Naruto © Masashi Kishimoto

.

.


.

Falling Love

.


Chapter 9

.


.

Don't Like Don't Read

.

.


Enjoy for reading …


.

.

Sakura's POV

"Sakura …" Suara ini, aku mengenalnya. "Sakura …"

Ini suaranya… aku tidak salah lagi, ini suara –Sasuke— aku berbalik dan menemukannya berdiri di depan sana.

Kemudian aku melihat salju turun, karena aku merasakan dingin di wajahku. Ia mendekat ke arahku sambil memasang senyum bengkong-nya yang selalu membuatku terjerumus pesonanya. Ia mendekat lagi sampai berada di hadapanku dan memeluk sekeliling pinggangku dengan tangannya yang besar dan kekar, "Kau cantik sekali memakai kalung ini." Bisiknya sambil membelai pipiku, ia memajukan wajahnya, membuatku tidak bisa bergerak maupun bernafas, apa yang akan ia lakukan?

Pipiku sudah memanas karenanya.

Dan sekali lagi aku merasakan salju membasahi wajahku, ia masih memajukan wajahnya bersandar ke arahku. Dan aku, tanpa tahu apa yang akan terjadi reflek memejamkan mataku, dan sedetik kemudian aku merasa hangat dan lembut dibibirku, Sasuke … Ia menciumku? Mencium bibirku? Oh, tuhan, aku masih merasakan bibirnya di bibirku, tapi anehnya. Kenapa rasanya seperti berbulu, sejak kapan Sasuke mempunyai jenggot?

Lagi-lagi aku merasakan wajahku terkena salju dan ini berlebihan hingga aku merasakan dingin, dan ….

"Bangunlah, Forehead!!" Aku membuka mataku lebar-lebar, apa tadi? Aku bermimpi? "Sudah selesai dengan mimpimu?"

Aku melihat Ino berdiri di sampingku sambil membawa gelas berisi air, aku tidak perlu tahu ia membawa itu untuk apa? Karena saat ini aku merasa wajahku basah, mengerti aku masih memandang gelas dalam genggamannya ia ikut melihat ke arah pandangku.

"Oh, hanya mencoba membangunkan putri tidur yang sedang bermimpi," ucapnya sambil mengangkat gelasnya ke udara. "Sepertinya mimpi itu berbau erotis, benar?"

Aku melotot ke arahnya, dan ia menyeringai. "Oh maaf, aku tahu aku menyebalkan. Ini balasan kemarin, Forehead! Dan aku hanya membantu agar kau cepat sadar," ucapnya sambil meletakkan gelas ke meja, kemudian melipat tangannya di dada. "Sekarang! Kau tahu ini jam berapa? Kami semua sudah menunggumu selama satu jam lebih!"

Aku menguap dan mengusap mataku yang berair akibat ulah Ino, "Memang ini jam berapa?" tanyaku. "Kita janjian jam enam pagi kan?"

"Bagus!" ucapnya marah. "Kami sudah di sini dari jam setengah enam dan ini sudah jam tujuh lebih lima belas menit, dan kau masih santai begini?!"

"Tujuh lebih lima belas menit?" aku menyibak selimutku dan berlari ke arah jendela kamarku, sudah banyak teman-temanku yang berada di depan rumah. "Sial! Maaf Ino, aku kesiangan."

Ino mendengus, "Minta maaflah ke mereka. Mereka yang dengan sabar sudah menunggumu."

Aku mengabaikannya dan berlari menuju kamar mandi, kenapa aku bangun kesiangan? Kemana bunyi alarm sialanku disaat aku benar-benar membutuhkannya. Untung semalam aku sudah sekalian mengepak pakaianku di tas, kami semua menginap di sana sekalian, dan kembali minggu malamnya.

Ino sudah tidak ada di kamarku saat aku sudah selesai membersihkan diri, ngomong-ngomong kemana semua orang di rumah ini? Biasanya mereka berkoar-koar ke kamarku untuk membangunkanku, Kaasan tidak ke kamar, begitu pula si monster awet muda Nissan juga tidak ke kamarku dengan suara berisiknya membangunkanku. Kemana mereka pergi?

Aku memakai pakaian casual biasa untuk perjalanan menuju ke Suna dengan adanya pemanis di leherku karena aku memakai kalung. Pakaian yang akan aku kenakan untuk pesta nanti sudah aku siapkan di dalam tas. Aku berlari ke bawah dan tetap tidak menemukan orang di rumah ini, kecuali bibi Ayame, yang menitip pesan di meja memberitahuku kalau ia ke supermarket untuk berbelanja. Aku tidak mau ambil pusing kemana anggota keluargaku pergi sekarang. Karena aku sudah telat, dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah aku keluar dari rumah.

Saat aku sudah sampai di depan dan menutup pintu rumah, aku langsung mendapat tatapan tajam dari segala penjuru. "Sudah bangun, Sakura?!" seru Tayuya si gadis berambut merah menyala yang tergila-gila dengan sepupu merahku, ia melipat tangannya di dada dengan tatapan siap menerkamku kapan saja.

"Kau kurang lama, kalau kurang kau bisa tidur lagi." Ucapan Kiba memang terkesan biasa, tapi aku tahu kalau ia sedang menyindirku.

Belum sampai disitu kemarahan teman-temanku. "Butuh berapa orang lagi untuk bisa membangunkanmu tadi, Sakura?!" Aku tidak bisa membalas ucapan dari Sakon. "Kami dibuat lama hanya untuk menunggumu, menyebalkan!" dan juga saudaranya Ukon.

Aku tahu mereka hanya ingin pelampiasan karena menungguku lama, aku hanya membalas tersenyum dan menunduk. "Maaf," ucapku pelan, kemana Ino dan lainnya disaat aku membutuhkannya? "Jadi … apa bisa kita berangkat sekarang?"

Mereka semua masih menatapku, aku tidak bisa bergerak sekarang, dan senyum di wajahku perlahan menghilang. Ayolah … aku tahu aku salah, tapi apa hanya, oke bukan sekedar hanya. Aku telat satu jam lebih, karena aku tidak tahu mereka sudah di rumahku dari jam setengah enam, aku benar-benar minta maaf . Apa aku tidak bisa dimaafkan?

"Sudahlah … kita berangkat sekarang, atau kita akan berakhir di sini dan tidak menghadiri pesta Gaara." Terima kasih karena masih ada malaikat berwujud Toneri yang menolongku, dan kini semua mata yang masih memandangku beralih dan bergumam sendiri sambil memasuki mobil yang mereka naiki.

Ya mau bagaimana lagi, hanya aku satu-satunya orang yang tahu dimana villa keluarganya Gaara, tanpa aku mereka tidak akan pernah sampai kecuali mereka bersama Gaara atau memilih memakai GPS sambil berkeliling mencari letak villanya. Aku tidak tahu mana yang lebih efektif dan efisien.

Aku mengangkat bahu melihat teman-temanku membubarkan diri mereka. "Terima kasih Toneri, aku berhutang nyawa denganmu pagi ini." Ucapku sambil memasang senyum.

"Sama-sama," ucapnya dengan senyum terpatri di wajah tampannya. "Oh, dan ngomong-ngomong teman kita Matsuri, tidak ikut bersama kita. Ayo masuk." Ucapnya sambil memasuki mobilnya, kemudian Ino tiba-tiba menyusulnya memasuki mobil dengan menjulurkan lidahnya ke arahku. Si Pig, sialan!

"Sakura-chan, kau baik-baik saja kan? Tadi Ino-chan mengajakku ke rumah Kurenai Ba-san karena diminta Mebuki Ba-san menyampaikan pesannya. Maaf ya meninggalkamu." Hinata masih saja gugup hanya untuk bicara begini denganku. Aku membalas anggukkan kepala dan senyuman, kemudian ia memasuki mobil duduk bersebelahan dengan Ino.

Aku kemudian mengingat perkataan Toneri, kenapa Matsuri tidak bersama kami? Aku memasuki mobil dan duduk di samping Toneri. Ia kemudian melajukan mobilnya. Dan mobil lainnya mengikuti dari belakang kami.

"Kenapa Matsuri tidak ikut?" tanyaku sambil memandang Toneri.

Ino mendesah di belakangku. "Pertanyaan retoris," aku membalikkan badan. "Kau tahu retoris'kan? Jelas Matsuri ikut, Forehead…"

"Lalu kemana dia?" kenapa Ino menggunakan kata-kataku kemarin, ia sengaja atau apa?

"Dia diculik pangerannya." Jawab Ino dengan nada kesal. "Aku tidak tahu ternyata Gaara kembali ke Konoha hanya untuk menjemput permaisurinya."

"Ino-chan cemburu?" Hinata berkomentar, aku menahan tawa dan berbalik menghadap depan, Toneri ternyata juga terkikik geli.

"Aku tidak cemburu," Ino membantah opini Hinata.

"Baiklah, tadi kau ke rumah Kurenai Ba-san ada apa? Kaasan menitipkan pesan apa?" tanyaku masih menghadap depan. Perjalanan kami membutuhkan waktu kurang lebih dua jam untuk sampai ke Suna.

"Ia berpesan untuk menitipkan rumah, karena semua kerluargamu pergi ke Suna untuk menghadiri acara keponakannya, Kaasan dan Tousan mu sudah membangunkan mu tadi, tapi kau tidak mau bangun karena mimpi erotis—mu!" Jawabnya dengan seringai yang bisa aku dengar meski aku tidak sedang melihatnya, dan apa-apaan dia? Menyimpulkan kalau aku tadi bermimpi seperti itu?

Dan ini berdampak. "Sakura apa?" Toneri sudah menyeringai, Ino sialan!

"Oh, Tuhan, kau harusnya tadi ikut denganku, Toneri. Kau melewatkan bagaimana Sakura memajukan bibirnya tadi, dia benar-benar maniak sekarang." Oke, semuanya sudah tertawa sekarang, apa ini sesi pembalasan?

Toneri masih menyeringai. "Aku menyesal tidak ikut denganmu, dan benar-benar penasaran sekarang," ucapnya senang, aku melotot ke arahnya tapi dia mengabaikannku. "Seharusnya kau memotret-nya dan memberikan itu ke sepupunya untuk hadiah."

"Aku rasa setelah memberikan Gaara potretnya yang seperti itu dia tidak mau mengenalnya." Tawa Ino membuat pipiku memanas.

Aku berbalik dan memasang senyum palsu. "Sudah puas, Ino-chan?"

Ia masih tertawa sampai pipinya memerah, Toneri masih terkikik geli di sampingku dan Hinata, setelah melihat senyum palsuku dia langsung membalasnya dengan senyum lembutnya.

"Oh … aku kurang puas, seharusnya Matsuri ada di sini, dia pasti sudah memotret mu tadi," ucapnya sambil menahan tawanya keluar. "Kau beruntung dia tidak di sini, Forehead."

Aku mengabaikannya dan mendesah, aku biarkan saja dia hari ini. "Hei … Pig! Kau bertemu Sasori-nii waktu kau membangunkan ku?"

Ia masih tertawa pelan. "Tidak … dia tidak ada di rumah saat aku dan lainnya di rumahmu, sepertinya dia sudah ke Suna atau ada kuliah mungkin. Kau adiknya kenapa kau bertanya padaku?"

Aku menahan untuk tidak membekap mulutnya, kalau aku tahu dimana Sasori-nii berada sekarang, kenapa aku harus repot-repot bertanya dengannya. Dasar!

Aku berbalik ke depan lagi dan terdiam di samping Toneri, suasana kembali sunyi. Mungkin mereka heran kenapa aku tidak membalas ejekan Ino, aku membiarkannya menang, tapi untuk kali ini saja. Tolong dicatat, kali ini saja. Dan suasana yang sunyi ini membuatku teringat semalam Sasori-nii memberikanku kalung. Aku menunduk dan melihat kalung indah yang bertengger manis di leherku, dan aku tidak bisa menyembunyikan senyumku sambil menggenggam bandulnya. Semalam aku juga menceritakan mengenai pesan-pesan yang aku terima sudah terbaca saat aku menerimanya, dan aku bilang, kalau aku tidak marah atau kesal seseorang membuka privasiku, dan Sasori-nii tercengang mendengar ini.

Aku juga merasakan hal yang sama dengan Sasori-nii, aku bahkan tidak merasa apapun saat Sasuke membaca pesan-pesanku.

Dan ini membuat Sasori-nii kembali menggodaku, dan aku entah kenapa melupakan kejadian di Mall yang membuatku berpikiran kalau Sasori-nii dan Shion bermain api di belakang Sasuke, aku benar-benar mengabaikannya sekarang.

"Ada apa Sakura?" aku menoleh saat Toneri bertanya padaku.

Aku masih tersenyum. "Ehm … tidak ada apa-apa?"

Toneri sepertinya tidak percaya dengan jawabanku, ia sejenak melihatku yang sedang memegang bandul kalung dan beralih ke depan lagi. "Kalungmu cantik?" ucapnya tiba-tiba.

Ucapan Toneri membuatku semakin tersenyum lebar. "Kalung? Siapa yang memakai kalung?" oh, kenapa disaat senang-senangnya ada pengganggu? Mau apa lagi si Pig ini? "Kau Forehead yang memakai kalung?" Dan Ino tiba-tiba muncul di antara kursi ku dan Toneri dan menatap tepat ke arah leherku.

Ia menatap intens bandul berbentuk kelopak bunga Sakura yang ada di kalung ini. Dan kemudian membelalak kaget. "Dari siapa ini, Forehead?!" tanyanya dengan tatapan meng-intimidasi. "Tidak mungkin kau beli sendiri, aku tahu hal-hal berbau aksesoris seperti ini. Kau tahu, kalung ini bahkan limited edition dan sejajar dengan kalung mahal. Jadi dari siapa kau mendapatkannya? Atau jangan-jangan kau mencurinya?" Oh. salahkah aku kalau saat ini aku ingin melempar manusia bernama PIG ini keluar dari mobil? Tapi … apa benar yang dikatakan Ino, kalau kalung ini sangat mahal, bahkan Limited Edition.

Toneri terkikik geli di samping. "Kenapa kau tertawa?" Ino beralih ke Toneri. "Atau jangan-jangan kau yang membelikan Sakura kalung ini, benar ketua?"

Aku yang semula termenung memikirkan kalungku terkesiap, dan Toneri berhenti terkikik. "Kenapa tidak dijawab? Benarkan itu pemberianmu, Ketua?"

Aku benar-benar akan membunuhnya kalau dia tidak bisa berhenti mengoceh.

Tiba-tiba Toneri mengerem mobilnya, membuatku dan Ino telempar ke depan. Ino mengumpat kesal. "Toneri!" Serunya marah, dia hampir terlempar ke depan kalau tidak menahan tubuhnya tadi. "Kau mau membunuhku ya?!" Aku tidak mau menyalahkan Toneri, aku sudah tertawa pelan melihat Ino bertampang seperti itu dan aku mendapat deathglare darinya. Aku mendengus, karena dia yang salah karena tidak duduk dengan benar dan tidak memakai sabuk pengaman.

"Maaf … aku tiba-tiba mengerem, lampu menyala merah dan aku tidak memperhatikan." Ino sudah kembali duduk di kursinya dengan wajah kesalnya.

"Ku beri kau nilai 10, karena sudah membuat singa kembali ke sarangnya." Hinata yang semula diam saja ikut tertawa pelan.

"Hinata … kau juga membela mereka?" Ino merengek dengan wajah suramnya.

Aku masih tertawa dan Toneri yang di sampingku ikutan tersenyum. "Tidak Ino-chan, kau seharusnya melihat wajahmu sekarang. Kau terlihat lucu." Hinata masih terkikik geli, memang saat ini wajah Ino terlihat berantakan, aku tidak tahu kenapa ia seperti ini, apa karena Matsuri yang tiba-tiba diculik pangerannya atau ia masih masa PMS? Aku tidak tahu. Yang jelas menggoda Ino adalah hobi kami.

"Kalian menyebalkan!" Ia berseru sambil melipat tangannya di dada sambil menatap samping.

Aku menoleh ke arahnya. "Terima kasih pujianmu, Pig." aku tidak bisa menghilangkan seringai di wajahku. "Kau beruntung karena Matsuri tidak di sini sekarang." ucapku mengulang kata-katanya tadi, dan Ino menatapku dengan wajah memerah.

Lihat … mudah sekali membuatnya marah. Aku menang lagi.

Sepertinya perjalanan kami lebih menyenangkan kalau ada Matsuri yang jelas-jelas akan ikut andil menggoda Ino selama perjalanan menuju Suna, aku kembali berbalik menghadap depan dan diam-diam memikirkan perkataan Ino, semahal inikah harga kalung ini? Apa maksud semua ini?


oOo


.

Kami sudah sampai di Suna, aku sebenarnya mengantuk sekali tapi karena aku navigasi di sini jadi aku memaksakan untuk tetap terjaga. Dan tengoklah ke belakang, ada dua bidadari berbeda warna rambutnya yang sedang tertidur pulas.

"Kau bisa tidur Sakura, ini masih lama untuk mencapai puncak, tidur sebentar tidak akan membunuhmu." Toneri melihat ku sebentar dan menatap depan lagi, memang kami sudah sampai di Suna, tapi villa keluarga Gaara berada di puncak, butuh waktu kurang lebih tiga puluh menit untuk mencapai ke sana.

Aku menggeleng. "Tidak Toneri, aku ingin melihat kampung halamanku. Jadi aku tidak mau kehilangan pemandangan dan suasana tenang di Suna."

Toneri mengangguk dan tersenyum, sepertinya dia mengerti maksudku.

Kami terdiam sesaat sampai bunyi ponselku yang memecah keheningan. Aku melihat layar ponselku dan langsung mengangkatnya.

"Halo niisan. Kau dimana?"

Aku mendengar suara berisik di seberang sana. "Aku masih di kampus, aku ada kelas tadi pagi. Kau sudah sampai?"

Rupanya dia ada kuliah. "Aku sudah sampai di Suna, ini perjalanan ke villa."

"Oh baiklah, Kaasan tadi mengirim pesan kalau dia tidak di Villa di acara nya Gaara, hanya ke rumah nenek dengan Tousan, para orangtua tidak ikut acara anak muda." Sasori-nii berbicara dikerumunan orang, dan tiba-tiba aku mendengar suara Sasuke yang memanggil Sasori-nii.

"Hei … Sasori! Dimana Shion?"aku membeku di tempat dudukku.

Aku mendengar Sasori-nii membalas pertanyaannya. "Aku rasa dia ke tempat parkir, ada apa?"

"Dia membawa ponsel dan juga mobilku, aku butuh dia sekarang juga!"

"Oh baiklah, kau susul saja dia di tempat parkir, sebentar lagi aku susul." Setelah itu aku tidak mendengar Sasuke menjawab perkataan Sasori-nii, aku masih terdiam tidak tahu mau melakukan apa.

"Hallo … Sakura."

"Hallo … kau masih di sana, nona bengong?"

"HALLO!" aku tersentak dan menjatuhkan ponselku di pangkuanku. Toneri menoleh ke arahku dengan wajah bingung.

Aku mengangkat ponselku lagi. "Iya hallo, ada apa niisan?"

Aku mendengar ia mendesah. "Masih melamun, heh!" aku tersenyum kikuk. "Aku sebentar lagi ke sana, aku nanti ke rumah nenek sebentar. Sampai jumpa di sana jidat!" belum aku membalas ucapannya, ia sudah memutuskan sambungan teleponnya. Dasar baka aniki!

"Ada apa Sakura?"

Aku melihat Toneri. "Sasori-nii, dia bilang akan menyusul sebentar lagi."

Toneri mengangguk, "Apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terihat lesu, apa kau mengantuk? Kau bisa tidur." Ucapnya dengan wajah khawatir, apa ekspresiku mudah sekali ditebak? sampai-sampai Toneri bisa membacanya. "Aku bisa menelpon Gaara untuk memberiku arahan ke Villa-nya." tambahnya sambil melihatku lagi.

Aku menggeleng. "Aku tidak apa-apa, sungguh. Dan itu tidak efektif kalau kau menelpon Gaara sedangkan kau punya navigasi di sini." Jawabku mencoba membuatnya percaya aku baik-baik saja, meski aku tidak tahu sebenarnya aku baik-baik saja atau tidak.

Toneri tertawa pelan. "Kau benar, kau navigasi untukku dan juga lainnya, kau tidak dapat telepon dari Tayuya atau Kiba atau Lee yang mengeluh tertinggal kan?"

Aku terdiam sambil mengecek ponselku, kali saja ada panggilan yang tidak aku dengar, ternyata tidak ada. "Tidak … sepertinya mereka tertib mengikuti arahanmu, Ketua." Ledekku dengan senyum terpatri di wajahku.

Kami tertawa pelan dan ponselku berbunyi tanda pesan masuk.

Untukmu tidak masalah, aku tidak sabar ingin melihatmu malam ini.- Sasuke

Pesan ini … Ia membalas pesanku, kemarin kalau aku ingat-ingat Sasuke belum membalas pesanku dan ia baru saja membalasnya. Tapi kemudian aku teringat kalau tadi ponselnya dibawa Shion. Apa aku membuat kesalahan? Sepertinya nada bicara Sasuke tadi seperti panik, apa jangan-jangan ia takut kalau pesan-pesannya denganku ketahuan dengan Shion? Ini membuatku seperti seorang selingkuhan yang tidak ingin diketahui oleh siapapun. Kenapa rasanya sakit sekali, seharusnya aku sadar diri. Aku membiarkan pesannya dan mencoba mengontrol perasaanku.

Aku mendengar Ino mengerang di belakang, sepertinya bidadari kita sudah bangun.

"Sampai dimana kita?" tanyanya sambil merenggangkan badan langsingnya.

Aku menoleh ke belakang. "Sebentar lagi sampai."

Ya perjalanan panjang kami sudah mencapai lokasi yang akan menjadi tempat liburan singkat kami, dan saat ini kami disambut pemandangan puncak yang jarang kami lihat di kota besar seperti Konoha. Ini membuatku ingin mampir ke rumah nenekku, Chiyo. Tadi kalau tidak salah Sasori-nii ingin mampir, aku juga ingin ke sana juga, nenekku sangat menyayangi ku lebih dari cucunya yang lain, dia selalu mengingkanku untuk cepat-cepat menikah dan menjadi dokter. Permintaan pertamanya sulit untuk aku kabulkan, nyatanya aku sampai sekarang belum memiliki seseorang untuk aku kenalkan ke nenekku. Setiap mampir hanya 2 kata yang membuatku tidak bisa menemui nenekku, yaitu, 'Mana kekasihmu?' oh ayolah, aku bahkan belum lulus SMA, umurku masih 18tahun dan nenekku begitu tergila-gila ingin aku cepat-cepat menikah dan memiliki anak.

Bagaimana bisa mempunyai kekasih?

Kalau aku saja jatuh cinta dengan pemuda yang sudah mempunyai seseorang dihatinya, dan bodohnya aku, kenapa aku justru semakin mencintainya?

Aku menggenggam bandul kalungku, bolehkah aku berharap?

"Setelah ini kita kemana?" pertanyaan Toneri memecah lamunanku.

Aku berdeham. "Lurus saja nanti ada belokkan ke kanan kau belok disitu dan Villa-nya Gaara ada di pojok sendiri." Jawabku masih memeggang bandul kalungku.

Sebentar lagi kami sampai tujuan kami, dan aku tiba-tiba memikirkan Sasuke yang tadi sempat terdengar di seberang sana saat Sasori-nii menelponku. Aku mengeratkan genggamanku dibandul kalung yang kini terpakai manis di leherku.

Masih bolehkan aku berharap?

Kata-kata itu terngiang di otakku setelah aku menerima kalung ini.

Dan sampailah kami di depan Villa, Toneri mengawali keluar dari mobil diikuti yang lainnya. Ino dan Hinata sudah sepenuhnya sadar dari mimpi indah mereka.

"Kau mau disini terus, Forehead?" Ino menatapku yang masih berdiam diri di kursi penumpang, ia sudah membuka pintu.

"Sakura-chan, kau baik-baik saja?" giliran Hinata yang bersuara. "Kau bisa beristirahat setelah ini, kau terlihat lesu."

Aku mendesah, ekspresiku benar-benar mudah ditebak rupanya. "Yah … sepertinya aku kurang baik dan aku perlu tidur, karena tadi aku sedang menjaga bidadari tenang dengan tidurnya." ucapku bercanda.

Ino mendengus. "Terima kasih!" ucapnya sarkasme sambil keluar dari mobil dan membanting pintu.

"Ayo, kau perlu istirahat, dan maaf sudah membuatmu menjaga kami." Ucapan Hinata membuatku mengingat ucapan bodohku beberapa saat lalu.

Aku tersenyum. "Kata-kata itu untuk Ino, bukan untukmu Hinata."

"Aku tahu, jadi ayo kita masuk dan buat dirimu semangat lagi."

Aku rasa Hinata benar, aku keluar dari mobil diikuti Hinata, kami sampai di sini pukul sepuluh lebih tiga puluh menit. Tidak bisa selalu tepat waktu bukan, kami masuk dan disambut Gaara yang hanya sendirian di villa tanpa Matsuri. Aku bisa menduga kalau Matsuri bersama nenekku. Karena selain aku, nenekku juga menyayangi Gaara dan Sasori-nii, tapi tentu aku yang paling disayangnya. Dan aku sudah mengira kalau nenek senang karena cucu tertampannya sudah memiliki kekasih, memikirkan hal ini membuat mood-ku semakin turun.

Aku memasuki kamar untukku, Ino dan juga Hinata ditambah lagi Matsuri yang tas nya sudah tergeletak di kamar ini. Aku memutuskan untuk mengistirahatkan pikiran dan perasaanku yang membuatku lesu seperti ini. Aku membiarkan Ino dan juga Hinata membongkar tas mereka.

Hari ini adakah keajaiban atau kesialan lagi untukku?


oOo


.

.

Sasuke's POV

Aku baru saja mengecek ponselku pagi tadi setelah aku matikan sambil aku charger semalaman, aku 2hari ke depan libur kuliah dan Shion si kecil penganggu masuk ke kamarku dan membawa kabur ponselku.

Ada pesan masuk yang aku tahu bernama Sakura mampir ke kotak pesanku. Tapi sekarang ponsel itu lenyap dibawa gadis pirang kekasih monster awet muda, Sasori.

Dia ada kelas hari ini dan terpaksa aku harus ke kampus tepat di hari liburku.

Aku bertemu Itachi dan Konan di ruang tengah. "Mau kemana?" tanyanya saat aku berjalan keluar.

"Kampus."

"Bukannya kau libur?" tanyanya heran.

Aku berbalik dan menatapnya tajam. "Ini gara-gara sepupu pirangmu," ucapku marah. "Kenapa kau membiarkannya masuk ke kamarku?"

Ia mengangkat tangannya. "Apa aku salah?" ia memasang wajah yang ingin sekali aku tonjok. "Dia sepupumu dan dia mencarimu, apa salah aku menyuruhnya ke kamarmu?"

Aku mendesah frustasi. Inilah yang membuatku malas berurusan dengannya maupun Shion, mereka sama-sama menyebalkan. "Sudahlah Sasu-chan, jangan emosi terus begitu," aku menatap bosan kedua pasangan di depanku ini. "Ah … kau tidak lupa dengan hari ini'kan?"

Aku mengernyit bingung. "Ada apa dengan hari ini?"

"Ya tuhan. Kau lupa dengan hari ini?" ucapnya tidak percaya, memang ada apa dengan hari ini? "Kita nanti ke Suna, sudah ingat?"

Aku semakin bingung, ke Suna? Untuk apa? Aku benar-benar lupa.

"Memang kenapa kita harus ke Suna?" tanyaku santai, mengabaikan ekspresi Itachi yang tidak percaya aku tidak mengingat hari apa ini. "Apa ada acara keluarga atau hal membosankan lainnya?"

Itachi mendesah frustasi. "Kau benar-benar, hari ini kita ke Suna untuk menghadiri acara ulangtahun sepupu Sasori. Kau lupa?"

Oke aku lupa dengan hal ini, aku benar-benar lupa. Ini karena kemarin aku dilanda hal yang membuatku lupa dengan hal-hal yang terjadi di sekitarku. Aku bahkan tidak menyiapkan apa-apa untuk acara hari ini? Mungkin aku bisa mampir sebentar ke suatu toko, hanya untuk formalitas saat aku mendatangi acara sepupunya Sasori.

"Oi, Otouto," seru Itachi. "Kau sudah ingat tidak?"

Aku kembali sadar dari lamunanku dan memutar mataku. "Itu tidak penting," ucapku santai. "Yang terpenting sekarang adalah, ponselku harus kembali sekarang."

Iya itu benar, aku benar-benar harus mengambil ponselku. Aku benar-benar penasaran dengan pesan Sakura. Oke ini sudah di luar jalur lagi. Benar, aku mengakui kalau aku ada rasa berbeda dengan Sakura, tapi aku perlu waktu untuk bisa mengungkapkan isi hatiku kepadanya.

"Oi … main pergi saja!" gerutu Itachi yang melihatku pergi mengabaikannya, aku hanya ingin cepat sampai ke kampus, dan aku malas melihat aksi kemesraan mereka. Itu membuatku iri. Ya ya aku tahu ini lucu, aku sebenarnya iri dengan Itachi maupun Sasori, yang bisa melakukan hal apa saja dengan kekasih mereka. Kekasih yang mereka cintai sepenuh hati, apa cintaku ini benar-benar sepenuh hati? Aku mulai memikirkan hal yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Jatuh cinta benar-benar membuatku seperti orang lain sekarang.

Ini benar-benar hal baru untukku.

Aku menyadari ada yang aneh saat sampai di garasi, aku kembali tersadar. Kunci mobilku tidak ada di jaketku sekarang. Dan lihat, mobilku tidak ada.

Benar-benar. "Shion!" geramku, ia membawa mobilku juga.


oOo


.

Normal's POV

Shion sedang mengamati ponsel Sasuke yang tadi pagi ia ambil waktu mampir ke rumah sepupu ayamnya itu. Ia iseng karena saat mencari Sasuke ternyata sepupunya itu sedang berada di kamar mandi, dan ponselnya tergelatak di meja samping tempat tidurnya.

Ia mendekat ke meja dan saat melihat ponselnya, ia melihat ada pesan masuk dari orang yang membuatnya menghasilkan senyum merekah di wajahnya.

"Nee … Sasuke-nii," teriaknya saat duduk di kasur empuk Sasuke. "Kau masih lama?"

Tidak ada jawaban dari Sasuke, hanya terdengar suara berisik di balik pintu kamar mandi.

"Baiklah, aku pergi dulu, Sasuke-nii!" Teriaknya lagi tepat di depan pintu kamar mandi Sasuke.

Dan hanya jawaban 'Hn' yang keluar dari balik pintu kamar mandi.

Shion tanpa berpikir apa-apa membawa kabur ponsel dan juga mobil sepupu ayamnya, kemudian melesat meninggalkan kamarnya. Dan di sinilah ia sekarang, duduk di kelasnya yang sedang berlangsung. Ia benar-benar tidak bisa menghentikan senyum merekahnya, ini membuat Sasori mengernyit bingung.

"Apa terjadi sesuatu di rumah Sasuke tadi?" Sasori bersandar ke arah Shion sambil berbisik. "Dan apa yang kau lakukan dengan ponsel Sasuke?"

Shion memperhatikan kekasihnya ini dengan senyum manisnya. Sasori semakin mengernyit bingung. "Apa? Apa yang aku lewatkan?" bisiknya lagi. "Cepat ceritakan Shion!"

"Ekhemm ….!" Suara dari depan membuat Sasori dan Shion memandang ke depan. "Kalian sudah selesai?" Hamura-sensei, yang sedang menjelaskan menghentikkan aktivitasnya.

Shion menyembunyikan ponsel—Sasuke yang tadi di angkatnya sambil menatap sensei-nya itu. Belum sempat Shion dan Sasori menjawab pertanyaan Hamura, bel selesai mata kuliah mereka sudah selesai. "Kalian berdua lolos hari ini," ucapnya dengan nada tegas. "Lain kali tidak ada pengampunan."

Mereka berdua hanya menjawabnya dengan anggukan. "Baiklah, mata kuliah hari ini cukup di sini dulu." Ucap Hamura sambil mengepak buku mengajarnya dan berlalu meninggalkan kelas yang sudah mulai ramai, hari ini kelas Sasori maupun Shion hanya 1 mata kuliah saja, selanjutnya mereka bisa pulang atau ada yang pergi ke kelas tambahan atau bimbingan lainnya.

Sasori berbalik arah menghadap Shion yang sedang membereskan bukunya ke tas. "Jadi …" ucapnya, membuat perhatian Shion beralih ke arahnya. "Bisa kau ceritakan, kenapa kau tadi tersenyum sambil membawa ponsel Sasuke, Shion-chan?!"

Shion berbalik menghadap ke Sasori, "Kau penasaran, Sasori-kun?" godanya dengan seringai terpatri di bibir ranumnya.

"Jangan membuat ini lama, Shion."

"Baik baik, ada pesan dari Sakura di ponsel Sasuke-nii," jelasnya, "Dan aku penasaran mereka sudah melakukan percakapan apa saja lewat pesan."

Sasori mengangguk. "Jadi … Kau sama saja dengan Sasuke, Shion-chan." Sang empu mengernyit bingung, kenapa ia dikaitkan sama dengan Sasuke?

"Kenapa aku bisa sama dengan Sasuke-nii?" tanyanya.

"Iya … kau sama dengannya, karena dia juga membaca semua pesan masuk Sakura waktu ponselnya tertinggal di mobilnya." Jelasnya.

Shion membelalak kaget. "Apa! Sasuke-nii bahkan melakukan hal seperti itu?" ucapnya tidak percaya. "Sakura, bagaimana dengan Sakura? apa dia marah?"

"Sakura bahkan tidak marah ataupun kesal."

Shion kemudian tersenyum, "Mereka harus bersatu Sasori-kun."

"Aku juga berpikir begitu."

"Tapi kau membuatnya rumit," ucap Shion cemberut. "Kenapa kau mengarang cerita tidak bermutu itu."

Sasori kembali mendesah, ia pasalnya hanya bercanda waktu itu, dilain sisi ia juga ingin tahu apa benar imouto-nya ada perasaan dengan Sasuke. Karena selama ia mengenal Sakura, ia sama sekali tidak pernah tahu Sakura jatuh cinta ataupun menceritakan ia tertarik dengan seorang laki-laki dengannya.

Bercandanya kali ini benar-benar keterlaluan. Sasori memandang Shion yang sudah siap untuk keluar dalam kelas yang sudah sepi ini. "Kau mau sampai kapan melamun terus, Sasori-kun?"

Sasori kembali mendesah. "Aku hanya memikirkan Sakura, apa sebaiknya aku mengakui kalau aku mengarang cerita ini ke dia?" ucapnya putus asa, Shion memandang kekasihnya ini. "Aku rasa, aku sudah keterlaluan membuat lelucon tentang ini, Shion. Bahkan kau tidak bisa melakukan hal mesra denganku dihadapan Sakura, aku mulai memikirkanya. Dan Sakura mungkin merasa tidak enak berdekatan dengan Sasuke karena-mu yang notabenya kekasihnya Sasuke, begitu pemikirannya.

"Dia juga sempat melihat kita jalan-jalan kemarin di mall, aku bilang, mungkin dia salah lihat. Karena aku tidak pergi ke mall waktu itu. Aku panik sebenarnya waktu Sakura melihatku jalan bersamamu, karena aku belum menyiapkan pembelaanku. Sekarang aku tahu kalau Sasuke juga jatuh cinta dengan Sakura, kau tahu Sasuke membelikan kalung waktu kita pergi ke pusat perbelanjaan di hari sebelum kau ulang tahun. Aku—"

"Sasuke-nii apa?" Shion memotong cerita Sasori. "Dia membelikan apa?"

"Dia membelikan kalung ke Sakura."

Shion membelalak. "Sejauh itu kah?" ucap Shion tidak percaya. "Aku rasa Sasuke-nii benar-benar mencintai Sakura setulus hati, jarang-jarang dia mau melakukan hal seromantis itu, maksudku ini sangat langka, dia tidak pernah tertarik dengan seorang gadis, bukan berarti dia tidak normal, hanya saja selama ini dia menjadi laki-laki cuek yang tidak tertarik akan adanya jatuh cinta," Shion berkomentar. Sasori memasang wajah yang mengekpresikan kalau ucapan Shion benar. "Bagaimana rupa kalungnya? Apa sama dengan yang kau belikan ini?"

Sasori menggeleng. "Kalungnya memiliki bandul kelopak Sakura, ada salah satu sisi kelopaknya yang berwarna ungu. Dia membelikan kalung itu." Jelas Sasori santai.

"Apa!" pekik Shion, Sasori dibuat kaget dengan jeritan Shion.

"Ada apa?" tanyanya. "Apa ada yang salah?"

"Tidak … Sasuke-nii, dia, dia membelikan kalung yang dijual terbatas itu, aku tahu kalung itu. Itu bahkan masuk jajaran kalung mahal."

"Benarkah?"

"Iya … aku tidak salah lagi, kalung itu pasti mahal sekali. Wow! Sasuke-nii sekali bertindak tidak tanggung-tanggung."

Mereka masih mengobrol sampai seseorang menginterupsi kegiatan mereka. "Yoo! Kalian masih di sini?" teriakan dari luar kelas mereka membuat Shion dan Sasori memandang keluar. "Jadi, kapan kita akan ke Suna?"

Sasori berdiri dari tempat duduknya. "Tentunya sekarang, Naruto."

Naruto menyeringai lebar. "Baiklah, aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Hinata-chan," Senyum seringai Naruto lenyap saat seseorang memukul kepalanya. "Apa yang kau lakukan? Kau akan membuatku semakin bodoh!"

"Kau memang sudah bodoh!" Neji berwajah datar menanggapi ocehan Naruto. "Dan jangan macam-macam dengan Hinata!"

Naruto mengelus-elus bekas pukulan Neji. "Itulah gunanya berjuang, Neji," ucapnya optimis. "Tanpa adannya dirimu, kisah perjalanan cintaku tidak seru."

Sasori yang sudah bergabung dengan mereka tertawa mendengar jawaban Naruto. Sepertinya Sasuke dan Sakura juga mengalami hal yang sama, perjalanan cinta mereka terbatas karena cerita yang dibuat olehnya.

"Bisakah kalian berhenti bertengkar?" Shion muncul dari balik punggung Sasori. "Kalian seperti kucing dan tikus, selalu bertengkar."

Naruto mendengus. "Neji yang mulai, dia mempunyai imouto yang manis tapi menyembunyikannya, tidak mencoba mengenalkannya untukku." Ucap Naruto cemberut, "Tapi lihat, tuhan adil karena mempertemukanku dengan Hinata-chan di insiden Sakura-chan dan Sasuke bertabrakan."

"Kau mengocehlah terus, pukulan ini akan sampai di wajah rubahmu!" Neji sudah mengepalkan tinjunya di hadapan Naruto.

"Siapa takut, demi Hinata-chan aku mau dipukul olehmu."

Mereka akhirnya adu mulut tanpa mempedulikan lainnya yang memperhatikan aksi kekanak-kanakan mereka.


oOo


.

.

Sasuke's POV

Aku sudah sampai di tempat yang seharusnya tidak aku kunjungi untuk dua hari ke depan ini. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau aku harus mengikuti bimbingan Prof. Hashirama mengenai laporanku, tapi selama tidak ada yang menghubungiku, kurasa aku tidak perlu kemari. Tapi sekarang aku harus kemari untuk hal yang merepotkan, aku sekarang sama seperti Shikamaru yang tidak menyukai hal-hal merepotkan.

Aku langsung menuju gedung Astronomi, tapi hasilnya nihil. Tidak ada orang di sini.

Aku seperti orang gila, tidak tahu tujuan karena ponselku yang dibawa. Membuatku tidak bisa menghubungi siapa-siapa untuk ku mintai tolong. Aku berjalan menuju kantin, dan benar saja. Aku menemukan Sasori yang menjauh dari Naruto dan yang lainnya, sepertinya ia sedang menelpon dan aku melihat ke tempat Naruto dan lainnya yang sedang berbincang, tapi tidak ada Shion. Karena aku tidak melihatnya di sini.

"Yo Teme, apa yang membawamu kemari?" aku sudah disambut ocehan Naruto yang sedang memakan ramennya.

Aku mengabaikannya dan berjalan melewati Naruto, Sai yang sedang melukis, Shikamaru yang sedang tidur dan Neji yang sedang membaca buku.

"Oi Teme, kau ini tidak sopan, main pergi saja!" gerutu Naruto, tapi aku tetap mengabaikannya, sampai aku mendengarnya berdebat lagi dengan Sai maupun Neji.

Aku sudah dekat dengan Sasori, ia sedang bercakap dengan seseorang di telfon.

"Oh baiklah, Kaasan tadi mengirim pesan kalau dia tidak di Villa di acara nya Gaara, hanya ke rumah nenek dengan Tousan, para orangtua tidak ikut acara anak muda." Ternyata ia sedang menelfon Sakura, ini membuatku ingin cepat-cepat mengabil ponselku dan melihat pesan Sakura.

"Hei … Sasori! Kau melihat Shion?"aku buru-buru memanggilnya, aku mungkin bisa meminta maaf ke Sakura karena menganggu percakapan mereka. Karena aku benar-benar ingin melihat pesan darinya.

Sasori berbalik menatapku yang tadi membelakangiku. "Aku rasa dia ke tempat parkir, ada apa?"

Aku tahu ia sedang berbohong, terlihat dari wajahnya, ia tahu kalau Shion membawa ponselku. "Dia membawa ponsel dan juga mobilku, aku butuh dia sekarang juga!"

"Oh baiklah, kau susul saja dia di tempat parkir, sebentar lagi aku susul." Ia menjawabku dengan santai, aku mengabaikannya dan langsung menuju tempat parkir.

Aku menggerutu dalam hati, bagaimana bisa ada pasangan menyebalkan seperti Sasori dan Shion? Bahkan Itachi sama dengan mereka. Shion sedang duduk di kap mobilku dengan ponselku yang ada ditanganya saat aku sudah sampai di tempat parkir, aku menahan untuk tidak berteriak seperti orang gila karena sebuah ponsel dan juga mobil yang diambil sengaja oleh sepupuku sendiri.

Ia terlihat tersenyum menyeringai dengan tatapan tertuju ke ponselku, ini membuatku panik dan aku berjalan dengan cepat menuju tempatnya.

Ia melopat kaget saat aku mengambil ponselku. "Sasuke-nii—" wajahnya berubah panik dan aku tidak akan mengampuninya. "Apa yang ka—"

"Apa masalahmu, Shion?" aku memotong ucapannya. "Kenapa kau membawa ponselku dan juga mobilku?"

Ia terlihat panik sekarang, ia melirik ke kanan ke kiri dengan gelisah. Aku tahu aku lebih muda darinya, tapi aku kakaknya secara garis besar, meski hanya kakak sepupu. Tapi ini cukup membuatnya menurut dan takut denganku.

"Jawab imouto!" desakku. Ia benar-benar panik sekarang. "Dan apa yang membuatmu menyeringai seperti tadi, eh?"

"Aku …" akhirnya ia menemukan suaranya. "Aku …"

"Oi, apa yang kau lakukan dengan kekasihku, Sasuke?" Sasori sudah berada di sampingku bersama dengan yang lainnya di belakang. "Sudahlah, dia hanya iseng. Dan kenapa kau seperti ini? Apa ada yang terjadi sesuatu denganmu?"

Apa ia bilang? Iseng? Apa umur mereka tidak bisa mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang bermanfaat atau hal selain mengambil ponsel dan mobil orang dan membawanya pergi?

Dan apa hubunganya dengan 'ada yang terjadi sesuatu denganku?'

"Bisa kita ke Suna sekarang?" Naruto bersuara dari balik punggung Sasori. "Aku sudah merindukan Hinata-chan."

Benar juga, ia bercerita denganku kalau ia tertarik dengan sahabat Sakura. Bahkan aku juga tertarik dengan sahabat dari gadis yang membuat Naruto tertarik itu. Siapa lagi kalau bukan Sakura.

"Sangat merepotkan kalau harus berada di pesta," Shikamaru bersuara. "Tapi lebih merepotkan lagi melihat kalian adu argument."

Aku akhirnya menyerah dan mendesah.

Sebaiknya aku membiarkan Shion kali ini saja. Tapi tidak untuk selanjutnya. Aku menatap Shion yang masih berwajah gelisah. "Kunci mobil."

Ia memberanikan diri melihatku, meski dengan takut-takut. Ia merogoh tasnya dan menyerahkan kunci mobilku, aku mengambilnya dan berjalan meninggalkan mereka, yang tentunya bergumam karena aku tidak pamit.

Aku sedang malas berdebat, sebaiknya sekarang aku mencari sesuatu untuk sepupu Sasori.

Aku berhenti karena lampu menyala merah. Aku mengecek ponselku dan menemukan pesan Sakura yang sudah terbuka. Aku mengatupkan bibir, tanpa mempedulikan siapa yang sudah membuka pesan ini. Pesan ini pesan Sakura kemarin, dan aku benar-benar keterlaluan sudah mengabaikannya, isi pesannya entah kenapa membuat senyumku muncul dengan sendirinya.

Terima kasih untuk hari ini Sasuke-kun.-Sakura

Aku tahu maksud dari pesan ini, aku tidak tahu kenapa pesan ini membuatku yang semula merasa kesal dan marah karena perbuatan Shion dan Sasori hilang seketika karena ucapan terima kasih dari gadis musim semi, Sakura.

Sepertinya memberikan semacam kata manis akan membuatnya menyadari perasaanku, meski sedikit atau ia tidak akan menyadari sama sekali. Aku perlu mengumpulkan keberanianku untuk mengungkapkan perasaanku dengannya. Ini benar-benar membuatku frustasi, kenapa aku bisa merasa tertekan tapi menyenangkan secara bersamaan seperti ini.

Berkutik dengan diriku sendiri tidak akan selesai. Dengan cekatan aku membalas pesannya tanpa menghilangkan senyumku tentunya.

Untukmu tidak masalah, aku tidak sabar ingin melihatmu malam ini.- Sasuke

Aku benar-benar tidak sabar bertemu dengannya malam ini. Mungkin sebaiknya aku mengungkapkan perasaanku malam ini, apa aku tidak terlalu berlebihan atau telalu tergesa-gesa, tapi aku tidak mau memikirkan itu, karena aku mengikuti hatiku.

Ya aku merasa kalau hal yang kulakukan selanjutnya bisa membuatku tenang, karena saat ini Sakura masih belum milikku seutuhnya.

Tidak ada salahnya mencoba hal itu, benar.

.

.

.

=To be Countinued=

.

.

.


.

Indah kembali … *Dilempar tisu

Kenapa lama sekali? Maafkan Indah, sudah siap sebenarnya ini FFn, Cuma karena modem bermasalah jadi belum bisa publish, dan Indah tidak mau beralasan apapun, karena takut dipukul para readers yang udah nunggu-nunggu. *Puppy eyes mode

Yah … ini chapter panjang banget, special buat para readers, :D

Oh, sedikit bocoran. Chapter depan masih menceritakan bagaimana pesta Gaara, udah Indah siapin SasuSaku moment, tenang saja hehe^^

Dan Indah mau mromosiin FFn Indah One Shot berjudul "First Night" kalau penasaran dengan ceritanya bisa dibaca sendiri. ;;)

Yap, sudah begitu saja chit chatnya, waktunya balas review yang mampir…


Thank's for :

.

AAAlovers ( haha … sama aku juga tsundere mengenai makanan, :D aduh ancurnya kayak gimana nih? Tapi masih nunggu dulu yah … terima kasih sudah review^^ )

Apingkyonyxta ( Terima kasih banyak Aping-chan yang mau bersabar nunggu chapter selanjutnya, dan makasih juga untuk semangatnya^^ sini peluk dulu hihi ({}) )

hanazono yuri ( Terima kasih arahannya senpai, sekarang Indah sudah bisa hihi ;;) ah dan ini sudah lanjut senpai, arigatoo^^ )

BaekhyunSaranghaeHeni ( Cie .. Heni-chan naksir Toneri ya, nanti aku sampai-in ke orangnya deh hihi xD, makasih sudah review ya Heni-chan^^ )

dianrndraha ( sudah lanjut Dian-chan, makasih sudah review^^ btw, panggil kak aja. Gak terbiasa dipanggil author nih hihi. Arigatoo^^ )

chiu ( terima kasih semangatnya chiu-chan, lama banget ya, maaf ya kalau lama huhu. Dan makasih sudah review^^ )

Nikechaann ( kalau gak tamat-tamat, ntar dikira sinetron nanti Nike-chan hihi :D duh, kira-kira dichapter ini sudah ketahuan belum kalau yang ngasih kalung itu siapa hihi. Yap sudah lanjut nih^^ kapan yah? Kita lihat nanti oke ;) terima kasih semangatnya Nike-chan^^ )

jungha-'ysasu ( yap … ini sudah update dan maap karena lama yaa jung-chan T.T dan terima kasih semangatnya^^ ditunggu yaa pestanya Gaara, dan udah siap kok SasuSaku moment-nya. Makasih udah review^^ )

.

.


Tidak lupa juga untuk silent readers^^

Review, please^^