Dentingan gelas kaca berisi cairan kristal bening yang berderet dari ujung ke ujung meja seolah menjadi adat istiadat simbol dimulainya rapat. Wajah-wajah tenang yang menyembunyikan segala keambisiuan setiap orang dalam rapat itu terlihat lumrah disini. Hermione yang kembali menguasai karakter Malfoy-nya duduk tenang dengan dagu terangkat, enggan curi-curi pandang pada sesosok lelaki brunette di arah tenggara yang sejak tadi mengawasi gerak-geriknya.

Bayang-bayang gadis aneh tadi masih berterbangan dengan sayap tanda tanya di pikiran Hermione. Ia sempat bertanya pada Rabastan. Mungkinkah itu semacam sihir tua, atau semacamnya. Yang didapat hanyalah gelengan kecil dengan bahu bergetar salah satu mantan Pelahap Maut kesayangan Voldemort tersebut, yang mulai berbaur dengan penyambutan sekaligus reuni antar anggota rapat.

Dan perhatikan Draco William Granger, dengan lagak santai yang tampak di setiap omongan dan garis tubuhnya seolah diatur memancing atensi si brunette di seberangnya yang rahang tegasnya mulai mengeras, seperti ingin mencengkeram leher korbannya kuat-kuat.

"Kau kenapa, sih? Tidak suka Malfoy?" selidik Draco dengan mata terpicing pada Lara, yang sejak Hermione dan Rabastan masuk gadis tomboy itu terlihat gelisah dan terus menggoyang-goyangkan kakinya seperti anak kecil minta es krim.

"Huhh, tidak. Ssst." Telunjuk Lara mendarat cepat di bibir cerewet adik sepupunya itu sebelum khotbah opini panjangnya keluar lagi, dan kembali membuka berkas-berkas dalam folder hitam berdebu di hadapannya setelah iris cokelatnya tertangkap Draco sedang melirik seseorang di samping Hermione.

Oh yeah.


.

.

Harry Potter © JK. Rowling

o0o

F ast, Malfoy A nd F urious © Gallatrance Hathaway

.

.

Chapter 10: Under Control

"Waiting for the fire to light
Feeling like we could do right
Be the one that makes tonight
'Cause freedom is a lonely road
We're under control"

.

.

.

Happy RnR!

.

.

.


"Tidakkah ini terlalu berbahaya, Centro?" ujar Arafat sambil berusaha mengimbangi langkah panjang-panjang sahabat lamanya itu.

Mereka berdua tampak sedang mengendap-ngendap memasuki sebuah bangunan besar melalui tangga bawah pintu belakang. Hembusan sunyi halaman belakang bangunan ini cukup membuat Arafat bergidik ngeri, seakan di balik semak-semak setinggi lima kaki itu ada beberapa pasang mata yang mengamati keduanya.

"Kau selalu tak percaya padaku sejak Pre School," pemuda bernama Centro itu menggerutu kecil ketika sampai di depan pintu baja besar. "Walaupun aku Squib, kuharap ideku tak kalah fantastisnya dengan pikiran kolot para penyihir itu."

Arafat menggeleng jenaka mendengar keluhan pedas adik Cedric Diggory ini. Ya, Cedric Diggory. Yang kebetulan sekali merupakan sahabat kecilnya hingga tahun pertama Junior High School. Setelah melalui perbincangan alot mengenai keadaan diri masing-masing sampai menyerempet ke urusan lain yang lebih 'penting' ini, keduanya setuju untuk memihak ke—

—pihak yang menurut mereka benar.

"Kau tungu disini. Aku bebaskan mereka dulu. Tidak akan lama," ucap Centro pelan nyaris berbisik. Arafat mengangguk cepat dan mundur ke belakang beberapa langkah. Ia menengadahkan kepalanya ke langit-langit, sekedar mencari benda bulat kecil yang biasa dipasang di tiap sudut 'tempat' seperti ini.

Tidak ada CCTV.

Pemuda Montgomery itu mengeluarkan sekotak putih kecil dari kantong kanan jeans hitamnya. Mulai mempraktekkan apa yang diajarkan sahabat karibnya di sebuah cafe kecil tadi. Bahkan ia sempat dibilang terlalu kolot hidup empat tahun dalam sebuah manor sihir kelam di Whiltshire.

Menyenangkan.


"Dengan begitu cetak ulang obligasi yang hilang bisa dikirim kembali ke Argentina. Tidak ada perwakilannya dari sini kukira."

Anggota rapat saling menengok. Dilanjutkan dengan tawa berderai yang memantulkan kerlipan lampu gantung kaca besar di tengah-tengah ruangan.

"Mereka sibuk mengurusi rumput tetangga," seorang lelaki Rusia menyeletuk sarkas. Gelengan meremehkan rekan sebelahnya sukses menyulut kembali tawa seluruh mulut. Lara Croft hanya mendengus kecil seraya tersenyum tipis. Menyembunyikan detak jantungnya yang sepertinya terus menambah kecepatan sendiri-sendiri.

"Dan kuharap para bibit-bibit unggul Britania Raya ini berpikir lurus untuk tidak mengembangbiakkan permasalahan di masa lalu. Ya, 'kan? Granger dan Diggory—" Laki-laki berjenggot rimbun setebal gulungan kertas hijau yang menyesaki dompet kulit buayanya itu mengitari tempat duduk para junior dari anggota rapat besar sepuluh tahun yang lalu ini dengan lagak menilai.

"—dan tentunya si cantik Nona Malfoy muda ini." Kicauan yang ditemani hembusan asap cerutu anggota kongres culas Volvox itu berhenti tepat di belakang kursi berlengan yang diduduki Hermione.

"Bagaimana kabar Narcissa?" Pertanyaan retorik itu memang disodorkan untuk Hermione, namun suara gigi yang saling bergemeletuk itu malah keluar dari bibir Cedric. Manik gelapnya berkilat-kilat, segera diminumnya segelas kahlua yang tersedia di meja untuk meredam emosi yang berdesakan ingin keluar membelah udara. Blaise langsung melemparkan tatapan menenangkan pada sahabat kentalnya itu.

"Baik," ujar Hermione singkat dengan senyum impresifnya. Rabastan ikut mengangguk sangsi pada Volvox, menarik perhatian Draco pada gestur tubuh aneh paman Hermione itu. Draco sangat tahu Cedric menginginkan chip yang disembunyikan ayahnya dan Tonks waktu itu, katanya itu berisi tentang dua rahasia penting yang salah satunya merupakan kunci untuk menjatuhkan kredibilitas Malfoy's dan Cedric's. Yang kedua justru tentang kelangsungan hidup keluarganya sendiri. Tapi apa? Draco sendiri pun belum pernah melihat dengan mata kepala apa detail chip itu sebenarnya.

"Bisa kita lanjutkan rapatnya?" Cedric berkata tenang dengan gigi saling mengatup.

"Ya jadi kami sedang ada agenda besar tahun depan," Lara Cruz Granger mulai jengah dan mengambil alih pembicaraan yang menurutnya terlalu bertele-tele. Manik cokelat gelap karamelnya melirik Cedric dengan tatapan menusuk. "Bagaimana melakukan ekspansi dalam kegiatan eksplorasi dan produksi migas Granger Corp di negara-negara Timur Tengah seperti, Kairo, Yaman dan Libya."

Salah satu perwakilan dari China mengangguk-angguk tertarik pada kewibawaan Lara dalam berinteraksi, sekaligus proyek besar Granger yang hanya dikelola seorang gadis muda brilian serta sepupunya.

"Dan realisasi tahun ini cukup melampaui target," Draco menyambung setelah menangkap beberapa angka di berkas yang telah diatur rapi oleh Lara. "Sekitar 7%. Untuk kegiatan ilegalnya kita bisa ambil," Draco terhenti sejenak untuk menghitung. "12% saja."

"Sekitar 3.000 bph?" Krushcev bertanya dengan aksen kental Rusia-nya. Draco balas mengangguk singkat, lalu pria itu mengetikkan beberapa kalimat pada MacBook putih di hadapannya.

"Kinerja yang bagus, anak muda." Garry O'Hale yang duduk di ujung kanan meja melambaikan tangannya di udara. Bos besar mafia bagian Amerika itu berdehem keras sebelum melanjutkan kalimatnya. "Bisa dilanjutkan dengan yang lain, kuharap waktu presentasi tidak terlalu lama. Aku akan membahas regulasi baru beberapa pemerintahan negara di dunia yang mulai konsisten mencegah penyelundupan barang asing, termasuk barang seperti kita yang katanya merusak lokomotif perekonomian mereka."

"Itu sungguh berlebihan," cerca anggota kongres Volvox setajam belati. "Negara-negara bagian selatan yang mulai mengadaptasi itu. Nah, sekarang khusus kalian para cannabis." Matanya beralih ke Malfoy dan Diggory. "Ah, Cedric tidak membawa adik kecilmu? Kau membawa ..."

"Mr. Zabini." Blaise menunduk takzim dengan senyuman setenang mungkin. Rasanya Blaise baru tahu, ini sama dengan atmosfir pertemuan yang ayahnya ceritakan ketika Voldemort mengadakan rapat besar di Malfoy Manor.

Alis mata Garry terangkat dua-duanya. "Ada langkah baru untuk mengatasi regulasi konyol itu?"

Kali ini Rabastan yang buka suara. "Pertama, realisasi tahun ini sangat besar. Didukung tanah-tanah Asia Tenggara yang hebat. 50% untuk medis dan farmasi dan sisanya bisa kita pakai."

"Kau mengatakannya seolah merendahkan kami si penyulingan migas dan bangga atas penyumbangan persen yang lebih tinggi. Aku tahu, produkmu, pasti digunakan banyak orang," ucap Lara membuang muka. "Dulu kita juga begitu kan, Draco. Sayang, sesuatu mendistorsi usaha kita. Terpaksa kita pindah ke migas."

Lara tampak berhasil menyindir dua orang sekaligus dalam sekali bicara satu topik. Cedric tampak kemerahan seperti gunung api siaga tiga, Rabastan yang memajukan bibir menyiratkan sangat terganggu dengan kalimat pedas Lara.

"Itu sama sekali bukan merendahkan Miss Gra-nger," sahut Cedric dengan penekanan. "Hanya perbandingan persen biasa. Ah, bukankah cannabis-mu dulu yang terkenal bonafid itu mengambil resep dari yang lain?"

"Kurasa kalimat itu memantul, Diggory?" ujar Lara berang.

Draco mendecih. "Itu fitnah yang tak bisa dipercaya."

"Ya, ya, ya, duo Granger ..."

Anggota rapat yang lain merasa senang mendapat tontonan opera sabun gratis yang menarik.

Hermione menegakkan badannya dan menatap Draco dan Cedric bergantian. "Ehm, selesaikan masalah prive secara prive juga. Pembicaraan dalam rapat ini dasarnya bersifat global, bukan individual."

Cedric menggeleng cepat kemudian duduk menghadap Hermione. "Masalahmu juga masalahku, Miss Malfoy—"

"Apa masalahmu denganku, Mister Diggory?" Hermione memicingkan matanya dengan dagu terangkat tinggi, ia merasa ada masalah lain. Selain aturan pendampingan Christian Diggory oleh Bellatrix. Tapi sekarang dirinya tidak. Padahal seharusnya ia bekerjasama dengan Diggory.

Tapi ia, Hermione Narcissa Malfoy, keturunan Malfoy termuda, lebih memilih jalan Tonks.

Dan ia merasakan ada hal lain dibalik tatapan menusuk Cedric padanya sejak tugas ini dimulai.

Hal lain yang tak diketahuinya.

"Ah, minum, minum. Itu bisa dinginkan kita," ujar Garry bijak, berusaha mencairkan suasana. Ia tidak mau rapat sepuluh tahunan ini kembali berakhir tragis seperti yang sebelumnya.

"Aku sudah bilang para bibit-bibit ini masih belum cukup matang," Michael Huntington, salah satu petinggi Indianapolis berbicara meremehkan. Cedric langsung kembali mengunci rapat-rapat tabiat aslinya dan bertingkah seanggun serigala di hadapan Michael. "Sebaiknya kau urusi dulu hutangmu, Mr. Diggory. Tenggat waktunya sedikit lagi. Baru urusi segala tetek bengek keluarga kalian yang sama gampang 'kaboom' emosinya." Ekspresi dan gestur tangan Michael terangkat tinggi seolah ada bom meledak. Draco memutar bola matanya bosan, lalu menancapkan sikutnya di meja rapat.

"Ya, ya, ini sungguh membuang waktu kita," ucap Draco ditambah gelengan kepalanya. Sementara Cedric dengan setia memberikan death-glare diam-diamnya pada Draco dengan tangan terkepal. Hermione, terus-terusan menangkap Lara dan Rabastan yang mengadakan kontes curi-curi-pandang-gengsi, penasaran hingga ke akar rambut. Ada hubungan apa mereka ini?

Banyak sekali hal yang seorang Malfoy ini harus ketahui.

Menegak kahlua-nya dalam sekali tenggak, pemuda Granger itu melanjutkan bicaranya. "Tentang solusi mengatasi regulasi itu kita bisa seperti ini ..."


"Mudah sekali kau taklukkan Eugene!"

"Memangnya Diggory sedang kemana?"

"Penjaga di depan kira ini perintah Diggory?"

"Kau mau membawa kami ke penjara yang sebenarnya?"

"Dia tidak curiga, oi, Centro?"

"Lalu kemana yang lain? Zabini, Lovegood, Greengrass, Smith, dan lain-lain?"

"Kau yakin kita akan tetap hidup ketika keluar pagar kan?"

Serbuan pertanyaan itu membuat Centro Diggory jengah karena sepanjang lorong menuju garasi belakang tubuhnya terus dicolek-colek dua penyihir Hogwarts dengan takut-takut karena rasa penasaran keduanya.

"Aku ... bebas." Ronald Billius Weasley menganga tak percaya ketika mereka sampai di garasi besar tempat beberapa mobil mewah Diggory terparkir. Ia, sangat, tak menyangka pembebasannya oleh Centro berjalan sangat mulus dan lancar. Namun lelaki merah temperamental itu masih menyimpan curiga untuk apa dirinya di bebaskan tiba-tiba.

Muntah-muntah didalam kapsul buatan selama dua hari sangatlah menyiksa. Dan sekarang ia dibebaskan begitu saja? Oleh adik seseorang kejam yang mengurungnya dalam kapsul itu meskipun kelihatannya dia terbuang karena Squib?

"Lalu siapa kau?" Cho memiringkan kepalanya saat menyadari ada orang lain di dalam keremangan garasi, mengamati Arafat dari atas rambut hingga ujung kaki.

Arafat menggaruki belakang lehernya salah tingkah. Ia menoleh pada Centro untuk bantuan.

"Dia ..." Centro menggigiti pipi bagian dalamnya agak lama. "Erh, okay, penjaga Malfoy Manor, yah, maksudku itu ... Miss Hermione Malfoy." Centro berhenti, sebuah cengiran besar terpeta di wajah tampannya.

Sontak Ron membuka matanya lebar-lebar seraya mengacungkan telunjuk di depan kedua remaja lelaki 17 tahun itu. "Aha! Malfoy dan Diggory. Ini tidak, ini tidak baik. Kalian pasti merencanakan sesuatu—"

Cho menepis tangan gelonggongan Ron dan tersenyum tipis pada Arafat. "Aku tahu kau berniat baik."

"Oh, Cho, sudahlah karena dia tampan dan mempesona kau mulai terhanyut begitu? Jangan menilai orang dari luarnya!" Ron geleng-geleng sok bijak dengan bibir maju terangkat.

"RONALD WEASLEY!"

"Apa?"

"Aku merasakan bahwa dia berada di pihak kita."

"Kau tahu dari mana? Penglihatan turun temurun nenekmu itu?"

"Terserah kau," tutup Cho kesal. Pandangannya beralih ke Arafat. "Kau pasti bisa menceritakan semuanya pada kami, 'kan?"

Arafat melirik sebentar pada Centro, lalu menjawab pertanyaan Cho dengan dua anggukan mantap. Cho melirik kesal pada Ron yang komat-kamit meremehkan, menirukan kalimatnya dengan tangan terlipat di depan dada.

Tipikal Weasley.

"Yang terpenting adalah kita harus buru-buru pergi dari sini." Centro mulai mencari kunci mobil yang tepat untuk membawa mereka pergi. Pilihan jatuh pada Jaguar putih empat pintu yang terpakir di ujung pintu garasi.

"Ayo, Ron," panggil Cho ketika mobil mereka sudah keluar dari garasi. "Kau lebih suka kapsul itu?" sindir gadis sipit itu diiringi dua suara tawa tertahan yang menggelikan.

"Tak ada yang lucu," ucap Ron ketus sambil membanting pintu penumpang belakang Jaguar Diggory. "Kujaminkan keselamatan nyawaku padamu, Cho."

"Terserah kau saja," balas Cho santai. Ia berbalik ke belakang mobil untuk memberi aba-aba Centro yang mengemudi, tentu saja agar tidak tertabrak semak-semak mengerikan itu.

Di jendela lantai tiga bangunan Diggory, sepasang iris cokelat tua dibalik sibakan korden dalam lampu kuning terang itu mengawasi lekat-lekat Jaguar putih yang mulai menjauh dari pandangannya. Gadis itu menggapai iPhone-nya dari atas meja dengan senyuman licik.

"Luna, mangsa baru yang nekat sedang menuju lokasi."


"Jadi, kau sering mengalami sakit kepala menyiksa saat mendengar itu?"

Helena mengangguk. Terdengar hembusan napas panjang Luna Lovegood.

"Kau tahu sesuatu tentang nama itu? Atau dia ada hubungannya denganku?" Helena bertanya dengan tatapan mata yang menuntut.

Hampir saja Luna tersedak asap rokoknya sendiri, kalau ia tidak meraih bir kalengannya dan menegaknya segera. "Aku tidak tahu. Cedric tidak pernah menceritakan."

Helena menaikkan alis matanya sebelah, membuat Luna sebisa mungkin menghindari tatapan sinis iris biru gelap gadis itu. "Benarkah?"

"Y—ya, tentu saja. Dia begitu tertutup."

Bohong.

Entah kenapa Luna merasa membeku di bawah tatapan tajam mengintimidasi Helena. Meskipun gadis itu sama sekali tidak menakutinya. Ada semacam aura tersembunyi yang membuat Luna merasa gadis itu gadis yang tak mudah bertekuk lutut.

"Pikiranku bilang dia ada masa lalu hitam denganku."

Mati-matian Luna menahan kepalanya untuk tidak menoleh tiba-tiba ke arah Helena. "Kau bisa menerawang?"

Luna menangkap dari ekor matanya bahwa gadis itu mengangguk lagi atas jawabannya.

Jeda sejenak.

"Dan tadi aku sempat tertarik pada gadis dengan rambut blonde kecokelatan. Rasa seperti aku dan dia menyatu." Helena berkicau lagi dengan rokok ke tujuh yang bertengger manis di antara telunjuk dan jari tengahnya. Asap rokok berbentuk cincin kembali melayang bebas di udara.

Luna semakin diam. Mendadak aktivitas injak-menginjak puntung rokok dengan ujung tumit high-heelsnya menjadi permainan yang sangat menarik.

TUNG.

"Handphone-mu bergetar," ujar Helena datar.

Kau menyelamatkanku, handphone, pikir Luna agak lega sambil meraih benda itu dalam clutch bag peraknya.


"Cukup sudah," Garry me-laser-i wajah seluruh anggota rapat yang tak henti-hentinya berkotek dengan benda kecil bersinar merah terang itu. Semuanya bergegas mundur ke kursi masing-masing. "Itu sudah cukup dan ada satu masalah lagi. Oya, Granger, Malfoy dan Diggory." Ia berhenti sejenak mengamati ketiga orang tersebut yang sudah tidak ada segaris senyum pun yang hinggap di bibir masing-masing. Wajah mereka memerah seperti membendung tanggul emosi, dan kacing atas kemeja Draco dan Cedric yang mulai terbuka, kegerahan oleh api yang mereka ciptakan sendiri.

"Kuharap kalian tidak bersikap terlalu kekanak-kanakan. Tak ada untungnya kalian menatap masa lalu," Dari kejauhan, Cedric mendengus sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. "Aku akan membeberkan profil seseorang yang berusaha menghancurkan persatuan kita ini, dalam dua bulan kedepan ia baru bisa dideteksi. Pengawalannya terlalu ketat dan aku belum membayar aparat untuk mengorek seluruh informasi keberadaannya. Jadi— ya Miss Granger?"

"Toilet," ucap Hermione dengan nada meminta perizinan. "Sebentar lagi selesai, 'kan?"

Garry O' Hale mengangguk. "Ya aku tinggal memberikan data ini pada kalian semua."

Seiring keluarnya Hermione dari ruang rapat, Cedric tampak begitu gelisah. Gurat wajah berangnya tertangkap oleh Draco yang mencurigai gerak-gerik pemuda Diggory itu. Draco menjadi teralihkan perhatiannya dari ocehan O'Hale tentang orang-yang-berusaha-menghancurkan-mereka saat Cedric membisikkan sesuatu pada Blaise dan tak lama pria negro itu terlihat berkomunikasi dengan seseorang dengan tergesa-gesa.

"Apa yang akan si bangsat itu lakukan?"

Gumaman kecil Draco ternyata terdampar juga ke telinga Lara. "Mengkhawatirkan sesuatu yang akan terjadi pada Malfoy cantik itu?" tanya Lara dengan volume suara terkecil yang dia bisa tanpa menoleh.

"Dia ada di pihak kita!" desis Draco nyaris berbisik. Lara akhirnya menoleh dan menampilkan wajah herannya.

"Maaf, Sir O'Hale, aku tidak bisa ikut pesta minum penutupan rapat ini, hal penting menunggu." Cedric membungkuk hormat dan dibalas anggukan bertanya-tanya Garry O'Hale yang merasakan firasat tidak enak pada salah satu anak buahnya itu.

"Ingat hutangmu," ujar Michael frontal. Sekali lagi Cedric terpaksa membungkuk takzim padanya dan bergegas pergi diikuti Theo.

"Kita harus keluar." Draco mulai belingsatan untuk segera mengikuti mereka keluar. Tapi itu akan membuat situasi ultra mencolok antar ketiga marga yang terlibat perselisihan kental ini.

"Sabar sedikit, Drakie. Dua menit lagi selesai." Lara tak kalah gelisah juga, sebab ia tidak tahu BAGAIMANA BISA seorang Malfoy ada di pihak mereka. Sungguh kiamat dunia.


"Rapatnya sudah hampir selesai," ucap Neville melirik jam tangan Rolex-nya.

Harry ikut melirik jam yang tertera di handphone bututnya, kemudian ikut mengangguk. "Telepon Ginny dan Pansy. Kita harus bersiaga di sekitar gedung. Siapa tahu Cedric buat rencana baru yang mematikan."

Neville Longbottom yang sudah mengetahui seluruh permasalahannya kini bisa menggangguk mantap dengan lega. Seperti boneka kucing di toko emas.


"Jadi, si anjing pug serta Ratu Ular itu berada di sisi kita?" gumam Ron tak percaya. Jemarinya berkeletuk berirama di atas lengkungan dagu.

"Ooooooooh," ujar Cho manggut-manggut dengan dahi berkerut. "Ceritanya sudah panjang sekali. Kita terlalu lama dalam kapsul itu, Ron."

"Ya, Miss Chang. Sekarang kita harus bergegas kesana." Arafat merogoh sakunya dan mengeluarkan iPhone hitam berserta kunci motor harley yang ia titipkan di mini market dekat cafe tadi.

Ron meliriknya sinis, masih dengan tangan bersedekap. "Kau dapat darimana iPhone itu? Pasti Granger," cibir lelaki berambut merah itu kembali memalingkan wajahnya keluar jendela, mencari-cari sesuatu yang menarik di London pada malam hari.

"Betul, ini dari Mister Draco." Senyum ramah lelaki berdarah Pakistan-Inggris itu tak pernah sedikitpun luntur meskipun sikap jutek bebek Ron terhadapnya makin menjadi. "Aku hubungi dia bahwa kalian telah bebas."

"Cih, memangnya kita ini narapidana."

"Ron." Gadis cina itu memutar bola matanya.

"Yaa maksudku bilang saja aku dan Cho sudah kembali dan segera menuju ke lokasi."

Jari-jari lincah Arafat seolah menari salsa mengetikkan serentet kalimat di atas layar 5 inchi-nya, kemudian meng-klik 'Send' sebagai sentuhan terakhir.

"Emm—" gumam Cho dari kursi penumpang depan. "Omong-omong dimana kepunyaan kita, ya?" Cho mengarahkan tiga kata terakhirnya ke arah si pengemudi yang sibuk berkutat dengan setir, gas dan koplingnya.

Centro mendesah pelan, sebelum akhirnya menjawab. "Sudah dibakar oleh Diggory tua. Maaf."

Ron mengalihkan pandangannya dari jendela ke kaca tengah mobil yang menampilkan raut bersalah lelaki Squib tersebut. "Kau tidak perlu minta maaf, Centro. Kakakmu itu—ah, mungkin tak usah sebut dia kakak, terlalu bodoh, benar-benar gila. Walaupun kau Squib, setidaknya kewarasanmu masih ada, man."

"Kau anak baik, Centro." Cho meremas pundak Centro pelan. Berusaha membangkitkan semangat anak itu lagi. Kembali meramu senyum cerianya seperti saat natal dua tahun silam.

"Kau lebih fantastis, mate!" seru Arafat heboh, mengepalkan tinjunya ke udara.

Centro membelokkan setirnya ke kanan tepat di depan Wallace Market, kemudian menghadap ke samping, menatap tiga orang penumpangnya bergantian seraya tersenyum haru. "Terima kasih, kalian."

Ketiganya mengangguk berbarengan dengan binar semangat yang membuncah.

"Aku duluan." Arafat beranjak keluar dari mobil.

"Kau tahu gedungnya, kan, Arief?" seru Centro dari jendela mobil yang terbuka setengah.

Arafat mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi.

"Kita berangkat," ujar Centro menginjak pedal gas Jaguar ivory itu yang langsung melambung cepat. Membelah jalanan kota London yang ramai di bawah keremangan sinar bulan.

"Aku merasakan hal yang tidak enak," keluh Cho tiba-tiba.

"Apa lagi." Ron mendengus bosan.

"Dimana mobil ini simpan senjata, Centro?"

"Ap-Apa?" sela Ron panik. Ia memajukan kepalanya ke depan di antara jok penumpang dan pengemudi. Sorot merananya dibalas oleh gelengan malas Cho.

"Kau kira kita akan ke pasar malam, Ron? Ambil pistolmu. Siapkan mentalmu."

Centro terkekeh pelan menanggapi sikap kolot Weasley. Ia mengedikkan kepalanya ke belakang. "Di laci dashboard dan bawah jok kalian, periksalah."


Hermione baru saja melangkahkan kakinya keluar toilet mewah Chromeosome berhias dinding marmer berkilau itu. Ia menelengkan kepalanya ke kanan sekedar berkaca. Tangan kirinya menyisir ke belakang anak rambut yang mengganggu, lalu tak sengaja menangkap dua pantulan kaca manusia berjas hitam yang sudah ada tepat di belakangnya.

"Apa yang kalian lak—mpphh! Lwpwsknh!"

Gigitan keras Hermione pada tangan Cedric seolah tak memberikan efek apapun. Ia dan Blaise terus menyeret Hermione masuk lift. Mengabaikan jeritan tertahan gadis Malfoy yang berusaha menjejakkan high-heelsnya ke lantai.

Tapi itu sangatlah sulit ketika satu lawan dua.

Satu perempuan dan dua laki-laki.


"Helena, nyalakan Ferrari-mu dan siaga disitu, cepat!" Luna tiba-tiba bangkit dari posisi jongkoknya sambil mengantungi handphone. Satu anggukan dan Helena beranjak pergi, men-starter mobilnya. Sesekali Luna dengan mata awasnya mengamati keadaan sekitar, Daphne bilang Weasley, Chang dan Centro sedang menuju ke sini. Me-nu-ju ke-si-ni!

Ah, si tolol Daphne! Apa gunanya dia ada disana?

Luna semakin frustrasi ketika Cedric dan Blaise menampakkan dirinya tergesa-gesa menuruni tangga teras gedung sambil membopong Hermione. Gadis pirang itu menggigiti bibirnya ketika penjaga gedung mengernyit heran melihat pemberontakan Hermione pada Cedric dan Blaise.

"Oh, sir. Dia kumat. Rumah sakit terdekat," ucap Blaise berusaha menyembunyikan cengiran kakunya.

Si penjaga memandang mereka tajam, kemudian mengangguk kecil. "Cepat selamatkan."

"Buka pintunya!" bentak Cedric. Blaise buru-buru melepaskan ikatannya pada kaki jenjang Hermione lalu membuka pintu penumpang belakang Ferarri Four Cedric.

"Pegang dia, jangan lepaskan," perintah Cedric sambil masuk melalui pintu depan, tepat di samping sang pengemudi.

"Jalan, Serena!"

Hening.

"Maksudku, jalan, Helena! Ayo cepat." Cedric berbicara dengan nada panik, matanya terus mengawasi pintu masuk gedung dalam kegelapan malam kalau-kalau si Darah Lumpur itu berhasil keluar untuk mengejarnya.

Mendadak sekujur lengan Helena yang bertengger siaga di atas setir mengeras. SERENA! Ia menoleh perlahan ke arah Cedric. Lalu menggeser kepalanya lagi ke belakang, melotot horror mendapati gadis blonde itu—yang melotot juga padanya—kesusahan bergerak akibat cengkeraman seorang pria negro yang terlalu keras.

Suasana mendadak konyol dengan acara-saling-tatap. Begitu pun Cedric yang menatap Hermione dan Helena bergantian dengan tatapan cemburu bercampur kekesalan.

Hah?

Helena malah menggeleng tidak percaya ketika ia berhasil menerawang sejarah dalam kepala gadis blonde itu—ia tahu namanya sekarang, Hermione Malfoy.

Tidak hanya namanya.

Malfoy. Kepala Helena berdengung tak karuan lagi saat menemukan nama marga itu. Apalagi saat dirinya juga ikut merasa di tarik ke arah bosnya, Cedric Diggory.

Bahu Cedric menegang. Tangannya mencengkeram jok mobil hingga menimbulkan bekas di permukaannya.

INI BENAR-BENAR SIALAN! Rutuknya dalam hati.

Hermione yang merasakan kembali sensasi ditarik dengan gadis bersurai hitam itu melancarkan Legilimency-nya dan lagi-lagi menampilkan ekspresi yang sama—shock.

"Hei kalian! Kenapa diam saja? Granger keburu turun dan— astaga lihat di depan! Itu mobil si kepala codet berserta Ginny!" teriak Luna dari mobilnya yang duluan melaju keluar jalan sempit ini mendahului Cedric. "Aku akan mengurus mereka!"

"Hei?" celetuk Blaise masih dalam keheningan yang cukup lama.

Brak!

Tanpa pikir panjang Helena menjejalkan kaki kirinya di atas pedal gas dengan tenaga gorilla. Bertepatan dengan munculnya Draco, Lara serta Rabastan di teras tangga gedung.

"MALFOY!"

Ketiganya berpandangan.

"Kejar mereka!" Lara berseru kencang. Dalam hitungan ke lima mereka sudah duduk rapih dalam mobil masing-masing.

"Harry, kau disana?"

"Ya, Drake. Aku sedang mengejar mereka. Mereka membawa Hermione, 'kan?! Kurasa mereka menuju arah katedral! Dimana kau? Lama sekali, Merlin."

"Tunggu, tunggu, aku baru keluar jalan gedung. Bicaralah pada Lara." iPhone ber-case hitam itu segera berpindah ke telinga Lara. Sementara Draco mengaktifkan layar GPS mobilnya, ia melirik ke spion untuk memastikan Porsche Rabastan tetap mengekor di belakangnya.

"Apa mobilnya?"

"Ada tiga, Lancer abu-abu—itu bodyguard-nya, lalu Gemballa Mirage GT Luna, terakhir Ferrari Four isi Diggory, Malfoy dan Zabini dengan pengemudi perempuan berambut hitam yang tak kukenali."

Lara terkekeh mendengar penyusunan kata-kata Harry dengan kata 'isi'.

Perempuan berambut hitam? Pikiran Draco langsung jatuh pada sosok gadis misterius di sudut gedung yang memegangi kepalanya kesakitan.

Jadi, itu kroni Diggory. Draco manggut-manggut mengerti.

Sekitar lima belokan sudah berlalu, namun Draco masih belum menemukan tanda-tanda dari tiga mobil yang disebutkan Harry.

Katedral, hm. Draco berbelok ke kanan di sebuah perempatan jalan.

"Kau mau lewat mana?"

Draco mengabaikan pertanyaan Lara, keterampilan tangan dalam mengkoordinasi stir dan pedal gas penyihir pirang ini yang menjawab ketika Draco memilih melewati jalan-jalan sempit sebagai jalan pintas menuju katedral.

Tak butuh waktu lama bagi Draco untuk mengenali ketiga mobil itu saat ia keluar dari tikungan jalan di samping katedral. Ia berhenti sejenak menatap kejauhan.

Ha.

Salip menyalip iringan mobil yang di pimpin oleh Gemballa hitam keabu-abuan itu malah terlihat seperti kerasukan setan. Draco menggelengkan kepalanya meremehkan, menunggu mangsanya lewat di depan mata.

Sebentar lagi.

"Itu mereka," ucap Lara tajam. Lagi-lagi ia melirik ke kaca tengah mobil untuk melihat Rabastan, dengan raut wajah tegang mengawasi yang tak kalah semrawut.

"Tancap, Drake!"

Draco menginjak pedal gas kuat-kuat tepat ketika Ferarri Four Cedric melenggang cepat dengan siluet kepala Hermione di kursi penumpang belakang. Setelah memberi isyarat pada Rabastan, Draco melaju kencang untuk upaya memepet Ferrari hitam yang terpisah lima meter arah timur laut di depan mereka.

"Granger!" Jendela pengemudi Porsche Rabastan yang kini sudah menyalip ke sisi kiri Draco turun setengah. "Kupikir kau harus maju kedepan Cedric, dengan aku berjaga di belakangnya dan— Ah!"

Tembakan dari Jim yang berada di belakang mobil Draco dan Rabastan meleset nyaris mengenai lengan kiri Rabastan yang menggantung di luar badan mobil.

"Ya, Mr. Lestrange. Hati-hati!"

Jarum penunjuk angka kecepatan di spedometer Draco bergerak naik secara bertahap.

"Aku akan urus dia, guys!" suara Harry mendadak berubah melengking tinggi dalam saluran telepon. Draco kembali melirik kaca tengah sekedar mengetahui kondisi di belakang.

Begini urutannya, Luna, Cedric, Draco-Rabastan, Jim, terakhir Harry.

Draco mengumpat kesal ketika sebuah bus menutup jalurnya dengan jalan secepat siput.

Tapi bukan Draco namanya, kalau ia hanya diam menunggu bus lamban itu berbelok kemanapun.

Dengan tatapan ngeri Lara saat Ferrari Draco mulai miring di atas trotoar, Draco tak mengubah posisi injakan kakinya di pedal gas, terus seperti itu sampai mereka berhasil mendahului si bus dari sisi kanan jalan.

"Kau membuat mobil ini nyaris terbalik!" cerocos Lara memutar bola matanya lega setelah kelamaan menahan napas, dan mengencangkan ikatan seat-beltnya.

"Sorry, haha."

"Masih saja bisa tertawa." Lara mencemooh. "Awas di depan ada tikungan."

Sudut bibir Draco melengkung ke atas di bagian lintasan jalan favoritnya. Matanya masih bermain secepat elang mengamati pergerakan lincah perempuan berambut hitam itu. Jujur saja, Draco mengagumi skill jalanan kroni baru Diggory itu.

Rekrut dari mana dia? Pikir Draco heran.

Setelah berhasil memangkas jarak antara mobilnya dan mobil Diggory, semakin terlihat jelas di kaca penumpang belakang, Hermione sedang meronta-ronta hebat, entah itu siapa—ah, Blaise—yang terus mengunci pergerakannya.

Itu membuat Draco jengkel setengah mati.

Jeng-kel.

Namun mata lelaki pirang platina ini berhasil membulat sempurna ketika Ferrari Four Diggory membelok secara tak lazim di tikungan tajam. Saat mendekati tikungan, driver Diggory itu justru
mengarahkan mobil kearah yang
sedikit berlawanan dari tikungan yang akan dilaluinya.

Teknik itu.

Teknik yang jarang digunakan driver sewaan biasa—apalagi Diggory. Draco semakin yakin perempuan itu memang bukan sekedar kroni atau supir atau apalah. Ia seorang drifter.

Draco segera meniru teknik favoritnya itu dengan mengangkat pedal gas sambil menekan pedal rem secara perlahan. Tentu saja tujuannya menginjak rem adalah agar beban kendaraan menjadi kedepan dan ban belakang otomatis mendapat grip yang minim.

Saat Ferrari Draco sudah berada
pada posisi yang sesuai untuk
melibas tikungan, disaat itulah ia
melepas pedal rem dan menginjak
pedal gas sambil mengarahkan setir ke sudut kanan, dan otomatis body belakang mobilnya pun terlempar berlawanan arah dengan tikungan yang dituju.

Scandinavian Flick.

"Ap-apa?" Draco mendadak tersadar satu hal. Ia menganga. Seolah memang baru saja tersambar petir.

Siapa lagi orang yang ia ajarkan teknik khusus itu?

Lara mengernyit heran melihat ekpresi aneh adik sepupunya. Mulut setengah terbuka dan wajah merenung. "Hei kau kenapa? Perhatikan jalanan depan!"

"Ngg—ah itu, itu Serena! Kau ingat? Serena! Dia yang menyetir Ferrari Four Diggory itu! Ak—aku tak percaya ini!" ujar Draco berang, emosinya semakin terbakar seiring naiknya kecepatan Ferrari California merah keluaran tahun lalu itu.

"Hah?" Lara kelihatan lambat berpikir. Ia mengetuk-ngetuk dahinya berusaha mengingat sesuatu. "Ah! Si Smith itu?"

Lagi-lagi Draco tak menjawab pertanyaan Lara. Jadi gadis berkepang itu menyimpulkan jawaban Draco sebagai 'ya'.

"Bukannya dia sempat menghilang ..." Lara menggumam sendiri, lalu membalikkan badannya ke belakang. "KE KIRI DRACO, JARAK JIM DEKAT SEKALI!"

DARRRR.

Nyaris.

Dua kali.

Peluru Jim malah mengenai jendela kaca belakang Ferrari Diggory. Adrenalin Draco sempat terpacu tinggi memikirkan ke mana peluru itu menancap. Bayangan Hermione melayang di kepalanya.

Tapi tak lama hembusan napas lega keluar dari bibir tipis Draco melihat dua bayangan hitam yang kembali muncul ke permukaan kaca dan masih saja bergumul—seperti tak ada yang mau kalah.

The Strong Hermione Malfoy.

Tembakan nyasar benar-benar sangat membantu Draco, sebab Helena yang kaget menurunkan kecepatannya dan—

—saat itulah Draco menyalipnya.


"Benar kan gedungnya di sini? Kenapa mereka tidak ada," gerutu Ron takut-takut sambil mengintip dari kaca penumpang belakang. Banyak sekali orang-orang berjas yang keluar menuruni tangga gedung. Menuju mobil masing-masing. Namun nyatanya Ferrari California merah Draco pun tak ada sama sekali di parkiran.

"Kita seperti orang bodoh di sini." Cho menyahut gelisah.

"Kutelepon Harry tidak diangkat-angkat."

"Bahkan mobil Cedric tidak ada."

"Apa, Centro? Tidak ada?" tanya Cho dan Ron bersamaan.

Centro mengangguk stabil sambil menggigiti bibir bawahnya. "Apakah mereka sudah em, pergi duluan?"


"Berhenti berulah, Hermione! Kau mau kemana, sih? Kau lebih aman bersama kita!" ucap Blaise penuh kesabaran menghadapi gadis bergelar Putri Slytherin itu yang akhirnya berhasil membuka setengah lakban yang memagari mulutnya.

"Argh, lepaskan! Beraninya kau, Zabini?" desis Hermione tajam. Blaise agak mengkeret, akhirnya ia melonggarkan sedikit cengkeramannya pada tangan Hermione.

"Kau keras kepala, Hermione! Blaise, kubilang jangan lepas—"

Cedric bungkam ketika benda panjang dan dingin itu menempel di dahinya.

"Jangan sekali-sekali merendahkan aku, Cedric." Suara Hermione yang setajam pedang itu seolah masuk membelah gendang telinga siapapun.

Blaise ... benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Hola! Hermione dan Cedric adalah teman. Teman se-asramanya! Dan ia merutuki kelemahannya untuk pengambilan keputusan dalam hal genting seperti ini.

"Kalau begitu ..." Cedric ikut menodongkan FN 57-nya ke pelipis Helena. Sontak gadis itu langsung membanting stirnya ke kiri. Mobil lain yang ada di belakang mereka mengerem mendadak sampai menimbulkan decitan yang mengiris telinga.

"Apa yang kau lakukan, Diggory?!"

"GRANGER!" Hermione berteriak kencang melihat mobil Draco yang semakin memepet ke mobil yang di tumpangi—oh, terpaksa—nya.

"Malfoy! Tunggu sebentar." Draco menyalip satu mobil lagi. "Lara, nanti saja," ujar Draco melihat gelagat Lara yang ingin mengambil senjata Rifle andalannya.

"Aku tahu, di terowongan depan saja, kan?" Senyum miring khasnya mau tak mau membuat Draco balas tersenyum.

Sementara itu, mobil Harry dan isi-isinya berupaya menembak ban mobil Diggory dari jauh—terhalang sekitar empat mobil—tapi sepertinya Pansy si penembak ulung itu tak cukup kesulitan. Barusan ia melancarkan peluru pertamanya, namun meleset ke velg akibat perpindahan ultra cepat jalur zig-zag mereka yang membuat gadis Slytherin ini menggigit jari kalau-kalau ia malah salah menembak ban Draco.

Neville sempat menawarkan diri untuk bergantian menyetir. Tapi Harry menolak mentah-mentah sekaligus berpidato bahwa matanya benar-benar baik-baik saja. Tak bercacat apapun. Bahkan ia hampir mau melepas kacamata bulatnya yang setia itu kalau Pansy dan Ginny tidak menjerit-jerit seperti Mandrake agar Harry tidak melakukan aksi nekat heroiknya itu.

"Hei, Ginny kita harus singkirkan Jim dulu. Mister Lestrange tampak kesulitan." Neville berbicara sambil menatap kejauhan.

Dan Draco benar-benar terperangah.

Benar, benar, itu memang Serena. Serena Smith. Serena ... nya. Tapi kenapa dia menatapnya seperti itu? Seolah Draco sangat mengganggunya?

Sebuah terowongan panjang menelan mobil-mobil yang saling berkejaran itu dalam hitungan detik. Deru mesin mobil yang seakan terus memanas akibat penginjakan pedal gas oleh sang pengemudi tanpa ampun seolah menyatu dengan musik alam di malam hari. Lara mulai menjalankan aksinya, dengan senjata seberat lima kilogram itu, pastinya sekali sentil Diggory akan melayang.

Draco kembali memepet mobil Cedric. Namun terkadang hempasan gas Helena lebih kuat hingga body depan Ferrari Draco terpelanting keluar.

Draco sempat mencuri-curi pandang ke Helena, begitu juga gadis itu—sebaliknya. Tapi, wajah Helena tidak menyiratkan perasaan yang sama dengan Draco. Hanya ... gadis itu menganggap Draco cukup sebagai rival kebut-kebutannya malam ini. Meskipun sakit kepala itu datang lagi.

"Aku minta untuk fokus ke Malfoy dulu, Drake. Dengar aku." Ucapan datar Lara membangunkan renungan Draco tentang masa lalunya dengan Serena. Segera manik biru cerahnya berlari menangkap sosok Hermione Malfoy yang sedang menodongkan pistolnya di kening Diggory.

DDDDRDRRR DDDRRR DDDRRRR DDDRRR DDRRRR..

"Demi Merlin gadis Granger itu memang sinting! Pintumu bolong lima peluru, Ced! Lihat senjata nyentrik lima pelurunya itu."

"Jangan norak, Blaise. Itu juga ada pada Theo." Cedric berkata santai setenang permukaan air sungai Mississippi. Sedetik berlalu, air muka Cedric berubah drastis. "Ambil pistolmu, tolol! Dan jangan biarkan Hermione keluar! Atau—"

"Atau apa?" Seulas seringai mengejek terpatri di wajah Lara.

DDDDRDRRR DDDRRR DDDRRRR DDDRRR DDRRRR.

Sambungan antara pintu penumpang dan badan mobil Cedric mulai renggang. Lara menghitung mundur dari lima, dan pada detik terakhir pintunya lepas setelah terayun-ayun sebentar akibat kecepatan angin. Hermione melepas high-heels kanannya dengan tangan kiri perlahan.

"Argh!" Blaise meraung keras setelah Hermione melayangkan sepatu berhak lancip itu tepat di wajahnya. Sehingga pegangannya pada Hermione lepas dan gadis itu segera merayap keluar berusaha menggapai pintu mobil Draco.

"C—Cruz," rintih Hermione. Secepat kilat Lara meraih tangannya yang lebam. "Jika kau memperkenankan aku untuk memanggil dengan nama tengahmu."

"Whatever, perf."

"Ahh! Lepaskan!" Hermione menghentakkan kakinya ke segala arah untuk melepaskan cengkeraman Cedric yang sangat kuat hingga kakinya berdenyut hebat.

"Mendekat lagi, Draco!" perintah Lara.

Draco mengangguk patuh. Pikirannya bercabang-cabang sekarang.

Menyelamatkan Malfoy.

Dan berusaha menyadarkan Serena. Oke, oke, sudah pasti Cedric memodifikasi ingatan gadis itu tapi ... apa gunanya menyeretnya dalam masalah ini?

"Jangan meronta, Sayang." Cedric menarik paksa paha kiri Hermione yang hanya terbalut dress beberapa senti di atas lutut.

"Vas te faire encule*, Cedric!" Hermione mengangkat pistolnya seraya membidik lengan Cedric sebagai targetnya. Gadis Malfoy itu bersalto di udara sebelum akhirnya mendarat sempurna di atap terbuka Ferrari Draco. "Poor you!"

"ARGHHHH!" Raungan kesakitan Cedric membangunkan Blaise dari acara tutup-menutup wajahnya sendiri karena bingung apa yang harus ia lakukan. Ia melirik lengan Cedric yang terus meneteskan cairan kental berwarna merah itu seperti air terjun. Darah yang terus merembes ke sisi lengan jasnya yang lain tak membuat nafsu predator Cedric menyurut. Diambilnya kembali FN 57 yang sempat jatuh di kolong mobil akibat tangannya kehilangan koordinasi untuk memegang sesuatu, kemudian balik menembak Lara tepat di lengan.

Gaung amarah bercampur perih kembali terdengar.

"CRUZ!"

Tawa itu muncul dari tenggorokan laknat Cedric Diggory. "Apa susahnya menyerahkan diri, guys?"

"Kami punya harga diri, Diggory!" teriak Draco terbakar amarah sambil menghimpit mobil Cedric keras-keras. Tak peduli geraman Serena yang terus terpojok serta berusaha melepaskan mobilnya dari himpitan Ferrari Draco. Draco lebih berang melihat Lara yang terus menahan sakit pada lengan atas di belakangnya sambil menembakkan peluru dari senjatanya yang tersisa. Countertsteering ke kiri jalan terus ia lakukan agar Serena berhenti, namun gadis itu tampaknya tangguh sekaligus keras kepala. Decitan antara body mobil yang bergesekan demi mempertahankan nyawa masing-masing itu seolah tak sebanding dengan mahalnya harga mobil-mobil mewah tersebut.

"Biarkan aku yang menyetirnya, Granger!" Hermione merangsek maju ke depan, berjongkok menarik Draco untuk segera menyingkir dari depan kemudi.

"Kau mau membawa kita ke kuburan terdekat duluan, Malfoy?!"

"Jangan cerewet di saat seperti ini, ferret!"

"Okay, okay! Tak perlu menghina!" Draco melompat ke belakang untuk meraih pistolnya, Hermione secepat kilat mengambil alih kemudinya dengan wajah penuh emosi yang tak terbendung.

Countersteering Hermione bahkan lebih parah dari Draco. Lara yang sempat menengok ke depan menangkap maksud gadis Slytherin itu membenturkan body kiri depan mobil terus-menerus ke arah pintu pengemudi Ferrari Four. Semakin keras setiap benturannya.

Dengan napas yang seakan ikut saling balap, Hermione sesekali melirik berang ke arah Helena yang menggigiti bibirnya sedikit ketakutan, sebab pintu mobilnya bisa saja lepas akibat serangan-serangan hantam kromo Hermione.

Mereka sama kuatnya.

Harus, Hermione harus melenyapkan gadis itu. Gadis sialan—ARGH!

"GRANGER BISA BANTU AKU TEMBAK PENGEMUDINYA SAJA SEKARANG JUGA?"

Draco yang bergelut serius dengan Cedric diatas himpitan atap kedua mobil yang saling kebut—pistol keduanya telah jatuh ke jalanan ketika tarikan Draco untuk Cedric agar ia terpelanting keluar mobil gagal— mendadak tercengang. Didorongnya Cedric sekuat tenaga, berhasil. Cedric terhuyung bersama jasnya dan sayangnya masih bergantung di sisi mobil belakang.

"KAU TIDAK MENDENGAR AKU, GRANGER?" pekik Hermione lantam. Draco terdiam lama sebelum susah payah membuka suaranya. Matanya melirik raut wajah Serena di balik kemudi yang mendadak pucat pasi.

MERLIN INI SULIT!

"Terus saja, Malfoy! Tinggalkan mereka," ujar Draco akhirnya. Lara hendak menyela, namun akhirnya ia bungkam juga.

Tentu saja Hermione melotot tak percaya. "Kau tak ingin mengakhiri segalanya sekarang, Granger? Kenapa? Kenapa!" suara Hermione terdengar bergetar, Draco merasakan itu. "Habisi gadis itu dan aku akan menceritakan satu hal PENTING yang baru kuketahui! Please, ... DRACO! PLEASE."

Draco. Gadis itu memanggil nama depannya. Holy shit, man, Draco mengutuk keras para kupu-kupu yang datang berterbangan di dalam perut dan rongga dadanya di timing yang salah. Jantungnya berdegup kencang dengan isi kepala yang terus berdesing.

Ia pasti akan sangat mengecewakan Malfoy kalau, ia tak mengizinkannya membunuh Serena tapi ...

Raut wajah dengan kombinasi gejolak emosi tertahan dan mimik ingin menangis terpatri di wajah Hermione Malfoy. Itu membuat Draco heran setengah mati, ekspresi yang sangat langka baginya.

"Aku juga punya satu cerita penting, Hermione!"

"Haha." Cedric terkekeh senang menikmati masalah pertamanya yang akan segera rampung. Susah payah ia merayap di atas kaca belakang mobil yang licin, menahan arus angin dari arah depan yang bisa saja menyapu tubuhnya kalau ia tak berpegang kuat-kuat. Setelah membisikkan sesuatu pada Blaise yang malang untuk membidik kaki Granger, matanya berkilat senang sambil sesekali merintih pada luka terbukanya yang belum kering.

"Tak apa kalau kau tidak begitu jantan, Draco," desis Hermione apatis diiringi FN 57 miliknya yang teracung lurus ke arah kepala Helena seolah itu hawthorn kebanggannya yang siap melayangkan kutukan Avada Kedavra.

Ia tak peduli.

Gadis itu pengotor silsilahnya.

Hitungan mundur.

Tiga.

Dua.

Satu.

"AKU BISA JELASKAN, HERMIONE!"

DOARRRRR.

Terlambat.

.

.

.

to be continued


Vas te faire encule: "fck you" (France)

Terima kasih yang sudah membaca dan review di chapter sebelumnya ya: Cons, Adis, Last-Heir Black, Ms. Loony Lovegood, Nyanmaru desu, Guset, christabelicious, poosy-poo20, Aeccestane, Watsonation, The Progressive Alcaf, gothicamylee, priscillaveela, & qunnyv19 (love you all!:*) Maaf kalau chapter ini terlalu panjang&bertele-tele/membosankan [kalimatnya childish mungkin]. I'm trying to finishing this fic for myself. Dan akan selesai di chapter belasan.

Dan saya tahu scene Dramione disini minim banget karena akan terfokus dulu ke inti cerita. Chapter depan dipastikan Dramione-nya nambah.

Oh ya, lebih baik siapa yang mati selain Cedric? (apaansih author kok nanya) gapapa lah daripada tiba-tiba Draco mati ... (what) wkwk.

Mungkin akan banyak typo bertebaran karena gasempat proofread, dimohon koreksi dan reviewnya:-)))