Lord Never See Your Majesty
Now You On Inverted Cross
.
.
.
INVERTED CROSS
.
Chapter 10: Zero Gravity
.
Made By © IllushaCerbeast
.
MFBeyblade © Takafumi Adachi
.
Rate: T
.
WARNING(s): OOC, OC, Cerita seakan-akan season baru dari 4D, Misstypo, trick yang sulit dimengerti, dll.
.
DON'T LIKE DON'T READ
Enjoy~
.
.
"Mau pergi kemana kau, Eva?"
Sosok bernama Richel itu melempar pertanyaan dengan nada dingin juga tatapan berangnya. Ia menatap gadis yang tengah berlindung dibelakang Ginga―Eva―dengan tatapan menyorot penuh kebencian yang dalam. Dapat si jabrik merah rasakan genggaman erat Eva pada pundaknya, wanita itu pasti sangat syok dan ketakutan. Belum lagi sabit raksasa yang mulai diayunkan si pirang siap menebas keduanya sekaligus.
"Tidak akan kubiarkan kau lari, sialan!" GRAAAAKKK!
Sabit itu langsung menghantam tanah aspal jalanan sedalam-dalamnya, juga menimbulkan gelombang dahsyat. Ginga―yang notabene baru saja menghindar bersama Eva― menatap kerusakan yang diakibatkan sabit itu dengan tatapan horror, sama seperti masyarakat lainnya yang ketakutan dan berlari sejauh-jauhnya dari Richel.
"Se-setan! Setan! S-semuanya lariii!"
"Kyaaaaa!" ―DRAP DRAP DRAP DRAP DRAP
"A-apa-apaan kau, Richel!?" teriak si iris golden dengan tatapan kesal. Walau sebenarnya ia juga takut dan tidak tahu cara manusia biasa sepertinya melawan makhluk sejenis setan macam Richel. Tidak menjawab, si pirang berupaya menarik sabitnya yang tersangkut dibelahan parah aspal itu. Panik, Ginga merasa akan berbahaya kalau ia diam, tak banyak bicara Ginga langsung menarik lengan gadis tadi dan lari sekencang-kencangnya.
"Ayo lari! Sebelum ia selesai mencabut sabitnya dan menyerang kita!" seru Ginga sembari berlari sekencang-kencangnya. Untungnya walau seorang wanita, Eva bisa menyamahi langkah larinya. Ginga terus berlari, tak peduli seberapa lelahnya ia, tak peduli apapun lagi. Ia harus menyelamatkan diri, dari anak berinisial Richel yang sungguh bagaikan setan yang membabi buta di daratan bumi. Bahkan si jabrik merah ini tak kuasa untuk menengok ke belakang, terlalu takut. Juga berusaha untuk mengabaikannya.
"Kenapa, Eva? Kenapa kau berkhianat?! Persetan kau, brengsek!" raung sosok itu dengan iris crimsonnya yang menyala-nyala bagaikan predator buas yang siap memangsa buruannya. ―KRASSH! Sabit itu berhasil dicabutnya.
"Be―berkhianat!?" pikir Ginga dalam hati, mendengar jelas teriakan orang itu. Dan sepertinya gadis yang tengah berlari bersamanya ini adalah 'Eva' yang dimaksudnya. Namun bagaimana pun juga Ginga tak bisa membiarkan wanita sendirian menghadapi makhluk buas macam Richel. Ia tak melepas genggaman tangannya pada gadis itu, tetap menariknya untuk berlari, berusaha melarikan diri.
"―Ma-maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk―" kelihatannya gadis berambut hitam panjang itu ingin membalas, tapi tidak bisa karena ia sedang berlari―juga nafasnya yang memburu. Eva menengok ke belakang, dan hal itu membuat iris ungu pucatnya bertubrukan dengan iris merah Richel yang menatap garang. Tak perlu dipungkiri Richel langsung menancap gas pada alat menyerupai sketboard yang dikendarainya saat ini ―syung― berupaya mengejar Ginga dan Eva yang sudah cukup jauh jaraknya karena berlari. Sabit bawaannya diangkat setinggi mungkin siap ditebas kalau sudah mendekat ke arah dua figur dihadapannya.
"Sial, aku harus bagaimana? Pasti kecepatan lari tidak bisa diimbangi dengan alat aneh yang dinaikinya itu! Aku harus mencari tempat bersembunyi―" umpat Ginga diselah-selah nafasnya yang tersenggal-senggal. Sesekali ia melirik ke kiri dan ke kanan, suasana sunggu sepi karena semua orang sudah melarikan diri secara massal tadi. Menyadari ada sebuah gang kecil, akhirnya Ginga menarik lengan gadis berambut hitam itu masuk ke sana, tepatnya di sebelah kanan jalan besar yang mereka lalui tadi.
"―Kh! Jangan berpikir bisa kabur dariku!" teriak Richel marah, dahinya mengerinyit tanda ia tidak suka main sembunyi-sembunyi di gang sempit seperti itu. Ia pun berhenti di depan gang. Dan disana terlihat Ginga dan Eva sudah berbelok dari kejauhan. Kesal, ia pasti sulit masuk ke dalam sana dengan sketboard-nya yang melayang-layang dan juga sabit besarnya.
BRAAKKKK―!
Richel menebas sabitnya yang kemudian menimbulkan gelombang besar dan membabi buta ke dalam gang tersebut. Berbagai tong sampah atau kotak-kotak yang ada di dalam gang itu seketika hancur berkeping-keping, juga tembok gang yang langsung retak parah, setidaknya hal itu membuka jalan luas baginya. Tak perlu menunggu Richel langsung masuk dengan kecepatan tinggi―Syuuung!
"Brengsek!" makinya kesal. Kelihatannya ia sedikit meremehkan kekuatan lari manusia. Richel tak menemukan sepotong jejak pun begitu ia menelusuri gang tadi dan berbelok sesuai dengan jalan Ginga dan Eva tadi, namun begitu berbelok ia tidak menemukan jejak mereka lagi. Terdapat sebuah gang yang lebih panjang daripada tadi, belum ada sekitar 6-7 cabang gang lainnya. "Sial, bersembunyi dimana mereka!?" Richel kembali mengangkat sabit hitamnya dan ditebas sampai gang belokan ini bernasib sama seperti gang pertama―ZRAAASHH!
Richel memeriksa setiap gang kecil dengan teliti, tapi sepertinya bukan nasib beruntung baginya kali ini. Semua gang itu terlihat sama saja, bahkan semakin masuk, gang itu semakin terpecah luas ke berbagai daerah lainnya. Atau lebih tepatnya menyerupai labirin. Disaat seperti ini Richel tak bisa menghandalkan sabitnya untuk asal tebas dan menghancurkan. Hal itu hanya akan menyia-nyiakan waktu dan kekuatan, serta membahayakan nyawanya sendiri nantinya. "..."
"...Kali ini kuberi kau kabur, Eva..."
:InvrtdCrss:
Srrrrhh... Srrrrh...
Suara kepulan asap dan puing-puing bangunan berjatuhan terus terdengar. Gedung pertandingan beyblade, dimana anak-anak bersorak-sorak mendukung jagoan mereka, dimana sang MC terus memberi komentar dengan serunya, dimana sebuah pertandingan penuh sportifitas terjadi, kini semuanya lenyap... Bergantikan menjadi bangunan tak berbentuk yang sudah retak parah dan dasarnya yang hancur berkeping-keping. Banyak nyawa tak berdosa yang melayang, meninggalkan raga-raga anak yang tergeletak menghiasi bangunan mengerihkan itu, bagaikan boneka kutukan yang siap memakan tumbal nantinya.
―Bruk.
Seorang pemuda berambut kehijauan, jatuh tersungkur di tempat itu. Harap-harap ia tidak menyusul kematian anak-anak disekelilingnya.
―Glutuk-glutuk,
Ditatapnya face Leone yang terlempar entah darimana. Tunggu, mengapa hanya face-nya saja? Itu sudah jelas... bagian Leone lainnya sudah hancur dan lenyap entah kemana. Tersisakan hanya face Leone yang sangat memperihatinkan kondisinya. Kyoya, pemilik daripada Leone, sungguh tidak ingin mempercayai ini. Kemampuannya sebagai bladers yang kuat, bladers yang penuh komitmen, bladers legendary... Semuanya seakan eksistensi yang tak bernilai adanya. Ia kalah telak, dan parahnya kini ia tidak mempunyai beyblade-nya lagi. Benda yang begitu disayanginya itu sudah hancur, juga dengan kondisi tubuhnya yang penuh baretan dan goresan merah... Tubuhnya bergetar, berusaha bergerak meraih face Leone-nya yang tersungkur disampingnya―sedikit jauh.
"Khihihihi―AHAHAHAHAHA!" tangan Kyoya terhenti begitu didengarnya gelak tawa yang membahana di gedung hancur penuh mayat ini. "Kau memuakan, Tategami Kyoya! Wajahmu itu, bagaikan anjing yang ingin mendapatkan daging untuk makan! Hah, apa itu! Memuakan!" deretan hinaan untuk si jabrik hijau itu hanya ditanggapinya dalam diam―sama seperti biasanya. Namun kali ini ia diam bukan untuk sok jual mahal atau meninggikan kekalemannya. Kyoya diam karena ia sudah tidak mempunyai kekuatan untuk melawan sang iblis yang melayang bagaikan raja, raja menakutkan yang penuh egoisme dan kekejaman.
―JREK!
"...Kh!" Si jabrik hijau mengerang sakit begitu Damian―orang yang mengalahkan juga menghancurkan Leone-nya― menghampirinya dan menginjak tangannya yang ingin meraih face Leone. Injakan itu semakin keras dan menekan kebawah, menimbulkan rasa sakit bertubi-tubi di lengan Kyoya yang sudah berhias banyak luka lebar. Perih rasanya, namun ia berusaha untuk menahannya. Sungguh siksaan ini bagaikan hujaman api neraka.
"Bagaimana, Tategami? Rasanya dihancurkan oleh anjing penjaga neraka, Cerberus? Atau―" Damian mengangkat kakinya dan menginjak lengan itu lagi, membuat pemuda di bawahnya meringis kesakitan, "...Kau mau merasakannya lagi, hah!? Ahahahahaha!" Kyoya mengerang dalam diam. Bisa apa ia sekarang? Kehancurannya terlihat jelas sudah, mungkin sekali ini saja ia tunduk.
"Tapi, masih ada satu hal yang harus kulakukan padamu," dengan itu si rambut biru tosca melirik ke arah face Leone yang tergeletak tak berdaya. Seringai iblisnya kembali terlukis jelas, tangan kanannya diarahkannya pada benda berbentuk menyerupai paku itu. Tidak menggenggam, melainkan dari tangannya itu mulai mengeluarkan sebuah aura, aura hitam pekat.
―"GRAAAOHH!"
Kyoya berusaha membuka matanya begitu mendengar suara, suara raungan ketiga anjing berbadan satu―Cerberus, yang besarnya menyerupai raksasa. Ia tatap makhluk keji itu dengan tatapan tidak mengerti. Apa yang akan Damian lakukan berikutnya? Menghancurkannyakah? Dengan makhluk mistis menyeramkan dari beyblade-nya itu? Kalau memang iya, mungkin si jabrik hijau sudah siap dengan resiko itu―Tapi ternyata bukan, melainkan...
"Hancurkan face Leone, Cerberus. Hilangkan Leone dari muka bumi ini," perintahnya dengan nada yang membahana sontak membuat Kyoya membulatkan matanya. Leone-nya... Setidaknya kalau masih tersisa face itu, ia masih bisa mencari badan barunya. Tapi andai kata face itu lenyap, face dimana roh sang Leone berada, face dimana spirit beyblade berada. Itu sudah dipastikan bahwa...
...Leone akan lenyap untuk selamanya.
"Ti-tidak! Tunggu dulu, apa maksudmu―"
"Aku akan menyeretmu ke neraka yang paling dalam, mencabik-cabikmu, meminum darahmu, mematahkan tulangmu sampai tidak bersisa!" seru Damian dengan tatapan garang, membuat Kyoya yang masih diinjak lengannya pucat pasi. Ia ingin melawan, tapi apa daya. Secuil kekuatan pun sudah tidak bersarang di tubuh atletisnya. Ia terlalu lemah untuk bertarung lagi. Otot-otot dan syarafnya terasa lumpuh dan membisu. Ditatapnya face Leone miliknya yang mulai mengambang lalu...
"Ti-tidak..."
―BRAAASHH!
"Tidak! Le-Leone―"
KRASSSH―!
"TIDAAKK! LEONE!" seberapa kuat pun Kyoya berteriak, menguatkan syaraf tubuhnya. Tetap saja semua itu sia-sia saja. Dilihatnya jelas Leone untuk terakhir kalinya, dicabik kuat-kuat cakaran Cerberus yang tergolong ganas, dan ditiap cabikan itu membuat ukuran Leone semakin tidak jelas, tidak berbentuk. Lalu pada akhirnya... Leone pun lenyap. Benda mungil bernilai besar itu... kini sudah tidak terlihat lagi. Lenyapm tanpa sisa sedikit pun. Iris biru Kyoya membulat tak percaya. Ia harap ini hanyalah ilusi belaka. Ia harap ini semua hanya mimpi yang ada rasa sakit di dalamnya. Ia harap... tangan rapuhnya masih bisa menggapai benda itu...
"LEONEEEEE!"
...Leone.
Ditatapnya jelas sebuah roh rasi bintang Leone yang keluar dari face hancur tadi, meraung-raung. Bukan raungan bagaikan raja atas segala binatang, bukan raungan yang akan menaklukan siapa saja. Itu... Raungan kesakitan. Ya, Leone kesakitan. Tubuhnya yang selalu tersimpan dalam benda itu kini dicabik-cabik habis oleh Cerberus, dilahap tanpa sisa sedikit pun. Kyoya... meraungkan nama Leone, berulang kali. Tangannya berusaha menggapai sang Leone yang kesakitan. Tapi ia tidak dapat melakukannya. Lemah... Ia merasa sangat lemah... Kyoya merasa hancur. Tatapannya memburam begitu gelak tawa iblis Damian kembali terdengar. Iris birunya yang indah perlahan menutup, seiring syarat-syarat tubuhnya yang sudah tidak berfungsi lagi rasanya.
"Le... Leone..."
:InvrtdCrss:
Seorang pemuda berambut kehijauan berjalan tanpa arah. Walaupun sebenarnya iris kecoklatannya berusaha menemukan sesuatu di hamparan kosong ini. Sesekali alisnya bertautan bingung begitu mendengar sedikit suara-suara, tapi begitu sesaat kembali hening, ia memutuskan untuk kembali melanjutkan langkah kaki mungilnya. Tatapan kalemnya berusaha menjelajahi hamparan yang kosong, luas, dan hanya berisi asap rendah bewarna merah muda.
Otak Babylonia.
Ia tidak menyangka kalau Eva―gadis berinisial Blessed― itu benar-benar membawanya kemari. Pikiran busuknya mengenai Eva ditepis sudah begitu ia melihat jelas senyum tulus Eva, sebelum sang gadis bersurai hitam menghilang dari hadapannya, entah kemana gerangan ia akan pergi.
Kenta terus berjalan, dengan menggenggam sebuah petunjuk sandi dari kertas yang sepertinya sudah berumur. Terlihat jelas kertas itu mengeluarkan suara rapuh begitu disentuh sedikit, dan warnanya yang sudah kecoklatan.
...Seiring langkahnya, terkadang Kenta menjadi takut.
Kenta takut apa yang nanti akan dihadapinya. Ia sudah berada di tempat yang asing, tempat yang berhubungan dengan kemistisan. Yang bahkan si rambut hijau tidak tahu harus bagaimana dulu disana. Ia jauh dari bumi sekarang―mungkin. Ia jauh dari tempatnya tinggal, tempat dimana orang tua-nya berada, tempat dimana teman-temannya berada. Juga... Ginga. Ia jauh dari Ginga, sumber inspirasinya. Anak yang penuh semangat dan spirit seorang bladers itu sedang jauh darinya, entah sedang menghadapi cobaan apa dia sekarang.
"E-Eh?" Kenta berguman bingung begitu di hadapannya terlihat sebuah pintu besar. Kenta sedikit terkejut begitu tahu-tahu menemukan pintu itu, karena sedari tadi ia terus berjalan tanpa arah―juga sedikit melamun karena memikirkan bagaimana nasibnya disini juga nasib Ginga di bumi. Iris kecoklatannya melirik ke kiri dan ke kanan, memastikan keamanan dan keselamatan dirinya kalau ia kesana. Tapi sepertinya...
"Tidak ada seorang pun, huh?" gumannya lagi sedikit sweatdrop. Tapi kemudian ia menggeleng keras dan mulai menghampiri pintu itu. Pintu raksasa yang sangat besar, tinggi menjulang bahkan bisa lebih dari lima meter tingginya. Pintu itu bewarna biru tua dan bercorak ukiran yang sangat detail. Dapat Kenta tebak kalau ukiran itu berasal dari zaman-zaman kuno―yang memang perlu diakui kebagusan ukirannya. Kemudian tangan kecil Kenta mulai menyentuh pintu itu, merabanya pelan.
Namun...
...Tidak terjadi apapun. Setidaknya bereaksi atau apa. Tapi tidak ada apapun, sepertinya pintu besar itu tidak diamani, pikir Kenta. Kini anak itu berupaya untuk mendorong masuk pintu itu. "Egh―! Be-besar sekali pintu ini...!" erangnya begitu kedua tangannya berusaha kuat untuk mendorong pintu itu. Sekuat apapun Kenta, pintu tersebut tetap saja tidak bereaksi. Suasana disana masih hening, dengan pintu itu yang tidak terbuka atau apapun. Si rambut hijau menghela nafas, apa mungkin pintu ini dikunci? Ia pun menghentikan dorongannya dan kembali berpikir.
"Oh, iya! Ba-bagaimana kalau coba kutarik!" ujarnya sembari menepuk telapak tangan kirinya dengan kepalan tangan kanan. Kemudian ia mulai mencakar salah satu ukiran itu yang mungkin bisa dijadikannya tarikan. Lalu ia mulai menarik pintu raksasa itu. Ia menariknya sekuat tenaga, bahkan tanpa sadar sedikit berkeringat karena itu.
"Ck," namun tetap saja, tidak terjadi apapun. Pintu besar itu tidak bergeming sama sekali. Tetap diam. Didorong dan ditarik, pintu itu tetap tidak mau terbuka. Padahal si keras kepala Kenta yang menariknya, anak satu ini pasti pantang menyerah demi mendapat apapun yang diinginkannya―buktinya adalah dia satu-satunya orang yang bisa mengejar Ryuga 'waktu itu'―.
"Ba-bagaimana ini... Pintu ini terkunci rapat," keluhnya sembari terduduk di depan pintu besar itu. Daripada ia menganggur, kini ditatapnya ukiran-ukiran pintu itu yang begitu detail dan terlihat menarik di matanya. Sungguh maha karya yang luar biasa, pikirnya. Siapa gerangan yang tinggal di dalam pintu itu? Dan siapa pula yang membuat pintu itu? Tanpa sadar, Kenta malah memikirkan pertanyaan―tidak penting― seperti itu.
"Ambil ini,"
"...Eh?" samar-samar, Kenta menjadi teringat sesuatu, terutama saat suara rapuh gulungan kertas yang dibawanya terdengar untuk kesekian kalinya.
"...Ini kata sandi kalau kau menemukan gerbang Poseidon utara, barat, selatan, dan timur, kau gunakan kata sandi ini untuk membukanya. Kau bisa membuka sandi otak Babylonia dengan langkah permainan anak manusia, kau pasti tahu nanti..."
Sret!
Tiba-tiba saja Kenta langsung beranjak berdiri dari duduknya begitu ia teringat pesan dari Eva. Ditatapnya gulungan kertas pemberian gadis misterius itu dan gerbang biru tua di hadapannya bergantian. "A-apa jangan-jangan ini... salah satu gerbang Poseidon?" pikirnya dalam hati. Kemudian dengan perlahan ia membuka gulungan kertas itu, tentunya dengan sangat perlahan takut kertas itu sobek nantinya.
"Tapi... I-ini gerbang yang mana!?" teriak Kenta dalam hatinya mendadak frustasi. Ia sedikit mengacak-acak rambut hijaunya dengan tangan satunya yang menganggur, sedangkan tangan kanannya menggenggam kertas yang sudah terbuka gulungannya itu. Disana tergambar sebuah kompas, yang menunjukan empat arah mata angin; Utara, Barat, Selatan, dan Timur. Dan di masing-masing arah itu terdapat satu kata asing―yang Kenta tahu adalah kata sandi yang dimaksudkan Eva.
Tadinya Kenta ingin mengucapkannya satu-satu, siapa tahu salah satunya adalah benar. Lebih mudah dan simpel, bukan? Tapi si rambut hijau mengurungkan niatnya begitu melihat sebuah gambar isyarat disana, yang Kenta artikan adalah: Salah = Mati. Ya, gambar tanda silang, sama dengan, dan tengkorak di bawah gambar kompas itu membuatnya sedikit ngeri.
Percaya tidak percaya, tapi mungkin itu maksudnya. Peringatan untuk tidak salah menyebutkan sandi di pintu raksasa agung ini. Mungkin saja Kenta tidak bisa melihat teman-temannya lagi untuk yang berikutnya kalau ia ceroboh disini. Meneguk ludah, Kenta tatap baik-baik keempat kata sandi yang tertulis disana. Lalu menatap lagi pintu besar itu. Bergantian.
Utara; Sincer. Barat; Intelept. Selatan; Echitabil. Timur; Bine. Kenta bingung mau memilih yang mana diantara keempat kata sandi itu. Tentu saja ia sesungguhnya tidak mau memilih cap-cip-cup seperti ini, atau singkat katanya adalah asal tebak. Namun bagaimana mungkin ia mengerti bahasa aneh ini. Ia hanya mengetahui bahasa Jepang dan Inggris dari sekolahnya, tidak lebih. Teruntuk bahasa ini pun, Kenta angkat tangan.
"Aarghhh! Aku pusiiing!" makinya pada diri sendiri. Kesal karena merasa 'buntu' disini. Kemudian ia kembali menjauh beberapa meter dari pintu besar itu lalu duduk―lagi. Berusaha untuk menenangkan pikirannya agar lebih leluasa berpikir. Sesaat Kenta menghela nafas, ditatapnya kembali pintu kebiruan itu dengan lesuh...
"Huh..."
Mata deep-brown Kenta membulat begitu tatapan melamunnya menangkap suatu pandang pada pintu itu. Ada yang aneh pada pintu itu, pikir Kenta. Ia mengelus dagunya, memasang pose berpikir. Namun kemudian otaknya merangsang keanehan yang berhasil ditangkapnya. Ukiran biru ternyata membentu sesuatu. Bentuk seperti tanda panah ke arah kanan. Kenta sama sekali tidak menyadarinya tadi karena terlalu terkagum pada ukiran-ukiran lainnya yang memang menutup bentuk panah itu. Tapi...
...Bentuk panah itu terlihat jelas begitu ditatapnya dengan tatapan tenang dan kosong. "Ja-jangan-jangan ini pintu timur? Tanda panah ke kanan, 'kan?" gumannya lalu kembali berdiri dan mendekati pintu itu. Dielusnya perlahan. Tidak salah lagi, tanda itu sama persis dengan tanda arah mata angin di gulungan kertas tua bawaannya. Meneguk ludah―lagi, Kenta pun mengumpulkan keberanian untuk mengucap kata sandi pintu selatan. Harap-harap ia benar dan tidak celaka nantinya―"Bi..."
"Bine!" serunya lantang―dan suaranya bergema disana―, sudah siap kalau-kalau nantinya Kenta salah dan akan mati nantinya. Hening sesaat begitu Kenta meneriaki kata tersebut, namun tiba-tiba tanah dengan kabut renda itu bergetar, sedikit gempa singkatnya. Sontak Kenta menjadi panik, ia berusaha menekankan pijakan kakinya agar tidak terhempas nantinya. "U-uwaa! A-apa yang terjadi!?"
GRAAAAAKKKKK!
Sedikit angin kencang menghantam tubuh mungil Kenta, tapi anak pemberani itu tidak terganggu untuk menatap sesuatu yang menakjubkan di matanya. Pintu itu terbuka kedalam perlahan-lahan, menimbulkan suara gesekan tua antara tanah dan pintu biru tersebut. Tanpa sadar seulas senyum kemenangan terlukis di wajah Kenta. Ternyata ia berhasil. Pintu itu terbuka lebar dan memberi jalan lebar untuknya masuk. "A-Asyik! Asyik! Aku berhasil!" serunya senang. Dengan cepat ia pun berlari masuk ke dalam sana karena dilihatnya pintu itu ingin tertutup kembali.
GREEEEEEKK!
―Blam.
Nafas Kenta sedikit tersenggal, tapi ia tidak peduli. Ia berhasil memilih sandi yang benar dan masuk sudah sangat hebat baginya. Ia gulung kembali kertas itu lalu melangkah masuk lebih ke dalam. Yang dilihatnya begitu pertama kali masuk adalah... sebuah lorong dengan dominan warna biru tua. Dan di sisi kiri kanan lorong terdapat tiang tinggi menjulang yang ujungnya terdapat bola api bewarna biru juga.
"Eh? Si-siapa itu?" seru Kenta dalam hatinya begitu melihat ujung dari ruangan ini, dimana terdapat sebuah meja bulat besar di tengahnya, entah apa yang terdapat di meja itu, Kenta tidak bisa melihat jelas. Karena jaraknya ke sana masih cukup jauh. Buru-buru Kenta bersembunyi takut-takut itu adalah musuh dan menemukan keberadaannya. Anak berbaju kuning ini bersembunyi di salah satu tiang raksasa yang menghiasi kiri kanan lorong besar ini, setidaknya ia tidak terlihat bersembunyi disana.
Digerakan kepala hijaunya sedikit mencondong keluar, untuk mengintip siapa yang berada disana―Lebih tepatnya Kenta penasaran, daripada ia diam terus disana seperti orang bodoh. Ia lihat baik-baik, disana terlihat dua sosok figur, yang tampaknya sedang memperbincangkan sesuatu. Dan... Yang membuat Kenta syok adalah, sepertinya ia mengenali betul siapa dua figur itu. Sosok yang dikenalnya semasa hidupnya, bahkan keberadaan dua orang itu masih jelas tersimpan di memorinya, "Nile? Masamune? Kenapa kalian berada disini?" ujarnya tanpa sadar, menyadarkan kedua orang itu akan keberadaannya disana...
:InvrtdCrss:
"Apa kau sudah lebih tenang?"
"Te-terima kasih," balas seorang wanita dengan lembut, sembari menyeruput teh hangat yang diberikan seorang pemuda padanya. Ginga menghela nafas begitu melihat raut wajah legah tergambar di wajah gadis itu. Tapi pada akhirnya Ginga juga ikut menyeruput teh hangat yang baru dibelinya dari penjual di pinggir jalan, duduk berdua dengan Eva di salah satu kursi taman.
"Sama-sama, aku senang bisa menolongmu," balas Ginga dengan ciri khas kebaikan hatinya. Walau sebenarnya Ginga merasa aneh dengan tatapan datar wanita berambut hitam kelam itu, juga tatapan pucatnya. Tapi apa boleh dikata, mungkin itu karakteristik gen manusia, pikir Ginga demikian. Ia bermaksud untuk menyampingkan masalah itu daripada ia menyindir orang nantinya.
"Namamu... Eva?" tanya Ginga kemudian sembari menggoyang pelan segelas teh miliknya dan menatap Eva yang duduk di sampingnya. Gadis itu tidak menoleh ke arahnya, hanya mengangguk pelan. Tapi kemudian tatapan datarnya berubah. Tatapan stoic itu berubah menjadi kesedihan yang mendalam. "Oh, salam kenal, ya, Eva! Namaku―"
"Hagane Ginga, aku tahu." Potongnya cepat membuat Ginga terpaku diam.
"Da-darimana kau tahu namaku?" tanya si jabrik merah cepat merasa penasaran. "Apa kau pernah melihatku di televisi atau semacamnya?" pertanyaan itu disambut gelengan pelan dari si gadis.
"Tidak," jawab lagi Eva dengan cepat. "Karena tuanku yang memberitahukan namamu padaku, jadi aku tahu. Semua tentangmu aku tahu, semuanya..." sambungnya sembari menyeruput teh-nya lagi. Sedangkan si Ginga menautkan alis zig-zag-nya kebingungan. Menyadari ketidak-sadaran Ginga, Eva pun menurunkan kembali genggamannya pada segelas teh lalu menatapnya dalam-dalam.
"Ginga, kau lihat tadi, 'kan? Maksudku... Soal Richel," ujarnya masih tetap menatap iris keemasan Ginga. Dan nama 'Richel' yang dilantunkan si gadis sukses membuat Ginga tersedak teh-nya. Richel, nama itu, nama itu membuat Ginga bertanya-tanya. Bagaimana pun juga, meski Ginga tidak tahu siapa jati diri Richel yang sesungguhnya, tetap saja jelas-jelas anak itu musuh besarnya kali ini. Ia harus berhati-hati untuk pertemuan mereka berikutnya.
"E-ehm, ya, aku lihat."
"Kalau begitu, aku akan menyampaikan sesuatu yang penting padamu. Se-sebenarnya... Aku adalah bawahan Richel, tuan yang kumaksudkan tadi adalah Richel," lanjutnya lagi, dengan nada pelan dan serak. Ginga yang mendengar itu membulatkan mata. Sebenarnya ia masih merasa tidak asing dengan Eva, apa mereka pernah bertemu di suatu tempat? Disisi lain ia menjadi penasaran soal Richel.
"Kau bawahannya? La-lalu kenapa tadi dia... Apa kau melakukan kesalahan padanya?" tanya Ginga sembari membuang gelas plastik tadi yang sudah kosong. Tentu saja membuangnya ke tong sampah yang berada di samping kursi taman tempat mereka duduk. Eva memejamkan matanya lalu mendongkakan wajahnya, tanpa sadar desir angin menyapu helaian poni hitamnya yang lembut itu.
"Ya, aku mengkhianatinya. Karena aku mengantarkan temanmu, Yumiya Kenta, ke otak Babylonia. Aku telah membantu pihakmu, yang seharusnya pihak musuh bagi Richel, sehingga..." sepertinya bibir Eva tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya. Karena sepertinya Ginga sudah jelas mengerti. Setelah itu Richel menjadi murka dan berusaha untuk menghabisinya. Tapi...
"A-apa katamu!? Kenta!? Otak Babylonia!?" tanya Ginga bertubi-tubi sembari mengoyang-goyangkan kedua bahu Eva dengan frekuensi cepat. Gadis itu sempat kewalahan dengan tindakan berlebihan Ginga. Tapi sesaat kemudian ia kembali pada tatapan datarnya. Eva menghela nafas panjang kemudian mengangguk pelan.
"Ya, dengan ia berada disana, ia bisa mengacaukan perkembangan Babylonia baru sembari kau yang berperang disini dengan Richel nantinya, Hagane Ginga."
Ginga membulatkan matanya. Akhirnya ia sadar siapa anak ini. Nada bicaranya yang tidak asing, caranya berbicara, juga kebanyak tahuannya mengenai Babylonia. "Kau... Blessed?"
"Kau Blessed, 'kan?!" tanya Ginga dengan mantap. Tadinya gadis itu diam sejenak, tapi kemudian ia mengangguk ringan.
"Ya, sepertinya aku tidak perlu bermain topeng-topengan lagi denganmu. Aku mengaku, aku Blessed waktu itu," jawabnya dengan nada santai membuat Ginga sedikit syok. "Temanmu, Kenta, sudah tahu rupaku sebelum kau, Ginga. Aku memang... terlihat seperti orang bodoh. Padahal seharusnya aku berada di pihak Richel, tapi aku malah membantumu dan Kenta," lanjutnya sembari menghelanafas lagi dan menikmati hembusan angin ringan yang sedikit menerbangkan helaian rambutnya.
"Tidak," potong Ginga cepat. "Walaupun sebenarnya aku tidak begitu mengerti kau dan pikiranmu, tapi..."
"Kau sudah banyak membantu, bahkan taruhan nyawa seperti tadi. Terima kasih," sahut Ginga dengan nada bijak. Merasa impas kondisinya dengan Richel karena keberadaan Eva yang diam-diam memihaknya, memberitahukan petunjuk dan lainnya. Eva terdiam. Mendengar ucapan terima kasih dari Ginga membuatnya tertegun. Desiran angin yang kembali menerpa mereka mengantarkan Eva pada rasa rindu, rindu akan kata terima kasih dan juga... Richel.
"Sama-sama," balasnya singkat. Ginga menghela nafas, ia masih bingung harus bagaimana lagi sekarang. Tapi sesaat kemudian otaknya terbesit sesuatu. Langsung saja,
"Tapi, kenapa kau mengkhianatinya dan berpihak pada kami?" tanya Ginga penasaran dengan yang satu itu. Ya, aneh bukan kalau ia berkhianat tanpa sebab. Ginga tidak membayarnya dengan uang atau apapun untuk semua ini, tapi seakan-akan ia melakukannya demi sesuatu yang berharga. Bahkan sampai rela bertaruh nyawa dan dibenci tuannya itu.
"Aku... tidak bermaksud mengkhianatinya... Kami punya janji yang berharga sejak kecil dan aku ingin mengabulkannya, hanya itu..."
Ginga menautkan alisnya tidak paham, "Ja-janji masa kecil?"
Blessed mengangguk lesuh, kembali ke tatapan sedihnya. Tatapannya seakan menyayat hati, menimbulkan rasa perih yang dalam. "Sebenarnya kami―"
GREK GREK GREK GREK!
"U-uwaaaa! A-ada apa ini!?" Ginga menjadi panik begitu tiba-tiba kursi tempatnya duduk melayang-layang. Sial! Apa ada yang mau menjahilinya disaat usil begini? Umpatnya. Tapi kemudian iris golden-nya terpaku syok. Tidak hanya kursinya, tapi orang-orang sekitar dan barang-barang lainnya ikut melayang. Seakan kehilangan gravitasi bumi yang seharusnya seimbang dengan barang-barang bumi.
"A-ada apa ini!?"
"Kyaaaa!"
Tak hanya Ginga, yang lainnya juga panik. Eva yang menyadari perubahan aneh ini langsung berkeringat dingin. Dengan bergetar, Eva mendongkakan kepalanya keatas dan... menemukan suatu bayangan dari kejauhan di langit jauh sana. Tidak hanya Eva, bahkan masyarakat lainnya yang mengambang tanpa sadar lalu melihat ke atas juga melihat benda yang masih belum jelas bentuknya itu.
"Sepertinya ada bangunan raksasa diatas sana, tapi apa, ya?"
"Ti-tidak tahu! Huwaaaa, ini tanda-tanda kiamat! Ini tanda-tanda kiamat!"
"Te-tenang, bodoh! Jangan berkata seperti itu!"
"Sial, apa lagi yang akan terjadi!?" umpat Ginga sembari menatap bangunan yang dimaksudkan masyarakat lainnya. Masih tetap dalam kondisi mengambang kehilangan gravitasi. Tapi sesaat kemudian dari televisi layar lebar di suatu gedung terhubung ke suatu stasiun televisi. Otomatis semua pandang mata―walau masih dalam keadaan panik―tertuju kesana.
"Menurut penelitian kantor pusat di Amerika, gravitasi bumi berkurang! Ada apa ini sebenarnya?"
Seru salah satu pembawa acara di layar itu terlihat sangat panik. Sontak Ginga kehabisan akal. Apa pertarungannya akan semakin dekat? Sedangkan ia dalam kondisi 'belum berkembang', begitu juga Pegasis-nya masih sama dalam kondisi waktu ia mengalahkan Rago. Apa dengan itu ia bisa melawan semua ini?
Invrtd Crss
TO BE CONTINUED
A/N (IllushaCerbeast): Yooo, minna-san! Kembali lagi kepada kami di Inverted Cross chapter ke-10. Maaf, ya, kalau update-nya lama. Karena jadwal kami sulit untuk dicocokan juga hampir saja fic ini dilanda masa writter block. Well, terima kasih kepada Pina-chan dan Crystal BlueStar (Chik-chan) yang dengan setia mengancam update fic ini, dengan begitu semangat kami jadi bangkit lagi dan memaksakan kedapetan feel hingga chapter ini selesai! Hahahaha! *tawa nista* Ancam lagi untuk chapter berikutnya, ok? *plak* Terima kasih juga kepada pembaca-pembaca lainnya yang masih setia membaca fanfic ini, dari pembaca diem-diem maupun pembaca yang nongol di kotak review, honto ni arigatou! Kemungkinan kurang lebih fic ini akan tamat di chapter 15. Ya, itu kurang lebih, lho, alias belum pasti. Sekitar chapter 15, deh, hehehe. Soalnya masalah sudah masuk ke konflik pre-climax, dan tinggal beberapa tahap lagi akan selesai. Well, review please, onegai! Semakin banyak review, semakin semangat kami untuk melanjutkan fic nista ini XDD Jaa nee!
TRAILER CHAPTER 11:
"Yang namanya Tategami Kyoya sudah tiada, Ginga."
"Masamune, Nile, Tsubasa, tidak tahukah kalian adalah orang-orang terpilih? Dipilih untuk mewakili warisan keahlian dewa dewi yang agung?"
"Semoga saja Yumiya Kenta bisa menemukan 'Crafethaur Ring' dan memberikannya padamu, Ginga. Dengan itu, kau akan secara resmi mewarisi darah malaikat dan bisa mengimbangi Richel,"
"Janji? Ya, tentu saja aku ingat. Kita berjanji untuk membahagiakan seluruh dunia ini! Dan cara itu adalah dengan bangkitnya Babylonia baru dan musnahkan ras manusia, Eva!"
"Tidak, kau salah! Tidak bisakah kau mengimbangi antara manusia dan dewa-dewi, hah!?"
The New Babylonia Will Make The Gravity Change to Zero
INVERTED CROSS
Lord Never See your Majesty
