BLEACH © TITE KUBO

Unforgiven Angel

Part #10

.

.


"Dia lagi."

Layar interkom menampilkan sosok Grimmjow Jaegerjaques berbalut kaos biru tanpa lengan dan celana sependek lutut. Si pengganggu yang muncul di waktu jam makan malam, cih, apalagi, pasti mau menumpang makan. Tapi sepertinya bukan. Ichigo memperjelas penglihatannya pada kotak yang sedang digenggam Grimmjow. Sekotak pizza.

"Siapa Nii-san?"

Ichigo terkesiap saat Rukia telah berada di tengah ruangan tamu.

"Hanya serangga kecil," lekas Ichigo membuka pintu, dengan berat hati ia menyambut kehadiran Grimmjow. "Ada perlu apa?" tanyanya, setelah mendapati senyum kecil tersampir di bibir tebal lelaki berambut biru itu.

"Mencari Rukia—eh, hai! Rukia!"

Grimmjow menerobos masuk melewati tubuh Ichigo menuju Rukia yang tertegun di tengah ruangan. Hampir saja Ichigo melayangkan sebuah pukulan di pipi pria kurang ajar itu.

Tampak Rukia terdiam di tempat—tidak secerewet yang biasa Ichigo perhatikan, dan lekukan di dahi gadis itu menandakan jika Rukia terlihat bingung. Rukia memundurkan posisinya satu langkah, ketika Grimmjow berjalan mendekat.

"Ayo makan pizza bersamaku. Sudah tiga hari kita—" Grimmjow berhenti bicara saat matanya tertumbuk pada luka jahitan di tepi dahi Rukia. "Kau—terluka," sambungnya sedikit tersendat.

Rukia menghindari tatapan iba Grimmjow. Ia mengalihkan pandangan, menyembunyikan rasa gugup pada lelaki yang beberapa hari lalu berniat menjadi teman baiknya.

"Begitulah, Grimmjow-san. Seperti yang kaulihat."

Ditelitinya luka yang menggores kulit halus Rukia lalu perlahan Grimmjow ingin menyentuh luka itu.

Sayangnya, masih ada Ichigo di sana. Ichigo menarik kaos belakang Grimmjow, menyingkirkan pria itu dari hadapan Rukia selagi bisa.

"Pulanglah. Kami sedang tidak menerima tamu," ujar Ichigo dengan tatapan dingin.

Menyadari ketidaknyamanan Ichigo akan kehadiran tamu tak diundang. Rukia menyeringai kecil dan menahan kepulangan Grimmjow dengan berkata, "Tidak apa-apa, Nii-san. Mari Grimmjow-san, kita makan bersama. Kebetulan sekali kami sedang mempersiapkan makan malam."

"Wah! Benarkah? Apa Rukia yang memasak?"

"Bukan aku. Nii-san yang memasak."

Mendengar itu, Grimmjow tergelak. Namun kemudian ia menolak secara halus setelah tahu masakan siapa yang akan dimakan.

"Sebaiknya makan pizza-ku saja, Rukia. Aku sudah susah payah membelinya untukmu."

Ichigo tertegun, dia berubah tidak peduli pada keakraban Grimmjow dan Rukia yang mengganggunya.

Televisi menjadi pilihan untuk menghindari percakapan yang terjadi antara kedua orang itu. Ichigo menghiraukan keberisikan yang mulai terdengar di meja makan, dengan langkah gontai lelaki itu menuju sofa ruang televisi dan duduk di sana.

Dia lupa pada sup daging buatannya.

Sesekali terdengar suara tawa Grimmjow yang meledak. Terganggu dengan semua itu, Ichigo yang sudah menyalakan televisi segera memperbesar volume dari siaran berita yang sama sekali tak ia perhatikan.

Dia tidak bisa mencegah Rukia, melarang gadis itu berteman dengan siapapun. Ichigo tidak berhak menahan gadis itu untuk berhubungan dengan dunia luar. Bukan salah Rukia, jika akan ada banyak serangga-serangga yang mulai bermunculan menempeli gadis itu.

Tidak tertarik dengan acara berita, Ichigo mengganti saluran. Ada pertandingan bola yang—huh, ia bosan memperhatikan pertandingan yang setiap hari selalu disiarkan. Lalu seleranya beralih pada saluran berikutnya, saluran itu tengah menampilkan drama asing yang lagi-lagi semakin membuat Ichigo bosan.

Diam-diam dilihatnya Grimmjow yang sedang membelah pizza. Rukia tersenyum dengan mata berbinar di dekat lelaki itu. Tiba-tiba saja ada sesuatu yang menyumpal tenggorokan Ichigo, dan juga jantungnya yang seolah ingin berhenti berdetak.

Tanpa sadar, ia menggenggam terlalu erat remote control televisi di tangannya.

Otaknya berubah kacau, sialan! Kalau mau bermesraan harusnya mereka—Ichigo memelotot, ketika mata cokelatnya mendapati ibu jari Grimmjow yang dengan seenaknya menyentuh ujung bibir Rukia yang ternoda oleh saus.

Prak!

Bunyi benturan sebuah benda terdengar.

Rupanya itu berasal dari remote control yang mengenai dahi Grimmjow.

Kemampuan memanah Ichigo memang tidak pernah diragukan, bahkan ia yang jarang latihan saja masih bisa tepat sasaran melempar benda kecil itu hingga mengenai dahi lebar lelaki yang duduk sangat dekat dengan Rukia. Padahal, jika sampai salah perhitungan, bisa-bisa lemparan Ichigo justru menghantam kepala gadis itu.

"Ahrg!" Grimmjow mengerang kesakitan, mata birunya bergulir pada benda yang jatuh tak berdaya di dekat kakinya. Kemudian, ia baru sadar siapa yang melakukannya. "Apa yang kaulakukan? !" sembur Grimmjow seraya berdiri, membalas tatapan mematikan dari Ichigo.

"Nii-san?" sama saja, Rukia juga begitu. Ia berdiri memegangi otot lengan Grimmjow yang menegang menahan marah dan rasa nyeri. Menahan lelaki biru itu agar mengendalikan kemarahannya.

Gadis itu malah mengabaikan kemarahan Ichigo, yang menurutnya sangat tidak bisa dijelaskan.

"Keluar kau dari sini."

"Apa—" tidak tahan dengan sikap bocah labil seperti Ichigo, Grimmjow bergerak maju namun lagi-lagi Rukia menahannya.

Rukia memintanya untuk menahan diri dengan menggelengkan kepala dan menyebut namanya, "Grimmjow-san."

Menyaksikan itu kontan saja membuat darah Ichigo memanas hingga ke ubun-ubun kepala. Ia merasa terpojok, seolah ia mengganggu kedekatan mereka dan kepeduliannya yang sama sekali tidak dihargai Rukia.

"Keluar!"

Grimmjow dan Rukia terperanjat. Ichigo berteriak menyuruh Grimmjow keluar, suaranya menggelegar, membuat Rukia mau tidak mau harus meminta Grimmjow agar tidak melawan dan segera pulang.

.

.

Ichigo mengerang kesakitan. Kepalanya berdenyut pening. Tak tahan dengan sakit di kepala yang kian menyiksa, ia bangkit dari tidur lalu duduk mendekati laci meja yang berada di sebelah ranjang. Tempat dimana ia biasa menyimpan obat-obatan—sudah lama kepalanya tidak sesakit ini. Karena banyak hal yang harus dipikirkan, hingga membuat isi kepalanya penuh dengan segala hal yang kurang penting.

Setelah menemukan botol kecil berisi tablet penghilang rasa sakit. Lelaki itu bangkit untuk mengambil segelas air di dapur. Sempat diliriknya jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam lebih.

Dengan langkah limbung, Ichigo mengayun kakinya keluar kamar. Sunyi senyap menyelimuti apartemen. Lampu-lampu telah dimatikan, menyisakan sebuah cahaya kecil di balkon.

"Duh, sial," ia masih bisa mengumpat ketika rasa sakit kembali menyerang. Dadanya turun naik seperti habis berlari jauh.

Ruangan gelap membuat gerakan Ichigo terhambat. Ia meraba-raba dinding, mencari letak sakelar lampu. Namun belum kunjung ia temukan. Lantaran kesal terjebak di suasana yang gelap, Ichigo menerobos begitu saja, melewati ruangan demi ruangan yang hanya diterangi cahaya remang dari balik balkon.

Tubuhnya memberat hingga menyebabkan Ichigo jatuh terduduk karena beban tubuhnya yang mendadak seperti batu. Ia menggelengkan kepala mencoba untuk tetap dalam keadaan sadar. Usahanya sia-sia, saat kepala peningnya belum terobati. Lelaki muda itu lantas tertelungkup tak sadarkan diri.

Terbangun dari alam bawah sadarnya yang sangat singkat, mata Ichigo segera diterjang warna menyilaukan. Ia menyipitkan mata memperhatikan raut panik Rukia yang berada sangat dekat dengan matanya yang tampak mengantuk.

"Ibu," sebutan tersebut tercetus begitu saja dari bibir Ichigo yang memucat.

Rukia yang dengan susah payah memapah tubuh Ichigo akhirnya bisa bernapas lega. Sebab Ichigo tidak lagi sepenuhnya pingsan, ia sudah dalam keadaan setengah tidur hingga gadis itu membantu membawa tubuh Ichigo kembali ke kamar.

.

"Aku bukan ibumu."

Gerutu Rukia ketika dengan hebatnya ia berhasil melempar tubuh Ichigo ke ranjang. Ia menyentuh dahi kakak palsunya itu, suhu tubuh Ichigo tidak panas? Lalu, kenapa dia sampai terkapar di lantai dapur. Pasti dia sangat stress dengan tugas mata kuliahnya yang menumpuk.

Deru nafas Ichigo tersendat-sendat, bagian dada pria itu naik turun seperti orang yang sedang mengangkat benda berat.

Begitu pula dahi Ichigo yang menambah lipatannya. Alisnya yang tebal bahkan nyaris menyatu. Dia sedang memimpikan sesuatu yang—jelas saja—tidak bisa Rukia ketahui.

Kemudian dalam waktu bersamaan meluncur rengekan halus dari Ichigo yang masih menutup erat matanya. Ichigo mengigau, namun Rukia tidak mengerti apa yang laki-laki itu igaukan, sebab yang terdengar cuma rengekan yang tidak bisa dimengerti.

"Dia punya keluarga. Tapi seperti tidak punya keluarga." Rukia mendecakkan lidah, ekor matanya memandang penuh prihatin pada kesendirian Ichigo di dalam mimpi.

Lantas berbekal rasa kasihan, gadis itu berjongkok di sebelah tubuh Ichigo yang terbaring di ranjang. Lalu menepuk-nepuk rambut oranye Ichigo yang terasa lembab. "Tidurlah… ibu ada di sini," bisiknya seraya mengulangi tepukan lembutnya pada kepala Ichigo.

Berhasil.

Perlahan-lahan napas Ichigo bergerak teratur, dahinya yang semula tadi penuh lipatan sudah menghilang dan rengekan yang mengalun dari bibir Ichigo lambat-laun menjadi tenang.

'Aku tidak bisa membencimu, Kurosaki. Sungguh—aku tidak berani. Gara-gara aku dan kakakku, kehidupan keluargamu kacau. Bahkan ibumu melupakanmu, dia lupa betapa seorang anak laki-laki juga bisa menjadi selemah ini. Maaf sudah membalas kebohonganmu. Tetapi aku tidak bisa mencegah diriku, untuk mencari tahu alasanmu menyembunyikanku di sini dengan status sebagai kakakku.'

Selimut telah menghangatkan Ichigo. Merasa cukup dengan usahanya menenangkan Ichigo, dengan hati-hati Rukia berjalan meninggalkan kamar tersebut.

Akankah ia meneruskan niatnya untuk terus membohongi Ichigo? Ada yang salah pada dirinya. Hisana-nee tidak pernah mengajarkan untuk berbuat seperti ini. Rukia mengacak-acak rambutnya, sebelum kemudian ia juga kembali tidur.

Dokter Isshin juga. Pasti sedang memarahinya dari surga sana. Mereka berdua—kakaknya dan si dokter penolong, mungkinkah sudah bertemu? Apa mereka sekarang berteman dan sedang membicarakan keluarga mereka yang masih hidup? Memikirkan pertanyaan yang tidak bisa dijawab, Rukia akhirnya terlelap di atas seprei bermotif kelopak mawar merah.

.

.

.

Langit cerah kembali menaungi kota Las Noches. Ichigo merapikan penampilannya di depan cermin. Semua yang terpantul di cermin, sekarang terlihat lebih segar. Padahal semalam kepalanya terasa sakit, tapi sekarang kepalanya terasa lebih ringan. Seingat Ichigo, saking beban di kepalanya berat, ia lupa sudah meminum obat atau belum.

Perubahan sikap Rukia sungguh kentara. Biasanya adik palsunya itu sudah meneriakinya dari balik pintu untuk sarapan bersama.

Berlama-lama dengan kecurigaan yang terlalu banyak, membuat konsentrasi Ichigo memburuk. Oleh sebab itu, ia cukup percaya diri untuk tidak mencurigai perubahan sikap Rukia.

Perkiraannya, mungkin luka jahitan di kulit kepala-lah, yang membuat Rukia menjadi lebih pendiam dan cuek. Kendali motoriknya masih dalam masa penyembuhan.

Ichigo mengira Rukia masih di dalam kamar. Ternyata salah. Rukia tengah berdiri di balkon sembari menyiram bonsai kerdil seperti biasa yang dilakukannya setiap pagi.

Melihat wajah Rukia yang setenang langit biru, refleks Ichigo mengeluarkan ponsel lalu memotret diam-diam sosok si gadis dari bagian samping. Hanya terlihat pipi, hidung, seluruh bagian samping kiri tubuh Rukia terpampang di layar ponsel. Juga si bonsai kerdil dan kemilau sinar mentari pagi.

Khawatir nanti ia kepergok memotret, Ichigo buru-buru menyimpan ponselnya kembali. Dia sempat kecewa ketika di meja makan ia tidak menemukan makanan apapun. 'Tidak apa-apa, dia mungkin lelah dengan urusan dapur,' pikir Ichigo maklum.

Lalu dengan langkah optimis. Ichigo mendekati Rukia yang kini masih terpaku pada si tanaman mini.

"Apa sore nanti kau sibuk?" sembari melongok di balik pintu menuju balkon, Ichigo berkata lagi sebelum Rukia menjawab pertanyaan yang ia layangkan tadi. "Aku ingin mengajakmu berbelanja di supermarket. Sepertinya persediaan dapur kita hampir habis."

"Oke," Rukia menjawab singkat seraya tersenyum lebar.

"Pukul tiga sore nanti aku akan pulang. Kau bersiaplah."

Rukia mengangguk. "Ahya, Nii-san! Tunggu sebentar!" bergegas Rukia melewati pintu sempit yang membatasi ruang dalam dan balkon, tubuh kecilnya hampir saja berdempetan dengan Ichigo yang berdiri di tengah pintu. Wangi semerbak anggur dari sampo Rukia menusuk indera penciuman Ichigo. "Aku membuatkanmu sandwich. Kupikir kau pasti tidak sempat sarapan karena bangun kesiangan. Jadi ini—" Rukia sudah berdiri di depan Ichigo seraya menyodorkan sebuah kotak makanan, "—makanlah kalau perutmu mulai lapar."

'Ayah, kenapa dulu aku bersikap jahat pada perempuan baik ini?' Sesalnya membatin, sudah lama sekali tidak ada yang membuatkannya bekal sejak ibunya mulai sibuk menjadi single perent.

.

.

"Aku mau bicara denganmu."

Wanita muda cantik dengan rambut beregelombang bagai lautan hijau tosca berdiri di depan Ichigo dengan sorot mata mengerikan. Nelliel, sang primadona kampus yang biasa Ichigo jadikan sebagai kamuflase calon kekasih sekarang ada di hadapannya. Ah, kebetulan sekali, mata kuliah keduanya sudah usai. Tidak ada salahnya, jika Ichigo memenuhi permintaan gadis itu.

Renji yang duduk di sebelah Ichigo, menyeringai lalu mengomentari keberuntungan teman oranye-nya. "Mujur sekali kau. Tidak ada umpan, tapi ikan bisa datang dengan sendirinya."

Ichigo tidak mempedulikan perkataan Renji. Ia menutup buku yang sempat ia baca tadi kemudian berdiri, membuat Nell terkesima sesaat. Memang tidak setinggi dan sekekar Grimmjow, tetapi lelaki ini terlihat lebih bersih, segar dan—muda, tentu saja, mereka seusia. Kalau mereka menjadi pasangan kekasih, pasti sangat serasi. Nell mengulum senyum, mengundang raut bingung dari Ichigo dan Renji yang juga memperhatikan.

"Kau bilang mau bicara padaku." Teguran dari Ichigo menyadarkan Nell, sedangkan Renji memutar matanya bosan. Wanita yang melihat Ichigo dengan jarak begitu dekat pasti akan bersikap sama seperti Nell, huh… semua keberuntungan itu membuat Renji iri.

Ruang kelas masih dipenuhi beberapa mahasiswa yang enggan keluar kelas untuk beristirahat. Merasa tidak akan baik jika pembicaraannya didengar banyak orang, Nell mengisyaratkan Ichigo untuk ikut dengannya dengan menarik lengan pemuda itu.

.

Kebun di sayap kanan gedung kampus sepi dari mahasiswa. Nell memastikannya dengan menengok ke tiap arah. Yakin tak ada seorangpun yang menguping percakapan mereka, gadis berbadan sintal tersebut berdehem—kemudian ia berbicara dengan suara tinggi.

"Apa yang kaulakukan pada dahi pacarku? !" sembur Nell dengan mata membulat penuh.

"Eh?" Ichigo bingung, namun otaknya yang encer bisa mencerna siapa seseorang yang dimaksudkan Nell. "Tuan berambut biru itu maksudmu?" perjelas Ichigo lagi.

"Memangnya siapa lagi? Dia mengadukan semua yang terjadi padanya. Kau sudah melukai wajahnya yang tampan!"

Ichigo ternganga. Mengadukan? Ia menertawai kata-kata itu, terdengar sangat kekanak-kanakan.

"Dia menceritakan semuanya padamu, bahkan masalah sekecil itu? Astaga, lucu sekali."

"Terserah bagaimana pendapatmu. Dengar ya—uh, siapa namamu? Ah sudahlah tidak penting," ucap Nell meremehkan. "Grimmjow sudah punya pacar seksi. Dia tidak berniat menggoda adik kecilmu, apalagi menjadikannya penggantiku. Jadi kau jangan berlagak pahlawan dengan memaki pacarku. Dan alangkah bagusnya, kalau kau menyuruh adikmu untuk tidak berlagak manis di depan priaku."

Bukannya takut, Ichigo malah melepaskan cekikikan. Sebisa mungkin ia menahan diri untuk tidak tertawa lepas.

"Hei, Nell. Daripada kau menjalin kasih dengan pria dewasa kaya yang berotak udang. Lebih baik kau pacaran denganku?" rayu Ichigo, dengan terampil ia meraih ujung rambut Nell lalu mencium wangi shamponya.

Membuat Nell tergagap. Menjalar hingga ke kedua belah pipinya yang bersemu. Wajahnya merah padam dan mata jernih Ichigo mampu mengacaukan denyut jantung Nell.

Usai pembicaraan berakhir, Nell kembali ke kelas. Begitupula Ichigo yang menyoroti pinggang Nell yang melengkung bagai biola. Indah sekali, otaknya sudah melenceng pada pesona sang primadona. Ichigo senang sekali dengan rayuan jitunya, kheh, tidak disangka ia bisa jadi seflamboyan tadi.

.

"Wow! Bravo untuk Dewa Perayu kita!" Renji menunduk-nunduk, seperti hamba sahaya yang menunduk hormat pada raja. Mendengar cerita dari Ichigo, ia luar biasa kagum.

"Hebat sekali, Ichigo. Biasanya menggoda gadis selevel Nell itu susah, tapi kau justru sukses membuatnya salah tingkah." Mizhuiro—teman satu kelas Ichigo yang lainnya ikut memuji. Sementara dua temannya yang lain menggelengkan kepala, salut dengan kehebatan Ichigo yang bisa menaklukan hati seorang gadis sepopuler Nell.

Menyenangkan sekali jika dia bisa berjalan berdampingan dengan Nell. Haha, Grimmjow Jaegerjaques—ia sudah tahu nama lengkap pria biru itu dari cerita teman-temannya di kampus—pasti merasa dikalahkan karena dipecundangi olehnya.

Dengan keyakinan seperti itu, Ichigo berniat mendekati lalu merebut Nell dari pria pembisnis yang sejak bertemu dengannya, sudah ia anggap sebagai musuh.

"Oi, bagaimana kalau kita ajak Dewa Perayu ini ke klub billiard? Setelah itu kita habiskan waktu di kolam renang yang banyak gadis cantiknya!" sayang, usulan mahasiswa bernama Asano Keigo tidak didukung sama sekali oleh yang lainnya.

"Bagaimana kalau kita ke bioskop? Ada film Kung-fu Taichi versi terbaru," Renji menimpali sambil bergaya selayaknya aktor Jet-li. Dan sepertinya Ichigo tertarik dengan ajakan Renji, dia memang sedang butuh hiburan sekarang.

.

.

Jenuh menunggu Ichigo yang berjanji akan pergi ke supermarket bersama, Rukia yang telah berpakaian bagus memilih membaca-baca kembali buku resep masakan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul enam sore. Namun tanda-tanda Ichigo pulang belum ada sama sekali. Orang itu bahkan tidak menelepon, jika memang janjinya dibatalkan.

Derit pintu terdengar. Seolah tidak menyadari kedatangan Ichigo, Rukia duduk santai di single sofa yang berada di dekat rak buku.

"Rukia—kau tidak memasak makan malam?" pertanyaan itu mengundang raut bingung dari Rukia, tapi sepertinya Ichigo tidak memperhatikan. "Uh ya, tidak usah memasak. Lagipula aku sudah makan tadi."

Menyadari kalau Ichigo melupakan janjinya, Rukia mendengus kemudian ia beranjak ke dapur.

"Baguslah, lagipula aku sedang malas memasak."

Ichigo mengamati pakaian bagus yang dikenakan Rukia. "Kau darimana tadi? pakaianmu terlalu bagus untuk dipakai di dalam rumah," lelaki itu benar-benar melupakan janjinya tadi pagi.

"Aku menunggumu untuk pergi ke supermarket."

"Oh! Astaga! Aku lupa, maaf ya hari ini aku sibuk dan lelah sekali."

"Bisa dimengerti, Nii-san," Rukia berpikir pasti Ichigo sengaja berjanji cuma untuk mengerjainya. "Aku mau mencuci piring dulu, tadi kutunda karena mau menunggumu. Ahya, mana kotak bekalmu? biar kucuci sekalian."

Kotak bekal? Ya ampun, Ichigo lupa lagi.

Lekas Ichigo membuka ranselnya dan menemukan kotak bekal berwarna ungu masih tersimpan rapi, tertimbun oleh beberapa buku di dalamnya. Dibukanya kotak tersebut, dan ternyata isinya sudah berbau.

"Ada apa?" melihat Ichigo yang belum merespons pertanyaannya, Rukia mendekati lelaki itu.

"Aku lupa dengan bekalmu."

Dalam hati Rukia merutuki kebodohannya yang mau-mau saja membuatkan Kurosaki Ichigo bekal makanan padahal bekalnya disentuh saja tidak. "Tidak apa-apa. Sudah takdir si sandwich dilupakan," hibur Rukia—pada harga dirinya yang diinjak Ichigo.

Lupa. Kata paling hebat untuk bisa memaklumi seseorang.

Sudah menunggu terlalu lama. Tidak jadi pergi ke supermarket dan bekal buatannya? Menjadi basi. Kurosaki Ichigo memang sangat pintar berbuat jahat padanya. Rukia menggertakan giginya, menggeram hanya bisa dilakukannya ketika telah berbalik menjauh.

.

Pintu kamar tertutup setelah beberapa saat lalu ia mengecewakan Rukia dengan penyakit bernama lupa. Perutnya memang sudah kenyang usai mendapat traktiran dari Renji di kedai ramen.

Ia melonggarkan dasi seragam kampus begitupun jas almamaternya yang membuat tubuhnya berkeringat. Tubuhnya telah bebas dari pakaian luar, Ichigo meraih handuk putih di lemari kemudian melangkah masuk ke kamar mandi.

Selang beberapa manit, ia sudah membersihkan diri. Lelaki itu bertelanjang dada dan hanya tersisa handuk yang menutupi pinggul hingga lutut. Rambut oranyenya basah, lalu Ichigo mengiba-ngibaskan rambutnya untuk dikeringkan.

Usai mengenakan pakaian kembali, ketika akan mengambil buku yang ia baca setiap malam sebelum tidur yang terletak di laci meja tepi ranjang. Perhatian Ichigo tertuju pada botol kecil berisi tablet pereda sakit kepala. Tutup botolnya masih terbuka.

Biasanya jika ia sudah meminum obat, ia akan menutup botolnya rapat. Tetapi—kenapa botol ini masih terbuka? Ichigo mengambil botol tersebut kemudian duduk di tepi ranjang sembari menimbang-nimbang botol itu, mengingat-ingat sesuatu yang terjadi sesaat setelah kepalanya terasa pening.

Punggung Ichigo yang semula rileks mendadak tertegak. Dia ingat kalau semalam karena kepalanya terlalu sakit ia terkapar di lantai lalu wajah Rukia muncul di dalam mimpi.

Digeleng-gelengkan kepalanya, mengingat bahwa semalam ia bukanlah bermimpi melihat Rukia, namun gadis itu membantunya untuk kembali ke kamar. Dan satu hal, sakit di kepalanya menghilang.

Ichigo mengangkat tangan lalu menepuk-nepuk kepalanya sendiri. Seperti inilah, ingatnya lagi tentang kejadian semalam meski hanya dengan apa yang ia rasakan—bukan dengan apa yang ia lihat. Seseorang menenangkan dirinya.

Tiba-tiba rasa bersalah kembali mengusik waktu istirahatnya. Ia bangkit, berniat melakukan permintaan maaf pada Rukia dengan cara yang sungguh-sungguh setelah tadi ia mengecewakan gadis itu.

Rukia sedang duduk di meja makan sambil menyantap semangkuk mie instant. Asapnya mengepul di lingkaran mangkuk, sementara Rukia terlihat memaksakan diri memakan mie yang masih panas. Ichigo melangkah mendekat, mata gadis itu melihatnya dengan raut bingung.

"Apa kau mau kumasakkan mie?"

Ichigo menyahut dengan jawaban, "Tidak." Lalu ia duduk di kursi yang bersebrangan dengan Rukia. "Kau pasti menungguku sampai tidak sempat makan."

"Tidak juga. Laparku mendadak hilang saat menunggumu pulang."

"Maaf, Rukia." Ucap Ichigo bersungguh-sungguh.

Sesaat itu Rukia menghentikan kegiatan makannya, mata cantik gadis itu terbeliak—tak percaya dengan rasa bersalah yang terlihat jelas dari mata teduh Ichigo, membuat ribuan kupu-kupu di perutnya berterbangan.

Rukia mulai merasa bersalah sudah menipu Ichigo. Karena ia merasa telah menembus hati pria itu lewat mata coklatnya yang teduh. Tidak mungkin, seseorang yang memandanginya penuh rasa bersalah mau mencelakai dirinya.

"Jangan terlalu dipikirkan," jawab Rukia enteng. Sebetulnya, dirinyalah yang harusnya memintaa maaf.

Sambil mendengarkan kembali cerita Ichigo, Rukia melanjutkan kegiatan makannya. Cerita berkembang sampai ke rencana lelaki itu yang berniat mengencani pacar Grimmjow.

"Cari gadil lain saja, Nii-san. Kau tidak malu mau merebut pacar orang."

"Sesuatu yang berharga harus diperjuangkan sekalipun harus merebutnya dari orang lain," jelas lelaki itu bersemangat. Berlebihan dan terlihat norak sekali—namun, wajah norak Ichigo mengingatkannya akan sosok dokter Isshin. Gadis itu tertawa pelan hingga membuat Ichigo menaikkan satu alisnya, heran sekaligus tidak suka.

"Rukia, kau menertawaiku?"

Sekali lagi Rukia melepaskan tawa kecil. "Barang bekas kau bilang berharga?" cibirnya lagi seraya menghabiskan mie, "Bagaimanapun Nell itu bekas pacar orang 'kan?"

Mengerti maksud Rukia akhirnya Ichigo ikut terkikik. Mereka tertawa bersama.

"Kau benar!"

Pluk. Tangan besar Ichigo mengacak gemas kepala Rukia yang berada di seberang meja. "Habiskan makan malammu," pungkasnya mengakhiri percakapan mereka malam itu.

Rongga dada Ichigo terasa panas, rongga perutnya bergolak, menggelitik sudut hatinya yang seolah telah menemukan penawar.

Dia—berhasil membuat Rukia tertawa, tertawa bebas.

.

.

.

Sayang, ibu ada di China! Di sini sedang panen mutiara. Oh ya, Urahara sudah menceritakannya pada ibu tentang pacarmu. Ibu senang sekali! Lain kali ibu akan meluangkan waktu untuk menemui kalian.

Pesan singkat itu dikirim ibunya bersama dengan foto sang ibu yang tengah memamerkan seekor kerang dengan mutiara di dalam cangkang.

Urahara! Ichigo menggeram jengkel. Mulut pria tua itu memang tidak bisa dipercaya, bahkan ia mengatakan hal yang dilebih-lebihkan. Rasanya dulu, ia tidak pernah bilang kalau Rukia—gadis yang ia bawa ke toko adalah pacarnya.

Dari belakang, Ichigo memperhatian Rukia yang sibuk mencari-cari keperluan dapur mereka.

Sepulang dari kampus, Ichigo kembali membayar janji yang dilanggarnya dengan mengikutsertakan Rukia ke supermarket. Urusan seperti ini memang lebih pantas kalau perempuan yang melakukannya.

Selama ini, hanya Ichigo sendiri yang bertugas membeli keperluan sehari-hari mereka. Dia tidak mau mengajak Rukia yang amnesia di tempat umum, takut jika gadis itu bertemu dengan seseorang yang mereka kenal akan membuat Rukia mengamuk. Pikiran muluk Ichigo tak terbukti, sebab dalam beberapa kejadian justru lelaki itulah yang sering mengamuk tidak jelas.

Deretan buah-buah segar menjadi pilihan Rukia. Ia mengambil buah apel kesukaannya dan buah jeruk kesukaan Ichigo, masing-masing setengah kilo.

"Nii-san, apa kau ingin buah yang lain?" pertanyaan Rukia merusak lamunan Ichigo yang mengikutinya dari belakang sambil mendorong keranjang besi berisi barang-barang yang mereka beli.

Ichigo memperhatikan sembari memikirkan sesuatu yang ia inginkan dari jejeran buah-buah.

"Aku ingin makan ini," ujarnya seraya mengambil sepaket kecil buah anggur segar.

"Tidak biasanya kau makan anggur."

"Anggur bisa membuatmu awet muda, Rukia."

Mereka berpindah dari rak yang satu hingga ke rak yang lain. Sampai ketika Rukia ingat kalau ia sedang membutuhkan pembalut karena persediaannya hampir habis. Ichigo menghentikan langkah, ia tidak mau mengikuti gadis itu memilih barang privasi untuk perempuan.

"Aku mau membeli beberapa minuman kaleng. Kau temui aku di sana," Ichigo beralasan kemudian ia membawa keranjang dorongnya menjauhi rak khusus keperluan perempuan.

Tak terlalu lama bagi Rukia untuk memilih satu merk yang sering ia gunakan. Ia segera menyusul Ichigo dan menaruh barang yang dibelinya tadi ke dalam keranjang.

.

Ichigo membaca tanggal kadaluarsa minuman yang ia pilih. Pun Rukia yang sepertinya ingin meminum beberapa kotak jus buah kesukaannya. Ketika sedang asyik dengan kesibukannya memilih minuman ringan, Ichigo terganggu dengan suara yang begitu familiar.

Suara dari seorang teman lamanya sewaktu SMA.

Ggio Vega tengah menelepon seseorang sambil berjalan menuju deretan minuman kaleng dimana Ichigo dan Rukia juga ada di sana. Perhatian Ichigo segera dialihkan pada sosok Rukia yang duduk berjongkok, masih mencari-cari merk minuman yang ia mau di sudut rak yang lain.

Sementara itu Ggio terus melangkah—ia belum tahu jika ada Kurosaki Ichigo yang kini berdiri cukup dekat dengannya karena sejak tadi Ggio sibuk bertelepon dan mengamati jejeran minuman sake di rak.

Barulah saat Ichigo hendak berbalik menghindar. Ggio malah memandang ke arahnya.

"Ichigo?" sebut lelaki yang tampak terlihat lebih tinggi semenjak terakhir dulu mereka bertemu di upacara perpisahan sekolah.

"Hai, Ggio."

Takut-takut Ichigo melihat Rukia yang bergerak menjauh, pindah ke deretan terigu.

"Lama sekali kita tidak bertemu. Wah sepertinya kau sedang memborong," Ggio memperhatikan barang belanjaan Ichigo yang menggunung, ia sempat terpaku dengan barang yang dibeli Ichigo termasuk—"Pembalut?" ditahan suaranya agar tidak terkikik, "Kau bersama seseorang ya? Pacar atau adik-adikmu?"

Ingin memastikan dugaannya, Ggio celingukan mencari-cari seseorang yang mungkin sedang bersama Ichigo.

"Aku sendirian. Ini cuma pesanan Karin."

"Ini Las Noches, setahuku siswa SMA belum berlibur. Lagipula—" percuma saja dengan usaha Ichigo yang berusaha mengecoh perhatian Ggio. Karena laki-laki yang dulu pernah merebut ciuman pertama Rukia sudah menemukan jawabannya sendiri.

Ggio kemudian menggulirkan matanya pada wajah tegang Ichigo. "Tidak mungkin. Kau—bersama Kuchiki?" ragu-ragu lelaki itu bertanya.

Tenggorokan Ichigo tersangkut. Ia tidak mau mengakui kalau Rukia sedang bersamanya. Mengingat betapa dulu ia sangat membenci gadis itu di hadapan Ggio dan Ishida.

"Ku-Kuchiki—tidak, kok. Mungkin, kebetulan saja dia ada di sini."

Mata Ggio kembali tertuju pada Rukia yang masih tenggelam dengan kesibukan berbelanja.

"Benarkah? Kalau begitu kebetulan sekali," senyum seringai Ggio menyentakkan Ichigo bahwa ia sudah melakukan kesalahan. Sebab Ggio malah bergerak mendekati Rukia yang berada di ujung deretan rak.

Bukannya menghentikan langkah Ggio atau segera membawa Rukia pergi dari sana. Ichigo malah berniat bersembunyi dari kenyataan bahwa dia dan gadis yang dulu dibencinya sekarang tinggal bersama.

Keputusan ada di tangan Ichigo sendiri.

Seiring langkah Ggio yang mendekati punggung Rukia, Ichigo masih berpikir keras dengan apa yang harus ia lakukan.

.

Bersambung

.

Buat readers yang capek-capek mereview, terima kasih banyak! Kalian menghibur saya di tengah rasa capek setelah ketak-ketik cerita.

.

Bagaimana, apa sudah terjawab semua? Rukia sama sekali gak dendam sama Ichigo, dan Ichigo—sedikit curiga. Tapi ada sesuatu yang membuat dia ingin mempercayai Rukia. Apalagi ya? Dan kepercayaan itu lambat-laun pasti bikin Ichigo tersiksa, tunggu saja ya yang pengen lihat Ichigo galau; menderita sendiri. Grimmjow sudah muncul lagi dan satu sifatnya yang muncul di tengah hint Ichigo sama Nell, yaitu sifat Grimmjow yang manja! 'Kan kucing biasanya memang begitu (dicakar Mr. Grimm). Ada yang penasaran sama perasaan Ishida? Umh sebenarnya, Rukia itu cinta pertamanya Ishida.

.

Saya mau kasih pelukan untuk yang review part kemarin (boleh ya?): anyaaa, Naruzhea AiChi, Izumi Kagawa, homey home, zircon mercon, KeyKeiko, Azura Kuchiki, ichirukilover30, rukichigo, Sana Uchiga, RikaKhairana, g, Nyia, darries, raracchi, En'z, sitanpaakun, Ahito Kurosaki, aeni hibiki.

Sebelum nanti mau lebaran. Saya mau mengucapkan 'Mohon Maaf kalau selama numpang di FBI saya punya kesalahan pada teman-teman.'

Part #11-nya? segera menyusul!