Damnation: Hannibal
Genre: Crime, School, Advent, Survive
Summary: It just, Boy With A Damnation.
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
Chap 10
Arc. Class Excursion Chaos (Prolog)
Pagi hari adalah waktu yang paling sibuk, terutama bagi para pelajar yang harus buru-buru mempersiapkan dirinya sebelum terlambat menuju sekolah. Semua rutinitas normal itu tidak bisa lepas dari keseharian Namikaze, meski dalam beberapa kesempatan dia terpaksa harus lepas dari rutinitas normal ini dan mulai menyimpang dari jalur norma.
Seperti biasa, Namikaze sedang mempersiapkan seluruh peralatan yang dia perlukan dalam ranselnya. Bedanya saat ini Namikaze tidak hanya mempersiapkan isi dari satu ransel, melainkan dua ransel sekaligus. Ditambah lagi, pakaian yang dia kenakan juga bukanlah seragam biasa Kuoh Gakuen. Namikaze sekarang memakai setelan tracksuit berwarna hijau dan celana training panjang.
"Ini, ambillah." Namikaze secara tiba-tiba disodorkan dengan sebuah kartu yang berukuran cukup kecil. Kartu itu bertuliskan Credit Card, lengkap dengan informasi pribadi si pemilik kartu yang tak lain dan tak bukan adalah identitas Namikaze. Padahal Namikaze sendiri tidak pernah ingat telah membuat kartu kredit sebelumnya. Ketika pandangan Namikaze menelusuri pemilik tangan itu, dia dihadapkan pada fakta bahwa pemilik tangan itu adalah sang heiress keluarga yakuza Gremory, Rias.
"Untuk apa?"
"Bukannya kau akan pergi Studi Ekskursi? Gunakan untuk kebutuhanmu." Mendengar alasan polos yang dikeluarkan Rias sungguh membuat Namikaze tidak habis pikir jika salah satu teman sekamarnya itu adalah mantan pembunuh berdarah dingin. Logikanya memang benar, dia akan pergi studi ekskursi jadi dia perlu uang saku. Namun tujuannya berada di Okutama, daerah yang terletak di sebelah barat Tokyo yang dijaga agar tetap lestari.
Jika saja Studi Eksursi Namikaze bertujuan ke tempat wisata yang dekat dengan pusat kota maka Namikaze tidak akan sungkan menerima kartu yang diberikan Rias, masalahnya saat ini adalah tujuan studi ekskursinya yang merupakan alam terbuka.
"Ini, Namikaze-kun." Ucap Sona tiba-tiba muncul di sabelah Namikaze. Terlihat dia masih memakai celemek dan memberikan sebuah kotak bekal pada Namikaze.
"Terima kasih." Kata Namikaze singkat. Disaat itulah Rias tahu letak kelemahannya sebagai perempuan. Dia tidak cukup punya perhatian untuk diberikan kepada semua calon pasangannya, selama ini yang dia manfaatkan untuk menggantikan perhatian itu adalah keindahan tubuhnya ataupun posisinya di keluarga. Tapi kelakuan itu sendiri telah mengubah persepsi yang sejak awal telah terlihat baik di mata orang biasa seperti Namikaze.
Rias pada dasarnya adalah perempuan dengan jiwa dewasa, ketika dia tahu itu maka dia akan fokus menyempurnakan sisi lain dari dirinya selain yang berkaitan dengan sifat dewasa. Contohnya adalah memberikan Namikaze secara implisit uang yang secara sadar atau tidak sadar telah membentuk image manja Ojou-sama pada dirinya. Keinginan untuk menyeimbangkan daya tariknya malah berdampak buruk pada imagenya sendiri.
"Kau ini bodoh ya? Meski pemilik Kuoh Gakuen tapi kau tidak tahu Namikaze studi ekskursi ke mana?" Sona yang melihat celah, langsung menyerang Rias dengan telak. Awalnya Sona masih pesimis setelah melihat aksi Rias yang tidak dia sangka akan menjadi spotlight dan titik balik dari acara pernikahan Rias dan Raiser, tapi masalah sepele seperti ini telah membuktikan kalau Rias Gremory yang dia lihat masihlah Rias yang dia kenal.
"kalau begitu, aku pergi dulu." Namikaze tidak ingin kehadirannya memperumit interaksi kedua sahabat ini, sejak kedatangan Rias kemarin malam, mereka masih belum berbicara banyak. Ejekan Sona kepada Rias tadi, Namikaze anggap sebagai pertanda bahwa mereka atau lebih tepatnya Sona, akan mencoba membuka topik pembicaraan lain.
Ketika Namikaze baru saja sampai di pintu depan apartemennya, dia merasa tubuhnya diputar untuk kembali menghadap ke arah Rias dan Sona. Sebuah pelukan singkat bersarang di tubuh Namikaze hingga membuat salah satu ranselnya terjatuh.
"Itterashai..." Ucap Sona setelah melepaskan pelukannya kepada Namikaze. Awalnya dia sedikit terkejut, namun akhirnya Namikaze menjawab ungkapan Sona meski hanya dengan gumanan singkat. Rasanya masih terlalu canggung untuk saling melempar ungkapan bagi Namikaze dan Sona, apalagi dengan kedatangan Rias yang berarti privasi mereka berdua tidak akan berlaku lagi dan berubah menjadi privasi bertiga.
"Akan kubawakan oleh-oleh." Setelah mengatakan itu, Namikaze langsung berbalik, mengambil ranselnya yang jatuh, lalu berangkat ke Kuoh Gakuen. Dia tidak mau terlihat mencolok karena telat berkumpul di Kuoh Gakuen untuk acara studi ekskursi yang diadakan oleh kelas 1B.
Studi ekskursi pada dasarnya sama saja dengan darmawisata, hanya saja studi ekskursi di Kuoh Gakuen hanya akan diikuti oleh satu kelas. Maksudnya setiap kelas akan menjalani acara itu di tempat dan waktu yang terpisah. Kebijakan ini muncul sebagai bentuk usaha preventif yang dilakukan oleh Kuoh Gakuen mengingat begitu konsumtifnya murid-murid disana.
Bisa dibayangkan betapa kacaunya keadaan jika ratusan orang kaya berkumpul di satu tempat wisata dan saling menginginkan barang yang sama. Dengan berbagai pertimbangan maka studi ekskursi per kelas diadakan untuk menggantikan acara darmawisata di Kuoh Gakuen.
Time Skip...
Kuoh Gakuen
Kuoh Gakuen adalah salah satu sekolah terkemuka di Jepang. Sekolah swasta ini merupakan perpanjangan tangan dari Gremory Business Incorporation yang berpusat di Tokyo, oleh karena itu Kuoh Gakuen terkenal sebagai sekolah yang berstandar tinggi, baik dalam bidang akademis maupun ekonomis. Jadi bisa dipastikan hanya ada 2 jenis murid disini.
Jenis pertama adalah murid yang pintarnya keterlaluan, dan kedua adalah murid yang berasal dari keluarga keterlaluan kaya. Dengan dua jenis murid itu bisa dipastikan hirarki yang terbentuk adalah murid kaya menindas murid pandai dengan kekuatan pengaruh finansial keluarganya.
Namikaze termasuk ke dalam murid tingkat dua karena dia mendandalkan beasiswa untuk membiayai sekolahnya di Kuoh Gakuen. Meskipun begitu bukan berarti Namikaze mengalami kesulitan finansial, karena dia punya alat pembayaran yang akan membuatnya mendapat prioritas tertinggi dalam hal apapun, yaitu emas.
Namun jika seorang pemuda dengan latar belakang yatim piatu, tinggal sendirian di apartemen, dan hanya memiliki 1 paman, sudah pasti membiayai pendidikannya dengan emas (atau uang hasil penjualan emas itu) akan membuatnya dicurigai.
"Namikaze, tolong ranselku."
"Namikaze-san, onegai!"
"Namikaze..."
"Namikazecchi!"
Terdengar suara murid-murid kelas 1B Kuoh Gakuen memanggil nama Namikaze ketika melihatnya datang. Tahu apa yang dimaksud, Namikaze langsung mengambil peran sebagai pelayan bagi mereka. Namikaze sendiri sebenarnya merasa tidak masalah jika harus bekerja lebih keras daripada yang lain atau bahkan sampai disebut sebagai pelayan kelas 1B.
Dia belajar dari peristiwa Hyoudo, dimana sikapnya saat itu masih sangat tertutup kepada siapapun. Awalnya Namikaze mengira dengan sifat tertutup itu, dia bisa membuat teman sekelasnya mengabaikan keberadaannya namun ternyata salah. Semakin dia bersikap misterius maka semakin dia menonjol dalam obrolan teman sekelasnya. Oleh karena itu dia merubah sifat tertutup itu dengan menjadi sedikit Innocent.
"Aku harap kau bisa sedikit protes, Namikaze-kun." Saat Namikaze membawakan tas-tas murid kelas 1B, Serafall tiba-tiba menghampirinya. Sebagai sensei yang tidak asing lagi dengan sistem hirarki seperti ini, dia sedikit memberi saran kepada Namikaze yang menurutnya bersikap terlalu berlebihan meski niatnya adalah menjadi tidak menonjol.
Namikaze yang mendengar saran dari Serafall hanya mengangguk saja seolah paham maksud dari perkataannya. Selama dia belum merasakan dampak buruk dari hirarki seperti ini, Namikaze tidak akan memberontak. Selama mungkin dia ingin menggunakan status pada hirarkinya di Kuoh Gakuen untuk menyembunyikan keberadaannya dari keluarga yakuza lain setelah menunjukkan wajahnya saat mengacaukan pesta pernikahan Rias Gremory.
Setelah selesai membereskan ransel yang berserakan di luar bus, Namikaze meletakkan satu ranselnya ke dalam bagasi dan membawa salah satunya ke dalam bus. Ketika naik kondisi bus itu sudah penuh dengan murid kelas 1B Kuoh Gakuen, tempat duduk yang tersisa hanyalah tempat duduk paling belakang dengan kapasitas 3-4 penumpang. Tanpa melayangkan satu protespun seperti saran Serafall, Namikaze langsung berinisiatif mengambil tempat duduk itu.
'Camping kah? Terakhir kali melakukannya yang kuingat hanyalah serigala.'
Time Skip...
Okutama Mountain
Okutama adalah daerah di pinggiran Tokyo yang masih terdapat banyak ruang terbuka hijau mulai dari hutan, perbukitan, pegunungan dan juga dialiri oleh sungai. Karena lengkap dengan semua itu, dulu Okutama sempat dibuka sebagai tempat wisata umum. Namun karena isu pencemaran oleh para wisatawan asing, sekarang Okutama hanya bisa diakses secara terbatas. Tidak semua orang bisa dengan bebas menapakan kaki disini, tapi kapasitas murid Kuoh Gakuen itu sudah bukan sembarang orang lagi.
Dengan memanfaatkan banyak koneksi dan sogokan disana-sini akhirnya kelas 1B Kuoh Gakuen berhasil menyewa Okutama sebagai tempat studi ekskursinya. Sekarang satu-satunya yang menjadi tantangan bagi mereka adalah harus mendirikan tenda sebagai tempat tidur, untuk urusan ini murid perempuan menyerahkannya pada murid laki-laki terutama Namikaze untuk memprioritaskan pendirian tenda murid perempuan.
Waktu Namikaze banyak terbuang untuk mendirikan tenda, disaat murid lain bisa bermain-main di sungai, dia dibantu dengan beberapa murid laki-laki yang cukup pengertian dengannya ikut membantu mendirikan tenda. Saat siang hari Namikaze samar-samar mendengar suara bara api terbakar, bau harum barbeque juga tercium oleh indera penciumannya. Orang yang membantunya mengajak Namikaze untuk ikut makan bersama dengan teman sekelasnya namun Namikaze menolak. Dia bilang sudah membawa bekal untuk makan siang.
Akhirnya semua murid kelas 2B Kuoh Gakuen berpesta barbeque di bantaran sungai yang tidak jauh dari tempat tendanya didirikan, kecuali Namikaze yang memakan bekal buatan Sona dengan lauk serba rebung. Setelah habis setengahnya Namikaze tidak melanjutkan kegiatan makannya, bukan karena bekalnya tidak enak namun dia ingin menyimpannya hingga makan malam sehingga dia masih bisa merasakan rasa seperti itu untuk makan malam nanti.
Pendirian tenda itu akhirnya selesai pada sore hari, dan membuat posisi mereka terbalik. Murid yang semula bermain di sungai sekarang telah sibuk di tendanya masing-masing dan Namikaze yang semula ada di daerah camping pergi ke sungai untuk menyegarkan dirinya. Mendengar suara air, angin, dan hewan-hewan khas pegunungan membuat Namikaze ketagihan menghabiskan waktunya di tempat seperti ini hingga langit telah berubah gelap.
"Namikaze! Kita akan absen malam!" Ucap seseorang dari dalam hutan memanggil Namikaze. Suara itu berasal dari wali kelas 1B yang harus mengumpulkan seluruh murid yang ada di bawah perwaliannya untuk diabsen. Setelah absen, apa kegiatan mereka selanjutnya? Tentu saja api unggun. Bermalam di hutan dan api unggun adalah 1 hal yang tidak bisa dipisahkan
Setelah absen malam, Namikaze sebenarnya sedikit tertarik dengan acara api unggun, namun ketertarikannya langsung hilang setelah tahu kalau api unggun itu bukanlah api unggun konvensional, melainkan sebuah gadget yang menyerupai api unggun. Gadget itu berbentuk seperti api unggun namun cahaya, hawa panas, dan bau yang dikeluarkan bukan berasal dari kayu yang terbakar alias hanya menyerupai.
"Tidak ada yang bisa kulakukan disini." Setelah merenung di dalam tendanya, Namikaze memutuskan bahwa tidak ada gunanya untuk berada disini. Maka dari itu dia memutuskan untuk ke pergi ke sungai tempatnya beristirahat Sore tadi. Kali ini Namikaze tidak pergi kesana dengan tangan kosong, dia membawa sebuah kamera yang dikalungkan di lehernya sembari berharap ada sesuatu yang menarik untuk dia abadikan menjadi foto.
Menurut peraturan, setelah hari gelap maka tidak boleh berpergian sendiri apalagi diluar area perkemahan, maka dari itu Namikaze berusaha sesenyap mungkin ketika pergi dari tendanya. Ketika sampai di sungai tujuannya, Namikaze kembali dihadapkan pada suasana yang menenangkan hatinya. Berbagai suara tercampur menjadi satu harmoni seolah merefresh pikirannya dari semua kejadian buruk yang menimpanya belakangan ini. Hyoudo, Sitri dan terakhir Gremory, meski tidak semuanya berakhir dengan damai namun Namikaze senang bisa melewati itu semua meski hubungannya sekarang mulai kusut.
Di tempat yang penuh rumput, Namikaze merebahkan badannya. Melepaskan kepenatannya setelah seharian mendirikan tenda untuk murid-murid kelasnya. Melihat pemandangan langit yang penuh bintang, terpikirkan di benak Namikaze untuk mengabadikan pemandangan astronomi itu.
Untuk itu Namikaze langsung membidikkan lensa kameranya menghadap ke atas, dia memotret dengan speed yang lambat sehingga untuk sebuah gambar saja memerlukan waktu yang cukup lama dengan posisi kamera yang tetap stabil.
Perjuangan Namikaze membuahkan hasil setelah melihat hasil foto dari kameranya. Sebuah gambar yang sangat bersih dari polusi cahaya perkotaan sekelas Tokyo telah dia dapatkan dari tempat ini, mungkin gambar ini bisa jadi oleh-oleh bagi Rias dan Sona. Ketika Namikaze hendak merubah angle kameranya untuk membidik rasi bintang tertentu, Namikaze melihat ada cahaya api unggung di seberang sungai, tidak akan terlihat dari arah perkemahannya namun masih terlihat samar-samar dari bantaran sungai. Awalnya Namikaze ingin mengabaikan cahaya api itu tapi ada beberapa hal yang mengganggunya.
Jika kelasnya yang berisi para elit saja perlu banyak usaha untuk bisa berkemah di tempat eksotis seperti Okutama, kenapa ada orang lain yang bisa berkemah disini? Kalaupun api unggung itu adalah perkemahan dari polisi hutan, rasanya tidak mungkin jika mereka melakukan perkemahan tanpa memperingati hari tertentu.
Namikase meyakinkan dirinya sendiri sebelum akhirnya menyeberangi sungai dan memeriksa api unggun yang mencurigakan itu. Arus air sungainya memang tidak deras, namun suara langkah Namikaze yang menyeberang disana terdengar berisik, hal itu membuat Namikaze semakin waspada saat berjalan semakin dekat dengan api unggun itu. Ada kemungkinan posisinya sudah diketahui karena suaranya saat menyeberang sungai tadi.
Ketika sampai di tempat api unggun seberang sungai itu berada, Namikaze dihadapkan pada sebuah perkemahan yang mirip dengan perkemahannya. Hanya saja saat ini di depannya hanya ada satu tenda, seorang perempuan yang memegang gitar akustik, dan sebuah gadget api unggun dengan sebuah replika pedang yang menancap di tengahnya. Terlihat perempuan itu sedang asik menyanyikan lagu country dan tampaknya tidak menyadari kedatangan Namikaze.
"Konbanwa..." Namikaze memberanikan diri untuk membuka percakapan diantara mereka. Seperti yang dia duga, perempuan itu sejak awal memang tidak merasakan kedatangannya terlihat dari badannya yang sedikit tersentak kaget lalu dengan cepat perempuan itu mengambil pedang yang menancap di tengah-tengah gadget api unggung buatan itu.
Meski secara urutan, Namikaze yang mengagetkan perempuan itu namun pada akhirnya yang terkejut sendiri adalah Namikaze. Aksi perempuan tadi yang secara reflek mencabut pedang di tengah gadget api unggun itu sangat tidak diperhitungkan oleh Namikaze. Bahkan dia mengira jika pedang yang menancap di tengah api unggun adalah replika, namun pikiran itu langsung hilang ketika mendengar suara logam yang saling bergesekan ketika pedang itu dicabut.
Pedang itu adalah pedang asli.
Sementara itu perempuan yang kegiatan berkemahnya dikejutkan oleh kedatangan Namikaze perlahan menurunkan todongan pedangnya pada Namikaze setelah melihat perawakannya yang mengindikasikan remaja sekolahan.
"Apa yang kau lakukan disini, berkemah sendirian?" Tanya Namikaze setelah tensi diantara mereka berdua menurun. Kini perempuan itu telah kembali ke posisi awalnya duduk menghadap ke gadget api unggun, dia terlihat mengacuhkan Namikaze.
Sementara itu Namikaze yang diacuhkan malah merasa jika sikap itu adalah izin baginya. Jadi dia mengambil tempat duduk di samping perempuan yang telah kembali memegang gitar akustik di tangannya.
"Almost heaven, West Virginia. Blue Ridge Mountains, Shenandoah River"
"Life is old there, older than the trees." Awalnya perempuan itu memulai beryanyi lebih dulu namun baris berikutnya langsung dipotong oleh Namikaze. Tidak ada protes yang dilayangkan oleh keduanya, malahan sekarang perempuan itu bisa fokus dengan petikan gitarnya untuk mengiringi Namikaze yang mengambil alih sebagian besar peran sebagai penyanyi.
Malam itu di tengah kegelapan Okutama, mereka berdua bernyanyi bersama di bawah cahaya bintang di galaksi Milky Way yang menerangi bumi, meski pada kenyataannya mereka baru bertemu saat itu juga dan hanya bermodalkan tahu lagu yang sama. Petikan gitar perempuan itu berhenti ketika lagu yang mereka nyanyikan telah habis. Tidak seperti tadi, kini sikap yang ditunjukkan perempuan itu terlihat lebih manusiawi mengajak Namikaze bersalaman.
"Siapa namamu?"
"Namikaze, Namikaze Naruto."
"Kau tidak ingin bertanya namaku?"
"Idealnya seluruh perempuan yang terjebak di situasi seperti ini akan menolak memberitahu nama mereka."
"Hmpff..." Gelak tawa yang tertahan itu berhasil membuat Namikaze tertarik untuk melihat ke arah sumber suara setelah dari tadi hanya memandangi gadget api unggun dengan pedang yang menancap di tengahnya. Jarak mereka yang duduk bersebelahan membuat Namikaze bisa dengan jelas melihat seperti apa perawakan fisik terutama bagian wajah perempuan yang berkemah di seberang perkemahan kelasnya itu.
"Kenapa? Kau tertarik denganku? Namaku adalah Xenovia, Xenovia Quarta."
~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~.~
A.N:
Well... saya lebih milih nurunin tempo menulis ajalah. Gak mungkin cerita kek gini saya tamatin cepet-cepet, hiatus pun juga masih belum bisa nargetin. Jadi ya... sesuai kelengangan saya aja.
Dan sekarang saya sampe ke tahap dimana mulai berkurang orang yang mempertanyakan cerita ini. Artinya? Kualitas cerita ini tidak seperti yang saya harapkan.
Entah kenapa saya sangat suka mengcall back drama song fic yang dulu pernah gede. Well... saya pribadi ingin masukin 1 lirik lagu lagi, dari MGS 3 tapi bukan dalam waktu dekat kayaknya. Tapi... masalah gak sih kalo saya masukin lirik kek gini? Mungkin banyak yang gak nangkep referensinya kali ya.
2-3K word adalah sweet spot buat saya, kalaupun ada yang kelebihan dulu itu karena alurnya berantakan.
Satu lagi saya ingin nanya (terserah jawabnya dimana), apa yang menarik dari fanfic ini?
Jujur saya masih ngeliat tulisan ini sampah. Saya gak membandingkannya lewat data kuantitatif seputar review, view, visitor, dan sebagainya, tapi secara kualitatif saya menilai fic ini ancur dan ya, saya sudah meminta pendapat orang lain juga dan dia sependapat dengan saya.
Jadi kesulitan saya dalam menulis fic ini adalah menyeimbangan antara demand yang sangat generik namun tak terbatas dengan offer yang sebisa mungkin variatif. Tambahan, saya disini mengajak kalian untuk meramaikan grup facebook Fanfiction net Indonesia.
