"Chained To You"
Disclaimer : The story belongs to Summer Plum. Nama-nama yang tercantum dalam cerita sepenuhnya milik mereka.
Genre : Romance, Drama-Hurt, Little Bit Action
Main Casts : Kim Tae Hyung x Jeon Jung Kook
Other Casts : Kim Nam Joon | Kim Seok Jin | Min Yoon Gi | Jung Ho Seok | Park Ji Min
Rated : M
Warning : Top!Kim Taehyung x Bottom!Jeon Jungkook
YAOI, BoyxBoy, dan sejenisnya
Typo everywhere
Part 10 : Butterfly
Aku mengoleskan lip balm dengan ekstrak cherry di bibirku yang mulai kering. Tanganku berkali-kali memegangi kaca hijau kecil yang ku letakkan di atas dashboarad yang berguncang-guncang, saat Taehyung mengemudikan mobilnya ugal-ugalan bak di kejar pembunuh berantai.
Ia berkelak-kelok menyalip puluhan mobil dan truk yang sejalur. Ketika ia menyelip bus sekolah di depan kami, ia nyaris saja menyenggol bus itu sehingga si supir bus mengklakson mobil kami berkali-kali sembari mengumpat keras-keras. Belum lagi ia dengan sembrononya menerjang beberapa lampu merah.
Singkat kata, cara mengemudinya begitu membahayakan.
Hal ini tak akan terjadi kalau saja Vernon tidak menelponnya di pagi buta tadi. Sayup-sayup aku mendengar pembicaraan mereka dimana Vernon meminta Taehyung untuk datang ke tempatnya secepat mungkin. Taehyung langsung membangunkanku yang setengah terlelap di balik selimut. Ia menyuruhku untuk mandi secepatnya dan kami bergegas check out dari hotel itu pada pukul 5:30. Bahkan di saat mentari belum naik ke permukaan.
Aku memandang sekilas Taehyung yang menatap lurus ke jalanan. Perutku begiu keroncongan. Kami belum makan ataupun minum pagi ini. Bahkan sejujurnya aku masih mengantuk karena semalam tidur terlalu larut.
Setelah penolakan darinya semalam, Taehyung pergi meninggalkanku begitu saja. Ia tak membawa dompet maupun ponselnya dan tak kembali ke kamar selama beberapa jam. Pada saat itu, aku terlalu sedih untuk khawatir padanya.
Aku meringkuk di balik selimutku. Rasanya begitu dingin tanpanya.
Setelah ia memakaiku lagi dan menolakku dengan jahatnya, aku semakin benci pada diriku sendiri yang semakin menginginkannya. Aku tahu aku terlihat murahan. Bagaikan seorang hamba yang jatuh hati pada tuannya. Aku tahu aku tak seharusnya mencintai dia yang bahkan tak ada rasa. Diriku tak ayalnya sekedar selingan baginya. Aku tak bermakna apapun di hatinya. Bagaimana bisa dengan bodohnya aku mengharap ia membalas perasaanku?
Di saat sedang gundah gulana pula aku mencoba memejamkan mataku untuk beristirahat. Ia tak kembali bahkan setelah pukul 3 pagi. Ku rasa aku terlelap dalam 30 menit sebelum mendengar suara dering handphonenya yang tergeletak di nakas. Waktu itu, Taehyung telah ada di dalam kamar.
Aku memutuskan untuk melupakan penolakan Taehyung dan bersikap seolah tak terjadi apapun sebelumnya. Menyakitkan memang, tapi harga diriku lebih tinggi di banding harus mengiba lagi padanya. Saat ini fokusku akan ku curahkan pada pencarian ibuku saja. Aku mencoba bersikap sebiasa mungkin di hadapan pria jahat ini.
Tapi tidak dengan dia.
Ku rasa Taehyung tidak demikian. Ia terlihat rikuh, bahkan sikapnya sedikit berbeda dari biasanya.
Aku menarik nafas dan mencoba mengajaknya bicara seperti biasa. "Ada apa dengan Vernon, Tae?" Ku harap Taehyung tidak tersinggung atau bahkan marah dengan pengakuanku semalam. Aku tak ingin kehilangan sisi hangat dirinya yang membuatku nyaman.
"Dia mendapat ancaman" jawabnya tanpa melirikku sedikitpun. Aku sedikit terluka setelah melihat responnya. "Seseorang memukulinya di jalan dan mengejarnya hingga ke rumah. Katanya, dia mendapat luka parah dan sekarang bersembunyi di dalam rumahnya"
"Dia aman. Hanya saja dia perlu kita kesana secepat mungkin untuk mengambil bukti-bukti tentang Kim Junsu sebelum sesuatu yang lebih buruk terjadi padanya" imbuhnya.
Itu terdengar sangat darurat. Kasihan sekali Vernon itu...
"Dia tinggal di Alabama bukan? Katamu kau perlu singgah di Georgia sebentar?"
Taehyung menyelip sebuah truk pembawa semen di depan kami. Aku sedikit terhuyung ke kanan dan mencengkeram sabuk pengamanku.
"Itu rencana awalnya. Namun karena Vernon memintaku untuk mendatanginya segera, maka aku harus menemuinya. Aku bisa mengurus yang di Georgia nanti"
Aku mengangguk saja dan memilih untuk diam daripada berdebat dengannya yang dingin padaku.
Ku harap Taehyung tetap bersikap hangat denganku. Bukan seperti ini. Dia menjawab pertanyaanku dengan datar dan kaku. Seolah-olah dia berbicara dengan rekan bisnisnya saja.
Berjam-jam berlalu begitu cepat. Sekarang jalanan sudah lebih penuh dari sebelumnya. Aku mengecek jam di tanganku. Pukul 8:20. Kami sudah memasuki Negara bagian Georgia yang cerah dan sedikit panas.
Kami tiba di Alabama tepat pada pukul 3 sore. Jalanan cukup macet sehingga memperlama perjalanan kami.
Mobil Taehyung memasuki pekarangan rumah Vernon yang omong-omong cukup luas juga. Di sekitar kami banyak terdapat pepohonan rindang yang membuat kesan teduh rumah ini. Sayangnya, jarak rumah ke rumah sangat berjauhan. Mungkin sekitar 500 meter sebelum aku dapat melihat tetangganya.
Aku merapikan rambutku juga pakaianku. Taehyung meletakkan kacamatanya di atas dashboard dan keluar tanpa membukakan pintu mobilku.
"Kau tak pakai kacamatamu?"
"Tak perlu. Aku yakin aman disini"
Aku berjalan di belakangnya hingga tiba di depan pintu. Taehyung menekan doorbell beberapa kali dan tak ada jawaban. Rumah itu terlihat sepi, seperti tak berpenghuni.
Aku menggosok kedua tanganku, merapatkan jaket blue navy yang melekat di tubuh. Tengkukku meremang entah kenapa. Aku harap semuanya baik-baik saja.
"Vernon buka pintunya! Ini aku!" Taehyung berteriak.
Nihil. Tak ada apapun yang terjadi.
Pria itu berjalan menuju ke jendela besar yang terletak beberapa meter di sebelah pintu dan mengintip ke arah dalam. Sedetik kemudian ia mengumpat keras dan bergegas mendatangiku.
"Mundur Jungkook"
Aku melakukan apa yang ia katakan.
"Ada apa, Tae?"
Taehyung mengabaikanku. Ia mengambil ancang-ancang dengan mantap lalu dengan sekuat tenaga mendobrak pintu rumah itu. Aku terkesiap menatap bahu lebarnya menghantam pintu kokoh yang tak bergeming. Taehyung melakukannya 3 kali lalu menendang pintu itu dengan kaki kanannya hingga pintu itu terbuka dan berdebam jatuh, remuk di bagian tengahnya.
Astaga.
Taehyung menarikku mendekatinya.
"Tetap berjalan di belakangku" ucapnya. Aku menatapnya cemas. Ia mengambil sebuah senjata api dari pinggangnya dan mengangkat pistol itu di dadanya. Aku menahan nafas.
Ini buruk.
Kami mengendap-endap masuk.
Kami berjalan melewati ruang tamu yang luar biasa berantakan. Sofa-sofa terletak tak beraturan, guci-guci pecah berserakan di sekitar kami, lemari kecil yang mana semua lacinya berada dalam posisi terbuka dan berlembar-lembar kertas berserakan di lantai. Seseorang pasti telah masuk dan mengobrak-abrik tempat ini.
Kami memasuki ruangan di sebelah ruang tamu.
Ruangan ini tak jauh beda dari ruang tamu tadi. TV Plasma yang layarnya pecah, DVD player, pengeras suara, semuanya berserakan di lantai. Kursi sudut berwarna cokelat itu bahkan sudah tak beraturan, 2 diantaranya terguling.
Seseorang menggeledah rumah ini.
Vernon... Bagaimana dengannya?
Taehyung membungkuk. Ia mengangkat celana bahannya dari mata kakinya dan menarik sebuah pistol yang berukuran lebih kecil dari senjata api yang tadi.
2 senjata api!
Di letakkan di kakinya!
Ia menyerahkan benda itu padaku.
"Mana tanganmu yang lebih dominan?" tanya Taehyung. Aku mengangkat tangan kananku sebagai jawabannya.
"Peganglah. Gunakan sebaik mungkin. Begini caranya" ia menarik bagian bawah pistol itu sehingga terdengar bunyi klik yang cukup keras.
"Buka lebar tangan kananmu" ia menarik telapak tanganku agar terbuka lebar. Tangan kiriku juga di tariknya dan di sentuhkan pada benda dingin itu. Ia memasukkan pegangan pistol tersebut di antara jari telunjuk dan ibu jari tangan kananku. Dengan ibu jariku pada satu sisi dari pegangan, ia menuntun jari tengah, jari manis dan kelingkingku menggenggam secara aman di sekeliling sisi lainnya tepat di bawah pengaman pelatuk.
"Kau akan benar-benar menggenggam senjata tersebut hanya dengan jari tengah dan jari manis, sedangkan jari kelingkingmu" Ia menyentuh jari kelingkingku "Istirahatkan pada senjata, tidak digunakan untuk menggenggam. Sama dengan ibu jari, jangan gunakan untuk menggenggam senjata"
"Kuatkan genggamanmu" ia menekan tanganku lagi. "Genggam senjatanya sekuat mungkin sampai tanganmu mulai bergetar, seperti sebuah jabat tangan di mana kamu ingin membuktikan sesuatu"
Aku mengikuti instruksinya dan menggenggam pistol itu dengan kuat. "Jika kau menggenggam sedemikian kuat sehingga senjatanya bergetar, itu artinya kau berada dalam posisi yang tepat. Jangan lupa lemaskan tanganmu sedikit dari kondisi tersebut sampai tanganmu berhenti bergetar—"
"Tae..."
"Tarik napas sebelum kau menarik pelatuknya"
Tanganku sedikit begetar. "Aku… Tidak bisa… Ini—"
"Bawa saja" ia sedikit menggeram. "Aku akan mencari Vernon. Kau tunggu disini, angkat pistol itu sebatas dada dan waspadalah pada pergerakan sedikit apapun"
"Tae—"
"Tak akan lama" janjinya.
Hazel indah itu seolah berjanji padaku. Seperti melihat sebuah kejujuran dari binar matanya disana.
Dan aku mengangguk pasrah.
Ia bergegas masuk dengan berhati-hati. Pistolnya di letakkan di dadanya lagi.
Tanganku berkeringat dan sedikit tremor. Senjata api! Astaga! Aku benci benda ini. Benda ini bagaikan pembunuh berdarah dingin. Sekali tarik saja, nyawa seseorang bisa melayang.
Aku berdiri dengan menarik nafasku. Mataku tak hentinya melirik ke kanan dan kiri.
Semoga tak ada orang lain di rumah ini selain kami berdua.
Semoga Vernon baik-baik saja.
Lututku sedikit bergetar. Aku mencengkeram pistol itu dengan kedua tanganku. Lalu...
"Sial!"
Aku mendengar umpatan Taehyung. Ia berteriak memanggil nama Vernon.
Aku tak bisa berdiri diam disini saja, dan aku berlari menyusul Taehyung. Dia berada di salah satu kamar di rumah ini dalam keadaan setengah terduduk dan…. Oh tidak...
Aku melihatnya.
Darah segar berwarna merah bersimbah di sekeliling kaki Taehyung.
Dia tak menginjaknya. Ia berjongkok di dekatnya tanpa menyentuh darah itu.
Aku memberanikan diri mendekatinya.
Jantungku nyaris terlepas. Perutku mual luar biasa dan mataku seketika berkunang-kunang saat ku lihat...
Tubuh seorang pria yang bermandikan darah terkapar di depanku.
.
.
.
Aku nyaris… nyaris saja menjerit karenanya jika Taehyung tak segera membekap mulutku.
"Orang itu... Dia.."
"Sstt.."
Taehyung menyuruhku untuk diam. Napasku begitu tercekat dan begitu sulit rasanya untuk mengambil napas. Saat aku sudah lebih tenang, ia melepaskan tangannya dari mulutku.
Tubuh pria itu penuh dengan luka-luka yang menganga lebar. Wajahnya membengkak dan lebam menghiasinya. Kacamatanya miring, pecah di bagian kanannya, dan hidungnya... Sulit membedakan mana hidung mana darah. Merah dimana-mana. Ku rasa hidungnya remuk.
Aku mencoba untuk tidak pingsan ataupun muntah.
Taehyung menarik sebuah kertas dari tangan mayat di depannya itu. Seluruh tubuh Taehyung bergetar hingga cengkeraman pistol di tangannyapun ikut bergetar. Nafasnya memburu, tubuhnya bermandikan keringat. Ia membaca sekilas kertas itu lalu meremasnya. Dia diam saja.
Aku meremas bahunya.
Ia meremas tanganku tanpa menoleh ke belakang.
Sebisa mungkin ku alihkan pandanganku dari mayat di depanku ini. Sialnya hal itu sulit sekali.
"Tae" panggilku pelan. Ia diam saja.
Beberapa saat kemudian ia bangkit. Ia menyerahkan kertas itu padaku.
"Ikut denganku" suaranya tajam. Aku membaca tulisan tangan tak rapih di kertas kusut itu sambil berjalan.
Saturnus B. 824. TD red 1.
Apa maksudnya?
Taehyung berjalan di depanku memasuki ruangan di dekat kamar tadi. Kamar ini tak kalah berantakan dari ruangan lain. Bahkan rak buku di depanku ini semua bukunya sudah berceceran di lantai.
Aku melirik ke belakang. Tak ada seorangpun disini.
Taehyung mendorong rak buku kosong itu ke belakang dengan mudahnya. Di belakang rak itu, terdapat sebuah kotak seukuran bantal yang menempel di dinding. Kotak itu berwarna biru muda. Di samping kotak itu terdapat… Apa yang bisa ku bilang…. Sebuah mini keyboard. Seperti keypad handphone. Terdiri dari digit 0 sampai 9. Taehyung membuka kotak itu dan menekan tombol merah kecil di atasnya. Layarnya menyala terang. Ia menekankan telapak kanannya di kotak itu dan terdengar suara beep yang kencang.
Access denied
Begitu tulisannya.
Tangan Taehyung bergetar dan ia menggosokkan telapak tangannya ke celana bahan yang di kenakan. Ia mencobanya lagi dan kali ini terdapat suara click kecil.
Access accepted
Layar berubah menjadi warna hijau. Taehyung menekan beberapa angka di keyboard kecil itu lalu terdengar bunyi beep pelan yang kedua kali, dan secara ajaib, tembok itu membelah menjadi 2 dan membuka lebar. Taehyung menarik tanganku masuk.
Wow..
Canggih.
Tembok itu menutup lagi dengan bunyi beep keras.
Aku memandang terperangah ke dalam ruangan ini. Penerangan disini agak gelap cenderung remang-remang. Kami berjalan mendekati beberapa brankas yang tertata rapih di sebelah lemari besar dengan tangan yang masih saling bertaut.
Ruangan ini tak terlalu lebar. Mungkin hanya berukuran 3x5 meter saja. Di sini terdapat sebuah lemari cokelat dengan ukuran tanggung, sebuah computer lengkap dengan aksesorisnya, dan 7 buah brangkas berwarna silver mengkilat. Taehyung mendatangi brangkas yang berada di paling atas. Di atas brangkas itu terdapat angka 824 dan ia menekan beberapa angka password, memutarnya pelan, dan wow, sekali lagi, brangkas itu terbuka.
Di dalamnya terdapat beberapa keping CD, sebuah kamera, 2 buah flashdisk, sebuah kertas seukuran folio, dan secarik kertas. Taehyung mengambil sebuah tas yang tergeletak di atas lemari. Ia memasukkan semua barang-barang tadi kedalam tas itu. Ia menutup reseletingnya dan menyampirkannya ke punggungnya.
"Ayo pergi"
"Itu…" aku menunjuk tas di punggung Taehyung.
"Buktinya" jawabnya. "Kita perlu membawa semua ini"
"Lalu bagaimana dengan temanmu itu—Vernon, kita telepon polisi atau ambulans?"
Taehyung menarik tanganku menuju pintu tadi. Ia menekan tombol hijau di dekat pintu yang di baliknya adalah tembok rumah Vernon. Pintu membuka dan ia menekan beberapa kode lagi sehingga tembok itu menutup rapat.
"Tidak keduanya" jawabnya pelan.
"Apa maksudmu tidak keduanya?" tanyaku dengan nada meninggi. "Dia butuh bantuan, Tae! Dia itu temanmu!"
"Tapi dia sudah mati! Percuma saja!" ia menyentakkan tanganku. Bentakannya membuatku sedikit terlompat dari tempatku berdiri.
"Kita harus panggil ambulans" ucapku tegas. "Atau hubungi keluarganya, temannya, orang lain, siapa saja. Jangan diamkan begitu saja"
Taehyung mengabaikanku dan menarik tanganku melewati kamar tadi. Aku melirik mayat Vernon yang mengenaskan dan bergidik ngeri. Matanya membuka, melotot, sementara tubuhnya berlumurkan darah, hingga darah itu tercecer di karpet dan lantai rumahnya.
Taehyung hendak meraih pegangan pintu sebelum sebuah tangan mencengkeram erat pundak kiriku. Aku menoleh dan sebuah pukulan mendarat di wajahku bagian kiri. Aku terhuyung jatuh. Di detik itu pula Taehyung menerjang orang itu dan mereka terlibat dalam adu hajar.
5 orang laki-laki, 3 diantaranya berkulit hitam dan 2 orang berkulit putih, mereka menerjang Taehyung dan saling pukul satu sama lain. Aku meringkuk di dekat pintu sambil memegang erat pistolku. Salah dua dari mereka setengah berlari mendekatiku. Aku berdiri dan menodongkan pistolku pada mereka, dengan tangan bergetar. Aku mundur beberapa langkah dan pria itu tersenyum licik padaku.
"Mundur atau ku tembak kau!"
Suaraku bergetar. Tanganku berkeringat. Pistol itu nyaris tergelincir jatuh dari tanganku.
Mereka mendekatiku lagi dan aku lebih kuat mencengkeram pistolku. Aku melirik Taehyung yang sedang bergumul, saling adu dengan 3 orang sekaligus. Senjata apinya sudah terjatuh ke dekat vas bunga di ujung sana dan sial, wajah Taehyung penuh luka dan berdarah. Aku mengalihkan pandanganku pada 2 pria di depanku.
Sedetik kemudian salah satunya menerjangku hingga kami berdua terjatuh ke lantai. Mereka memegang kedua tanganku dan membuang senjataku ke sudut ruangan. Aku meronta sekuat tenaga, mencakar, menendang, melakukan apapun agar dapat terlepas dari mereka. Tangan hitam mereka menarik tanganku kuat menarikku keluar.
Aku menggigit lengan salah satunya sekuat mungkin—satu-satunya bela diri yang ku ketahui, dan menyikut rusuk yang lain dengan keras. Aku berlari untuk mengambil pistolku namun sebuah benda keras menghantam kepalaku. Benda itu jatuh ke lantai, pecah, berserakan. Aku melepas pistolku untuk mencengkeram kepalaku yang berdenyut hebat. Darah mengalir dari dahi dan pelipisku dan aku terjatuh.
Suara bedebum dan kaca yang pecah terdengar nyaring di kepalaku. Aku menoleh ke belakang dan mendapati 2 orang sudah terkapar di lantai dan tak bergerak sedikitpun. 2 orang berkulit hitam itu sudah jatuh ke meja kaca dan tubuhnya penuh luka dan darah. Saat ini Taehyung sedang menendang wajah seorang bule berkulit putih itu keras-keras.
Aku mencoba memfokuskan pandanganku yang mulai mengabur. Vas yang baru saja di pukulkan di kepalaku begitu mengaburkan kesadaranku. Aku memegangi kepalaku dan menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Aku melihat orang itu berusaha merebut tas punggung Taehyung.
Wajah Taehyung dihantam tepat dengan siku orang itu dan secercak darah terciprat ke lantai. Aku memanggil nama Taehyung dan mencoba untuk bangun. Mencoba membantunya.
Tubuh Taehyung memiting pria itu. Kaki kanan pria itu di selipkan diantara kedua kaki Taehyung. Ia berada dalam posisi membungkuk, dengan kedua tangannya di cengkeram Taehyung di balik punggungnya. Wajah musuhnya begitu beringas, namun Taehyung tak kalah sangar. Aku menarik nafas saat tangan orang itu terdengar bunyi krek karena pitingan Taehyung. Orang itu meludah di dekat kakinya.
"Siapa yang mengirimmu?" suara Taehyung serak dan berat. Nafasnya terengah. Ia melemparkan tas punggung itu padaku dan aku segera memungutnya, memakainya dengan cepat di punggungku.
"Siapa?" geramnya lagi. Orang itu hanya tertawa-tawa mendengar pertanyaan Taehyung.
"Sampai matipun aku tak akan memberitahumu" ucapnya terbata-bata. Darah menetes dari bibir hitamnya.
"Brengsek! Katakan sekarang! Atau kubunuh kau sekarang juga!"
Mendengar ucapan Taehyung, orang itu langsung bergerak saat Taehyung sedikit lengah. Ia menerjang tubuh Taehyung hingga punggung Taehyung menghantam guci di belakangnya. Aku terkesiap dan menutup mulutku, meredakan jeritanku. Orang itu meraih senjata api miliknya yang juga di selipkan di kakinya. Ia menarik bagian bawahnya dan mengarahkannya….
Padaku.
Aku mencoba menghindar darinya namun peluru itu sudah di lepaskan ke arahku dan….
Mengenai bahu kananku.
Aku menjerit dan ambruk ke lantai.
Orang itu tersenyum puas padaku.
Taehyung menghantam orang itu dengan pukulannya.
Aku mencengkeram bahuku. Darah mengalir deras.
Dadaku terasa terlalu sesak. Nafasku hampir menghilang, keluar-masuk terengah-engah. Aku mencengkeram bahuku kuat-kuat menahan rasa sakit. Lubang di bahuku ini terus menerus mengeluarkan darah merah kental.
Rasa sakit dan panas seolah terbakar menyelubungiku, menulikan pendengaranku, menutupi semua inderaku. Peluru itu bersarang disana. Di dalam tubuhku, menyatu denganku. Aku merasa lemas, anehnya, tubuhku seperti terbakar.
Jadi begini rasanya tertembak.
Orang itu sudah terlihat kewalahan menangani Taehyung. Taehyung melontarkan berbagai macam sumpah serapah dan makian pada orang itu. Pria itu sudah terkapar di lantai namun seringai dari wajahnya tak pernah hilang.
"Kau akan kehilangan pria kecilmu, V"
Aku mencoba memandang fokus pada Taehyung. Dia terlihat kaget namun dengan segera ia menarik pelatuk senjata apinya dan mengarahkan tepat di kepala orang itu.
Letusan kedua terdengar begitu nyaring. Menggema di telinga.
Tubuhku bergetar dari ujung kaki hingga ujung kepala melihat Taehyung menghabisi nyawa orang itu.
Ia menyimpan senjata apinya di pinggangnya dan berlari ke arahku.
"Ya tuhan, Jungkook" suaranya nyaris hilang. Ia menyentuh pundakku yang terkena tembak dan aku menjerit pelan.
"Maaf… Maaf sayang"
Tangannya berlumuran darah setelah menyentuhku.
Itu darahku.
Ia menatapku ngeri. Kesadaran perlahan pergi. Muncul-hilang bagaikan angin.
Ia mengambil tas di punggungku, menyampirkannya, dan meraup tubuhku dalam gendongannya.
"Jungkook maafkan aku. Ku mohon bertahanlah" ia membisikkan kata-kata itu di telingaku. Aku berusaha, berusaha sekuat tenaga agar tidak pingsan. Ini sangat sulit. Apalagi bahuku terasa luar biasa sakit. Aku menggigit lidahku untuk menahannya.
Ia membuka pintu belakang dan menurunkanku di kursi penumpang. Membaringkanku perlahan, ia berlari menuju ke kursinya dan bergegas menyalakan mobil.
"Bertahanlah, sayang"
Aku meringis, menangis. Rasa sakit ini begitu hebat. Aku bernafas pendek-pendek karena rasanya paru-paruku sudah tersumbat sesuatu. Tak mau bekerja sama denganku.
"Tahan dengan ini Jungkook. Tekan pada bahumu" Samar ku lihat ia melepas jaket hitamnya. Menanggalkan kaus putihnya yang sudah ternodai oleh darah dan menyerahkannya padaku.
Aku menggapainya dan mencoba menempelkan kaus itu di bahuku. Aku mengerang ketika benda itu ku tekankan di bahuku.
"Buka matamu, Jungkook. Kau harus sadar. Bertahan sebisa mungkin. Aku akan ke rumah sakit" suaranya bergetar saat ia menyentuh tanganku. Aku mencoba tersenyum namun ku rasa bibirku tak bergerak sesentipun.
Taehyung membawa mobilnya dengan kecepatan superkilat. Apakah sebuah tembakan bisa menciptalkan halusinasi? Dari pantulan kaca, ia terlihat seperti akan menangis. Mungkin ini hanya imajinasiku semata. Mana mungkin ia menangisiku.
Aku mengerang lagi karena bahuku semakin berdenyut-denyut. Aku mencengkeram kaus Taehyung yang sekarang sudah berwarna merah seluruhnya. Kepalaku berdenyut-denyut, mengikuti denyut di bahuku. Jantungku bertalu-talu keras, seolah-olah akan lepas dari tempatnya.
"Jungkook... Kau harus bertahan.. Ku mohon.."
"Sakit.."
Aku mencoba sekuat tenaga agar tetap terjaga. Manikku mengunci pantulan mata indah Taehyung yang selalu berhasil menghipnotisku.
"Kita akan ke rumah sakit, sayang. Tunggu sebentar lagi.."
Panas di bahuku begitu menggila. Ingin rasanya aku menceburkan diriku pada kolam es dan menenggelamkannya disana.
Peganganku di kaus Taehyung mengendur. Kesadaran meninggalkanku perlahan.
Aku takut... Aku tak boleh menutup mataku. Aku tak mau mati, belum. Aku belum bertemu ibuku, aku belum menyelesaikan masalah ini, aku belum menemukan semua jawaban yang ku cari selama ini…
Bahkan aku belum berpamitan pada Taehyung.
Tapi kali ini rasanya cahaya putih itu sudah dekat. Seolah-olah Ia menjemputku. Menarikku untuk pulang ke tempat abadi di sana.
Tidak...
Haruskah aku berpisah padanya sekarang? Haruskah aku mengatakannya sekali lagi untuk yang terakhir kalinya?
"Kau... terlihat indah" ucapku terbata. Aku terbatuk sesaat sebelum melanjutkan ucapanku. "Aku tak mau berhenti memandangmu, tapi... tak bisa. Terlalu sakit.."
"Brengsek!" Ia memukul kemudinya dengan keras. "Aku tak akan memaafkanmu jika kau menyerah sampai disini, Kook"
"Aku mencintaimu, Taehyung"
Kaus Taehyung pelahan jatuh.
Sebelum aku memejamkan mataku, ku dengar satu isakan samar-samar dari pria yang ku cintai itu. Isakan dia bagaikan lagu pengantarku untuk kembali ke suatu tempat dimana aku tak akan bisa melihatnya lagi. Tempat dimana aku tak bisa menjangkaunya lagi. Tempat dimana aku hanya bisa mengenang semua yang telah kami lalui selama ini.
"Aku mencintaimu, Jungkook. Jangan tinggalkan aku.."
Dia mengucapkannya.
Padaku.
Di saat terakhir ini.
Bibirku terkembang membentuk sebuah senyuman.
Aku memejamkan mataku walaupun tak ingin melakukannya.
Begini lebih baik. Aku tak merasakan sakit lagi...
Kali ini, aku akan jauh lebih bahagia...
"Tidak, Jungkook!"
.
.
.
TBC
.
.
.
Selamat malam minggu, readers semua!
Jangan bapereu abis baca part ini ya :D
Review, please..
Follow IG : summer_plum (double underscores)
