Woaaa. . . .

Mina-san, maafkan aku. Aku mulai merasa ceritaku mulai aneh, aku sendiri bingung bisa menulis itu. Sebenarnya beberapa waktu belakangan ini author memikirkan cerita baru, hingga tak sadar kalau ternyata belum selesai menulis ini. Tapi kuharap kalian bisa memaklumi dan menikmati A Voice to You.

Maafkan aku juga jika disini aku menyiksa Lucy lagi. Kurasa agar impas karena sebelumnya Natsu yang tersiksa, iya kan?

Terimakasih sudah menantikan fic ini. dan kutunggu review kalian, kuharap readers memberi feedback yang bagus.

Best Regards

Nao Vermillion