Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki
Pair: Kuroko x OC
Warning: OC, OOC, Typo, dsb
Summary: Fanfic pertamaku yang berkisah tentang aku, Rizuki dan Tetsuya-kun yang menikah setahun lalu. Kami hanya tinggal menunggui bayi laki-laki kami yang usia kandungannya sekarang sudah mencapai 6 bulan. Horee! \ ^o^ /
Kalian pasti penasaran gimana kelanjutannya? Baca saja! ;)
Part 10
Hari berganti hari. Minggu berganti minggu. Tak terasa, tiga bulan sudah terlewati.
Angin musim gugur bertiup lembut, mengibaskan rambut panjangku yang tergerai. Daun-daun di pohon halaman rumahku mulai menguning. Beberapa di antaranya sudah jatuh ke permukaan tanah. Mataku menerawang jauh ke langit biru, dipenuhi dengan awan-awan putih yang melewatinya.
Aku duduk di samping pintu geser yang menghubungkan ruang tamu dengan halaman sambil mengelus kandunganku yang sudah membesar. Sejak menginjak bulan keenam ini, aku sudah merasakan bayi di dalam kandunganku mulai bergerak aktif. Tentu saja aku dan suamiku senang sekali. Seminggu yang lalu, Dokter Miyamoto memberitahukan kami kalau bayiku ini tumbuh sehat dan tidak mengalami penyakit apapun. Aku begitu bersyukur pada Tuhan karena Dia telah melindungi buah cintaku dengan Tetsuya-kun.
Meskipun bayiku dinyatakan sehat, aku akan selalu tetap menjaganya dan melindunginya. Ini kulakukan demi kebahagiaan Tetsuya-kun yang sangat menantikan putraku lahir. Akan kutunggu kelahiranmu, anakku... Sesuai dengan janjiku, aku akan menjagamu dengan sabar dan penuh kasih sayang.
"Kiki-chan?"
Ada suara yang memanggilku. Aku terenyak dan menoleh ke arah suara itu.
"Tetsu-kun?" Ternyata itu suamiku yang sedang menurunkan Nigou, anjingnya dari gendongannya. Dia berjalan menghampiriku.
"Sedang apa kamu di situ sendirian?" tanya Tetsuya-kun datar seperti biasa.
"Nggak ada..." Aku hanya tersenyum. Lalu kembali memandang langit. "Kamu tahu? Aku hanya sedang menantikan kelahiran putra kita."
"Sou desuka?"
Aku mengangguk.
"Aku juga menantikannya," kata Tetsuya-kun. "Aku sudah tak sabar ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi ayah."
"Aku juga begitu. Ingin merasakan bagaimana rasanya ingin menjadi ibu untuk anakku," ujarku.
"Oh, ternyata pemikiran kita sama."
Kami berdua tertawa bersama. Hehe... Tak kusangka kalau pikiranku sama dengannya. Ah, kita berdua pasangan muda yang sama-sama menantikan kelahiran anak. Setelah aku berhenti tertawa, aku menatap Tetsuya-kun.
"Aku benar-benar menikmatinya, Tetsuya-kun," kataku.
"Hm? Menikmati apa?" tanya Tetsuya-kun, penasaran.
"Menikmati masa-masa kehamilanku. Ini menyenangkan sekali meskipun aku juga merasakan masa-masa sulit saat hamil di bulan pertama," jawabku. "Tak hanya itu, aku juga menikmati kebersamaan ini denganmu."
Tetsuya-kun yang mendengar kata-kataku hanya tersenyum kecil. "Aku senang mendengarnya, Kiki-chan. Aku harap kebersamaan kita berdua selalu ada selamanya..."
"Hingga akhir waktu, Tetsuya-kun. Aku akan selalu bersamamu." Aku menyambung perkataan Tetsuya-kun.
"Hn..." Tetsuya-kun mengangguk setuju. Lalu tanpa ragu, dia mengatupkan bibir dan mencium bibirku lembut. Aku membalasnya. Kupejamkan mataku, menikmati ciuman dari Tetsuya-kun. Kemudian Tetsuya-kun mencium bibir bawah dan atasku perlahan secara bergantian. Sentuhan bibir manisnya... Membuatku seakan-akan melayang ke udara.
Tak lama kemudian, Tetsuya-kun menghentikan ciumannya dan tersenyum padaku. Aku juga ikut tersenyum. Semburat merah muncul di wajahku dan jantungku terpompa keras. Pertanda kalau getaran cintaku begitu terasa.
Sungguh... Aku masih mencintai Tetsuya-kun...
"Ano... Tetsuya-kun, kamu kan tampan. Pasti anak kita juga tampan rupawan sepertimu," kataku menggodanya sambil memegang pipi sebelah kanan Tetsuya-kun. Muka Tetsuya-kun memerah menahan malu meskipun sudah memasang wajah datarnya.
"Ehm... Kamu ini. Aku kan jadi malu..." Tetsuya-kun menepis tanganku. Lalu dia memalingkan wajahnya.
"Hehe..." Aku cekikikan melihat tingkahnya. Tetsuya-kun kalau digodain memang seperti itu. Lucu deh kalau kayak begitu.
"Kiki-chan..."
"Ya?"
"Ehm... Aku mau mengajakmu ke toko buku. Apa kamu mau ikut?" tanya Tetsuya-kun.
Toko buku? Wah, tentu saja aku mau! Jadi pengen beli buku-buku bagus di sana. Apalagi kalau bersama Tetsuya-kun. Kami berdua sama-sama punya hobi membaca buku. Hehe... Asyik!
"Aku mau, Tetsu-kun. Tapi, kita makan siang dulu, ya! Akan kugoreng ikan tuna dan memasak sup dulu," sahutku sambil bangkit untuk berdiri dan melangkahkan kakiku menuju ke ruang makan.
"Baiklah. Aku akan memberi makan Nigou dan kucingmu."
"OK," balasku sambil tersenyum. Nanti setelah makan, aku akan pergi ke toko buku bersama suamiku. Aduh, jadi seperti mau kencan saat masa pacaran dulu...
Di toko buku...
Rak-rak buku berjejer rapi memenuhi ruangan. Di setiap rak berisi buku-buku yang banyak macamnya, seperti ensiklopedia, novel, manga dan lain-lain. Karena ini hari Minggu, toko buku ini ramai dikunjungi.
Aku dan Tetsuya-kun berjalan menelusuri setiap rak buku yang kami lewati. Kami berdua sibuk mencari beberapa buku yang kami inginkan. Ketika aku menemukan rak buku berisi beberapa manga, aku langsung menghampiri dengan hati-hati karena kandunganku.
"Manga ini... Hmm... Aku belum punya," gumamku sambil mengambil manga shoujo terbaru. "Wah, sampulnya bagus. Gambarnya juga menarik. Kubaca nanti, ah!"
Apalagi manga yang belum kupunya? Hmm... pikirku. Mataku menyapu seluruh isi rak buku itu perlahan agar tak ada satupun yang terlewat.
Ketemu! Aku menemukan salah satu manga favoritku yang sekarang sudah jilid 5! Kyaa... Akhirnya manga yang sangat kusukai itu akhirnya terbit! Buru-buru aku mengambilnya.
"Aku penasaran gimana kisah Tsutomu-kun dengan Rie-chan. Apakah mereka saling menyukai? Duh, aku sudah tak sabar ingin membacanya!" gumamku keras-keras saking senangnya. "OK, aku beli yang ini!"
Puk!
Tiba-tiba aku merasakan ada seseorang menyentuh pundakku. Spontan saja aku kaget, takut kalau yang orang yang menyentuhku itu orang yang tak kukenal. Tubuhku gemetaran. Wajahku seketika pucat pasi karena ketakutan. Pelan-pelan aku menoleh ke arah orang yang menyentuhku dan...
"Kyaaa!"
"Kiki-chan, ini aku!" sahut orang itu, berusaha menenangkanku yang sedang panik. Suara orang itu kedengarannya sangat familier. Jangan-jangan...
"Te, Tetsuya-kun?" Ternyata orang itu adalah suamiku sendiri, Tetsuya-kun, yang sedang menatapku datar sambil meletakkan jari telunjuk di bibirnya tanda diam.
"Ssst... Jangan ribut. Lihat, semua orang memperhatikanmu," bisiknya sambil menunjuk semua orang yang berada di sekeliling kami sedang memperhatikan kami. Melihat semua orang di sekelilingku yang ikut menatapku, aku jadi menunduk malu.
"Sumimasen..." gumamku pelan. Tak lama, aku menatap Tetsuya-kun kesal. "Uhh, yang bikin aku kaget begini kan kamu, Tetsuya-kun! Kamu jangan mengagetkanku seperti itu! Bisa nggak muncul lebih normal lagi?" sahutku geregetan sambil memukul-mukul dada bidang Tetsuya-kun.
"Sudah, sudah... Kiki-chan, aku minta maaf. Tapi tolong berhenti memukulku," katanya masih memasang wajah tripleknya.
"Huh!" Aku menghentikan aksi memukulnya, lalu aku melengos kesal karena tadi. Aku menggembungkan pipiku dan melipat tanganku di depan dada. "Karena kamu mempermalukanku di sini, aku takkan memaafkanmu..." tuturku.
"Kiki-chan..."
Aku menatap Tetsuya-kun sedikit. Melalui sudut mataku, Tetsuya-kun masih berdiri di hadapanku sembari menatapku sedih. Mukanya begitu memelas seperti anak kecil. Melihat dia seperti itu, aku tak tega melihatnya. Perlahan-lahan hatiku luluh.
"Kamu benar-benar tak memaafkanku karena kejadian tadi, ya?" tanyanya sedih. "Tak apa. Aku tahu kalau aku-"
Cup! Aku mengecup pipi Tetsuya-kun sekilas. Tetsuya-kun spontan kaget. Matanya terbelalak dan pipinya merona merah. Dia menyentuh sebelah pipinya yang kukecup tadi dan menatapku heran. Aku hanya bisa menatapnya seraya tersenyum manis.
"Aku bercanda, Tetsuya-kun. Aku memaafkanmu, kok," kataku lembut.
Tetsuya-kun menghela napas lega setelah mendengar jawabanku. "Syukurlah..." ucapnya sambil tersenyum. Aku membalas senyumannya, lalu sekilas aku melihat sesuatu yang dipegang di tangan Tetsuya-kun.
"Ehm, Tetsuya-kun... Apa itu yang kamu pegang? Buku kah?" tanyaku sambil menunjuk sebuah buku yang dipegangnya.
"Oh, ini?" sahut Tetsuya-kun sambil menunjukkan bukunya. Aku mengangguk dan memperhatikan sampul buku itu. Di situ judulnya, "Cara Mempertahankan Keutuhan dan Kebahagiaan Keluarga".
"Hmmph... Hihihi..." Aku menahan tawa setelah melihat sampul buku panduan itu. Entah kenapa dari judulnya saja, buku ini dianggap lucu bagiku.
"Lho, Kiki-chan? Kenapa kamu tertawa?" tanya Tetsuya-kun heran melihat tingkahku. Aku tak menjawab, malah semakin berusaha menahan tawaku yang mau meledak.
"Hehe... Nggak apa-apa, Tetsuya-kun... Hihi..." jawabku akhirnya sambil mengusap air mataku karena menahan tawa. "Kamu lucu..."
Mata Tetsuya-kun melebar. "Hah?"
"Ehm, hihi... Ano, gomen ne. Kenapa kamu mau membeli buku itu?" tanyaku.
"Aku membeli buku ini karena aku sudah bertekad untuk bisa mempertahankan keluarga kecilku sampai kapanpun, Kiki-chan," jawab Tetsuya-kun datar, namun seulas senyuman kecil tersungging di bibirnya.
Deg! Jantungku seakan-akan mau berhenti berdetak. Aku tak menyangka kalau suamiku membeli buku itu demi aku dan anakku yang masih di dalam kandungan. Dia begitu peduli dan sangat menyayangi keluarganya. Di balik senyuman kecilnya itu, benar-benar tulus dan bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
"Souka..." kataku. "Kamu benar-benar suami yang baik, Tetsuya-kun..."
Tetsuya-kun hanya berpaling. Sepertinya dia malu mendengar pujianku. "Ehm... Arigato..."
Ah, Tetsuya-kun, aku jadi semakin kagum padamu...
-to be continued-
A/N: Hai, minna-san! It's me again... How are you doing today? ^_^
Masih ingat aku? XD #ditendang
Sumimasen kalau ceritanya jadi berantakan dan plot-nya ngaco. Dan aku kelamaan update-nya. Huhuhu... T_T *nangis di pojokan*
Habis, ini karena Author kehabisan kuota Internet. Jadi nggak sempat update... Kuharap kalian memakluminya, ya. Semoga kalian masih suka dan mau aku melanjutkan FF ini sampai complete...
Mau beri komentar? Review saja! ;)
Baiklah, minna-san. Aku sudahi saja sampai di sini...
See you next part! ^o^) /
