-69-
The Truth Behinds the Mask
.
.
Presents by
Hiname Titania
Pairings
SasuHina, SasoHina
Disclaimer
Naruto belongs to Masashi Kishimoto
Warnings
Mature contents, heavy lime, AU, typo(s), etc.
Don't Like Don't Read.
.
.
Chapter 10
Catastrophic
.
-69-
Suara musik kencang menggema-gema bercampur menyatu dengan lampu-lampu disko. Lantai dansa penuh dengan orang-orang yang menggoyang-goyangkan tubuh sesuai dengan irama musik yang mengalun ria. Suara dentengan gelas-gelas menambahkan suasana riuh bar. Di balik semua hingar bingar tersebut, duduk Sasori dengan segelas Whiskey di salah satu tangannya.
"Hei brother!" tepukan di balik punggungnya membuatnya menoleh ke belakang.
Sasori tak menghiraukan sapaan itu dan melanjutkan menikmati Whiskey-nya.
Deidara tampak tak keberatan dan duduk di sampingnya.
"Tak ada wanita untuk malam ini?" tanyanya dengan seringai.
Sasori menggeleng.
"Shit man! Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kenapa kau tak membawa lagi wanita-wanita ke ranjangmu?" tanya Deidara berturut-turut.
Deidara kemudian memesan minuman kepada bartender. Tangannya merangkul pundak Sasori.
"Jika kau punya masalah katakanlah." Mata safirnya berkeliling dan terfokus pada seorang wanita yang sedang berdansa di lantai dansa, tetapi mata gadis itu jelas-jelas sedang memperhatikan mereka dengan genit. "Lihat gadis seksi itu, daritadi dia memberikanmu sinyal untuk ke ranjangnya!"
Deidara kemudian melirik sahabatnya yang sama sekali tak mengalihkan perhatiannya dari gelasnya bahkan sekedar melirik pun tidak sama sekali.
"Bro, apa kau sudah bosan dengan seks yang biasa mungkin kau ingin mencoba threesome atau mungkin BDSM, hmm?" tawar Deidara bersemangat.
Sasori lagi-lagi tak menjawabnya dan hanya memutar kedua bola matanya.
"This sexy lady Rangiku sudah lama mengincarmu. Dia tadi menawarkanku sebuah perjanjian yang menarik. Dia mau menjadi model bugilku kalau kau mau tidur dengannya!"
Deidara sama seperti Sasori adalah seorang seniman. Kesamaan minat dan hobi tersebut yang membangun persahabatan mereka. Bedanya, Deidara adalah seorang scrupturer, dia lebih suka berkutat dengan tanah-tanah liat untuk membuat patung-patung khususnya wanita bugil. Deidara memang memiliki obsesi dengan ketelanjangan. Motonya saja "Nakedness is art" dan kebugilan favoritnya, tentu saja kebugilan wanita-wanita cantik.
"Ayolah Sasori jawab ya!" serunya bersemangat.
"Tidak," jawab Sasori penuh penekanan.
Deidara mulai berceloteh dengan rengekan-rengekan yang membuat Sasori cukup jengkel.
"Rangiku, wanita yang sempurna! Kau tidak lihat tubuhnya itu benar-benar sebuah maha karya, lekuk tubuhnya sungguh aduhai," terang Deidara sambil menggambar lekukan tubuh di udara. "Dia pasti hebat di ranjang …"
"Kalau begitu kau saja yang tidur dengannya," timpal Sasori melirik sahabatnya itu.
"Man, aku sudah menawarinya tapi dia menolakku. Katanya dia hanya ingin bercinta denganmu."
"Well that's too bad, aku tidak minat dengannya."
"KENAPA?" teriak Deidara frustasi dengan ekspresi yang sangat lebay seperti di komik-komik.
"Sorry Bro, tapi sekarang aku sudah ada yang punya." Kali ini senyuman kecil menghiasi wajah Sasori yang sebelumnya hanya memasang wajah datar.
Ternganga adalah ekspresi yang tepat untuk menggambarkan Deidara saat ini.
"Siapa?" tanyanya cepat.
"Hinata."
"HINABABY KITA?" teriak Deidara spontan dengan dua matanya yang hampir copot dari tempatnya.
"Ya dan ingat Hinata-ku bukan kita," jawab Sasori membenarkan dengan tak suka.
"HINATA?" kali ini bukan lagi suara Deidara yang berteriak tapi Konan yang entah muncul darimana dan entah dari kapan sudah berdiri di hadapan mereka.
"Sejak kapan?" kali ini Deidara dan Konan bertanya bersamaan, mereka saling bertatapan lalu bersamaan pula menatap Sasori lagi.
Sasori tahu hubungannya dengan Hinata akan mengejutkan kedua sahabatnya, tapi dia tidak menyangka reaksi mereka akan seheboh ini.
"Beberapa minggu yang lalu."
Kedua-duanya mengangguk-ngangguk.
"Jadi ini alasan mengapa akhir-akhir ini kau tak berkencan lagi," tutur Deidara mengerti.
"Kau serius berhubungan dengannya Sasori? Bukan hanya untuk main-main saja 'kan?" tanya Konan dengan nada menyelidik.
"Aku mencintainya." Kedua mata hazelnya tiba-tiba melembut ketika mengingat gadis pujaannya itu.
"Sasori, kalau kau sampai berani menyakiti Hinata aku tak akan segan-segan membunuhmu," ancam Konan dengan tatapan yang menjanjikan penderitaan seumur hidup.
Sasori mengangguk mengerti.
"Awas saja kalau kau menyakitinya, Bro!" kali ini giliran Deidara yang mengancamnya dengan meninju tangannya sendiri di hadapannya.
Sasori kembali mengangguk. Dia tahu ancaman kedua sahabatnya ini bukan sekedar isapan jempol belaka. Mereka sudah menganggap Hinata sebagai saudara mereka sendiri.
"TUNGGU!" kedua mata Konan membesar setelah mengingat Sesuatu. "Bukankah dia berpacaran dengan Uchiha Sasuke!"
Kedua tangan Sasori mengepal erat mengingat fakta tersebut.
"WHAT?" Deidara kemudian berteriak dengan nyaring seperti ibu-ibu yang mendengar bahwa sinetron kesukaan mereka telah tamat tanpa sempat ditontonnya.
"Tak kusangka Hinata-chan bisa mendua juga," komentar Deidara dengan senyuman bangga, namun senyumannya itu langsung hilang ketika melihat wajah kedua sahabatnya yang memberikan tatapan kematian padanya.
Sasori menghela napas panjang, tapi dia tetap menceritakan semuanya dari mulai ia mengatakan cinta pada Hinata sampai ia memiliki status hubungan dengan Hinata.
"SELINGKUHAN!" kedua temannya berteriak secara bersamaan lagi setelah Sasori menyelesaikan ceritanya. Untung saja suasana bar selalu bising jadi teriakan-teriakan kedua sahabatnya itu tak pernah mengganggu pengunjung bar lainnya.
"KAU GILA!" Konan dan Deidara bersamaan berkomentar. Jika dilihat kedua sahabatnya terlihat sangat kompak hari ini.
"Kurasa hubunganmu dengan Hinata tidak akan berhasil," komentar Deidara.
"Kami saling mencintai," dalih Sasori geram, hatinya tak bisa dipungkiri merasa khawatir.
Konan tahu Hinata memang mencintai Sasori, dan dia juga tahu alasan mengapa Hinata mempertahankan hubungannya dengan Sasuke.
"Posisimu tidak menguntungkan Bro," komentar Deidara lagi.
"Bagaimana kalau Uchiha Sasuke membuat Hinata jatuh cinta padanya?" Kali ini Konan bertanya.
"Itu tidak akan pernah terjadi," jawab Sasori kemudian menegak habis Whiskey-nya.
69
Udara di tengah malam yang dingin membuat binatang-binatang yang aktif mencari mangsa di malam hari menjadi malas dan lebih memilih bersembunyi dan menghangatkan diri di rumahnya masing-masing. Tidak heran mengingat sebentar lagi musim dingin akan tiba di Tokyo. Hinata semakin mengeratkan jas hitam ditubuhnya yang kedinginan. Padahal Sasuke tidak menyalakan AC mobil, tapi rasa dingin masih menusuk-nusuk tulangnya. Wajahnya mendadak merona saat mengingat kembali tindakan gentleman Sasuke padanya. Sasuke yang memasangkan jas hitam mahalnya ke tubuhnya—yang hanya terbalut dress evening tipis—ketika mereka berjalan ke mobil untuk kembali ke Tokyo.
Hinata menoleh ke arah Sasuke yang masih menyetir dengan serius. Mata gelap Sasuke sedikit memerah, efek dari menangis beberapa jam yang lalu. Dadanya merasa sakit ketika kembali mengingat penyebab Sasuke menangis dipelukannya. Dia masih ingat bagaimana eratnya pelukan Sasuke padanya yang menggambarkan kesakitannya yang luar biasa dalam. Hinata telah melihat wajah asli di balik topeng tersebut dan entah mengapa dia jadi merasa ingin melindungi lelaki ini.
"Kita sudah sampai," suara serak Sasuke berkumandang.
Hinata melihat ke sekelilingnya, ternyata mereka sudah berada di depan rumah pribadi Sasuke.
"Tunggu dulu." Sasuke mencegahnya turun dari mobil dengan menggenggam pergelangan tangannya.
"Ada apa?" tanya Hinata heran tapi menuruti permintaan Sasuke dan menutup kembali pintu mobil.
Hinata memekik ketika tiba-tiba tubuhnya diangkat dan dibawa kepangkuan Sasuke.
"Aku belum mengucapkan terima kasih," bisik Sasuke.
"Tak masalah …" jawab Hinata pelan dan menemukan mata gelap yang sedang memandangnya dengan lekat.
Tiba-tiba saja suasana mobil menjadi intens.
Tubuh Hinata yang tadinya kedinginan, sekarang terasa panas apalagi ketika menyadari tatapan yang diberikan Sasuke kepadanya. Tidak ada jarak di antara mereka selain jarak antara wajah mereka yang terpisah hanya beberapa inci. Tubuhnya menempel seperti lem pada tubuh tegap Sasuke. Hinata bisa merasakan dada bidang Sasuke yang naik-turun karena bernapas. Hembusan napas Sasuke yang menyentuh bibirnya membuat mata amethyst-nya turun ke bawah menatap bibir Sasuke lama sebelum kembali menatap mata gelap itu yang ternyata sedang memandangi bibirnya. Refleks dia menggigit bibir bawahnya. Sasuke menggeram kecil. Ibu jari Sasuke menyentuh bibir bawahnya. Hinata berhenti menggigit bibir bawahnya sendiri. Perlahan-lahan ibu jari itu menelusuri bibir bawahnya yang basah.
"Ini ucapan terima kasihku Hinata," bisiknya rendah sebelum bibirnya mencium bibir Hinata dengan lembut bahkan sangat lembut. Hanya sebuah kecupan yang seharusnya biasa-biasa saja tapi nyatanya memberikan efek yang lebih dalam. Ciumannya dengan Sasuke kali ini sarat akan makna berbeda dari ciuman-ciuman mereka sebelumnya. Sasuke melepaskan ciuman itu, meninggalkan Hinata dalam keadaan breathless. Dia sendiri tak sadar sudah menahan napasnya selama ciuman itu berlangsung.
Mata gelap Sasuke kini menatapnya kembali. Hinata tidak berpaling lebih tepatnya ia tidak mampu, mata hitam pekat itu seakan-akan menghipnotisnya.
'When you feel my heat, look into my eyes, it's where my demons hide …'
"I-Itu dering ponselku," bisik Hinata seolah-olah dia hendak menjawab panggilan telpon tersebut, tapi kenyataannya matanya masih lekat menatap Sasuke.
"Abaikan."
Detik berikutnya Sasuke sudah mengecup bibirnya kembali. Dering ponselnya seperti menjadi background music di malamnya yang panas ini. Ciuman itu berubah menjadi pugutan dan adu lidah yang dimenangkan Sasuke. Ia merasakan air liurnya yang mengalir di sudut bibirnya.
Sasuke terkadang menghentikan ciumannya itu untuk bernapas tapi tak lama dia sudah kembali menginvasi mulut Hinata.
Derajat tubuhnya meningkat ketika Sasuke mulai memainkan kedua putingnya di balik dress tipisnya. Ciuman dan belaian Sasuke membuat tubuhnya semakin bergairah. Tangannya ikut membelai-belai tubuh Sasuke dari dada bidang Sasuke kemudian ke rambutnya. Dia remas pelan rambut Sasuke ketika lidah Sasuke berganti yanga bermain-main dengan putingnya yang sudah tak tertutupi gaunya lagi.
"Ngh… Sasu …"
Jari-jemari Sasuke membelai setiap inci tubuhnya mengaktifkan sel-sel sensitif di tubuhnya. Setiap sentuhan Sasuke membuatnya kehilangan akal sehatnya. Tubuhnya merespon dengan sendirinya, menikmati sentuhan-sentuhan yang menimbulakan sensasi baru yang memabukkan.
Hinata baru sadar dia sudah tidak berada di dalam mobil lagi ketika punggungnya merasakan keempukan tempat tidur. Setelah matanya berkeliling dia menyadari bahwa mereka berada di dalam kamar Sasuke. Sasuke berhasil mengacaukan kesadarannya dengan sentuhan-sentuhannya.
Wajahnya yang sudah memerah karena gairah kini semakin memerah ketika menyadari posisinya yang cukup provokatif terhadap Sasuke dengan mengaitkan kedua kakinya di pinggang Sasuke seolah-olah dia tidak ingin Sasuke berhenti ataupun lari. Apalagi sekarang gaunnya sudah tidak jelas posisinya, bra-nya sudah tidak melekat di tubuhnya entah terlepas dimana mungkin di mobil atau di lantai. Keadaan Sasuke tidak jauh berbeda darinya dengan penampilan berantakan akibat ulah tangannya sendiri. Dada bidangnya terekpos akibat kancing bajunya yang sudah dibuka oleh Hinata. Harus dia akui melihat wajah dan tubuh Sasuke yang dipenuhi piluh dan mata gelapnya yang memandanginya seperti sekarang adalah pemandangan tererotis dan terseksi yang pernah dilihatnya.
Kedua mata amethyst-nya membesar kala merasakan jemari-jemari Sasuke yang sudah menyentuh sesuatu di bawah sana.
"Sasu… ah… ngh…"
Hinata hendak mengatakan sesuatu tapi yang tercipta dari mulutnya hanyalah suara erangan-erangan yang berusaha ia tutupi dengan salah satu tangannya sedangkan tangannya yang lain meremas keras kain kasur menahan apapun yang sedang dirasakannya.
Matanya menangkap senyuman kecil Sasuke yang jelas-jelas sedang menggodanya apalagi ketika dengan sengaja ibu jarinya menyentuh klitorisnya sedangkan dua jarinya yang lain bermain-main dengan lubang kewanitaannya yang sudah sangat basah.
Erangannya kian mengeras seiring Sasuke menambahkan kecepatan memaju mundurkan jemari-jemarinya. Tangannya semakin erat memegang kain kasur. Tubuhnya seakan-akan berpusat pada satu titik di tubuhnya dan sudah siap mengeluarkannya ketika sensasi ditubuhnya itu mendadak hilang belum sempat terkeluarkan ketika tangan Sasuke memilih berhenti.
Hinata ingin mengumpat pada Sasuke pada detik itu juga ketika jilatan kecil diterimanya di bawah sana membuyarkan niatnya itu. Matanya perlahan-lahan berjalan ke bawah dan menemukan wajah Sasuke yang sudah berada di antara kedua pahanya. Sungguh sebuah pemandangan yang erotis. Tangannya ia gerakan untuk menjauhkan wajah Sasuke dari kewanitaannya namun yang terjadi adalah kebalikannya. Tangannya malah meremas-remas rambut Sasuke seolah-olah meminta lebih dari apa yang sedang dilakukan Sasuke pada kewanitaannya. Ia bisa merasakan hidung mancung Sasuke yang menusuk-nusuk bagian intimnya. Lidah Sasuke tak berhenti menjilat dan menghisap klitorisnya. Jemari-jemarinya kini bermain-main lagi dengan organ intimnya.
"Oh God… Sasuke…ah…"
Sensasi itu kembali dirasakannya lagi. Kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya dengan gabungan mulut dan jemari-jemari yang luar biasa. Hinata tidak bisa menahannya lagi. Tubuhnya mengejang, puncak kenikmatan yang dirasakannya untuk pertama kalinya.
"Kau suka ucapan terima kasihku?" bisik Sasuke menggoda seraya menjilati jemari-jemarinya yang penuh dengan cairannya.
Oh Sasuke kau tidak perlu bertanya.
69
"Bagaimana?"
Konan dan Deidara mengamati Sasori yang sudah terdiam cukup lama.
"Dia tidak menjawab telponnya."
.
.
.
To be continued…
69
A/N: Saya mau meluk Sasori dulu, kayaknya kehidupan cintanya akan memburuk. Menurut kalian orang ketiga di dalam kisah ini adalah siapa? Sasori atau Sasuke atau tidak ada? Bagaimana adegan smexy-nya kalian suka? Kurang panas atau terlalu panas kah? Mau lagi? Haha… Tunggu di chapter berikutnya.
As always thank you for all the support you give me! Dear readers, you are the best! Sampai jumpa lagi di chapter berikutnya!
